Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 08 Juli 2011

Sosok Dalam Mimpi



Kim So Eun berlari meninggalkan Donghae yang berteriak-teriak memanggil namanya sambil meringis memegangi rusuknya yang kesakitan. Dia ingin mengejar Kim So Eun. Tapi Go Ah Ra, gadis yang bersamanya, mencegahnya. Donghae mengurungkan niatnya. Semua mata yang ada di tempat itu mengarah kepadanya.

Kim So Eun berlari. Dan terus berlari. Hatinya terbakar amarah. Sudah lama dia curiga kekasihnya itu punya affair dengan Go Ah Ra, senior-nya yang suka menggoda kekasih orang. Tapi Kim So Eun tidak menangis. Dia benci menangis. Apalagi menangis untuk seorang pria. Gadis cantik itu paling pantang menangisi pria. Malah, hampir saja tangan-nya melayang ke wajah sinis Go Ah Ra. Kalau saja Donghae tidak mencegahnya, sudah bisa dipastikan, gadis genit itu sudah terkapar di lantai Mall. Tapi, penyandang ban hitam Taekwondo itu sempat mendaratkan pukulan-nya ke arah rusuk Donghae, kekasihnya. Sampai membuat pemuda itu termehek-mehek kesakitan. Kim So Eun paling benci dikhianati.

Bruk! Kim So Eun menabrak seseorang di beranda depan Mall.

“Maaf!” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, tanpa melihat ke arah pemuda yang ditabraknya. Tapi waktu dia sudah berada di atas bus, ia sempat melihat pemuda yang ditabraknya mengejar seraya melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Entah apa maksud pemuda itu. Kim So Eun tak sempat menerka-nerka. Dadanya bergetar karena lahar yang bergolak di dalamnya.

Bus melesat cepat, membawa sepotong tubuh yang sedang menyemburkan lahar. Kim So Eun. Gadis itu masih menyesali mengapa dia tidak sekalian saja melayangkan pukulan maut-nya ke pinggang Go Ah Ra.

* * *

Siang itu di kamarnya, Kim So Eun masih saja mendongkol. Bukan saja karena Donghae, kekasihnya yang akhirnya kepergok jalan bersama dengan Go Ah Ra. Tapi juga karena saat sopir bus menyodorkan telapak tangan kapadanya, meminta ongkos bus darinya, dia baru dapat menerka kemungkinan yang paling mungkin, mengapa pemuda yang tadi ditabraknya di depan Mall, mengejar seraya melambaikan tangan ke arahnya. Pasti itu!

Dia bermaksud mengembalikan dompet milik Kim So Eun yang mungkin terjatuh waktu mereka bertabrakan. Untung saja gadis itu selalu menyimpan uang di saku celana panjangnya. Ah, mudah-mudahan saja pemuda itu mau berbaik hati mengembalikan dompet milikku, begitu harap si tomboy dalam hati.

* * *

Keesokan harinya, sepulang dari sekolah, Kim So Eun mondar-mandir di beranda depan rumahnya yang asri. Persis setrikaan. Matanya berkali-kali melirik ke arah undangan berwarna merah muda yang terkapar di atas meja. Hari ulang tahun Im Yoona. Dia masih ingat percakapannya dengan Im Yoona, teman sekelasnya, waktu menyerahkan undangan itu kepadanya.

“Datang ya! Jangan sampai tidak datang! Tidak seru kalau tidak ada kau. Ingat, datangnya bersama pasangan.”

“Harus dengan pasangan?”

“Harus!” kata Im Yoona. “Eh iya, undangannya sekalian untuk Donghae saja ya. Biar irit.”

Kim So Eun tertunduk. Dia memang belum menceritakan kepada teman-temannya peristiwa kemarin di Mall.

“Apa sebaiknya aku tidak usah datang saja ya? Tapi… nanti teman-temanku kecewa. Apalagi Im Yoona. Ini kan hari spesialnya.

Ah, kenapa juga harus dengan pasangan? Aduh… kenapa juga Donghae harus selingkuh? Dengan Go Ah Ra pula… Uh, gadis itu… seharusnya kemarin dia kuhajar sekalian!” Tanya dan sesal bergumpal-gumpal di dalam hatinya.

Acaranya sendiri akan diadakan malam nanti di halaman belakang rumah Im Yoona. Selain band-band sekolah, ada juga artis ternama yang turut meramaikan acara. Memang sayang sekali untuk dilewatkan. Tapi keharusan membawa pasangan itu… Ah, kalau saja Donghae tidak tergoda bujuk rayu Go Ah Ra yang memang sangat piawai menjadi iblis penggoda dengan wajah cantik dan keseksian tubuh yang selalu dia pamerkan ke setiap mata pemuda… Sudah setahun lebih ia membina hubungan dengan Donghae. Tapi akhirnya?

Kim So Eun masih saja mondar-mandir persis setrikaan. Dan kepalanya sudah mulai kepanasan karenanya. Dia sedang bingung karena tak menemukan satu nama pun yang paling mungkin diajaknya ke acara nanti malam, menggantikan Donghae yang sudah bisa dipastikan akan datang bersama Go Ah Ra. Otak Kim So Eun mulai mengeluarkan uap panas. Mirip lokomotif kereta api. Buntu.

“Pussssiiiiiinnnngggg!!!!!” gadis cantik itu berlari ke dalam kamarnya. Terjun bebas ke atas ranjang busa. Membenamkan wajahnya di balik bantal tebal. Lalu memejamkan matanya perlahan. Perlahan. Sebelum akhirnya terlelap dalam tidur.

Sesaat setelah dia benar-benar terlelap.... Gadis itu menemukan dirinya tiduran di atas pasir putih yang sangat lembut, di sebuah pantai sepi, entah di mana. Itu merupakan pantai terpanjang yang pernah Kim So Eun lihat. Tapi anehnya, tak satu pun bangunan yang tampak berdiri di sana. Pantai itu benar-benar kosong. Tak berpenghuni.

“Ah, di manakah aku ini?”Kim So Eun bertanya pada dirinya sendiri.

Matahari telah meninggalkan singgasananya. Turun perlahan-lehan menuju garis cakrawala. Langit menjadi keemasan. Senja merupakan saat terindah dari episode kembara hari sang mentari. Lempengan bola api raksasa itu tampak telah tenggelam sebagian ke balik tebing cakrawala. Membias cahaya di atas air laut yang beriak syahdu. Membentuk garis lurus yang membentang dari cakrawala hingga ke pantai, tempat di mana Kim So Eun sedang duduk kebingungan.

“Sungguhkah tempat ini benar-benar nyata adanya?” bisik hatinya bertanya.

Kim So Eun memandang tak percaya pada keindahan senja yang membentang di depannya. Seolah terhadirkan hanya untuk dinikmati olehnya seorang, karena memang dia tak menemukan siapa pun di tempat itu.

“Hei, apa itu?!” Kim So Eun beranjak dari duduknya. Matanya menangkap siluet yang muncul tiba-tiba dari balik tebing cakrawala. Gadis cantik itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya bukanlah sebuah halusinasi semata. Siluet itu berbentuk sesosok tubuh.

Dan.... Hei, sesosok tubuh itu berjalan ke arahnya! Dia benar-benar berjalan. Seperti kita berjalan di daratan. Tapi dia berjalan di atas lautan! Ya. Dia berjalan perlahan di atas garis cahaya berwarna jingga yang membentang lurus dari cakrawala hingga ke pantai tempat Kim So Eun berdiri. Dia berjalan layaknya seorang peragawan berjalan di atas catwalk. Betapa anggun dan menakjubkan! Membuat Kim So Eun ternganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ketika sesosok bayangan itu semakin mendekat, dan akhirnya berdiri di hadapannya, Kim So Eun masih saja tak percaya dengan pandangan matanya.

Seorang pemuda!

Pangerankah dia? Atau… malaikat? Tapi tak sepasang sayap pun di balik punggung pemuda itu.

Lalu, siapakah dia yang memiliki wajah serupa pangeran-pangeran dari negeri dongeng? Dan, bagaimana mungkin pemuda itu berjalan di atas lautan? Benar-benar berjalan. Seolah berjalan di atas daratan.

Pemuda itu tersenyum. Lalu membungkuk meraih jemari Kim So Eun, dan mencium pungung telapak tangannya.

“S... siapa kau?” Kim So Eun tergagap. Pemuda itu mendongak menatap wajah Kim So Eun yang memerah dadu. Lalu pemuda itu berdiri tegak. Tangannya masih menggenggam jemari Kim So Eun.

“Namaku… Kim Bum.”

“Kim Bum?”

“Ya. Dan aku berasal dari sana,” katanya menunjuk ke arah cakrawala, tempat dari mana pemuda itu terlihat pertama kali oleh Kim So Eun.

“Ah, i... ini hanya gurauan, kan?”

Pemuda yang mengaku bernama Kim Bum itu tersenyum. Lalu berjalan menuntun Kim So Eun. Kim So Eun tidak berusaha menolak. Atau sekadar bertanya ke mana pemuda itu akan membawanya. Kim So Eun diam saja. Dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang berjalan di atas lautan. Benar-benar berjalan. Dan cahaya matahari yang membias membentuk garis lurus hingga ke cakrawala itu, serupa permadani yang mengalasi langkah-langkah kaki mereka.

Ah, apa yang tak mungkin terjadi di dalam ruang mimpi? Namun tentunya seorang yang sedang bermimpi tak menyadari dirinya sedang bermimpi. Seperti Kim So Eun. Dia pasti akan kecewa kalau tahu yang sedang dialaminya hanya berlangsung di ruang mimpinya. Dia begitu bahagia. Apalagi ketika pemuda bernama Kim Bum itu mengajaknya berdansa di hadapan matahari yang tinggal sebentuk setengah lingkaran.

Ya. Mereka bernar-benar berdansa di sana. Bukan terlihat seperti berdansa. Mereka bergerak mengikuti alunan senja yang perlahan memudar, mengantarkan matahari pulang ke peraduan.

Mereka berdansa di sana. Di hamparan layar jingga cakrawala. Seolah mereka bagian yang memang harus ada ketika senja menjadi akhir dari kembara hari sang mentari. Mereka berdansa di sana bagai lukisan siluet. Hanya saja mereka bergerak. Kadang memutar. Kadang terbang membubung ke angkasa. Melayang-layang. Lalu menukik kembali ke garis cakrawala.

Begitulah yang Kim So Eun alami di ruang mimpinya. Sampai tiba-tiba, dia merasakan tubuhnya berguncang-guncang. Seperti sedang terjadi gempa. Ruang mimpinya bergetar, sebelum melenyap. Kim So Eun perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Dia menemukan wajah Heechul, kakaknya, sedang meringis-ringis di depannya.

“Aissh, apa yang oppa lakukan? Mengganggu kenikmatan tidur orang saja?!” bentak Kim So Eun, kesal.

“Yacchh… bukannya terima kasih sudah dibangunkan,” Heechul tak kalah kesal. “Ada yang mencarimu, di depan! Katanya dia mau mengembalikan dompet-mu yang terjatuh. Eh, memangnya dompet-mu hilang ya?”

Kim So Eun mengangguk. Tegas. Dia langsung bangkit dari tidurnya.

“Apa dia seorang pria, oppa?”

“Huu… kalau pria saja, kau bersemangat sekali.”

“Pria apa wanita?”

“Pria! Namanya Kim Bum!”

“Hah…?!?” Kim So Eun melongo.

Heechul memijit hidung Kim Bum.

“Aduh! Sakit, Oppa!”

“Kau itu… bukannya buru-buru menemuinya, eh… malah bengong seperti ayam sakit. Tamunya sudah menunggumu sejak tiga jam yang lalu. Karena kau, susah sekali dibangunkannya.”

Kim So Eun tersenyum sebelum bergegas meninggalkan kamarnya, menemui pemuda bernama Kim Bum.

Well, well, well… sepertinya Kim So Eun sudah menemukan orang yang akan dia ajak ke acara ultah Im Yoona nanti malam.

“Oh, Kim Bum…. pangeranku...” Gadis itu bergumam sebelum beranjak menemui pemuda bernama Kim Bum.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

1 komentar:

  1. wkwkwkwkwk..nape gak jd dikisahkan Go Ara di Bantai Punggungnya???..(Eh, tp go ara gak masuk List yg tag Q sukai..jd no problemo kalo dia di bebaskan di FF nie, Ahaaaaa ru ingad..Pairing nya si YUnHO yg tag Q sukaaa..=_=")
    Rokmanteeeeez critanya...Cuba di sambung ke party nya..(Reader gak tau Adat,Byak MAU-nya!!)
    Ok la. Skian..TQ

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...