Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Aku Rela Jika Kau Bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Rela Jika Kau Bahagia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Aku Rela Jika Kau Bahagia (FF)



Title : Aku Rela Jika Kau Bahagis
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 7 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 27 Maret 2011, 01.55 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Baek Suzy
Jung So Min
Kim Tae Hee
Park Shin Hye
Jung Yong Hwa


Aku Rela Jika Kau Bahagia

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7 - Tamat

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 7-Tamat)



Satu persatu peziarah mulai meninggalkan gundukan tanah merah didepanku. Aku masih tertegun tak percaya. Di sampingku Bibi Kim Tae Hee dan anggota keluarganya yang lain juga menatap hampa bersama air mata yang menganak sungai.

“Ayo Kim So Eun, kita pulang…”ajak Bibi Kim Tae Hee. Dan aku mengangguk, mengikuti.

“Mengapa saya tak melihat….” Aku mencari kata-kata untuk memanggil istri Kim Bum, maklum sampai sekarang aku tak tahu namanya.

Bibi Kim Tae Hee tersenyum. “Ia mendahului Kim Bum 3 hari yang lalu…”

Aku kembali terhenyak.

“3 hari yang lalu???”

“Ya, mereka berdua menderita kanker hati. Ketika Kim Bum dalam keadaan kritis, Jung So Min meninggal.”

Bibi Kim Tae Hee tersenyum lagi.

“Sebelum Kim Bum benar-benar koma, ia masih saja memanggil namamu…”

“Dia titip maaf untukmu…”

“Begitu pula Jung So Min…”

“Mereka memutuskan menikah setelah keduanya sama-sama tahu mereka mengindap kanker stadium 4. Sebelum meninggal mereka ingin menikah.”

“Kim Bum tak ingin membuatmu terluka, menikahimu dan meninggalkanmu…”

“Dia ingin kau bahagia Kim So Eun…”

Aku tak lagi bisa berkata-kata. Air mata yang hampir berhenti, tiba-tiba menyeruak semakin hebat.

“Maafkanlah mereka, ikhlaskan mereka pergi dengan bahagia…”

Dengan mantap hatiku berkata, Aku tak pernah membencimu Kim Bum. Aku ingin kau selalu bahagia…


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 6)



“Kim So Eun, Line 3 untukmu.”

“Siapa yang berani menggangguku di jam sibuk seperti ini.” Protesku pada Jung Yong Hwa, rekan kerjaku.

“Siapa?!”sapaku ketus.

“Kim So Eun, ini aku...Baek Suzy.”

“Ada apa?!”

“Ikut aku,”aku mengernyit.

“Ini masih jam kantor!”

“Ya, aku tahu…”

“Aku tunggu, diparkiran…”

“Tapi kemana, Baek Suzy?” belum sempat aku mendengarnya. Aku sudah mendengar tanda putus.

“Ada apa sebenarnya?? Seenaknya saja mengganggu orang kerja.” runtukku sendiri. Namun aku bergegas ke ruangan Boss-ku untuk minta ijin. Dan tak lama kemudian aku sudah melihat wajah Baek Suzy diantara barisan mobil-mobil di parkiran kantorku ini.

“Ayo cepat?!”

“Sebenarnya kita mau kemana, Baek Suzy?''

Baek Suzy sama sekali tak menggubrisku. Wajahnya yang terlihat bingung membuatku khawatir. Bagaimana mungkin Baek Suzy yang selalu ceria bisa benar-benar serius. Dan akupun ikut diam.

“Ayo turun…” ajak Baek Suzy.

Aku diam tak bergerak. Untuk apa dia mengajakku ke rumah Kim Bum.

“Untuk apa?” tanyaku curiga.

“Turun saja…” ia menyeretku dengan paksa.

Aku membelot. Tapi melihat wajahnya yang masih saja serius tanpa ekspresi, aku menurut. Perasaanku mulai tak enak.

“Aku bisa jalan sendiri…” sekali lagi aku protes karena Baek Suzy masih saja menggandeng tanganku.

Aku heran, pakaian hitam seolah menjadi dress code dirumah ini. Dan aku tak menjupai satu wajahpun yang bisa aku kenal. Apa yang terjadi? Aku tak tahu harus bertanya pada siapa. Aku menurut saja, mengekori Baek Suzy yang berjalan terburu-buru. Semua orang yang sempat berpapasan denganku seolah sibuk dengan mereka sendiri.

Kamar Kim Bum.

Sayup-sayup aku mendengar suara tangis, mungkinkah istrinya meninggal seperti cerita Baek Suzy beberapa waktu lalu yang mengatakan istrinya sedang sakit.

Ya Tuhan secepat itukah. Tapi untuk apa aku harus datang. Apakah Kim Bum akan merengek untuk memintaku menjadi istrinya. Aku tersenyum, memikirkan bagaimana jika aku menikah dengan seorang duda. Agak ragu aku melangkah. Suara tangis semakin nyaring kudengar. Ketika wajahku tersembul dari balik pintu, aku mengenali satu persatu wajah itu.

Bibi Kim Tae Hee, ibu Kim Bum dan suaminya. Park Shin Hye, adik semata wayangnya dan saudaranya yang lain yang tak bisa aku kenali satu persatu.

“Masuklah Kim So Eun…” pinta Bibi Kim Tae Hee, dengan wajahnya yang sembab. Aku berjalan mendekati kerumunan itu, sementara Baek Suzy memilih berhenti dan berdiri tepat di depan pintu.

“Kim Bum, sudah lama menunggumu…”kata Bibi Kim Tae Hee lagi.

Satu persatu orang mulai menjauh, dan aku melihat tubuh itu. Tubuh yang tergolek tak berdaya dengan selang infus dan oksigen berselang-seling dari mulut dan hidungnya.

“Kim Bum…”desisku perlahan.

Aku terhenyak, sedih. Aku berdiri tepat disamping ranjangnya. Dia mencoba tersenyum dengan kepayahan. Tangannya bergerak mencari tanganku, dan aku menggenggamnya hingga tangan itu diam dengan sendirinya, bersama senyum yang masih mengambang. Matanya menutup perlahan, dan tangis mulai menyayat.

“Kim Bummm…”teriakku histeris. Aku bingung. Tangan itu masih saja diam, meski aku meremasnya.

“Dia sudah pergi, Kim So Eun.” Sebuah suara dibelakangku, mengabarkanku akan apa yang baru saja terjadi.

”Relakan kepergiannya…” Kalimat itu saling bersahutan kudengar dan aku menimpalinya dalam hati.

“Kim Bum…” desisku tertahan. Aku lunglai tak berdaya. Mengapa secepat itu kau pergi…

Bersambung…

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 5)



“Selamat Kim Bum….” Aku tersenyum bersamaan dengan jabatan yang erat.

“Semoga kalian bahagia.”

“Aku selalu mendoakanmu…” ucapku mantap.

“Kau terlihat tampan dengan setelan jas ini…” ledekku, dia tersenyum bahagia.

“Istrimu juga cantik, cantik sekali…”

“Gaun pengantin itu memang lebih pantas dipakainya daripada aku.” Aku tertawa lepas, dan kau membalasnya dengan tawa pula.

“Selamat…” ucapku sekali lagi, ketika aku harus melangkah maju bersama barisan tamu undangan yang lain.

Setengah berbisik dalam pendengaranku kau berkata, “Maafkan aku, Queen.”

Aku tersenyum, dan melangkah. Aku tak pernah membencimu Kim Bum.

“Krinnnnngggggggggg……kronggggggggggggggggggg….krungggggggggg………”

Aku menggeliat. Perlahan membuka kedua mataku dan memicingkannya setelah sadar. Jam 5 pagi. Saatnya aku harus bangun.

“Ehm….ehmmm…..”

Aku menggeliat lagi, seolah tak rela melepas selimut yang membalut tubuhku. Kantuk masih tersisa bersama hawa dingin yang menyerang. Toleransi 5 menit. Aku menutup mata lagi, namun tak kubiarkan kantuk kembali membuaiku dalam bayangan mimpi.

Mimpi….aku mengingatnya, mimpi kah aku semalam. Datang ke pesta pernikahan Kim Bum. Aku membuka mataku, dan berfikir. Mengapa aku bermimpi tentang Kim Bum dan pestanya. Bukankah pestanya sudah lewat 2 bulan yang lalu???

Bersambung…

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 4)



Aku masih asyik, didepan layar monitorku. Mengedit laporan keuangan yang belum sempat aku selesaikan kemarin di kantor. Seharusnya liburan seperti ini, aku menikmatinya. Namun aku telah kehilangan selera untuk menikmatinya. Aku memilih mengerjakan apapun agar rasa sepi yang seringkali menemaniku terasa berkurang. Baek Suzy juga menemaniku.

“Kim So Eun…”panggil Baek Suzy.

Aku tak meninggalkan sedikit pun pandanganku dari layar untuk merespon panggilannya.

“Apa kau tahu bagaimana istri Kim Bum?” tanya Baek Suzy dengan mata yang masih asyik dengan majalah dipangkuannya.

Aku heran untuk apa dia tanyakan itu, tak lagi penting untukku. Meski 2 bulan lalu sebelum mereka menikah, Baek Suzy juga hampir menunjukkan karakteristiknya. Dan masih seperti kemarin, Aku menganggap itu tak penting lagi, dan aku tak peduli.

“Aku dengar, Dia sakit kanker…”

“Apaaa???” tanyaku terkejut. Kemudian aku menoleh, mencari keterangan lebih lanjut.

“Sakit?!”

“Ya….”

“Dari mana kau tahu?''

''Dari sepupuku yang juga teman kantor Kim Bum.''

“Sudah hampir 2 minggu dia di rumah sakit.''

''Sejak kapan kau mengetahuinya?''

“Sudah lama…”

“Mengapa kau tak mengatakannya padaku waktu itu?''

“Bukankah katamu itu tak penting?”

Aku mencibir menyadarinya.

“Bagaimana dengan Kim Bum?”

''Yang sakit itu istrinya, kenapa kau menayakan tentang Kim Bum?

''Ya, aku juga ingin tahu bagimana kabarnya.''

“Memangnya ity penting untukmu?” Baek Suzy tersenyum. Sekali lagi mengejek.

“Terserah, mau istrinya yang sakit, atau Kim Bum yang sakit, aku tidak peduli!!”

“Benarkah? Kalau Kim Bum yang sakit, kau tidak akan menangis iba…”

''Aku...''

“Ya sudahlah, kita doakan saja mereka agar sehat dan…”

“Bahaagia…” ucapku dengan nada tak ikhlas.

Bersambung…

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 3)



Aku harus melupakannya. Dan harus mulai dari awal lagi. Aku harus menjadi Queen yang kuat. Tidak...namaku Kim So Eun, mengapa aku begitu suka dipanggil Queen hanya karena kau suka memanggilku begitu. Kau tetap saja memanggilku Queen meski kau tahu namaku Kim So Eun. Karena menurutmu, aku adalah Ratu dihatimu.

Tak ada yang perlu aku sembunyikan, termasuk semua kekuranganku. Dan kau menerimanya tanpa penolakan sedikitpun. Namun kau menolak setelahnya, setelah aku bersedia menyerahkan sepenuh hatiku. Ughh…mengapa aku mengulang cerita itu lagi.

Aku mulai, menghapus memory inboxku, semua pesan sejak pertama kali kita menjalin perkenalan. Aku tak berani membacanya, aku takut mengingatnya lagi. Seperti ketakutanku, tak bisa melupakanmu. Dan aku takut merasakannya lagi, mungkinkah ada laki-laki yang baik tersisa untukku, seorang pendamba cinta sejati. Ughh...aku tak tahu lagi betapa beratnya, menanggung desakan dari ibu dan ayahku, yang menginginkanku untuk segera membina rumah tangga.

Tuhan…Aku memandang sekeliling kamarku, takkan kubiarkan satu wajahmu pun muncul di depan mataku. Melihat wajahmu sama saja seperti aku melihat monster yang paling menakutkan di muka bumi ini.

Aku mengambil dengan jijik sebuah foto yang terpajang tepat diatas ranjangku. Membongkar piguranya, dan kudapati fotoku dengan senyum manis tepat disamping manusia berwajah monster itu. Foto waktu kita bertemu untuk ketiga kalinya di sebuah taman hiburan.

“Wajah yang tampan...” Aku tersenyum, melihat wajah dengan senyum termanis, kulit yang putih dan tubuh yang tegap semampai.

“Tidakkk…”aku tak boleh mengaguminya. Aku tak boleh buta lagi karena wajah itu. Andai waktu itu Tuhan membuka mataku untuk menatapnya lebih jelas, mungkin fotoku disampingnya bukan tersenyum manis, tapi terbelalak histeris.

Aku tertawa hambar.

Perlahan aku memotong foto itu. Memisahkan wajah manisku dengan wajah monster itu. Aku menyimpan bagian fotoku dan memotong kecil-kecil bagian monster itu, seakan-akan dia ada didepanku.

Apa kabar dengan fotoku yang ada padanya? Mungkinkah akan mengalami nasib yang sama, atau mungkin lebih parah. Apalagi jika ditemukan istrinya.

“Kim So Eun… Kim So Eun….” panggil ibu.

''Untukmu!!!''

“Untukku…?!!!” tanyaku heran, ketika sebuah bouquet mawar putih untukku. Deggg…..bukankah biasanya Kim Bum yang selalu mengirimkannya untukku. Apakah ini juga darinya? Aku tersadar untuk segera bertanya.

“Dari siapa, bu?”

Ibu menggeleng tak tahu.

Aku mencari kertas kecil berisi memo yang biasanya selalu diletakkan didalam bouquet ini.

“Maafkan aku…”

“Uggh….!!!” Aku mendengus kesal, dan meletakkannya serampangan. Tak seperti biasanya, bunga itu selalu terpajang segar di atas meja riasku. Untuk apa aku harus merawatnya kini. Dan…untuk apa kau mengirimiku bunga itu lagi. Meskipun kau belikan aku toko bunga, kata maaf tak juga bisa aku berikan untukmu…

Bersambung…

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 2)



“Mengapa kau tak datang??” Aku terdiam, pertanyataanmu penuh kekonyolan, setelah semua yang kau lakukan padaku.

“Kenapa, Kim So Eun?”

“Aku tahu kau sakit hati, tapi andai kau tahu aku lebih sakit dari apa yang kau rasa.”

“Bolehkah aku bertemu, sekali lagi saja.”

“Untuk apa?! Untuk kembali menambah lukaku yang hampir meluber karena tak sanggup kutampung lagi!!”

“Kim So Eun, maafkan aku. Aku tak sepicik yang kau kira.”

“Aku tak pernah berfikir kau picik!”

“Kau…kau…,kaulah laki-laki paling menjijikkan yang pernah aku kenal”

“Hmmmmpf…percuma, kau begitu membenciku. Betapa aku sangat ingin bertemu denganmu.”

“Tidak usah !!!” aku menekan tombol merah.

Aku memutuskan hubungan telepon itu secara sepihak. Dan menelungkupkan wajahku dalam bantal, mencoba menyembunyikan air mataku. Bagaimana mungkin disaat kau merasakan kebahagiaan karena pernikahanmu yang baru saja usai, kau mengatakan ingin bertemu denganku. Terbuat dari apakah hatimu, hingga bisa setega itu. Tak salah kata-kataku tadi yang mengatakan, kaulah laki-laki menjijikkan yang pernah aku kenal. Pakaian pengantin yang kau kenakan mungkin belum sempat kau tanggalkan. Senyuman para tamu dan hangatnya ucapan selamat masih belum berhenti, namun mengapa kau malah menghubungiku. Apa salahku ya Tuhan, mengapa begitu berat kau kirim cobaan ini. Betapa aku ingin melupakannya, namun mengapa ia justru datang mengacaukannya.

“Huuhuaa…”

“Eeegh..eghhh…”

Aku tak peduli lagi, jika ada yang menertawakanku gara-gara tangisan ini. Tangisan cengeng untuk gadis yang tak lagi berusia muda karena 3 bulan lagi usiaku genap 29 tahun.

“Huhu….”

“Kapan aku akan menikah…”

“Huhuhuu…”

“Kapan aku akan bertemu jodohku ya Tuhan…”

“Huhu…., eghh…eghh…”

Isak ini semakin lama semakin tak tertahan meski aku telah mecoba untuk menghentikan.

Bersambung…

Aku Rela Jika Kau Bahagia (Chapter 1)



“Inilah kegilaan ketika aku masih saja mengingatmu. Masih saja memikirkanmu, meskipun kau telah jauh meninggalkanku dengan kebahagiaan yang selama ini kau cari.

”Aku menutup undangan bercorak hijau daun itu dengan perasaan meranggas. Mengakhiri ungkapan hatiku yang sempat tertulis diatasnya.

“Kau akan datang?” Tanya Baek Suzy sang pengantar undangan, sekaligus sahabat karibku. Aku mengangkat kedua pundakku tanda penuh kebimbangan. Dan dia tak ada jawaban lagi.

Dua hari lagi kau akan mengenakkan gaun itu, gaun yang kita pilih bersama waktu itu. Mudahnya kau mengkhiri pertunangan kita, hanya karena sebuah alasan yang tak jelas. Apa yang tak kau mengerti tentang aku?? Tidakkah cukup perkenalan kita selama 3 tahun. Bahkan aku sudah lebih mengenalmu melebihi bagaimana aku mengenal diriku sendiri.

Air mata mulai menetes lagi dan membuatku kesal. Sedikit saja air mataku menetes, selalu saja tampak lain di mataku. Dan itu akan menimbulkkan kecurigaan ibu.

“Kau masih memikirkan Kim Bum?” Itulah pertanyaan yang selalu dilontarkan ibu padaku.

Dan aku tak pernah bisa menjawab karena itulah kenyataannya. Aku tak pernah bisa menghapus namanya sedetikpun meskipun penuh dengan rasa kebencian. Aku sadar, akulah yang terlalu bodoh dengan semua ini. Dengan mudahnya percaya pada seorang pecundang sepertimu. Mengapa aku bisa tertipu pada kalimat indah pesan singkat-mu, atau suara merdumu ketika kita berbicara lewat perantara kabel.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...