Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Karena Aku Sayang Padamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karena Aku Sayang Padamu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2011

Karena Aku Sayang Padamu (FF)



Title : Karena Aku Sayang Padamu
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 6 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 20 September 2011, 03.57 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum

Extended Cast :
Ok Taecyeon
Park Shin Hye
Jung Yong Hwa
Jung So Min
Baek Suzy
Ryu Soo Young


Karena Aku Sayang Padamu

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6 - Tamat

Karena Aku Sayang Padamu (Chapter 6-Tamat)



Bel tanda pelajaran telah usai berbunyi satu kali. Dengan lesu Kim So Eun memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Saat itu, Kim Bum berjalan menghampirinya. Kim So Eun bangkit dari bangkunya. Bergegas, Kim Bum menarik lengannya.

“Lepaskan!” Kim So Eun meronta.

“Tidak akan! Sebelum kau mengaku bahwa kau sengaja menghindariku. Aku tahu, kau ingin menjauhiku. Mengapa? Mengapa Kim So Eun?!” suara Kim Bum menahan marah dan sedih.

Kim So Eun tertunduk. Oh, betapa ia ingin menjawab “karena aku sayang padamu.” Tetapi, bibirnya seolah terkunci rapat.

“Kau keluar dari grup belajar, hanya untuk menghindariku. Aku tahu itu. Kau… ah, aku tidak mengerti.” Kim Bum melepaskan cengkeramannya. Pemuda itu menggenggam jemari halus Kim So Eun.

“Kalau boleh aku tahu. Mengapa kau menghindariku? Jawablah Kim So Eun.” Nada suara Kim Bum memohon.

Kim So Eun menangis tertahan. Gadis itu berusaha menguatkan hatinya.

“Aku tidak tahu.”

“Bohong!” Ujar Kim Bum kasar. Jung So Min dan Baek Suzy yang masih berada di ruang kelas itu, terlonjak. Kedua gadis itu mendekati meja Kim So Eun.

“Kalian tidak pulang?” tanya Baek Suzy.

“Maaf, buka maksud kami mencampuri urusan kalian. Tapi, lebih baik persoalan kalian, bicarakan di rumah saja,” Lanjutnya lagi.

“Iya, malu kan. Untung teman-teman yang lain sudah pulang.” timpal Jung So Min.

“Sebentar lagi, kami akan pulang.” Kim Bum tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu!” Pamit kedua gadis itu.

Kim So Eun mengangguk. Lesu.

Hening melingkupi ruang kelas itu. Kim Bum menghela nafas.

“Baiklah Kim So Eun, aku tidak akan memaksamu. Biarlah kusimpan saja dukaku ini. Aku memang bodoh. Mencintai gadis yang justru membenciku.” Ia melangkahkan kakinya, keluar dari ruangan itu.

“Kim Bum!” panggil Kim So Eun. Gadis itu mempercepat langkahnya, mengejar langkah-langkah Kim Bum yang panjang.

“Maafkan aku, aku … aku….. sayang padamu.” Lirih suara Kim So Eun.

“Kim So Eun…. benarkah kau….?”

“Ya, aku sayang padamu Kim Bum,” jawab Kim So Eun malu.

“Kim So Eun. Aku bahagia mendengarnya.” Kim Bum membelai rambut indah Kim So Eun. Tangannya yang kekar merengkuh tubuh Kim So Eun.

* * *

“Kim Bum, apa kau tidak malu bila kita jalan berdampingan seperti ini. Aku hanya gadis biasa, yang tidak ada bandingannya dengan Jung So Min, Baek Suzy, Park Shin Hye yang selalu naik turun mobil mewah. Tidak serasi ya?” tanya Kim So Eun sedih.

“Itukah yang membuatmu menghindariku?” Kim Bum balik bertanya.

Kim So Eun mengangguk malu. Kim Bum tertawa.

“Ah, siapa bilang? Yang penting kan cinta kita, hati kita. Masalah perbedaan status itu tidak masalah untukku….“

Kim So Eun menatap mata Kim Bum. Kim Bum balas menatap. Kau benar Kim Bum. Selama ini aku telah dibelenggu perasaanku sendiri. Minder, ya… aku selalu merasa rendah diri karena kesederhanaanku ini. Kau telah membuka mataku. Ah, sungguh aku sayang padamu…..


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Karena Aku Sayang Padamu (Chapter 5)



Kim Bum sedang menikmati Mie Ramen-nya, ketika dilihatnya Park Shin Hye berjalan ke arahnya.

“Hai Park Shin Hye! Makan?!” Kim Bum mengangkat sendoknya.

“Terima kasih. Aku masih kenyang,” sahut Park Shin Hye. Gadis itu duduk di samping Kim Bum.

“Kim Bum, Kim So Eun ingin keluar dari grup belajar kita.” Katanya.

“Kenapa?” Kim Bum bertanya terkejut.

“Entahlah. Dia tidak memberitahukan alasannya.”

“Tidak bisa! Dia harus memberitahu alasannya. Lagipula, dia Ketua kita. Kalau dia keluar, siapa yang akan menggantikannya?” Kim Bum berkata sengit. Segumpal batu seolah-olah mengganjal kerongkongannya. Perasaan takut tidak dapat bersama Kim So Eun lagi, menghantuinya.

“Kim Bum, percuma saja kau memaksanya. Aku sudah mendesaknya untuk menjelaskan sebabnya dia mengundurkan diri, tapi dia tetap membisu. Sudahlah, toh grup ini kita bentuk tanpa peraturan, dan atas kemauan kita sendiri. Jadi setiap anggotanya bebas untuk berhenti. Lebih baik kita bubar saja.”

“Yah, apa boleh buat. Tapi aku akan coba membujuknya. Sayang, padahal kita sudah begini kompak dan bersatu.” Kim Bum berkata setengah mengeluh.

Bersambung…

Karena Aku Sayang Padamu (Chapter 4)



Matahari siang itu bersinar dengan garangnya. Kim So Eun sedang menunggu bus, ketika Kim Bum menghampirinya.

“Kim So Eun, mari kuantar pulang.” Ajak Kim Bum lembut. Itulah pertama kali Kim Bum menawarkan diri hendak mengantarnya pulang. Walaupun mereka telah bergaul cukup akrab, Kim Bum tidak berani bertindak gegabah. Ia tak ingin Kim So Eun tersinggung dan menjauhinya.

Kim So Eun menatap tangan kekar Kim Bum yang tengah memegang stang motor.

“Ayo, aku sudah kepanasan.” Kim Bum mendesak tak sabar.

Agak ragu, Kim So Eun duduk di boncengan motor sport milik Kim Bum itu.

Kim Bum tersenyum lega.

Sepanjang jalan, Kim So Eun lebih banyak diam. Sama sekali tak didengarnya celoteh Kim Bum. Gadis itu tengah berjuang menghentikan debar-debar di dadanya. Sesekali diliriknya kaca spion. Sialnya, Kim Bum tahu itu.

“Mencuri pandang, he?” tanyanya nakal.

Kim So Eun tersipu. Pipinya memerah laksana kepiting rebus. Kim Bum kian senang tatkala melihat paras gadis itu. Uf! Kau tambah cantik bila tersipu-sipu seperti itu, Kim So Eun.

“Kim So Eun, kau bagai bidadari dengan pipi memerah terbakar matahari.” Goda Kim Bum lagi.

“Siapa bilang pipiku merah?” tanya Kim So Eun cepat. Dirabanya pipinya. God! Dia selalu dapat menerka pikiranku. Dia pasti tahu aku malu.

“Kaca spion ini tak dapat mendustaiku, Kim So Eun,” sahut Kim Bum kalem. Dihentikannya Motor Sport hitamnya di depan sebuah rumah makan kecil.

“Kenapa kesini? Aku mau pulang.” Kim So Eun berkata tak senang.

“Don’t worry, Kim So Eun. Kita makan dulu, baru pulang.” Kim Bum mencabut kunci motornya. Digamitnya lengan Kim So Eun. Kim So Eun mengalah. Dengan wajah cemberut ia duduk di kursi yang terletak di pojok.

“Kau seperti siput senang duduk di sudut! “ Guyon Kim Bum.

Kim So Eun tak mempedulikan gurauan Kim Bum. Gadis itu pura-pura membaca daftar menu.

“Ya ampun, kau ternyata sudah sangat lapar ya?” Kim Bum ikut membaca daftar menu.

“Kim Bum… sudah akh. Jangan bercanda terus.” pinta Kim So Eun lirih.

Kim Bum tertegun. Ah, Kim So Eun aku bercanda untuk membuatmu tertawa. Cerialah sedikit, Kim So Eun. Kenapa kau selalu saja tampak murung?

Bersambung…

Karena Aku Sayang Padamu (Chapter 3)



Ketika hari Kamis tiba, Kim Bum kembali mengajak Kim So Eun belajar bersama. Pemuda itu mengikut sertakan dua orang teman lainnya.

“Kim So Eun, nanti sore kami akan kerumahmu. Belajar lagi, boleh ‘kan?”

Kim So Eun mengangguk. Ia menatap Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa yang berdiri di sisi Kim Bum.

“Supaya lebih ramai, aku ajak mereka. Kau tidak keberatan ‘kan?” Kim Bum berkata seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.

Sekali lagi Kim So Eun mengangguk. Gadis itu tersenyum ke arah Park Shin Hye.

“Kita akan membuat grup belajar. Kau ingin grup kita punya nama apa?”

Park Shin Hye mengernyitkan keningnya.

“Mmm…. Mawar saja ya?” Tanyanya meminta pendapat Kim So Eun.

“Eh, itu nama untuk grup belajar yang anggotanya perempuan semua. Jangan ah, ganti yang lains aja. Emangnya aku perempuan.” Jung Yong Hwa mengomel sambil berlenggang menirukan gaya waria.

Kim So Eun tertawa geli.

“Katamu benar, Jung Yong Hwa. Bagaimana kalau Bintang? Siapa tahu kita semua nanti jadi Bintang kelas.”

“Aku setuju dengan nama itu.” Kim Bum mengacungkan telunjuknya.

“Aku juga.” Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa bicara serentak.

“Baiklah, jadi grup kita adalah grup “Bintang.” Selasa dan Kamis adalah hari-hari belajar kita.” Kim So Eun tersenyum puas.

“Wah, kalau melihat gayamu berbicara. Aku merasa kaulah Ketua grup “Bintang.” Kim Bum tersenyum menggoda. Pemuda itu merasa gembira sekali. Baru pertama kali inilah ia melihat Kim So Eun tertawa dan berbicara agak lama. Sifat pendiamnya lenyap. Dan wajahnya nampak ceria.

Kim So Eun tertunduk malu.

“Aku … aku …..”

“Sudahlah Kim So Eun, aku toh hanya bergurau. Lagipula kau memang pantas menjadi ketua kami.” Kim Bum menenangkan. Ia tak ingin Kim So Eun menjadi pandiam lagi.

“Ya, akupun sependapat dengan Kim Bum.” Suara Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa bersamaan menyetujui ucapan Kim Bum.

“Heran, kalian ini selalu kompak kalau bicara! Seperti suami istri saja.” Kim Bum tersenyum geli.

Kim So Eun ikut tersenyum. Perlahan rona merah yang tadi sempat singgah di pipinya, hilang.

Hari-haripun berlalu dengan manisnya. Sedikit demi sedikit sifat pendiam Kim So Eun sirna. Semua itu karena usaha Kim Bum. Pemuda itu selalu berusaha agar Kim So Eun mau tersenyum.

Tetapi jauh di dasar hati Kim So Eun, tersimpan rasa malu setiap kali ia berjalan berdampingan dengan Kim Bum. Siul menggoda dari teman-temannya, bagai ejekan bagi Kim So Eun. Ia merasa setiap lirikan dan senyuman yang dilontarkan padanya, seolah berkata :

“Lihatlah Kim So Eun si gadis miskin berpacaran dengan Kim Bum si pemuda kaya raya pewaris tunggal Shinhwa Group.”

Oh, Kim So Eun sangat menyesali nasibnya yang terlahir dari keluarga yang sederhana.

Bersambung…

Karena Aku Sayang Padamu (Chapter 2)



Kim So Eun menatap dirinya dalam cermin besar dengan hati menangis. “Alangkah biasanya aku,” gumamnya sedih. Ditatapnya sekali lagi pantulan dirinya di cermin. Dibayangkannya sosok tubuh Kim Bum yang tinggi dan atletis, berdiri di sisinya. Pemuda dari keluarga terpandang dan kaya raya! Tidak pantas! Makinya pelan.

Kesal, dengan nasibnya sendiri. Kim So Eun berhenti berkaca. Dihempaskannya tubuhnya di atas ranjang. Bayang-bayang Kim Bum mengusiknya lagi. Tersenyum ramah kepadanya. Tuhan, mengapa harus dia yang kusayangi? Mengapa bukan Ok Taecyeon pemuda sederhana yang sama denganku? Bisik hatinya. Tentu saja Kim So Eun. Ok Taecyeon tidak seramah Kim Bum. Tidak selembut dan sebaik pemuda itu. Mana mungkin kau dapat menyayanginya. Sebuah suara lain keluar dari hati nuraninya.

* * *

“Kim So Eun, bangun! Ada tamu untukmu,” suara Yoon Eun Hye kakaknya, membuyarkan lamunannya.

Agak malas Kim So Eun bangkit dari peraduan. Dirapikannya rambutnya sebentar, lalu bergegas membuka pintu.

“Kau ini Malas sekali! Sore-sore begini sudah tidur.” Yoon Eun Hye berdiri di ambang pintu.

Kim So Eun tidak mempedulikan ucapan kakaknya. Dengan hati diliputi tanda tanya, gadis itu berjalan menuju ke ruang tamu. Deg! Seolah mimpi, Kim So Eun menatap sosok tubuh yang tengah menulis sesuatu. Gemuruh di dadanya muncul kembali. Tak lama, karena suara riang Kim Bum menyentakkannya.

“Hai! Baru bangun tidur ya? Aduh, maaf aku jadi mengganggumu.”

Kim So Eun merasa tak tahu harus berkata apa. Ingin berbicara tapi lidah terasa kelu. God! Kenapa aku jadi begini? Ah, mata itu … selalu saja aku kehilangan keberanian setiap kali menatapnya.

“Kim So Eun, kau kenapa? Kau sakit ya?” Tiba-tiba saja Kim Bum telah berdiri disampingnya, menggenggam tangannya dan membawanya duduk di sofa.

Pelan Kim So Eun menarik tangannya dari genggaman Kim Bum. Degup jantungnya kian tak menentu. Kim Bum menghela nafas. Betapa pendiamnya kau, Kim So Eun.

“Kau sakit ya? Kalau begitu aku pulang saja. Belajarnya kita tunda sampai kau sembuh saja. Bagaimana?” Kim Bum berkata lembut.

Kim So Eun tersentak.

“Tidak, aku tidak sakit. Tapi, kau tidak pernah bilang akan belajar bersamaku pada hari ini.”

Kim Bum tersenyum.

“Ya, aku memang lupa memberitahukanmu. Jadi, bagaimana? Besok saja atau… eh, kapan kau punya waktu senggang?”

“Selasa dan Kamis. Hari lainnya aku kursus bahasa Inggris dan piano.”

Kim Bum mengangguk-angguk. Diam-diam ia merasa bangga. Bayangkan, dialah satu-satunya laki-laki di Shinhwa High School yang mempunyai keberanian datang ke rumah Kim So Eun. Bahkan mengajak belajar bersama. Selama ini teman-temannya berpendapat behwa Kim So Eun, gadis yang angkuh, dingin dan sulit diajak bicara, Ternyata Kim So Eun tidak seburuk yang mereka duga. Buktinya ia menerima ajakanku untuk belajar bersama. Kalau sulit diajak bicara, memang iya. Tapi itu ‘kan karena sifatnya yang pendiam.

“Kim Bum, kita belajar apa dulu? Matematika ya? Aku belum mengerti dengan soal yang diberikan Mr. Ryu Soo Young kemarin.”

Kim Bum memukul kepalanya pelan tanpa setahu Kim So Eun. Brengsek! Hampir saja tertangkap basah sedang melamun. Makinya.

Bersambung…

Karena Aku Sayang Padamu (Chapter 1)



Hari masih pagi. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Tapi Kim So Eun sudah duduk manis di bangkunya. Gadis pendiam dan pintar dari keluarga yang sederhana, yang selalu merasa tidak percaya diri dengan penampilannya.

Seperti biasanya, Kim So Eun selalu datang ke sekolah pagi sekali. Pukul enam lewat 15, ia sudah tiba. Kemudian seperti hari-hari kemarin ia menekuni buku-bukunya dengan serius. Semenitpun ia tak berhenti dari keasyikannya melahap catatannya.

Kim So Eun baru saja menutup catatan Sejarah-nya, ketika sebuah tepukan hinggap di bahunya.

“Belajar apa Kim So Eun manis?” suara Kim Bum mengejutkannya.

Sejenak Kim So Eun terdiam. Dicobanya untuk menenangkan debar-debar di dadanya. Mata bagus itu, oh mengapa aku tak sanggup menatapnya lama-lama? Dan suara itu, mengapa selalu membuatku resah setiap kaliku mendengarnya? Apakah aku telah… Ah, tidak. Tak mungkin. Tanpa sadar Kim So Eun menggelengkan kepalanya.

“Hmm, kenapa geleng-geleng kepala. Ada apa?” Kim Bum bertanya heran.

“Ah, ti… tidak apa-apa”, jawab Kim So Eun tergagap. Brengsek! Kenapa aku jadi gugup begini? Makinya tanpa kata.

“Kim So Eun kau rajin sekali. Aku kagum melihat ketekunanmu. Aku ingin belajar bersamamu. Boleh, kan?” Mata Kim Bum menatap penuh harap.

Kim So Eun meremas-remas ujung roknya. Benarkah apa yang kau katakan itu, Kim Bum? Belajar bersamaku? Oh, tentu saja aku mau. Tapi, ah… aku malu … Sekali lagi Kim So Eun meremas ujung roknya.

“Bagaimana, boleh tidak? Jawab aku, jangan bengong saja,” Desak Kim Bum.

“Iya, … boleh … boleh.” Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulut Kim So Eun.

“Terima kasih Kim So Eun yang cantik. Kau baik sekali!” Ujar Kim Bum girang. Kemudian dengan langkah-langkah kakinya yang panjang, ia berlalu dari meja Kim So Eun. Pemuda tampan itu, kini berada di luar kelas, bergabung dengan teman-temannya. Kim So Eun tiba-tiba merasa sepi di ruangan yang kian ramai oleh gelak tawa teman-temannya.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...