Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 14 Juli 2011

Ritual Tiga (Chapter 4)



“Tiga kali lagi!!!’ pikir Kim Bum.

Sambil makan, dia terus memperhatikan tingkah laku Kim So Eun. Ada yang unik dari tingkah laku gadis itu. Entah mengapa, dia sering sekali melakukan segala sesuatu tiga kali. Kim So Eun juga tidak mau makan. Kim Bum memperhatikan bentuk tubuh Kim So Eun. Menilai. Kim So Eun tidak tampak seperti gadis yang mati-matian menjaga berat badan idealnya. Kenapa, ya, dia tidak mau makan?

Kim Bum memperhatikan Kim So Eun lagi. Gadis itu memutar gelas tiga kali, berhenti, mengusap bibir gelas tiga kali, minum tiga teguk kecil, lalu kembali memutar gelasnya tiga kali. Semuanya dilakukan secara perlahan. Tampak kalau dia tidak ingin orang lain menyadari tingkah lakunya.

Ketika akhirnya Kim Bum dan Choi Daniel selesai makan, Kim So Eun buru-buru beranjak. Dia duduk dengan diam sepanjang perjalanan ke PT. Sungkyunkwan. Kim Bum ingin tahu segala sesuatu tentang gadis itu. Menurutnya, gadis itu, dengan segala keunikannya, adalah gadis menarik. Membuatnya penasaran. Tapi, ditahannya keinginan itu. Dia harus konsentrasi untuk menghadapi meeting intern.

Sampai di kantor, Kim So Eun buru-buru turun dan beranjak masuk ke toko roti yang terletak di bawah PT. Sungkyunkwan. Kim Bum memperhatikan Kim So Eun keluar dengan membawa sebuah roti. Dia membagi roti itu menjadi tiga bagian besar, lalu menghabiskannya dalam tiga kali suapan.

”Tiga lagi...,” pikir Kim Bum.

Kim So Eun berjalan cepat menuju mejanya. Mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk meeting nanti dan bergegas ke ruang meeting. Tak lama kemudian, Kim So Eun keluar dari ruang meeting. Kim Bum melihat berkas yang akan dipergunakan untuk meeting sudah diletakkan dengan rapi. Seorang office girl sedang mempersiapkan minuman dan makanan kecil untuk menemani acara meeting nanti. Kim So Eun masuk kembali, berbicara sebentar dengan si office girl.

”Terima kasih, ya, Goo Hye Sun,” ujar Kim So Eun.

Kim So Eun kemudian beranjak memeriksa layap OHP yang akan dipergunakan nanti. Setelah semuanya selesai, Kim So Eun berdiri, merapikan bajunya tiga kali dan menepuk punggung tangannya tiga kali.
Kim Bum berdeham kecil dan Kim So Eun tampak terkejut saat menyadari kehadiran Kim Bum.

“Tuan... Tn. Kim Bum, kenapa Anda sudah ada di sini?” wajah Kim So Eun bersemu merah.

“Aku?” alis Kim Bum terangkat. “Aku mempersiapkan diri untuk meeting nanti,” jawabnya, ringan.

“Apakah ... apakah ada sesuatu yang dapat saya bawakan untuk Anda? Minuman khusus? Jus jeruk?” Kim So Eun masih tampak gugup.

“No thanks, Kim So Eun.” Kim Bum tersenyum, berusaha menenangkan.

Kim Bum sedang berada di ruangan Tn. Song Seung Hun. Mereka membicarakan kemungkinan untuk men-training karyawan potensial di Megaparts International Coorporation, Amerika.

”Adalah kebanggaan bagi kami bahwa Anda bersedia kemari,” puji Tn. Song Seung Hun. ”Seperti yang Anda lihat, kehadiran Anda akan memompa motivasi kami semua.”

Kim Bum tersenyum menanggapi pujian itu.

Pintu diketuk dari luar, Kim So Eun masuk dan mengangguk sopan.

”Tn. Kim Bum, Tn. Song Seung Hun, ini notulen meeting-nya.”

”Terima kasih, Kim So Eun.” Tn. Song Seung Hun tersenyum.

”Thanks, Kim So Eun,” balas Kim Bum. Benar-benar gadis yang cekatan! Meeting panjang tadi belum lama selesai, tapi dia sudah menyelesaikan notulennya dengan rapi. ”Nice job, Kim So Eun.”

Dahi Kim So Eun berkerut, lalu dia keluar dari ruangan.

”Bagaimana Kim So Eun? Kerjanya bagus?” tanya Tn. Song Seung Hun, ketika pintu sudah tertutup kembali.

Kim Bum mengangguk. ”Dia gadis yang cekatan. Kerjanya memuaskan.”

Tn. Song Seung Hun tersenyum. ”Gadis yang malang.”

Dahi Kim Bum berkernyit.

”Masih kerabat,” Tn. Song Seung Hun menjawab pertanyaan tersirat itu. ”Anak dari adik istri saya. Orang tuanya meninggal 10 tahun lalu. Mobil yang mereka tumpangi disalip oleh sebuah motor. Kedua orang tuanya meninggal, hanya dia yang selamat dari kecelakaan itu. Tubuh dan wajah kedua orang tuanya hancur akibat tabrakan itu. Sejak itu dia jadi pemurung, penyendiri dan... agak aneh.”

Kim Bum teringat akan tingkah lakunya yang selalu melakukan segala sesuatu tiga kali. Dia mengatakan itu kepada Tn. Song Seung Hun.

”Ya,” Tn. Song Seung Hun mengangguk. ”Itu dan beberapa hal aneh lainnya. Kami sekeluarga sungguh berharap dia dapat sembuh, tapi dia tidak mau kami bawa ke psikolog. Dia tidak pernah mau melepaskan kebiasaan yang membuatnya jadi aneh. Dia takut kalau akan mendatangkan celaka bagi dirinya dan bagi orang lain.”

”Obsessive-compulsive disorder?” Kim Bum teringat istilah psikologi yang biasa digunakan untuk mendefinisikan tingkah laku Kim So Eun.

*) Obsessive-compulsive disorder > bentuk dari gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental), dan disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme-adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan; sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur pada satu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan.

Contohnya, Seperti rasa-rasa pusing, sesak nafas, demam panas dan nyeri-nyeri pada lambung sebagai pertanda permulaan daripada penyakit jasmaniah, maka MENTAL DISORDER itu mempunyai pertanda awal antara lain; cemas-cemas, ketakutan, pahit hati, dengki, cemburu, iri, marah-marah, ketegangan kronis.

”Terlihat seperti itu.” Tn. Song Seung Hun mengangguk. ”Tapi, belum dapat dipastikan karena dia tidak mau diperiksa psikolog.”

“Dia mengernyitkan dahinya saat saya memanggilnya ‘So Eun’?”

Tn. Song Seung Hun tersenyum. “So Eun adalah panggilan sayang dari kedua orang tuanya. Tidak pernah ada orang lain yang memanggilnya seperti itu.”

Kim Bum mengangguk-angguk. “Dia juga tidak pernah mau memanggil saya Kim Bum. Dia selalu memanggil saya dengan Tuan.”

“Itu salah satu caranya untuk tidak mendekatkan diri kepada orang lain.”

Kepala Kim Bum kembali terangguk-angguk.

“Dia gadis yang baik. Saya sangat berharap dia bisa kembali ceria lagi. Seperti dulu….”

Pintu diketuk lagi. Kepala Kim So Eun muncul lagi.

“Tn. Kim Bum,” sapanya. “Ini data costumer yang rencananya akan didatangi besok. Silakan diperiksa dulu,” ujarnya, sambil menyerahkan setumpuk data costumer, lalu berlalu pergi.

Kim Bum memeriksa data itu. Semua tercetak dengan rapi, menurut abjad, dan lengkap!

“Dia memang gadis yang cekatan,” puji Tn. Song Seung Hun.

Kim Bum tersenyum, kemudian bangkit berdiri. Dia pamit dari ruangan Tn. Song Seung Hun dan berjalan menghampiri meja Kim So Eun. Gadis itu tampak sedang merapikan tumpukan kertas di mejanya. Kim Bum sengaja tidak memanggilnya. Tampak Kim So Eun sedang merapikan tumpukan kertas itu untuk ketiga kalinya. Setelah itu, Kim So Eun mengangguk, tersenyum puas.

“Kim So Eun,” panggil Kim Bum.

Kim So Eun tampak terkejut. Wajahnya kembali bersemu.

“Tn. Kim Bum. Ada perlu apa?” tanya Kim So Eun, berusaha menutupi kecanggungannya.

Kim Bum tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya mau mengatakan bahwa kau telah bekerja dengan baik sekali.”

Kim So Eun mengangguk. Bibirnya tersenyum tipis.

“Sepulang kerja,” Kim Bum memperhatikan jam tangannya, “sebentar lagi, temani aku pergi. Sudah lama aku tidak ke Seoul.”

Kim So Eun mengangguk. Tidak dapat menolak.

Kim Bum tersenyum.

Bersambung…

1 komentar:

  1. aaaaaaaaaHHHHH kim BUm so Sweeeeeeeeeeettttttt..
    (LuMeR kayak JeLLy liat sikap-nya ke So Eun..!!)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...