Silahkan Mencari!!!
I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Arwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Arwah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Juni 2011
Nyanyian Arwah (FF)
Title : Nyanyian Arwah
Genre : Horor, Mystery
Author : Sweety Qliquers
Episode : 11 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 04 Mei 2011, 03.43 PM
Story:
Mengisahkan keluarga Tn. Song Seung Hun yang membeli sebuah rumah tua dan kuno di pinggir kota. Dari sanalah ihwal pemunculan arwah yang suka bernyanyi, dan kerap merasuki tubuh Park Shin Hye, putri Tn. Song Seung Hun. Bersiaplah untuk bergidik. Ingat, jangan baca saat Anda sendiri!
Cast :
Song Seung Hun
Kim Tae Hee
Park Shin Hye
Lee Hong Ki
Extended Cast :
Lee Bum Soo
Lee Dong Gun
Kim Yoo Jung
Nyanyian Arwah
Chapter 1 - Membeli Rumah Kuno
Chapter 2 - Arwah Di Rumah Kuno
Chapter 3 - Park Shin Hye Kesurupan
Chapter 4 - Arwah Penasaran
Chapter 5 - Arwah Bocah Perempuan
Chapter 6 - Misteri Rumah Kuno
Chapter 7 - Misteri Arwah Yang Suka Bernyanyi
Chapter 8 - Arwah Yang Suka Bernyanyi Lagu Anak-Anak
Chapter 9 - Dinding Di Bawah Tangga
Chapter 10 - Misteri Pembunuh Kim Yoo Jung
Chapter 11 - Selamat Jalan Kim Yoo Jung (Tamat)
Nyanyian Arwah (Chapter 11-Tamat)
Chapter 11
Selamat Jalan Kim Yoo Jung
Lee Hong Ki melipat korannya dengan wajah puas. Ada perasaan bangga karena di dalam berita itu namanya disebut-sebut sebagai orang yang punya peranan penting atas terbongkarnya kasus pembunuhan yang cukup unik itu.
Akhirnya, tanpa kesulitan yang berarti, pihak yang berwajib berhasil menemukan dan memenjarakan Tn. Lee Dong Gun. Akhirnya terungkap juga semua alasan yang membuat Tn. Lee Dong Gun tega menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri. Alasan yang kedengarannya tak masuk akal. Tn. Lee Dong Gun malu jika calon istri barunya mengetahui bahwa ia punya seorang anak, apalagi seorang anak perempuan yang gila.
Jangan-jangan Lee Dong Gun itu juga bukan orang waras, batin Lee Hong Ki.
"Kopinya, Lee Hong Ki."
Lee Hong Ki menoleh. Ny. Kim Tae Hee mengangsurkan segelas kopi kepadanya.
"Enak saja! Ini untuk Tn. Lee Bum Soo. Suruh ia istirahat sebentar. Kasihan, dari pagi belum berhenti. Dia memang rajin...."
Lee Hong Ki segera membawa segelas kopi itu ke dalam. Di bawah tangga dilihatnya Tn. Lee Bum Soo masih sibuk dengan adonan semennya.
"Minum kopi dulu, Tn. Lee Bum Soo."
Tn. Lee Bum Soo tersenyum. "Sedikit lagi beres, kan? Besok tinggal mengecat dan... kembali seperti semula. Seperti setahun yang lalu."
"Bagus. Bagaimanapun, seharusnya itu memang dibiarkan terbuka, dan dimanfaatkan untuk gudang."
Lee Hong Ki memandang ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga itu. Ia teringat kembali seperti apa perasaannya waktu itu. Ia masih bisa membayangkan bagaimana dan seperti apa mayat yang belum seluruhnya hancur itu. Bahkan pakaiannya masih utuh dan tali yang melingkar di leher itu pun masih utuh. Kurun waktu setahun dalam ruang tertutup sangat rapat membuat mayat itu tidak cepat rusak.
Mayat Kim Yoo Jung.
Lee Hong Ki masih sering berpikir, apakah arwah penasaran Kim Yoo Jung juga akan merasuki orang, jika orang itu bukan Park Shin Hye? Bagaimana jika yang datang sebagai penghuni bukan anak perempuan yang kebetulan sama persis tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya dengan Kim Yoo Jung?
Barangkali kasus terbunuhnya Kim Yoo Jung tak pernah terungkap. Park Shin Hye sendiri sudah tidak terlalu merisaukan keanehan-keanehan yang pernah menimpa dirinya.
Ia menganggap dirinya hanyalah media yang dipakai arwah Kim Yoo Jung untuk membuka dan menyingkap kejahatan dan kekejian ayahnya sendiri.
Luar biasa.
Buktinya, sejak jasad Kim Yoo Jung dikebumikan dengan layak, dan kejahatan Tn. Lee Dong Gun terungkap, Park Shin Hye tak pernah lagi mengalami hal-hal aneh maupun kesurupan.
"Tidak usah terlalu bagus, Tn. Lee Bum Soo...."
Lee Hong Ki dan Tn. Lee Bum Soo menoleh. Yang datang adalah Tn. Song Seung Hun.
"Ayah!" kata Lee Hong Ki. "Tentunya Ayah setuju jika kita mempertahankan keaslian rumah antik ini, kan? Kita tidak tahu, tapi Tn. Lee Bum Soo lebih tahu seperti apa bentuk kolong tangga ini dulunya...."
"Iya, tapi apa artinya jika sebentar lagi Ayah akan menjualnya?"
"Menjual rumah ini?" Lee Hong Ki terpukau.
Tn. Song Seung Hun tertawa gembira. "Kenapa tidak? Karena foto rumah kita beberapa kali muncul di koran, ternyata berakibat bagus. Ada sekian penggemar bangunan kuno yang tertarik untuk membeli dengan harga istimewa."
"Apa tidak sayang, Yah?"
"Kalau mereka berani membayar tiga kali lipat dari nilai beli kita?"
"Terserah Ayah. Mungkin dengan begitu kita bisa membuat rumah yang betul-betul baru. Tanpa masalah, tanpa misteri...."
Tn. Song Seung Hun tersenyum.
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Nyanyian Arwah (Chapter 10)
Chapter 10
Misteri Pembunuh Kim Yoo Jung
Ny. Kim Tae Hee mengajak Park Shin Hye kembali ke kamar.
"Ternyata Tn. Lee Bum Soo punya ilmu."
"Ilmu apa? Cuma kemampuan kecil. Kau pun bisa belajar. Cuma doa."
Lee Hong Ki tersenyum puas. "Kemarin-kemarin kami selalu kerepotan mengatasi Park Shin Hye, tapi ternyata Tn. Lee Bum Soo cuma dengan sekali sentuhan, Park Shin Hye seketika sadar. Hebat!"
Lee Hong Ki teringat ayahnya. Pasti akan ada perdebatan terlebih dahulu. Tapi mengingat kemampuan Tn. Lee Bum Soo dalam menyadarkan Park Shin Hye tadi, timbullah kepercayaan Lee Hong Ki padanya. Nampaknya Tn. Lee Bum Soo langsung melihat, atau setidaknya memiliki firasat tertentu. Dan Lee Hong Ki percaya, di balik sikapnya yang selalu merendah, sesungguhnya Tn. Lee Bum Soo punya kemampuan ekstra melebihi orang kebanyakan.
Mungkin semacam kekuatan supranatural.
"Bagaimana? Kau setuju saya bongkar dinding ini?"
Bagaimana jika Ayah marah? Tapi Ibu pun sudah setuju! batin Lee Hong Ki.
"Saya carikan alatnya. Sekarang juga!" kata Lee Hong Ki akhirnya dengan suara mantap. Ya, semua ini demi kebaikan Park Shin Hye!
Sesaat kemudian Tn. Lee Bum Soo dan Lee Hong Ki cukup menimbulkan kegaduhan. Dengan hanya menggunakan sebuah palu yang cukup besar, mereka bergantian membobol tembok di bawah tangga itu.
Lee Hong Ki merasa, Tn. Lee Bum Soo sangat bersemangat. Ia bekerja tanpa banyak bicara. Tapi ketika ia telah berhasil membuat lubang sebesar kepala kerbau, sejenak Tn. Lee Bum Soo berhenti. Lee Hong Ki pun secara refleks mendekap hidungnya.
Ada bau tak sedap keluar dari lubang yang telah berhasil dibuat itu.
"Mundur!" perintah Tn. Lee Bum Soo pada Lee Hong Ki.
Lalu, ia mengatur sikap membuat ancang-ancang dan mengayunkan martil sekuat tenaga.
Sebuah lubang yang cukup besar telah tercipta, dan itu cukup membuat keduanya dengan mudah melihat sesuatu yang berada di balik dinding itu.
Sesuatu yang membuat Lee Hong Ki hampir pingsan!
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 9)
Chapter 9
Dinding Di Bawah Tangga
Hari ini Tn. Song Seung Hun berjanji hendak menemui seorang paranormal kenalannya sepulang dari kantor, untuk membicarakan keanehan yang terjadi pada Park Shin Hye. Ny. Kim Tae Hee dan Lee Hong Ki sangat mendukung keputusan Tn. Song Seung Hun itu, namun Lee Hong Ki juga punya rencana lain.
Pulang sekolah, Lee Hong Ki tidak langsung pulang ke rumah, melainkan berbelok ke rumah Tn. Lee Bum Soo. Untunglah Tn. Lee Bum Soo juga sedang ada di rumah.
Ketika telah berhadapan dengan orang tua itu, Lee Hong Ki langsung menceritakan kejadian semalam.
"Dinding di bawah tangga?" Tn. Lee Bum Soo memotong cerita Lee Hong Ki.
"Kim Yoo Jung... maksud saya Park Shin Hye, menunjuk-nunjuk dinding di bawah tangga itu. Bongkar! Bongkar! Begitu katanya."
Tn. Lee Bum Soo nampak berpikir. Ia tengah menggali ingatannya.
"Saya sering masuk ke rumah itu dan tahu persis situasi dari ruang-ruang di dalam. Tapi seingat saya, di bawah tangga ke atas itu sengaja dibiarkan terbuka. Tentu saja terbuka, karena jadi ruang kecil yang dimanfaatkan sebagai gudang. Betul! Saya selalu mengambil sabit dan gunting rumput dari bawah tangga," ungkapnya.
"Nanti dulu! Anda pasti salah ingat. Tak ada ruang di bawah tangga. Yang ada cuma dinding!"
"Bongkar...?" Tn. Lee Bum Soo bergumam. Lalu tiba-tiba: "Ayo kita ke rumahmu!"
Lee Hong Ki terbawa oleh semangat Tn. Lee Bum Soo. Hanya dalam dua kali pertemuan, ia telah merasa akrab dengan Tn. Lee Bum Soo. Tidak lama berselang sesampainya di rumah, Ny. Kim Tae Hee tidak bisa berbuat banyak kecuali membiarkan Tn. Lee Bum Soo masuk ke rumah. Ia percaya sepenuhnya pada Lee Hong Ki. Dan semua demi kebaikan Park Shin Hye!
"Dinding ini!" Lee Hong Ki menunjuk dinding di sisi tangga, atau lebih tepat disebut di bawah tangga. Semestinya ada ruang berbentuk segitiga di bawah tangga itu, namun yang ada adalah dinding. Dinding yang menutup ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga.
"Dulu dinding ini tidak ada!" kata Tn. Lee Bum Soo spontan. Spontan pula ia memukul-mukul permukaan dinding itu. "Nah, benar bukan? Dengarkan suaranya! Di balik dinding ini ada ruang kosong. Di sinilah dulu saya mengambil dan menaruh kembali peralatan kebun."
Lee Hong Ki ikut memukul-mukul dan akhirnya membenarkan ucapan Tn. Lee Bum Soo.
"Ini dinding baru. Lihat perbedaan warnat catnya. Beda, kan? Dinding ini lebih baru dan... sayangnya agak asal-asalan membuatnya. Siapa tukang bangunan yang membuatnya?" Tn. Lee Bum Soo berkata pada dirinya sendiri.
Selagi keduanya, ditambah kemudian dengan Ny. Kim Tae Hee, masih memeriksa dinding itu, terdengar suara langkah tergesa menuruni anak tangga.
"Bongkar!"
Mereka bertiga menoleh dan tercekat.
"Park Shin Hye?!" Ny. Kim Tae Hee dan Lee Hong Ki menjerit serentak.
"Kim Yoo Jung?" Tn. Lee Bum Soo berkomat-kamit.
Mulut Park Shin Hye yang mengeluarkan keluhan amarah, berangsur-angsur berubah menjadi tangisan pilu. Tangis seorang bocah!
Mulut Tn. Lee Bum Soo masih komat-kamit. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya, meniupkan tiga kali, lalu melangkah mendekati Park Shin Hye. Tangan Tn. Lee Bum Soo terulur maju dan tahu-tahu telapak tangannya mengusap wajah Park Shin Hye.
Lee Hong Ki dan Ny. Kim Tae Hee kian terpukau ketika melihat Park Shin Hye seperti terhentak. Seketika pula ekspresi wajah dan cahaya matanya berubah.
"Ibu...?" Park Shin Hye menatap ibunya dan kakaknya bergantian. Matanya seperti seorang yang baru bangun dari tidur. "Kalian sedang apa?"
"Ini, Ibu menyuruh saya membongkar dinding ini." Tn. Lee Bum Soo justru yang menjawab sambil menunjuk dinding di bawah tangga.
"Kenapa?" Park Shin Hye terheran-heran.
"Karena bisa untuk gudang, Park Shin Hye," kata Lee Hong Ki.
Ibu mengangguk. Artinya, di antara mereka bertiga, tanpa harus bicara, telah ada kesepakatan bahwa dinding itu harus dibongkar.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 8)
Chapter 8
Arwah Yang Suka Beryanyi Lagu Anak-Anak
Ny. Kim Tae Hee kembali terguncang. Tengah malam, ketika semua baru saja terlelah, Park Shin Hye kembali bertingkah aneh.
Kembali menari dan bernyanyi seperti orang gila. Tn. Song Seung Hun dan Lee Hong Ki berusaha memegangi tubuh Park Shin Hye, malahan terlempar ketika gadis itu meronta-ronta. Di tengah-tengah kepanikannya, tiba-tiba Lee Hong Ki ingat kisah yang dituturkan Tn. Lee Bum Soo.
Lee Hong Ki telah berdiri persis di depan Park Shin Hye yang masih berputar-putar dan menyanyikan lagu anak-anak dengan suara yang aneh.
"Kim Yoo Jung!" suara Lee Hong Ki keras menghardik.
Tn. Song Seung Hun kaget, sekaligus khawatir melihat tindakan Lee Hong Ki yang menurutnya sangat aneh. Tapi di luar dugaan, hardikan itu seketika menghentikan gerakan dan suara Park Shin Hye.
"Kau Kim Yoo Jung bukan? Kau arwah Kim Yoo Jung?!"
"Lee Hong Ki! Jangan macam-macam! Adikmu sedang sakit. Ia mengigau karena demamnya datang lagi!" Tn. Song Seung Hun mendorong tubuh Lee Hong Ki.
"Kim Yoo Jung!" Lee Hong Ki tak mempedulikan ayahnya lagi. Ia sekali lagi menghardik. "Jika kau berniat baik dan tak ingin mengganggu, pasti kau mau menjawab. Kau Kim Yoo Jung, bukan?"
Tiba-tiba Park Shin Hye menjatuhkan diri ke lantai, lalu menangis. Ia menangis sembari menggelosoh di lantai, seperti kelakuan seorang anak kecil. Lee Hong Ki mendengar tangis seorang bocah!
Tn. Song Seung Hun dan istrinya tak bisa berbuat banyak, kecuali memandang anak laki-lakinya itu, yang kini berjongkok sambil membelai kepala Park Shin Hye.
"Kim Yoo Jung... Kim Yoo Jung...," katanya lembut. "Kami semua orang baik-baik dan tidak ingin mengganggumu. Tolong katakan... apa yang kau mau? Tolong, kasihanilah adikku. Kim Yoo Jung... Kim Yoo Jung...."
Tn. Song Seung Hun dan istrinya menjadi takjub luar biasa manakala tiba-tiba Park Shin Hye menghentikan tangisnya.
Park Shin Hye berdiri setelah meraih lengan Lee Hong Ki, serta menarik kakaknya hingga berdiri juga. Sebelum Lee Hong Ki paham, ia terpaksa menurut ketika Park Shin Hye menariknya menuruni tangga. Park Shin Hye berhenti di anak tangga terakhir. Lee Hong Ki masih terus dipegang pergelangan tangannya oleh Park Shin Hye, seakan-akan orang buta yang ditunjukkan jalannya. Di samping tangga menuju lantai atas itu, mendadak Park Shin Hye kembali menangis. Berkali-kali ia menunjuk ke arah dinding di bawah tangga itu.
"Bongkar! Bongkar! Bongkar!" teriak Park Shin Hye berkali-kali bagai histeris. Ia terus menunjuk dinding di bawah tangga itu.
Lee Hong Ki kebingungan lagi. Ia memandang kedua orangtuanya yang juga sama-sama bingung.
Tangis Park Shin Hye semakin keras. Ia kembali meronta-ronta dan menggelosoh di lantai, mirip kelakuan bocah kecil yang dikecewakan.
Setelah itu Park Shin Hye terkulai, tertidur di lantai yang dingin dengan keringat bersimbah di sekujur tubuhnya. Ketika Lee Hong Ki dengan susah-payah membopong Park Shin Hye ke kamar ibunya, Tn. Song Seung Hun menguntit dari belakang dengan sikap tak berdaya.
"Kim Yoo Jung? Siapa Kim Yoo Jung?"
"Anak Tn. Lee Dong Gun. Apa ayah lupa cerita Tn. Lee Bum Soo tadi pagi?"
Setelah Park Shin Hye ditidurkan, Tn. Song Seung Hun dan istrinya duduk rapi di depan anak laki-lakinya. Lee Hong Ki menceritakan pertemuan dengan Tn. Lee Bum Soo. Ia menceritakan kembali apa yang telah didengarnya dari Tn. Lee Bum Soo.
"Aneh juga. Dalam setiap pertemuan dengan Tn. Lee Dong Gun, ia tak pernah bercerita perihal keluarganya, apalagi tentang anaknya yang mengalami gangguan mental. Ayah bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Tn. Lee Dong Gun telah beristri lagi."
"Mungkin masih ada rahasia-rahasia yang sengaja disembunyikan olehnya. Rahasia-rahasia rumah ini," kata Ny. Kim Tae Hee. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya. "Lalu, apa hubungannya dengan Kim Yoo Jung? Apa betul orang yang belum mati bisa merasuki Park Shin Hye? Aneh!"
"Bongkar...?!"
Lee Hong Ki tengah berpikir keras.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 7)
Chapter 7
Misteri Arwah Yang Suka Bernyanyi
Tn. Lee Bum Soo menghela napas panjang lagi. "Panjang ceritanya. Tapi semua warga di daerah ini tahu persis peristiwa menyedihkan yang dialami keluarga Tn. Lee Dong Gun."
Lee Hong Ki takzim menyimak.
"Tn. Lee Dong Gun mewarisi rumah tua itu dari kakeknya. Ia tinggal bersama istrinya yang cantik hingga kemudian dikaruniai seorang putri yang cantik. Kim Yoo Jung namanya. Ia buah hati kedua orangtuanya. Sayang kebahagiaan mereka terenggut. Suatu hari mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan fatal. Istri Tn. Lee Dong Gun meninggal dalam kecelakaan itu."
"Juga Kim Yoo Jung?" Lee Hong Ki semakin antusias.
"Tidak. Kim Yoo Jung selamat meski harus menjalani banyak waktu untuk perawatan. Dan ia... ia mengalami gangguan otak. Ia mengalami gegar otak berat karena benturan keras dalam kecelakaan tersebut. Berbagai cara telah ditempuh, namun hasilnya... entahlah, hanyan Tn. Lee Dong Gun yang tahu. Setahu kami, Kim Yoo Jung tumbuh semakin dewasa, tapi tingkah dan kemampuannya abnormal — tetap seperti anak kecil. Ia didiagnosis mengalami gangguan mental karena gegar otak akut. Bertahun-tahun Tn. Lee Dong Gun hidup berdua dengan Kim Yoo Jung yang tidak waras. Kala kecelakaan maut itu, Kim Yoo Jung baru jalan lima tahun, hingga sekarang... mungkin usianya limabelas tahun."
"Sama dengan usia Park Shin Hye," desis Lee Hong Ki.
"Tapi anehnya," lanjut Tn. Lee Bum Soo," Kim Yoo Jung tiba-tiba tak pernah kelihatan lagi. Orang-orang tak pernah lagi mendengar nyanyiannya yang lucu dan racau."
"Sejak kapan?"
"Hampir setahun yang lalu, tepatnya sebelum Tn. Lee Dong Gun menikah lagi. Waktu itu...."
"Tunggu dulu! Jadi, Tn. Lee Dong Gun sudah punya istri lagi?"
Tn. Lee Bum Soo mengangguk. "Waktu itu, sejak wanita yang kemudian dipersunting Tn. Lee Dong Gun hadir, Kim Yoo Jung tidak kelihatan lagi. Katanya, entah siapa yang bilang, Kim Yoo Jung dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kasihan, kan?"
"Seharusnya memang begitu."
"Kenapa tidak dari dulu?"
"Pasti Tn. Lee Dong Gun sudah banyak berupaya."
"Ya, mungkin begitu. Ah, orang itu memang sangat tertutup sejak istrinya meninggal. Ketika menikah, orang-orang di sini pun tak ada yang diundangnya ke pesta pernikahannya."
"Mereka menikah di sini?"
"Tidak. Kabarnya mereka menikah di kota istri barunya. Dan sejak saat itu, rumah yang kalian tempati itu dikosongkan. Hanya sesekali saja Tn. Lee Dong Gun datang menengok."
"Pantas rumah itu kurang terawat," gumam Lee Hong Ki.
"Hampir setahun ditinggalkan."
"Apakah ada sesuatu yang tak wajar di rumah itu sehingga Tn. Lee Dong Gun meninggalkan rumahnya, bahkan kemudian menjualnya dengan harga yang sangat murah. Rumah tersebut sebenarnya sangat artistik, bukan?"
Tn. Lee Bum Soo memainkan jari-jarinya. "Seingat saya tak ada yang aneh di rumah itu. Tak pernah."
"Mungkin ada hantunya...."
Tn. Lee Bum Soo menggeleng.
"Jangan-jangan karena ada saya...."
"Oh, tidak! Rumah itu biasa-biasa saja. Sekali pun tak pernah ada kejadian aneh, apalagi menyeramkan. Kesannya saja yang angker, karena tidak terawat dan catnya yang kusam termakan cuaca."
"Lalu, kejadian apa yang telah menimpa adik saya? Kenapa bisa seperti itu? Kerasukan, seperti orang gila dan...."
"Saya bukan orang pintar, bukan dukun atau paranormal. Untuk urusan kerasukan setan, mungkin bisa diatasi oleh mereka, yang ahli ilmu gaib."
"Mudah-mudahan dokter bisa mengatasi. Mungkin Park Shin Hye memang sakit dan harus diobati...," gumam Lee Hong Ki.
"Saya harap begitu," ucap Tn. Lee Bum Soo. Ucapan bernada bimbang.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 6)
Chapter 6
Misteri Rumah Kuno
Sore harinya Tn. Song Seung Hun dan istrinya membawa Park Shin Hye ke dokter, meskipun badan Park Shin Hye sudah tak panas lagi. Park Shin Hye sendiri sebenarnya enggan dibawa untuk berobat, karena merasa telah sehat. Anehnya, seperti semalam, ia juga tak ingat telah berbuat ganjil, bahkan telah melukai wajah kakaknya sendiri.
Ketika rumah telah sepi, Lee Hong Ki juga keluar rumah. Sejak siang tadi, ia telah menetapkan niat untuk menemui Tn. Lee Bum Soo yang datang tadi pagi. Begitu banyak informasi yang ingin ia ketahui, terutama mengenai tempat tinggal barunya. Di lingkungan barunya ini, Lee Hong Ki merasa hanya baru mengenal Tn. Lee Bum Soo. Sampai detik ini, Lee Hong Ki hanya punya anggapan bahwa keanehan yang diperlihatkan Park Shin Hye pasti ada kaitannya dengan rumah baru mereka.
Tak sulit untuk menemukan rumah Tn. Lee Bum Soo di lingkungan yang tidak terlalu padat itu. Dan Lee Hong Ki agak lega karena ia disambut dengan baik dan ramah oleh Tn. Lee Bum Soo.
"Ada apa kau datang kemari? Nampaknya ada sesuatu yang sangat penting sekali...," sambut Tn. Lee Bum Soo seketika, begitu melihat Lee Hong Ki datang dengan wajah keruh.
"Adik saya kesurupan lagi...."
"Kesurupan? Maksudnya, seperti semalam lagi? Ya Tuhan... saya tadinya hendak berkata begitu, tapi takut menyinggung perasaan ayahmu."
"Ja-jadi, anda pun tahu bahwa Park Shin Hye, adik saya, kesurupan setan?" Lee Hong Ki semakin antusias.
"Ada arwah yang merasuki adikmu...."
"Persis! Saya pun beranggapan begitu. Tapi, Ayah saya selalu menilai saya kelewatan, mengada-ada."
Tn. Lee Bum Soo mengangguk-angguk, tanda memahami.
"Apakah ada kaitannya dengan rumah kami?"
"Saya tidak berani memastikan begitu. Tapi...."
"Apakah sebelumnya pernah terjadi keanehan di rumah itu? Sejak semula saya kurang setuju kalau Ayah saya membeli rumah hantu itu."
"Rumah hantu?"
"Mirip, kan? Suasananya begitu..." Lee Hong Ki berhenti sebentar. "Tunggu! Sekarang saya ingat...."
"Selama ini tidak pernah terjadi keanehan di rumah itu, kecuali...."
"Tunggu dulu, tuan. Sekarang saya yakin bahwa suara nyanyian dari mulut adik saya sama sekali bukan suaranya. Melainkan...."
"Suara anak-anak?" potong Tn. Lee Bum Soo.
"Ya, betul!"
Sebentar, Tn. Lee Bum Soo seolah membantu dengan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat. "Di telinga saya, suara itu adalah suara Kim Yoo Jung."
"Anda yakin?"
"Dulu saya sering datang ke rumah itu untuk memotong rumput. Beberapa kali dalam sebulan Tn. Lee Dong Gun mengupah saya untuk membersihkan halaman rumahnya. Memotong rumput, memangkas pohon. Jadi, saya sudah hapal dengan suara dan nyanyian Kim Yoo Jung. Kasihan anak itu...."
"Tapi, kata Ayah saya, Tn. Lee Dong Gun tidak memiliki anak."
"Bohong. Mungkin ia hanya malu karena...." Tn. Lee Bum Soo ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Karena apa?" Lee Hong Ki mendesak.
Tn. Lee Bum Soo menarik napas panjang terlebih dahulu.
"Putri satu-satunya itu punya gangguan ingatan!"
"Mak-maksud anda, gila?!"
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 5)
Chapter 5
Arwah Bocah Perempuan
Siang harinya sepulang sekolah, Lee Hong Ki menjumpai wajah cemas ibunya.
"Park Shin Hye dipulangkan dari sekolahnya, Lee Hong Ki. Dia sakit...."
Lee Hong Ki menjumpai adiknya terbujur lesu di kamar. Tubuhnya demam. Ibunya telah memberi obat penurun panas dua jam yang lalu, tapi sampai kini suhu badannya tidak juga segera turun.
"Cuma demam biasa kan, Bu? Nanti sore kalau belum membaik, kita bawa ke dokter."
Ny. Kim Tae Hee mengangguk setuju.
Siang itu Lee Hong Ki makan siang hanya berdua dengan ibunya. Biasanya mereka makan bertiga dengan Park Shin Hye. Tapi di tengah acara makan siang yang tak riang itu, tiba-tiba terdengar suara nyanyian dari kamar Park Shin Hye. Seketika Lee Hong Ki dan ibunya teringat kejadian semalam. Lee Hong Ki naik ke lantai atas dan langsung menerjang pintu kamar Park Shin Hye.
"Park Shin Hye?!"
Park Shin Hye tak lagi terbujur tak berdaya di atas kasur, melainkan berputar-putar di atas ranjangnya. Bernyanyi dan menari.
"gom sema ri ga… han chi be yi so… appa gom… omma gom… ae gi gom… appa gommun tung tung hae… omma gommun nal shin hae… ae gi gommun na bul gwi yo wo… hishuk hishuk cha rhan da...."
"Park Shin Hye!" gerakan Lee Hong Ki terhenti. Selanjutnya ia berdiri dan memandang tingkah adiknya dengan seksama. Tarian dan lagunya asal-asalan. Dan... suara itu... suara itu bukan suara Park Shin Hye!
Lee Hong Ki menegaskan pendengarannya. Bukan suara Park Shin Hye yang telah diakrabinya hampir seluruh hidupnya, namun melainkan suara anak perempuan. Kecil dan agak cadel.
"Ibuuuu... Park Shin Hye kesurupan lagiii!" teriak Lee Hong Ki, antara panik dan ketakutan.
Ny. Kim Tae Hee telah sampai di lantai atas, dan langsung menjerit histeris. Cemas dan takut bercampur baur menjadi satu. Tapi kemudian Lee Hong Ki lebih cepat menguasai diri dan bertindak.
Tamparannya yang cukup keras mendarat di pipi Park Shin Hye. Namun di luar dugaan Park Shin Hye tidak menjerit kesakitan, melainkan justru membuat gerakan balasan. Begitu cepat, tahu-tahu Lee Hong Ki merasakan pedih di pipinya. Park Shin Hye telah melukai pipi kakaknya itu dengan cakaran.
"Pergi! Pergi!" Mata Park Shin Hye membuas. Tapi setelah itu, ia kembali membuat gerakan. Menari dan menyanyi lagi.
"gom sema ri ga… han chi be yi so… appa gom… omma gom… ae gi gom… appa gommun tung tung hae… omma gommun nal shin hae… ae gi gommun na bul gwi yo wo… hishuk hishuk cha rhan da...."
Tubuh Park Shin Hye terjatuh. Untunglah ia masih di atas kasur sehingga kepalanya aman dari benturan benda keras.
"Park Shin Hye!" Ny. Kim Tae Hee memburu dan mendapatkan putrinya yang kini tengah terlentang tak berdaya. Keringat bersimbah di wajah Park Shin Hye. Tapi setelah diamati, ternyata Park Shin Hye telah tertidur, bahkan memperdengarkan dengkuran halus.
Lee Hong Ki dan ibunya saling berpandangan dengan heran. Keterkejutan jelas belum memudar dari wajah mereka.
"Rumah ini ada penghuninya," desis Lee Hong Ki.
Ny. Kim Tae Hee berkomat-kamit. Nampaknya berdoa.
"Suara siapa? Arwah siapa?" Lee Hong Ki kembali bergumam sendiri.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 4)
Chapter 4
Arwah Penasaran
Tn. Song Seung Hun menggeleng ke arah Lee Hong Ki. Menyuruh putranya itu diam. Ia tidak mau Lee Hong Ki menyudutkan Park Shin Hye yang tidak tahu apa-apa. Gadis itu semakin terpuruk. Dan ia masih terguncang dengan kejadian yang sama sekali tidak disadarinya itu.
Ia mendekati Park Shin Hye, lantas membelai kepalanya dengan lembut.
"Kau mungkin terlalu capek karena seharian ini bantu-bantu Ibu. Sekarang tidurlah. Masih pusing?"
"Tadi Ayah menamparku?"
"Maafkan Ayah...." Tn. Song Seung Hun menyentuh pipi Park Shin Hye dengan lembut.
Hari semakin larut. Sudah menjelang pukul satu dinihari. Park Shin Hye sudah tidur setengah jam yang lalu, setelah Ny. Kim Tae Hee setengah memaksanya minum aspirin. Tapi Tn. Song Seung Hun bersama istri dan anak lelakinya seperti tak ingin segera tidur. Mereka masih membicarakan keanehan yang barusan terjadi. Ny. Kim Tae Hee mengambil kesimpulan yang cukup menakutkan, Park Shin Hye kerasukan setan!
"Mungkin saat itu pikiran Park Shin Hye tengah kosong, dan...."
"Lalu, arwah siapa?! Jangan-jangan rumah ini 'berpenghuni'?!" Lee Hong Ki menyela dengan mimik ringis.
"Jangan berpikir aneh-aneh, Lee Hong Ki! Kau mulai lagi terpengaruh film-film horor!"
Ny. Kim Tae Hee sedari tadi lebih banyak berdiam diri, tapi sesungguhnya ia merasa kahawatir dan ketakutan.
* * *
Pagi-pagi sekali ada tamu yang datang. Seorang tetangga baru, laki-laki itu tinggal tak jauh dari rumah kediaman baru keluarga Song Seung Hun.
"Kebetulan saya lewat mau ke Desa sebelah, lalu mampir," kata laki-laki itu, namanya Tn. Lee Bum Soo, menjawab keheran Tn. Song Seung Hun. "Saya semalam juga datang...."
"Oh, ya. Tentu saja saya masih ingat." Padahal sesungguhnya Tn. Song Seung Hun telah lupa. Ia belum bisa mengingat dan belum tahu siapa-siapa persis orang-orang yang tinggal di sekitarnya.
"Mengenai putri Tuan semalam...."
Sampai di situ, Lee Hong Ki yang tengah mengelap sepeda untuk pergi ke sekolah merasa terusik. Ia menghentikan kesibukannya dan menguping pembicaraan ayahnya dengan Tn. Lee Bum Soo.
"Apakah putrid anda dalam keadaan baik-baik saja?"
Tn. Song Seung Hun tertawa kecil. "Park Shin Hye tidak apa-apa. Semalam ia hanya merasa kecapekan, lalu begitulah," Tn. Song Seung Hun mengangkat bahunya, "sedikit bertingkah aneh. Ah, namanya juga anak-anak."
"Tapi, nyanyiannya itu...?"
Lee Hong Ki merasa sangat tertarik.
"Ada apa dengan nyanyiannya? Lucu, ya?" tanyanya akhirnya, setelah tak mampu membendung rasa penasaran. Ia nimbrung kini, melemparkan kain lapnya ke samping sepeda. Berdiri, lalu berjalan menghampiri ayahnya dan Tn. Lee Bum Soo.
Tn. Lee Bum Soo seperti menggumam. "Mengingatkan saya pada...."
"Apa, Tuan?" Tn. Song Seung Hun dan Lee Hong Ki bertanya serempak. Rasa penasaran mereka semakin membuncah.
"Kim Yoo Jung."
"Kim Yoo Jung? Siapa Kim Yoo Jung?! Putri anda?" tanya Lee Hong Ki.
"Kim Yoo Jung, putrinya Tn. Lee Dong Gun." Tn. Lee Bum Soo mengerutkan keningnya, ada bayang ragu tergambar di wajahnya.
"Maksudnya, Lee Dong Gun yang dulunya pemilik rumah kami ini?" tanya Tn. Song Seung Hun. "Tapi, bukankah Tn. Lee Dong Gun tidak punya anak? Setahu saya, Tn. Lee Dong Gun itu seorang duda tanpa anak."
"Tn. Lee Dong Gun punya anak. Satu orang. Namanya Kim Yoo Jung. Dulunya... Kim Yoo Jung juga suka menyanyi. Anak-anak memang suka bernyanyi, kan?"
"Biasanya begitu," Lee Hong Ki yang menjawab. Ia semakin tertarik dengan setiap ucapan Tn. Lee Bum Soo. "Oh, jadi sebenarnya Tn. Lee Dong Gun punya anak perempuan yang bernama Kim Yoo Jung. Lalu, di mana sekarang? Ikut ibunya?"
"Ibunya... istri Tn. Lee Dong Gun telah meninggal dunia, Lee Hong Ki." Tn. Song Seung Hun menjelaskan.
Lee Hong Ki masih sangat ingin berbincang-bincang dengan Tn. Lee Bum Soo, tetapi nampaknya Tn. Lee Bum Soo agak tergesa-gesa. Sebelum berbicara lebih banyak, ia telah berpamitan. Lee Hong Ki tak punya alasan untuk mencegahnya.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 3)
Chapter 3
Park Shin Hye Kesurupan
"Ada apa? Apa maumu, Park Shin Hye?!"
Tn. Song Seung Hun menghardik, berusaha menutup rasa malunya terhadap tamu-tamunya dengan mengeluarkan suara amarah yang tak kalah lantangnya.
"Mendadak dia seperti kerasukan setan, Ayah. Tanganku malah digigitnya!" Lee Hong Ki yang menjawab sambil terus memegangi tubuh adiknya. Sementara itu Park Shin Hye terus bernyanyi dan semakin ngawur.
Plak!
Di luar dugaan, Tn. Song Seung Hun menampar pipi putrinya dengan cukup keras. Lee Hong Ki sempat tercengang melihat tindakan ayahnya. Tapi ia lebih terkejut lagi ketika melihat tubuh Park Shin Hye mendadak mengejang dan mendadak pula terkulai. Lee Hong Ki dengan sigap memeluk tubuh adiknya sebelum terjatuh.
Hanya beberapa detik tubuh Park Shin Hye terkulai tak berdaya. Dalam waktu yang sangat singkat, mata Park Shin Hye yang semula terpejam telah terbuka. Beberapa kali mata itu terkerjap. Park Shin Hye menampakkan ekspresi kebingungan.
"Ada apa ini???" Park Shin Hye meronta dari pelukan kakaknya.
"Park Shin Hye?" Lee Hong Ki menatap cemas. "Kau kenapa? Kau... kau... tidak apa-apa?"
Park Shin Hye nampak semakin kebingungan. "Memangnya aku kenapa?"
"Lee Hong Ki, bawa adikmu masuk ke kamar, sementara Ayah mengurus tamu-tamu. Kau paham?"
Lee Hong Ki mengerti maksud ayahnya. "Ayo ke kamar, Park Shin Hye!" bujuknya sembari menarik tangan adiknya.
Tn. Song Seung Hun telah turun lagi ke lantai bawah, menjumpai tamu-tamunya. Ia meminta maaf atas gangguan kecil yang telah ditimbulkan oleh Park Shin Hye, putrinya. Sesaat kemudian para tamu menyalami dan berpamitan.
Setelah suasana sepi, Tn. Song Seung Hun menutup semua pintu, lalu dengan tergesa-gesa naik ke lantai atas.
Di kamar putrinya itu, Ny. Kim Tae Hee tengah menanyai Park Shin Hye dengan perasaan cemas.
"Ini aneh Yeobo!" Ny. Kim Tae Hee menatap suaminya kebingungan. "Park Shin Hye sama sekali lupa dengan apa yang telah dilakukannya tadi..."
Tn. Song Seung Hun menatap Park Shin Hye meminta penjelasan. Park Shin Hye masih duduk sambil mendekap bantal. Barkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku sungguh-sungguh tidak mengerti, tidak ingat apa-apa. Sumpah! Rasanya... aku tidak melakukan apa-apa. Tadinya cuma pusing... dan Aku kan sudah bilang pada Ibu, bahwa aku sedikit pusing dan ingin rebahan dulu di kamar. Setelah itu... rasanya aku ketiduran... lalu?"
"Kau tidak sadar bahwa kau sudah membuat kacau dan membuat malu orang rumah?!" Lee Hong Ki membentak, membuat Park Shin Hye sedikit ketakutan."
"Aku bingung!" jerit Park Shin Hye.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 2)
Chapter 2
Arwah Di Rumah Kuno
"Sudah jam sepuluh lewat, Yeobo...."
Sentuhan istrinya itu membuat Tn. Song Seung Hun tersadar dari lamunannya. "Ya? Apa?"
"Sudah cukup larut..." bisik Ny. Kim Tae Hee. Tn. Song Seung Hun mengerti maksud istrinya. Sudah waktunya memberikan pidato singkat berisi ucapan terima kasih dan selsangat jalan. Pesta selsangatan pindah ke rumah baru ini akan segera diakhiri. Tn. Song Seung Hun cepat bergeser dari posisinya sambil mengedarkan pandangan. Benar, para tamu telah selesai dengan hidangan penutup. Ia berjalan menuju ke sudut kosong, menepuk tangan beberapa kali untuk meminta perhatian para tamu.
Para tamu serentak memandang ke arah Tn. Song Seung Hun dan menghentikan kesibukannya masing-masing.
"Tuan dan Nyonya sekalian...." Tn. Song Seung Hun membuka suara. Tapi suaranya tertelan kembali manakala tiba-tiba terdengar suara sangat berisik dan lantang dari balkon.
Serentak semua mata memandang ke atas. Seorang gadis manis berada di balkon, menari berputar-putar sambil bernyanyi-nyanyi sembarangan dengan suara keras dan melengking.
"Park Shin Hye!" Ny. Kim Tae Hee dengan panik berseru ke arah putrinya.
Lee Hong Ki untuk sesaat seperti takjub dan terpesona melihat kelakuan adiknya itu.
Namun ketika teriakan dan pelototan Ny. Kim Tae Hee tak juga menghentikan keanehan Park Shin Hye, dengan cepat Lee Hong Ki berlari menaiki anak tangga untuk menghentikan adiknya.
"Park Shin Hye! Apa-apaan kau?! Tidak tahu malu! Siapa yang menyuruhmu memberikan hiburan?"
Lee Hong Ki mendorong tubuh adiknya, menjauh dari pagar balkon agar Park Shin Hye tak terlihat oleh orang-orang lagi dari bawah.
Park Shin Hye mendadak menghentikan gerakan dan nyanyiannya. Ia menatap kakaknya itu dengan pandangan beringas.
Tanpa sadar Lee Hong Ki melangkah mundur. Ini untuk pertama kalinya ia mendapati sikap adiknya yang begitu aneh. Mata itu begitu buas dan penuh ancaman!
"Park Shin Hye! Kau kenapa?" Tiba-tiba Lee Hong Ki merasa cemas.
Tak ada jawaban, melainkan teriakan dengan irama yang menyakitkan telinga. Sebuah nyanyian, lagu anak-anak dengan nada yang sangat sumbang.
"gom sema ri ga… han chi be yi so… appa gom… omma gom… ae gi gom… appa gommun tung tung hae… omma gommun nal shin hae… ae gi gommun na bul gwi yo wo… hishuk hishuk cha rhan da...."
Koreang Song - Three Bears
Terdengar tawa dan tepuk tangan dari bawah. Terdengar suara Ny. Kim Tae Hee meminta maaf. Memalukan sekali! Lee Hong Ki bergerak mendekap mulut Park Shin Hye, namun Park Shin Hye semakin meronta bahkan menggigit telapak tangan kakaknya. Pada saat keduanya masih bergumul, Tn. Song Seung Hun telah sampai di atas.
Bersambung…
Nyanyian Arwah (Chapter 1)
Chapter 1
Membeli Rumah Kuno
Pesta sederhana itu berlangsung cukup meriah. Berkali-kali Tn. Song Seung Hun saling berpandangan dengan istrinya, saling tersenyum dengan manis, menandakan kebahagiaan sekaligus kepuasaan. Para tamu undangan yang datang dari jauh adalah mereka yang mulai hari ini resmi menjadi mantan tetangga. Kedatangan mereka adalah bukti bahwa Tn. Song Seung Hun sekeluarga tetap disayangi dan dihormati, bahkan mungkin disayangkan kepergiannya. Tamu yang lain adalah orang-orang sekitar yang akan menjadi tetangga baru.
Kesediaan mereka datang mengisyaratkan bahwa keluarga Song Seung Hun diterima dengan baik di lingkungan mereka.
Di luar itu semua, yang paling membahagiakan Tn. Song Seung Hun adalah kenyataan bahwa mulai sekarang ia sudah memiliki rumah sendiri, setelah bertahun-tahun sejak menikah mereka hanya menempati rumah kontrakan.
Katanya, kesempurnaan seorang lelaki adalah apabila ia sudah memiliki sebuah rumah sendiri dari hasil jerih payahnya. Tn. Song Seung Hun bangga, biar pun untuk memiliki rumah ini, ia terpaksa harus meminjam uang kantor dan mengembalikannya dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Ia juga harus merelakan menjual sedan kesayangan dan menghabiskan hampir seluruh tabungannya.
Tapi kalau tidak begitu, kapan lagi kesempatan itu ada?
Rumah tua di pinggir kota ini tidaklah terlalu jelek.
Dengan sedikit perbaikan di sana-sini, Tn. Song Seung Hun yakin bisa menyulapnya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tenang karena letaknya yang di pinggiran, dan sejuk karena dekat perbukitan serta areal perkebunan kopi.
Semula Ny. Kim Tae Hee kurang setuju dengan pilihan suaminya. Begitu juga dengan Lee Hong Ki, anak sulung mereka. Kata Lee Hong Ki, rumah tua ini kesannya sangat angker. Melihatnya dari luar, apalagi pada malam hari, selalu membuat bulu kuduknya berdiri. Seperti markas vampire!
Tn. Song Seung Hun selalu menertawakan anggapan putra tertuanya itu.
Kata beliau, itu akibat terlalu sering menonton film horor atau misteri di televisi. Menurut Tn. Song Seung Hun, rumah tua berarsitektur Belanda ini bisa menjadi investasi yang kelak sangat berharga. Antik dan langka. Atas pertimbangan itulah Tn. Song Seung Hun bertahan dengan pilihannya. Apalagi ia tidak sendirian. Di luar dugaan, Park Shin Hye sangat antusias dengan pilihan ayahnya tersebut.
Gadis manis, adik Lee Hong Ki yang duduk di kelas satu SMA itu, justru selalu menyemangati ayahnya untuk segera menyelesaikan transaksi pembelian. Dua lawan dua. Dan karena ternyata rumah ini dijual dengan harga yang terbilang cukup murah, maka Ny. Kim Tae Hee dan Lee Hong Ki terpaksa mengalah.
Bersambung…
Langganan:
Postingan (Atom)
