Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Biarkan Aku Menangis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biarkan Aku Menangis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2011

Biarkan Aku Menangis (FF)



Title : Biarkan Aku Menangis
Genre : Romance, Friendship
Author : Sweety Qliquers
Episode : 4 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 19 Oktober 2011, 08.56 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Nichkhun of 2PM
Victoria of f(x)


Biarkan Aku Menangis

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4 - Tamat

Biarkan Aku Menangis (Chapter 4-Tamat)



''Kim So Eun, berapa lama kau akan bertahan dengan keadaan ini? Mencintai orang yang tak pernah menganggapmu ada.'' Tanya Kim Bum.

''Aku tidak tahu,” Ujarku merunduk, memperhatikan kedua kakiku.

''Kau menyiksa dirimu sendiri, Kim So Eun.” Ujar Kim Bum. “Izinkanlah aku untuk memupus bayang Nichkhun dari hatimu. Aku ingin meniti hari bersamamu.'' Lembut suara Kim Bum.

''Kim Bum, aku...''

"Kim So Eun, Bagaimana aku melarang hujan turun ketika ada awan? Bagaimana aku melarang daun jatuh ketika ada angin? Bagaimana melarang aku jatuh cinta ketika ada kau?"

Aku diam. Bagaimana mungkin, Kim Bum? Batinku pilu. Aku tidak mencintaimu. Aku tak pernah merasakan getaran aneh saat kita berduaan seperti ini. Tapi, dengan Nichkhun…Oh, apa yang harus kulakukan, Tuhan? Apakah Pria ini memang pilihanMu?

''Kim So Eun,'' Kim Bum menggenggam tanganku. ''Apakah aku tak punya harapan untuk mengisi ruang di hatimu?''

''Aku…..,” Kutatap Kim Bum. Ada pijar cinta di sana. Penuh kelembutan dan kemesraan. Akh, aku harus mengusir bayang Nichkhun dari hatiku. ''Kim Bum, percayakah kau bahwa cinta akan tumbuh oleh kebersamaan? Oleh waktu yang cukup lama?'' Tanyaku akhirnya.

Kim Bum mengangguk.

''Kalau begitu, beri aku waktu untuk belajar mencintaimu. Barangkali esok atau lusa sedikit demi sedikit aku bisa mencintaimu.” Ujarku datar.

''Kim So Eun, tentu saja aku akan sabar menantimu. Berapapun lama waktu itu, aku tak akan keberatan.“ Mata Kim Bum berbinar bahagia. Genggamannya semakin erat, sarat oleh cinta.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Biarkan Aku Menangis (Chapter 3)



Aku terus saja berlari. Biarkan aku menangis bebas seperti ini dengan ditemani air hujan dari atas langit. Aku menengadah. Merentangkan kedua tanganku ke samping. Menikmati kucuran air yang menampar-nampar wajahku. Setelah itu aku berlari kembali. Tepat di depan rumah Nichkhun aku berhenti. Di depan pintu gerbang. Tangisanku semakin deras kontras dengan volume hujan yang mulai berkurang.

Belum saja aku membuka mulut hendak memanggil Nichkhun. Seseorang sudah terlebih dahulu menepuk pundakku dari belakang. Jantungku berdetak cepat. Aku berbalik badan.

Wajah itu... wajah tercintaku... berdiri di depan mataku! Air hujan perlahan berhenti. Dan mendung sedikit demi sedikit menyingkir membiarkan sinar masuk sejenak untuk memantulkan wajah tercintaku itu. Wajah seorang Nichkhun.

"Kau kenapa, Nichkhun? Kenapa menangis?" ujarku gugup.

Mata tajam itu. Mata yang selalu menyorot tanpa keramahan itu kini terlihat merah. Aku bisa melihat ada butir-butir air mata menetes di pipinya. Aku bisa melihat jelas bahwa air di pipinya itu bukan air hujan. Tapi air mata! Yang masih saja keluar perlahan-lahan dari ujung matanya.

Apakah dia juga menangisiku seperti halnya aku menangisinya?

Melihat aku memandanginya dengan heran. Nichkhun segera menghapus air matanya. Ia memalingkan wajah malu.

"Victoria... selingkuh dengan pria lain..." desisnya pelan.

Dug! Dia menangisi Victoria?

"Apa dia tidak tahu kalau aku benar-benar mencintainya, Kim So Eun? Apa dia tidak tahu kalau aku benar-benar mencintainya... mencintai Victoria!" kalimat-kalimat itu meluncur cepat dari mulut Nichkhun. Meruntuhkan segala harapan kalau-kalau saja Nichkhun juga mencintaiku.

Kugenggam tangan kananku erat. Menahan sakit hati yang sangat. Kusadari ada sesuatu yang sedari tadi kugenggam. Ternyata selembar fotoku bersama dengan Nichkhun. Foto yang selalu kujaga dari basah dan rusak kini harus berantakan terkena air hujan. Dengan menggigil dingin aku membuka lembaran foto yang sudah lusuh tergenggam. Aku memandangi gambarnya yang sudah luntur. Seiring cintaku yang diiris-iris oleh luka.

"Nichkhun?" tak lama kemudian sosok Kim Bum hadir di antara kami. Dengan payungnya yang lumayan besar ia mencoba melindungi kami dari sisa-sisa hujan. "Nichkhun? Kenapa kau menangis?"

"Jangan komentar, biarkan aku menangis. Aku juga manusia," jawab Nichkhun dingin. Dia membuka pintu gerbang rumahnya dan menutupnya cepat. Tanpa rasa bersalah masuk ke dalam rumah.

Meninggalkan aku dan Kim Bum kuyup oleh basah.

''Aku mencintaimu, Nichkhun.''

Kukulum kata-kata terakhir itu dalam sepi. Karena Nichkhun tak pernah mempersilahkanku untuk mengatakannya di hadapannya.

Maka biarkan aku menangis.... untuk kemudian menciptakan tegar.

Bersambung…

Biarkan Aku Menangis (Chapter 2)



Satu setengah bulan ini aku mencoba melupakan Nichkhun. Mencari kesibukan di organisasi atau memfokuskan diri untuk membuat sebuah karya tulis yang bisa menghasilkan uang. Tapi begitu sulit membuang bayangan Nichkhun jauh-jauh.

Tiba-tiba selembar fotoku yang sedang berdua dengan Nichkhun terjatuh dari salah satu koleksi album fotoku, ketika aku mencari-cari sebuah buku untuk kujadikan bahan tulisanku. Aku terduduk lesu di pinggir kasur. Menatap dua pasang senyum yang merekah itu. Senyumku dan senyum Nichkhun.

"Nichkhun, boleh minta foto berdua?" pintaku ketika itu.

Setelah Nichkhun bertanding Basket di sebuah event.

Tidak ada jawaban. Nichkhun hanya memandangku tanpa kesan. Ia melengos.

"Nichkhun? Boleh minta foto berdua?" ulangku.

“Ayolah... Nichkhun! Kasihan Kim So Eun sudah beli kamera baru hanya untuk mengambil gambarmu saja!" serta merta Kim Bum mendorong bahu Nichkhun agar bisa berdiri sejajar denganku. Ia hanya tersenyum tipis. Nyaris tanpa lengkungan.

"Kemarikan kameranya, biar aku yang ambil foto kalian berdua," Kim Bum mengambil kamera yang sebelumnya kugenggam erat. Aku tersenyum senang. Berdiri di samping Nichkhun. Merasakan napas Nichkhun yang lelah setelah bermain basket. Degup jantungku memburu cepat. Aku harap aku bisa berada di samping Nichkhun selamanya.

"Nichkhun... Tersenyumlah sedikit! Wajahmu terlihat jelek di kamera kalau cemberut seperti itu!" tegas Kim Bum. Dia belum juga mengambil gambar kami berdua sampai Nichkhun benar-benar tersenyum lebar. "Nah... Begitu baru bagus! Smileee....."

Blassh!

Indah. Seindah hasil di foto itu. Kenangan indah bagiku bersama Nichkhun yang mungkin hanya dianggap angin lalu saja olehnya. Nichkhun selalu saja bersikap dingin dan tidak ramah kepadaku. Karena dia tahu kalau aku jatuh cinta kepadanya. Segala perhatianku tidak dia gubris. Segala pemberianku hanya diletakkan saja di ruang tamunya. Tanpa disentuhnya sama sekali. Setiap sms yang kukirimkan selalu hanya dijawab dengan 'iya' atau 'tidak'. Dan setiap kali aku meneleponnya ia selalu diam saja sambil terus menghela napas. Membiarkan aku mengoceh terus sampai lelah. Kenapa Nichkhun? Apa aku salah kalau mencintaimu? Kenapa sikapmu seperti itu padaku?

Tanpa aku sadari air mataku menetesi foto itu. Bergegas aku mengelapnya dengan kaos yang kukenakan. Aku tak mau foto itu rusak. Karena selama ini foto itu selalu tersimpan dengan baik. Tapi ternyata kristal bening terus saja mengaliri pipiku. Seolah tak mau berhenti bahkan aku sampai tersedu. Dadaku sesak hingga susah mengambil napas. Oh... aku menjadi begitu melankolis.

"Kim So Eun! Kau kenapa?" itu adalah suara Kim Bum.

Ia sudah biasa keluar masuk kamarku. Kami memang bertetangga.

"Kim So Eun? Kenapa kau menangis?" Kim Bum melirik ke arah foto yang aku pegang, "oh... Menangisi Nichkhun lagi? Sudahlah, jangan menangis seperti itu. Kau ini cengeng sekali!"

"Kenapa kau tidak suka melihatku menangis, Kim Bum? Aku hanya ingin mencurahkan isi hatiku, ingin mengeluarkan semua beban dan kesedihanku lewat air mata!"

“Tapi, Kim So Eun, mengeluarkan masalah di hati tidak harus selalu dengan menangis," Kim Bum duduk di sampingku. Merangkul bahuku hangat. "Terkadang kita butuh tertawa lebih banyak. Karena tertawa itu membuat kita bahagia. Meskipun tawa itu berdiri di atas duka. Air mata hanya akan membuatmu rapuh...."

Aku menyingkirkan tangan Kim Bum dari bahuku. Menghapus air mata di pipiku. Pasti aku terlihat sangat jelek saat ini.

"Kalau menangis sesekali, kan tidak apa-apa," lagi-lagi aku membela diri.

Kim Bum tergelak.

"Masalahnya kau menangis tidak hanya sesekali. Setiap kali aku ke sini pasti kau selalu menangisi Nichkhun."

"Aku hanya mau Nichkhun tahu kalau aku benar-benar mencintainya, air mata ini jadi saksinya," ujarku setengah terisak.

"Kim So Eun jangan bodoh! Nichkhun itu tidak peduli padamu. Dia hanya setia pada kekasihnya, Victoria. Berkali-kali kau menangis pun tidak ada gunanya, Nichkhun tidak akan pernah tahu kalau kau selalu menangisinya. Kecuali kalau kau menangis di hadapannya mungkin dia akan mengerti tentang patah hatimu itu."

Aku mendorong bahu Kim Bum kesal dan berdiri. Meninggalkan dirinya di kamar sendirian. "Biarkan aku menangis!"

"Kim So Eun... Kau mau kemana?"

"Mau mencari Nichkhun! Aku mau menangis di hadapannya... aku mau memperlihatkan air mata ini di depan matanya sampai dia mau mengerti kalau aku mencintainya!"

"Eh... Apa kau sudah gila, Kim So Eun?!"

Aku berlari keluar kamar. Melewati ruang tamu dan keluar rumah. Ternyata di luar sudah hujan deras. Tapi aku tidak peduli. Aku kesal dengan perkataan Kim Bum. Kenapa aku tidak boleh menangisi orang yang aku cintai?! Aku berlari melawan deras hujan. Ke arah rumah Nichkhun yang hanya berbeda beberapa blok dari tempat tinggalku. Di sudut mataku aku melihat Kim Bum yang tergopoh menyusul. Ia memakai payung, kepayahan berlari mengejarku.

"Kim So Eun... nanti kau bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti ini!"

Aku terus saja berlari. Sambil menangis. Membayangkan segala keangkuhan wajah Nichkhun. Wajah yang tak pernah tersenyum tulus kepadaku. Wajah yang selalu tegas dalam berkata-kata. Seolah dialah pria paling kuat di jagat raya ini. Wajah yang membuatku ingin selalu memandangnya.

Bersambung…

Biarkan Aku Menangis (Chapter 1)



Tak bolehkah aku menangis? Mengeluarkan ratusan bahkan ribuan air dari kelopak mataku yang sayu?

Tak bolehkah aku menangis hingga meraung-raung? Meratapi setiap keadaan yang hadir karena cinta.

Ya, karena cinta… karena ada kau. Nichkhun Horvejkul. Laki-laki tampan yang membuatku rapuh. Membuatku kehilangan arah. Kehilangan akal sehat. Dan kau yang mampu membuatku mengukir satu kata di hatiku rekat-rekat. Kesetiaan. Aku akan setia untukmu seorang. Tapi sampai kapan?

"Percuma, Kim So Eun, kau menjaga hati untuk setia padanya. Di mata Nichkhun, kau hanya seorang teman. Dia hanya kasihan padamu, dia tidak mau menyakitimu, aku juga kasihan padamu. Yang mau saja menunggu orang seperti dia. Forget him, Kim So Eun... forget him!"

Kata-kata itulah yang aku dengar dari Kim Bum. Dia adalah sahabatku dan juga teman dekat Nichkhun. Ketika itu aku sedang menikmati Capuccino di sebuah cafe bersama Kim Bum. Tampak pengunjung lain tidak peduli pada raut wajahku yang pucat pasi mendengar vonis Kim Bum.

Forget him?!

"Kenapa kau bisa cinta mati pada Nichkhun?" tanya Kim Bum.

"Apakah jatuh cinta dengan seseorang harus selalu punya alasan?" jawabku pelan. "Aku hanya jatuh cinta tanpa alasan."

"Kim So Eun, kau harus ingat. Nichkhun sudah menunggu Victoria selama tiga tahun. Sekarang coba kau pikir, kalau Nichkhun sudah mendapatkan Victoria kenapa dia harus meninggalkan kekasihnya itu demi kau seorang. Nichkhun setia pada Victoria, kau jangan coba-coba untuk merusak hubungan mereka," cecer Kim Bum sambil menyeruput Capuccino-nya.

"Kim Bum, aku tidak punya maksud untuk mengganggu hubungan mereka. Aku hanya mencintai Nichkhun, apa tidak boleh? Apa itu dilarang? Cinta itu anugrah, Kim Bum," aku mencoba membela diri.

"Tapi kau mencintai seseorang yang salah dan di waktu yang salah!" tegas Kim Bum. Lelaki itu menatap mataku tajam seolah memberi ketegasan atas setiap perkataannya. Aku menahan tangis. Mengigit bibir bawah.

Tatapan mata Kim Bum semakin tajam seperti menghakimiku untuk segera melupakan sosok Nichkhun. Tapi bagaimana aku bisa melupakan dia?! Katakan padaku bagaimana caranya? Aku hanya ingin dia tahu kalau aku mencintainya. Tapi kenapa begitu sulit?

"Kim Bum... aku ingin menangis," setelah kalimat itu meluncur, air mataku deras mengalir di pipi. Kim Bum berdecak kesal. Ia memalingkan wajah.

"Untuk apa kau tangisi? Menangis tidak akan merubah keadaan!"

Dan sejak saat itu aku takut menangis di depan Kim Bum bahkan mungkin di depan teman-teman lelakiku yang lain. Kim Bum membentakku dan meninggalkanku begitu saja.

"Jangan buang air matamu untuk orang yang tidak mencintaimu! Memangnya dia pernah menangisimu?"

Dan aku semakin kuat menangis.

Aku benar-benar ingin menangis. Menumpahkan semua beban ini.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...