Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Surat Balasan Salah Alamat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Balasan Salah Alamat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2011

Surat Balasan Salah Alamat (FF)



Title : Surat Balasan Salah Alamat
Genre : Criminal, Mystery
Author : Sweety Qliquers
Episode : Prolog + 3 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 29 April 2011, 09.15 AM
Cast :
Lee Joon Ki
Lee Joon Hyuk
Rain Bi


Surat Balasan Salah Alamat

Prolog
Chapter 1 “Tahu Luar Dalam”
Chapter 2 “Benih-Benih Paranoid”
Chapter 3 “Dikejutkan Paket” (Tamat)

Surat Balasan Salah Alamat (Chapter 3-Tamat)



Chapter 3
Dikejutkan Paket

Dering telepon sedikit mengejutkan Lee Joon Ki yang siang itu sedang asyik membuat catatan keuangan bulanan di ruang kerjanya. Lee Joon Ki mengangkatnya. Meski saluran telepon tersambung paralel dengan ruang kerja Lee Joon Hyuk, Lee Joon Ki yang selalu bertugas mengangkat setiap panggilan telepon.

“Ya. Halo!”

“Paket kiriman, Tuan Lee, dari East Eden Publishers.” Resepsionis gedung memberi tahu.

Lee Joon Ki mengeluh dalam hati. Ah, pastilah bundel buku dari sebuah galeri dan meminta Lee Joon Hyuk memberi pernyataan promosionalnya. Meski Lee Joon Hyuk tidak pernah bersedia, pihak penerbit sepertinya tidak pernah putus asa. Akhirnya, menjadi tugas Lee Joon Ki untuk memberikan jawaban penolakan, untuk yang kesekian ratus kalinya. Sebuah tugas yang benar-benar membosankan.

“Apakah orang yang mengirimkan paket ini masih ada?” tanya Lee Joon Ki. Setelah diiyakan, Lee Joon Ki melanjutkan, “Kalau begitu, suruh dia ke atas.”

Dua menit kemudian, bel pintu berbunyi. Lee Joon Ki beranjak ke pintu dan menyambut pengirim paket yang sudah berada di depannya. Tak ada yang mencolok dari penampilannya. Ia memegang sebuah kotak berwarna kecoklatan.

“Anda, Tuan Lee?”

“Ya,” ujar Lee Joon Ki tidak sabar sambil menerima kotak itu. “Apakah ada yang harus saya tanda-tangani?”

Lee Joon Ki mengambil pena dari sakunya, tapi sesaat kemudian ia menyadari paket itu kosong. Paket itu ikut tertekan genggaman jari-jarinya tanpa tertahan. “Apa ini? Hei, apa yang kau lakukan?”

Tiba-tiba si pengirim paket sudah merangsek masuk ke dalam, mendorong Lee Joon Ki ke salah satu dinding dan menutup pintu di belakangnya. Ia kemudian berkata, “Nama saya Rain Bi dan saya ke sini untuk bertemu denganmu, Lee Joon Hyuk.”

Perut Lee Joon Ki langsung mengejang. Ini orangnya! Mungkin saja berniat untuk menyerang dan memukul! Ia berkata dengan serak, “Anda salah. Saya bukan Lee Joon Hyuk. Saya sekretarisnya. Tuan Lee sedang tidak ada.”

Mata Rain Bi menyipit. Ia memegang pinggang Lee Joon Ki dengan kuat sekali. “Si penjaga pintu memanggil anda Tn. Lee, dan ketika saya menanyakan apakan anda Tn. Lee, anda mengiyakannya.”

“Saya Lee Joon Ki!”

“Anda baru bilang bahwa anda adalah sekretarisnya.”

“Saya memang sekretarisnya. Saya juga keponakannya, jadi saya punya nama yang sama. Di dalam surat dituliskan 'LJH/LJK'. Sayalah 'LJK'.”

Rain Bi ragu-ragu untuk sesaat. Kemudian ia berkata, “Foto yang ada di buku adalah foto anda.”

“Itu adalah foto yang lama dan ada kemiripan dalam keluarga, tetapi ia dua puluh tahun lebih tua dariku,” ujar Lee Joon Ki panik. Tubuhnya gemetar.

Rain Bi berpikir sejenak. Kemudian berkata, “Aku tak percaya padamu!” Ia mencabut sebuah pistol dari sakunya dan menembakkannya tiga kali. Dor! Dor! Dor!

Tubuh Lee Joon Ki pun langsung jatuh ke lantai, tergeletak, tanpa nyawa.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Surat Balasan Salah Alamat (Chapter 2)



Chapter 2
Benih-Benih Paranoid

Lee Joon Ki menghela napas, menghentakkan lamunan-lamunannya. Di ruangannya di lantai bawah apartemen di Secret Garden, Seoul. Surat dari Rain Bi kembali dibacanya dengan cermat. Sesuai pesan Lee Joon Hyuk, ia mulai memikirkan kata-kata balasannya di depan komputer pribadinya.

Surat-surat penggemar memang terkadang aneh. Seperti surat yang di tangannya saat itu, pastilah berasal dari seorang paranoid. Dan ini bukan kiriman yang pertama.

Setidaknya dalam sebulan Rain Bi bisa mengirim dua sampai tiga surat dan ini sudah berjalan kurang lebih setahun terakhir.

Lee Joon Ki mencoba menganalisis, mungkin ketegangan sebagai penggemar cerita-cerita spionaselah yang membuat Rain Bi mengirimkan surat-surat seperti itu. Kisah-kisah spionase bisa jadi dapat menimbulkan paranoid. Hiiiy!

Lee Joon Ki sebenarnya berpendapat, reaksi yang tepat untuk surat-surat semacam ini adalah dengan tidak menjawabnya. Tak ada gunanya meladeni orang-orang dengan kepribadian paranoid seperti itu, karena jawaban apa pun tetap merupakan provokasi untuk tindakan selanjutnya.

Namun, celakanya, orang-orang seperti itu tidak akan bosan dan akan terus mengirim surat. Karena dasarnya memang sudah paranoid, mereka mungkin mengira suratnya telah hilang, dicuri di kantor pos, ada pihak-pihak bawah tanah yang menyabotase atau kecurigaan-kecurigaan aneh semacam itu. Karena itu minimal balasan sebagai tanda terima harus dikirim.

Lee Joon Ki menulis balasan untuk Rain Bi dengan kata-kata sesopan mungkin:

Yang Terhormat Tuan Rain Bi, Senang sekali saya dapat menerima surat dari Tuan. Namun sayang sekali, dengan sangat menyesal, saya tidak dapat bertemu dengan Tuan karena kesibukan pekerjaan. Dan itu semua di luar kendali saya.

Lee Joon Ki merasa telah menyusun kata-kata itu sebaik-baiknya. Untuk meyakinkan ia membacanya lagi berulang kali. Ia berusaha menciptakan kesan terbaik, karena ia tidak ingin ada dampaknya di kemudian hari bila kalimat-kalimatnya itu disalahartikan. Bila Rain Bi merasa mendapat angin, bahwa anggapannya tentang konspirasi komunis konyol ternyata “benar”, bisa-bisa malah fatal. F-a-t-a-l! Ya, fatal! Dalam kekosongan pikiran, terlintas kata-kata itu di benak Lee Joon Ki.

Tentu saja tidak ada yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi. Orang-orang semacam itu mungkin akan bertindak menurut kemauannya sendiri, bahkan dengan kegilaannya. Mungkin dapat mengakibatkan kecelakaan-kecelakaan kecil, bahkan mungkin menyebabkan kematian! Sesuatu yang jauh di lubuk hati Lee Joon Ki, sebenarnya ia harapkan terjadi terhadap pamannya. Mungkinkah ini adalah jalannya?

Mendadak, jari-jari tangan Lee Joon Ki yang sigap bergerak cepat, seolah tanpa kendali. Ia mengganti kata-kata surat balasan yang telah disusunnya. Degup jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, seiring kedipan kursor di layar komputer.

Dengan hormat, Soal pertemuan makan malam dan lain sebagainya, sebenarnya tidak perlu ditanyakan lagi. Tolong Anda tidak perlu membuang-buang waktu dengan meminta hal ini berulang kali, karena tampaknya sudah jelas bahwa kecurigaan Anda mengenai kegiatan konspirasi sama sekali tidak berdasar. Bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu?

Kalimat itu cukup singkat, kasar, pakai sedikit olok-olok pula. Seorang paranoid pasti bereaksi atau paling tidak akan kaget jika membacanya. Lee Joon Ki kembali membacanya, berulang kali, hingga benar-benar yakin kata-katanya sudah cukup menggugah amarah Rain Bi.

Dalam otak Lee Joon Ki, terbersit sebuah skenario. Seperti biasanya, Lee Joon Hyuk akan menandatangani surat balasan itu tanpa membacanya. Lalu, Rain Bi akan merasa sangat benci kepada Lee Joon Hyuk, bahkan mengira pikiran paranoidnya soal konspirasi konyol itu benar-benar ada. Jika Rain Bi penasaran dan menulis lagi, Lee Joon Ki akan membalasnya kembali dengan nada yang sama. Taktik yang sama mungkin dapat digunakan pada surat-surat lain yang datang. Mengapa tidak? Toh, tidak ada yang tahu.

Hmmm, kini Lee Joon Ki bisa tersenyum puas. Tanda tangan asli.

Dua tahun sudah skenario jahat Lee Joon Ki itu berjalan dan semua tampak baik-baik saja.

Bahkan kini sasarannya tidak hanya Rain Bi. Dari puluhan penggemar Lee Joon Hyuk, setidaknya ada enam orang masuk golongan paranoid dan diperlakukan seperti itu. Lee Joon Ki sekarang boleh dibilang memiliki hobi baru, yaitu memainkan kata-kata halus, tapi menusuk.

Semakin keras dan ngawur surat para penggemar yang paranoid itu, semakin senang ia membalasnya.

Toh Rain Bi tetap menjadi kasus yang terbaik. Ada saat-saat tertentu ketika sampai sebulan penuh tidak ada respons apa pun dari orang itu. Lee Joon Ki berpikir, mungkin si gila itu sudah lelah bermain-main. Tetapi biasanya tak lama kemudian datang lagi surat Rain Bi dengan kata-kata yang, seperti biasanya, meracau tak keruan juntrungannya. Belakangan malah sudah mulai dihiasi nada-nada ancaman, “awas kau!”, “kubunuh kau!”, “ingat suatu hari nanti!” Meski ada perasaan khawatir, Lee Joon Ki tetap tersenyum saat membacanya.

Seperti yang diharapkan Lee Joon Ki, Lee Joon Hyuk tidak pernah membaca surat-surat balasan yang disodorkan. Ia hanya menandatangani tanpa melirik satu huruf pun. Selain itu, salah satu kemudahan bagi rencana Lee Joon Ki, karena Lee Joon Hyuk tidak menggunakan stempel tanda tangan. Ia ingin memberi sentuhan pribadi pada setiap surat dan berharap tindakannya akan dihargai penggemarnya. Di setiap pojok kiri atas terdapat tulisan kecil “LJH/LJK” sebagai inisial Lee Joon Hyuk dan Lee Joon Ki. Dengan tanda tangan asli, siapa pun mengira surat itu didiktekan langsung oleh Lee Joon Hyuk.

Sesekali Lee Joon Ki juga bercerita soal surat-surat itu kepada teman-temannya, terutama saat acara mengobrol di pesta. Teman-temannya tentu terhibur dengan cerita-cerita tentang Lee Joon Hyuk, sebagai sesosok manusia aneh, yang telah dibumbui di sana-sini itu. Ajang itu menjadi kesempatan terbaik Lee Joon Ki memutarbalikkan fakta untuk memperkuat alibinya.

“Padahal aku sudah berusaha mengingatkan pamanku agar berhati-hati dengan orang-orang paranoid seperti itu. Tapi tetap saja dia nekat mengirim jawaban yang provokatif,” kata Lee Joon Ki meyakinkan teman-temannya.

“Wah, berani sekali dia!” sahut seorang teman.

“Memang. Ia memang suka nekat.”

“Bagaimana kalau suatu kali orang gila itu yang nekat. Dia datang dan membuat kekacauan? Bahkan membunuh?”

“Wah, aku tidak ikut-ikutan kalau begitu,” kata Lee Joon Ki sambil menggelengkan kepala.

“Memang kadang-kadang agak khawatir juga. Tapi kebanyakan mereka tinggal jauh dari sini. Lagi pula aku kira, mereka cuma menggertak. Saya sudah peringatkan Paman Lee Joon Hyuk soal ini, tapi dia tetap menolak. Saya bisa apa? Dia kan bos saya.”

Sangat sempurna! Bagaimana jika seseorang dengan niat jahat benar-benar datang menemui Lee Joon Hyuk dan Lee Joon Hyuk benar-benar terbunuh? Orang-orang sudah memperhitungkan hal itu, begitu juga dirinya. Yang terpenting, bagaimana mungkin Lee Joon Ki akan disalahkan?

Semuanya akan mengarah pada “kelakuan” Lee Joon Hyuk sendiri. Orang-orang akan berkata, Lee Joon Ki telah mencoba menyelamatkan Lee Joon Hyuk dari dirinya sendiri.

Bagaimana jika ternyata tak seorang pun paranoid yang datang menyambangi Lee Joon Hyuk? Ya, tidak apa-apa. Di sinilah asyiknya rencana Lee Joon Ki. Kasarnya, nothing to loose, karena mungkin saja nantinya tidak akan terjadi apa-apa. Tidak akan ada orang gila yang muncul dengan nafsu membunuh. Lee Joon Hyuk pun dapat hidup dengan aman. Begitu pun Lee Joon Ki, bisa menghabiskan sisa umurnya tanpa perlu menyimpan rasa bersalah. Ia hanya memperagakan permainan yang bisa berbahaya dan menjanjikan hal-hal hebat di dalamnya, atau tidak berbahaya sama sekali.

Bersambung…

Surat Balasan Salah Alamat (Chapter 1)



Chapter 1
Tahu luar dalam

Lee Joon Hyuk sebenarnya bukan penulis novel laris manis. Buku-bukunya tidak ada yang terlalu sukses di pasaran dan mencetak banyak uang. Tapi ia termasuk penulis yang produktif. Karya-karyanya mengalir lancar dan dapat diandalkan penerbit. Penjualannya lumayan, dicetak ulang untuk jangka waktu lama, dijual di luar negeri, bahkan gagasannya sering diangkat ke layar lebar. Dari penjualan yang tidak terlalu banyak itu, investasinya terus meningkat secara perlahan tapi pasti.

Dibandingkan dengan pengarang-pengarang lain, Lee Joon Hyuk punya sifat sedikit berbeda, yaitu tidak menyukai ketenaran. Ia selalu bersembunyi dari publikasi. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, ada media memuat kisah tentang sosoknya, karena Lee Joon Hyuk selalu menolak. Bahkan, foto pengarang yang selalu ada di sampul belakang buku-bukunya, menggunakan wajah Lee Joon Ki yang memang sedikit mirip karena adanya hubungan keluarga.

“Aku tidak ingin orang mengenal sosokku. Aku ingin orang menghargai karyaku saja,” begitu pendirian yang selalu diucapkan Lee Joon Hyuk kepada orang-orang dekatnya.

Sebuah sikap yang membuat Lee Joon Ki terkadang merasa bingung.

Perubahan terjadi lima tahun lalu, sewaktu akuntan Lee Joon Hyuk berhasil membujuknya untuk membentuk semacam perusahaan kecil yang mengurusi karya-karyanya. Lee Joon Hyuk tentu jadi pemilik perusahaan sekaligus bendahara. Saat membutuhkan orang kedua, ia mengajak Lee Joon Ki, anak yatim kakak kandung Lee Joon Hyuk, untuk menduduki satu-satunya jabatan di perusahaan itu, sekretaris. Awalnya, tentu begitu menyenangkan bagi Lee Joon Ki. Maklum, ia belum punya pekerjaan tetap.

Belakangan baru Lee Joon Ki sadar, tugasnya sebagai “sekretaris” di sebuah perusahaan kecil milik pamannya itu benar-benar membuatnya bosan. Pekerjaan apa pun di kantor harus dikerjakannya sendirian. Mulai dari akunting, data-data penerbitan, korespondensi, perundingan rutin dengan penerbit, editor, agen, dan - yang paling menyebalkan – harus menampung omelan-omelan pamannya.

Kalau mau diambil sisi baiknya, gaji Lee Joon Ki boleh dibilang lumayan. Ditambah sedikit harta peninggalan ayahnya, Lee Joon Ki bisa hidup layak dengan istri dan anak perempuannya.

Namun yang menarik, jabatannya memungkinkan Lee Joon Ki mengetahui secara pasti perihal pendapatan, investasi, dan aset-aset pamannya. Jumlahnya ternyata lebih banyak daripada yang pernah ia kira. Yang lebih menyenangkan lagi, Lee Joon Ki mengetahui bahwa pewaris semua itu adalah ia sendiri! Soalnya, Lee Joon Hyuk masih melajang.

Ada satu hal yang membuat Lee Joon Ki gundah. Seandainya saja ia dapat menikmati semua warisan itu saat ini, tentu jalan hidupnya akan lain. Masalahnya, meski berusia 40 tahun, Lee Joon Hyuk masih sehat. Bahkan, lebih sehat dari Lee Joon Ki yang 18 tahun lebih muda. Kalaupun umur Lee Joon Ki panjang, ia tetap saja akan makin tua dan sakit-sakitan, sehingga tidak akan menikmati harta itu. Semakin panjang usia Lee Joon Hyuk, memang hartanya bertambah, tapi jika di masa tuanya tiba-tiba ia menikah karena tergoda seorang wanita muda, tentu warisannya akan berkurang.

Dalam situasi seperti itu Lee Joon Ki sering berkhayal seandainya Tuhan mengambil jiwa pamannya dalam waktu dekat. Atau bangunan roboh menimpa Lee Joon Hyuk, atau bosnya itu tertabrak mobil, atau diserang virus yang sangat ganas. Seandainya, seandainya ... begitulah Lee Joon Ki kerap berandai-andai.

Sayangnya, cuma sebatas itu kemampuan Lee Joon Ki. Ia bukan seorang raja tega yang bisa membunuh orang tanpa beban. Sebagai ahli waris tunggal, posisinya juga tidak akan menguntungkan kalau sampai terjadi sesuatu pada pamannya. Ia juga tidak ahli membuat alibi palsu atau membunuh dengan tampak seperti kecelakaan atau bunuh diri. Untuk menyewa pembunuh bayaran pun tidak, karena selain tidak ada uang, ia tidak tahu cara mendapatkan orang semacam itu. Salah-salah malah bisa jadi korban pemerasan, pikirnya. Tak ada yang bisa dilakukan. Ya, untuk sementara, Lee Joon Ki memang hanya bisa berharap dan berharap.

Bersambung…

Surat Balasan Salah Alamat (Prolog)



Prolog

Tugas-tugas rutin pagi hari itu belum lagi selesai dikerjakan, ketika tiba-tiba nada panggil dari interkom memecah keheningan ruang kerja Lee Joon Ki. Suara yang terdengar sangat tidak merdu, cenderung kasar, apalagi keluar lewat speaker dari alat yang terhitung kuno. Suara Lee Joon Hyuk, bos besar dan satu-satunya di kantor itu.

“Lee Joon Ki! Kau di situ? Cepat naik!”

“Ya, Paman.”

Lee Joon Ki beranjak dari meja kerjanya dengan langkah cekatan, layaknya bawahan pada umumnya. Setengah berlari ia menaiki tangga menuju ke ruang atas. Ruangan besar berukuran 10 x 8 m yang selalu tampak rapi itu merupakan tempat bekerja dan disebut kantor oleh Lee Joon Hyuk. Wajah si bos dilihatnya sudah tidak sedap dipandang mata.

“Lee Joon Ki, kenapa ini bisa sampai di mejaku?” kata Lee Joon Hyuk sambil melemparkan secarik kertas ke hadapan Lee Joon Ki.

“Kenapa saya harus diganggu dengan persoalan-persoalan seperti ini?”

Secarik kertas putih bergaris itu adalah surat dari salah seorang penggemar Lee Joon Hyuk.

Sebagai pengarang cerita-cerita kriminal, Lee Joon Hyuk mendapat bermacam-macam surat dari pembacanya, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun, Lee Joon Hyuk cuma membaca surat-surat yang berisi pujian-pujian saja dan salah satu tugas Lee Joon Ki adalah menyingkirkan surat yang isinya tidak mengenakkan. Kali ini Lee Joon Ki lalai memisahkan surat yang satu ini.

Sedikit kasar, Lee Joon Hyuk menaruh penanya di meja.

“Kalau saya tidak bisa mempercayaimu, saya harus memecatmu. Masa’ mengurus surat-surat begini saja tidak becus. Apa kau masih bisa dipercaya?”

“Tentu saja, Paman. Sa... saya hanya membalas surat-surat dengan pernyataan-pernyataan biasa. Saya juga tidak tahu mengapa ada yang bernada negatif,” kata Lee Joon Ki tergagap. Ia benar-benar menyesali keteledorannya sehingga harus menikmati “sarapan pagi” dampratan bosnya. Benar-benar ceroboh, pikirnya.

“Seseorang yang bernama Rain Bi, sepertinya yakin ada konspirasi dari gerakan komunis tertentu, atau apalah namanya, yang aku tidak mengerti,” kata Lee Joon Hyuk sambil memandangi puluhan surat yang bertumpuk di hadapannya. “Sepertinya, ia mengira aku sama dengan karakter yang aku ciptakan. Sampai-sampai ia mengajak makan malam segala. Benar-benar aneh.”

Tak ada reaksi. Pada situasi seperti itu Lee Joon Ki hanya bisa berdiri mematung dan menunggu kalimat berikutnya dari Lee Joon Hyuk. Sifat orang itu memang tidak suka dibantah atau dipotong kalimatnya saat berbicara.

“Apakah aku sering menerima surat-surat seperti ini?” Mata Lee Joon Hyuk tiba-tiba mendelik. “Ada satu atau dua, Paman. Tidak banyak.”

“Aku tidak mau melihat surat-surat seperti ini lagi. Aku juga tidak mau bertemu dengan penulisnya. Kirim saja balasannya dengan sopan. Ingat! Harus dengan sopan, tetapi juga harus berupa balasan pribadi.”

“Baik, akan saya kerjakan, Paman. Ini tidak akan terjadi lagi.”

“Bagus.”

Lee Joon Ki mengangguk meminta diri. Masih setengah tertunduk, ia melangkah kembali ke ruangannya, di kantor yang terasa begitu hening. Pada saat-saat seperti itu, kadang Lee Joon Ki merenungi nasibnya yang harus mengabdi kepada Lee Joon Hyuk, yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Hubungan kekeluargaan itu kerap jadi beban, di samping rutinitas kerja selama bertahun-tahun, serta tekanan-tekanan karena menjadi pekerja satu-satunya. Sejauh ini, hanya kesabaranlah yang membuatnya tetap bertahan.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...