Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Langit Menggelap di ‘Lavender Park’. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Langit Menggelap di ‘Lavender Park’. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (FF)


Title : Langit Menggelap Di ‘Lavender Park’
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episode : Prolog + 2 Part
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 13 February 2010, 10.53 AM
Review :
...
Barbie Xu dan Peter Ho. Peter Ho pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Barbie Xu pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Barbie Xu harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Barbie Xu yang seorang istri dan ibu seorang anak, dan Peter Ho yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.
...
Cast :
Barbie Xu
Peter Ho
Huang Xiao Ming

Peter Ho
Peter Ho hanya butuh teman bermesra dan bercinta untuk sesekali singgah. Peter Ho tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Barbie Xu. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Ia hanya membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.


Barbie Xu
Barbie Xu hampir saja meninggalkan Huang Xiao Ming -suaminya ketika itu. Kala itu Barbie Xu adalah seorang Ibu muda yang merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Huang Xiao Ming. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua dengan Peter Ho.

Huang Xiao Ming
(Barbie Xu’s Husband)


Langit Menggelap Di ‘Lavender Park’
Created By Sweety Qliquers

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (Part 2-Tamat)


Part 2
Akhir Sebuah Pertemuan


Hari-hari setelah kejadian itu, Barbie Xu tak pernah tampak di depan ‘Lavender Park’ lagi. Tetapi Peter Ho masih sering terlihat di salah satu bangku kayu di sana. Sendiri di tengah orang-orang muda yang tengah bercanda dan bercinta. Menghisap rokoknya. Sesekali mengibaskan rambut hitam berhias putihnya, tersapu angin menutup wajah tirusnya.

Begitu perasaan Barbie Xu membaik dan siap bertemu Peter Ho lagi, ia kembali pada rutinitasnya, menunggu senja jatuh di ‘Lavender Park’. Namun ia harus menelan kecewa karena Peter Ho tak dijumpainya. Bahkan telepon genggamnya tak bisa dihubungi.

Suatu sore, di tengah keputusasaan Barbie Xu, seorang teman mendatangi dan mengulurkan sebuah surat kepadanya. Surat dari Peter Ho!

Dear Barbie Xu,
Kekasih Senja-ku...

Tak merah senja di musim hujan ini punggung bukit dijala mendung yang sepi sedang matahari tanpa jawaban lagi masihkah tergantung di ilalang atau telah tiba di lain belahan bumi tapi yang pasti semakin jauhlah buat kita tunaikan janji bahwa hujan tak akan pernah jadi jeruji untuk bertemu dan bernyanyi di sini, di bangkai petang yang tertambat di tepi langit tak merah senja di musim hujan ini, bahkan kelam telah datang walau belum waktunya sampai sia-sia romantisme matahari terbenam untuk dinanti lihat, suit-suit angin mulai menyapu suasana kita dengan dingin dan hampa lalu menggelar gulungan gerimis di hamparan lembab dan menulis cerita bahwa semua telah usai tak akan datang lagi seperti waktu lalu selamat sore...... ijinkan senyumku menyapamu menyambut senja........

Resah semakin membelit Harapan menggantung pada entah Kulihat kau… Dan, langit seakan dekat Lalu purnama berbisik, Tentang retaknya langit ditambal mendung... Kelam seperti cinta yang kuraba, kurasa. Padat hati ini, semakin sesak oleh rintihan-rintihan kecil tentangmu, bias, sangat bias, jauh kutatap jauh, Dihilir perasaan hening, dingin, mencekam nadi-nadi, Sampai air mata kering, mengendap, Menjadi lumut-lumut penantian. Entah berakhir kapan?...

Aku sendiri disini gelap tanpa cahaya mentari dan rembulan tiada celah untuk seberkas sinar akupun tak dapat berdiri hanya berbaring menanti panggilan saat hancurnya bumi satu yang bisa kulakukan adalah datang dalam mimpimu dan memandangmu karena roh ini selalu merindukan tiupan hangat nafasmu untuk yang terakhir kunikmati tiap lekuk wajahmu dan kuucap selamat tidur kekasih jiwaku......

…hujan begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.

From Peter Ho,
Lelaki Senja-mu...


“Hari-hari itu dia mencoba menghubungimu, tetapi HP-mu tak pernah aktif,” kata laki-laki itu. “Ginjalnya tak berfungsi, serangan jantungnya kambuh, tekanan darahnya tidak stabil…”

Barbie Xu tak bisa mendengar lagi penjelasan laki-laki itu. Bahkan ketika si teman menyerahkan satu dos buku dan tas berisi kamera warisan kekayaan Peter Ho untuknya, Barbie Xu belum kembali pada kesadarannya.

Senja beranjak renta. Seperti Barbie Xu merasai dirinya. Sepasang remaja di sebelahnya telah pergi. Begitu juga sekumpulan anak muda yang nongkrong di atas motor mereka, mulai menghidupkan mesin kendaraannya. Sisa rintik hujan sayup terdengar dari sela-sela ranting pohon. Sebaris kalimat di surat terakhir Peter Ho meluncur dalam gumaman. “…hujan begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.”


TAMAT

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (Part 1)


Part 1
Awal Sebuah Pertemuan


Beginilah menjelang senja di jantung kota. Sekelompok remaja nongkrong di atas motor model terbaru mereka sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Ada juga remaja atau mereka yang beranjak dewasa duduk berdua-dua, di bangku semen, di atas sadel motor, atau di trotoar. Anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.

Di salah satu bangku kayu panjang, bersisihan dengan remaja yang sedang bermesraan, Barbie Xu duduk menghadap ke jalan. Hanya duduk. Mengamati kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di hamparan kota.

Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. “Apa kabar?” katanya memperlihatkan giginya yang kekuningan. Asap rokok telah menindas warna putihnya.

“Kau di sini?” Barbie Xu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya membuat Barbie Xu ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.

Begitu juga Peter Ho, lelaki yang berdiri di depan Barbie Xu. Dadanya bergemuruh hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk, menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.

Hingga Barbie Xu kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Peter Ho di sebelahnya.

“Kaget?” tanya Peter Ho, duduk di sebelah Barbie Xu.

Barbie Xu tertawa kecil. “Bagaimana?” tanya Barbie Xu tak jelas arahnya. “Lama sekali kita tidak bertemu.”

“Iya. Berapa tahun ya? Dua lima, tiga puluh?”

“Tiga puluh tahun!” jawab Barbie Xu pasti.

“Ouw! Dua puluh tahun. Dan kau masih semanis dulu.”

“Terima kasih,” Barbie Xu tersenyum geli. Masih ‘semanis dulu’. Bukankah itu lucu? Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja. Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat itu tak urung membuat Barbie Xu tersipu. Merasa bangga, tersanjung karenanya.

“Kapan kau datang?” tanya Barbie Xu. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.

“Belum seminggu,” jawab Peter Ho.

“Mencariku?” Barbie Xu tersenyum. Sisa genitnya di masa muda.

Peter Ho tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, “Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu,” tawanya menghilang.

Barbie Xu tak menjawab sepatah pun. Bahkan ucapan terima kasih tidak juga meluncur dari bibirnya. Ia menerawang ke kejauhan. Detik berikutnya mata Barbie Xu tampak berlinangan. Goresan luka di sudut hatinya kembali terkoyak. Rasa perih perlahan datang. Luka lama itu ternyata tak pernah mampu disembuhkannya. Semula ia menduga luka itu telah pulih, tetapi sore ini, ketika Peter Ho tiba-tiba muncul di hadapannya ia sadar luka itu masih ada. Tertoreh dalam di sudut perasaannya.

Barbie Xu dan Peter Ho. Peter Ho pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Barbie Xu pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Barbie Xu harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Barbie Xu yang seorang istri dan ibu seorang anak, dan Peter Ho yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.

Barbie Xu hampir saja meninggalkan Huang Xiao Ming-suaminya ketika itu. Ibu muda Barbie Xu merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Huang Xiao Ming. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua Peter Ho.

Tetapi sampan kecil itu ternyata begitu ringkih. Ia tak mampu menyangga beban berdua. Ia hanya ingin sesekali singgah, bermesra dan bercinta tanpa harus mengangkutnya. Peter Ho tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Barbie Xu. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Kebebasan yang tak bisa Barbie Xu terima. Maka sebelum perjalanan dimulai, ia memutuskan undur diri. Perempuan itu menyadari, bukan laki-laki seperti Peter Ho yang ia ingini untuk membebaskannya dari derita malam-malamnya. Peter Ho berbeda dengan dirinya yang membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.

“Berapa lama kau akan tinggal?” tanya Barbie Xu setelah gejolak perasaannya mereda.

“Entah. Mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin sepanjang sisa umurku,” jawab Peter Ho, tanpa senyum, tanpa memandang Barbie Xu. “Banyak hal yang memberati pikiran dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun selama ini.”

“Itu sebabnya kau kemari?”

“Seoul semakin sesak dan panas. Sementara Pulau Jeju masih tetap nyaman untuk berkarya. Jadi kuputuskan kembali,” lanjut Peter Ho tanpa mengacuhkan pertanyaan Barbi Xu. “Begitu kembali seseorang bilang padaku, kau sering di sini sore hari.”

“Maka kau mencariku. Berharap mengulang lagi hubungan dulu.”

Peter Ho menggeleng.

“Atau membangun hubungan baru.”

Peter Ho menggeleng lagi, “Tidak juga. Aku tidak butuh hubungan seperti itu. Aku hanya butuh teman untuk bicara…”

“Teman bermesra, teman bercinta yang bisa kau datangi dan kau tinggal pergi. Tanpa tuntutan, tanpa ikatan!” potong Barbie Xu. “Itu hubungan yang sejak dulu kau inginkan bersamaku kan? Seperti sudah kubilang dulu, aku tidak bisa. Aku sudah memilih.”

Kebekuan kembali merajai perasaan kedua orang itu. Langit perlahan kehilangan warna jingga. Satu per satu lampu di sekeliling mulai menyala. Ada rangkaian lampu-lampu kecil berbentuk bunga di samping tikungan yang menyala bergantian, hijau, kuning, merah. Ada lampu besar dengan tiang sangat tinggi yang menyorot ke taman, ada pula lampu berwarna temaram yang semakin menggumpalkan kesenduan.

Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Terlalu banyak hal terjadi pada mereka dan sekian lama masing-masing memendam untuk diri sendiri. Mestinya pertemuan sore itu adalah untuk berbagi cerita bukan justru bertengkar kemudian saling diam. Atau mungkin karena perpisahan yang terlalu panjang, keduanya tak tahu apa yang harus diceritakan terlebih dahulu.

Mungkin memang begitu, karena nyatanya Barbie Xu ingin berkata, beberapa tahun setelah perpisahan mereka ia masih juga mencari kabar tentang Peter Ho. Hingga suatu hari, satu setengah tahun setelah mereka tidak bersama seorang teman mengabarkan bahwa Peter Ho pulang ke Seoul. Tak lama setelah itu, ia mendengar Peter Ho tengah melanglang buana. Buana yang mana, entah. Barbie Xu merasa tidak perlu lagi mencari tahu keberadaan laki-laki itu. Meski tak jarang bayangan Peter Ho tiba-tiba membangunkan tidurnya atau menyergap ingatannya begitu Huang Xiao Ming mulai menjamah tubuhnya dan membuat Barbie Xu kesakitan tak terkira.

Terdengar Peter Ho menghela napas. Panjang. Perlahan gumpalan kemarahan yang menyesaki dada Barbie Xu mereda. Namun hasrat untuk terus mengobrol telah tak ada. Maka sisa pertemuan itu pun berlalu begitu saja. Kebekuan masih mengental di antara keduanya. Hingga Barbie Xu minta diri, dan beranjak pergi.

Bersambung…

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (Prolog)


Prolog

Wahai Malaikat cinta…
Dengarkanlah bisikan hatiku ini!
Aku cuma punya dua pilihan
Hidup terus untuk mencintainya
Atau… mati!

Kemarin kulihat ia menangis
Dalam hening
Dalam diam
Tanpa air mata
Namun kutahu ia menagis
Sekarang kulihat ia telah tertawa
Walau masih ada luka di matanya
Walau masih terasa lelah di hatinya
Namun ia telah tertawa
Kutahu ia telah pasrah
Kutahu ia telah menyerah
Tak berdaya pada kuasa hatinya
Tak kuasa pada kehendak cintanya

Dan kini ia hanya diam
Menanti dalam rindu yang amat sangat
Dalam sepi yang menyengat
Menanti sesuatu yang tak pasti
Tapi ia tak peduli
Ia hanya tahu cinta yang ia miliki pasti
(Kisah Cintaku_Sweety Qliquers)

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...