Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Dilema Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dilema Cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

Dilema Cinta (FF)



Title : Dilema Cinta
Genre : Romance, Friendship, Family
Author : Sweety Qliquers
Episode : 9 Chapter
Story :
Sebuah kisah romantis dan mengharukan. Jalinan kasih persaudaraan, dan dilematisasi cinta segitiga antara Park Shin Hye, Kim So Eun, dan Kim Bum telah membawa mereka dalam romantisme baur. Namun cinta pada akhirnya memilih, dan menentukan jalan terbaik bagi mereka.
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 05 July 2011, 11.57 AM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Park Shin Hye
Jung So Min

Extended Cast :
Kim Hyun Joong
Song Seung Hun
Lee Hye Young


Dilema Cinta

Chapter 1 - Nyanyian Gerimis
Chapter 2 - Aku Sayang Padamu, Park Shin Hye!
Chapter 3 - Oh, Kim Bum!
Chapter 4 - Maafkan Ibu, Kim So Eun!
Chapter 5 - Aku Ikhlas, Jung So Min!
Chapter 6 - Aku Masih Mencintaimu, Kim So Eun!
Chapter 7 - Aku Mencintaimu, Bukan Park Shin Hye!
Chapter 8 - Maafkan Aku, Kim So Eun!
Chapter 9 - Terima Kasih, Park Shin Hye! (Tamat)

Dilema Cinta (Chapter 9-Tamat)



Chapter 9
Terima Kasih, Park Shin Hye!


Park Shin Hye Sayang....

Hari ini gerimis turun lagi. Mengguyur basah 'rumah'mu. Seperti ingin mengucapkan selamat tinggal. Membuatku semakin mengingat setiap detik kenangan kita. Dan kau juga yang memberikan semua hal yang terindah itu, dalam hidupku.

Park Shin Hye....

Kadang kala, sebersit keinginan datang, setiap kali rindu begitu menyesak dada. Tapi sudah tak ada tempat, jika aku ingin berjumpa.

Oh ya, Ibu baik, Park Shin Hye. Dia titip salam sayang dan cintanya. Untuk satu hal ini pun, aku harus berterima kasih, karena kau telah mau 'membagi' semuanya padaku. Memberikan kasih seorang ibu, yang sangat kucintai.

Park Shin Hye Sayang....

Daun-daun berguguran setiap hari. Terasa sepi sekali tanpamu. Bagai setengah nyawa hilang dari hidupku. Apakah kau juga? Padahal setiap hari aku ke sini. Kadang ditemani Ibu, ditemani Jung So Min, atau juga Kim Bum. Kau senang kan, mereka menemanimu?

Seperti juga waktu yang bergulir, aku berjanji tak akan membuatmu sepi. Aku bahkan masih selalu merasa kau di sampingku. Tertawa lepas berdua. Apalagi jika suasananya seperti ini. Gerimis yang turun satu per satu, seakan membentuk bayanganmu. Juga bayangan saat kita biasa menikmati dinginnya gerimis dengan senyum. Berteriak-teriak kesenangan seperti anak kecil. Aku rindu sekali.

Park Shin Hye Sayang....

Andai kau ada di sampingku, mungkin saat ini, kita bisa ulangi hari-hari yang terlewat. Berdua bercanda tanpa peduli sekeliling kita. Apakah di sana kau mendengarnya, Park Shin Hye?

* * *

"Sudah waktunya pulang, Kim So Eun."

Aku mendongak. Seorang gadis tegak berdiri di sampingku dengan wajah cemas. Aku tersenyum tipis.

"Sudah sore, Kim So Eun. Kau bisa melanjutkan kapan saja, jika masih ada yang ingin kau sampaikan."

Aku menggeleng. Menaburkan bunga terakhir yang masih tersisa dan menyiramkan semuanya dengan air.

"Terima kasih mau menemaniku."

"Jangan melampiaskan kesedihan dengan datang setiap hari ke sini, Kim So Eun. Park Shin Hye pasti tidak akan senang melihatmu seperti ini."

"Jung So Min?"

"Kalau kau masih seperti ini, aku tak mungkin meninggalkanmu. Ikutlah ke Dreamlight, Kim So Eun. Kau bisa melupakan semuanya walaupun sejenak."

"Aku tak bisa meninggalkan Ibu."

"Juga Kim Bum?"

Aku tersenyum kecut.

"Kau pikir, apa masih ada yang tersisa?" Aku menggeleng. "Mungkin hanya ilusiku, tapi... setiap melihatnya berjalan, aku selalu merasa kalau Park Shin Hye ada di sampingnya. Setiap Kim Bum pergi, bayangan Park Shin Hye selalu mengikutinya. Masihkah kau katakan, kami bisa bersama?"

"Tapi setidaknya, kalian saling mencintai, Kim So Eun." Jung So Min menatapku lembut. "Kau tahu apa yang dikatakannya padaku kemarin?"

Aku menggeleng lemah.

Jung So Min tersenyum, memeluk bahuku lembut. "Dia bilang, akan menjagamu selama hidupnya. Hei, aku terharu sekaligus bahagia mendengarnya. Dan aku yakin, Park Shin Hye pasti sependapat denganku. Raihlah kebahagiaanmu, Kim So Eun!"

Aku termangu. Tanpa sadar, butiran kristal mengalir deras dari kedua mataku. Apakah kau juga mendengarnya, Park Shin Hye?

"Lusa aku kembali. Kau ingin ikut? Ibuku pasti senang melihatmu lagi."

"Jung So Min, terima kasih."

"Itu gunanya sahabat, kan?"

Aku tersenyum. Perlahan memutar tubuhku, melihat di kejauhan onggokan tanah yang masih merah. Aku bergumam pelan. Selamat tinggal, Park Shin Hye!

* * *

"Kim So Eun...."

Sesosok tubuh menerjang masuk, di antara rinai gerimis. Dengan baju basah kuyup, berdiri di depanku dengan bibir tersenyum. Aku tertegun. Kim Bum?

"Ayo, ikut aku," katanya sambil menyeret tanganku agar mengikutinya. Baru beberapa meter dia berhenti, dan berpaling menatapku.

"Sama, kan?" teriaknya. "Jadikan aku pengganti Park Shin Hye. Begini, kan?" tanyanya sambil berteriak-teriak di tengah jalan. Menyipratkan air ke semua tubuhku. Aku terdiam. Menggigit bibir, berusaha menahan isak yang hampir terdengar. Membiarkan titik-titik air membasahi wajahku.

"Kim So Eun?"

"Sudahlah! Cukup, Kim Bum."

"Jangan disimpan sendiri. Bagilah kesedihanmu denganku. Ya?"

"Kim Bum?"

"Berikan aku kesempatan. Kita ulangi semuanya dari awal lagi. Mau kan?"

Aku terdiam. Bayangan Park Shin Hye terlihat lagi. Di antara rinai gerimis, di antara ranting-ranting basah, di antara desau angin, tersenyum lembut ke arahku. Inikah yang kau inginkan, Park Shin Hye?

"Mau kan, Kim So Eun?"

Aku mengangguk pelan.

Sesaat kemudian, dia telah merangkulku dalam dekapannya yang hangat.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Dilema Cinta (Chapter 8)



Chapter 8
Maafkan Aku, Kim So Eun!


"Kim So Eun, ya ampun. Dari mana saja kau ini?" Jung So Min menyambutku begitu aku turun dari taksi. "Ibumu tadi panik sekali."

"Ada apa?" tanyaku cemas. "Ibu di mana sekarang?"

"Rumah sakit. Ada telepon, katanya Park Shin Hye kambuh lagi."

"Apaaa?! Apa Ibu bilang, operasi?" tanyaku gugup.

"Aku tak tahu, Kim So Eun. Kau ingin ke sana?"

"Ayo, naik taksi saja, ya? Situasi seperti ini, aku cepat kalut kalau mengemudi."

"Kim So Eun?"

"Aku takut sekali, Jung So Min. Firasatku sangat jelek!"

"Tenang, Kim So Eun. Park Shin Hye pasti baik-baik saja."
Aku selalu berharap begitu. Tapi melihat badannya menurun dengan cepat, rambut terus rontok, dia begitu lemah, membuatku selalu merasa takut, saat itu akan tiba!

* * *

"Kim So Eun?"

"Bagaimana Park Shin Hye, Bu? Di mana dia?"

Ibu memelukku erat.

"Dokter Song Seung Hun sedang berusaha, Sayang. Berdoa saja, ya? Ibu takut sekali, Kim So Eun!"

"Ibu?"

Pintu kamar Park Shin Hye terbentang lebar. Dokter Song Seung Hun membentangkan kedua tangannya, sambil meminta maaf pada Ibu. Aku menatap tak percaya.

Tidak, Tuhan....

Jangan kau ambil dia! gumamku dalam hati.

"Sekarang masih ada waktu, kira-kira tiga hari lagi."

"Dokter, Aku mohon coba lagi," pintaku.

"Kim So Eun?" Jung So Min memelukku lembut. "Beliau pasti sudah berusaha."

"Ini salahku!"

"Kim So Eun...." Kim Bum berlari keluar memanggilku. "Park Shin Hye mencarimu. Cepatlah!"

Aku berlari masuk ke ruang Gawat Darurat. Menghampiri ranjang Park Shin Hye.

"Kim So Eun...."

"Aku di sini, Park Shin Hye. Jangan cemas. Aku tak akan meninggalkanmu." Kugenggam kedua tangannya erat. Aku mendesah sedih, saat tangannya mulai terasa dingin, ketika kusentuh. Tanpa sadar butiran hangat mengalir deras membasahi kedua pipiku. Aku menggigit bibir, menahan isak agar tak terdengar oleh gadis itu.

Park Shin Hye tersenyum. Tangannya terangkat, menghapus airmata di kedua pipiku.

"Jangan menangis, Kim So Eun."

"Aku... ah, Park Shin Hye... bertahanlah!"

"Kemarin aku mimpi bertemu Ayah, Kim So Eun." Park Shin Hye tersenyum. Matanya menerawang ke atas. "Ayah bilang 'Di sini damai sekali, Sayang'. Aku sudah lelah, Kim So Eun. Ingin ikut Ayah."

"Jangan tinggalkan aku!"

"Kim So Eun, maafkan aku, ya?" Park Shin Hye menatapku dengan sedih. "Maaf, karena telah membuatmu sedih. Aku egois, ya? Menghancurkan cinta kalian," katanya dengan suara terbata-bata. "Aku sudah merebut Kim Bum darimu!"

Aku menggeleng berulang kali.

"Jangan katakan apa pun, Park Shin Hye. Aku sayang padamu."

"Suratmu sudah kubaca, Kim So Eun. Indah sekali. Terima kasih, ya?"

"Kalau sudah sembuh, kita akan melakukannya lagi, jika gerimis datang. Seperti dulu."

"Aku sudah tidak kuat, Kim So Eun. Kalau terjadi apa-apa, tolong jaga Ibu, ya?"

Aku mengangguk beruntun.

"Kim So Eun, maukah kau memenuhi permintaanku?"

"Ya."

"Kembalilah pada Kim Bum. Dia sangat mencintaimu!"

"Park Shin Hye?!"

"Kenapa kau selalu berkorban untukku?" Park Shin Hye memandangku sedih. "Kalau kau katakan sejak awal, aku tak akan menyita seluruh waktunya untukku. Maafkan aku dan Ibu ya, Kim So Eun?"

Aku mengangguk lemah.

"Katakan pada Ibu, aku sayang padanya."

"Ibu pasti tahu itu, Park Shin Hye."

"Aku sekarang ingin tidur. Besok bangunkan aku, ya?"

Aku mengangguk lagi.

"Jangan lupa ya, Kim So Eun?"

"Iya. Aku janji."

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 7)



Chapter 7
Aku Mencintaimu, Bukan Park Shin Hye!

"Masih sakit?"

Aku menggeleng lemah.

"Terima kasih."

"Jangan buat aku seperti itu lagi. Jantungku rasanya berhenti berdetak, melihatmu tertunduk di depan mobil tadi."

"Aku tidak apa-apa."

"Dengan lutut berdarah dan tangan nyeri, masih kau bilang tidak apa-apa?" Kim Bum menatapku cemas.

Aku berpaling cepat. Menggigit bibir kuat-kuat, agar butiran hangat itu tidak tumpah di depannya. Tidak, gelengku lemah. Kim Bum tidak boleh sampai tahu, kalau aku menangis. Aku tahu dia paling tidak bisa melihatku sedih. Baginya, kebahagiaanku di atas segalanya. Jadi, kalau aku sampai menangis, semua yang telah kulakukan, akan sia-sia.

"Kim So Eun?"

"Eh?"

"Diobati dulu, ya? Biar sakitnya berkurang."

Aku menggeleng.

"Biar aku saja. Aku tak ingin Ibu sampai tahu."

"Kenapa kau selalu seperti itu?"

"Sudah dari sananya, Kim Bum," ujarku sambil tersenyum kecut. "Ah, pergilah!"

"Apa?"

"Kau ingin ke rumah sakit, kan? Park Shin Hye pasti sudah menunggumu. Tak boleh, membiarkan orang sakit sendirian," candaku pilu.

"Tak bisakah sekali saja, jika bersamaku, kau tak menyebut nama Park Shin Hye?"

"Kim Bum?"

"Berjanjilah, kau tak akan pernah pergi lagi."

Aku terdiam. Memandang lalu lalang kendaraan dengan tatapan pilu. Kemudian seperti teringat sesuatu, kubuka pintu mobil. Entah sudah berapa banyak waktu yang telah kuhabiskan di dalam mobil Kim Bum.

"Kau mau ke mana, Kim So Eun?" Kim Bum menahan tubuhku, berusaha mencegahku untuk membuka pintu mobilnya.

"Aku mau pulang."

"Kuantar!"

Aku menggeleng berulang kali.

"Aku naik taksi saja, Kim Bum. Tak enak jika Ibu melihatnya. Ibu bisa salah paham."

"Kim So Eun?"

"Aku boleh minta tolong, kan? Sekali saja."

"Apa?"

"Berikan kain penutup kepala itu ke Park Shin Hye. Kalau dia tanya, bilang saja tadi kau mampir dulu ke toko. Park Shin Hye pasti senang."

"Bagaimana kalau aku tak mau?"

"Aku mohon, Kim Bum."

"Baiklah," kata Kim Bum pada akhirnya. "Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kuantar kau pulang!"

"Dan membuat kening Ibu berkerut melihatku berada dalam mobilmu?" Aku menggeleng. "Tidak, Kim Bum. Aku sudah berjanji pada Ibu."

"Sekali ini saja, Kim So Eun. Bisakah kau berhenti menghindariku?"

Aku menggeleng sedih. Menatap pemuda itu putus asa.

"Aku tidak bisa, Kim Bum. Mengertilah!"

"Aku juga ingin kau mengerti satu hal," ujar pemuda itu tiba-tiba. menatapku dengan mata serius. "Aku tak bersedia memenuhi permintaanmu. Jangan potong dulu," katanya cepat, ketika dilihatnya aku ingin membantah kata-katanya. "Aku menemaninya karena kau yang minta. Ingat? Jadi jangan paksa aku, untuk jatuh cinta padan Park Shin Hye!"

"Kim Bum?"

"Tak bisakah kau mengerti, kalau cinta tak bisa diatur seenaknya?! Aku mencintaimu, Kim So Eun. Bukan Park Shin Hye!"

"Kim Bum?"

"Aku benci sekali melihatmu terluka setiap melihat kami berdua. Sudah cukup! Aku tak ingin kau menderita lebih jauh lagi!"

"Park Shin Hye sakit, Kim Bum. Mungkin usianya tidak akan lama lagi. Dia membutuhkanmu!"

"Dan kau sendiri?!"

Aku? Masih berartikah jika kukatakan? Sementara aku tahu, satu-satunya kekuatan untuk Park Shin Hye bertahan, hanya cinta pemuda ini. Kalau kutepis lagi, berapa banyak orang yang kucintai akan bersedih?

"Kim So Eun, tak bisakah kita seperti dulu?"

"Kau tahu, itu tak mungkin, Kim Bum!"

"Kim So Eun?"

Ah, aku menghela napas. Kenapa kau tanyakan hal itu, Kim Bum?

Aku lelah sekali, Kim Bum. Mungkin akan lebih baik, jika aku tak pernah kembali. Menetap saja selamanya di Dreamlight. Dan berharap akan menemukan cinta sejati yang baru. Seperti kata Jung So Min, mungkin seharusnya aku mau membuka hatiku, belajar menerima kebaikan yang lain. Menerima Kim Hyun Joong, misalnya?

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 6)



Chapter 6
Aku Masih Mencintaimu, Kim So Eun!


"Pagi, Bibi."

"Oh, Jung So Min." Ibu tersenyum. "Mau makan?"

"Nanti saja, Bibi. Aku cuma mau minum."

"Bibi buatkan, ya?"

Jung So Min menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak usah, Bibi. Aku hanya ingin membuat susu saja, semua orang juga bisa."

"Oh, sudahlah kalau begitu. Tapi… Apa Bibi boleh tanya sesuatu?"

Jung So Min berpaling pelan, menatap ibu temannya itu dengan kening berkerut. Tanpa menghentikan kegiatannya mengaduk susu, gadis itu mengangguk.

"Ada apa, Bibi?"

"Tidak,. Bibi hanya ingin tahu tentang Kim So Eun."

"Oh, kalau tentang Kim So Eun... Aku tidak tahu apa-apa, Bibi," dusta gadis itu."

"Benarkah?"

"Iya." Jung So Min mengangguk cepat-cepat. "Memangnya kenapa, Bibi? Ada masalah?"

Ibu menggeleng lemah.

"Bibi mendengar kalian ribut kemarin."

"Heh?" Jung So Min terhenyak. Umpan yang bagus sekali, batin gadis itu. "Oh, tentang itu. Biasa Bibi, namanya juga anak muda. Ibuku juga suka bingung dengan kelakuan kami."

"Begitu?"

"Ya."

"Sudahlah! Lupakan saja. Bibi hanya ingin tahu." Ibu terseyum. "Kim So Eun mana, ya? Sejak tadi belum kelihatan. Apa masih tidur?" tanya Ibu, seperti pada diri sendiri.

"Sudah bangun sejak pagi tadi. Katanya, dia ingin ke toko. Mau beli kain penutup kepala, untuk Park Shin Hye. Tidak pamit pada Bibi?"

Ibu mengerutkan dahinya. "Ah, mungkin Bibi yang lupa."

Jung So Min tersenyum. "Aku mandi dulu ya, Bibi. Kim So Eun kemarin bilang mau mengajakku ke rumah sakit."

Ibu mengangguk, membiarkan Jung So Min mengakhiri pembicaraan. Hanya satu yang terlintas di benaknya untuk saat ini. Harus dia sendiri yang menanyakannya pada anak gadisnya! batin Ibu.

* * *

Kim Bum memarkir mobilnya, beberapa meter di depan sebuah toko, begitu dilihatnya seorang gadis berjalan pelan memasukinya. Dia menurunkan kaca jendelanya sedikit, agar bayangan gadis itu masih bisa dilihatnya, walau dari jarak yang lumayan jauh. Apalagi ditambah dengan lalu-lalang orang-orang dan berbagai jenis kendaraan, yang melewatinya.

Kim Bum menghela napas berat.

Di mana-mana, sekarang ini dia tak bisa lagi berbicara dengan gadis itu. Walau sekuat apa pun keinginan untuk bertemu, dia kini hanya bisa mengerti, bahwa semua itu tak mungkin terjadi. Gadis itu sudah memilih. Dan dia juga tahu, bagaimana kukuhnya keputusan itu.

Kim Bum mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Mengusir perasaan gundah yang kerap hadir bila melihat tatapan gadis itu begitu terluka bila di dekatnya. Apalagi jika diingat, bagaimana dulu dia berusaha menahan perasaannya, saat langkah kaki yang terasa berat untuk diayunkan itu, semakin menjauh, pergi meninggalkannya untuk beberapa saat.

Oh, Tuhan... salahkah bila aku mencintainya? tanyanya pahit dalam hati.

"Awaasss...."

Teriakan itu membuyarkan semua lamunannya. Dia tersentak kaget, saat melihat di kejauhan sebuah mobil mengerem mendadak di depan toko, dan gadis itu tertunduk di depannya dengan plastik belanjaan terlempar dua jengkal dari tempat gadis itu.

Dia buru-buru membuka pintu mobil dan menghambur menghampiri gadis itu.

"Kim So Eun, kau tak apa-apa?"

"Kim Bum...."

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 5)



Chapter 5
Aku Ikhlas, Jung So Min!


"Apa yang kalian bicarakan?"

"Heh?"

"Apa lagi yang Ibumu inginkan?!"

"Tak ada. Ibu hanya bingung dengan perubahan sikapku. Tak terbiasa katanya, melihatku diam sendirian."

"Kau jawab apa?"

Aku menggeleng.

"Tak ada!"

"Dan membuat Ibumu mengira kau bahagia?" Jung So Min tersenyum sinis. "Kau ini orang aneh, Kim So Eun. Mana ada orang yang rela melepaskan cintanya dengan mengorbankan kebahagiaannya."

"Ada. Orang seperti itu ada di mana-mana, Jung So Min. Tidak hanya aku."

"Kim So Eun?"

"Pengorbanan apa pun, tak akan pernah sia-sia, jika kita melakukannya untuk orang yang kita cintai."

"Walaupun harus kehilangan kebahagiaan sendiri?!"

Aku tersenyum tipis.

Hal itu, berulang-ulang kutanyakan dalam hatiku. Tapi jawabannya selalu saja sama. Tak peduli bagaimanapun caranya, kita sendiri yang harus bangkit memperjuangkannya.

Kasih sayang Ibu, pengorbanannya, dan cinta yang pernah dan masih selalu kurasakan, mampukah kubalas dengan hal yang kecil itu? Kehilangan Kim Bum, adalah hal yang sangat menyakitkanku. Tapi, akan lebih sakit lagi, jika kanker di tubuh Park Shin Hye tak dapat dihilangkan. Jika aku harus kehilangan Park Shin Hye, masih bergunakah semuanya?

* * *

"Bu?"

"Ah, sudah pulang?"

Aku mengangguk pelan. Mataku mengedari sekelilingku dengan rupa heran.

"Bu, kenapa tidur di sini?" tanyaku, begitu melihat perlengkapan tidur Ibu di sofa.

"Ibu menunggumu pulang. Tadi niat Ibu, ingin mencarimu. Tapi tak tahu kau pergi ke mana."

"Bu?"

"Sekarang Ibu bisa tidur dengan tenang. Tadi susah sekali, Kim So Eun. Ibu takut terjadi apa-apa padamu. Jung So Min mana?"

"Sudah ke atas tadi. Ingin mengucapkan salam, tapi takut mengganggu tidur Ibu."

"Ya, sudah. Ibu tidur dulu ya, Kim So Eun."

"Bu," kejarku cepat, saat Ibu sudah hampir menutup pintu. Kucium kedua pipi Ibu dan tersenyum. "Terima Kasih sudah mencemaskanku. Selamat malam, Bu."

"Selamat malam, Sayang."

Aku berjalan gontai ke arah sofa, ketika pintu kamar Ibu benar-benar tertutup. Menyenderkan tubuhku yang terasa penat, ke atas sofa.

Aku menghela napas panjang. Memejamkan mata perlahan. Membiarkan butiran bening bergulir jatuh membasahi kedua pipi.
Ibu, bagaimana caranya aku harus bertahan? keluhku getir. Harus teruskah aku mengalah? Tak bisakah kuraih kebahagiaanku?

"Kim So Eun...."

Seseorang menepuk pundakku lembut. Aku terhenyak, begitu melihat Jung So Min duduk di sampingku dengan wajah cemas.

"Ini," Jung So Min menyodorkan bebarapa lembar tisu kepadaku. Aku tersenyum tipis.

"Terima kasih, Jung So Min."

"Pantas saja, rasanya aku tak bisa tidur. Kau menangis lagi rupanya."

"Jangan cemas, Jung So Min. Tidurlah!"

"Membiarkanmu sendirian melawan kesedihanmu?" Jung So Min menggeleng pelan. "Aku benci sekali melihatmu seperti ini, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kumohon, Kim So Eun. Jangan terus menyiksa dirimu."

"Aku tak apa-apa."

"Benarkah?" Jung So Min menatapku. "Kau berbohong, Kim So Eun."

"Jung So Min, tak bisakah kau tinggalkan aku sendirian?"

"Aku bukannya ingin cerewet, Kim So Eun. Kalau kau terus seperti ini, tanpa sanggup mengatakan pada Ibumu bagaimana tentang perasaanmu, bukan hanya gadis itu yang sakit. Tapi kau juga!"

"Aku tak ingin menyakiti Ibu."

"Menyakiti? Kau pikir apa yang dilakukan Ibumu padamu?!" teriak gadis itu marah. "Itu tak adil, Kim So Eun! Kau tak perlu mengorbankan semuanya."

"Jangan teriak-teriak, Jung So Min. Ibu bisa mendengarnya."

"Aku tak peduli!"

"Jung So Min?"

"Biarkan saja dia mendengar!"

"Aku mohon, Jung So Min. Jangan membuat Ibu sedih."

"Tak bisakah kau mengatakan padanya, kalau permintaannya yang tak wajar itu, menyakitimu terlalu dalam?!" ujar gadis itu. "Kau sudah cukup membayar semuanya, Kim So Eun."

Aku menggeleng lemah. Menatap gadis itu pilu.

Tak pernah ada kata cukup, untuk membayar semua yang telah dilakukan seorang ibu pada anak-anaknya, Jung So Min. Hanya kewajiban membahagiakannya terus, yang dapat kulakukan pada Ibu, dengan tidak membiarkannya menderita. Salahkah?

Sementara itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, seseorang mendengarkan semuanya dengan hati sedih.

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 4)



Chapter 4
Maafkan Ibu, Kim So Eun!

"Jangan membuatnya cemas seperti tadi, Kim So Eun."

Gelas yang kupegang berhenti di sudut bibirku. Aku mendongak, menatap sosok di depanku, dan tersenyum tipis begitu tahu siapa yang datang.

"Kim So Eun?"

"Kumohon jangan mengatakan apa pun lagi, Jung So Min. Aku sudah lelah."

Gadis itu terdiam. Tangannya mendorong kursi di depanku. Duduk diam di sana sambil memandangku. Aku tersenyum jengah.

"Kenapa menatapku seperti itu?"

"Kau masih mencintainya, kan? Jujurlah, Kim So Eun. Jangan menyangkal terus."

"Aku tak tahu, Jung So Min. Melihat mereka berdua, hatiku sakit sekali." Aku tersenyum pedih. "Sebelum pulang, sudah kuputuskan segalanya. Bahkan tak memberikan dia penjelasan apa pun. Hanya memintanya menjaga Park Shin Hye."

"Kau menyesal?"

"Masih bergunakah bila kukatakan?"

"Kim So Eun?"

"Dia masih menatapku seperti saat kutinggalkan. Jangankan menyapaku, menatapku saja, dia tak ingin lagi."

"Dia pasti tidak seperti itu, Kim So Eun."

Benarkah? Bahkan keingintahuanku apakah dia membenciku saja, aku tak berani menanyakannya.

"Andai dulu kau terima Kakakku."

Aku tersenyum kecut.

"Apa yang bisa kuberikan pada Kim Hyun Joong, Jung So Min? Cinta saja, aku tak tahu, apakah masih ada yang tersisa. Semuanya sudah lama hilang dari hidupku, tepat pada saat kuputuskan segalanya dengan Kim Bum."

"Setidaknya kau bisa menemukan cinta yang tulus lagi, kan? Bisa memupus cintamu padanya."

"Sudah pernah kulakukan. Tapi hasilnya," aku menggeleng. "Tak bisa, Jung So Min. Aku takut malah menyakiti hati Kim Hyun Joong. Aku tak ingin ada hati yang terluka lagi."

"Tak bisakah kau mencintai Kim Hyun Joong, Kim So Eun? Belajar membuka hatimu untuk orang lain?"

Aku tersenyum getir.

Andai saja bisa, apa pun juga kulakukan. Tapi cinta yang pernah kuberikan padanya, aku tak tahu, apa aku bisa memupusnya. Kenangan dari mereka berdua begitu kuat memasuki memoriku. Tak bisa dengan mudah kulepaskan, tanpa mengingatnya lagi.

"Kim So Eun?"

"Sudahlah," kataku pelan, sambil mengibaskan tanganku di udara. "Aku tak apa-apa." Aku tersenyum. "Impianku sekarang hanya ingin melihatnya sembuh, walaupun aku tahu kemungkinannya sangat kecil. Kalau itu saja terkabul, aku tak ingin minta apa-apa lagi."

"Tidak juga Kim Bum?"

Aku tersenyum menatap gadis di depanku itu. Dan kemudian mengangguk lemah. Ya, Jung So Min. Bahkan juga Kim Bum! Aku beranjak dari dudukku, membiarkan Jung So Min mengikuti dari belakang. Aku menghela napas. Sudah terlambat, Jung So Min. Aku menelan ludah pahit. Walaupun bisa kuubah, segalanya tak mungkin kembali sempurna!

* * *

"Ibu senang sekali kau kembali."

"Aku tahu, Bu."

"Apa yang kau cari?" tanya Ibu, begitu melihatku membongkar semua isi tasku.

"Foto," jawabku tanpa berpaling. "Rasanya kemarin sudah kutaruh di sini," kataku sambil mengeluarkan semua isinya.

"Ada di kamar Ibu, Kim So Eun."

"Eh?" Aku menoleh dengan rupa terkejut.

"Kemarin tak sengaja Ibu melihatnya, waktu ingin membereskan pakaianmu. Tak apa-apa, kan?"

Aku hanya menjawab dengan senyum. Membereskan semua yang sudah kubongkar, dan memasukkannya satu per satu ke dalam lemari.

"Setahun belakangan ini, Ibu tak pernah melihatmu tertawa lepas seperti dulu. Bahkan senyum pun, sepertinya kau paksakan di depan Ibu. Ada apa, Sayang?"

Aku menggeleng.

"Tidak ada apa-apa, Bu. Mungkin hanya lelah."

"Sepertinya tidak!" Ibu memandangku cemas. "Di foto-foto itu, Ibu melihatmu ceria sekali. Tertawa lepas tanpa ada luka, seperti saat kau mengatakan pertama kali pada Ibu, bahwa kau mencintai Kim Bum." Ibu tersenyum mengenang. "Juga matamu yang berbinar bahagia, saat kau mengatakan kalian sudah pacaran."

"Bu, sudahlah."

"Apa ini karena Ibu? Apa karena permintaan Ibu?"

Aku terdiam.

"Ibu kira, Ibu tak akan pernah lagi menemukan luka di matamu setelah kau kembali. Tapi nyatanya," Ibu menggeleng sedih. "Ibu mungkin terlalu banyak berharap. Maafkan Ibu ya, Sayang?"

Aku tersenyum tipis.

"Jangan merasa bersalah, Bu. Itu wajar, Bu, sebagai seorang ibu, Ibu melakukannya. Jadi tak perlu mencemaskanku lagi."

"Kim So Eun, Ibu tak bermaksud membeda-bedakan kalian. Ibu hanya...."

"Bu, Aku tak pernah menyalahkan Ibu."

"Kim So Eun?"

"Ibu melihat Jung So Min?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Kim So Eun?"

"Ah, itu dia," seruku senang, saat melihat gadis itu di luar, lewat kaca jendela. "Aku pergi dulu ya, Bu?"

"Kim So Eun...," panggil Ibu lagi, begitu aku sudah hampir mencapai ambang pintu. Aku membalikkan tubuhku perlahan, menatap wanita setengah baya, yang masih tampak cantik itu, dengan bibir tersenyum.

"Ada apa, Bu?"

"Apa hari ini tidak pergi ke rumah sakit?"

Aku tertegun. Benar! Kau punya janji dengan Park Shin Hye, Kim So Eun! batinku. Tapi bagaimana jika Kim Bum ada di sana? Dengan wajah yang bagaimana aku menemuinya?

"Kim So Eun?"

"Eh... ah, aku sampai lupa!" Kupukul keningku pelan. "Bagaimana kalau Ibu saja? Sekalian foto-foto yang di kamar Ibu, ya? Kemarin Park Shin Hye ingin sekali melihatnya."

"Kau mau pergi?"

"Aku... bagaimana, ya? Kemarin aku sudah janji mau mengantar Jung So Min, Bu. Boleh, kan?"

Ibu tersenyum. "Pergilah."

"Nanti kalau sempat, Aku akan mampir, Bu." Aku mencium kedua pipi Ibu, dan kemudian menghampiri Jung So Min.

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 3)



Chapter 3
Oh, Kim Bum!


Bau rumah sakit menusuk hidungku, begitu kulangkahkan kakiku menapaki lantai berubin putih. Berdiri di depan sebuah kamar dengan perasaan cemas. Menghimpun kekuatan sebelum akhirnya memutar handel pintu dengan bibir tersenyum.

Seorang gadis terbaring di ranjang dengan bibir pucat dan memakai kain penutup kepala bergambar Minnie Mouse, kesukaannya. Langkahku terhenti tiba-tiba. Menatap wajah di depanku dengan hati giris. Kulirik gadis di sebelahku, yang sejak tadi hanya diam membisu.

"Diakah Park Shin Hye?"

Aku mengangguk lemah. Memejamkan mataku, menahan butiran air hangat yang siap keluar dari kedua mataku. Perlahan mata itu terbuka, seperti sadar ada yang memperhatikan, dan menatapku seketika dengan tatapan tak percaya.

"Kim So Eun?" Gadis itu mengusap kedua matanya.

Aku mengangguk.

"Benarkah itu kau?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.

Aku tersenyum menyambut uluran tangannya. Memeluk gadis itu, penuh kasih. Pertahananku bobol. Butiran bening yang kutahan sejak tadi keluar juga, mengucur deras membasahi kedua pipiku. Aku cepat menghapusnya, sebelum gadis itu mengetahuinya.

"Aku bermimpi kau akan datang. Ternyata kau sekarang sudah berdiri di depanku."

"Maafkan aku."

"Kenapa harus minta ma... ah, Kim Bum, kemarilah. Lihat siapa yang datang," ujar Park Shin Hye senang, begitu Kim Bum berdiri mematung di depan pintu.

"Sudah kubilang kan, jangan terlalu banyak bergerak. Nanti punggungmu sakit lagi," tegur pemuda itu marah, sambil berjalan menghampiri Park Shin Hye.

Aku meraba hatiku, tanpa sanggup menatap wajah tampan di depanku. Menelan ludah yang terasa pahit, dengan susah payah.

Ya, Tuhan... ada apa dengan hatiku? Padahal dulu sudah kuputuskan untuk melepaskan segalanya, dan membiarkan Park Shin Hye bahagia. Tapi... melihat tatapan lembut yang dulu selalu untukku dan mampu membuatku tenang, kini hanya tertuju pada Park Shin Hye, tanpa menoleh sedikit pun padaku, membuatku tak bisa menahan perasaanku.

"Kim So Eun?" Jung So Min menggenggam erat tanganku. Seperti meyakinkanku, kalau dia bisa kuandalkan. Aku tersenyum kelu. Aku masih punya kau, Jung So Min. Benar begitu, kan?

"Park Shin Hye, ini Jung So Min. Dia memaksa ikut. Katanya ingin melihatmu," kataku mengenalkan. "Dan ini...."

"Ah, pasti Kim Bum, kan?" Jung So Min memotong kalimatku. "Apa kabar? Kim So Eun sering bercerita tentang kalian."

"Terima kasih sudah menjaga Kim So Eun," ujarku Park Shin Hye pelan, tersenyum.

Jung So Min tersenyum sambil melirikku menggoda.

"Kalau tidak dijaga, dia ini bisa bahaya, Park Shin Hye. Keingintahuannya besar sekali," ujar gadis itu sambil tertawa.

Aku memukul punggung Jung So Min main-main. "Jangan bercanda, Jung So Min. Kau kan sama saja denganku."

Jung So Min tertawa.

"Kim So Eun...."

Aku terperangah. Mata itu sekarang ini lebih sering terlihat berbinar-binar. Bahagia sekali, gumamku dalam hati. Apakah itu karena kau, Kim Bum? Aku tersenyum pedih.

Andai saja dulu bisa kutepis semuanya. Mengabaikan begitu saja permintaan orang yang sudah begitu baik merawatku. Orang yang sejak kecil kupanggil dengan sebutan Ibu, yang kemudian kutahu adalah kakak kandung ibuku, mungkin sekarang ini... kita masih bersama, Kim Bum. Tapi, hati kecilku selalu melarangku melakukannya. Ah, Kim Bum, andai saja kau tahu... melepaskanmu saat itu, melepaskan cinta kita, adalah hal tersulit yang harus kulakukan.

Melihat matamu saat itu... ingin sekali rasanya mengatakan padamu kalau aku masih selalu mencintaimu. Kemarahanmu, ketidakterimaanmu dengan alasan yang kukatakan, membuat hatiku ingin menangis. Andai saja saat ini segalanya bisa kuubah, tak akan pernah kubiarkan semua lepas dari hidupku, Kim Bum. Apakah kau mengerti itu? Aku menggeleng sedih. Tapi kini, walaupun kau mengerti, semuanya itu sudah terlambat!

"Kim So Eun?"

"Eh, apa? Kau ingin sesuatu, Park Shin Hye?" tanyaku, sambil berusaha menutupi keterkejutanku.

"Tidak," gelengnya lemah. "Sudah bertemu Ibu, kan? Apa kau sudah pulang?" Aku mengangguk. Gadis itu tersenyum menatapku. "Ibu pasti senang sekali kau kembali. Seperti aku."

"Aku tahu, Park Shin Hye."

Park Shin Hye menghela napas panjang.

"Bagaimana? Apa semuanya di sana sangat indah?" Park Shin Hye bertanya dengan mata berbinar. "Aku ingin sekali bisa pergi melihat sendiri, tapi tidak apa-apa. Kau bawa foto-fotonya kan, Kim So Eun?" tanya gadis itu dengan suara terbata-bata.

"Aku tinggal di rumah, Park Shin Hye. Tadi aku cepat-cepat datang kemari. Jadi terlupa dibawa."

"Apa besok bisa kulihat?" Matanya menatapku penuh harap. Aku mengangguk pelan. "Untunglah," desahnya lega. "Aku takut tidak sempat melihatnya."

"Park Shin Hye!" seruku tak suka. "Aku tak mau lagi mendengar, kau berbicara seperti itu!" cetusku marah.

Park Shin Hye tersenyum getir.

"Ini stadium akhir, Kim So Eun."

"Apa hubungannya?!" seruku.

"Sudahlah, Kim So Eun." Jung So Min menengahi. "Jangan teriak-teriak di sini. Kalau ada suster lewat, kau nanti bisa diusir! Dianggap mengganggu orang sakit," kata Jung So Min sambil tersenyum menggodaku.

Park Shin Hye tersenyum menatapku.

"Aku tak akan bicara seperti itu lagi. Ah, aku lupa. Bagaimana Ibu tadi? Baik-baik saja, kan?"

Aku mengangguk.

"Aku tidak ingin menyusahkan Ibu terus. Kemarin Ibu sudah menungguiku seharian. Padahal ada Kim Bum di sampingku, itu sudah cukup." Park Shin Hye tersenyum, menatap sosok pemuda di samping kanannya. "Kini ada kau, Kim So Eun. Itu sudah membuatku bahagia sekali."

Aku memejamkan mataku. Perih!

"Ada apa? Kau kenapa, Kim So Eun?" Park Shin Hye menatapku cemas. "Kim Bum, tolong panggil Dokter Song Seung Hun," pintanya.

Aku buru-buru menggeleng dan tersenyum menghentikan kecemasannya. Jangan sampai dia tahu kau terluka, Kim So Eun. Aku menepuk pipi gadis itu lembut.

"Aku tidak apa-apa, Park Shin Hye. Jangan cemas seperti itu. Aku hanya letih," dustaku.

"Benar begitu?"

Aku mengangguk.

"Yang harus dicemaskan itu kau, Park Shin Hye. Bukan aku!"

"Tapi... ah, Kim So Eun, periksalah. Wajahmu pucat sekali."

"Aku tak apa-apa. Aku keluar dulu, ya?" Kucium kening Park Shin Hye. "Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering. Aku ingin cari minum dulu," kataku menjelaskan, ketika sekilas kutangkap mata Kim Bum memandangku tak percaya. "Nanti temui aku di kantin ya, Jung So Min. Tempat kita minum tadi," kataku lagi, sambil melihat ke arah Jung So Min.

"Nanti kususul," balas Jung So Min.

"Oh ya," ujarku pelan, menatap sosok pemuda itu, "tolong jaga Park Shin Hye ya, Kim Bum," pintaku lirih, dan menghambur keluar dengan cepat.

"Kim So Eun...." Park Shin Hye memanggilku dengan lemah. Ada apa denganmu, Kim So Eun? Gadis itu berpaling, memandang Kim Bum. "Tolong kejar dia, Kim Bum."

Jung So Min bangkit dari duduknya.

"Biar aku saja," cetusnya, menahan tubuh Kim Bum, yang baru saja berdiri. "Aku tak terbiasa menjaga orang sakit," katanya lagi sambil tersenyum.

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 2)



Chapter 2
Aku Sayang Padamu, Park Shin Hye!


"Kim So Eun...."

Aku mendongak, mencari asal suara. Dari tingkat dua, kulihat Jung So Min melambaikan tangannya sambil tersenyum.

"Tunggu aku di bawah, ya?"

Aku tersenyum mengiyakan.

Park Shin Hye, apakah suratku sudah sampai?

"Melamun lagi, ya?" Jung So Min tiba-tiba berujar pelan sambil menepuk bahuku lembut. "Sampai tak tahu kuperhatikan sejak tadi. Ingat dia, Kim So Eun?"

Aku hanya menjawab dengan senyum. Berjalan beberapa langkah dari sana, menghampiri kolam ikan, dan duduk di tepinya.

"Kapan kau pulang?"

"Lusa," jawabku tanpa berpaling. "Kenapa?"

"Mereka tahu kau akan datang?"

Aku menggeleng.

"Dia bagaimana?"

Aku mengedikkan bahu.

"Kim So Eun?"

"Entahlah! Aku hanya berharap, dia tak pernah tahu aku datang. Tak ingin membuatnya bingung dengan keputusanku."

"Apa kau tak takut, jika pulang nanti, Kim Bum telah memenuhi permintaanmu, menemani Park Shin Hye selamanya?"

Aku tersenyum tipis. Menatap Jung So Min dengan tatapan pilu.

"Itu mungkin lebih baik kan, Jung So Min?"

"Aku tahu. Tapi pikirkan juga perasaannya, Kim So Eun. Yang dia cintai itu kau. Jangan membuatnya bingung seperti itu."

Aku menggeleng lemah. Mengambil sweater yang kuletakkan di pergelangan kursi. Memandang gadis itu sesaat, sebelum akhirnya masuk ke dalam, menyalakan perapian. Jung So Min berjalan mengikutiku.

"Aku tak bisa mengubah apa yang sudah kuputuskan, Jung So Min. Jauh-jauh hari aku tahu, ini semua akan menyakiti kami. Tapi...?" gelengku sedih.

"Apa ini kau lakukan karena balas jasa?" tanya Jung So Min, hati-hati.

Aku berpaling cepat. Menatap gadis itu tak suka.

"Kim So Eun?"

"Apa kau pikir aku seperti itu?"

Jung So Min memandangku sedih.

"Kim So Eun... maafkan aku, ya? Aku hanya tak suka, kau terus mengalah."

Maaf? Aku tersenyum tipis. Andai saja kau mengerti, Jung So Min. Andai saja kau berada di posisiku, mungkin kau akan melakukan hal yang sama. Apalagi jika kau melihat, orang yang kau cintai begitu menderita.

Ibu juga pernah melakukan hal itu sebelum aku pergi. Wanita cantik yang lembut, sosok keibuan yang sangat kusayangi, yang telah mengasuhku sejak kecil dan sudah menganggapku anak kandungnya sendiri itu, berdiri di depanku dengan mata basah. Tanpa berbicara apa pun. Hanya menatapku dengan pandangan memohon. Membuatku tak bisa mengatakan apa-apa lagi, selain tersenyum dan berusaha mengerti keinginan Ibu, menyerahkan orang yang kucintai pada satu-satunya saudaraku.

"Kim So Eun?"

"Sudahlah," desisku pilu. Aku tak apa-apa. Tak perlu cemas memikirkanku."

* * *

"Barang-barangnya sudah kalian packing semua, kan?"

Aku dan Jung So Min mengangguk bersamaan.

"Tak ada yang terlupa?"

Aku tersenyum. Merangkul Bibi Lee Hye Young, ibu Jung So Min dan Kim Hyun Joong, dengan penuh kasih.

"Tinggal sedikit lagi, Bibi. Aku hanya takut lupa membawanya."

"Tenang saja. Kim Hyun Joong sedang mengambilnya." Jung So Min tersenyum. "Ah, itu dia."

Kim Hyun Joong masuk dengan wajah berpeluh keringat.

"Maaf Kim So Eun, mobilku tiba-tiba mogok di tengah jalan," kata pemuda itu menjelaskan, sambil menyerahkan album foto di tangannya. "Jam berapa penerbanganmu?"

"Dua jam lagi," jawabku, sambil melirik jam di pergelangan tanganku. "Terima kasih ya, Kim Hyun Joong."

"Jangan begitu," serunya tak suka. "Oh ya, Kim So Eun. Aku titip adikku yang cerewet ini, ya?" Kim Hyun Joong tersenyum melirik Jung So Min, sambil berusaha mengelak dari cubitan adiknya. Bibi Lee Hye Young dari depan, memperhatikan kami sambil tersenyum.

"Sudah, ayo cepat berangkat. Bukan pesawat yang menunggu kalian," goda Bibi Lee Hye Young. "Kim Hyun Joong, pakai mobil Ayah saja, biar cepat."

"Ya, Bu." Kim Hyun Joong tersenyum, berlari ke garasi.

"Bibi Lee Hye Young?" Aku membalikkan tubuhku. Tersenyum menatap wanita setengah baya di depanku. "Terima kasih."

"Bibi selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian. Kalau Park Shin Hye suatu saat sembuh, ajaklah dia ke sini. Bibi tunggu."

Aku mengangguk pelan. Mencium kedua pipi Bibi Lee Hye Young, sebelum akhirnya berlari menghampiri Kim Hyun Joong dan Jung So Min.

"Hati-hati, ya?"

Bersambung…

Dilema Cinta (Chapter 1)



Chapter 1
Nyanyian Gerimis

Serupa angin, ia tidak berwujud dan tidak dapat dilihat.
Tapi ia dapat dirasakan dan selalu bercokol di relung hati manusia!"

Park Shin Hye....

Hari ini gerimis turun lagi. Dan seperti biasanya, aku hanya bisa menikmatinya sendirian. Tanpamu! Padahal betapa inginnya aku bersamamu. Bercanda dalam gerimis, tanpa peduli berpasang-pasang mata menatap kita dengan wajah tersenyum. Tanpa peduli baju basah karenanya. Tanpa peduli, bila esok harinya kita demam dan menyibukkan Ibu dengan kemanjaan kita. Aku rindu semuanya itu, Park Shin Hye. Apakah kau juga?

Kadang kala, perasaan seperti itu menyergapku. Keinginan bertemu denganmu selalu saja menyesakkan dada. Aku selalu berpikir, betapa senangnya jika kau ada bersamaku. Mengisi hari-hari kita berdua. Sepertu dulu!

Park Shin Hye sayang....

Kenangan bersamamu adalah saat terindah dalam hidupku. Saat di mana aku bisa menikmati semua perasaanku. Tanpa harus pura-pura menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya! Tertawa bahagia, sedih, terluka, menangis atau kecewa sekalipun, selalu kita lewati dan rasakan berdua. Percayakah kau Park Shin Hye, jika kukatakan, bersamamu tak pernah sekalipun, aku merasa sepi dan sendiri. Aku bisa melewati semua cobaan karena dirimu. Karena kau selalu ada di sampingku. Tapi kini...?

Andai saja bisa kuberikan hidup dan kekuatanku, agar kau sembuh dan tersenyum lagi. Agar bisa kulihat, kau tidak hanya terbaring di ranjang dan menahan sakit setiap hari. Agar bisa kita wujudkan impian kita, mengelilingi dunia. Kau ingat?

Park Shin Hye sayang....

Kim Hyun Joong pernah bilang… puncak gunung yang tertutup oleh salju tebal, akan terlihat sangat indah, jika kita melihatnya dari atas bukit. Tapi bagiku, semua itu sama saja, Park Shin Hye. Seindah apa pun tempat yang kudatangi, jika kau tak ada... bagiku, tak ada gunanya.

Aku masih ingat, dulu kau pernah bilang… Kim So Eun, aku ingin sekali, suatu saat bisa pergi ke Dreamlight. Melihat dari dekat Gerbang Harapan dan Istana Wizard. Ah, aku baru ingat, itu kata-katamu sebelum kau sakit, kan? Semuanya masih sangat jelas bermain-main di kepalaku. Membuatku selalu saja menangis jika mengingatnya.

Park Shin Hye....

Gerimis belum juga berhenti. Semakin mengingatkanku tentangmu. Juga tatapan cemas Ibu melihat kita berdua basah kuyup dengan bibir membeku kedinginan. Tatapan kesal Ibu melihat kita hanya tertawa menanggapi kecemasannya. Atau juga tatapan Ayah, yang selalu tersenyum membela kita, setiap kali kita berbuat kenakalan.

Park Shin Hye....

Bagaimana semuanya di sana? Sehat-sehat, kan? Bagaimana denganmu? Apa kata dokter?

Setiap kali menyebut kata dokter, aku selalu takut membayangkan, bagaimana kau berjuang melawan penyakitmu. Juga Ibu. Ibu yang sekarang ini pasti sedang cemas menunggu hasil operasi kemoterapimu. Dan aku?

Maafkan aku, Park Shin Hye! Aku seharusnya berada di sisi Ibu. Memberikan dia kekuatan, berjuang bersamamu. Tetapi ketakutanku itu selalu saja menyerangku. Hingga kemudian, di sinilah aku sekarang. Mewujudkan impianmu. Melihat apa pun, yang saat ini ingin sekali kau lihat.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...