Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Masih Ada Hari Esok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masih Ada Hari Esok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Oktober 2010

Masih Ada Hari Esok (FF)


Title : Masih Ada Hari Esok
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episode : 4 Part
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 July 2010, 03.10 PM
Review :
…
Son Ye Jin beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Kim Ji Suk, Pria yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Son Ye Jin belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Kim Ji Suk padanya. Kecelakaan mobil telah membawa pria itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Son Ye Jin terpuruk dalam kesendiriannya kini.

Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Son Ye Jin sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhirnya bersama Kim Ji Suk. Pria itu mengajaknya dinner seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
…
Cast :
Son Ye Jin
Lee Min Ho
Kim Ji Suk
Daniel Henney

Son Ye Jin
(Ji Suk's Girlfriend)


Lee Min Ho
(Ye Jin's Friend)


Kim Ji Suk
(Ye Jin's Boyfriend)


Daniel Henney
(Ye Jin's therapist)


Masih Ada Hari Esok
Created By Sweety Qliquers

Part 1 “Kenangan Bersamanya”
Part 2 “Dia…Yang Tak Akan Terganti”
Part 3 “Malaikat Penghuni Hati”
Part 4 “Aku Tahu Kau Pun Bahagia” - TAMAT

Masih Ada Hari Esok (Part 4-Tamat)


Part 4
Aku Tahu Kau Pun Bahagia


Angin malam menerpa ketika Son Ye Jin membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Son Ye Jin memandang boneka beruang kecil pemberian Lee Min Ho di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.

Son Ye Jin tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Kim Ji Suk di sisinya. Entah mengapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.

"Kim Ji Suk," gumamnya lirih, "Aku tak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Lee Min Ho untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang."

Angin kembali berdesir. Son Ye Jin membiarkan jendelanya tetap terbuka.

Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Kim Ji Suk....


TAMAT

Masih Ada Hari Esok (Part 3)


Part 3
Malaikat Penghuni Hati


Son Ye Jin menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Kim Ji Suk di hari jadi mereka pacaran.

"Aku akan selalu memberimu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampai kamarmu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama," kata Kim Ji Suk suatu saat.

Son Ye Jin mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, jika Kim Ji Suk masih hidup tentunya. Betapa Son Ye Jin merindukan senyuman, tawa, perhatian, bahkan omelan pria itu saat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Son Ye Jin terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Kim Ji Suk. Andai saat itu dirinya tidak mengganggu konsentrasi Kim Ji Suk menyetir dengan mengajaknya mengobrol. Andai dinneritu tak pernah ada. Ah, andai....

Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.

"Son Ye Jin, ada temanmu yang datang. Kalau tidak salah namanya Lee Min Ho."

"Eh... iya, Ma." Son Ye Jin buru-buru menyusut airmatanya.

Untuk apa lagi Son Ye Jin kemari? Bukannya aku sudah bilang tidak usah mampir?

Di ruang tamu, Son Ye Jin melihat pria itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.

"Hai!" sapa Lee Min Ho spontan. Son Ye Jin hanya bisa diam mematung di ujung meja. Lee Min Ho kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.

"Malam minggu tidak keluar?" tanya Pria itu lagi.

Son Ye Jin menggeleng. "Mana ada yang mau mengajak gadis kuper dan berantakan sepertiku kencan di malam Minggu."

"Kau serius? Aku mau!"

Son Ye Jin tersenyum simpul. Pria di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Kim Ji Suk. Son Ye Jin tidak buta. Dia sadar akan perhatian Lee Min Ho selama ini.

"Tapi kau belum mengabulkan permintaanku. Kau belum mempertemukanku dengan Kim Ji Suk," Son Ye Jin mengingatkan.

"Son Ye Jin... kau tahu sendiri hal itu tidak mungkin," sahut Lee Min Ho.

"Terserah."

"Sampai kapan kau mau terus mengurung diri, Son Ye Jin? Aku yakin Kim Ji Suk juga tidak suka melihatmu seperti ini," suara Lee Min Ho terdengar lembut tapi tegas.

"Kalau tidak suka, kau boleh tidak peduli," jawab Son Ye Jin dingin.

"Aku peduli, karena aku menyayangimu!" jawab Lee Min Ho gemas.

"Maafkan aku, Lee Min Ho. Tapi Kim Ji Suk tetap hidup di hatiku," jawab Son Ye Jin setengah terbata. Kim Ji Suk, kau di mana? Berilah aku suatu pertanda jika kau juga tak pernah melupakan ku, bisiknya.

"Jangan berburuk sangka dulu. Aku tak pernah memintamu melupakan Kim Ji Suk, Son Ye Jin. Aku hanya ingin kau membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kau sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersamamu!"

Son Ye Jin terpana mendengar ucapan Lee Min Ho. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.

"Aku menyukaimu sejak dulu, Son Ye Jin. Sejak kita pertama kali berkenalan. Aku ingin kau kembali ceria seperti dulu lagi," pinta Lee Min Ho sambil tersenyum manis.

“Terima kasih, Lee Min Ho. Tapi aku...."

Lee Min Ho mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Son Ye Jin menatap takjub saat tangan Lee Min Ho terulur padanya.

"Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kau suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu tidak harus selalu koleksi barang dari Kim Ji Suk." Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah pria itu.

Son Ye Jin menerimanya dengan hati berdebar.

Bersambung…

Masih Ada Hari Esok (Part 2)


Part 2
Dia… Yang Tak Akan Terganti

Satu tahun lebih berlalu....

Tak mudah memang bagi Son Ye Jin menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Lee Min Ho.

Teng…Teng…! Begitu Jam dinding berbunyi, sebuah pertanda bahwa kelas telah usai. Son Ye Jin bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.

"Son Ye Jin, tunggu! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Son Ye Jin memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Lee Min Ho berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.

"Aku tidak punya banyak waktu," Son Ye Jin lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.

“Aku mohon, aku hanya ingin bertanya. Bolehkah aku ke rumahmu malam minggu ini?" imbuh Lee Min Ho sambil tersenyum kikuk.

"Kenapa? Beberapa jam saja tidak melihatku, membuatmu merindukanku?" tatapan mata Son Ye Jin melunak.

"Jadi boleh aku main ke rumahmu?"

"Siapa yang bilang boleh?" Son Ye Jin mendelik. "Aku sibuk!"

"Sibuk? Memangnya kau punya bisnis apa?"

Son Ye Jin tertawa kecil. Lee Min Ho yang baik selalu mengingatkannya pada Kim Ji Suk. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Lee Min Ho. Hanya saja....

Son Ye Jin menarik napas dalam-dalam. "Pokoknya tidak boleh, kecuali...."

"Kecuali apa?"

"Kecuali kau bisa mempertemukanku dengan Kim Ji Suk," tantang gadis itu.

Lee Min Ho terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Bagaimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini? Son Ye Jin hanya mengada-ada.

Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Son Ye Jin akhirnya menjadi milik Kim Ji Suk. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata-mata hanya karena Lee Min Ho yakin Kim Ji Suk dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.

Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Kim Ji Suk meninggal akibat kecelakaan mobil.

Bersambung…

Masih Ada Hari Esok (Part 1)


Part 1
Kenangan Bersamanya


Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.

Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Seoul kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.

Hari ini adalah hari keempat belas Son Ye Jin berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Son Ye Jin juga sudah dimasukkan ke mobil.

Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.

"Pagi, Dok!" sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.

Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.

"Sudah mau pulang?"

"Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit."

"Baiklah, Son Ye Jin. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kau tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap."

Son Ye Jin mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya, Dokter."

Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.

Son Ye Jin beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Kim Ji Suk, Pria yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Son Ye Jin belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Kim Ji Suk padanya. Kecelakaan mobil telah membawa pria itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Son Ye Jin terpuruk dalam kesendiriannya kini.

Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Son Ye Jin sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhirnya bersama Kim Ji Suk. Pria itu mengajaknya dinner seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.

"Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?"

"Aku tidak tahu, Kim Ji Suk." Son Ye Jin menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.

"Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari." Kim Ji Suk menggenggam jemari Son Ye Jin lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.

Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.

Son Ye Jin masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Kim Ji Suk membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang mengerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.

Mobil Kim Ji Suk yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, Pria itu lebih dulu menghembuskan napas terakhirnya. Son Ye Jin beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...