Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Saat Kau Pergi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saat Kau Pergi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

Saat Kau Pergi (FF)


Title : Saat Kau Pergi
Genre : Romance, Friendship
Author : Sweety Qliquers
Episode : 7 Chapter
Story :
Kisah bermula dari seorang gadis bernama Kim So Eun yang memendam rasa cintanya pada Kim Bum, seniornya di kampus. Cinta Kim So Eun ternyata bertepuk sebelah tangan ketika mantan Kim Bum yang bernama Go Ah Ra ingin kembali rujuk. Akankah Kim Bum kembali pada Go Ah Ra – mantan kekasihnya? Atau menerima cinta tulus dari Kim So Eun?
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 12 July 2011, 01.54 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Go Ah Ra

Extended Cast :
Baek Suzy (Miss A)
Ok Taecyeon (2PM)


Saat Kau Pergi

Chapter 1 - Gadis Itu lagi
Chapter 2 - Cintakah Dia?
Chapter 3 - Segalanya Tentang Kim Bum
Chapter 4 - Kim Bum & Go Ah Ra
Chapter 5 - Air Mataku Menitik
Chapter 6 - Hatiku Patah
Chapter 7 - Pastikan Dia Jangan Menunggu (Tamat)

Saat Kau Pergi (Chapter 7-Tamat)


Chapter 7
Pastikan Dia Jangan Menunggu

"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini. Sampai mengantarkannya segala. Aku sudah minta tolong Baek Suzy."

"Baek Suzy datang kemarin. Tapi aku katakan, ingin aku antar sendiri."

"Ada yang penting?" Kim So Eun duduk di hadapan Kim Bum. Menatapnya.

"Kalau tidak penting, tidak boleh menemuimu?"

"Bukan begitu. Biasanya kau kan...."

"Tidak pernah mencarimu, apa lagi sampai ke rumah?" potong Kim Bum tersenyum. "Selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, ya?"

"Tak apa. Melukis toh bukan hal yang jelek."

"Bukan itu. Maksudku...."

Kim So Eun menunduk. "Aku mengerti."

"Seharusnya aku bisa lebih memahamimu."

"Tidak perlu. Pahami saja keinginanmu sendiri." Kim So Eun menelan ludah pahit. "Sudah terima amplop coklat yang kutitipkan?"

"Ya."

"Ok Taecyeon bilang, itu panggilan kerja untukmu."

Kim Bum mengangguk. "Pertambangan minyak di Namchoseon."

"Kau terima?"

"Menurutmu bagaimana?"

"Aku tidak punya pendapat untuk itu." Kim So Eun menggeleng. "Kenapa tidak bertanya pada Go Ah Ra saja?"

"Go Ah Ra?" Kim Bum memajukan tubuhnya. "Karena Kau melihatku memeluknya?"

"Sebenarnya bukan cuma itu."

"Apa lagi?"

"Aku tidak ingin membicarakannya."

"Kau belum tahu secara pasti bagaimana aku dengan Go Ah Ra. Kenapa langsung memutuskan?"

"Itu masalah pribadimu. Kenapa aku harus tahu?" elak Kim So Eun. "Kenapa harus dibicarakan padaku?"

"Karena Kau tersangkut di dalamnya."

"Aku?" Kim So Eun tertawa. Pahit. "Aku bukan apa-apa."

"Kalau Kau bukan apa-apa, dia tak akan cemburu. Go Ah Ra bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu saja sebelum bertanding."

"Tidak perlu ada pertandingan. Toh memang sudah ada pemenangnya."

"Kau!" Kim Bum mengultimatum. "Kaulah pemenangnya!"

"Pembicaraan apa ini? Kau jangan asal bicara, Sunbae!" Kim So Eun bangkit. Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Kim Bum mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?

"Duduk, Kim So Eun. Aku belum selesai."

"Apa lagi?!"

"Aku diwisuda besok."

"Lalu?"

"Mau mendampingiku?"

"Kenapa tidak minta pada Go Ah Ra?"

"Go Ah Ra lagi, Go Ah Ra lagi!" Kim Bum menggeleng kesal. "Aku minta padamu! Bukan Go Ah Ra!"

"Apa yang kau inginkan sebenarnya, Sunbae?"

"Waktu Go Ah Ra meminta kembali, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Di hatiku hanya ada Kau...."

Kim So Eun menggeleng.

"Aku bukan apa-apa bagimu. Aku bukan apa-apa...."

"Karena aku tidak pernah membalas semua yang Kau berikan?"

"Memang tidak harus, kan?"

"Kim So Eun, waktu Kau ke paviliun saat itu...."

"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu tentang alasan memeluk Go Ah Ra seperti itu. Itu urusanmu."

"Urusanmu juga." Kim Bum menatap tajam. "Aku perlu menanyakan ini, Kim So Eun. Sebelum kuputuskan ke Namchoseon atau tidak."

"Kau akan ke Namchoseon?" Kim So Eun menatap Kim Bum tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.

"Tergantung jawabanmu."

"Aku?"

"Ya, bukan Go Ah Ra! Aku mohon, jangan bicarakan dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia." Kim Bum menarik napas sejenak. "Kau ingin aku pergi ke Namchoseon dan terikat kontrak yang memisahkan kita begitu lama?"

Kim So Eun tak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.

"Kau ingin pergi?"

"Bagiku, kerja di manapun sama saja kalau tidak ada Kau. Tapi kalau ada Kau, kupilih kerja di sini. Sudah ada perusahaan lagi yang menawariku. Kalau Kau ingin kita tidak berpisah, minta aku jangan pergi!"

Kim So Eun mendongak. Menatap hitamnya mata Kim Bum yang bagus.

"Aku tidak ingin kau pergi," ucapnya pelan. "Aku...."

Kim Bum menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dan mencium bibirnya lama.

"Aku tak akan pergi," jawabnya pasti. "Aku tak akan pergi, Kim So Eun! Aku mencintaimu!"

“Aku juga.”


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Saat Kau Pergi (Chapter 6)


Chapter 6
Hatiku Patah


"Mau menolongku, Baek Suzy?"

"Apa?"

"Kalau pulang lewat rumah Kim Bum, kan?"

"Kadang-kadang. Memangnya kenapa?"

"Kalau lewat, tolong mampir sebentar. Ada beberapa barangku yang tertinggal di tempatnya."

Baek Suzy menoleh. Menatap Kim So Eun dengan dahi berkerut.

"Ada apa denganmu?"

"Tidak ada." Kim So Eun tersenyum.

"Kenapa harus aku yang datang? Bukan Kau saja?"

"Aku sibuk. harus belajar untuk ujian semester."

"Biasanya minta Kim Bum yang mengajarkan."

"Merepotkan dia saja."

"Hei, ada apa denganmu?" ulang Baek Suzy heran.

Kim So Eun menarik napas panjang, menunduk sedikit.

"Kau benar. Aku memang bukan apa-apa untuk Kim Bum."

"Oo, Kim So Eun." Baek Suzy memeluk Kim So Eun. "Dia mengatakan itu padamu?"

"Aku melihatnya sendiri. Go Ah Ra kembali."

"Dia bilang akan kembali pada Go Ah Ra?"

"Kim Bum tidak menjelaskan apa-apa. Aku melihatnya memeluk Go Ah Ra. Apa itu tidak menjelaskan segalanya?"

"Kim So Eun!"

Kim So Eun menelan ludahnya dengan susah payah.

"Seharusnya aku mengerti sejak dulu," ungkapnya.

"Kalau saja Kau mau mendengarkanaku."

"Ya. Tapi tidak ada gunanya memang. Sudah selesai. Semua." Kim So Eun tersenyum pahit. "Jangan lupa, ya? Tolong ambilkan barang-barangku."

"Mau titip sesuatu untuk Kim Bum?"

Kim So Eun menggeleng.

"Tak akan ada gunanya."

* * *

"Nah, itu dia pulang!"

Kim So Eun tertegun di ambang pintu. Ibu berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Kim So Eun bingung adalah kehadiran Kim Bum di ruang tamu sekarang.

"Ke mana saja kau, Kim So Eun? Kasihan Kim Bum menunggumu lama sekali."

"Jalan-jalan."

"Bibi tinggal ke dalam ya, Kim Bum."

Kim Bum mengangguk. "Terima kasih, Bibi."

Pandangannya dialihkan ke Kim So Eun setelah Ibu gadis itu menghilang. Sementara Kim So Eun masih saja berdiri di tempatnya.

"Kenapa melihatku seperti melihat UFO?"

Kim So Eun tertawa kecil. "Tumben kau kemari? Ada apa?"

"Mengantarkan barang-barangmu."

Bersambung…

Saat Kau Pergi (Chapter 5)


Chapter 5
Air Mataku Menitik


"Ada telepon untukku, Bu?"

"Tidak." Ibu mendongak, menatap Kim So Eun sambil berkerut. "Kau menunggu telepon dari siapa, Kim So Eun? Penting ya sampai menanyakannya setiap hari?"

Kim So Eun tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Baek Suzy benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Kim Bum.

Sudah lebih dari sebulan Kim So Eun tidak lagi menemui Kim Bum. Terakhir adalah saat Kim So Eun mengantarkan amplop titipan Ok Taecyeon. Itu pun Kim Bum tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Ibu Kim Bum. Setelah itu Kim So Eun menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.

Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!

Kim Bum tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.

Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Kim So Eun sudah merasa kehilangan.

"Oya, Kim So Eun. Tadi Baek Suzy datang. Katanya, mau pinjam diktat Teknik Pertambangan untuk kuis besok. Ibu suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya tidak ada."

Tertinggal di tempat Kim Bum saat Kim So Eun memaksa pemuda itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjam Baek Suzy besok.

"Aku pergi dulu, Bu."

"Baru pulang kenapa mau pergi lagi?"

"Mengambil diktat di rumah teman. Kasihan Baek Suzy, besok dia perlu sekali."

Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Kim Bum.

* * *

"Kim Bum ada, Bibi?" Rumah besar itu sepi saat Kim So Eun tiba di sana. Ibu Kim Bum yang menyambutnya.

"Ada di paviliun. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam."
Kim So Eun melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.

"Kim Bum Sunbae!"

Kim So Eun tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar balik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.

Kim Bum menoleh. Mendapatkan Kim So Eun tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Go Ah Ra.

"Kim So Eun."

"Maaf, aku tidak tahu kalau kau ada tamu." Kim So Eun mencoba tersenyum.

"Tak apa." Kim Bum menghampiri. Tenang seperti biasa. "Oya, kenalkan. Ini Go Ah Ra. Go Ah Ra, ini Kim So Eun."

Kim So Eun melebarkan senyumnya. "Maaf mengganggu. Aku cuma mau mengambil barang-barangku yang tertinggal."

"Berserakan di mana-mana."

"Tidak penting. Cuma diktat itu yang mendesak. Bisa tolong ambilkan, Sunbae?"

Kim Bum meraih diktat Teknik Pertambangan Kim So Eun di atas lemari.

"Terima kasih. Aku pulang."

Kim So Eun berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Kim Bum.

"Kim So Eun!" kejar Kim Bum. "Katanya mau mengambil barang-barang yang lain?"

"Tidak begitu penting. Bisa tolong dikumpulkan dulu, Sunbae? Nanti kuminta Baek Suzy mampir mengambilkannya. Dia sering lewat sini kalau pulang."

"Kenapa tidak diambil sendiri?"

"Aku sibuk. Sudah hampir ujian semester. Harus belajar keras."

"Tidak ingin kuajari seperti biasa?"

"Aku takut mengganggumu. Lagipula, aku harus mandiri kan?" Kim So Eun tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Kim Bum tadi. "Aku pulang, Sunbae."

"Aku antar, Kim So Eun."

Hampir setahun berada di dekat Kim Bum, menghampirinya selalu, Kim Bum tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Pun setelah seharian Kim So Eun menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Kim Bum bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Kim So Eun memarkirkan mobilnya.

Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?

"Aku bawa mobil."

"Aku antar sampai depan."

"Tidak usah. Kau kan ada tamu. Masuklah, kau sudah ditunggu."

"Hati-hati, Kim So Eun."

Kim So Eun mengangguk. Kim Bum bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.

Di dalam mobil, airmata Kim So Eun mengalir deras.

Bersambung…

Saat Kau Pergi (Chapter 4)


Chapter 4
Kim Bum Dan Go Ah Ra

"Kim Bum!"

"Kapan kembali?"

"Kemarin. Aku meneleponmu tapi Kau keluar. Jadi hari ini aku kemari."

Go Ah Ra masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Kim Bum merasa sangat asing.

"Masih suka melukis, Kim Bum?"

"Seperti yang Kau lihat."

"Kudengar Kau sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?"

"Bulan depan."

Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Go Ah Ra yang kembali sekarang sudah terasa lain. Go Ah Ra yang kembali sekarang bukan seperti Go Ah Ra yang dilepasnya pergi dulu.

"Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?" Go Ah Ra mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Kim Bum.

"Kadang-kadang." Kalau Kim So Eun datang dan Kim Bum tidak sedang melukis. Kim Bum akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan gadis itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.

"Bagaimana kalau kita keluar, Kim Bum?"

"Maaf, aku capek."

"Kutemani di sini?"

"Tempat ini kotor."

"Tak apa. Aku ingin melihatmu melukis lagi seperti dulu."

Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?

"Kenapa cita-citamu berubah?" tanya Kim Bum dua tahun yang lalu saat Go Ah Ra memutuskan berangkat ke Amsterdam.

"Kesempatan ini jarang sekali datang, Kim Bum. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu disodorkan padaku."

"Juga kalau itu berarti kita berpisah?"

"Cuma sementara!"

"Tapi Kau bahkan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Bagiamana kalau Kau tidak kembali?"

"Aku pasti kembali."

"Sampai kapan?"

"Tidak lama!"

"Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Atau Kau ingin aku menunggu seumur hidup?"

"Kim Bum!"

"Kuliahmu sudah setengah jalan, Go Ah Ra."

"Bisa kulanjutkan kalau aku kembali."

"Asal Kau kembali belum jadi nenek-nenek."

"Kau tidak suka aku pergi?"

"Ya! Aku tidak suka Kau membuang semua yang sudah Kau miliki hanya untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang tidak pasti!"

"Aku tidak membuangnya, Kim Bum. Aku cuma menunda. Aku tidak akan tahu kalau tidak pernah mencoba."

"Bagaimana kalau Kau gagal?"

"Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini."

"Asal Kau tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat Kau kembali."

Kim Bum tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Go Ah Ra sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang akan diraihnya dalam dua tahun mendatang. Kim Bum yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.

Dan sekarang Go Ah Ra bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang pamannya!

Musik?! Astaga! Kim Bum tahu betul, Go Ah Ra tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.

"Aku tidak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, Kau sudah kembali sebelum semuanya terlambat."

Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Kim Bum.

"Siapa Kim So Eun, Kim Bum?" Go Ah Ra meraih diktat Kim So Eun yang tergeletak di atas lemari.

"Adik tingkat di kampus." Kim Bum mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.

"Dia sering kemari? Kenapa bukunya ada di sini?"

"Bukan urusanmu."

"Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat." Go Ah Ra menatap Kim Bum sambil tersenyum. "Belum terlambat kan, Kim Bum?"

Bersambung…

Saat Kau Pergi (Chapter 3)


Chapter 3
Segalanya Tentang Kim Bum


Kim Bum melangkah ke dalam. Melewati ruang makan dan terhenti di dapur.

"Ibu!"

"Kim Bum. Dari mana?"

"Jalan-jalan sebentar."

"Tadi Kim So Eun kemari. Lebih dari sejam menunggumu."

"Ada pesan?"

"Dia tinggalkan memo dan amplop. Ibu taruh di atas lemari es."

Kim Bum menjangkau atas lemari es dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat.

Titipan Ok Taecyeon.
Katanya bulan depan kau diwisuda. Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat.
Kim So Eun.


Kemajuan!

Kim Bum tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.

"Sudah makan, Kim Bum?"

"Tadi sudah makan di jalan. Aku ke paviliun dulu, Bu."

"Oo, hampir lupa." Ibu meninggalkan blendernya. Menghampiri Kim Bum, menatap putranya lembut. "Ada tamu untukmu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau menunggu di paviliun saja. Jadi Ibu biarkan dia di sana."

"Kim So Eun?"

"Go Ah Ra."

Kim Bum tertegun.

"Temuilah dia, Kim Bum. Ada yang harus diselesaikan antara kalian."

"Semua sudah selesai," gumam Kim Bum tak bergeming. "Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali?"

"Dia berhak memberi penjelasan." Ibu mendorong Kim Bum lembut. "Temuilah dia. Kalau Kau masih mencintainya, kenapa harus menolak?"

"Aku sudah tidak mencintainya lagi."

"Karena Kim So Eun?" Ibu tersenyum. "Atau karena menuruti kemarahanmu saja?"

"Kim So Eun cuma anak kecil."

"Tapi Kau bahkan tidak bisa menolak kehadirannya."

"Ibu!" Pusing di kepala Kim Bum bertambah.

Kim Bum tidak ingin menemui Go Ah Ra sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Kim Bum bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Kim Bum menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa di antara kami, batinnya.

Bersambung…

Saat Kau Pergi (Chapter 2)


Chapter 2
Cintakah Dia?


"Nanti ke rumah Kim Bum?"

"Mungkin. Kenapa?"

Ok Taecyeon mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini untuknya. Dan ingatkan dia, Kim So Eun. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."

"Baiklah."

"Terima kasih." Ok Taecyeon melambai sambil menjauh.

"Kenapa harus Kau yang merawat bayi besar itu?" tanya Baek Suzy setelah Ok Taecyeon berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."

"Bayi besar yang mana?"

"Tentu saja Kim Bum! Siapa lagi?"

"Oo." Kim So Eun tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Kim Bum Sunbae banyak membantuku."

"Kimia?" Baek Suzy mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun Kau bisa."

"Biar saja. Dia toh tidak keberatan."

"Apa yang Kau cari darinya, Kim So Eun?"

"Tidak ada."

"Kau tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"

"Tidak!"

"Kau terlalu cepat menjawab."

Jatuh cinta? Kim So Eun bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Kim Bum.

"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Kim So Eun?"

"Kau ini bicara apa, Baek Suzy?!" Kim So Eun mendelik. Mulai sebal dengan Baek Suzy yang nyinyir.

"Aku cuma kasihan melihatmu. Selama ini selalu Kau yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"

Kim So Eun terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.

"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Kim So Eun. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.

"Kau tidak jujur."

"Jangan bicara lagi, Baek Suzy!"

"Kalau Kau menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kau bahkan baru duduk di semester pertama sementara Kim Bum sudah lulus."

"Kami cuma berbeda lima tahun!"

"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Kim So Eun. Buat apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"

"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."

"Suatu saat pun Kau pasti sampai pada kesimpulan itu."

Benarkah?

"Kim So Eun, aku bisa bicara begini karena aku kenal Kim Bum dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Go Ah Ra. Dia sangat mencintai gadis itu."

"Aku tahu."

"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Baek Suzy hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau Kau terperangkap. Kau teman baikku, Kim So Eun. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."

Lalu dia harus apa?!

Kim So Eun bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Kim Bum, seperti yang dikatakan Baek Suzy? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Baek Suzy.

Apa dia harus mencoba menjauh dari Kim Bum, sekadar mencari tahu apa Kim Bum peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Kim Bum memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi pemuda itu seorang Kim So Eun memang bukan apa-apa?

Kim So Eun tidak berani membayangkan.

Dia bahkan tidak berani memikirkannya.

Bersambung…

Saat Kau Pergi (Chapter 1)



Chapter 1
Gadis Itu Lagi


"Kim Bum Sunbae!"

Gadis itu lagi!

"Kenapa kau cuek begitu?" Kim So Eun menarik kursi ke dekat Kim Bum. "Aku kan tidak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."

"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"

"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan bertemu denganmu kan?" Kim So Eun tersenyum manis.

Gadis ini! gerutu Kim Bum dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Kim Bum menoleh. Menatap ke arah Kim So Eun sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Kim Bum.

"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"

"Kau keberatan aku datang kemari, ya?" Kim So Eun menatap profil samping Kim Bum. Pemuda itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.

"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Kim Bum.

Kim So Eun terkekeh. "Itu karena kau, bertanyanya seperti mau mengusir."

Aku memang mau mengusirmu! geram Kim Bum dalam hati. Setiap Kim So Eun muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. DVD. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan!

Dan dengan caranya sendiri, Kim So Eun selalu berhasil membuat Kim Bum menuruti keinginannya.

"Kau sudah makan, Sunbae?"

"Sudah."

"Aku belum. Temani aku makan keluar, ya."

"Aku sedang melukis," tolak Kim Bum.

"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayolah, Kim Bum Sunbae! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"

"Kau kan bisa makan sendiri."

"Ah, mana enak makan tanpa teman."

"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Kim Bum tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.

"Aku mau mentraktirmu. Ujianku kan dapat B karena kau ajari."

"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."

"Aigoo… kau ini kenapa menolak niat baik orang?"

"Lukisanku belum selesai."

"Nanti bisa dilanjutkan lagi. Nanti aku temani."

"Tidak usah," tolak Kim Bum cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...