Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Tak Bisakah Dia Romantis???. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tak Bisakah Dia Romantis???. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2011

Tak Bisakah Dia Romantis??? (FF)



Title : Tak Bisakah Dia Romantis???
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 4 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 02 Maret 2010, 02.18 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Jung So Min


Tak Bisakah Dia Romantis ???

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4 - Tamat

Tak Bisakah Dia Romantis??? (Chapter 4-Tamat)



Kereta api di stasiun Gyeryongsan sudah berangkat dua menit setelah aku tiba di sana. Aku berlari kesana-kemari memanggil-manggil nama Kim Bum dari jendela satu ke jendela lain. Namun usahaku itu tanpa hasil. Kereta api dengan perlahan telah membawa Kim Bum-ku dan juga cintaku pergi jauh. Aku berdiri terpaku melihat kereta api yang kian menjauh. Sesalku menumpuk. Aku datang terlambat hingga tidak sempat mengatakan maafku pada Kim Bum.

Kini aku mulai sadar bahwa tidak ada yang lebih bisa membahagiakanku kecuali dengan kehadiran Kim Bum. Bagaimanapun dia, romantis ataupun tidak dialah orang yang benar-benar aku cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walau tanpa kemesraan saat itu membelaiku dengan rasa yang teramat.

Asaku telah pergi dan itu hanya bisa kulakukan dengan menangis terpekur di tempatku berdiri. Hidupku tiada arti tanpa Kim Bum, dengan mencintainya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi tuntutan untuk dia berubah menjadi Kim Bum yang romantis. Rasa sesal telah membuatku menyimpan permintaan maaf untuk Kim Bum.

Sampai dadaku tersentak merasakan tangan seseorang meraih bahuku. Aku menatap tajam wajah itu. Mata teduhnya yang selalu membuatku merasa damai jika didekatnya. Kelembutan jiwanya senantiasa menyuguhkan warna indah dalam memoriku dan sungguh tidak ada yang lebih romantis selain dia… ‘Kim Bum-ku’….

"Kim Bum…Maafkan aku…” Kim So Eun menghambur, memeluk Kim Bum erat. Tangisnya tumpah.

“Berjanjilah padaku, Jangan pernah ragukan cinta dan sayang tulusku padamu lagi, Kim So Eun.” Kata Kim Bum sambil mengecup bibir Kim So Eun sekilas dan mendekap tubuh Kim So Eun seakan tak mau melepaskannya lagi.

Kim So Eun mengangguk sambil menyeka airmatanya. Dilepaskannya pelukannya. Kemudian diciumnya bibir Kim Bum lembut.

“Aku janji, aku Tak akan pernah meragukannya.”


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Tak Bisakah Dia Romantis??? (Chapter 3)



Apa benar kata Jung So Min? Entahlah aku sendiri tak mengerti. Kadang aku sendiri sempat berfikir apa benar Kim Bum mencintaiku, karena selama ini Kim Bum tak sekalipun membelaiku ketika kami berkencan. Hatiku benar-benar sakit mengingat itu semua.

Kim Bum bukanlah tipe Pria romantis yang selalu kuimpikan, Kim Bum yang selau bersikap biasa bila bersamaku dan anehnya semua itu kujalani begitu saja selama tiga tahun lebih. Bukan waktu yang singkat memang, karena itu aku selalu berusaha menepis jauh-jauh kegundahanku tentang Pria romantis.

Tapi tidak dengan malam itu. Ketidaksabaranku menunggu Kim Bum yang terlambat datang membuatku semakin yakin kalau Kim Bum tidak menyayangiku ataupun mencintaiku. Hubungan itu hanya sebagai hubungan berstatus pacaran tapi tanpa cinta. Meskipun tiga tahun yang lalu Kim Bum resmi mengikrarkan cintanya padaku.

“Maaf, membuatmu lama menunggu. Tadi mobilku mogok.” kata Kim Bum menghentikan niatku yang ingin meniggalkan taman saat itu juga.

“Tidak ada alasan lain?” tanyaku sinis. Kim Bum menatapku janggal.

“Kau marah, Kim So Eun?” tanya Kim Bum datar.

Aku hanya acuh tak acuh. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Kim Bum jika melihatku marah. Aku ingin Kim Bum mengerti apa yang aku iginkan, menjadi Pria romantis itulah mimpiku. Tidak seperti saat itu. Aku dan Kim Bum duduk dalam jarak setengah meter. Tidak dekat dan bermesraan seperti pasangan lain malam itu.

“Kim So Eun maafkan aku, tapi mobilku tadi memang mogok.”

“Kau kan bisa telepon atau sms aku, Kim Bum. Bukan dengan cara membiarkanku menuggumu seperti ini.”

“Aku lupa membawa Ponsel.” ucapnya pelan. Aku tetap tak mengindahkannya.

“Kau tahu tidak, malam ini aku semakin yakin kalau kau memang tidak pernah serius mencintaiku.” paparku tersendat.


“Kim So Eun, kenapa kau bicara seperti itu. Apa kau pikir selama tiga tahun lebih kita pacaran aku hanya iseng saja. Aku pikir kau bisa memahamiku, tapi nyatanya…”

“Ya, aku memang tidak bisa memahamimu. Kau yang kaku dan beku bila di sampingku yang tidak pernah membelaiku dan mengucapkan kalimat-kalimat indah di telingaku. Kau yang hanya sekali mencium dan berkata ‘aku mencintaimu’. Kau yang tidak memberiku perhatian-perhatian romantis selama ini. Kau..kau membuatku muak dengan semua ini.” kataku dengan nada tersendat.

Mataku telah tergenang air hangat dan aku sunguh tidak sanggup lagi membendungnya.

“Jadi kau pikir cinta hanya bisa diungkapkan dengan keromantisan, kau pikir hubungan kita terjalin tanpa rasa apa-apa dariku?” tanya Kim Bum.

Aku masih terdiam bisu dalam tangisku.

“Kim So Eun... selama ini aku mengira kau telah mengerti banyak tentang aku, tapi ternyata aku salah. Kau bukan Kim So Eun-ku yang dulu…”

“Kau memang salah menilaiku dan akupun juga salah menilaimu. Menilai tentang hatimu dan tentang cintamu selama ini.”

“Perlu kau tahu, Kim So Eun… aku sangat mencintaimu dan sayangnya rasa cintaku ini harus kau tuntut dengan keromantisan.”

“Aku tidak bermaksud menuntut, Kim Bum. Aku hanya ingin hubungan kita indah seperti orang lain.”

“Wujud dari keindahan itu bukan terletak pada keromantisan, tapi terletak pada cinta itu sendiri. Aku tidak pernah membelai dan menciummu karena aku menghormati cinta kita. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi ternoda dengan hal-hal yang dimulai dari belaian ataupun ciuman. Aku menyayangimu dan dengan itulah aku bisa buktikan seberapa dalam aku mencintaimu.”

Dadaku berdesir seketika. Segera kutatap mata teduh Kim Bum. Disana kudapati keteduhan cinta dan kasihnya.

“Kim So Eun… jika kau anggap cinta hanya bisa dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan hanya itu saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan suci itu tetap suci sampai kita benar-benar terikat pada hubungan yang resmi. Selama ini aku pikir kau bisa mengerti itu semua. Tapi aku salah dan untuk itu aku minta maaf jika aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kau mau.”

“Kim Bum, aku hanya...” ucapku tak kuteruskan.

Ada rasa sesak yang keluar begitu saja di hatiku. Aku telah melukai Kim Bum dan itu bisa kulihat dari kalimat datarnya.

“Kau tidak salah dalam hal ini, Kim So Eun. Dan sepatutnya aku melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari Pria romantis seperti harapanmu. Jangan kau pikir aku tidak pernah mencintaimu, karena itu membuatku terluka. Jujur selama hidupku aku tidak pernah memikirkan gadis lain selain dirimu.”

Bersamaan kalimat itu Kim Bum berlalu meninggalkanku. Entah…kenapa bibirku tak mampu mencegah langkah Kim Bum. Semua kurasa bagai mimpi. Hanya dengan satu kesalahan kubuat semua berakhir dalam sekejap. Air matakupun sudah mengalir deras.

Seharusnya aku bangga memiliki Kim Bum yang tidak pernah ‘macam-macam’. Seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat-pendapat Jung So Min tentang Pria romantis. Seharusnya aku tidak membuat Kim Bum terluka saat itu.

Bersambung…

Tak Bisakah Dia Romantis??? (Chapter 2)



Satu jam telah berlalu sia-sia. Kim Bum tak kunjung datang malam itu sesuai janjinya untuk menemuiku di taman. Aku hanya sabar menunggu meski setiap menit malam itu kurasakan penuh dengan rasa iri ketika melihat pasangan adam dan hawa yang tengah memadu kasih. Romantis sekali. Aku jadi teringat akan kata-kata Jung So Min tadi siang yang membuat perasaanku bimbang.

“Menurutku pacaran tanpa belaian dan ciuman itu ibarat makan tanpa lauk, kurang lengkap.” Ceplos Jung So Min mengomentariku ketika kuceritakan tentang sikap Kim Bum selama kami pacaran. Mendengar komentar Jung So Min aku hanya tertunduk.

“Coba kau pikir selama kau pacaran, apa yang sudah Kim Bum berikan padamu. Hanya kasih sayang? Itu kurang nona, apa kau cukup puas dengan merasakan kasih sayang itu dan apa kau sudah pernah mendapatkan wujud dari kasih sayang itu?”

“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Misalnya kalau dia mengajakmu kencan, apa dia memberimu setangkai mawar?? Atau setidaknya dia mencium keningmu sebagai ungkapan dia sayang dan cinta padamu.”

“Kim Bum memang tidak pernah melakukan itu…” kataku datar.

“Lalu kenapa kau masih betah bersamanya. Pria tidak romantis seperti itu kenapa masih kau pertahankan. Jangankan dibelai dipegang saja tidak. Menurutku Pria seperti itu tidak bisa menghargai arti cinta. Kau benda hidup Kim So Eun, yang kadang juga ingin disentuh. Tapi sayangnya kau bodoh jika harus rela menyerahkan hatimu padanya.” ucap Jung So Min panjang lebar yang selalu mengiang-ngiang di telingaku.

Bersambung…

Tak Bisakah Dia Romantis??? (Chapter 1)



Gerimis malam itu masih saja belum reda. Aku tetap saja menanti berhentinya kereta api di stasiun Gyeryongsan, menunggu kepulangan Kim Bum yang selalu kunantikan suara lembutnya. Jujur aku sangat rindu padanya dan rindu itu kurasa sangat mendalam setelah hampir satu tahun ini kami terpisah pada jarak. Kim Bum kuliah di Incheon sedangkan aku sendiri meneruskan kuliahku di Seoul.

Kereta api sudah berhenti dan penumpang berhuyung-huyung turun. Mataku sibuk mencari Kim Bum diantara kerumunan orang berlalu-lalang. Namun sayang tak kudapati Kim Bum di sana. Janjinya untuk datang menemuiku kurasa hanya janji belaka. Kesetiaanku menunggunya di stasiun selama dua jam berlalu begitu saja. Sangat dingin kurasa udara malam itu, tapi hatikulah yang lebih merasakan dingin. Mimpiku yang saat itu akan kurasakan pelukan hangat Kim Bum serasa melayang jauh bersama sepinya stasiun.

Aku masih saja berdiri termangu. Mataku sudah basah akan air mata, menahan gejola hatiku yang kian membara.

“Hai… sudah lama menungguku?” ucap seseorang lembut.

Aku berbalik arah. Mataku melotot terkejut melihat Kim Bum telah berdiri di depanku seraya menyunggingkan senyum manisnya. Aku hanya tersenyum haru dan semenit kemudian aku segera memeluk Kim Bum, melepaskan kerindukanku padanya selama ini.

“Kau membuatku hampir menangis, Kim Bum.” ucapku di sela isakan tangisku.

“Bukan hampir tapi memang sudah kan?” canda Kim Bum. Aku memukul pelan dada Kim Bum. Merasa haru sekaligus bahagia. Kim Bum hanya tertawa kecil dan mendekapku erat.

“Ayo, Kita pulang...” ajak Kim Bum.

Aku termangu sesaat. Kecupan lembut yang begitu kurindukan tak kudapati saat itu. Sikap Kim Bum yang selalu kaku tetap kudapati meski telah satu tahun kami terpisah pada jarak. Jujur Kim Bum bukanlah tipe pria romantis. Kim Bum adalah Pria tegas dan bijaksana yang tak pernah memberiku belaian lembut kecuali dengan canda dan leluconnya. Namun begitu aku selalu sayang dan cinta padanya. Aku sendiri yakin bahwa Kim Bum juga mencintaiku. Buktinya selama lebih tiga tahun kami pacaran tak sekalipun Kim Bum menyakitiku. Kim Bum selau membuatku tertawa diantara nada-nada humornya. Selama kami pacaran hanya sekali Kim Bum menciumku ketika aku ulang tahun dan itupun juga di kening.

“Hei… kenapa melamun, ayo kita pulang.” Kata Kim Bum mengagetkanku. Aku mengangguk pelan dan membiarkan Kim Bum menggandeng tanganku. Ada yang janggal saat itu kurasakan. Ya.. Kim Bum mau menggandengku.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...