Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Selubung Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selubung Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Selubung Hati (FF)



Title : Selubung Hati
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episode : 3 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 February 2011, 11.26 AM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Park Shin Hye

Extended Cast :
Kim Hyun Joong
Lee Hong Ki (FT Island)
Jung Yong Hwa (CN Blue)
Lee Ki Kwang (Beast)
Jang Geun Suk


Selubung Hati

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3 - Tamat

Selubung Hati (Chapter 3-Tamat)



Tidak tahu, sampai berapa lama lagi kau bisa bertahan seperti ini. Mencari, menunggu, mengejar bayanganmu yang hilang entah ke mana. Sementara sisi hatiku telah hampa begitu lama. Akankah kau salahkan aku bila saat ini sebuah nama hadir mengisi kehampaan itu? Tidakkah kau akan merutukku tak setia dan mengutukku agar mengalami luka itu lagi?

Kalau saja tidak kulihat lagi kelebat bayangmu belakangan ini, aku sudah memasukkan namanya pada hari-hariku. Dan bila bayangmu itu tak juga dapat kuraih, akan kuakhiri penantianku ini....

Kim Bum menutup buku catatannya. Buku yang isinya melulu tentang Park Shin Hye dan sejuta harapan yang menggurat di hatinya. Hampir dua tahun penantian itu terjadi.

Ia beranjak untuk bersiap ke gelanggang olahraga. Park Shin Hye... Kim So Eun... nama itu terus mengiringi desah napasnya. Satu sisi hatinya ingin agar Kim Bum segera memberi kepastian kepada Kim So Eun tentang hubungan yang mereka jalin. Sementara sisi lain hatinya justru ingin mempertahankan kasih Park Shin Hye.

Briefing yang diberikan pelatih menjelang pertandingan final pertandingan antarklub bola basket se-Incheon nyaris tak digubris Kim Bum. Begitu masuk ke sisi lapangan matanya langsung mengitari tribun penonton.

"Mencari pacarmu, Kim Bum?" usik Jung Yong Hwa.

"Jangan asal bicara. Kim So Eun bukan pacarku," kilah Kim Bum.

"Tapi setia sekali, ya. Hanya kali ini sepertinya terlambat lagi."

Kim Bum cuma nyengir. Bangku yang biasa diduduki Kim So Eun sudah diisi orang lain. Tapi bangku di sudut lain itu masih kosong. Tempat favorit Park Shin Hye bila menyaksikan Kim Bum bertanding.

Priit. Peluit wasit memanggil peserta berbunyi. Kim Bum bersama timnya langsung memenuhi lapangan. Rebutan bola segera dimulai seiring tiupan peluit.

Lawan kali ini cukup tangguh. Lima menit pertama nyaris dilalui Kim Bum hanya dengan mengover bola. Baru kemudian akhirnya ia mendapat bola tanpa dihadang. Ada kesempatan untuk menciptakan three point. Hanya saja saat bola itu diangkat mata Kim Bum menangkap sosok gadis bergaun biru di tempat duduk kosong itu. Tempat yang sama diduduki gadis itu saat babak penyisihan lalu. Lemparan bola Kim Bum tak sampai ring, untungnya sempat diraih Lee Ki Kwang. Tapi peluit wasit berbunyi lantaran pelatih klub Twilight meminta time out.

"Konsentrasimu kacau sekali, Kim Bum!" hardik Kim Hyun Joong saat timnya mendekat.

"Maafkan aku, Hyung. Ganti saja aku dulu," usul Kim Bum.

"Kekasihnya belum datang, Hyung," celetuk Lee Ki Kwang.

Kim Hyun Joong setuju. Ia memanggil Jang Geun Suk. Dan pertandingan dimulai lagi.

Kim Bum langsung mengarahkan pandangannya ke tribun penonton di seberangnya. Agak sulit juga untuk menyidiki wajah gadis yang masih terduduk di sana itu. Apalagi wajahnya menunduk, seolah tahu sedang diamati Kim Bum.

Gadis itu beringsut ke pinggir dan berjalan cepat meninggalkan tempat duduknya. Kim Bum reflek berdiri.

"Hyung, aku ke belakang sebentar," izin Kim Bum.

"Ya, jangan lama-lama! Cepat kembali!"

Kim Bum bergegas mengayunkan langkahnya. Gadis itu pasti keluar. Siapakah dia? Park Shin Hye-kah? Mengapa begitu misterius?
Sampai di ambang pintu keluar, Kim Bum masih sempat menangkap kelebat bayangan gadis itu menuju tempat parkir mobil. Kim Bum menyusul. Tapi napasnya tertahan sewaktu melihat gadis itu meluncur dengan Honda Jazz biru.

"Kim Bum!" suara khas itu mengejutkan Kim Bum.

Kim So Eun baru hendak keluar dari Toyota Yaris-nya.

"Jangan turun. Antar aku," Kim Bum langsung menyerbu masuk ke dalam mobil. Suatu kebetulan yang menguntungkan.

"Ada apa ini?" Kim So Eun bingung melihat Kim Bum panik.
"Kau lihat Honda Jazz biri tadi, kan? Tolong susul mobil itu."

"Orang di dalam mobil itu beberapa kali menguntitku. Aku penasaran. Kurasa kita belok kiri, Kim So Eun. Nah, itu mobilnya!" Kim Bum mengarahkan jarinya ke depan, nyaris menembus kaca.

Mobil yang mereka kejar melaju kian kencang, masuk ke jalan agak besar. Kim So Eun membelokkan mobilnya tiba-tiba. Kim Bum tercengang.

"Kenapa membelok, Kim So Eun?" tanya Kim Bum.

Kim So Eun tak menjawab. Ia malah membawa mobilnya ke jalan yang agak sepi sampai akhirnya ke pelataran parkir sebuah kompleks pemakaman umum. Suasana hening menyergap mereka.

"Ada yang ingin kuutarakan padamu, Kim Bum. Barangkali aku terlalu lancang...." Kim So Eun menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Kim Bum.

Tahu Kim Bum hanya membisu, Kim So Eun keluar dari mobil. Tubuhnya lantas bersandar pada badan mobil. Kim Bum dihinggapi sejuta tanya. Belum terpecahkan persoalan yang satu, sudah muncul persoalan lainnya.

"Barangkali aku harus menceritakannya dari pertama padamu," Kim So Eun membuka mulutnya lagi. "Dimulai dari perkenalan kita. Terus terang kau langsung menyita perhatianku begitu kukenal. Tentu saja aku punya batasan untuk mengungkapkan perasaanku itu."

Kim Bum merasakan hal itu.

"Cara yang kulakukan untuk menarik perhatianmu kupikir sudah tepat. Tapi rupanya ada selubung misteri yang menutupi hatimu. Segala upaya kulakukan untuk memancingmu, tapi kau seperti enggan membukanya. Katakanlah, kenapa, Kim Bum?"

"A-aku... aku tak bisa menceritakannya...."

"Kurasa kini memang tak perlu lagi, Kim Bum. Waktu yang membelaku memberitahukan itu semua. Satu bulan lalu aku berkunjung ke rumah paman-ku. Kutempati bekas kamar sepupuku. Tanpa sengaja aku menemukan tempat rahasia menyimpan buku harian sepupuku itu. Isinya banyak bertutur tentangmu dan cerita cinta rahasia kalian berdua...."

"Park Shin Hye? Dia sepupumu? Di mana dia sekarang?"

"Setahun yang lalu dia telah meninggalkan kita," nada suara Kim So Eun melemah.

Kim Bum mendongakkan kepalanya ke langit. Gara-gara kecelakaan itukah?

"Kau tak perlu merutuki dirimu sendiri, Kim Bum. Tanpa kau ketahui, sebenarnya kesehatan Park Shin Hye memang rapuh. Itu sebanya Ayahnya sangat ketat mengawasi. Ada kanker di otaknya. Dulu pernah dioperasi di Amerika, tapi kemudian tumbuh lagi. Operasinya yang kedua gagal."

Kim Bum menahan airmata yang hampa keluar.

"Setelah tahu itu semua, aku masih bersabar diri, Kim Bum. Aku ingin satu bentuk kejujuran darimu. Sebagai orang yang dekat, tadinya kupikir kau mau mengungkapkan itu semua. Tapi harapanku sia-sia. Dan itu menimbulkan ide gila untuk menganggumu...."

"Gadis bergaun biru itu?"

"Ya, gadis itu bagian dari permainanku. Tapi ternyata aku tak sanggup untuk terus mempermainkanmu. Tuntutan untuk jujur kepadamu sangat menyiksaku," Kim So Eun berupaya untuk tetap tegar mengeluarkan kata-katanya.

"Kau...."

"Apa pun pandanganmu padaku saat ini akan kuterima. Tapi beri aku kesempatan untuk mengantarkanmu melihat makam Park Shin Hye," Kim So Eun mulai tak kuat menahan isaknya. Ia tahu resiko paling berat apa yang akan diterimanya. Bisa saja Kim Bum membencinya lantas menjauhinya tanpa secuil maaf.

Tanpa diduga Kim Bum malah merengkuh Kim So Eun ke pelukannya. Tentu saja isak Kim So Eun semakin tak terbendung. Ia tumpahkan gundah yang mengganjal perasaannya selama ini.

"Aku yang salah, Kim So Eun. Aku bukan hanya tidak jujur pada hatiku sendiri. Aku telah mendustai banyak hal. Kesalahanku sangat banyak. Aku harus menebus sakit hati yang kubuat padamu. Aku... mencintaimu, Kim So Eun. Sesungguhnya perasaan itu timbul sudah lama. Tapi aku terlalu takut menghadapi resiko. Aku takut gurat luka yang ada di hatiku menganga lagi," tutur Kim Bum sambil mengusap uraian rambut Kim So Eun.

Kim So Eun mengangkat wajahnya. Jarinya menghapus airmata yang masih keluar. "Sebaiknya kita segera ke makam Park Shin Hye. Berdoa sejenak di makamnya barangkali akan menenteramkan hati kita berdua. Lagipula, kau kan harus kembali bergabung dengan timmu itu," kata Kim So Eun kemudian.

Kim Bum terperangah. Ia baru menyadari dirinya masih memakai kostum klub basketnya. Segera dirangkulnya bahu Kim So Eun dengan tangan kanannya.

"Ayolah, kita bergegas. Mudah-mudahan aku masih sempat membuat three point. Tembakan itu akan kubuat spesial untukmu," ucap Kim Bum dengan kelegaan yang tiada tara.

Entah ke mana larinya selubung yang menutup rapat hatinya. Entah ke mana hilangnya gurat luka itu.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Selubung Hati (Chapter 2)



Duduk di taman kecil depan perpustakaan kampus kerap dilakukan Kim Bum bila tak tahu apa yang harus dikerjakannya sambil menunggu kuliah berikutnya. Mengedarkan pandangan sambil melamun memang jadi keasyikan tersendiri bagi dirinya.

Tidak jarang matanya tertumbuk pada sosok gadis cantik. Tapi hatinya buru-buru menyisihkan hasrat yang kemudian timbul. Sebuah nama di masa lalu telah menciptakan kenangan yang menggurat di hatinya....

Park Shin Hye jadi siswa baru kelas dua. Ia langsung populer dengan kecantikannya ditambah lagi mobil mewah yang bergantian mengantar-jemputnya. Banyak pemuda berusahan mendekati, tapi semua harus puas dengan mimpi mereka saja tanpa berhasil mewujudkannya. Sementara sebagian dari mereka mimpi pun sudah tak berani, termasuk Kim Bum yang duduk di belakang Park Shin Hye.
Sampai suatu siang sepulang sekolah, sewaktu Kim Bum hendak menghidupkan motornya.

"Kim Bum, kau mau menolongku tidak?" suara Park Shin Hye mengejutkannya.

"Asalkan aku sanggup."

"Aku harus buru-buru pulang ke rumah. Tapi jemputanku belum datang juga. Aku...."

"Mengantarmu dengan motorku ini? Apa kau tidak risih?"

"Sudahlah. Mau apa tidak?"

Kim Bum langsung menyambar helm yang tergantung di stang motor di sebelahnya. Ia menyodorkan helm itu kepada Park Shin Hye.

"Baiklah. Tapi kalau kau masuk angin aku tidak tanggung," Kim Bum menghidupkan motornya dan membiarkan Park Shin Hye membonceng.

Ternyata itu jadi sebuah awal dari jalinan manis antara mereka. Beberapa kali Park Shin Hye membonceng Kim Bum. Sampai akhirnya Kim Bum merasa perlu mengungkapkan isi hatinya.

"Kau mau jadi kekasihku, Park Shin Hye?" tanya Kim Bum sehabis mengajak Park Shin Hye menyaksikan pertandingan basket antarkelas.

Park Shin Hye mengangguk dan tersenyum. "Tapi dengan syarat kau jangan sampai datang ke rumahku," katanya kemudian.

"Kenapa?"

"Ayah melarangku pacaran."

"Backstreet juga tidak apa-apa," angguk Kim Bum mantap. Siapa tahu waktu mengubah hal itu.

Tapi waktu tak pernah memberi kesempatan untuk mengubah hubungan mereka menjadi lebih baik. Lima bulan berlalu tetap saja mereka harus pacaran sembunyi-sembunyi. Malah tiba-tiba waktu mengubahnya menjadi amat pahit.

Kim Bum membonceng Park Shin Hye sepulang sekolah. Dan kecelakaan yang tak pernah diinginkan siapa pun itu terjadi. Kim Bum luka gores di tangan dan kaki. Tapi Park Shin Hye sampai gegar otak.
Langit untuk Kim Bum benar-benar runtuh kemudian. Park Shin Hye menghilang entah ke mana. Usaha yang dilakukannya hanya membuat panjang kepedihannya.

Park Shin Hye....

Kim Bum tersentak dari lamunannya. Sekelebat ia melihat bayangan punggung seorang gadis. Ia berambut panjang. Dan gaun biru yang dipakai itu sama persis dengan gaun yang dibelikan Kim Bum di hari ulang tahun Park Shin Hye yang ke tujuh belas.

Kim Bum berlari mengejar sosok itu ke dalam perpustakaan. Tapi di pintu masuk langkahnya tertahan.

"Kim Bum, aku mencarimu dari tadi," Kim So Eun langsung mendekatinya. "Bagaimana dengan final pertandingan antarklub itu?"

"Jadi besok malam. Kau mau menontonnya?"

"Kebetulan tidak ada kegiatan. Sudah makan siang? Kita ke Blue Café ya. Aku lapar."

Kim Bum menurut saja. Sulit untuk menolak setiap ajakan Kim So Eun. Gadis ini memang seperti hampir kebanyakan anak orang berada, semua kemauannya harus dipenuhi. meski Kim So Eun berusaha menutupinya dengan berorganisasi di senat, sifat manja itu sangat dirasakan Kim Bum. Tapi lepas dari itu semua, Kim Bum lagi-lagi harus bersyukur bisa dekat dengan gadis yang diincar banyak temannya. Seperti dulu seperti Park Shin Hye....

Kim Bum mendesah mengingat nama itu. Dan siapakah gadis bergaun biru itu?

"Kau kelihatan gelisah, Kim Bum?" tanya Kim So Eun.

"Tidak apa-apa," sembunyi Kim Bum.

"Sungguh?"

"Sungguh." Kim Bum menatap bola mata Kim So Eun agar lebih meyakinkan. Dan hatinya senantiasa bergetar usai menatap binar bola mata itu. Binar itu mirip sekali dengan milik Park Shin Hye.

Mereka masuk ke Toyota Yaris merah Kim So Eun. Sambil menghidupkan mesin Kim So Eun berujar, "Dulu kau pernah cerita SMA-mu, SMA Shinhwa, kan?"

"Iya. Lumayan terkenal di Incheon. Kalau SMA di Seoul barangkali bisa disamakan dengan SMA-mu itu."

"Biasanya sekolah terkenal, siswi-siswi cantik-cantik," lanjut Kim So Eun.

"Memang."

"Benarkah, kau benar-benar tidak punya pacar di sana?"

Kim Bum tak menjawab. Ia memang selalu berupaya merahasiakan jalinan cintanya dengan Park Shin Hye.

"Pasti kau pernah patah hati ya, sampai akhirnya terbawa ke masa kuliah. Patah hati boleh saja, asal jangan menjadi dingin seperti ini, Kim Bum."

"Dingin?"

"Eh, kau tidak merasa kalau kau itu pemuda yang dingin. Tidak pernah mengobrol dengan siapa pun di kampus selain aku. Kau lebih senang menyendiri di taman perpustakaan."

Kim Bum cuma tersenyum. Ia yakin Kim So Eun tengah memancingnya untuk cerita soal masa lalunya. Sudah sering Kim Bum membaca gelagat itu. Belum, belum tiba saat untuk itu semua, Kim Bum membatin.

Bersambung…

Selubung Hati (Chapter 1)



Peluit time out dibunyikan wasit di sisi lapangan. Pertandingan basket itu terhenti sejenak. Club Twilight yang menempati sisi kanan kelihatan agak tegang. Mereka sudah memimpin angka sejak awal pertandingan, namun klub lawan kini mulai mengejar.

"Kim Bum, kau diganti dulu dengan Lee Hong Ki," pelatih yang keringatnya hampir menyamai para pemain itu memberi instruksi sesuai dengan yang direncakanannya.

Kim Bum mengangguk. Ia mengambil tempat duduk di barisan untuk pemain cadangan. Matanya terarah ke sudut tribun penonton. Mencari sosok yang memporak-porandakan konsentarasi bertandingnya tadi.

Gadis berambut panjang dengan gaun biru itu tak ada lagi di tempatnya.

"Permainanmu kacau sekali, Kim Bum," komentar Kim Hyun Joong yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Kim Bum. Ia agak stres melihat permainan anak didiknya tadi. Tembakan three point yang biasa dihasilkan semuanya gagal.

"Aku janji, nanti kalau dipasang lagi… aku tidak akan main seperti tadi," timpal Kim Bum. Ia meneguk sebagian air mineral miliknya.

"Aku mau ke belakang sebentar, Hyung."

Pelatih itu cuma mengangguk sambil tetap memandang ke tengah lapangan. Pertandingan kian seru.

Kim Bum berjalan cepat. Yang ditujunya bukan kamar kecil, ia malah menembus pintu ke luar. Matanya terus mencari-cari gadis yang dilihatnya di tribun tadi. Kalau ia menghilang dari tribun itu seharusnya ia pergi ke luar.

"Kim Bum! Kau bukannya sedang bertanding? Kenapa di luar?" suara tanya itu mengejutkan Kim Bum. Seorang gadis cantik berambut panjang mendekatinya.

"Aku sedang tidak dipakai. Ya, keluar cari angin sebentar kan tidak dilarang. Bagaimana rapat senatnya tadi?" Kim Bum teringat kesibukan Kim So Eun sore ini.

"Agak tersendat dibandingkan sebelumnya. Makanya aku telat datang kemari," jawab Kim So Eun. Ia menjajari langkah Kim Bum ke dalam gelanggang olah raga.

"Kau duduk di sini saja. Biar aku tidak susah mencarimu nanti. Eh, kau mau menungguku sampai pulang, kan?" tanya Kim Bum sambil membiarkan Kim So Eun duduk di barisan paling depan.

"Iya. Asal kau main bagus!" Kim So Eun tersenyum.

Kim Bum kembali ke bangku cadangan bergabung dengan tim lainnya. Baru sepuluh menit kemudian ia sudah dipanggil lagi untuk mengisi lapangan. Sebuah tembakan three point diciptanya semenit kemudian.

Kim So Eun terpekik girang melihat aksi Kim Bum. Matanya terus melekat pada sosok pemuda itu. Bukan pada permainan basket yang sebenarnya memang tak pernah ia sukai.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...