Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Orang Berwajah Sama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Berwajah Sama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2011

Orang Berwajah Sama (FF)



Title : Orang Berwajah Sama
Genre : Criminal, Mystery
Author : Sweety Qliquers
Episode : Prolog + 4 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 08 September 2011, 03.03 PM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Jung So Min
Baek Suzy


Orang Berwajah Sama

Prolog
Chapter 1 - Bukan Mimpi
Chapter 2 - Ternyata Buronan
Chapter 3 - Gelandangan Kaya
Chapter 4 - Gagal Kabur (Tamat)

Orang Berwajah Sama (Chapter 4-Tamat)



Chapter 4
Gagal Kabur


Malam itu Kim Bum masih harus mempertahankan gaya hidup lamanya menjadi "gelandangan". Ia tidur di emperan toko. Makanya, ia terkejut ketika pagi-pagi sekali dibangunkan oleh seorang tukang parkir.

Untuk menghangatkan tenggorokannya, ia menuju ke sebuah kedai kopi yang mulai ramai pengunjung. Ia memesan segelas kopi kental dan roti bakar yang masih hangat. Sambil sesekali mengisap rokoknya, pikirannya terus berputar mencari jalan untuk segera meninggalkan Pulau ini.

Akhirnya, ia memilih Gwangju sebagai tempat yang ideal untuk bersembunyi. Setelah menyeruput habis sisa kopinya, Kim Bum segera beranjak menuju ke Pelabuhan Jirisan dengan naik Bus. Ia merasa lebih aman naik Kapal ketimbang naik pesawat untuk mencapai Gwangju.

Menurut perhitungannya, berbagai urusan di bandara bisa menyulitkannya. Bukan tidak mungkin hal itu justru membawa dia masuk ke perangkap para pemburu hadiah.

Sesampai di Pelabuhan Jirisan, sebuah kapal baru saja meninggalkan dermaga menuju Pelabuhan Seongnam, Gwangju. Mau tak mau ia harus menunggu Kapal berikutnya.

Selama menunggu keberangkatan, hati Kim Bum terus dihantui rasa was-was.

Ia tak sabar ingin segera meninggalkan Pulau Jeju itu.

Untuk membunuh waktu, ia berjalan-jalan di sepanjang pantai. Hamparan air laut yang biru kehijauan, semilir angin pantai, dan panorama alam Pulau Guang Dong yang tampak malu-malu di balik kabut mengurangi ketegangan perasaannya.

Di lidah pantai yang paling menjorok ke laut, ia melihat seseorang sedang asyik memancing. Sesekali pancingnya berhasil menggaet ikan yang lumayan besar.

Seorang pengemis menadahkan tangan, membuyarkan konsentrasi Kim Bum. Tanpa banyak pikir, ia mencabut dua lembar uang 100 Ribu. Pengemis itu sejenak melongo sebelum menerima pemberiannya. Setelah berulang kali mengucapkan terima kasih, peminta-minta itu pun pergi meninggalkan Kim Bum.

Sambil mengisap rokoknya, Kim Bum mengarahkan pandangannya kembali pada pemancing itu. Saat mengganti umpan dan menoleh kepada Kim Bum, ia menyapa dengan senyuman.

Saat itu seorang lelaki bertopi dan berkacamata hitam berjalan mendekati Kim Bum. Tampaknya, ia juga sedang menikmati suasana pantai pagi itu.

"Di sini tenang, ya?" sapa lelaki itu.

Kim Bum menoleh pada lawan bicaranya. "Ya," jawabnya pendek. Setelah menawari permen karet, lelaki itu meninggalkan Kim Bum bersama sang pemancing.

"Banyak ikannya?" iseng-iseng Kim Bum menegur.

"Lumayan! Di tempat ini jarang ada orang memancing, padahal cukup banyak ikannya."

Kapal yang ditunggu-tunggu masih melaju di tengah laut lepas. Rasa bosan bercampur was-was semakin membelitnya. Kim Bum lalu berjalan menuju ke deretan Kedai di depan pintu masuk halaman pelabuhan untuk sarapan.

Ia menyusuri jalan sepanjang pantai. Beberapa perahu nelayan yang sedang ditambatkan tampak bergoyang-goyang dipermainkan ombak tepi pantai.

Ketika hendak menyulut rokok di bibirnya, seseorang tiba-tiba mendekat. Kim Bum terkejut. Rupanya, lelaki itu hanya mau meminjam korek api untuk merokok juga.

Namun, saat ia menyodorkan korek api, tiba-tiba orang tak dikenal itu dengan cepat meringkus tangannya.

"Ada apa ini?"

Lelaki itu diam saja. Sebuah benda keras menekan perutnya.

"Jangan berteriak, kalau tak ingin perutmu ditembus peluru!"

Kim Bum tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali patuh pada perintah lelaki itu. Ia menurut saja ketika didorong masuk ke dalam mobil yang - entah kapan datangnya - tiba-tiba sudah ada di dekatnya.

Setelah masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Kim Bum terhenyak. Lelaki bertopi dan berkacamata hitam - yang tadi memberinya permen karet - sudah ada di jok belakang.

Perlahan-lahan lelaki itu melepas topi dan kacamatanya. Sama sekali dia tak menduga, di hadapannya kini muncul seseorang yang selama ini selalu menghantuinya. Lelaki itu Kim Sang Bum.

"Kau tentu sudah tahu siapa aku. Benar 'kan?" tegur Kim Sang Bum asli ramah. Namun, pistol di tangannya bukan pertanda ia punya niat baik.

"Seperti rencana kita 'kan, Bos?" kata lelaki di balik kemudi sembari menoleh ke belakang.

Sekali lagi Kim Bum terkejut, lelaki itu rupanya si tukang mancing di pantai itu.

"Ya, di sana aman."

Kim Bum merasa dirinya bak kelinci, yang dengan mudah terperangkap masuk dalam jebakan pemburu. Nyawanya kini di ujung tanduk. Tak sampai satu jam kemudian, dalam perjalanan menuju entah ke mana, mobil yang membawa Kim Bum menyusuri jalan yang membelah hutan. "Daripada mati konyol, aku harus berbuat sesuatu," katanya dalam hati. Nyalinya yang mulai mengembang menciut seketika, manakala sebuah kendaraan lain menyusul mobil yang ditumpanginya. "Itu pasti komplotan mereka," pikirnya.

Di sebuah jalan yang tampak semakin sepi, Kim Sang Bum memperketat tali yang mengikat kedua tangan Kim Bum. Seperti dikomando, si pengemudi membawa mobil menerobos semak belukar. Kim Bum tampak pasrah dengan moncong pistol yang sepertinya siap menyalak.

Kim Sang Bum tersenyum. Namun, senyuman itu bagi Kim Bum lebih mirip seringai serigala lapar.

"Aku tak mau ada yang mengaku-ngaku sebagai diriku!" hardik Kim Sang Bum sambil menarik picu senjata apinya.

Terdengar suara ledakan memecah keheningan. "Matilah aku!" pikir Kim Bum. Namun, anehnya, ia tidak merasakan apa-apa. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat pistol di tangan Kim Sang Bum terlempar. Rupanya, sebutir timah panas menembus lengan kanan Kim Sang Bum. Dengan lengan yang berdarah, Kim Sang Bum masih mencoba menguasai dirinya.

Tapi, Kim Bum berhasil melepaskan diri.

Sebaliknya, sepucuk moncong pistol lain kini menempel di pelipis Kim Sang Bum. Aparat rupanya sudah merencanakan semuanya.

Sewaktu kawanan Kim Sang Bum digiring ke mobil polisi, kembali Kim Bum dibuat terkejut. Baek Suzy, salah satu pelayan Kim So Eun ada di mobil itu.

"Jadi?" kata Kim Bum terbata-bata.

"Ya, saya Baek Suzy. Cuma sekarang saya sudah kembali ke pekerjaan semula."

"Jadi, Anda ini Polisi?"

Baek Suzy mengangguk.

“Sebenarnya siapa Kim Sang Bum dan Kim So Eun ini??”

“Kim Sang Bum dan Kim So Eun adalah kakak beradik pewaris tahta Shinhwa Group – Perusahaan Elektronik terbesar di Korea. Setelah meninggalnya kedua orang tua Kim Sang Bum dan Kim So Eun dalam kecelakaan pesawat terbang, Kim So Eun lah yang mengurus bisnis keluarga. Kim So Eun sang adik yang mulai sakit-sakitan akhir-akhir ini sudah tak sanggup lagi mengurus Shinhwa Group. Ia ingin sang kakak lah – Kim Sang Bum yang meneruskan usaha keluarga. Tetapi Kim Sang Bum malah memilih dunia hitam, Ia terlibat dalam sindikat penjualan obat terlarang dan senjata api rakitan dengan Mafia Jepang yang membuatnya menjadi buronan Polisi.”


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Orang Berwajah Sama (Chapter 3)



Chapter 3
Gelandangan Kaya


Pergi ke Incheon? Untuk apa? Bukankah di luar rumah ini Kim Bum sudah menjelma menjadi dirinya sendiri kembali?

"Selamat tinggal Kim Sang Bum, semoga nasibmu bukan nasibku!" kata Kim Bum dalam hati.

Walaupun tanpa tempat tinggal dan pekerjaan tetap, kini Kim Bum merasa berbeda dengan para tunawisma lainnya. Itu semua gara-gara segepok uang dari Kim So Eun.

Di sudut sebuah kafe dengan penasaran Kim Bum membuka amplop itu. Isinya ternyata tak kurang dari seratus lembar uang 100 ribu. Sepuluh juta!

Seumur-umur baru kali ini ia memegang uang sebanyak itu. Dengan uang itu, Kim Bum ingin menutup sejarah masa lalunya yang buram. Tak ada lagi Kim Bum yang pengangguran. Tak ada lagi Kim Bum yang senantiasa dikejar-kejar orang karena hutang.

Tak ada lagi Kim Bum pengutil yang senantiasa berkucing-kucingan dengan bagian keamanan mall.

Bahkan tak ada lagi lelaki bernama Kim Bum yang ditinggal pergi kekasihnya seperti 2 tahun lalu.

Sambil melahap nasi goreng dari Warung Tenda di lapangan parkir Taekgoo Market, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera kabur dari Pulau ini. Setelah itu ia berharap, bisa merasa tenang saat menggunakan uangnya.

Gara-gara uang 10 juta itu, di Pulau ini ia harus selalu waspada pada setiap orang asing yang ada di dekatnya. Siapa tahu, dia itu aparat atau pemburu hadiah untuk menangkap Kim Sang Bum.

Bersambung…

Orang Berwajah Sama (Chapter 2)



Chapter 2
Ternyata Buronan

Selamat tinggal Kim Bum, selamat datang Kim Sang Bum. Eh ... Kim Sang Bum siapa? Kim Bum benar-benar ingin tahu dan harus mencari kesempatan untuk menyelidiki. Tapi tidak saat ini, sebab tiba-tiba Jung So Min, nama perempuan itu, muncul kembali.

"Rupanya, Tuan terlalu capek karena perjalanan panjang, sehingga tidurnya pulas sekali," sapa Jung So Min.

"Aku harus hati-hati bicara," pikir Kim Bum. Makanya, ia hanya menanggapinya dengan senyum.

"Nn. Kim So Eun biasa bangun pagi sekali. Tadi ia menanyakan Tuan, tapi ia melarang kami membangunkan Tuan," sambungnya. "Sekarang Nona sudah tidur lagi. Bangunnya nanti setelah sekitar dua jam. Maklum, namanya juga orang sakit."

Kim Bum menanggapi dengan mengerutkan kening serta memasang ekspresi prihatin.

"Sakit apa, Jung So Min?" ia memberanikan diri untuk bertanya.

"Ya, sakit yang dulu juga. Gagal Ginjal yang membuatnya harus melakukan cuci darah 3 kali dalam seminggu."

Kim Bum mendengarkan sambil mengangguk-angguk. "Lalu, apa kata dokter?"

Jung So Min menggeleng. "Dokter keluarga memberi macam-macam obat. Juga nasihat untuk diet dan berolahraga ringan. Tapi, Tuan tahu sendiri, Nona itu sulit, suka mau-maunya sendiri."

Kesempatan mengobrol dengan Jung So Min itu tampaknya dimanfaatkan betul oleh Kim Bum untuk mengorek informasi awal. Selanjutnya, selama sekitar dua jam sebelum Kim So Eun bangun, ia harus berjuang mencari informasi tentang jati diri Kim Sang Bum.

Semalam, saat berjalan menuju ke kamarnya, Kim Bum sempat melihat ada sebuah kamar kosong tak berpenghuni di lantai dua. Kini terlihat pintu kamar itu terbuka.

Mungkin Baek Suzy, pelayan yang membantu Jung So Min, baru saja membersihkan kamar itu dan lupa menutup pintu. Di dalamnya berjajar rak buku, sebuah meja tulis besar dengan lampu baca, foto-foto di dinding, dan lemari tempat menyimpan arsip keluarga.

Saat yang dinanti itu pun tiba. Kebetulan tidak terlihat bayangan seorang pun di sekitarnya. Ia hanya mendengar bunyi dengung mesin cuci. Dari lantai dua itu Kim Bum bisa melongok ke bawah. Tampak Jung So Min dan Baek Suzy sedang sibuk bekerja di dapur dan ruang cuci.

Di kamar itu ia menemukan album foto. Di setiap bagian bawah foto selalu tertera keterangan berupa tulisan. Ada potret wanita cantik dengan tulisan :

Kim So Eun. Korea Selatan, 6 September 1989. Ada juga sejumlah foto keluarga.

Yang paling menarik perhatian Kim Bum adalah foto seorang lelaki berwajah mirip sekali dengan dirinya. Bedanya, kulit lelaki itu kelihatan lebih terang. Di halaman lain, terpasang foto telanjang bayi montok dengan tulisan, Kim Sang Bum lengkap dengan hari, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran yang ... "Sama dengan hari kelahiranku?"

Pada album lain, di antara sekian banyak foto keluarga, terpampang foto Kim Sang Bum berpose gagah di punggung seekor kuda besar. Ia merasa, senyuman Kim Sang Bum di foto itu seolah mencibir dirinya, "Kim Sang Bum palsu!"

Kim Bum tersadar, ia dikejar waktu.

Dengan hati-hati ia mengembalikan semua album itu pada tempatnya. Saat menaruh sebuah album, selembar kertas koran meluncur dari dalamnya dan jatuh ke lantai.

Jantung Kim Bum berdegup kencang saat membaca judul berita di halaman koran itu. "Kim Sang Bum Kini Buron". Lelaki gagah dan kaya itu ternyata kabur dari sel penjara. Berita itu juga menyebutkan, ada pihak yang bersedia memberi hadiah uang bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi tentang keberadaan Kim Sang Bum. Pasalnya, pihak tersebut merasa telah dirugikan oleh ulah Kim Sang Bum.

Foto-foto Kim Sang Bum pun dimuat tersebar hampir di setiap halaman koran.

Kim Bum cepat-cepat mengembalikan koran itu. Kakinya masih gemetar. "Aku harus cepat-cepat meninggalkan kamar dan rumah ini," pikirnya. Ia tidak mau menjadi korban, menanggung perbuatan Kim Sang Bum - orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Namun,... terlambat.

Saat ia melangkah mendekati pintu kamar, selintas bayangan mengadang jalan.

Jung So Min muncul bagaikan hantu di siang bolong bagi Kim Bum.

Celaka, apa yang akan dilakukan wanita ini? Perempuan itu tersenyum dan menyapanya dengan ramah. "Maaf, saya lupa kalau Tuan Kim Sang Bum ada di rumah."

Kim Bum terdiam.

Jung So Min juga diam, tapi sepasang matanya menatap sebuah amplop di genggaman tangannya.

"Ada apa, Jung So Min?"

Jung So Min tak menjawab, lalu mengulurkan amplop itu pada Kim Bum.

"Ada uang di dalamnya. Nn. Kim So Eun memberikannya pada saya tadi pagi. Bila sampai jam setengah sepuluh Nona belum juga bangun, saya diminta menyampaikannya pada Tuan Kim Sang Bum. Nn. Kim So Eun juga meminta supaya Tn. Kim Sang Bum secepatnya meninggalkan rumah ini." Kata Jung So Min menjelaskan.

"Uang itu cukup untuk biaya perjalanan ke Incheon. Di sana aman. Pagi buta tadi Nona mendapat telepon dari orang kepercayaannya. Katanya, rumah ini sudah diawasi, Tuan bisa tertangkap."

"Terima kasih, Jung So Min! Saya pamit, sampaikan salam saya pada Kim So Eun!"

Bersambung…

Orang Berwajah Sama (Chapter 1)



Chapter 1
Bukan Mimpi


Hari sudah di ambang petang. Kim Bum menguak pintu gerbang dari besi di sebuah rumah tua. Jalan setapak berbatu kerikil membelah halaman luas dengan banyak tanaman yang tumbuh tak beraturan.

"Kiranya ini rumah yang dimaksud," gumamnya sembari memperhatikan gambar petunjuk dalam kertas tadi. Ia masih termangu ketika suara dari dalam rumah itu tiba-tiba menyapanya. "Oh, Tuan Muda Kim Sang Bum! Silakan masuk!" sapa seorang perempuan.

"Akhirnya Tuan datang juga," kata perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.

"Duduklah dulu! Nn. Kim So Eun sedang tidur. Saya tidak berani membangunkan, sebab beberapa hari ini penyakitnya kambuh lagi."

Sandiwara apa pula ini? Kim Bum merasa heran, sejak lahir sampai kini tak pernah sekalipun ia punya nama lain, sekalipun nama samaran untuk gagah-gagahan.

Belum habis keheranannya, perempuan itu datang membawakan segelas air jeruk dingin. Diteguknya minuman itu, setelah perempuan itu meninggalkan dirinya.

Ketika hendak membuka kembali tasnya untuk memastikan isi pesan dalam kertas itu, perempuan itu muncul lagi. "Nn. Kim So Eun belum bangun. Tapi nona sudah berpesan untuk menyiapkan makan malam dan kamar untuk Tuan Muda."

Kim Bum hanya bisa menjawab dengan senyum yang dipaksakan.

Kamar di lantai tiga itu sungguh terasa mewah untuknya. Meski tubuhnya letih, Kim Bum tidak bisa cepat tertidur. Pikirannya terus melayang, mencoba memahami peristiwa "aneh" yang terus mengiringinya sejak siang hingga malam ini.

Karena baru bisa terlelap setelah lewat tengah malam, Kim Bum bangun kesiangan. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.35. "Ini namanya gembel jadi raja," batinnya ketika menyaksikan hidangan sarapan berupa beberapa iris roti panggang berisi daging asap plus apel. Namun, Kim Bum ingat pepatah, sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya toh akan tercium juga. Itu yang dia khawatirkan.

Bersambung…

Orang Berwajah Sama (Prolog)



Udara menjelang siang di Pantai Pyongtaek itu masih menyisakan sedikit kesejukan.
Kim Bum merasa hari itu adalah miliknya. Ketika membuka tasnya yang sudah lusuh, ia nyaris tak percaya, sebuah amplop secara misterius ada di dalamnya.

Isinya, 5 lembar uang 100 ribu. "Wah, rezeki nomplok," pikirnya.

Berbulan-bulan sejak peristiwa Terdamparnya Kapal Pesiar Posaideon karena sebuah Badai dahsyat yang meluluhlantakkan dua kafe dan menewaskan ratusan orang serta mematikan denyut kehidupan di kawasan Pantai Seongjusan itu, ia hidup seperti gelandangan. Gara-gara kehilangan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di sebuah bar, ia menganggur berkepanjangan.

Selama itu pula julukan tunawisma, pengembara dekil, atau gelandangan menempel pada dirinya. Demi mendapat sesuap nasi, ia rela menebalkan muka melakukan pekerjaan apa pun. Bahkan meminta-minta, mengemis, atau menipu dia lakukan.

Padahal sebenarnya ia tidak ingin menjalani hidup seperti itu.

Sekarang, untuk sementara, ia bisa tertawa lebar. Amplop itu terus dirogoh-rogohnya sekadar untuk meyakinkan, uangnya masih aman di tempatnya. Tapi bersamaan dengan itu tangannya menyentuh barang lain. Begitu diambil, ternyata secarik kertas yang bertuliskan,

Harap uang ini diterima. Tak ada niat buruk apa pun terhadap Anda. Tolong datang ke sebuah rumah yang letaknya tertera dalam peta di balik kertas ini. Di sana Anda akan menerima nasib yang lebih baik. Ingat, hanya Anda yang tahu semua ini. Selamat menikmati mimpi indah.

Kening Kim Bum berkerut. Ia tak mengerti. Teka-teki apa ini?

Tampangnya yang semula ceria kini pudar begitu saja. Di saat seperti itu, uang 500 Ribu membuat dirinya merasa kaya. Namun, isi surat yang menantang itu mengusik hatinya. Ia tahu, dirinya sudah terjebak. Kim Bum curiga, jangan-jangan ini satu mata rantai dari sebuah skenario kejahatan besar. Sindikat mafia kah?

Sebegitu murahkah orang seperti dirinya sehingga orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu memanfaatkannya?

Baginya, uang 500 Ribu begitu berharga. Tuntutan perut tidak bisa ditawar-tawar.

Namun, di sisi lain akal sehatnya mengatakan, ia harus mengembalikan surat itu beserta isinya. Cuma, kepada siapa? Ataukah ia harus melapor ke polisi?

Belum juga ia mengambil keputusan, perutnya terus menggedor minta segera diisi. Sambil menghela napas dalam-dalam, Kim Bum meninggalkan gundukan pasir yang tadi didudukinya.

Tanpa ragu-ragu Kim Bum lalu masuk ke sebuah rumah makan yang ditata ala kafe. Sekaleng minuman ringan yang dingin dan dua potong donat mengusir rasa lapar dan dahaganya. Ditambah sepotong pastel ayam, energi dan semangat hidupnya pulih kembali.

Sampai siang itu Kim Bum tidak tahu entah ke mana kaki akan melangkah. Ketika berjalan sambil mengisap rokok dalam-dalam, ia teringat ucapan temannya,

"Sebenarnya, hidup ini tak ubahnya berjudi."

"Sekarang saatnya bagiku untuk membuktikan ucapan temanku itu," bisiknya dalam hati.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...