Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 24 Mei 2011

Romance Zero (Epilog-Tamat)



PERAHU kayu bermotor tempel itu menderu sepanjang Delstres Dragons. Anak Sungai Barceloneta yang airnya berwarna hitam itu semakin kelam pada pukul sebelas malam.

Kim Bum termenung seorang diri di bangku kayu yang keras di bagian buritan perahu. Tatapannya tajam dan lurus ke depan. Seperti hendak menembusi kegelapan yang pekat menghalangi pandangan.

Suara binatang malam yang seram tidak diacuhkannya. Semak belukar yang menyeramkan tidak menakutkannya sama sekali. Gemerecik air sungai yang dibelah perahu lewat begitu saja di samping telinganya.

Kenangannya kembali pada malam seperti ini sepuluh tahun yang lalu. Tempat yang sama. Tapi dengan suasana yang sangat berbeda.

Saat itu wanita yang dicintainya dengan cinta sepanjang Barceloneta berada dalam pelukannya. Di jari manisnya melingkar cincin yang menjadi meterai cinta mereka.

Tapi malam ini, tidak ada siapa pun di sampingnya. Perahu ini sepi seperti hatinya.

Barceloneta belum kering. Sungai itu masih mengalir jauh. Masih menyandang keagungan sebagai sungai terbesar, mungkin juga terpanjang. Sama seperti cinta Kim Bum untuk Kim So Eun. Meskipun objek cintanya kini hanya tinggal bayang-bayang.

Kim So Eun tidak pernah ditemukannya lagi. Sejak kematian Lee Min Ho, dia menghilang bersama anaknya. Kim Bum tidak tahu ke mana dia pergi. Dia seperti hendak menghukum dirinya sendiri.

"Biarkan aku pergi," tulisnya dalam e-mail untuk Kim Bum. "Karena aku sudah menjadi racun bagi orang-orang yang mencintaiku. Jangan khawatirkan Wang Suk Hyun. Dia tidak akan telantar. Lee Min Ho mewariskan semua hartanya untuk Wang Suk Hyun. Kalau dia sudah besar nanti, akan kutulis sebuah buku untuknya. Judulnya, Cinta Sepanjang Barceloneta. Dan dia akan memahami semuanya. Karena walaupun dia tidak lahir dari benihmu, cintamulah yang menjadi helaan napasnya."

Kim Bum membalas e-mail itu. Walaupun dia tahu, Kim So Eun mungkin tidak sempat membacanya lagi. Atau dia sempat tapi tidak mau? Karena sampai sekarang e-mailnya tak pernah berbalas.

"Aku tahu apa yang dilakukan Park Jung Min padamu. Bukan hanya kau yang bersalah. Bukan cuma kau yang patut dihukum. Jika kita sudah selesai menjalani hukuman kita masing-masing, maukah kau menemuiku di Barceloneta pada ulang tahun pernikahan kita yang kesepuluh?"

Tetapi tampaknya harapan Kim Bum sia-sia belaka. Permintaannya tidak ditanggapi. Mungkin juga e-mailnya tidak dibaca.

Barangkali Kim So Eun belum dapat memaafkan dirinya sendiri. Walaupun Kim Bum yakin, ayahnya dan Lee Min Ho sudah memaafkan mereka.

Kim So Eun tidak muncul. Mungkin baginya pernikahan mereka sudah tidak ada. Cinta mereka sudah tinggal kenangan. Jadi sia-sia saja penantiannya. Sama sia-sianya dengan dua jam menelusuri Delstres Dragons yang penuh misteri.

Kim Bum melompat turun ke darat ketika perahunya menepi.

Air sungai yang pasang menggenangi tanah yang diinjaknya. Ujung bawah celana jinsnya basah. Tapi siapa peduli? Bahkan siang tadi dia sengaja berbasah-basah ketika hujan mengguyur Ciutat Comtal. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Tapi heran. Penyakit justru tidak datang ketika diundang.

Kim Bum melangkah menuju jembatan kecil yang menghubungkan sungai dengan pelataran hotel. Jembatan kayu itu pun sudah terendam. Air bergemerecik di bawah kakinya ketika dia melangkah. Rasa dingin mulai merambah kulit. Tapi Kim Bum melangkah terus.

Beranda hotel masih ramai. Beberapa orang tamu masih betah duduk-duduk di bangku kayu, mengundang nyamuk mencicipi darah mereka.

Kim Bum menghampiri meja tempat kunci. Menyambar kunci kabinnya. Lalu melewati restoran yang sudah sepi, melangkahi jalan setapak yang dikelilingi semak belukar.

Semakin jauh berjalan ke belakang, suasana semakin sepi dan gelap. Karena lampu kebun semakin jarang. Dan cahaya dari lampu suram di depan cottage semakin langka pula.

Kim Bum tidak menemukan seekor ular pun atau seorang manusia pun di sana. Bahkan semut pun tampaknya sedang tidur. Tapi sesampainya di depan kabinnya dia terkesiap.

Ada bayangan manusia di sana. Duduk di anak tangga kayu di depan cottage. Entah sudah berapa lama dia duduk membeku di sana. Sudah berapa ratus nyamuk ditraktirnya.

Wajahnya gelap. Karena lampu teras yang suram berada di belakang kepalanya. Tetapi dengan mata terpejam pun, Kim Bum masih dapat mengenalinya. Cuma dia tidak yakin melihat manusia. Bukan hantu.

Atau tidak ada hantu. Hanya halusinasi. Itu sudah sering dialaminya. Baru ketika Kim Bum menghampiri lebih dekat dan menghirup aroma parfum yang dikenalnya, dia sadar yang dilihatnya kini bukan halusinasi.

Dia sungguh-sungguh berada di sini. Di hadapannya.

Dia tidak banyak berubah. Atau dia berubah. Hanya Kim Bum yang tidak melihat perubahan itu? Karena bagi Kim Bum, dia tak pernah berubah. Sampai kapan pun.

Sama abadinya dengan cintanya. Sama abadinya dengan Sungai Barceloneta.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Romance Zero (Chapter 24)



MALAM itu menjadi malam yang sangat romantis untuk mereka berdua. Suasana kamar hotel yang nyaman. Musik yang lembut. Sampanye yang manis dan hangat.

Sayangnya kenikmatan yang didambakan Lee Min Ho tak mampu diwujudkannya. Dia sudah terlampau lemah untuk memuaskan Kim So Eun.

"Maaf, Angel," bisiknya kecewa setelah sia-sia berjuang. "Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Penyakit sialan ini sudah menggerogoti seluruh tubuhku. Aku tidak punya tenaga lagi. Batereku sudah habis."

"Untuk apa memaksakan diri, Lee Min Ho?" Kim So Eun membelai-belai wajah Lee Min Ho yang basah oleh keringat Dia tersenyum lembut. Senyum yang sangat menghibur. "Kita kan tidak tergesa-gesa. Masih banyak waktu untuk mencharge bateremu."

Sebenarnya jauh di dalam hatinya Kim So Eun merasa lega. Setelah pertemuan kembali dengan Kim Bum, dia sudah tidak sanggup lagi bermesraan dengan lelaki lain. Dia hanya tidak sampai hati mengecewakan Lee Min Ho. Ingin memberikan apa yang didambakannya. Mungkin cuma tinggal beberapa kali lagi.... Kim So Eun tidak berani memikirkannya.

Tetapi kali ini pun Lee Min Ho sudah tidak mampu melakukannya. Padahal Kim So Eun sudah berusaha menyembunyikan keengganannya. Dia pura-pura bergairah. Pura-pura terangsang. Walaupun sebenarnya dia tidak merasakan apa-apa. Dia malah merasa tersiksa setiap kali membayangkan wajah Kim Bum. Betapa sakit tatapan matanya.

Betapa murung wajahnya. Betapa menderitanya dia dibakar cemburu dari kemarahan.

"Seharusnya malam ini menjadi malam yang sangat indah," bisik Lee Min Ho penuh penyesalan.

"Kenapa kau pikir malam ini kurang indah?" rajuk Kim So Eun pura-pura kesal. "Kita hanya berdua di sini. Tidak ada orang lain. Apa lagi yang kurang?''

"Wang Suk Hyun," Lee Min Ho tersenyum pahit. "Aku merindukannya."

"Ada saatnya dia harus memberikan kesempatan kepada ayah-ibunya untuk berdua saja. Urusan orang besar," Kim So Eun tersenyum ketika membayangkan kata-kata yang sering diucapkannya kepada Wang Suk Hyun itu. "Dia pasti mengerti."

"Wang Suk Hyun memang pintar," selalu ada senyum di bibir Lee Min Ho setiap kali dia membayangkan si kecil Wang Suk Hyun. "Dia harus jadi sarjana, Angel."

"Sarjana?" Kim So Eun tidak mampu menahan tawanya meskipun hatinya tengah gundah. "Sekolah saja belum!"

“Tapi kau harus janji akan menyekolahkannya sampai jadi sarjana."

"Bagaimana kalau dia lebih senang main band?" Kim So Eun berusaha bergurau. Berusaha mencairkan keharuan yang sudah menggumpal di dada. Pada saat maut hampir menjemput, Lee Min Ho masih memikirkan masa depan anaknya!

"Boleh kalau cuma hobi. Tapi dia harus jadi sarjana. Katakan itu amanat Ayahnya sebelum meninggal."

"Kata siapa kau tidak sempat melihat dia jadi sarjana? Katamu di samping aku dan Wang Suk Hyun, kau akan memerangi penyakitmu, kan?"

"Aku akan berjuang sekuat tenaga," sahut Lee Min Ho sambil tersenyum pahit. "Makanya kita harus cepat menikah. Supaya batereku cepat terisi lagi."

"Baiklah, sebut saja waktunya."

"Kau mau pesta yang meriah atau menikah tamasya ke Eropa?"

"Terserah kau saja."

Asal jangan ke Barceloneta, keluh Kim So Eun pedih.

"Aku lebih suka menikah tamasya."

"Aku abstain."

"Enak saja," Lee Min Ho memeluk Kim So Eun dengan mesra. "Kau dan Wang Suk Hyun harus ikut urun rembuk."

"Wang Suk Hyun?" Kim So Eun tersenyum. "Rasanya dia cuma ingin ke kebun binatang."

"Aku rindu, Angel."

"Dengan siapa? Gajah? Monyet? Macan?"

"Tentu saja dengan Wang Suk Hyun. Siapa lagi?"

"Biar Bae Soo Bin kurang tidur malam ini." Kim So Eun tersenyum pahit.

"Jangan-jangan kita juga tidak bisa tidur. Kita jemput saja dia."

"Besok saja. Malam ini milik kita berdua."

* * *

Tetapi ketika keesokan paginya Kim So Eun dan Lee Min Ho menjemput Wang Suk Hyun, mereka menyesal tidak menjemputnya tadi-malam.

Wang Suk Hyun menyambut kedatangan mereka sambil menangis. Dia menunjukkan lengannya yang diplester.

"Kenapa?" cetus Kim So Eun antara kaget dan bingung. Dia mengangkat wajahnya menatap Bae Soo Bin. "Dia digigit apa, Oppa?"

"Diambil darah," sahut Bae Soo Bin tersendat.

"Diambil darah?" belalak Lee Min Ho panik. "Wang Suk Hyun sakit apa, Hyung?"

Refleks Kim So Eun memegang dahi putranya. Tidak. Tidak panas. Tidak ada demam. Jadi mengapa harus periksa darah?

"Itu yang aku tidak tahu," sahut Bae Soo Bin murung. "Ketika aku pulang, Yoon Eun Hye sudah pergi."

"Yoon Eun Hye Eonni?" geram Kim So Eun sengit. "Yoon Eun Hye Eonni yang membawa Wang Suk Hyun?"

"Periksa darah?" sela Lee Min Ho cemas. "Untuk apa?"

"Yoon Eun Hye tidak bisa dihubungi. Ponselnya dimatikan."

Dan mereka belum sempat memecahkan teka-teki ulah Yoon Eun Hye ketika dia muncul di ambang pintu. Kim So Eun tidak dapat lagi menahan kemarahannya.

"Kenapa anakku diambil darahnya, Eonni?" geramnya kesal.

"Untuk membuktikan dia bukan anak Kim Bum," sahut Yoon Eun Hye datar. Dibalasnya tatapan Kim So Eun yang berapi-api dengan dingin. "Dia anak Park Jung Min, kan? Kau berzina juga dengan dia?"

Mendidih darah Kim So Eun. Hampir ditamparnya wanita itu kalau dia tidak ingat di sana ada Wang Suk Hyun.

"Bawa Wang Suk Hyun ke dalam, Lee Min Ho," pintanya menahan marah. "Aku ingin bicara dengan Yoon Eun Hye Eonni."

"Mereka tidak perlu pergi," cetus Yoon Eun Hye puas. "Supaya mereka juga tahu dari tempat sampah mana kau berasal!"

"Jangan menghina Angel, Nunna!" geram Lee Min Ho dalam nada mengancam. Dia memang sakit parah. Tenaganya sudah jauh berkurang. Tapi rasanya dia masih mampu menghajar perempuan tidak tahu diri ini.

"Apa hakmu melarangku menghina adik iparku sendiri?" Yoon Eun Hye menoleh ke arah Lee Min Ho dengan sinis. "Aku lebih berhak daripada kau!"

"Yoon Eun Hye!" sela Bae Soo Bin cemas. Khawatir istrinya akan membuka rahasia yang akan membuat Lee Min Ho shock.

"Apa?" Yoon Eun Hye berpaling kepada suaminya dengan kesal. "Kau juga mau melindungi perempuan bejat ini?"

"Nunna!" bentak Lee Min Ho sengit. Napasnya tersengal didesak kemarahan. "Jaga mulutmu!"

"Masuk, Lee Min Ho!" perintah Bae Soo Bin tegas. "Biar aku yang mengurus istriku!"

“Tidak perlu!" sanggah Yoon Eun Hye pedas. "Aku bisa mengurus diriku sendiri! Biar saja adikmu di sini. Biar dia tahu perempuan macam apa yang ingin diwarisinya hartamu!"

"Ambil saja hartamu!" potong Kim So Eun berang. Tapi berhentilah merusak hidup orang lain!”

"O, begitu?" seringai sinis bermain di bibir Yoon Eun Hye. "Kau sendiri sudah merusak hidup adikku! Bahkan membunuh ayah kami!"

"Apa maksud Nunna?" bentak Lee Min Ho gusar. "Jangan menghina istriku!"

"Istrimu?" ejek Yoon Eun Hye dingin.

"Yoon Eun Hye!" hardik Bae Soo Bin cemas.

"Dia istri adikku! Dan Kim Bum masih hidup! Perempuan celaka ini sudah dua kali berzina! Dengan teman adikku. Sahabat karib suaminya sendiri. Dan kau, adik suamiku!"

"Yoon Eun Hye!" teriak Bae Soo Bin kalap. Dia sudah hendak menampar istrinya. Tetapi Yoon Eun Hye dengan gesit mundur ke belakang.

"Ralat kalau ucapanku salah," tantangnya garang. "Ini bukan fitnah. Aku bisa membuktikan anak ini bukan anak Kim Bum! Bisa membuktikan suaminya masih hidup! Dan mereka masih terikat pernikahan yang sah!"

Wajah Lee Min Ho langsung memucat. Bae Soo Bin dan Kim So Eun takut sekali melihatnya. Mereka khawatir Lee Min Ho jatuh pingsan. Apalagi Wang Suk Hyun yang berada dalam pelukan Kim So Eun langsung lari merangkul kaki ayahnya. Seolah-olah dia punya firasat, ayahnya dalam bahaya.

"Lee Min Ho," sergah Bae Soo Bin sambil menghambur menghampiri adiknya. "Jangan dengarkan perkataan istriku. Kami bisa menjelaskannya padamu...."

"Apa lagi yang harus dijelaskan?" ejek Yoon Eun Hye puas. "Semuanya sudah jelas!"

"Yoon Eun Hye!" suara Bae Soo Bin berubah ganas. "Menyingkir dari sini!"

Mula-mula Yoon Eun Hye hendak membangkang. Tetapi melihat tatapan mata suaminya, mendengar nada suaranya, dia tahu, sudah waktunya mematuhi perintah Bae Soo Bin. Untuk pertama kalinya Yoon Eun Hye melihat ketegasan suaminya. Dan entah mengapa dia merasa senang.

Jadi dia segera menyingkir. Lagi pula bukankah semua sudah beres? Dia sudah membereskan misinya.

Bae Soo Bin tidak menghiraukannya lagi. Dia sedang memeluk adiknya yang terhuyung lemas.

"Lee Min Ho," bisik Kim So Eun dengan perasaan bersalah. "Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya...."

Tetapi Lee Min Ho hanya menatapnya dengan nanar.

"Jawab saja pertanyaanku," desisnya lemah. "Benarkah semua yang dikatakannya?"

"Dengar, Lee Min Ho," potong Bae Soo Bin cemas. "Angel sudah lama ingin menjelaskannya padamu...."

"Jawab..." napas Lee Min Ho mulai tersengal. Bibirnya membiru. Cuping hidungnya bergerak.

Kim So Eun hanya mampu mengangguk sambil menahan air matanya. Dadanya sesak meredam tangis.

Lee Min Ho memejamkan matanya. Tidak ingin melihat Kim So Eun mengangguk. Tapi bahkan dengan mata terpejam dia masih dapat melihat anggukan itu. Bahkan berulang-ulang.

Wanita yang dicintainya masih istri orang. Mereka masih resmi menikah. Dan laki-laki itu adik ipar Bae Soo Bin.

Wang Suk Hyun anak haram. Anak gelap Angel dengan teman suaminya.

"Kim Bum sudah bilang akan menceraikan istrinya, Lee Min Ho," tukas Bae Soo Bin tergesa-gesa. Takut Lee Min Ho keburu pingsan. "Kalian bisa segera menikah. Jangan khawatir...."

Terlambat. Lee Min Ho sudah tidak dapat mendengarnya lagi.

* * *

Dokter Jae Hee menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Seharusnya dia belum boleh meninggalkan rumah sakit," keluhnya agak menyesal. "Kondisinya memburuk sangat cepat."

"Rencananya kami akan segera menikah, Dok," gumam Kim So Eun sedih. "Katakan terus terang, Dokter, apakah rencana kami terlalu muluk?"

"Waktu itu tidak," sahut Dokter Jae Hee muram. Tapi sekarang jangankan menikah. Bernapas saja sudah sangat sulit. Dia harus masuk ICU. Kalau sampai nanti siang napasnya bertambah sesak, kami harus memasang ventilator."

"Ventilator?" desis Kim So Eun gugup.

"Mesin pernapasan. Karena Tn. Lee Min Ho sudah tidak dapat bernapas dengan paru-parunya sendiri."

Ya Tuhan, keluh Kim So Eun getir. Betapa cepat Kau mengirim Malaikat Maut-Mu!

"Boleh saya menemuinya, Dokter?" tanya Kim So Eun gemetar menahan kesedihannya. Aku harus minta maaf. Aku harus menjelaskan segalanya. Sekarang. Sebelum dia pergi...

"Sekarang masih di UGD. Sebentar lagi kami kirim ke ICU."

Tetapi tak ada lagi yang dapat disampaikan Kim So Eun. Napas Lee Min Ho sudah demikian sesaknya sehingga slang oksigen yang dimasukkan ke hidungnya pun tak dapat lagi membantu pernapasannya.

Kim So Eun hanya mampu menggenggam tangannya ketika Dokter Jae Hee mengganti slang oksigennya dengan masker oksigen. Tapi tindakan ini pun tak mampu menolong banyak. Lee Min Ho begitu sulitnya bernapas seperti sedang tenggelam di air.

Kim So Eun tidak sampai hati menyaksikannya. Dia ingin menghambur keluar. Menangis tersedu-sedu di ruang tunggu. Tetapi dia sadar, inilah saat-saat terakhir Lee Min Ho. Dan selama dia masih diizinkan berada di dekatnya, dia tidak akan menyingkir. Kim So Eun ingin menjadi orang terakhir yang berada di samping Lee Min Ho pada saat dia berlalu.

Memang tak sempat lagi minta maaf. Tak sempat menjelaskan semuanya. Keadaan Lee Min Ho sudah terlampau parah.

Dia masih sadar. Dan tampaknya masih mengenali Kim So Eun. Tetapi dia sudah tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Hanya matanya yang menatap Kim So Eun sekilas. Mata yang menyimpan kesakitan dan penderitaan.

Tak ada rasa marah dalam mata Lee Min Ho. Tak ada kilasan dendam pada saat Kim So Eun melantunkan permintaan maafnya.

Tampaknya penderitaan dan dusta tak mampu melunturkan kebesaran jiwanya. Kebaikan jarinya. Dia tetap Lee Min Ho yang berhati mulia.

Ketika setengah jam kemudian napasnya semakin sesak, dia segera dibawa ke ICU. Dan Kim So Eun terpaksa menunggu di luar sementara dokter dan perawat menolongnya.

Bae Soo Bin duduk di sampingnya. Tetapi sejak tadi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Hanya suara Wang Suk Hyun yang mengisi ruang tunggu yang sunyi itu. Dia tidak henti-hentinya menanyakan ayahnya.

"Ayo kita lihat Ayah, Bu!" rengeknya berulang-ulang.

Sudah dua kali perawat mengusirnya. Anak kecil sebaiknya tidak dibawa ke rumah sakit. Apalagi ke ICU. Biarpun cuma di ruang tunggu.

Tetapi dia harus dibawa ke mana lagi? Kim So Eun tidak tahu kepada siapa dia harus menitipkan anaknya.

Bae Soo Bin sudah tidak dapat diajak bicara. Dia diam saja seperti tunggul. Wajahnya kosong. Sekosong tatapan matanya.

Dia baru membuka mulutnya ketika satu jam kemudian seorang perawat keluar dari ruang ICU dan menghampiri Kim So Eun.

"Keluarga Tn. Lee Min Ho?"

"Saya kakaknya," suara Bae Soo Bin terdengar kering tapi sangat tegas. "Dia bukan siapa-siapa."

Tanpa menoleh lagi pada Kim So Eun, dia mengikuti perawat ke dalam.

Dokter Jae Hee yang sedang duduk bersama Dokter Cha Seung Won dari ICU menatap Bae Soo Bin dengan heran.

"Di mana istrinya?"

"Dia bukan istrinya," sahut Bae Soo Bin mantap. "Mereka belum menikah. Saya kakak kandung Lee Min Ho."

"Kalau begitu tolong Tuan tanda tangani surat izin operasi ini. Karena kami akan segera memasang endotrakheal tube*) dan menghubungkannya ke mesin ventilator. Karena tindakan ini membutuhkan pembiusan, kami perlu izin keluarga Tn. Lee Min Ho."

*) Endotracheal Tube (ETT) adalah sejenis alat yang digunakan di dunia medis untuk menjamin saluran napas tetap bebas, ETT banyak digunakan oleh dokter dengan spesialisasi anestesi dalam pembiusan dan operasi. ETT dimasukkan kedalam trakea pasien untuk memastikan tidak tertutupnya trachea sebagai saluran pernapasan dan udara pernapasan dapat masuk kedalam paru-paru. ETT adalah alat yang paling tepercaya dalam menjamin saluran napas tetap bebas.

"Apa tindakan ini berbahaya, Dok?"

"Pasti ada risikonya. Apalagi untuk pasien dalam keadaan separah Tn. Lee Min Ho."

"Mungkinkah pernapasannya pulih kembali?"

"Kami tidak bisa menjanjikan apa-apa, Tuan. Tapi kami berusaha melakukan yang terbaik."

"Izinkan saya bertemu dengan adik saya, Dok."

"Jangan lama-lama, Tuan. Kita sedang berkejaran dengan waktu."

* * *

Ketika melihat Bae Soo Bin keluar dengan kepala tertunduk, Kim So Eun tahu waktunya tidak lama lagi. Lee Min Ho akan segera meninggalkan mereka. Lelaki yang baik itu akan segera pergi. Membawa kekecewaan dan sakit hati.

Mengapa aku selalu menyakiti hati pria yang mencintaiku, keluh Kim So Eun sendu. Mengapa aku selalu meracuni hidup mereka?

Bae Soo Bin duduk di kursi sambil menutup wajahnya. Dia menangis.

Perlahan-lahan Kim So Eun menghampirinya. Duduk di sampingnya. Dan memegang lengannya.

"Jika masih ada kesempatan, bolehkah aku menemui Lee Min Ho sekali lagi, Oppa?" pintanya lirih. "Aku akan minta maaf dan menjelaskan semuanya...."

"Tidak perlu," Bae Soo Bin menarik lengannya dan menjauhkan duduknya. Matanya yang berkaca-kaca menatap pilu ke arah pintu ruang ICU. "Lee Min Ho sudah tidak membutuhkannya lagi."

Tetapi ketika menjelang tengah malam perawat memanggil mereka, Bae Soo Bin mengambil Wang Suk Hyun yang sudah terlelap dalam gendongan Kim So Eun dan mengisyaratkannya untuk masuk.

"Barangkali Lee Min Ho ingin kau yang mengantarnya ke gerbang kematian," katanya menahan tangis.

Kim So Eun tidak mampu mengucapkan terima kasih karena tenggorokannya telah tersumbat air mata. Dia hanya mampu bangkit mengikuti perawat menghampiri tempat tidur Lee Min Ho.

Begitu masuk, aroma kematian sudah terasa pekat menyergap. Dengung monitor laksana desah napas Malaikat Maut yang sudah menunggu di tepi tempat tidur.

Lee Min Ho terbujur kaku di ranjang. Tidak bergerak sedikit pun. Pipa pernapasan mencuat dari mulutnya. Menciptakan kengerian yang tak mungkin lagi dapat dilupakan Kim So Eun.

"Tn. Lee Min Ho sudah koma," kata Dokter Cha Seung Won dengan suara perlahan. Sementara seorang perawat masih sibuk mengecek monitor alat-alat vitalnya. “Tekanan darahnya sudah menurun terus. Sekarang tinggal 60/30. Saya rasa waktunya tidak lama lagi."

Sambil menahan tangis Kim So Eun melangkah ke sisi pembaringan. Dia membungkuk dan mencium tangan Lee Min Ho.

"Maafkan aku, Lee Min Ho," bisiknya dengan air mata berlinang. "Seharusnya sejak dulu kuceritakan...."

Lee Min Ho tidak pernah memperoleh kesadarannya kembali. Malam itu juga dia mengakhiri penderitaannya. Dia pergi ke suatu tempat untuk bertemu kembali dengan anak-istrinya.

Tidak seorang pun tahu apakah dia masih sempat meminta sesuatu kepada kakaknya sebelum kehilangan kesadarannya. Ataukah mungkin dia mengamanatkan keinginan terakhirnya beberapa hari sebelumnya.

Yang jelas, harta Lee Min Ho di Paris seluruhnya diberikan kepada Wang Suk Hyun sesuai surat wasiatnya. Karena begitu dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi, Lee Min Ho langsung membuat surat wasiat baru. Wang Suk Hyun akan menerima warisannya pada saat umurnya dua puluh satu tahun.

Bukan itu saja. Bae Soo Bin juga menjual rumahnya. Membagi dua hasil penjualannya. Dan memberikan uangnya kepada Kim So Eun.

"Bukan untukmu," katanya kepada Kim So Eun. "Untuk Wang Suk Hyun. Warisan ayahnya."

Karena memang hanya hubungan kasih sayang Lee Min Ho dan Wang Suk Hyun yang tak pernah berubah.

Sayang Wang Suk Hyun tidak sempat melihat ayahnya pergi. Karena dia sedang tidur nyenyak. Tetapi Kim So Eun percaya, dalam tidurnya Wang Suk Hyun pasti melihat Ayahnya datang.

Ayahnya permisi pergi seperti biasa kalau dia pergi kerja. Bedanya kali ini dia tidak pernah kembali. Mungkin suatu saat nanti, kalau benar di balik tapal batas kehidupan ada akhirat, mereka dapat berjumpa kembali. Karena Kim So Eun yakin, surga disediakan untuk orang sebaik Lee Min Ho.

Wang Suk Hyun masih sempat minta permen kepada ibunya. Dan memasukkannya ke peti mati Lee Min Ho.

Kalau Ayah bangun nanti, pasti akan dimakannya permen itu. Dia akan menjulurkan lidahnya seperti biasa. Dan menciut-ciut kepedasan.

Kim So Eun berusaha menahan air matanya di depan Wang Suk Hyun. Dia sedih kehilangan Lee Min Ho. Tetapi Kim So Eun tahu, Wang Suk Hyun-lah yang paling kehilangan. Kalau suatu hari dia sadar ayahnya tidak akan pernah kembali. Kalau Wang Suk Hyun merindukan Ayah, dia hanya dapat melihat fotonya. Dan semua benda yang ditinggalkannya.

Tetapi Kim So Eun percaya, dari semua yang ditinggalkan Lee Min Ho untuk Wang Suk Hyun, cintanyalah yang terbesar.

Cinta itu yang membuat Lee Min Ho memaksa kakaknya untuk menyerahkan warisannya kepada anaknya. Tidak peduli sekeras apa istri Bae Soo Bin memprotes.

Yoon Eun Hye memang sangat marah dan mereka terlibat pertengkaran terus-menerus sampai akhirnya setahun kemudian mereka bercerai.

Bersambung…

Romance Zero (Chapter 23)



YOON EUN HYE marah sekali. Kesal. Kecewa.

Bayangkan saja. Seumur hidupnya dia telah bekerja keras. Memajukan perusahaan ayahnya. Membangkitkan perusahaan suaminya yang hampir bangkrut.

Lalu apa hasilnya? Kursi direktur di perusahaan ayahnya disediakan untuk adiknya. Dan kini kursi itu akan diwariskan untuk anaknya.

Suaminya sudah mengajaknya ke notaris.

"Ada surat-surat yang harus kau tanda tangani," katanya sebelum pergi. "Supaya tidak ada masalah di kemudian hari."

Bae Soo Bin ingin secepatnya menyelesaikan masalah warisan mereka.

"Kita sedang berkejaran dengan waktu," katanya serius. "Aku ingin Lee Min Ho sudah memperoleh haknya sebelum dia meninggal."

"Hak apa?" bantah Yoon Eun Hye ketus. "Jangan-jangan dia sudah meninggal sebelum sempat mencicipi warisannya."

"Kalau Lee Min Ho sudah menikah, biarlah anak-istrinya yang mewarisinya. Itu keinginannya yang terakhir."

Tapi perempuan sampah itu tidak berhak mencicipi uang yang diperoleh dari hasil cucuran keringatku, geram Yoon Eun Hye muak. Dan bocah yang katanya lucu itu! Bocah yang tampangnya tidak mirip sama sekali dengan Kim Bum... benarkah dia anaknya? Atau ibunya yang bejat itu berselingkuh lagi dengan orang lain?

Yoon Eun Hye tidak mau ikut suaminya ke notaris. Dia malah sengaja menyingkir. Pulang ke rumah orangtuanya.

Ketika dia tiba di depan rumah, Kwon Sang Woo membukakan pintu gerbang untuknya.

Dan melihat pengawal almarhum ayahnya yang setia itu, tiba-tiba saja Yoon Eun Hye sadar wajah siapa yang melekat di paras anak Kim Bum....

* * *

"Seandainya hidup ini punya cetakan kedua," desah Kim So Eun lirih. "Seandainya waktu bisa diputar mundur..."

Kim Bum membalikkan tubuhnya. Tidak ingin melihat air mata penyesalan istrinya.

Seandainya aku bisa mengeringkan Sungai Barceloneta, keluhnya dalam hati. Seandainya aku tidak pernah bertemu denganmu!

"Kenapa tidak pernah kau katakan kepadaku, Kim Bum?"

"Apa yang harus kukatakan? Ayah meninggal karena aku melanggar janji?"

"Kenapa tidak bilang terus terang kau ingin membatalkan perceraian kita? Supaya aku tidak usah melarikan diri bersama Wang Suk Hyun!"

"Sudahlah," gumam Kim Bum murung. "Semua sudah terlambat."

"Kim Bum," sambil menahan tangis Kim So Eun memeluk suaminya dari belakang. Tidak peduli seandainya Kim Bum menghempaskannya sekalipun. Tetapi kali ini Kim Bum tidak menolaknya. Dia diam saja. Seperti sedang menahan gejolak perasaannya sendiri. "Masih adakah hari esok untuk kita?"

Kim Bum menggeleng.

"Aku tidak bisa mengatakannya kepada arwah Ayah. Kau tidak berani mengatakannya pada lelaki itu. Rasanya Barceloneta masih mengalir. Tapi bukan ke hati kita lagi."

"Hidup Lee Min Ho takkan lama lagi, Kim Bum," desah Kim So Eun getir. "Masih bolehkah aku dan Wang Suk Hyun kembali padamu? Masih adakah kesempatan ketiga untukku?"

Kim Bum belum sempat menjawab ketika terdengar teriakan Wang Suk Hyun.

"Ibu, kapan kita menengok Ayah?"

Sambil menengadah untuk menelan air mata yang menyekat tenggorokannya, Kim Bum memegang kedua belah tangan Kim So Eun. Lalu dia memutar tubuhnya dan melepaskan genggamannya.

"Pergilah," katanya datar. "Bawa mobil itu untuk Wang Suk Hyun. Tidak usah dikembalikan. Dia yang memilih warnanya. Hitam. Sehitam air Delstres Dragons."

Kim So Eun tidak dapat menahan tangisnya lagi. Dia memeluk Kim Bum sambil terisak. Sesaat Kim Bum merasa kehangatan menyergap dadanya. Kerinduan meronta tatkala tubuh wanita yang dicintainya terbenam dalam pelukannya.

Pada saat yang sama, Kim So Eun tenggelam dalam kenikmatan yang sudah lama dirindukannya. Terdampar kembali di pelabuhan yang sudah lama ditinggalkan membersitkan kebahagiaan yang amat dalam meskipun hanya sesaat.

"Jangan tinggalkan aku, Kim Bum!"

"Aku tidak pernah meninggalkanmu. Kau yang selalu meninggalkanku!"

"Ibu!" Wang Suk Hyun memburu ibunya dengan cemas. Ditarik-tariknya baju Kim So Eun. "Kenapa menangis, Bu?"

"Ucapkan terima kasih pada Ayah Kim Bum, Wang Suk Hyun,” pinta Kim So Eun sambil melepaskan pelukannya. “Karena Ayah Kim Bum yang telah memberimu mobil."

Bukan itu saja. Ada pengorbanan yang lebih besar lagi yang diberikan Kim Bum untuk anaknya. Tapi Kim So Eun tidak mampu menjabarkannya. Bagaimana menjelaskannya kepada anak yang baru berumur empat tahun? Betapa cinta ayahnya telah mengalahkan segalanya!

Wang Suk Hyun melongo bingung. Tidak mengerti mengapa dia harus memanggil "Ayah" kepada orang lain? Paman Galak memang sudah tidak seram lagi. Tapi kenapa harus dipanggil Ayah?

"Ucapkan terima kasih, Wang Suk Hyun!" desak Kim So Eun tegas. "Katakan… terima kasih, Ayah Kim Bum."

Meskipun tidak mengerti, Wang Suk Hyun membeo saja. Daripada Ibu marah dan dia dicubit. Sakit

“Terima kasih, Ayah Kim Bum."

Ketika mendengar anaknya memanggil "Ayah" untuk pertama kalinya, Kim Bum tak dapat menyembunyikan air matanya lagi. Dengan mata berkaca-kaca dia meraih Wang Suk Hyun ke dalam gendongannya.

Kim So Eun memalingkan wajahnya sambil menggigit bibirnya menahan tangis.

* * *

Yoon Eun Hye wanita yang sangat cerdas. Pengetahuannya pun luas. Dia tahu apa yang disebut maternal impresi. Karena sangat terobsesi pada seseorang, seorang wanita hamil dapat mewariskan sifat atau ciri fisik orang itu pada anaknya.

Mungkin saja Kim So Eun punya hubungan yang sangat dekat dengan Park Jung Min. Begitu dekatnya sampai profil Park Jung Min melekat pada wajah anaknya.

Tetapi benarkah hanya maternal impresi? Bukan perselingkuhan?

Mereka tinggal serumah. Park Jung Min memang sangat setia pada Kim Bum. Tapi dia masih muda. Dan dia laki-laki.

Mungkin saja Kim So Eun yang menggodanya. Dia memang perempuan murahan. Tidak boleh melihat pria menganggur.

Yoon Eun Hye memutuskan untuk bertindak cepat. Jika Wang Suk Hyun bukan anak Kim Bum, dia tidak berhak atas kursi direktur di perusahaan keluarga mereka! Dan jika benar Wang Suk Hyun anak Park Jung Min, Kim Bum pasti marah sekali.

"Jangan pikir aku melakukannya untukmu," kata Kim Bum waktu dia berjanji akan menceraikan istrinya. "Aku melakukannya untuk Wang Suk Hyun."

Kalau Kim Bum tahu Wang Suk Hyun bukan anaknya, untuk apa dia berkorban? Mungkin dia akan membatalkan perceraian dan perempuan itu tidak dapat mewarisi harta Lee Min Ho!

* * *

Kedatangan Kim So Eun dan Wang Suk Hyun membuat semangat Lee Min Ho pulih kembali. Dia bisa meninggalkan rumah sakit lebih cepat dari dugaan dokter.

"Semangatnya yang menopang fisiknya," kata Dokter Jae Hee kagum. "Memang ada hal-hal yang di luar prediksi medis. Mudah-mudahan dia bisa menaklukkan penyakitnya. Paling tidak menahannya lebih lama."

"Maksud Dokter, Lee Min Ho bisa sembuh?" tanya Kim So Eun harap-harap cemas.

"Prognosisnya sangat buruk," sahut Dokter Jae Hee terus terang. "Kankernya sudah stadium empat. Sudah metastasis ke hati dan paru. Secara medis, tidak ada harapan. Tapi seperti saya katakan tadi, kadang-kadang ada hal-hal yang di luar prediksi medis. Jadi kita berharap saja Tn. Lee Min Ho mampu bertahan. Tentu saja dengan dukungan moral anak-istrinya."

*) Prognosis > ramalan tentang peristiwa yg akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi.

Lama Kim So Eun tercenung. Ketika berpisah dengan Kim Bum di lobi hotel tadi, dia sudah ingin berterus terang pada Lee Min Ho. Dia masih istri laki-laki lain. Suaminya belum meninggal. Dia tidak dapat menikah dengan Lee Min Ho.

Tetapi ketika bertemu dengan lelaki itu, Kim So Eun tidak sampai hati mengatakannya. Dan kini Dokter Jae Hee menambah keraguannya. Jika dia berterus terang, semangat Lee Min Ho pasti langsung hancur. Daya tahannya ambruk. Mungkin dia tidak mampu lagi bertahan.

Kim So Eun benar-benar dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit. Melihat Kim Bum pergi dengan lunglai, dia hampir saja menghambur untuk merangkulnya dari belakang.

Jangan tinggalkan aku, Kim Bum! Aku sangat mencintaimu!

Tetapi ketika di rumah sakit dia melihat Lee Min Ho menyambut kedatangannya dengan gembira, dia tak sampai hati membuka mulutnya.

Aku masih punya suami, Lee Min Ho. Aku tidak bisa menikah denganmu. Dan Wang Suk Hyun menambah kebimbangannya. Wang Suk Hyun begitu menyayangi Lee Min Ho. Seperti Lee Min Ho juga sangat mencintainya. Pertemuan mereka membangkitkan keharuan di hati Kim So Eun. Dan kebisuan membungkamnya.

"Kenapa, Angel?" Seperti baru sadar betapa diamnya Kim So Eun, Lee Min Ho memegang tangannya. Sejak tadi Wang Suk Hyun berceloteh terus. Percakapan mereka menyita seluruh perhatian Lee Min Ho Mendominasi suasana. "Dokter Jae Hee meramalkan hal-hal yang paling jelek?" Lee Min Ho tersenyum lebar. "Jangan khawatir. Aku akan membuat kejutan. Dengan bantuanmu dan Wang Suk Hyun, aku akan mengalahkan penyakit terkutuk ini."

Dan Lee Min Ho tidak membuang waktu. Pada hari ketiga sepulangnya dari rumah sakit, dia menitipkan Wang Suk Hyun di rumah kakaknya. Lalu sore itu juga dia membawa Kim So Eun ke sebuah hotel bintang lima.

Ketika mereka masuk ke kamar yang telah dipesan Lee Min Ho, ada sebotol sampanye dan dua gelas kosong di atas meja.

"Kau boleh minum alkohol?" tanya Kim So Eun agak cemas. "Tidak memperburuk kondisi hatimu?"

"Tidak selama ada kau di hatiku," sahut Lee Min Ho mantap. Senyumnya begitu lebar. Begitu cerah. Begitu bahagia.

Tanpa ragu-ragu dia membuka sumbat botol sampanye dan menuangkannya ke gelas. Tetapi dia tidak langsung menyerahkannya kepada Kim So Eun. Dia meletakkannya di atas meja.

"Kita baru minum setelah kau jawab pertanyaanku," katanya sambil berlutut di depan Kim So Eun. "Angela Kim, maukah kau menikah denganku?"

Lee Min Ho membuka sebuah kotak kecil dari beludru biru. Dan sebentuk cincin platinum bermata berlian berkilau menyilaukan mata.

Sesaat kenangan Kim So Eun kembali ke sebuah malam yang gelap di Delstres Dragons. Dalam sebuah sampan kayu berwarna hijau. Ketika Kim Bum melamarnya. Dan memasukkan sebentuk cincin belah rotan dari emas delapan belas karat Tidak ada harganya dibandingkan cincin yang kini diberikan Lee Min Ho. Tetapi kalau cinta memerlukan stempel, itulah meterai yang tak tergantikan.

Sesaat Kim So Eun hendak menolaknya. Dia merasa tak pantas menerima cincin semahal itu. Dan merasa tak patut menerima cincin kawin dari seorang laki-laki pada saat dia masih menjadi istri lelaki lain.

Tetapi bagaimana menolak permohonan seorang pria di ambang maut? Jika dusta dapat menyelamatkan seorang laki-laki sebaik Lee Min Ho, risiko apa lagi yang tidak berani diambilnya?

Dan melihat kebahagiaan Lee Min Ho ketika dia menganggukkan kepalanya, Kim So Eun tidak menyesal telah menipunya.

Hatinya menangis ketika Lee Min Ho menyelipkan cincin itu di jari manisnya. Wajah Kim Bum langsung terbayang di depan matanya. Tatapan Kim Bum begitu terluka. Istrinya memakai cincin dari lelaki lain!

Maafkan aku, Kim Bum, desahnya getir.

Lee Min Ho menghapus air mata yang meleleh ke pipi Kim So Eun.

"Jangan ada air mata lagi, Angel," bisiknya lembut. "Lebih-lebih di hari bahagia ini. Dan hari-hari penuh madu yang akan kita lalui bersama. Percayalah, di sampingmu dan Wang Suk Hyun, aku akan hidup lebih lama dari dugaan dokter."

* * *

Yoon Eun Hye bertindak cepat. Dia menggunakan kesempatan yang sangat baik ketika sore itu Wang Suk Hyun ditinggal di rumah bersama Bae Soo Bin. Dia membawa anak itu ke laboratorium. Mengambil sampel darahnya. Dan menunggu hasilnya.

Lalu tanpa membuang waktu lagi, malam itu juga dia menemui adiknya. Kebetulan malam itu Kim Bum tidak pulang ke rumah orangtua mereka. Dia sedang bermalam di rumah peristirahatannya di daerah Wizard Residence. Mengasingkan diri karena pikirannya sedang kacau.

Kim Bum suka sekali berada di tempat ini. Bukan saja karena suasananya yang tenang dan damai. Terapi juga karena dari teras vilanya dia bisa melihat ke bawah. Ke Sungai Aegukga yang mengingatkannya pada Delstres Dragons.

"Ada rahasia yang ingin kuceritakan padamu," kata Yoon Eun Hye begitu menemui adiknya.

Kim Bum memang belum tidur walaupun sudah jauh malam. Dia masih melamun di kamar kerjanya. Menghadapi laptop terbuka yang sudah dua jam lebih ditatapnya.

Di layar komputer jinjing itu terpapar strategi pemasaran yang dipresentasikan stafnya dalam pertemuan siang tadi. Kim Bum memang tidak ikut meeting. Jung So Min yang mengirimkannya melalui e-mail.

Tetapi sejak tadi Kim Bum tidak mampu berkonsentrasi. Yang tampil di depan matanya hanya wajah wanita yang selalu dirindukannya. Dan paras lucu seorang bocah berumur 4 tahun.

"Jangan tinggalkan aku, Kim Bum...." Desahan itu menggema di sela-sela dentingan piano yang mengalunkan Plaisir D'amour. Salah satu persembahan Richard Clayderman yang paling manis.

Richard Clayderman - Plaisir d'Amour


*) Richard Clayderman (lahir di Paris, Perancis, 28 Desember 1953; umur 57 tahun), terlahir dengan nama Philippe Pag├Ęs adalah pianis Perancis yang telah menghasilkan banyak album piano pop maupun klasik. Ia telah merekam lebih dari 1.200 lagu-lagu instrumental, termasuk komposisi asli karya Paul de Senneville dan Olivier Toussaint. Lagu yang dimainkannya tergolong lagu-lagu yang mudah didengarkan, termasuk aransemen ulang lagu-lagu pop, musik film, dan lagu-lagu klasik yang populer.

Nada suara itu begitu penuh permohonan. Begitu trenyuh. Begitu menyakitkan. Rasanya Kim Bum rela berenang menyeberangi Barceloneta untuk meraih mutiaranya yang hilang.

Tetapi... masih miliknyakah mutiara itu? Atau dia telah diterbangkan seekor rajawali ke puncak Himalaya? Tinggi tak terengkuh. Jauh tak tergapai.

Lalu hembusan angin sepoi-sepoi basa membelai hatinya yang luka. Menitikkan kesegaran walau hanya sekejap.

"Ayah Kim Bum...." Berkaca-kaca mata Kim Bum setiap kali suara itu menyentuh telinganya.

Kenangannya kembali ke sebuah boks bayi di rumah sakit. Di balik kaca tebal yang memisahkan mereka.

Ketika untuk pertama kalinya Kim Bum melihat anaknya. Anak yang diberinya napas kehidupan…

"Aku tidak tertarik," sahut Kim Bum tanpa menoleh. Mengapa ada perempuan yang tidak punya hati seperti kakaknya? Di mana hatinya dititipkan ketika dia dilahirkan? Mengapa hidupnya hanya dipakai untuk menyusahkan orang lain?

Tanpa bertanya Kim Bum sudah tahu apa yang ingin disampaikan kakaknya. Pasti sesuatu yang merugikan Kim So Eun.

"Kau pasti kaget."

Tidak lagi. Semua yang paling buruk sudah menghampiriku. Apa lagi yang lebih jelek yang belum kualami?

"Aku sudah mengunjungi rumah sakit tempat istrimu melahirkan. Sudah datang ke rumah sakit tempat Park Jung Min meninggal. Dan sore tadi, aku sudah mengambil contoh darah anakmu...."

"Apa hakmu mengambil darah Wang Suk Hyun?" bentak Kim Bum gusar. "Heran Kim So Eun tidak menamparmu!"

"Dia sedang ke hotel bersama calon suaminya," Yoon Eun Hye menyeringai menyakitkan sekali. "Barangkali mereka masih perlu rest drive meskipun sudah empat tahun tidur di garasi yang sama."

"Sudahlah, jangan membuang-buang waktumu mengintip urusan orang," balas Kim Bum sambil menyembunyikan kecemburuannya. "Lebih baik hitung saja berapa uangmu yang akan diberikan suamimu kepada adiknya."

"Kau rela istrimu menikah dengan orang lain?"

"Sudah kukatakan, aku akan menceraikannya demi anakku."

"Juga kalau dia bukan anakmu?"

Sekarang Kim Bum mengangkat wajahnya. Dan menatap kakaknya dengan berang.

"Apa Nunna tidak bisa bernapas kalau tidak menyusahkan orang lain?"

Sebaliknya Yoon Eun Hye menatap adiknya dengan puas. Senyumnya mengembang lebar.

"Anakmu bergolongan darah A! Golongan darah istrimu O."

Kim Bum tertegun. Dia mengawasi kakaknya dengan nanar.

"Darahmu golongan B, kan? Jadi kau tidak mungkin ayah Wang Suk Hyun!"

Kim Bum tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tiba-tiba saja kejadian tragis malam itu kembali ke benaknya.

"Bukan salahnya..." gumam Park Jung Min di ambang maut. "Dia sangat mencmtaimu...."

"Golongan darah Park Jung Min A," sambung Yoon Eun Hye dramatis sekali. "Memang bukan jaminan dia ayah Wang Suk Hyun. Tapi dia lebih punya kemungkinan daripada kau. Karena kau pasti bukan ayah Wang Suk Hyun. Sekali lagi istrimu yang tercinta membohongimu. Dia berselingkuh dengan lelaki lain. Dan aku yakin orang itu Park Jung Min. Anakmu seperti sampelnya, kan?"

Karena itukah Park Jung Min sengaja membunuh diri? Melemparkan dirinya ke depan pisau yang terhunus? Bukan hanya untuk menyelamatkan Kim Bum. Tapi sekaligus untuk membayar hutangnya!

"Kita bisa minta tes DNA," sambung Yoon Eun Hye, puas sekali melihat adiknya tertegun beku. "Kau berhak melakukannya. Bukankah anak itu calon direktur pabrik rokok keluarga kita?"

Jadi itu sebabnya Kim So Eun ingin menyingkirkan bayinya! Karena anak itu bukan anak Kim Bum. Anak itu anak haram! Anak... Park Jung Min?

Bukan salah Kim So Eun. Itu kata-kata Park Jung Min yang terakhir. Itukah pengakuannya karena telah... memperkosa Kim So Eun?

Karena itu Kim So Eun menolak kugauli, pikir Kim Bum penuh penyesalan. Karena dia masih merasa jijik. Tapi dia tidak mau menceritakan apa sebabnya.

Kim So Eun tidak mau merusak nama Park Jung Min. Tidak mau menodai persahabatan mereka! Dan dia harus menanggung akibatnya. Dibenci suaminya sendiri. Dijauhi orang yang dicintainya. Bahkan diancam perceraian! Dipaksa berpisah dengan anaknya!

Ya Tuhan! Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

Yoon Eun Hye menyodorkan telepon tanpa kabel kepada adiknya.

“Telepon istrimu," katanya tegas. "Supaya dia tahu, rahasianya telah kubongkar!"

Huh! Dia bisa mengelabui adikku! Tapi jangan harap bisa menipu Yoon Eun Hye!

"Bukan rahasia," sahut Kim Bum dingin. "Park Jung Min sudah mengatakannya padaku. Sesaat sebelum dia tewas. Kim So Eun tidak bersalah."

"Hah?" Yoon Eun Hye terlonjak antara terperanjat dan marah. "Kau sudah tahu anak itu bukan anakmu tapi masih tetap ingin menjadikannya direktur?"

"Aku boleh menunjuk siapa pun sebagai penggantiku."

Yoon Eun Hye menggeram gusar.

"Kau boleh mewariskan hakmu kepada siapa pun. Tapi aku tidak rela memberikan harta keluarga kita kepada anak Park Jung Min! Lebih-lebih lagi, aku tidak sudi membagi hartaku kepada orang yang tidak berhak!"

Sekarang Kim Bum mengawasi kakaknya dengan dingin.

"Pernahkah ada tempat lain di otakmu yang tidak berisi uang?"

Yoon Eun Hye membalas tatapan adiknya dengan dingin.

"Kau tidak pernah merasakannya. Karena sejak lahir, semua yang kau inginkan selalu datang sendiri menghampirimu. Tapi aku harus mencarinya kalau tidak mau menerima sisa-sisamu!"

"Itukah yang membuat Nunna menjadi monster? Karena sejak kecil iri kepada adik kandung sendiri?"

"Kau akan menyesal, Kim Bum!" geram Yoon Eun Hye sengit.

"Aku memang sudah menyesal, Nunna," sahut Kim Bum datar. "Jika hidup ini punya cetakan kedua, alangkah banyak yang harus diperbaiki."

"Kau tidak bisa menceraikan istrimu dan mengambilnya kembali kalau Lee Min Ho sudah mati! Kau juga tidak bisa mengakui anak Park Jung Min sebagai anakmu! Tidak bisa mewariskan pabrik rokok kita padanya! Jasad Ayah akan berbalik di kuburan!"

"Aku tidak akan mengubah keputusan. Kami akan bercerai Kim So Eun akan menerima warisan iparmu. Dan Wang Suk Hyun akan menerima warisanku kelak."

"Kau sengaja menyakiti hatiku!" teriak Yoon Eun Hye kalap. "Kau manusia yang paling busuk atau yang paling bodoh!"

Bersambung…

Romance Zero (Chapter 22)



MULA-MULA niat Kim Bum sudah bulat. Dia akan menceraikan Kim So Eun. Dan membawa Wang Suk Hyun. Seperti janjinya pada almarhum ayahnya.

Tetapi ketika mendengar apa keinginan terakhir Lee Min Ho, dia mengubah niatnya.

"Aku tidak akan menceraikanmu," katanya tegas di kamar hotel mereka malam itu. "Sampai dia mati."

Kim So Eun tahu mengapa Kim Bum melakukannya. Dan dia tidak dapat menyalahkannya. Kadang-kadang cinta memang dapat mengubah manusia menjadi kejam.

"Apa bedanya menceraikanku sekarang atau nanti, Kim Bum?" tanya Kim So Eun sedih. "Untuk kita tidak ada bedanya lagi. Tapi bagi Lee Min Ho, besar sekali artinya."

"Lalu siapa dia sampai aku harus memikirkannya?"

"Anggaplah membalas jasanya atas apa yang telah dilakukannya untuk Wang Suk Hyun."

"Dan untukmu juga? Untuk kehangatan yang telah diberikannya padamu di ranjangnya?"

Dalam keadaan biasa, Kim So Eun pasti sudah melayangkan tangannya. Dia merasa sangat terhina. Tapi masih berhakkah dia menampar suaminya? Kim Bum tidak salah. Dia memang sudah berselingkuh. Berzinah!

"Lihat saja Wang Suk Hyun!" bentak Kim So Eun menahan tangis. Dia mengacungkan terunjuknya ke putra mereka yang sudah tidur lelap di ranjang. "Kau lihat bagaimana sayangnya dia pada Lee Min Ho?"

"Itu semua salahmu!" balas Kim Bum sama marahnya. "Karena kau membawanya kepada lelaki itu!"

"Salahmu juga! Kau ingin merampasnya dariku!"

"Dia memang anakku!"

"Aku ibunya!" Dan kau bukan ayahnya!

"Kau tidak menginginkannya!"

"Tidak sesudah aku merasakan kehadirannya di perutku! Tapi kau tidak bisa memaafkanku!"

Saat itu aku sudah memaafkanmu! Tapi sekarang aku tidak bisa lagi mengampuni kesalahanmu! Tapi menceraikanmu untuk memberikan kebahagiaan kepada lelaki yang telah menodaimu? Jangan harap!

"Kim Bum, tolonglah aku," pinta Kim So Eun sungguh-sungguh.

"Menolongmu?" sindir Kim Bum sambil tersenyum pahit. "Maksudmu, menceraikanmu? Sejak kapan kau anggap diceraikan sebagai pertolongan?"

"Jangan lakukan untukku, Kim Bum. Lakukanlah untuk Wang Suk Hyun. Dia sangat menyayangi Lee Min Ho. Sudah terlambat untuk mengubahnya. Aku tidak ingin dia membenci ayahnya sendiri untuk apa yang kau lakukan pada Lee Min Ho sekarang."

"Dia tidak membenci ibunya untuk apa yang hampir dilakukannya dulu? Ketika dia masih dalam kandungan?"

Sekali lagi Kim So Eun merasa hatinya pedih tertikam duri. Tetapi dia sudah tidak dapat menangis lagi. Bahkan mengeluh pun dia sudah tidak mampu. Semua penderitaan datang laksana badai. Tak menyisakan sepotong kebahagiaan pun. Bahkan bersua dengan suami yang sangat dirindukannya tidak membawa keceriaan. Perjumpaan itu malah mengiris hatinya menjadi serpihan yang nyeri.

Jadi dia hanya menjawab dengan lesu. Tidak ingin membantah. Tidak berniat membela diri.

“Tidak ada yang memberitahu. Kau ingin aku yang memberitahu Wang Suk Hyun?"

Kim Bum bukan tidak merasakan kesedihan istrinya. Tetapi melihat Kim So Eun begitu apatis, dia ingin menusuknya sekali lagi. Sekadar menenangkan hatinya. Membuat rasa bersalahnya atas kematian ayahnya berkurang. Tapi benarkah rasa sakitnya berkurang setelah menyakiti Kim So Eun? Mengapa rasa lega itu belum muncul juga? Mengapa tak ada kepuasan yang didambakan melihat Kim So Eun mengerut kesakitan?

"Mungkin pada saat yang tepat nanti, aku yang akan beritahu dia."

"Mungkin saat itu kau sudah tahu mengapa aku ingin melakukannya." Sesudah mengucapkan kata-kata itu Kim So Eun menyesal. Dia sudah kelepasan bicara. Tidak mungkin menariknya kembali.

Kim Bum menatapnya dengan dingin.

"Kau belum ingin mengatakannya?"

Aku tidak akan pernah mengatakannya. Biarlah semua itu hanya akan menjadi rahasiaku. Rahasiaku bersama Park Jung Min!

Malam itu menjadi malam yang penuh siksaan. Mereka tidur di dua ranjang bersebelahan. Dalam sebuah kamar. Di bawah satu atap. Tapi tak ada seorang pun yang berinisiatif untuk menyeberang. Mereka membeku di bawah selimut masing-masing. Meredam kerinduan yang bergejolak di dada.

Kim So Eun merasa dirinya sangat hina. Kotor. Ternoda. Sehingga tak pantas lagi menyentuh tubuh suaminya.

"Jangan sentuh aku lagi," kata-kata Kim Bum yang bernada jijik menusuk telinganya. "Karena Sungai Barceloneta pun tak mampu lagi membersihkanmu."

Sementara Kim Bum dibelenggu oleh kesombongan dan dendam. Kim So Eun tak pantas lagi menjadi istrinya. Dia sudah menjual tubuhnya pada lelaki yang mampu membiayai hidupnya. Dia sudah berselingkuh dengan lelaki lain!

Dan untuk perempuan sehina itu Kim Bum telah mengorbankan ayahnya. Ayah yang di balik kekerasannya sesungguhnya sangat menyayanginya. Apa yang belum diberikan Ayah kepadanya? Hidup yang enak. Kemewahan berlimpah. Masa depan yang cerah. Bahkan pada saat dia berduka karena kehilangan sahabat karibnya, Ayah menghadiahkan mobil yang sangat diidam-idamkannya.

"Ayah tahu mobil ini tidak dapat menggantikan Park Jung Min," katanya saat menyerahkan kunci mobil itu. "Tapi paling tidak dapat mengurangi kesedihanmu.”

Dan ayah yang penuh kasih sayang seperti itu yang telah dikhianatinya! Kim Bum telah melanggar janjinya sendiri. Dan dia harus menebus kesalahannya dengan penyesalan seumur hidup!

Jadi bagaimana dia dapat memeluk istrinya menumpahkan kerinduan meskipun darah dan dagingnya menginginkannya?

* * *

"Akan kubawa Wang Suk Hyun mencari mobil" kata Kim Bum selesai Kim So Eun memandikan anaknya. "Nanti siang setelah check-out kita langsung pulang."

Kim So Eun tertegun. Tangannya yang sedang mengeringkan tubuh Wang Suk Hyun dengan handuk langsung mengejang.

"Pulang ke mana?"

"Ke mana lagi? Ke rumahku."

"Tapi..."

"Kau masih istriku. Aku berhak membawa istri dan anakku ke mana pun aku mau."

"Kita tengok Ayah ya, Bu?" Wang Suk Hyun mengajukan pertanyaan yang sama yang sudah lima kali diajukannya sejak bangun tidur.

"Kita pergi beli mobil," Kim Bum berjongkok di depan anaknya. Lalu dia mengajukan pertanyaan yang sering diajukan ayahnya ketika dia masih kecil. "Wang Suk Hyun mau mobil apa?"

Wang Suk Hyun melongo. Ditatapnya Paman Galak dengan matanya yang bulat lucu.

"Mobil-mobilan?"

"Mobil yang sesungguhnya."

"Kim Bum..."

"Jangan ajari aku," potong Kim Bum judes. "Aku berhak memberikan apa yang diingini anakku."

"Anak siapa?" potong Wang Suk Hyun bingung.

"Anak Ayah."

"Ayah di rumah sakit," gumam Wang Suk Hyun tegas.

"Ayahmu di sini.'" bentak Kim Bum kesal. Sesudah membentak dia menyesal. Diraihnya Wang Suk Hyun ke pelukannya. "Cepat ganti baju, Kim So Eun. Kita pergi cari mobil."

"Jangan manjakan dia, Kim Bum...."

"Jangan rusak dia seperti ayahnya?" sindir Kim Bum sinis. "Aku lebih takut lagi kalau dia rusak seperti ibunya."

"Ibu siapa?" sela Wang Suk Hyun makin bingung.

"Ibu bebek," sahut Kim Bum asal saja.

"Donal Bebek?" mata Wang Suk Hyun membeliak penuh semangat "Ayah sering membacakan dongeng untukku. Kalau Aku mau tidur."

Sesaat Kim Bum tertegun. Jadi Lee Min Ho selalu mendongengi anaknya sebelum tidur.

"Dia ayah yang baik," gumam Kim So Eun lirih. "Apa pun pendapatmu tentang dia, sulit mencari kesalahannya sebagai ayah Wang Suk Hyun. Jangan sampai pertikaian kita membuat orang yang tidak bersalah menderita, Kim Bum."

Jadi aku harus bagaimana, pikir Kim Bum muram ketika dia sedang minum es krim bersama anaknya. Menyerahkan anakku kepada orang yang tidak berhak, betapapun baiknya dia?

Mereka baru saja membeli sebuah mobil kecil. Mobil kodok dengan mesin di belakang tubuhnya. Karena itulah mobil yang disukai Wang Suk Hyun.

"Seperti mobil-mobilanku yang dibelikan Ayah."

Jadi apa pun yang dilakukan Wang Suk Hyun, selalu dikaitkannya dengan "Ayah". Lelaki itu hadir dalam setiap helaan napasnya. Tak mungkin mengenyahkannya dari benak anaknya.

Kim Bum ingin marah. Ingin membentaknya menyuruh diam. Ingin menyuruh Wang Suk Hyun berhenti membicarakan lelaki sialan itu.

Tetapi bagaimana memberi pengertian kepada seorang anak berumur empat tahun betapa dia telah menyakiti hati ayah kandungnya?

Bukan salahnya kalau dia tidak tahu siapa ayahnya. Bukan salahnya kalau dia hanya mengenal lelaki yang selalu ada di dekatnya sejak bayi. Bukan salahnya kalau dia mengidolakan lelaki itu. Dia ayah yang baik, kata Kim So Eun.

Dan setelah melihat betapa dekatnya Wang Suk Hyun pada lelaki yang dianggap ayahnya itu, Kim Bum sadar, Kim So Eun benar.

Matanya bersinar-sinar setiap kali membicarakan ayahnya. Suaranya bersemangat kalau sedang menceritakan aktivitasnya bersama “Ayah". Bagaimana mengenyahkan figur yang demikian dikagumi anaknya?

Percuma Kim Bum berusaha menggantikan figur "Ayah" di benak Wang Suk Hyun. Tidak mungkin melakukannya dalam satu hari. Mereka perlu waktu lebih lama. Sementara itu kejam memisahkan Wang Suk Hyun dari lelaki yang sudah dianggapnya ayah. Kecuali pada saat maut memisahkan mereka.

"Wang Suk Hyun mau permen lagi?" tanya Kim Bum ketika dilihatnya Wang Suk Hyun mengantongi permen yang disuguhkan bersama es krimnya.

"Untuk Ayah," sahut Wang Suk Hyun spontan.

Dan untuk kesekian kalinya Kim Bum terhenyak. Sebutir permen hadiah. Dan Wang Suk Hyun menyimpannya untuk "Ayah"!

Apa lagi pernyataan kasih sayang dari seorang anak berumur empat tahun yang lebih mengharukan daripada itu?

Aku bisa membawanya pulang. Tapi hanya tubuhnya. Karena hatinya telah dimiliki lelaki lain!

* * *

Kim So Eun tidak terkejut ketika melihat Bae Soo Bin di depan pintu kamarnya. Tetapi melihat siapa yang datang bersamanya membuat hatinya berdegup kencang.

"Halo, Ipar!" sapa Yoon Eun Hye sambil tersenyum mengejek. "Adikku ada?"

"Pergi dengan Wang Suk Hyun," sahut Kim So Eun tersendat. Menyadari bom seratus megaton yang dibawa kakak Lee Min Ho.

Bae Soo Bin langsung menerobos masuk tanpa diundang. Dia duduk di kursi sambil mengatupkan rahang menahan marah.

Yoon Eun Hye melenggang di depan Kim So Eun yang masih memegangi pintu. Aroma parfumnya yang tajam menusuk hidung Kim So Eun. Sepatunya yang berharga jutaan rupiah melangkah anggun di atas permadani. Sementara gaunnya yang mahal dan berkelas menyilaukan mata sepera kilauan kalung di lehernya.

Dia duduk di kursi dengan tenang. Menyilangkan kakinya dengan gaya seorang profesional. Mengawasi Kim So Eun yang sedang melangkah lesu menghampiri mereka dengan tatapan merendahkan.

"Aku ingin tahu yang sebenarnya," Bae Soo Bin membuka mulutnya dengan gusar.

Kim So Eun menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Apa lagi yang ingin didengarnya? Hujatan pasti sudah mengalir seperti air bah dari mulut istrinya!

"Yoon Eun Hye Eonni benar," sahut Kim So Eun datar. "Aku belum bercerai. Kim Bum masih suamiku. Dan Wang Suk Hyun anak kami."

Yoon Eun Hye menoleh ke arah suaminya. Senyum kemenangan menghiasi bibirnya. Bae Soo Bin mengepalkan tinjunya menahan marah. Matanya memerah.

“Tega kau menipu Lee Min Ho," dengusnya sengit.

"Aku akan mengakui semua kesalahanku," gumam Kim So Eun lirih.

"Itu sama saja dengan membunuh Lee Min Ho!" sergah Bae Soo Bin Separuh berteriak. "Kau tidak lihat bagaimana bahagianya dia kemarin? Cuma kalian yang membuat dia masih ingin hidup!"

"Oppa ingin aku melakukan apa?" desah Kim So Eun putus asa.

"Kabulkan keinginannya yang terakhir! Nikahi dia!"

"Kim Bum tidak mau menceraikanku. Dia hendak membawaku dan Wang Suk Hyun pulang ke rumahnya."

Bae Soo Bin sampai terlonjak dari kursinya. Urat-urat wajahnya bersembulan. Matanya membeliak marah.

"Kau sadar apa akibat tindakanmu?"

Kim So Eun mengangguk pilu.

"Aku sudah melangkah di jalan yang salah. Tak ada jalur untuk kembali."

“Tapi kau tidak kehilangan apa-apa! Kau bisa melenggang santai pulang ke rumah bersama anak-suamimu! Tapi Lee Min Ho? Tidak membunuh diri saja sudah bagus!"

"Jika Lee Min Ho ingin aku pergi bersamanya, aku akan pergi," sahut Kim So Eun tawar. Biar Wang Suk Hyun ikut ayahnya."

"Kim Bum pasti tidak mengizinkan kau pergi dengan lelaki lain," sela Yoon Eun Hye mantap. "Dia tidak akan menceraikanmu. Walaupun untuk mempertahankan istri sepertimu, dia harus kehilangan ayahnya."

Sekarang Kim So Eun berpaling dengan kaget ke arah perempuan itu.

"Ayah Kim Bum...?"

"Meninggal," dengus Yoon Eun Hye dingin. “Tengah malam Kim Bum menelepon Ayah. Mengabarkan dia tidak jadi menceraikanmu. Ayah kena stroke saking marahnya."

"Ya Tuhan!" desah Kim So Eun menahan tangis. Betapa besar dosanya! Itu sebabnya Kim Bum tidak dapat memaafkannya. Karena harga maafnya kali ini adalah nyawa ayahnya!

"Kau perempuan paling hina yang pernah aku kenal," sambung Yoon Eun Hye jijik. "Kau bukan saja telah mengobrak-abrik keluargaku. Sekarang kau juga merusak keluarga suamiku." Yoon Eun Hye menoleh dengan perasaan puas ke arah suaminya. "Sekarang mengerti mengapa aku tidak sudi harta ayahmu diwariskan kepada perempuan sekotor dia?"

"Simpan saja warisan itu," potong Kim So Eun datar. "Karena aku tidak membutuhkannya lagi. Aku akan mengakui kesalahanku di depan Lee Min Ho. Jika dia mau bunuh diri, aku rela mati bersamanya."

"Dan anakmu?" sergah Yoon Eun Hye penuh harap.

Saat itu kunci pintu berputar. Tapi tidak seorang pun mendengarnya.

"Jangan khawatirkan Wang Suk Hyun. Dia tidak akan menyusahkan kalian. Karena Kim Bum akan membawanya pulang."

"Wang Suk Hyun bisa menunggu."

Mereka menoleh dengan kaget ke pintu. Kim Bum tegak di sana. Wajahnya membeku.

Wang Suk Hyun lari ke pelukan ibunya. Dia gembira sekali. Tidak mengacuhkan ketegangan di sekelilingnya.

"Aku beli mobil, Bu!" serunya girang. "Ayo, kita tunjukkan pada Ayah!”

"Pengacaraku akan mengurus surat cerai kita secepatnya," sambung Kim Bum kering. "Jangan pikir aku melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuk Wang Suk Hyun."

Kim So Eun tertegun. Matanya langsung berkaca-kaca. Ditatapnya suaminya dengan getir. Dan dia tidak mampu mengucapkan separah kata pun.

Yoon Eun Hye-lah yang meledak.

"Kim Bum!" bentaknya sengit. "Apa-apaan kau ini? Sok jadi pahlawan? Belum cukup pengorbanan Ayah untuk sampah ini?"

"Aku hanya menepati janji yang pernah kulanggar pada Ayah," sahut Kim Bum tawar. "Belum terlambat untuk membayar hutangku."

"Kau bukan cuma menjanjikan surat cerai! Kau juga berjanji akan membawa anakmu!"

"Wang Suk Hyun bisa menunggu," sahut Kim Bum mantap. "Kursi direktur di perusahaan rokok ayah kita, tetap kusediakan untuknya. Itu memang haknya.

Bersambung…

Senin, 23 Mei 2011

Romance Zero (Chapter 21)



KETIKA terjaga dari tidurnya pagi itu, Lee Min Ho sudah merasa penyakitnya semakin parah. Semalam tidurnya tidak lelap. Sebentar-sebentar dia terbangun karena rasa berat yang menindih dadanya. Hampir subuh, napasnya malah berbunyi

Tetapi karena hari itu dia sudah berjanji akan pergi bersama Bae Soo Bin ke makam ayah mereka, Lee Min Ho memaksakan diri naik taksi ke rumah kakaknya.

"Dari makam kita ke notaris," kata Bae Soo Bin lirih. Setelah tahu apa penyakit adiknya, dia sudah bertekad untuk memberikan warisan Lee Min Ho secepatnya. Tidak peduli apa kata istrinya.

Tetapi di depan pusara ayahnya, ketika sedang menabur bunga, Lee Min Ho tiba-tiba terhuyung sambil menebah dadanya.

"Kenapa, Lee Min Ho?" sergah Bae Soo Bin kaget sambil memburu untuk merangkul adiknya.

"Dadaku tiba-tiba sakit sekali," sahut Lee Min Ho sambil terengah menahan sakit. Mukanya pucat. Bibirnya membiru. Cuping hidungnya bergerak-gerak seperti sulit sekali bernapas.

"Napasku sesak, Hyung.... Rasanya aku harus ke dokter...."

Secepatnya Bae Soo Bin membawa adiknya ke rumah sakit. Dan dokter langsung melakukan serangkaian pemeriksaan.

"Anak sebar kankernya sudah mencapai hati dan paru-paru," kata Dokter Jae Hee kepada Bae Soo Bin. "Kami akan melakukan punksi pleura *) untuk menyedot cairan dalam paru-parunya."

*) Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14, jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses. Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1.500 cc tergantung toleransi pasien. Jika pasien merasa tidak enak, sesak atau batuk batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan. Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak, maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum.

"Lakukan apa saja untuk menolongnya, Dok," pinta Bae Soo Bin lirih.

"Tindakan ini hanya meringankan, tidak menyembuhkan,'' sahut Dokter Jae Hee terus terang. "Yang dapat dilakukan sekarang memang hanya mengurangi gejala, bukan menghilangkan penyebabnya. Karena dalam waktu singkat, cairan akan berkumpul kembali di antara pleura parunya. Dan gejala yang timbul hari ini akan kembali. Malah mungkin bertambah berat. Tn. Lee Min Ho akan menderita sesak napas. Dan dia harus dipunksi lagi."

Ya Tuhan, keluh Bae Soo Bin antara bingung dan sedih. Mengapa nasib Lee Min Ho begitu jelek? Dia sudah kehilangan anak-istrinya dalam kecelakaan yang sangat tragis. Sekarang dia sendiri menderita kanker yang sangat ganas!

Dalam keadaan bingung, Bae Soo Bin lupa pada janjinya sendiri. Dia menelepon Angel.

"Lee Min Ho sakit apa?" suara Angel terdengar bergetar antara sedih dan cemas.

"Kanker," sahut Bae Soo Bin getir. "Kanker ganas. Anak sebarnya sudah mencapai hati dan paru."

Terlepas telepon itu dari genggaman Kim So Eun. Dia jatuh terduduk di kursi dengan lemas. Mukanya pucat pasi.

Akal apa lagi ini, pikir Kim Bum curiga. Dia mau menipu aku lagi? Jangan harap! Kali ini takkan kulepaskan kau sekejap pun!

"Izinkan aku menengok Lee Min Ho, Kim Bum," pinta Kim So Eun sedih. "Dia sakit parah. Kanker."

"Dia bukan apa-apamu," sahut Kim Bum datar.

"Tapi dia sangat baik pada kami. Selama empat tahun dia menjaga dan merawat kami. Bahkan Wang Suk Hyun sudah menganggapnya ayah...."

"Itu salahmu!" bentak Kim Bum berang. "Belum cukup menipu suamimu, kau menipu anakmu sendiri!"

"Semua memang salahku," gumam Kim So Eun pasrah. "Izinkan aku dan Wang Suk Hyun menengoknya, Kim Bum. Sekali sebelum dia pergi.

"Kau mencintainya!" geram Kim Bum sengit. Terlompat begitu saja umpatan itu dari mulutnya.

"Tidak," sahut Kim So Eun tegas. Dia menggigit bibir menahan perasaannya sebelum melanjutkan dengan getir. "Hanya kau yang aku cintai."

"Tapi kau berikan juga tubuhmu padanya?" sergah Kim Bum pedas. "Kau berzinah dengan lelaki lain!"

"Aku tidak punya pilihan lain. Aku dan Wang Suk Hyun membutuhkan rumah untuk berteduh. Kami butuh makan. Butuh perlindungan."

"Karena itu kau jual dirimu!" damprat Kim Bum jijik.

"Umpatlah semaumu," desah Kim So Eun getir. "Hanya supaya kau tahu, Lee Min Ho tidak sekotor itu. Dia tidak pernah menjamahku sampai kuserahkan diriku padanya."

Kim Bum merasa hatinya sangat sakit. Nyeri. Sekaligus terhina.

Istrinya menyerahkan dirinya kepada lelaki lain. Dengan sukarela. Untuk diraba. Dipeluk. Dicium. Dinikmati! Kim Bum membalikkan tubuhnya dengan sengit. Menyembunyikan wajahnya yang hangus terbakar. Menyimpan kemarahan, sakit hati, dan perasaan terhina yang berkecamuk di dada.

Seperti dapat merasakan sakit hati suaminya, Kim So Eun merangkul pinggangnya dari belakang.

"Maafkan aku, Kim Bum," bisiknya dengan perasaan bersalah. "Tidak pantas aku menyakiti hatimu lagi...."

Kim Bum merasa dadanya berdesir ketika tubuh istrinya melekat di punggungnya. Darahnya menggelegak. Gairahnya bergolak. Rindunya meronta. Tetapi hanya sesaat. Karena kemarahannya keburu meledak. Disulut cemburu dan sakit hati.

Kim Bum melepaskan diri dengan kasar.

"Jangan sentuh aku lagi!" hardiknya jijik "Karena Sungai Barceloneta pun tidak mampu lagi membersihkan tubuhmu!"

* * *

Kim Bum ingin menenggelamkan dirinya di pub. Bermabuk-mabukan semalaman. Karena dalam keadaan seperti ini, hanya busa alkohol yang mampu membius dirinya. Melupakan sakit hatinya. Kekecewaan. Penghinaan.

Anaknya sudah menganggap lelaki lain sebagai ayahnya. Istrinya sudah menyerahkan tubuhnya kepada lelaki yang mampu membiayai hidupnya. Penghinaan apa lagi yang belum dirasakannya?

Tetapi dia tidak mau meninggalkan Kim So Eun sekejap pun. Dia tidak mau ditinggal kabur lagi. Dan dia tidak bisa membawa Wang Suk Hyun ke pub.

Jadi dia membawa mereka makan malam di luar. Padahal Kim So Eun sudah mengusulkan makan di rumah saja.

"Izinkan aku memasak untukmu,'' pintanya lirih. "Sekali ini saja." Seperti dulu. Ketika cinta masih menjadi milik kita. Ketika di rumah kita yang sempit, di meja makan kita yang kecil dan sederhana, aku menyiapkan makan malam untukmu.

"Tidak!" tolak Kim Bum gersang. "Aku tidak sudi makan uang lelaki itu! Sudah cukup kau beri malu aku dengan menjual dirimu!"

"Kalau begitu antarkan aku ke supermarket," Kim So Eun menahan perasaannya dengan pilu. "Bayar semua belanjaanku."

"Aku tidak sudi makan di meja makannya," dengus Kim Bum sengit. Membayangkan kau melayaninya makan setiap malam!

Kim So Eun menghela napas berat Dia sedih. Putus asa. Tapi dia tahu, Kim Bum lebih sedih lagi. Dia tahu betapa menderitanya Kim Bum. Dan membayangkan sakitnya hati lelaki yang dicintainya membuat Kim So Eun bertambah tersiksa.

Dia mau melakukan apa saja untuk mengampuni dosanya. Untuk meringankan penderitaan Kim Bum. Untuk menyembuhkan sakit hatinya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya kalau didekati saja Kim Bum tidak mau? Kalau disentuh saja dia sudah merasa jijik?

"Aku harus membawa Wang Suk Hyun," gumam Kim So Eun setelah lama berdiam diri.

"Apa aku menyuruhmu meninggalkannya?" sahut Kim Bum dingin.

"Boleh aku minta izin mengganti baju? Atau kau harus ikut juga ke kamar?"

"Ada jendela di sana?" sindir Kim Bum pedas. "Aku tidak mau dibohongi lagi."

"Kalau begitu, ikut saja ke kamar."

"Aku tidak sudi masuk ke kamar tidurmu!" sergah Kim Bum panas. Tidak sudi melihat tempat tidurmu! Tempat kau melacurkan diri!

"Jadi aku harus bagaimana?" desah Kim So Eun putus asa. "Mengganti baju di sini, di hadapanmu?"

Kim So Eun sudah berbalik ketika Kim Bum membentak.

"Kau mau ke mana?"

"Mengambil baju," sahutnya nyeri. "Aku tidak keberatan mengganti baju di depan suamiku sendiri. Tapi Wang Suk Hyun harus kubawa ke kamarnya dalu."

"Bawa Wang Suk Hyun kemari. Kau boleh ke kamarmu. Karena aku yakin, kau tidak akan pergi tanpa Wang Suk Hyun."

Kalau kau tahu mengapa aku meninggalkanmu, keluh Kim So Eun sedih. Mengapa aku melanggar janji! Semuanya karena Wang Suk Hyun! Seharusnya acara makan malam itu bisa menjadi acara yang indah. Mengesankan.

Mereka pernah saling mencintai. Sampai sekarang masih saling merindukan. Dan mereka baru bertemu kembali setelah empat tahun berpisah.

Kafe itu terletak di mulut teluk. Perahu layar dan perahu motor lalu-lalang di depan mereka. Sementara pemandangan ke seberang sana dari teras tempat mereka makan sangat menyedapkan mata.

Lampu-lampu yang berkilauan dari atap gedung pencakar langit seperti bersaing menebar pesona dengan bulan sabit dan kemilau bintang di angkasa.

Sayang bahkan keindahan panorama dan romantisnya suasana kafe tidak mampu mendamaikan mereka. Tidak mampu menjembatani. jurang yang terbentang di antara mereka. Bahkan celoteh si kecil Wang Suk Hyun tidak mampu mengusir kebencian di benak Kim Bum. Tidak mampu menggebah kesedihan di hati Kim So Eun.

Kim Bum begitu benci padanya. Rasanya dosanya sudah tidak terampuni lagi. Dan sekarang ada satu petaka lagi. Lee Min Ho sakit. Kanker. Sudah tahukah Lee Min Ho sebelumnya? Karena itulah akhir-akhir ini dia tampak agak berubah?

Mengapa Lee Min Ho tidak pernah mengatakannya? Mengapa dia sengaja merahasiakannya? Ada hubungannyakah kepergiannya ke Seoul dengan penyakitnya?

Lee Min Ho sudah mengajaknya pulang ke Seoul. Dia sudah mengajak menikah.

"Aku ingin mewariskan hartaku untukmu,'' katanya saat itu. "Dan mewariskan namaku untuk Wang Suk Hyun."

Tetapi bagaimana Kim So Eun bisa menikah? Dia masih istri Kim Bum!

Kim Bum memang sangat membencinya. Tapi itu tidak berarti dia mau menceraikan istrinya!

Kalaupun Kim Bum mau bercerai, dia pasti menghendaki Wang Suk Hyun. Padahal Lee Min Ho sangat menyayanginya. Dan kalau boleh memilih, Wang Suk Hyun pasti memilih Lee Min Ho!

Seharian ini Kim Bum sampai bising mendengar pertanyaan-pertanyaan anaknya. Wang Suk Hyun tidak henti-hentinya menanyakan Lee Min Ho!

"Kapan Ayah pulang, Bu?" tanyanya tanpa bosan-bosannya. Membuat mata Kim Bum makin keruh dan wajahnya makin merah terbakar kemarahan.

"Ayah belum bisa pulang, Sayang," sahut Kim So Eun sambil menyembunyikan kesedihannya. "Besok kita menyusul Ayah, ya?"

"Kenapa Ayah belum bisa pulang, Bu?"

"Karena Ayah sakit, Wang Suk Hyun."

"Sakit apa, Bu? Bisul sepertiku dulu?"

"Iya, Sayang," Kim So Eun menahan tangis. "Cuma bisul Ayah di dalam...."

Kim Bum ingin membentak mereka. Tapi dia tahu, kemarahannya akan semakin menjauhkan anaknya. Karena itu dia menahan diri. Menyimpan kemarahan dan kecemburuannya jauh di dalam hati.

Kim Bum tahu, dia harus berusaha merebut hati anaknya. Bukan malah membuatnya makin antipati. Paman jahat. Paman judes. Paman galak. Paman yang membuat Ibu menangis. Aduh, tahukah dia siapa yang membuatnya masih dapat bernapas sampai hari ini?

Tetapi memang tidak mudah merebut hati seorang anak kecil. Apalagi kalau di hatinya sudah tersimpan profil seorang ayah yang baik. Ayah yang nyaris sempurna seperti Lee Min Ho.

Wang Suk Hyun gembira sekali ketika di bandara Kim Bum, membelikannya sebuah boneka koala sebesar ukurannya yang asli. Tetapi ketika dia melihat ayahnya, dibuangnya saja koala itu ke lantai. Dan dia tidak ingat lagi untuk memungutnya.

Wang Suk Hyun langsung memanjat ke atas tempat tidur. Kim So Eun tergopoh-gopoh membantunya.

"Ayah," sapanya penuh perhatian. Penuh semangat. Penuh keceriaan. Membuat Kim Bum yang tegak di ambang pintu kamar tertegun dibakar cemburu. "Ayah sakit, ya? Bisul ya, Ayah? Ini Aku bawa obat bisul-ku yang dulu,"

Kim So Eun memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya dari tatapan Lee Min Ho. Tapi tindakannya malah memancing kecemburuan yang lebih hebat lagi di hati Kim Bum. Kalau tidak cinta, mungkinkah Kim So Eun tampak sesedih itu?

Lee Min Ho menerima salep yang disodorkan Wang Suk Hyun dengan terharu. Air mata langsung menggenangi matanya.

"Kau bawa obat untuk Ayah?" gumamnya lirih. "Dasar anak pintar! Terima kasih, ya. Ayah pasti cepat sembuh."

Lalu dia menoleh pada Kim So Eun dan memaksakan sepotong senyum.

"Aku tidak bohong," bisiknya menyembunyikan kesedihannya. "Kedatangan kalian membuat semua penyakitku hilang!"

"Kenapa tidak bilang, Lee Min Ho?" gumam Kim So Eun getir. "Sudah berapa lama?"

"Bae Soo Bin yang mengatakannya?" desah Lee Min Ho kecewa. "Padahal dia sudah janji akan merahasiakannya."

"Kami kan harus tahu, Lee Min Ho. Supaya dapat kita tanggung penderitaanmu bersama."

"Tadinya aku tidak mau membuatmu sedih. Tapi rasanya kau yang benar, Angel. Kedatangan kalian saja sudah membuat semua rasa sakitku lenyap. Jika aku tidak dapat mengalahkan penyakit terkutuk ini, barangkali kehadiranmu dan Wang Suk Hyun di dekatku bisa meringankan penderitaanku."

"Kita harus berjuang untuk kesembuhanmu, Lee Min Ho. Jangan menyerah. Ingat Wang Suk Hyun."

"Sudah terlambat, Angel. Tapi aku tidak menyesal. Belum terlambat menikmati sisa hidupku bersama kalian. Karena sepuluh bulan bersamamu dan Wang Suk Hyun lebih berarti daripada sepuluh tahun hidup dalam kehampaan."

"Kami akan mendampingimu, Lee Min Ho. Tapi kau harus janji, mau berobat."

"Tak ada lagi obat yang dapat menyembuhkanku, Angel."

"Paling tidak memperpanjang hidupmu, Lee Min Ho. Aku akan bicara dengan dokter...."

"Tidak ada gunanya. Daripada bolak-balik ke rumah sakit, menghabiskan waktu dan uang untuk berobat, lebih baik kita pakai sisa waktuku untuk menikmati hidup."

Lee Min Ho membelai-belai kepala Wang Suk Hyun sementara tangannya yang lain meraih tangan Kim So Eun dan menggenggamnya.

"Masih bolehkah aku melamarmu, Angel?" matanya menatap dengan penuh permohonan. "Masih sempatkah aku menikmati hidup sebagai suamimu dan ayah Wang Suk Hyun?"

Kim So Eun merasa hatinya perih tertikam duri. Dan dia mendengar suara pintu diempaskan dibelakang tubuhnya. Dia tahu siapa yang sedang menyingkir dengan marah. Dan hatinya semakin nyeri.

"Kau memang ayah Wang Suk Hyun," sahutnya getir.

"Aku ingin jadi ayahnya yang sah. Dan suamimu yang sesungguhnya. Mari kita menikah, Angel. Mumpung aku masih sanggup menggendongmu ke kamar pengantin kita."

* * *

"Aku sudah memutuskan untuk memberikan bagian Lee Min Ho secepatnya," kata Bae Soo Bin kepada istrinya. "Mumpung dia masih bisa menikmatinya."

"Dan memberikannya kepada anak-istri orang lain?" ejek Yoon Eun Hye sinis.

"Dia sudah bilang akan menikah secepatnya."

"Menikah dengan siapa?" Yoon Eun Hye tertawa dingin.

"Dengan siapa lagi? Tadi istri dan anaknya datang ke rumah sakit. Kau tidak lihat bagaimana bahagianya Lee Min Ho. Penyakitnya seperti mendadak hilang. Anaknya memang lucu. Aku saja langsung suka."

"Anak siapa yang kau suka? Keponakanmu?"

"Sudahlah," Bae Soo Bin menghela napas kesal. “Jangan bergurau lagi. Saatnya tidak tepat. Adikku sakit Kanker. Hidupnya tidak lama lagi. Keinginannya tinggal satu. Meresmikan pernikahannya!”

“Maksudmu menikah dengan istri orang? Itu yang namanya meresmikan?"

Bersambung…

Sabtu, 21 Mei 2011

Romance Zero (Chapter 20)



KIM SO EUN sangat mencintai Kim Bum. Sampai sekarang cintanya tidak berkurang sedikit pun. Hampir tiap malam dia merindukan suaminya. Bahkan ketika sedang bercinta dengan Lee Min Ho, dia selalu membayangkan Kim Bum. Mengenang bulan madu mereka yang demikian berkesan di Hutan Barceloneta.

Tetapi ketika tiba-tiba Kim Bum tegak di hadapannya, dia justru merasa takut. Refleks dengan panik dia merangkul Wang Suk Hyun. Dan dia terlambat menyadari, tindakannya itu justru semakin mencetuskan kemarahan Kim Bum.

"Jadi inilah anakku," geram Kim Bum sambil mengatupkan rahang menahan marah. "Anak yang kau bawa kabur!"

Bukan, hampir terlompat kata-kata itu dari mulut Kim So Eun. Dia bukan anakmu!

Tapi pada saat terakhir ditelannya kembali pengakuan itu. Dia hanya mampu menjatuhkan dirinya. Dan berlutut di depan Kim Bum sambil memeluk anaknya erat-erat.

Tetapi ketika dia hendak mencium kaki Kim Bum, laki-laki itu menarik tungkainya dan menyingkir dengan jijik.

“Terakhir kali kita bertemu, kau hendak mencium kakiku untuk membatalkan perceraian,'' dengusnya berang. "Sekarang apa lagi permintaanmu?"

"Kim Bum," desah Kim So Eun sambil menengadah dan menatap suaminya dengan air mata berlinang. Sesaat mata mereka bertemu. Dan Kim So Eun merasa hatinya teriris pedih ketika melihat kenyerian yang merayap di mata itu. Kim Bum menatapnya dengan penuh kebencian. Tetapi dia tidak mampu menyembunyikan kesakitan di balik tatapan itu. "Masih bolehkah aku mengajukan satu permintaan lagi?"

"Jangan membuang waktu," desis Kim Bum dingin. "Kaburlah seperti empat tahun yang lalu. Karena sebentar lagi petugas imigrasi akan. menangkapmu."

Kim So Eun jatuh terduduk dengan lemas. Begitu besarkah kebencian Kim Bum pada perempuan yang dulu sangat dicintainya? Kini dia bahkan tega melihat istrinya ditangkap! Digiring. Dimasukkan penjara!

Wang Suk Hyun mengawasi ibunya dengan bingung. Diusapnya air mata yang meleleh di pipi ibunya dengan jarinya.

"Ibu..." cetusnya heran. "Kenapa Ibu menangis? Paman jahat!" Lalu tanpa disangka-sangka, Wang Suk Hyun melepaskan dirinya dari pelukan ibunya. Berbalik. Dan menendang tungkai Kim Bum.

"Wang Suk Hyun!" sergah Kim So Eun antara kaget dan panik. "Jangan kasar begitu! Masuk!"

Tapi Kim Bum tidak marah. Dia sedang tertegun mengawasi anaknya. Itulah anaknya. Anak yang dilihatnya terakhir kali ketika masih bayi. Anak yang diselamatkannya sebelum dilenyapkan oleh ibunya sendiri!

Kini anaknya sudah besar. Gemuk. Berani. Dan tetap lucu!

Wang Suk Hyun juga sedang mengawasinya. Tapi dengan pandangan penuh kebencian. Dia tidak tahu kenapa datang-datang pria ini memarahi Ibunya.

Wang Suk Hyun tidak pernah melihat ibunya menangis. Tapi sekarang lihat! Air mata Ibu bercucuran!

Jahat sekali Paman ini! Padahal Ayah tidak pernah membuat Ibu menangis!

Sebenarnya Wang Suk Hyun tidak ingin meninggalkan ibunya. Nalurinya mengatakan Ibu dalam bahaya. Tapi Ibu menyuruhnya masuk. Ketika Wang Suk Hyun seperti hendak membangkang, Ibu memelototinya. Terpaksa Wang Suk Hyun menyingkir dengan ragu-ragu.

"Jadi namanya Wang Suk Hyun," gumam Kim Bum kaku.

"Maafkan tingkahnya. Dia tidak tahu siapa kau...."

"Tidak pernah kau beritahu siapa ayahnya?" geram Kim Bum sakit hati. "Anakmu sendiri juga kau bohongi?''

"Kim Bum, tolong," pinta Kim So Eun sedih. "Beri aku waktu untuk menjelaskannya. Tapi kumohon, jangan di depan Wang Suk Hyun!"

"Supaya dia tidak tahu betapa jahatnya ibunya?"

"Silakan mencerca semaumu, Kim Bum. Aku memang pantas menerimanya. Tapi tolong, jangan di depan anakku...."

"Anakmu? Kau lupa suatu waktu dulu..."

"Kim Bum!" teriak Kim So Eun nyeri. "Tidak bisakah kita bicara baik-baik?"

"Masih pantaskah kau diajak bicara? Lagi pula sudah tidak ada waktu lagi. Dalam beberapa menit lagi, mereka akan mengangkutmu ke Val De Seine."

Val De Seine adalah penjara imigrasi. Tempat para imigran gelap dikurung sebelum dideportasi.

"Kau tega anakmu dibawa ke sana?" desah Kim So Eun pilu. "Dikurung sepera penjahat? Kau tidak membayangkan seperti apa traumanya?"

"Wang Suk Hyun tidak akan dibawa ke sana. Lagi pula dia akan ikut ayahnya. Kita belum bercerai, kan? Jadi dia masih sah anakku."

"Lalu ke mana kau akan membawanya?"

"Pulang."

"Tidak mungkin! Identitasnya melekat dalam pasporku!"

"Kedubes Korea pasti dapat membantu."

"Kenapa sekejam itu padaku, Kim Bum?" keluh Kim So Eun getir. Di mana cintamu yang sepanjang Sungai Barceloneta? Kau tega menjebloskan perempuan yang pernah kau cintai ke dalam penjara? Begitu tipiskah batas antara cinta dan benci?

"Di dalam penjara nanti, kau punya banyak waktu untuk merenungkan siapa yang lebih kejam," sahut Kim Bum dingin. "Sekarang bawa Wang Suk Hyun kemari. Aku akan membawanya pergi."

"Kim Bum!" Kim So Eun menghambur ke depan untuk memeluk tungkai suaminya. Tapi sekali lagi Kim Bum mengelak. "Jangan sentuh kulitku!" geramnya kaku. "Jangan nodai lagi diriku dengan kebusukanmu!"

Ketika mengucapkan kata-kata itu, Kim Bum merasa hatinya tersayat nyeri. Dia tidak tahu bagaimana dia mampu mengatakannya. Karena dalam empat tahun, hanya berapa malam dalam hidupnya dia tidak merindukan istrinya? Dia membenci Kim So Eun. Tapi sekaligus merindukannya!

"Kau sakit, Kim Bum," keluh ibunya ketika menemukan foto istrinya yang sudah dicabik-cabik tapi direkatkan kembali di antara pecahan botol wiski di kamarnya. "Selama perempuan itu masih mengotori benakmu, kau tidak akan sembuh."

Karena Kim Bum mengelak, Kim So Eun jatuh terjerembab ke lantai. Tetapi Kim Bum tidak datang menolongnya. Tidak membungkuk mengulurkan tangan. Dia hanya mengawasi dengan dingin binatang yang melata di depannya.

Kim So Eun juga tidak mengharapkan pertolongan. Tidak mengharapkan uluran kasih sayang. Karena dia memang merasa sudah tidak pantas lagi menerimanya. Tetapi dia belum mau berhenti memohon. Jangan pisahkan dia dari anaknya!

"Ampuni aku, Kim Bum! Beri aku kesempatan sekali lagi! Aku tidak sanggup berpisah dengan Wang Suk Hyun!"

Suatu waktu dulu, Kim Bum pernah mengampuni kesalahan Kim So Eun. Tetapi sekarang tak ada lagi maaf baginya. Karena harga maafnya kini adalah harga sebuah nyawa. Nyawa ayahnya!

"Aku tidak bisa lagi mengampunimu," sahut Kim Bum beku. "Dosamu sudah terlalu besar."

Dengan sedih Kim So Eun menatap lelaki yang dicintainya. Satu-satunya lelaki yang pernah memiliki cintanya. Lelaki yang suatu waktu dulu pernah memberinya sekuntum cinta yang sangat lembut. Sangat dalam. Abadi seperti Sungai Barceloneta.

Kini bahkan bekas-bekas cintanya tak tampak lagi. Ke mana cinta berlalu?

Kim Bum kini tampak membeku bagai gurun es di kutub utara. Tak ada lagi kehangatan. Tak ada kelembutan. Tak ada senyum yang dulu selalu melumuri mata dan bibirnya.

Dia telah berubah. Dan dengan pilu Kim So Eun harus mengakui, dialah yang telah mengubah lelaki itu! Dia yang telah membunuh Kim Bum yang dikenalnya!
Lihat betapa cepatnya dia bertambah tua. Wajahnya bukan saja tampak jauh lebih dewasa. Wajah itu kini menampilkan sosok yang berbeda. Matang. Tapi tak berperasaan. Betapa kejam penderitaan telah mengubahnya!

"Aku tidak bisa lagi mengampunimu." Suaranya terdengar begitu dingin. Begitu bengis. Begitu asing di telinga Kim So Eun.

Kim Bum memang sudah berubah. Dia tidak tahu lagi apakah masih ada sisa cinta di hatinya. Atau semuanya sudah terkubur bersama jasad ayahnya.

Dia melihat air mata Kim So Eun. Dia melihat kesedihan perempuan yang suatu waktu dulu pernah menempati sudut yang paling utama di hatinya.

Tetapi apa bedanya lagi sekarang? Apa artinya belas kasihan kalau seluruh perasaannya sudah membeku?

Tapi benarkah seluruh cintanya telah sirna? Benarkah seluruh perasaannya telah membeku? Lalu dari mana datangnya kerinduan yang menggigit setiap malam?

Aku membencinya, desis Kim Bum dalam hati. Aku harus membalas dendam atas kematian Ayah! Aku tidak boleh memaafkannya lagi!

Kim Bum sudah bertekad untuk merampas Wang Suk Hyun. Bukan merampas. Mengambil. Karena anak itu memang haknya. Dia yakin, itulah hukuman terberat untuk Kim So Eun!

Tetapi Wang Suk Hyun tidak mau dipisahkan dari ibunya. Dia menangis. Menjerit-jerit. Meronta.

Sekarang Kim So Eun bukan hanya tidak tega berpisah dengan anaknya. Dia tidak sampai hati melihat tangis Wang Suk Hyun. Rasanya lebih baik dia yang dicincang sampai mati daripada melihat anaknya menderita seperti itu.

"Kim Bum," pinta Kim So Eun dengan air mata berlinang "Lakukan apa saja untuk menghukumku. Tapi jangan hukum anak kita!"

Sebenarnya bukan hanya Kim So Eun yang tidak tega melihat penderitaan anaknya. Kim Bum juga. Barangkali dia perlu waktu untuk memisahkan Wang Suk Hyun dari ibunya.

"Baik," katanya kering. "Benahi barang kalian. Kita pulang."

Kim So Eun memang tidak punya pilihan lain.

Dia harus pulang. Lagi pula apa lagi yang ditakutinya kini? Kim Bum sudah menemukannya! Dia hanya minta izin untuk menelepon Lee Min Ho. Tetapi Kim Bum melarangnya.

"Jangan harap kalian bisa bertemu lagi," katanya bengis. "Tapi aku tidak bisa menghilang begitu saja, Kim Bum!"

"Apa bedanya dengan apa yang pernah kau lakukan padaku empat tahun yang lalu?"

"Saat itu aku takut kehilangan Wang Suk Hyun, Kim Bum! Aku tidak mau berpisah dengan bayiku!"

Dan kau membuatku hampir gila, geram Kim Bum sengit. Aku berkeliaran ke sana kemari dengan panik mencari kalian. Memberi malu diriku di depan semua orang!

"Mereka sudah pulang," Kim Bum masih dapat membayangkan tatapan mata perawat di Bagian persalinan rumah sakit itu. Mata yang bersorot heran itu seolah-olah berkata, aduh, bodohnya kau! "Masa Tuan tidak tahu?"

"Memang dia tidak bilang mau pergi?" mata Jung Yong Hwa membeliak melecehkan di balik kacamatanya. "Wah, suami macam apa kau ini!"

"Anakku diculik," dengan putus asa Kim Bum mengadu kepada pengacara keluarga Song Seung Hun.

Tetapi pengacara itu malah menertawakannya.

"Anak yang dibawa oleh ibu kandungnya sendiri bukan diculik! Tidak ada hukum yang bisa menjeratnya!" Tapi aku ayahnya! Ayah yang menyelamatkannya! Memberinya kehidupan! Kata siapa hanya ibu yang lebih berhak atas anaknya? Mengapa hukum selalu memihak ibu? Bahkan ibu yang hampir melenyapkan anaknya sendiri!

"Kita mau ke mana, Bu?" tanya Wang Suk Hyun bingung ketika melihat ibunya sedang tergopoh-gopoh membenahi pakaiannya. Matanya yang masih berlinang air mata mengawasi ibunya dengan heran.

Kim So Eun belum sempat menjawab ketika telepon berdering. Sekilas dia menoleh ke arah Kim Bum dengan panik. Petugas imigrasikah yang menelepon? Sebentar lagi mereka akan datang untuk menangkapnya? Tapi untuk apa mereka menelepon kalau hendak datang menggerebek imigran gelap?

“Angkat teleponnya," perintah Kim Bum datar.

Tentu saja dia tidak tahu siapa yang menelepon. Tetapi pasti bukan dari imigrasi. Karena dia memang belum pernah menghubungi mereka. Dia hanya menggertak. Karena dia sedang melihat Kim So Eun ketakutan. Sebagian dendamnya terbayar ketika melihat perempuan itu mengerut panik.

Kim So Eun mengulurkan tangannya meraih telepon. Dan wajahnya langsung memucat ketika mendengar suara yang tidak dikenalnya.

"Angel? Saya Bae Soo Bin, kakaknya Lee Min Ho. Suamimu masuk rumah sakit. Keadaannya gawat."

Bersambung…

Romance Zero (Chapter 19)



WANG SUK HYUN suka sekali membantu ibunya menyiapkan sarapan.

Dia sudah bisa meletakkan air jeruk yang diperas ibunya di atas meja. Menuang susu ke dalam mangkuk berisi cornflakes. Mengambil roti bakar yang melompat keluar dari toaster dan menaruhnya di piring ayahnya. Meskipun untuk melakukan semua, itu dia harus memanjat ke atas kursi. Dia juga suka sekali duduk di atas benchtop granit dekat kompor. Menonton ibunya membuat omlet.

Kim So Eun membiarkan anaknya sekali-sekali membantunya. Mengocok telur. Sebenarnya bukan mengocok. Cuma mengaduk-aduk. Memasukkan irisan bawang, keju, jamur, dan ham ke dalam adukan telur itu. Lalu dengan susah payah karena agak berat untuk anak seumur dia, menuangkannya ke tempat mendadar telur.

Beberapa kali telurnya tumpah. Berceceran ke lantai. Sekali malah mangkuknya ikut jatuh. Pecah berderai. Tetapi Kim So Eun tidak pernah memarahinya. Dia malah tersenyum melihat kelucuan anaknya.

"Ibu! Mangkoknya pecah!" teriak Wang Suk Hyun dengan mata membulat sebesar kelereng.

Wang Suk Hyun memang bukan hanya lucu. Dia pintar. Rajin. Suka membantu ibunya. Meskipun sering kali lebih banyak merepotkan daripada membantu.

Setiap pagi Wang Suk Hyun menolong ibunya. Dia mau melakukan apa saja yang dikerjakan Ibu. Dia bahkan sudah bisa mengambil koran dan meletakkannya di atas meja tempat ayahnya duduk.

Sejak ayahnya pergi, dia tetap melakukannya. Tetapi setiap kali menaruh koran itu, dia menoleh ke arah ibunya dan mengajukan pertanyaan yang sama.

"Nanti Ayah pulang ya, Bu?"

"Belum tahu, Sayang. Mungkin Ayah masih repot."

"Ayah naik mobil, Bu?"
"Tentu saja tidak. Ayah naik pesawat. Kan harus menyeberang laut. Mobil tidak bisa berenang, kan?"

"Tapi yang barusan berhenti di depan mobil, Bu. Pasti Ayah."

Tanpa dapat dicegah lagi Wang Suk Hyun berlari dari dapur ke ruang tamu. Kim So Eun tergopoh-gopoh mengangkat telurnya dan mematikan kompor.

Saat itu terdengar pintu diketuk. Tanpa ragu-ragu Wang Suk Hyun menyeret kursi. Memanjat dengan gesit. Dan membuka kunci pintu.

"Wang Suk Hyun!" seru Kim So Eun sambil berlari keluar dari dapur. "Tunggu! Jangan dibuka dulu!"

Terlambat. Wang Suk Hyun sudah melompat turun dan membuka pintu.

Kim So Eun tiba tepat di belakangnya ketika daun pintu terbuka lebar. Dan matanya terbelalak kaget mengawasi pria yang tegak di hadapannya.

"Halo, Kim So Eun," sapa Kim Bum dingin. "Atau aku harus memanggilmu Angel?"

* * *

Lee Min Ho tidak menyangka foto yang diperlihatkannya kepada kakaknya akan membawa petaka. Dia malah gembira ketika keesokan harinya Bae Soo Bin memberi harapan.

"Yoon Eun Hye suka sekali dengan anakmu," katanya lega. "Dia malah meminjam fotonya. Katanya untuk ditunjukkan pada keluarganya."

Lee Min Ho juga ikut lega. Dan tidak sempat berpikir untuk apa istri Bae Soo Bin yang judes itu meminjam foto anaknya. Malah membawanya untuk diperlihatkan kepada keluarganya? Kan tidak mungkin mereka tertarik untuk menjadikan Wang Suk Hyun bintang iklan rokok mereka?

"Hari ini aku akan membawamu ke pabrik," sambung Bae Soo Bin bersemangat. "Akan kuperlihatkan padamu hasil karya istriku. Yoon Eun Hye memang hebat sekali. Pabrik kita maju pesat, Lee Min Ho."

"Aku lebih suka ke kuburan Ayah saja," sahut Lee Min Ho lesu. Untuk apa melihat pabrik? Dia hanya ingin melepas haknya atas pabrik dan ramah warisan Ayah. Lalu membawa uangnya untuk Angel....

Ah, rasanya rindunya kepada Angel dan Wang Suk Hyun hampir tak tertahankan lagi. Kalau urusan warisan ini cepat selesai, dia bisa pulang secepat-cepatnya....

"Kan kemarin sudah," bantah Bae Soo Bin kecewa. "Sejak datang kau sudah tiga kali ke kuburan Ayah. Lebih baik hari ini kita ke pabrik." Mumpung Yoon Eun Hye tidak ada. Dia sedang mengunjungi adiknya.

"Aku tidak tertarik pada pabrikmu."

"Cuma pada sahammu?" sindir Bae Soo Bin kecewa.

"Kau tidak usah membeli sahamku," Lee Min Ho menghela napas berat. "Tidak usah menjual rumah ini. Beri saja aku uang, Hyung. Berapa saja. Dan semuanya akan menjadi milikmu. Jika Yoon Eun Hye ingin kita ke notaris..."

"Kenapa harus buru-buru begini, Lee Min Ho?" desah Bae Soo Bin bingung. "Kesannya kau seperti cuma mau meraup uang warisan Ayah...."

Tapi aku tidak punya waktu lagi, ratap Lee Min Ho dalam hati. Aku sedang berlomba dengan maut!

Haruskah aku berterus terang pada Bae Soo Bin? Atau... dia justru takut uang warisan Ayah jatuh pada tangan yang tidak berhak? Uang itu hanya numpang lewat. Lee Min Ho tidak sempat mencicipinya karena dia keburu mati!

Tapi... apa dia punya pilihan lain?

Angel menolak pulang ke Korea. Artinya mereka tidak bisa menikah. Lee Min Ho tidak dapat mewariskan miliknya kepada mereka.

Satu-satunya jalan hanyalah menjual seluruh miliknya. Di Korea dan di Perancis. Lalu memberikan uangnya kepada Angel.

Dengan uang sebanyak itu, Lee Min Ho yakin Angel dapat melanjutkan hidupnya bersama Wang Suk Hyun. Dia tidak usah takut lagi kekurangan uang.

Tak terasa air mata Lee Min Ho meleleh ketika membayangkan mereka. Dua orang yang paling dicintainya.

Mula-mula Angel memang masih menjaga jarak. Ketika pindah ke rumahnya, dia memilih tidur bersama anaknya di kamar lain.

Lee Min Ho tidak pernah memaksa. Dia membiarkan semuanya berlangsung seperti apa adanya. Seperti air mengalir. Tenang. Pasti. Namun menghanyutkan.

Delapan bulan mereka hidup serumah tapi tidak sekamar. Angel sibuk mengurus rumah dan merawat bayinya. Dia melayani Lee Min Ho makan. Mencuci pakaiannya. Menyiapkan semua keperluannya. Tapi tidak ikut masuk ke kamar tidurnya.

Sampai suatu hari, pada ulang tahun Wang Suk Hyun yang pertama, terjadi perubahan. Perubahan yang sangat diharapkan Lee Min Ho. Yang sudah lama dirindukannya. Tetapi tidak pernah berani diungkapkannya.

Hari Jumat petang sepulangnya dari kantor, Lee Min Ho membawa Angel dan Wang Suk Hyun ke Grand Vendome. Mereka menuju ke Pantai Saclayevry, kira-kira sembilan puluh menit perjalanan dengan mobil dari Paris.

Hari itu cuaca buruk. Hujan deras mengguyur Paris. Jarak pandang hanya setengah meter. Meskipun cuaca masih cukup terang karena baru pukul lima sore.

Sejak berangkat dari rumah, lalu lintas super macet. Maklum akhir minggu. Hujan lebat pula. Semua mobil harus merangkak. Pasti sangat menyebalkan untuk pengemudi lain. Tetapi untuk Lee Min Ho, inilah kebahagiaan terbesar yang pernah menyinggahinya hampir sebelas tahun terakhir ini.

Sejak istri dan anaknya tewas dalam kecelakaan mobil, Lee Min Ho tidak pernah lagi berwisata ke luar kota. Akhir minggunya dihabiskan bersama teman-temannya di pub. Atau di kafe.

Lee Min Ho bukan pemabuk. Bukan pecandu kopi. Tapi mengobrol selama tiga-empat jam bersama teman-temannya menghilangkan kenangan atas sebuah tempat yang pernah disebutnya rumah. Semenjak istri dan anaknya tewas, tempat itu tidak ada lagi. Dan rumah hanya menjadi kandang untuk membaringkan kepala.

Lalu tiba-tiba, muncul seorang bidadari yang laksana terbuang dari swargaloka. Bidadari yang terdampar di mayapada bersama seorang bayi lemah yang membutuhkan perlindungan sepasang lengan yang kokoh.

Semangat Lee Min Ho seperti terbangun kembali. Dia seperti disentakkan dari tidur yang lama. Rumah yang sudah lama hilang kini menjelma kembali. Hangat Tenteram. Membelai.

Pulang kerja, Lee Min Ho tidak usah lagi melarikan diri ke kafe. Atau menenggelamkan diri di antara busa alkohol. Dia malah selalu ingin buru-buru pulang. Karena di rumahnya kini menanti seorang wanita cantik dengan senyum lembut dan sapaan hangat. Ada lagi hiburan yang membuat Lee Min Ho semakin keranjingan di rumah. Wang Suk Hyun.

Dengan pipinya yang tembab membuatnya sangat lucu.

Belum lagi tingkahnya yang menggemaskan. Senyumnya yang menggoda menantang kecupan. Tawanya yang terkekeh manja. Pipinya yang montok minta dicubit. Pokoknya semua membuat orang yang menggendongnya tidak mudah untuk melepaskannya lagi.

Sekarang bukan hanya Angel dan bayinya yang membutuhkan tempat untuk menumpang. Lee Min Ho juga membutuhkan mereka untuk menyemarakkan hidupnya.

Dengan mereka di sampingnya, tak ada kesepian yang terlalu menyiksa. Tak ada kesibukan yang terlalu melelahkan. Bahkan tak ada kemacetan yang terlalu menjemukan.

Lee Min Ho bergurau terus sepanjang jalan. Sekali-sekali Angel tertawa menyambut kelakarnya. Sementara di bangku belakang, di kursi kecilnya, Wang Suk Hyun juga tertawa terus meskipun dia tidak mengerti canda ayahnya. Barangkali dia sedang bercanda sendiri dengan teman imajinernya.

Lee Min Ho membawa keluarganya menginap di sebuah hotel resor di pinggir laut. Pemandangan ke arah laut dari teras yang terletak di lantai tiga sungguh mempesona. Sementara di bawah sana kolam renang yang membiru dan spa yang airnya berbuih sungguh menggoda minta dicicipi.

Tetapi yang membuat Angel tertegun bukan hanya itu. Dia lebih terpaku melihat apartemen yang disewa Lee Min Ho: Apartemen itu berkamar dua. Dan begitu masuk, Lee Min Ho langsung mempersilahkan Angel mengambil kamar utama. Sebuah kamar berpintu geser dengan ranjang ukuran dobel. Dan kamar mandi lengkap dengan spa.

"Aku tidur di sana," katanya sambil menunjuk kamar yang lebih kecil. Sebuah kamar dengan dua ranjang single. "Ada kamar mandinya juga. Cuma tidak ada bathtub. Tidak ada spa."

"Kau tidur di kamar utama saja," cetus Angel dengan perasaan tidak enak. "Kan ranjangnya besar. Biar aku dengan Wang Suk Hyun di kamar itu. Kebetulan ranjangnya kan dua."

"Ranjangnya kecil. Takut Wang Suk Hyun jatuh. Sudah-lah, kau saja yang tidur di situ dengan Wang Suk Hyun. Aku tidak apa-apa."

Sebenarnya bukan ukuran ranjang yang membuat Angel tertegun. Bukan pula mewahnya apartemen atau lengkapnya peralatan atau indahnya pemandangan. Dia tertegun karena Lee Min Ho memesan apartemen berkamar dua! Aduh, sopannya lelaki ini! Dia tidak mau menggunakan kesempatan yang dengan mudah bisa diraihnya!

Tetapi justru karena itu pulalah malam itu Angel dengan pasrah menyerahkan dirinya. Tidak ada makan malam yang romantis dengan lilin bernyala. Tidak ada adegan menyusuri pantai dengan bergandengan tangan. Tidak ada kemesraan berbaring berdua berpayung langit bertudung bintang.

Karena Lee Min Ho memang tidak romantis. Mungkin pula dia tidak berani. Mungkin pula karena ada Wang Suk Hyun di tengah-tengah mereka. Dan mereka tidak mau meninggalkannya sekejap pun.

Diawali dengan makan malam bersama di sebuah kedai burger di tepi pantai, Lee Min Ho menyuguhkan sebuah kue cokelat berdiameter lima belas senti dengan sebatang lilin tertancap di tengahnya.

Sulit sekali menyalakan lilin karena angin laut malam itu berhembus cukup kencang. Dan mereka belum sempat meniupnya ketika angin sudah mendahului memadamkan lilin itu.

Tetapi kejadian itu malah mencetuskan tawa. Karena Wang Suk Hyun yang belum mengerti apa-apa malah tertawa lebih dulu. Tidak ada yang tahu mengapa dia tertawa. Tetapi apa pun alasannya, tawanya memancing kegembiraan orang-tuanya dan orang-orang yang melihat mereka.

Lee Min Ho bangga sekali ketika tamu-tamu kedai burger yang sama-sama duduk di bawah kanopi di tepi pantai itu memuji kelucuan Wang Suk Hyun. Dia tidak henti-hentinya membidik dan menjepretkan kameranya. Seolah-olah Wang Suk Hyun tiba-tiba menjelma menjadi seorang selebritis.

Entah karena kecapekan tertawa, entah memang karena sudah jam tidurnya, Wang Suk Hyun sudah tertelap ketika masih di dalam mobil. Padahal untuk mencapai hotel mereka dari pantai Saclayevry hanya memerlukan waktu empat puluh lima menit Lee Min Ho tersenyum lebar ketika menoleh ke belakang dan melihat Wang Suk Hyun sudah pulas di kursinya.

"Dia lucu sekali, ya," cetusnya tanpa menutupi getar kebahagiaan yang melumuri suaranya. "Semua orang yang melihatnya menyukainya."

Perasaan Angel tergugah mendengar kebahagiaan laki-laki itu. Dia merasa bangga. Sekaligus terharu.

Tak sadar tangannya terulur ke lengan Lee Min Ho yang memegang kemudi.

“Terima kasih," bisiknya lirih. Lee Min Ho menoleh. Dan meraih tangannya.

"Untuk apa?"

"Memanjakan Wang Suk Hyun. Memberikan semua yang dibutuhkannya. Semua yang tidak mungkin diperolehnya tanpa dirimu."

Lee Min Ho menggenggam tangan Angel. Dan meremasnya dengan lembut.

"Aku sudah menganggapnya anakku sendiri," katanya hangat. "Jadi jangan berterima kasih padaku! Aku malah yang seharusnya berterima kasih. Kau dan Wang Suk Hyun telah mengembalikan hidupku!"

Setelah memarkir mobilnya di tempat parkir bawah tanah, Lee Min Ho menggendong Wang Suk Hyun ke lift yang menuju ke apartemen mereka. Melihat betapa hati-hatinya Lee Min Ho menggendong anaknya, sekali lagi emosi Angel tergugah. Keteguhannya luluh.

Lee Min Ho memang seperti tidak mengharapkan apa-apa. Dia membaringkan Wang Suk Hyun di tempat tidur. Menyelimutinya dengan hati-hati. Mengecup pipinya dengan penuh kasih sayang. Lalu meninggalkan mereka di kamar.

"Mau kubuatkan hot chocolate?" bisiknya sambil menutup pintu geser.

Angel hanya mengangguk. Dia sedang sibuk membungkus tubuh anaknya dengan selimut. Mengganjal sisi tubuhnya dengan bantal supaya jangan terguling ke lantai. Lalu menaikkan temperatur pendingin ruangan agar udara dalam kamar tidak terlalu dingin.

Lee Min Ho membuat dua cangkir cokelat panas. Dan membawanya ke teras. Ketika dia sedang menikmati angin malam yang berhembus sejuk dari laut yang terbentang di depan sana, seseorang menghampirinya dari belakang.

Lee Min Ho belum sempat memutar kepalanya ketika sepasang lengan yang lembut merangkul lehernya dari belakang. Hidungnya mengendus aroma parfum yang manis, campuran aroma melati dan yasmin. Lalu sebuah kecupan hangat menyentuh pipinya. Membersitkan gairah yang sudah sebelas tahun sirna.

Dan api itu mendadak berkobar kembali. Membakar jiwa dan menggelegakkan darahnya.

Lee Min Ho tak pernah dapat melupakan malam itu. Malam pertama di Saclayevry. Ketika Angel menyerahkan dirinya dengan pasrah.

Dia tidak sempat bertanya, apa yang membuat wanita itu rela melakukannya. Dorongan cinta. Atau hanya sekadar ucapan terima kasih.

Tetapi apa pun alasannya, bagi Lee Min Ho, itulah malam terindah dalam hidupnya setelah prahara yang menimpa keluarganya. Di sana pulalah cintanya kepada Angel mulai bersemi. Dan setelah cinta bersemi di hatinya, tak ada badai sehebat apa pun yang mampu merenggutnya. Tidak juga ganasnya kanker. Dan kejamnya kakak iparnya.

* * *

"Hyung," desah Lee Min Ho lirih dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin berterus terang padamu...."

Saat itu mereka sedang makan siang di sebuah restoran Mie Ramen sepulangnya dari kuburan. Terus terang Lee Min Ho sudah tidak punya nafsu makan. Tetapi Bae Soo Bin mengajaknya ke sana. Dia tahu dulu adiknya suka sekali makan Mie Ramen di tempat ini.

Bae Soo Bin kecewa sekali ketika melihat cara makan adiknya. Bukannya cepat-cepat menyuapkan Mie Ramen itu ke mulut. Dia malah cuma mengaduk-aduk makanan itu di mangkuknya.

Lee Min Ho seperti ingin mengatakan sesuatu. Bae Soo Bin tahu. Tetapi ketika adiknya mengatakan ingin berterus terang, tak urung Bae Soo Bin terkejut.

"Tentang istrimu?" sergahnya sambil mengawasi adiknya dengan tatapan kaget.

"Tentang penyakitku."

Bae Soo Bin tertegun. Ditatapnya adiknya dengan cemas. Seberat apakah penyakitnya? Mengapa Lee Min Ho tampak demikian putus asa? Karena itukah dia tidak nafsu makan? Karena itu pulakah dia tampak demikian kurus dan pucat?

Ya Tuhan, dia sakit apa?

"Kau mau berjanji akan merahasiakan penyakitku?"

"Kenapa harus dirahasiakan?" desak Bae Soo Bin bingung. "Kau bukan ketularan AIDS, kan?"

Lee Min Ho menggeleng.

"Lalu kenapa harus dirahasiakan?"

"Aku tidak mau istriku tahu penyakitku."

"Kalau bukan penyakit kotor, untuk apa malu pada istrimu? Dia malah harus tahu suaminya sakit! Supaya bisa merawatmu!"

“Tapi aku tidak tega kalau Angel tahu umurku mungkin tinggal beberapa bulan lagi..."

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...