Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Tampilkan postingan dengan label Berlabuhlah Di Dadaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berlabuhlah Di Dadaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Berlabuhlah Di Dadaku (FF)



Title : Berlabuhlah Di Dadaku
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 5 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 Oktober 2011, 10.10 PM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Park Ji Yeon of T-Ara
Lee Hong Ki of FT Island
Choi Siwon of Super Junior


Berlabuhlah Di Dadaku

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5 - Tamat

Berlabuhlah Di Dadaku (Chapter 5-Tamat)



“Aku prihatin dengan puisimu. Jadi aku ingin kau berlabuh di dadaku. Aku ingin mengganti hari-hari sedihmu dengan cerita yang baru, yang seru, yang lucu. Pokoknya supaya kau tidak sedih lagi. Apa boleh, Kim So Eun?”

Lama Kim So Eun tepekur menghadapi lembaran kotor di meja. Ia malah kemudian garuk-garuk kepala seperti orang bingung.

“Maaf, Kim So Eun. Kuharap kau tidak marah. Mungkin aku terlalu cepat mengatakan ini....” Kim Bum buru-buru meneguk Ice Lemon Tea-nya untuk menghilangkan gumpalan di tenggorokannya. Biar bagaimana pun, ia juga takut cintanya ditolak terang-terangan karena itu di luar skenario angan-angannya.

“Kau benar-benar mau menjadi teman dekatku, Kim Bum? Kau tahu kalau aku paling segan dengan….”

“Iya, aku sudah tahu dari Park Ji Yeon kalau kau tidak suka dengan Pemuda yang bodoh, iya kan....”

“Eh, Aku kan tidak bilang kau bodoh. Aku tadi mau bilang... Kalau aku itu paling tidak suka dengan yang namanya puisi, apalagi puisi cengeng.”

Kim Bum bengong memandang Kim So Eun. Puisi cengeng ini kan buatannya….

“Kim Bum, ini puisi Choi Siwon. Bukan puisiku.”

“Benarkah? Kata Park Ji Yeon….”

“Mungkin saja, Park Ji Yeon sengaja menggodamu. Atau mungkin juga dia ingin menjodohkan kita. Choi Siwon membuat puisi itu tapi aku buang. Aku bosan dengan kebohongannya dan juga bosan memaafkannya berkali-kali. Dia sengaja membuat puisi patah hati supaya aku mau menerimanya lagi.”

Kim Bum merasa telinganya memera. Malu. Ternyata yang patah hati bukan Kim So Eun, tapi Choi Siwon, mantan kekasihnya. Padahal dia sudah terlanjur menyatakan cinta terang-terangan.

“Kalau begitu Maafkan aku, Kim So Eun. Kalau tahu ini tulisan Choi Siwon, sudah kubuang dari dulu. Ternyata cintaku kali ini salah sasaran. He he he…,” ujar Kim Bum sambil mengakhiri kalimatnya dengan tawa yang terdengar pahit. Kartunya terbuka lebar di depan Kim So Eun, sekarang ia sedang bingung menentukan sikap.

“Kurasa kau tidak salah sasaran.”

Kim Bum mendongak. Dua puisi cengeng itu sudah diremas-remasnya sampai kusut untuk menutupi rasa malunya pada Kim So Eun.

“Tidak salah?”

Kim So Eun mengangguk dan memberikan senyum yang manis. “Mudah-mudahan tawaran berlabuhlah di dadamu masih terbuka, meskipun tanpa puisi konyol itu.”

Wah, enaknya mengobrol dengan orang pintar seperti ini. To the point, tidak perlu basa-basi. Kim Bum merasa hatinya penuh bunga yang yang sedang bermekaran. Ia tahu, ini bukan rasa kasihan karena Kim So Eun yang telah dianggapnya patah hati, tetapi betul-betul rasa cinta.

“Eh, tapi Kim Bum. Kau harus benar-benar sayang padaku. Soalnya kalau tidak, aku takut berikutnya kau yang akan membuat puisi frustrasi seperti Choi Siwon.”

Ha ha ha.... Sore itu terlewati dengan tembang manis di hati mereka masing-masing.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Berlabuhlah Di Dadaku (Chapter 4)



Di suatu sore yang cerah. Meski badan bau keringat, Kim Bum dengan percaya diri mengajak Kim So Eun makan Mie Ramen di kedai kecil, seberang kampus mereka. Hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan kegiatan sosial bersama.

“Mmh... bolehlah. Aku juga sedikit lapar.”

Kim Bum lega ketika Kim So Eun tidak menolak ajakannya.

“Kim So Eun, kau…. Eh, maaf. Apa boleh aku bertanya hal yang pribadi?”

“Tergantung apa yang ditanya,” jawab Kim So Eun sambil mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.

“Begini, kita kan tidak terlalu dekat berteman karena berbeda kelas. Jadi aku takut kau tersinggung kalau aku bertanya tentang hal-hal yang pribadi.”

“Hari ini aku sedang tidak mood untuk menjawab apa pun. Mungkin karena traktiranmu ini,” ujar Kim So Eun lagi. “Perut kenyang, hati riang.”

Kim Bum terkekeh juga mendengar ucapan Kim So Eun.

“Apa yang mau kau tanyakan?”

“Kau sudah putus dengan Choi Siwon?”

“Apaaa? Itu kan sudah lama sekali, kenapa baru kau tanyakan sekarang?”

Kim Bum menyunggingkan senyum. Tampaknya ada sinyal bagus untuk melaju ke pembicaraan berikutnya. Apalagi Kim So Eun ternyata tidak sekaku yang ia kira. Gadis ini bukan cuma asyik diajak mengobrol tentang pelajaran, tapi juga tentang basket, musik atau lukisan.

“Karena sebenarnya aku...” Kim Bum sengaja menggantung ucapannya agar Kim So Eun penasaran.

“Karena kenapa?” tanya Kim So Eun. Ia melirik tajam pada Kim Bum. Mata itu memang sarat oleh rasa ingin tahu yang dalam.

“Mmh, boleh tidak kalau aku lebih dekat denganmu?”

“Hmm… apa kau menyukaiku, Kim Bum?”

Ampun, Kim So Eun tampak menggemaskan dengan pertanyaannya itu. Kim Bum menarik napas dalam dan berusaha lebih tenang dari sebelumnya.

“Ini kalau boleh. Karena yang aku tahu, orang patah hati biasanya lama pulihnya.”

Kim So Eun segera menghentikan acara makannya. “Kata siapa aku patah hati? Rasanya aku tidak pernah cerita pada orang lain.”

Yupp! Ini dia. Tepat sasaran! Kim Bum segera mengeluarkan dua lembar puisi kumal yang pernah ditemukannya beberapa waktu yang lalu.

Bersambung…

Berlabuhlah Di Dadaku (Chapter 3)



Walaupun Kim Bum tidak pintar dalam bidang akademis, tapi ia aktif dalam kegiatan sosial. Dan kebetulan sekali, Kim So Eun juga ikut bergabung dalm kegiatan sosial di sekolahnya. Sudah bisa dipastikan, mereka akan sering bersama.

Kulit Kim So Eun yang putih langsung matang memerah diterpa teriknya matahari siang. Gadis itu tidak banyak bicara. Dia memang pendiam, ditambah lagi sekarang dia sedang patah hati, dan kepanasan pula. Bagaimana mau bicara. Iya, kan....

“Kau mau minum, Kim So Eun. Ini...” ujar Kim Bum. Teh dalam kemasan kotak yang dingin sangat menggoda leher yang kering.

“Terima kasih.”

Mereka minum berdua. Beberapa teman yang lain sedang keluar membeli makanan. Kim Bum merasa senang bisa berduaan saja dengan Kim So Eun.

''Gadis cantik dan kaya sepertimu, kenapa mau ikut dalam kegiatan sosial seperti ini? Biasanya kan gadis sepertimu ini lebih senang jalan-jalan di ruangan ber-AC daripada berpanas-panasan di bawah terik matahari seperti ini disini.''

''Yang kaya itu kedua orangtuaku, bukan aku! Aku tidak seperti gadis-gadis yang kau ceritakan itu. Aku lebih senang bergabung dalam kegiatan sosial, daripada menghambur-hamburkan uang, keluar masuk toko membeli barang-barang bermerk. Lagipula bergabung dalam kegiatan sosial, lebih bermanfaat. Kita bisa membantu orang-orang yang sedang kesusahan.''

''Wah hebat! Tidak banyak gadis kaya yang berpikiran sepertimu.''

''Begitulah aku.''

Setelah mengobrol dengan akrab, Kim Bum mulai percaya diri untuk melakukan jurus-jurus pendekatan. Ia akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk bisa meraih hati Kim So Eun. Semoga saja setelah acara selesai, ia sudah menjadi kekasih Kim So Eun. Huh, gara-gara puisi itu, ia jadi jatuh cinta pada Kim So Eun. Jatuh cinta atau kasihan, ya?

Bersambung…

Berlabuhlah Di Dadaku (Chapter 2)



Aku tak tahu
Haruskah berderai air mata
Dan menelungkup gelisah
Kala pahit itu kau tancapkan
Atau mengedarkan pandang demi cinta yang lain?

Wow, ini hebat. Untuk kedua kalinya Kim Bum bisa menemukan tulisan yang sama. Kali ini disudut taman Kampus. Padahal tadinya, ia berencana menunggu Lee Hoong Ki di tempat parkir, tapi di sana panas sekali. Jadilah Kim Bum duduk di bangku beton beratapkan rimbunan pohon flamboyan yang tengah berbunga. Gadis ini mulai labil sehingga menimbang-nimbang untuk mencari kekasih baru.

“Hai, Park Ji Yeon! Sedang apa kau di situ? Kemarilah, mengobrol bersamaku!” seru Kim Bum pada Park Ji Yeon yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya.

“Kau sendiri sedang apa di situ, mencari inspirasi?” balas Park Ji Yeon sambil mendekat.

“Mencari kekasih baru.”

“Memangnya ada yang mau menjadi kekasihmu. Kau itu kan bodoh.”

Kim Bum hanya tersenyum ramah. “Jangan bilang bodoh.... Itu negatif. Bilang saja aku kurang pintar. Kan lebih enak didengar.”

“Terserahlah. Memangnya siapa yang kau sukai?”

Kim Bum serta-merta mengangsurkan puisi temuannya pada Park Ji Yeon. Ia juga mengambil lembaran lain dari dalam tasnya.

“Sepertinya… aku tahu ini tulisan siapa. Kim So Eun!” cetus Park Ji Yeon.

“Yang benar?”

“Yang aku tahu, Dia kan baru putus dari Choi Siwon sebulan lalu.”

Kim Bum tahu siapa itu Kim So Eun. Mereka satu angkatan, tetapi berbeda kelas. Kim So Eun tergabung dalam grup anak-anak berotak cemerlang.

“Memangnya Kim So Eun itu bisa membuat puisi?”

“Eh, karya sastrawan atau pujangga itu biasanya bermula dari patah hati. Kau mau mendekati Kim So Eun,.... Apa iya, Kau bisa?”

Disepelekan begitu oleh Park Ji Yeon, ternyata membuat emosi Kim Bum naik. Pasti ujung-ujungnya Park Ji Yeon akan bilang, orang pintar tidak suka bergaul dengan orang bodoh. Sialan. Ia harus mulai memikirkan bagaimana caranya supaya bisa dekat dengan Kim So Eun.

Bersambung…

Berlabuhlah Di Dadaku (Chapter 1)



Katamu, tanpaku akan selalu ada resah
Cetusmu, hatimu tak lagi basah
Bersamamu, kepak cintaku melayang gagah
Tapi… dalam satu hitungan waktu saja
Kau berpaling…

Kim Bum membaca ulang kertas kumal yang ditemukannya di kolong meja kantin. Maksudnya tadi, ia akan mengambil uangnya yang terjatuh, eh, ternyata ada puisi patah hati yang sempat terkena cap sepatunya. Ia menebak-nebak, Gadis mana kira-kira yang tengah frustrasi kali ini. Sayang sekali, ia tidak bisa mengenali tulisan tangan yang telah mencetak puisi itu.

“Lee Hong Ki, apa kau tahu ada seorang gadis yang baru saja putus dengan kekasihnya?” tanya Kim Bum pada Lee Hong Ki.

“Putus? Memangnya kenapa?”

“Siapa tahu saja kau tahu. Sepertinya enak jika melakukan pendekatan dengan orang yang sedang broken heart, jarang ditolak.”

“Sadis. Itu namanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lagipula mana enak pacaran tanpa rasa cinta?”

Kim Bum kembali membaca puisi singkat itu di kamarnya. Tiba-tiba saja ia merasa penasaran dengan Gadis puitis ini. Sudah pasti bukan teman sekelas karena Kim Bum hafal benar tulisan teman perempuannya di kelas, apalagi kalau Gadis itu pintar. Sudah pasti akan menjadi langganannya untuk meminjam catatan.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...