Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 14 Juni 2011

Cinta Yang Terpilih (Chapter 4)



Hari Ketiga

Kapal berlabuh di ‘Twilight’, sebuah kota tua berjarak 120 km di arah tenggara ‘Eclipse’. Kim Bum sudah mempersiapkan diri sejak pagi. Jins biru, T-shirt putih, dan sepatu kanvas. Tampak segar dan sedikit bergaya seperti remaja.

“Kau benar-benar akan pergi?” Kim So Eun meyakinkan.

“Ya, kenapa tidak?” jawab Kim Bum, antusias.

“Tapi, kau masih sakit….”

“Apakah menurutmu aku masih tampak sakit?”

Kim So Eun mengangguk. “Ya, sedikit….”

“Apakah dengan alasan sesepele itu aku harus tidur di kabin sepanjang hari, dan melewatkan kesempatan menikmati keindahan Negara Eclipse?”

“Tapi…,” Kim So Eun ragu-ragu.

“Ayolah,” Kim Bum menarik lengan Kim So Eun. “Tidur bisa kulakukan di mana saja dan kapan saja. Sungguh bodoh bila aku harus melewatkan Garnier Hill’s hanya dengan berbaring di ranjang!”

“Yap!” akhirnya Kim So Eun menyambut uluran tangan itu dengan semangat penuh.

Taman Century Flower berdiri di atas bukit. Ada banyak pepohonan hijau di sekitarnya. Teduh, menawarkan kedamaian pada setiap orang. Pagar-pagar yang mengeliliingi Taman Century Flower sebagian besar sudah mengelupas, menampakkan besi berkarat berlapis lumut alami. Di bagian dalam, ada berbagai macam bunga dengan Air Mancur di beberapa sudut. Deretan bangku-bangku tua berjajar rapi, siap menyambut siapa pun yang datang.

Di bagian bawah bukit, benteng Alferindo, sisa benteng Twilight, berdiri kokoh mengelilingi Taman, seakan mengamankan dan memberi perlindungan bagi bangunan tua itu. Semuanya menjanjikan rasa damai pada setiap orang.

Kim So Eun berdiri di ambang Danau Wizard. Berdiri mematung beberapa saat. “Aku ingin sendirian…,” katanya kemudian.

“Baiklah, aku tunggu kau di benteng bawah.” Kim Bum mengangguk maklum tanpa bertanya lebih jauh. Ia lalu berjalan-jalan sendiri mengitari kawasan itu. Tidak banyak turis yang datang saat itu. Hanya ada beberapa pengunjung asing, selebihnya adalah pengunjung dari penduduk setempat.

Di pelataran benteng, Kim Bum menemukan seorang ibu sedang sibuk memperbaiki roda kereta dorong anaknya. Tapi, dari apa yang dilakukannya, terlihat bahwa ia sama sekali tidak berpengalaman. Naluri Kim Bum segera tergerak.

“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” katanya, menawarkan bantuan.

“Roda ini tidak mau berputar, Saya tidak tahu kenapa,” keluh Nyonya dengan wajah cemas.

“Akan saya coba memperbaikinya,” Kim Bum mengambil alih kereta dorong itu. Ditelitinya sesaat dan ditemukannya satu sekrup pengunci roda yang terlepas. Bila sekrup penggantinya tidak ditemukan, terpaksa harus dicari alternatif lain.

“Dari mana asal anda?” tanya Nyonya pemilik kereta dorong itu, sembari menggendong anaknya yang masih kecil.

“Korea,” Kim Bum menjawab pendek.

“Turis?”

“Ya,” Kim Bum mengangguk.

“Dengan siapa?”

“Seorang teman,” Kim Bum menunjuk ke arah bukit. “Dia sedang berada di sana sekarang.”

Di saat yang sama terlihat Kim So Eun menuruni tangga bukit dan berjalan mendekat ke arah mereka.

“Apakah dia?” tanya Nyonya itu, menatap Kim So Eun lebih lama.

“Ya,” Kim Bum menegaskan.

“Cantik sekali, pasti bukan teman biasa,” tukas Nyonya itu lagi, tersenyum.

Kim Bum mendadak tersipu. Ia menjadi kehilangan kata-kata. Ketika langkah Kim So Eun semakin mendekat, Kim Bum menyibukkan diri dengan kereta dorong yang sedang diperbaikinya.

“Hallo,” Kim So Eun memberi salam.

Nyonya itu membalas salam Kim So Eun. “Maaf ya, Nona harus menunggu. Teman nona ini sedang memperbaiki kereta bayi saya.”

“Oh, tidak masalah,” Kim So Eun tersenyum. Dibelainya anak dalam pelukan ibu itu. “Ini putri Nyonya? Berapa umurnya? Cantik sekali….”

“Baru lima belas bulan. Namanya Britney.” Ada nada bangga dalam suaranya.

“Ayo, Britney, mau ikut denganku berjalan-jalan?” ajak Kim So Eun, tertawa melihat betapa lucunya si kecil.

“Ya, dia sedang belajar jalan,” sang ibu menurunkan Britney dari pelukannya. “Dia malas sekali. Dia tidak mau melangkah bila tidak ada sesuatu yang menarik hatinya. Dia baru mau melangkahkan kaki dan berjalan sendiri bila menginginkan sesuatu. Akibatnya, sampai sekarang dia belum lancar berjalan sendiri!”

“Begitukah? Kalau begitu, tunggu sebentar.” Kim So Eun beranjak dan membeli beberapa balon aneka warna. Sesaat kemudian, dengan balon itu dirayunya gadis kecil itu untuk berjalan ke arahnya.

Berhasil! Britney kecil bersorak melihat balon warna-warni. Sigap diulurkannya tangan mencoba menjangkau balon-balon itu. Langkah kecilnya tertatih-tatih mendekati Kim So Eun. Setiap kali tangannya hampir meraih balon, Kim So Eun menjauh, sehingga memacu Britney untuk terus melangkah mendekat. Begitu terus hingga beberapa putaran. Dan, gadis kecil itu tidak putus asa. Dengan semangat penuh terus dikejarnya Kim So Eun dan mencoba meraih balon yang diinginkannya. Ibunya dan Kim So Eun terus memanggil-manggil namanya untuk memberi semangat.

Sesaat kemudian tampak langkah gadis kecil itu makin membaik. Keseimbangannya terjaga, membuat langkah kecilnya makin mantap dan tidak goyah. Di belakangnya, sang ibu mengikuti langkah putrinya sembari bertepuk tangan gembira. Kim Bum mengamati adegan itu dari kejauhan. Rupanya dia sudah selesai memperbaiki kereta dorong itu.

Sebentar kemudian, Kim So Eun menghentikan langkah. Ditungguinya Britney dengan sabar. Sigap, gadis kecil itu meraih balon impiannya dan bersorak kegirangan. Kim So Eun tertawa dan meraih gadis kecil itu dalam pelukannya.

“Saya ada kamera langsung jadi. Mari saya foto kalian, nanti gambarnya bisa kalian bawa pulang sebagai kenang-kenangan,” kata ibu Britney, meraih kamera dari dalam tasnya. Tanpa diduga ia mendorong Kim Bum ke arah Kim So Eun dan Britney untuk ikut berfoto.

Dengan langkah ragu-ragu, Kim Bum menempatkan diri di samping Kim So Eun.

“Kenapa seperti itu? Kalian ini kan sepasang kekasih! Kalian harus tampak mesra!” seru wanita itu.

Mendengar itu, mendadak pipi Kim Bum dan Kim So Eun merona merah. Mereka tampak tersipu dan salah tingkah. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, ibu Britney berlaku layaknya juru foto profesional. Diaturnya lengan Kim Bum sedemikian rupa, memeluk Kim So Eun dan Britney. Salah tingkah keduanya semakin menjadi, tapi instruksi ‘sang pengarah gaya’ sungguh tidak dapat ditolak. Mereka terpaksa pasrah mengikuti arahan ibu Britney.

“Kalian ini kekasih, tapi nampak malu-malu. Aneh sekali!” komentar ibu Britney sembari beraksi dengan kameranya.

Beberapa saat kemudian beberapa lembar foto tercetak sempurna. Begitu bagus adegan dalam foto itu. Kim Bum memeluk Kim So Eun yang sedang menggendong Britney. Ketiganya tertawa lepas menampakkah kebahagiaan, di latar belakang balon warna-warni melengkapi gambaran kebahagiaan itu.

“Foto yang bagus! Kalian nampak seperti keluarga muda yang bahagia!” komentar ibu Britney melihat hasil karyanya. Diambilnya sehelai foto untuk dirinya sendiri. Selebihnya diberikannya pada Kim So Eun. “Akan saya simpan sebagai kenang-kenangan, siapa tahu kita bertemu lagi.”

“Terima kasih,” Kim So Eun menerima foto itu, tersipu.

“Kali ini saya pinjamkan Britney-ku pada kalian, tapi suatu saat di masa nanti kalian akan berfoto dengan Britney kalian sendiri,” ibu Britney mengerling penuh arti.

Kim So Eun tercenung. Kalimat itu menyentuhnya. Britney kalian sendiri? Mungkinkah aku memiliki seorang gadis kecil dalam hidupku di masa nanti?

Mereka lalu berpisah. Nyonya itu pamit dan menjauh. Dari dalam kereta dorongnya, Britney melambai-lambaikan tangannya.

“Gadis kecil yang bersemangat,” gumam Kim So Eun, membalas lambaian itu. Disimpannya diam-diam kesedihan berpisah dari gadis kecil itu.

“Kau yang mengubah gadis kecil itu,” kata Kim Bum, mengamati Britney yang makin menjauh. “Bertemu denganmu, kemalasannya berubah menjadi semangat yang luar biasa!”

“Sebenarnya dia bukan anak pemalas, hanya saja dia baru mau melakukan sesuatu jika ada tujuan tertentu yang akan diraihnya. Britney bukan tipe anak yang mau melakukan sesuatu tanpa alasan.”

“Ya, dia bukan tipe anak yang mau melakukan sesuatu dengan sia-sia. Tidak seperti kita!”

“Kita melakukan sesuatu dengan sia-sia, menjalani hidup tanpa arah.”

“Kita tidak punya tujuan, bahkan tidak tahu apa yang sesungguhnya kita inginkan!”

“Jadi?”

“Jadi, kita ini tidak lebih pintar dari anak usia lima belas bulan!”

Keduanya berpandangan, saling mengangkat bahu, dan akhirnya tertawa terbahak bersamaan. Lebih untuk menertawakan diri sendiri. Tawa yang pahit dan getir!

Kim So Eun termenung sejurus lamanya. Lalu, dilihatnya dirinya sendiri. Inikah kebahagiaan yang diinginkannya? Meraih cinta dalam genggaman, tapi harus menyembunyikan diri sedemikian rupa? Ya, ya, siapkah dia menerima posisi sebagai ‘wanita kedua’ di dalam kehidupan Lee Min Ho?

Kim So Eun belum selesai dengan pertimbangan-pertimbangan itu ketika mendadak alarm kapal berbunyi nyaring. Membelah kesunyian malam.

“Kebakaran! Ada kebakaran!” tiba-tiba terdengar teriakan seseorang, entah siapa. Detik itu juga suara-suara gaduh membuncah. Kepanikan melanda para penumpang yang secara tak terkendali bergerak untuk menyelamatkan diri masing-masing. Suasananya luar biasa kacau. Berbaur suara jeritan dan tangisan di mana-mana.

Kim So Eun terpaku. Dia belum sepenuhnya sadar pada apa yang terjadi di kapal yang mereka tumpangi, ketika dilihatnya Lee Min Ho meloncat dan melepaskan genggaman tangannya begitu saja.

“Park Min Young!” Lee Min Ho berseru keras, dan bagai kesetanan dia segera berlari menuju ke kamarnya mencari istrinya. Sama sekali tak dipedulikannya Kim So Eun yang baru beberapa detik lalu berada dalam pelukannya.

Di kursinya, Kim So Eun duduk membeku dalam keterkejutan yang panjang. Reaksi spontan yang baru saja dilihatnya pada diri Lee Min Ho adalah realitas. Suatu kenyataan yang menghanguskan bangunan mimpi dan harapan yang selama ini disusun satu demi satu. Hangus sudah, berantakan! Apakah kapal ini akan hangus juga seperti mimpiku barusan?

“Kim So Eun….” Sebuah tepukan di bahu mencairkan kebekuan gadis itu. Dia menoleh. Kim Bum berdiri di belakangnya dengan raut wajah penuh kecemasan yang tak tersembunyikan. “Kau baik-baik saja?”

“Ya,” Kim So Eun mengiyakan. “Ada kebakaran?”

“Bukan,” Kim Bum menggeleng. “Hanya ada sedikit asap di dapur, barangkali masakan hangus atau entah apalah, tapi rupanya seorang penumpang yang kebetulan melihat itu telanjur panik, mengaktifkan alarm. Sekarang sudah teratasi.”

Kim So Eun melihat sekelilingnya. Benar juga, situasi yang tadi begitu kacau dan hiruk-pikuk, kini telah tenang kembali, meskipun menyisakan meja dan kursi yang porak-poranda.

“Selendangmu,” Kim Bum mengulurkan selendang dan mengalungkannya pada bahu Kim So Eun. “Kau selalu lupa membawanya, sementara malam begitu dingin, jadi kupikir kau pasti akan memerlukannya.”

“Terima kasih,” bisik Kim So Eun, nyaris tanpa suara. Dia merasakan kehangatan menyentuh bahunya. Bukan karena balutan selendang itu, tapi lebih karena getar yang menyertai gerak selendang itu. “Kenapa kau selalu bisa menemukanku?”

Kim Bum terkejut. “Kau curiga aku mengikutimu?”

Kim So Eun menggeleng. Dia tidak memerlukan jawaban lebih lanjut. Dia tahu Kim Bum tidak melakukan itu. Kartu yang menyertai rangkaian mawar merah muda untuknya tadi, tentulah merupakan petunjuk yang jelas bagi Kim Bum untuk menemukannya di teras ini.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...