Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 01 Juni 2011

Magic Girl (Chapter 1)



Teng... teng... teng...

"Ya, kita selesaikan sampai di sini dan jangan lupa pekerjaan ru..."

Ucapan sang guru tak lagi terdengar lantaran riuhnya suara kursi dan derap langkah murid-murid yang berlomba-lomba keluar ruangan kelas lebih dulu. Tak ada seorang lagi pun yang mengacuhkan pesan Mrs. Han Chae Young, sang guru fisika.

Tak terkecuali Kim So Eun. Meski sudah memusatkan segala kecepatan yang dimiliki, tetap saja ia kebagian posisi juru kunci, alias paling belakang dan selalu diserobot teman-temannya.

Sambil menghela napas maklum, Kim So Eun membetulkan letak kacamata minus tujuh-nya yang sering merosot akibat dorongan dan desakan-desakan teman-teman yang memburu keluar melewati pintu.

"Hei!" seseorang mencolek bahunya. Kim So Eun menoleh dan tersenyum kikuk.

"Hai, Jung So Min," dibalasnya sapaan Jung So Min,

"Mau ke mana? Ke kantin bersamaku ya?" ajak Jung So Min manis, bernada bersahabat.

Kim So Eun terdiam sesaat. Seorang gadis cantik, manis, dan cukup populer sedang mengajak seorang anak itik buruk rupa yang dungu dan lamban, batin Kim So Eun. Ya, Jung So Min memang gadis yang baik. Kecantikan dan kepopulerannya di sekolah ini tak menjadikannya sombong. Sementara teman-teman yang lain menganggap Kim So Eun aneh dan enggan menegur, apalagi mengajak Kim So Eun bergabung dalam suatu kegiatan.

"Ayolah," ajak Jung So Min sambil menarik tangan Kim So Eun. "Kalau kau..."

"Jung So Min... ayo cepat, lama sekali," panggil Park Ji Yeon, salah satu gadis dalam kelompok Jung So Min. Kelompok yang terkenal lantaran anggotanya terdiri dari gadis-gadis manis dan modis.

Lewat tatapan mata Park Ji Yeon, Kim So Eun dapat merasakan bahwa keikutsertaannya tidak diharapkan dan kehadirannya tak diinginkan oleh anggota kelompok yang lain.

"Aku... eh... lain kali sajalah," tolak Kim So Eun seperti biasanya dengan kikuk dan kepala agak tertunduk-tunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.

"Jung So Min, ayo cepat...!" panggil Park Ji Yeon.

Jung So Min memandang ke arah Kim So Eun dan Park Ji Yeon bergantian beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti Park Ji Yeon.

"Benar ya... lain kali?" Jung So Min pura-pura merengut.

Kim So Eun tersenyum lalu mengangguk dan segera berlalu dari hadapan mereka.

Ia lebih suka melewatkan waktu makan siang di perpustakaan atau di taman sambil memakan bekal roti yang dibawanya dari rumah. Baginya kumpul-kumpul dan mengobrol di kantin adalah sesuatu yang hanya membuatnya merasa tidak enak, risih, dan malu. Sebab semua orang akan memperhatikan dirinya begitu ia masuk ke sana.

Sambil melangkah Kim So Eun teras memikirkan keadaannya. Bukan ia yang minta menjadi gadis kutu buku berkacamata minus tebal dan berpribadi pemalu, tertutup seperti ini. Entah siapa yang salah.... Yang jelas, selama 16 tahun ia telah tumbuh menjadi Kim So Eun yang lamban, kutu buku, tak pandai bergaul, dan punya selera yang aneh dalam memilih penampilan.

Kim So Eun memasuki taman sambil mulai mencari-cari sudut yang lengang dan kursi yang kosong. Sekolah swasta ini dikelola oleh yayasan Go Green, sehingga selain kompleks sekolah, terdapat juga Taman Bunga. Dan taman ini sebenarnya adalah milik Yayasan Go Green itu. Akan tetapi siapa saja boleh memasukinya asalkan tidak merusak, membuat kotor, atau membuat onar.

Tak seorang pun nampak di taman. Tidak juga para anggota yayasan. Mungkin mereka sedang makan siang, pikir Kim So Eun, lalu memilih sebuah kursi dan duduk di atasnya. Dikeluarkannya catatan kimia yang baru disalinnya kemarin dari buku Prof. Kang Ji Hwan, guru kimia SMA Sungkyunkwan.

Dan begitu larut dalam catatan dan pelajaran, Kim So Eun seperti lupa akan segalanya. Tak menghiraukan keadaan sekelilingnya lagi.

Asyik sendiri dengan kumpulan rumus-rumus baku dan rumus-rumus turunan. Kimia adalah salah satu mata pelajaran favoritnya, sementara justru bagi kebanyakan anak-anak lain menjadi musuh utama. Kim So Eun memang selalu aneh dan berbeda dengan kebanyakan anak seusianya. Kalau anak-anak lain lebih suka ke tempat dugem, ke bioskop atau ke kantin, maka Kim So Eun lebih suka ke perpustakaan, toko buku, atau di rumah mendengarkan MP3. Apa yang wajar menurut Kim So Eun ternyata merupakan keanehan bagi teman-temannya.

Karena perbedaan-perbedaan inilah maka Kim So Eun lantas merasa enggan bergaul dengan teman-temannya. Kim So Eun terbiasa sendirian tanpa teman, apalagi sahabat. Dan lama-kelamaan muncul pula rasa rendah diri apabila berada di tengah-tengah teman sebayanya.

Teng... teng... teng...

Kim So Eun masih asyik dengan catatan kimianya.

“Ehem... ehem..."

Kim So Eun tersentak mendengar suara seseorang. Ditengadahkannya kepalanya dan dilihatnya sosok wanita dengan mini dress hitam yang dibalut dengan blazer putih berada di hadapannya.

"Ny. Han Ga In...," desisnya perlahan.

"Ya... saya senang melihat kau rajin belajar, Kim So Eun," ujar Ny. Han Ga In sambil tersenyum. Para anggota Yayasan Go Green di sini rata-rata mengenal Kim So Eun, sebab Kim So Eun adalah murid yang paling sering mengunjungi taman mereka.

"Maaf, Nyonya... apakah sekarang anak-anak sudah dilarang masuk ke taman ini lagi?" tanya Kim So Eun takut-takut.

"O... tidak," geleng Ny. Han Ga In cepat. "Tapi saya ingin mengingatkanmu. Rasanya waktu istirahat sudah habis dan kau harus kembali ke kelasmu."

Kim So Eun ternganga. Diliriknya arloji Monol-nya. Ny. Han Ga In benar, sekarang sudah jam setengah sepuluh, berarti pelajaran Bahasa Inggris sudah dimulai! Kim So Eun segera membereskan buku-buku dan tempat rotinya.

"Tidakkah kau mendengar suara bel barusan? "Ny. Han Ga In tersenyum geli melihat kekikukan Kim So Eun. Kim So Eun menggeleng.

"Selamat siang, Ny. Han Ga In," ujarnya terengah. Lantas secepat kilat Kim So Eun hilang dari pandangan mata, mengejar waktu yang tertinggal untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

* * *

"Tambah lagi, Sayang," ujar Ibu lebih merupakan suatu perintah.

"Aku sudah kenyang, Ibu," Kim So Eun berusaha menolak sambil memperlihatkan ekspresi kenyang dengan meringis.

"Beberapa sendok lagi tak akan berpengaruh apa-apa... ayo." Ibu menyodorkan lagi tempat nasi.

Kim So Eun menghela napas. Tapi toh disendoknya juga nasi dari piring yang disodorkan Ibu. Ucapan Ibu, meskipun manis dan lembut, bagi Kim So Eun lebih menakutkan ketimbang suara Mrs. Han Chae Young, guru fisikanya. Apa-apa yang telah keluar dari mulut Ibu adalah peraturan yang harus dijalankan. Dan siapa yang tak menaatinya... uh jangan tanya lagi. Pasti mendapat sanksi.

Sambil mengunyah dengan malas Kim So Eun teringat waktu ia meminta adik pada Ibu. Ibu sudah memperingatkan agar tidak menyinggung-nyinggung lagi hal itu, tapi Kim So Eun toh keceplosan juga waktu mengobrol dengan Bibi Kim Ha Neul di jamuan arisan. Dan Bibi Kim Ha Neul tertawa mendengar keinginan Kim So Eun, dan Ibu mendengarnya lalu marah, dan Kim So Eun tidak diberi uang saku selama seminggu dan akibatnya Kim So Eun tak bisa membeli kumpulan rumus terbaru yang begitu didambakannya. Yah... panjang sekali bukan buntutnya?

Beranjak dari pengalaman itu Kim So Eun selanjutnya selalu mematuhi apa yang dikatakan Ibu.

"Nah... habis juga, kan?" Ibu mengangkati piring-piring kotor, sementara Kim So Eun bersandar kekenyangan pada kursinya.

Dihembuskannya napasnya secara teratur, untuk mengatasi rasa mual akibat perutnya diisi terlalu banyak. Kim So Eun mencoba mengalihkan perhatiannya pada televisi. Selepas pukul delapan biasanya acara-acara mulai menarik. Dari ruang tengah terdengar musik intro sebuah film seri.

"Dream Of Brittany" seru Kim So Eun sambil memburu ke ruang tengah. Drama Seri Dream of Brittany yang penuh fantasi dan keajaiban sangat disukainya. Dan dalam beberapa saat saja Kim So Eun telah asyik larut dalam drama seri tersebut. Ya, dalam hal-hal yang diminatinya, Kim So Eun mudah sekali hanyut dan larut. Seolah-olah sedemikian menghayatinya sampai terseret dalam pusaran cerita khayal itu sendiri.

" Kim So Eun!" tukas Ibu yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.

"Hm?" sahut Kim So Eun tanpa melepaskan perhatiannya pada televisi.

"Sudah jam setengah sepuluh, lebih baik kaukerjakan tugas-tugas sekolahmu dan masuk kamar lalu tidur."

"Ya... Ibu... sebentar lagi," ujar Kim So Eun kesal.

"Kim So Eun, film-film khayal seperti itu kurang baik akibatnya bagi anak-anak sepertimu...."

"Ibu, aku kan sudah SMA, masa masih dibilang anak-anak?" bantah Kim So Eun.

"Eh... kenapa anak Ibu sudah mulai membantah?" bola mata Ibu membesar.

"Itu tandanya sudah besar."

"Kenapa kau masih menjawab saja? Ayo sana... biar Ibu matikan saja televisinya supaya tak ada yang menonton, supaya adil." Ibu bangkit dan televisi benar-benar dimatikan oleh Ibu.

"Ibu...," pekik Kim So Eun setengah merengek.

"Sstt!" Ibu menempelkan telunjuk pada bibirnya sambil menatap tajam ke arah Kim So Eun. "Jangan merengek begitu... Ibu tidak suka. Ayo, jangan sampai Ibu marah ya?"

Dengan cemberut Kim So Eun beranjak ke kamarnya di lantai dua. Ditutupnya pintu dengan keras hingga suaranya berdebum. Namun kekesalan di hatinya belum juga hilang. Ibu selalu memperlakukannya seperti anak kecil, mengatur kehidupannya hampir di segala bidang. Mulai dari memilihkan pakaian, mengatur jadwal belajar, main, makan, dan tidur, hingga menetapkan buku-buku atau film-film apa saja yang patut ditonton oleh Kim So Eun.

Tentu aku tak pernah dewasa... keluh Kim So Eun menyesali nasibnya sebagai anak tunggal. Kata orang jadi anak tunggal enak, dimanja dan dituruti setiap kemauannya. Dulu memang begitu... lamunan Kim So Eun melayang ke hari-hari silam waktu Ayah masih ada. Kepergian Ayah telah mengubah perangai Ibu, demikian pula cara Ibu mendidiknya.

Kim So Eun tak begitu mengerti kasus-kasus psikologi, tapi menurutnya sikap Ibu dan cara mendidiknya yang keras adalah kompensasi dari ketakutannya belaka. Ibu adalah wanita karier yang sukses, yang tak mau kelihatan tua, maka wajar kalau ia selalu menganggap dan memperlakukan Kim So Eun sebagai anak kecil, sebab dengan demikian ia tak akan merasa tua. Dan bisa jadi Ibu berusaha mengimbangi kelembutan seorang ibu dengan kekerasan seorang ayah, karena Ayah telah tiada, dan Ibu harus berperan ganda. Tentu tak mudah....

Karena itu Kim So Eun jarang melawan Ibu. Ia cukup mengerti penderitaan Ibu setelah Ayah tiada. Meski kadang-kadang menjengkelkan... tapi toh diturutinya juga.

Di kamarnya yang ditata feminin dalam nuansa merah jambu, Kim So Eun merasa kesepian. Dinyalakannya radio dan dicarinya gelombang radio kesayangannya.

"...dan satu nomor cantik saya hadirkan untuk kalian yang siap berlayar ke dunia mimpi.... Mimpi indah dan... selamat menikmati...."

Kemudian lagu Just The Way You Are dari Bruno Mars pun mengalun merdu. Kim So Eun memejamkan matanya, meresapi lagu yang seolah-olah dikirimkan oleh sang penyiar bersuara merdu itu, khusus untuknya.

Bruno Mars – Just The Way You Are


Penyiar yang memakai nama samaran Mister DJ itu adalah satu-satunya orang yang tahu segala perasaan Kim So Eun. Kim So Eun sering meminta lagu lewat kartupos pada Mister DJ dengan menggunakan nama samaran; Angel. Lewat surat-surat dan kartupos-kartuposnya, kadang Kim So Eun menceritakan keluh-kesah di hatinya. Meski tak lengkap semuanya.

Mungkin ini salah satu cara Kim So Eun melepaskan beban di hatinya. Dan Mister DJ ternyata pandai pula menghibur, memberi saran lewat siaran-siarannya. Mereka akrab, terasa dekat, meski belum saling kenal. Dan mungkin tak akan pernah... angan Kim So Eun melayang jauh.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...