Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 04 Juni 2011

Biarlah Rahasia (Chapter 2)



“Tapi, saya baru bisa diwawancara, kalau syutingnya sudah selesai.

“Saat break tidak boleh?” Lee Min Ho menawar.

“Lihat nanti, ya. Asal tidak mengganggu, rasanya bisa saja.”

“Baiklah, saya janji tidak akan mengganggu. Terima kasih banyak, Nn. Kim So Eun. Sampai jumpa besok!”

Kim So Eun menutup ponselnya. Malam kian larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 24.00. Namun, matanya sulit sekali untuk dipejamkan. Jarum jam terus bergulir. Kim So Eun menatap kembali, ke arah jam dinding. Sudah pukul 3 pagi! Mengapa aku segelisah ini? Kenapa aku tidak bisa tidur? Padahal, tadi mata ini sudah mulai redup.

Kim So Eun kembali membaca naskah skenario dengan serius, supaya matanya lelah dan kemudian tertidur. Namun, tidak bisa juga. Apakah aku harus membangunkan Ibu? Tapi, kasihan, Ibu pasti sudah tertidur lelap.

Di rumahnya yang besar, Kim So Eun hanya tinggal bersama ibu dan 2 pembantu. Semuanya perempuan. Tiba-tiba perasaannya tidak nyaman. Bulu kuduknya berdiri. Ada rasa takut menghantuinya. Kim So Eun langsung berlari menuju kamar ibunya. “Bu, buka, Bu!” Kim So Eun mengetuk pintu kamar Kim Tae Hee dengan napas tersengal.

“Ada apa, Kim So Eun?” tanya Kim Tae Hee, sambil membukakan pintu dengan mata tampak mengantuk. Tidak biasanya putrinya seperti ini datang ketakutan.

“Aku tidak bisa tidur, Bu. Tadi bulu kudukku berdiri. Kata orang, kalau bulu kuduk berdiri, itu tandanya ada makhluk halus yang lewat,” ujar Kim So Eun, masih dengan nada takut.

“Ah, itu hanya perasaanmu saja. Kau mungkin lupa berdoa sebelum tidur,” kata ibunya.

Kim So Eun tersenyum malu.

Benar saja, ketika Kim So Eun selesai memanjatkan doa, ada rasa tenang di hatinya. Dalam dekapan sang bunda, Kim So Eun tertidur lelap, tanpa harus dihantui perasaan takut lagi.

“Hai, Park Shin Hye, apa kabar? Kim So Eun ada di mana?” tanya Lee Min Ho pada Park Shin Hye, asisten pribadi, di lokasi syuting.

“Kau sudah membuat janji dengan Kim So Eun?” tanya Park Shin Hye.

”Ya, tentu saja!” kata Lee Min Ho.

“Lalu, Kim So Eun bersedia?” tanya Park Shin Hye, curiga.

“Kalau dia tidak bersedia, tidak mungkin aku susah payah datang ke sini,” kata Lee Min Ho, kesal.

“Selamat sore, Tn. Lee Min Ho. Sudah lama menunggu?” sapa Kim So Eun, ramah.

“Ya… cukup lama juga. Saya malah diwawancara oleh Park Shin Hye!”

”Park Shin Hye, Ini Lee Min Ho yang sering aku ceritakan itu. Wartawan yang punya sifat humoris yang tinggi. ” kata Kim So Eun.
Lee Min Ho tertawa.

“Ya, sudah, kita wawancara di rumah saja, ya. Syutingnya sudah selesai.”

Bagi Lee Min Ho, wawancara di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting, ia bisa menggali banyak hal tentang Kim So Eun. Jujur saja, untuk mewawancarai artis seperti Kim So Eun bukanlah hal yang mudah. Banyak rekan sesama wartawan yang mengalami kesulitan setiap kali ingin melakukan wawancara. Banyak alasan yang dikemukakan Kim So Eun untuk menolaknya. Makin didesak, Kim So Eun makin mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu pergi dan meninggalkan senyum.

Tapi, tanpa kesulitan Lee Min Ho begitu mudah merebut hati wanita itu sehingga ia tak pernah keberatan jika diwawancara. Tapi, baru kali ini Kim So Eun mengajaknya wawancara di rumah.

“Tn. Lee Min Ho, perkenalkan, ini Ibu saya!” ujar Kim So Eun, memperkenalkan sang Ibu sesampainya di rumah.

Penuh kehangatan Kim Tae Hee menyambut putri semata wayangnya dengan ciuman. Ini memang sebuah kebiasaan yang tak pernah ingin ia tinggalkan. Hubungan keduanya akrab. Tidak saja sebagai ibu dan anak, melainkan juga sebagai sahabat.

Setelah saling berjabat tangan, Kim Tae Hee mempersilakan Lee Min Ho untuk duduk di ruang tamu, lalu ia beranjak ke ruang tengah.

”Bu, temani aku, ya,” pinta Kim So Eun.

Agak ragu Kim Tae Hee menatap Lee Min Ho. “Apa boleh?” tanyanya.

“Boleh saja, Ny. Kim Tae Hee. Tidak ada masalah. Apalagi, yang ingin saya diskusikan adalah perjalanan karier Kim So Eun. Biasanya, setiap kali saya mewawancara Kim So Eun, yang saya tanyakan hanyalah konfirmasi seputar gosip yang beredar tentangnya. Tapi, kali ini, saya ingin membuat profilnya secara lengkap,” kata Lee Min Ho.

Kim Tae Hee tersenyum, sambil mengangguk.

“Jadi, sejak kapan anda merintis karier di dunia entertainment?” tanya Lee Min Ho, memulai wawancaranya.

“Sejak 10 tahun lalu. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. Suatu hari, saya sedang jalan-jalan ke mal, lalu bertemu seseorang yang menawarkan untuk ikut model iklan. Awalnya, takut. Apalagi, saya sama sekali tidak mengerti tentang hal seperti ini. Sebelum saya bisa memberi jawaban, orang itu lalu memberi kartu nama. Ketika saya tunjukkan pada Ibu, Ibu kemudian menelepon orang itu. Yah, akhirnya, jadi seperti ini,” kata Kim So Eun, sambil bergelayut manja pada lengan ibunya.

“Lalu?”

”Ketika itu, saya tidak memegang posisi sebagai peran utama. Hanya numpang lewat. Tapi, sejak itu saya mendapat beberapa tawaran untuk iklan. Setelah itu, mulai ada tawaran main drama seri.”

”Hebat sekali. Apakah perjalanannya memang semulus itu?” selidik Lee Min Ho.

“Tidak juga. Kadang-kadang, saya menemukan kerikil-kerikil kecil!”

“Contohnya?”

“Banyak juga yang iri dan berusaha menjatuhkan karier saya. Tapi, kalau ingin maju, saya harus menghadapi tantangan itu.”

“Bagaimana dengan kekasih?”

“Saat ini, saya ingin berkonsentrasi di karier. Untuk menjalin hubungan serius, saya menunggu saat yang tepat,” kata Kim So Eun.

“Atau, jangan-jangan, calon kekasih Kim So Eun diseleksi ketat oleh Ny. Kim Tae Hee?” tanya Lee Min Ho pada Kim Tae Hee.

“Sejauh ini saya memberikan kebebasan penuh pada Kim So Eun untuk menentukan pilihan hidupnya. Saya hanya berpesan agar ia mencari pria yang baik, penuh tanggung jawab, dan tidak materialistis!”

Ya, Kim Tae Hee memang memberikan kebebasan pada putrinya untuk menentukan pasangan hidup. Hanya, masa kelam yang dulu pernah dialaminya membuat Kim Tae Hee begitu selektif pada setiap teman pria Kim So Eun. Karena, dulu, gara-gara suaminya terjerat cinta Han Ga In, seorang wanita kaya yang baru bercerai, Song Seung Hun rela meninggalkan dirinya, yang saat itu tengah hamil muda.

Penderitaan Kim Tae Hee tidak sampai di situ. Han Ga In masih berusaha untuk melenyapkan Kim Tae Hee dengan cara menyewa pembunuh bayaran. Tapi, Tuhan memang baik. Kim Tae Hee bisa menyelamatkan nyawanya. Meskipun, untuk mempertahankan dirinya, ia harus mendekam di penjara. Karena, ia kemudian berbalik membunuh Jae Hee, pembunuh bayaran itu.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...