Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 04 Juni 2011

Biarlah Rahasia (Chapter 5)



Tapi, wanita itu tampak begitu meyakinkan saat bercerita tentang ibu dari Kim So Eun. Lee Min Ho bimbang. Jika semua yang dikatakan wanita itu memang benar, apakah aku harus menuliskannya juga? Lalu, bagaimana dengan karier Kim So Eun yang saat ini sedang berada di puncak? Pasti popularitasnya akan hancur. Kim So Eun yang dulu disanjung-sanjung akan dicibir oleh publik. Tak ada seorang pun yang mau memintanya sebagai bintang iklan atau tampil sebagai presenter televisi. Kim So Eun akan terhempas dari kehidupan glamor karena kehidupan kelam orang tuanya terungkap oleh media massa.

Namun, jika tidak berani mengungkapkan kebenaran itu, itu artinya ia juga membohongi publik. Tapi, ah, itu kan baru katanya saja. Siapa tahu, apa yang dikatakan wanita itu hanya isapan jempol belaka. Meski masih meragukan keterangan wanita itu, Lee Min Ho akhirnya berangkat ke Incheon, dengan persetujuan atasannya. Ia disambut dengan ramah oleh Han Ga In.

Tanpa ada rasa malu, Han Ga In menceritakan runtutan peristiwa, dimulai dari awal mula ketertarikannya pada Song Seung Hun, keberhasil¬annya merebut Song Seung Hun dari tangan Kim Tae Hee, dan rencana gilanya membayar Jae Hee untuk membunuh Kim Tae Hee.

“Jadi, Anda juga ikut dihukum?” tanya Lee Min Ho.

“Ya, begitulah. Padahal, saya sudah membayar pengacara terkenal di kota ini. Tapi, tetap saja saya tidak bisa bebas dari jeratan hukum. Jika yang meninggal adalah Kim Tae Hee, pasti lain ceritanya. Saya tidak mungkin mendekam di balik jeruji penjara,” ujar Han Ga In, tanpa merasa bersalah.

“Terima kasih atas keterangan Anda, Ny. Han Ga In!”

“Wawancara ini pasti akan dimuat di majalah, ’kan?” tanya Han Ga In. Ia berharap semua masyarakat mengetahui sisi kelam kehidupan Kim So Eun. Han Ga In sangat ingin melihat kehancuran Kim Tae Hee dan anaknya.

“Saya belum tahu, Nyonya. Semua akan saya diskusikan dulu dengan tim redaksi, apakah tulisan ini layak muat atau tidak.”

“Saya yakin, jika tulisan ini dimuat, oplah majalah Anda akan meningkat. Tentunya, perusahaan tempat Anda bekerja akan untung.”

Lee Min Ho berusaha tersenyum. Walaupun, ia tak habis pikir, mengapa wanita itu tidak memiliki rasa malu saat mengungkapkan sisi kelam kehidupannya. Apalagi, ia merupakan otak pembunuhan tersebut. Rupanya, dendam mengalahkan segalanya. Meski nantinya pembaca akan mencibir dan memandangnya rendah, Han Ga In tak peduli.

Benar yang dikatakan Han Ga In. Ketika Wanita mengungkapkan sisi kelam Kim So Eun, oplahnya meningkat tajam. Pembaca dibuat terhenyak dengan pemberitaan tersebut. Kim So Eun, yang selama ini jauh dari pemberitaan miring dan kerap mendapat pujian, tiba-tiba muncul dengan berita menghebohkan.

Bisa dibayangkan, betapa geramnya Kim So Eun ketika membaca artikel itu. Ia tidak bisa menerima berita yang menyudutkan dirinya dan orang yang dicintainya. Ia tidak percaya bahwa ibunya berani melakukan hal itu. Seperti Lee Min Ho, ia sempat memikirkan suatu hal. Jangan-jangan, wanita itu mencari sensasi agar bisa ikut terkenal.

Berbeda dari reaksi Kim So Eun, Kim Tae Hee justru hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka, rahasia yang selama ini ditutupnya rapat-rapat, akhirnya dibongkar juga oleh musuh yang tidak pernah ia maafkan. Kim Tae Hee menyesali diri. Mengapa Kim So Eun harus mendengarkannya dari orang lain, bukan dari dirinya langsung. Mungkin, seandainya ia berterus terang sejak awal, kejadiannya tidak seperti ini. Tapi, apa mau dikata, semua itu sudah terjadi di luar dugaannya.

Seandainya Kim So Eun bukan selebritis, tanggapan orang mungkin tak sedahsyat itu. Tapi, putrinya adalah seorang artis papan atas, yang sangat terkenal. Media telah membawa cerita kelam itu ke permukaan, dan Kim Tae Hee tidak bisa membela diri.

Sejak berita itu menjadi pembicaraan masyarakat, Kim So Eun seperti ditelan bumi. Sulit sekali menghubunginya. Ponselnya selalu tidak aktif. Ia benar-benar mengunci dirinya untuk tidak memberikan komentar apa pun.

“Lebih baik kau mengadakan konferensi pers,” usul Park Shin Hye.

“Untuk apa?”

“Untuk menjelaskan permasalahannya pada publik sehingga kau tidak dikejar-kejar. Apa kau merasa nyaman, harus melihat wartawan setiap hari menunggu di depan rumah? Kasihan mereka.”

“Kasihan? Siapa suruh mereka menunggu? Dengarkan aku, Park Shin Hye, aku tidak mau memberikan komentar apa pun sebelum masalah ini jelas. Lagi pula, kau lihat kan, semua media menyudutkan aku dan Ibu. Mereka tidak mau memahami perasaanku,” kata Kim So Eun, sengit.

“Tapi, sampai kapan kau menutup diri?”

“Aku tidak tahu sampai kapan. Yang jelas, saat ini aku belum siap berhadapan dengan wartawan. Aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku shocked Park Shin Hye, shocked!”

Kalau sudah begitu, Park Shin Hye tidak bisa memaksa. Hanya, ia tidak tega melihat kerumunan wartawan yang sejak pagi hingga malam ’patroli’ di depan rumah. Sebenarnya, Kim So Eun tidak nyaman dengan situasi ini. Berhari-hari ia mengurung diri, menghindari kejaran wartawan. Sampai setelah seminggu, Kim So Eun tak betah berdiam diri terus di rumah. Ketika ia akhirnya memberanikan diri keluar rumah, para wartawan masih setia menunggunya.

“Nn. Kim So Eun, bagaimana komentar Anda tentang pemberitaan di media massa belakangan ini?” tanya seorang wartawan, ketika Kim So Eun berjalan menuju garasi.

Kim So Eun hanya menyunggingkan senyum dan berkata, “No comment. Maaf, saya tidak mau diganggu. Terima kasih!” Itu saja yang keluar dari bibir mungilnya. Selebihnya, ia menancap gas mobilnya, meng¬hilang entah ke mana.

Para wartawan tidak kehabisan akal. Mereka mencari keberadaan Kim So Eun, sampai ke hotel yang sering dikunjungi Kim So Eun di daerah Namchoseon. Semua karyawan hotel menggelengkan kepala.

“Nn. Kim So Eun sudah lama tidak ke sini!” ungkap salah seorang pegawai hotel. Entah benar atau tidak, yang pasti, keberadaan Kim So Eun sulit dilacak. Demikian juga dengan Kim Tae Hee, ibunya. Sejak berita miring yang melibatkan dirinya diungkap di media massa, ia ikut menghilang. Lalu, ke mana Kim Tae Hee?

“Bu, katakan dengan jujur, cerita itu tidak benar. ’kan?” tanya Kim So Eun, sambil berharap bahwa cerita itu hanya khayalan wanita yang bernama Han Ga In, untuk mencari sensasi. Mereka bersembunyi di sebuah rumah peristirahatan.

Kim Tae Hee diam. Matanya menerawang. Peristiwa kelam itu kembali menghiasi memorinya. Ya, mungkin inilah takdir hidup. Dulu. ia hidup susah dan telantar. Tapi, berkat putrinya, ia bisa menikmati hidup yang lebih layak. Sekarang, saat ia menikmati kebahagiaan itu, sosok Han Ga In yang bengis dan kejam hadir kembali. Seperti sebuah bom, Han Ga In kembali memorak-porandakan kebahagiaan Kim Tae Hee.

Dulu, ketika ia masih hidup bersama Song Seung Hun, Han Ga In merampas kebahagiaannya. Kini, kebahagiaannya dengan Kim So Eun kembali direnggut. Ya, ia dulu memang pernah membunuh. Tapi, hal itu dilakukannya untuk membela diri.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...