Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 30 Juni 2011

True Love (Chapter 3)



Chapter 3
Ketika Cinta Terlupakan

“Kim Bum! Kim Bum!” Kim So Eun histeris, ia masih memakai gaun pengantin putih dan tatanan rambutnya rusak. Yoon Eun Hye dan Song Hye Gyo memeluk adiknya dan memberikan kalimat-kalimat yang meneduhkan. Semua berdiri dan menunggu resah di depan ruang UGD. Jung Yong Hwa merutuki dirinya sendiri. Menyesali mulutnya, kalau saja tak terbetik permintaan konyol itu mungkin kini Kim Bum, Kim So Eun dan para tamu undangan bisa melewatkan malam resepsi dengan romantis.

Dokter keluar dari dalam ruang UGD Rumah Sakit Kwanghee. Ibunda Kim Bum yang terlebih dahulu menghampiri dengan tangis berderai. Ayah Kim Bum menepuk-nepuk pundak istrinya.

“Malam ini adalah masa kritis bagi Kim Bum, kepalanya terantuk cukup keras dan mendapat luka dalam yang serius.” Dokter memberikan penjelasan, “lutut kanannya remuk dan lutut kirinya retak, tapi tidak parah, hanya butuh waktu sekitar dua minggu untuk terapi hingga ia bisa berjalan dengan normal lagi.”

Semua membisu. Kim So Eun tertunduk lesu. Dokter menghampirinya dan menepuk pundak Kim So Eun, berusaha menularkan semangat ke tubuh gadis itu.

“Anda istrinya, kan?” Kim So Eun mengangguk, “dengan kasih sayang dari seorang istri mungkin Kim Bum bisa cepat sembuh.” Dokter berpaling pada semua yang hadir di situ, “mari kita berdoa bersama agar ia bisa melewatkan masa kritisnya. Saya permisi.” Ia pun melangkah pelan meninggalkan sanak keluarga Kim Bum yang larut dalam kelabu. Masing-masing berusaha saling menguatkan. Kim So Eun menahan tangisnya, ia seka terus menerus air mata yang mengaliri pipinya. Ia ingin kuat dan merawat Kim Bum. Pada saat inilah cinta dan kesetiaan harus ditumbuhkan.

* * *

“Selamat pagi Nona Jung So Min,” sapa suster Yoona ketika melihat Jung So Min berjalan dengan agak sedikit pincang di koridor rumah sakit pagi itu. “Mau check up? Bagaimana kakinya?”

Jung So Min mengembangkan senyum, ia memakai rok panjang dan sandal flat. “Ya sudah membaik suster Yoona. Terima kasih. Oh iya, itu bunga segar sekali. Untuk siapa?”

Suster Yoona memegang seikat bunga segar, “semalam ada pasien baru masuk. Kondisinya kritis. Tapi nampaknya pagi ini ia sudah sadar dan dipindahkan ke kamar nomor satu kosong empat. Di paviliun Anggrek.”

“Tempat dulu saya dirawat, kan?” tanya Jung So Min, Suster Yoona mengiyakan. “Siapa yang dirawat di sana?

“Saya kurang tahu siapa,” jawab Suster Yoona sambil berjalan pelan.

“Oh… saya lupa! Ada barang saya yang ketinggalan di meja kamar itu!” Jung So Min menepuk dahi. “Setelah check up saya harus mengambilnya. Boleh, kan? Sebuah vas cantik dari Park Shin Hye, sahabat saya….”

“Tentu saja. Saya akan menemani anda.”

Gaun putih pengantin itu masih bersinar, manik-maniknya masih memancarkan cahaya yang mampu membuat siapapun yang melihat menjadi takjub. Namun sang pemakai nampak kusut masai, wajahnya sembab, matanya bengkak. Semalaman ia tak berhenti menangis bahkan memejamkan matapun tak sanggup. Ia tak ingin meninggalkan moment penting bila Kim Bum sadar dari masa kritisnya.

“Sudahlah Kim So Eun, Kim Bum akan baik-baik saja…” Yoon Eun Hye merangkul adiknya, ia dan sang Ibu menuntun Kim So Eun yang sudah lemah berjalan ke arah lift.

“Kita pulang.”

“Tapi aku ingin tetap menemani Kim Bum, Eonni…” bibir Kim So Eun bergetar.

“Sayang, kau harus ganti baju, kita ambil pakaian ganti untukmu dan Kim Bum, kau juga harus makan dulu, ya,” Ibunda Kim So Eun mengelus lengan putrinya.

Yoon Eun Hye memencet tombol lift. Menunggu sejenak hingga pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam. Tepat setelah pintu lift tertutup kembali, Jung So Min dan Suster Yoona melintas, berjalan beriringan. Mereka masih bercengkrama hangat ketika seorang perawat pria tergopoh menghampiri.

“Suster Yoona, Dokter Lee Pil Mo membutuhkan bantuan anda… ada pasien tabrak lari baru masuk ke UGD.”

“Sebentar saya letakkan bunga ini dulu di kamar satu kosong….”

“Tidak sempat Suster Yoona, keadaan darurat!”

Suster Yoona memandang Jung So Min lalu menyerahkan seikat bunga segar itu padanya. “Nn. Jung So Min tolong letakkan ini di kamar satu kosong empat, ya. Oh iya, setelah anda mengambil vas teman anda harap jangan lama-lama di dalam dan jangan membuat keributan.”

“Suster Yoona…” perawat pria tadi nampak tak sabar.

“Baik saya pergi…” suster Yoona pergi mensejajari langkah perawat pria itu yang berjalan setengah berlari.

Jung So Min mencoba mencerna kalimat suster Yoona yang tadi. Ia kemudian mengendikkan bahu dan berjalan tertatih kembali menuju kamar satu kosong empat. Setelah melewati lorong panjang, ia pun menemukan sebuah kamar yang terletak di ruangan paling pojok. Tangannya mengetuk pintu pelan. Ia pun mendorong daun pintu setelah beberapa menit tak mendapat sahutan sama sekali dari dalam kamar. Melongok ke dalam, melangkah masuk dan mendapati sebuah ruangan yang lengang. Tanpa siapapun. Hanya ada sesosok pria bertubuh atletis yang terbaring tak berdaya di kasur rumah sakit.

Ia berjalan pelan mencoba tak menciptakan suara gaduh. Diletakkan bunga-bunga segar di dalam vas besar di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur. Jung So Min mencari-cari vas kecil pemberian Park Shin Hye, di atas meja, di meja tunggu, di dekat televisi, namun tak ditemukan vas kecil itu. Jung So Min menghela napas. Ia duduk di sofa tunggu sejenak lalu teringat kalau-kalau vas itu disimpan di dalam laci meja. Jung So Min bergegas berdiri dan menabrak pinggir kasur. Ia mengaduh kesakitan lalu membekap mulutnya agar tidak mengerang lebih keras. Matanya menangkap wajah yang sedang tertidur di atas kasur itu.

“Kim Bum?” jantungnya berdegup kencang. Ia memegangi dadanya yang sesak.

Dilupakannya keinginan mencari vas pemberian Park Shin Hye. Ia dekati wajah yang tenang dalam teduh itu. Mengelus lengan lelaki yang mampu menciptakan getaran hebat di hatinya. Ia tersenyum manis.

“Kim Bum… kau belum sadar, ya?” Jung So Min menarik kursi kecil dan duduk di samping Kim Bum yang masih terbaring. “Seandainya saja aku yang terlebih dahulu bertemu denganmu. Apakah aku bisa dicintai oleh seorang Kim Bum dengan tulus. Seperti kau mencintai Kim So Eun?” Jung So Min tertawa kecil.

Sesaat ia merasa dirinya gila dan menjadi aneh. “Aku jadi aneh sejak bertemu denganmu. Apa mungkin aku jatuh cinta?”

“Errrhh…” suara halus erangan Kim Bum membuat Jung So Min spontan berdiri dan panik. Ia menoleh ke kanan kiri, berpikir untuk segera memanggil dokter. Ketika ia hendak melangkah, suara berat dan letih itu memanggil. “Heeeei….” Kim Bum mengatur napasnya.

Jung So Min berbalik badan kembali, menatap Kim Bum yang kini mulai membuka mata. Semoga saja ia tidak mendengar kata-kataku tadi. Ia membatin gelisah.

“Kau siapa?” tanya Kim Bum akhirnya.

“Saya Jung So Min, PR New Moon Entertainment,” Jung So Min mengernyitkan dahi.

“Apa itu?” Kim Bum berusaha untuk duduk, ia mulai merasa pegal telah menjalari seluruh tubuhnya. Jung So Min tergerak untuk membantu.

Kim Bum menatap sekeliling, matanya mengerjap-ngerjap, beradaptasi dengan kamar rumah sakit. “Ini dimana?”

“Di rumah sakit.”

“Kau siapa? Kenapa ada di dekatku?” Kim Bum memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia meringis.

“Kim Bum, jangan banyak bergerak dulu. Lukamu masih parah,” Jung So Min meraih tangan Kim Bum yang berusaha menekan-nekan luka di kepalanya.

“Kim Bum? Kim Bum siapa?” tanya Kim Bum dengan wajah bingung. Ia menoleh ke sekeliling seperti orang yang linglung. Kepalanya berdenyar kembali. “Ugh… siapa Kim Bum? Siapa aku?”

Mulut Jung So Min membulat kecil. Pintu kamar terbuka, ia terlonjak kaget dan menjauh selangkah dari kasur. Dokter Park Jae Jung datang bersama dua perawat. Ia agak heran melihat kehadiran Jung So Min sebelum akhirnya memberikan senyum ramah.

“Anda rekan dari Tn. Kim Bum?” tanyanya.

“I… iya, saya rekan kerjanya….”

“Istrinya mana?”

“Say… saya tidak tahu,” Jung So Min gugup.

Kim Bum menunduk terus, matanya nanar, menyipit dan mencari-cari sesuatu yang hilang dari kepalanya. Ia memegangi tengkuknya lama lalu mengerang kecil. Dokter Park Jae Jung dan kedua perawatnya segera mencoba untuk menenangkan. Kim Bum masih menggumam tak jelas, suaranya seperti dengungan kata-kata yang berhamburan tanpa makna.

“Dokter… ada apa dengan Tn. Kim Bum?” tanya Jung So Min yang mulai khawatir.

Dokter Park Jae Jung memberikan obat penenang namun tak membuat pasiennya itu tertidur. Hanya memberikan sedikit kenyamanan agar Kim Bum tidak berontak.

“Sepertinya dia terkena amnesia. Luka di kepalanya dalam sekali.”

“Ya Tuhan,” Jung So Min mendesis, “apa ingatannya bisa kembali?”

“Sepertinya iya,” Dokter Park Jae Jung membetulkan letak stetoskopnya, “tidak begitu parah. Dengan sedikit terapi ingatannya bisa pulih. Saya permisi.”

Dokter Park Jae Jung dan kedua perawatnya keluar dari ruangan, meninggalkan sisi aneh dalam diri Jung So Min. Gadis itu mendekap dadanya, dingin ruangan AC menyergap. Ia mencoba mengecilkan pendingin udara itu.

Aku harus menemani Kim Bum… kasihan dia. Jung So Min duduk pelan-pelan di kursi. Ia menatap Kim Bum yang menerawang memandang langit-langit kamar. Kesepian menemani mereka. Namun bagi Jung So Min suasana seperti itu menguntungkannya.

“Siapa aku?” Kim Bum kembali bergumam. Ia menoleh ke arah Jung So Min. “Kau? Kenapa masih ada di sini? Kau…” Kim Bum kembali mencoba duduk.

“Tenang Kim Bum tenang… pelan saja. Kepala dan lututmu masih sakit.”

“Iya… iya,” Kim Bum mulai mengatur emosinya yang semula meledak-ledak. “Tolong jelaskan siapa aku? Siapa kau!?” geramnya.

“Aku Jung So Min, temanmu,” jawab Jung So Min sambil tersenyum, “kau Kim Bum.”

“Apalagi yang kau tahu tentang aku?”

“Kau…” sudah punya istri…. Kalimat itu tertahan di tenggorokan. Entahlah, bagi Jung So Min itu semua terasa berat. Apakah ini sebuah kesempatan bagiku untuk mendapatkan cintamu Kim Bum? Pikiran-pikiran jahat mulai singgah di syaraf otaknya.

“Apakah aku sudah menikah? Sudah punya pacar?” tanya Kim Bum kembali.

Jung So Min menggeleng. Ia tak sanggup berbohong atau mengutarakan kebenaran. Ia hanya mampu menggeleng dan berharap Kim Bum akan menangkap maksudnya. Kim Bum memperhatikan Jung So Min secara menyeluruh. Menatap wajahnya, tubuhnya, senyumnya, gaya bicaranya. Gadis itu menemani kebingungan Kim Bum untuk beberapa saat. Meski sesekali Kim Bum harus merasakan sakit kepala yang luar biasa ketika ia mencoba mengingat-ingat kenangan tentang dirinya.

Jung So Min lebih banyak bercerita tentang dirinya. Ia pun menceritakan sedikit hal yang ia tahu tentang Kim Bum. Mengenai pekerjaan lelaki itu, umurnya, rumahnya, dan ihwal pertemuan mereka di New Moon Entertainment. Tentu saja Jung So Min tak berterus terang mengenai pernikahan Kim Bum. Ia mengatakan mereka bertemu hanya untuk hubungan bisnis, bukan hubungan antara klien yang ingin menikah dengan seorang PR Wedding Event Organizer. Ia pun berbohong ketika Kim Bum menanyakan mengapa ia harus masuk rumah sakit. Dijawabnya dengan sebuah kebohongan lagi, kalau Kim Bum kecelakaan setelah pulang dari New Moon Entertainment.

Gadis itu pun melemparkan beberapa lelucon lucu yang membuat Kim Bum tergelak dan mulai kagum atas wanita yang kini duduk di depannya. Kim Bum berhenti tertawa dan menatap Jung So Min lama.

“Aku yakin… pasti kau yang menungguiku semalaman. Iya kan?”

Untuk hal ini Jung So Min tak kuasa berkata-kata lagi. Ia diam sampai Kim Bum tersenyum kecil dan menyimpulkan sendiri bahwa Jung So Minlah wanita yang akan membuatnya nyaman dalam segala suasana. Pintu kamar terbuka kembali, Kim So Eun bingung melihat ada Jung So Min dan Kim Bum yang asyik bercengkrama. Ia mengucap salam dan berjalan ke arah suaminya itu.

“Syukurlah, kau sudah sadar Kim Bum…” Kim So Eun menggamit tangan suaminya, Kim Bum segera menepis sebelum sempat bibir Kim So Eun menyentuh punggung tangannya.

Keterkejutan melanda dua gadis. Kim So Eun dan Jung So Min.

“Kim Bum, kenapa? Apa ada yang salah denganku?” Kim So Eun mencoba tenang. Ia meletakkan tas besar yang berisi pakaiannya dan pakaian Kim Bum ke lantai. Ia menyentuh kening suaminya.

“Hei… siapa kau!? Tidak sopan!” Kim Bum kembali menepis tangan Kim So Eun. “Tangan besarmu itu jangan menyentuhku lagi atau aku panggil perawat!”

Nada suara Kim Bum tegas, tajam dan penuh amarah. Ia merasa saat-saat menyenangkan bersama Jung So Min terganggu. Dada Kim So Eun sesak, jantungnya bagai diterpa ombak besar. Berdebur.

“Maaf, lebih baik saya pergi…” Jung So Min berdiri dan mengambil tas tangan yang ia letakkan di atas kasur.

“Hei Jung So Min mau kemana?” Kim Bum terlihat gusar. “Ceritakan padaku, siapa dia?” Kim Bum menuding wajah Kim So Eun. “Siapa orang ini?”

Sakit. Itulah kata yang mampu mengoyak perasaan terhalus dari seorang Kim So Eun. Matanya nanar tak percaya. Terngiang kalimat-kalimat manis yang pernah ada di bibir Kim Bum bagaikan menguap tiba-tiba.

“Di… dia…” Jung So Min ragu untuk menjawab.

“Kim Bum!” Kim So Eun mengumpulkan suaranya yang semula hilang, “Aku Kim So Eun, istrimu! Kita baru menikah satu minggu yang lalu. Semalam kita baru saja mengadakan resepsi dan…”

“Cukup!” Kim Bum terduduk, ia meringis pelan ketika lututnya terasa nyeri, “lihat aku, badanku tidak gemuk! Tubuhku kekar, tidak mungkin aku mau menikah dengan wanita gemuk sepertimu!” Ia menoleh ke arah Jung So Min, pandangannya melembut, “kalaupun aku sudah menikah seharusnya aku menikah dengan wanita seperti Jung So Min.”

Kim So Eun terguncang. Ia merasa bagaikan ada di tengah gunung merapi yang sangat panas. Lahar menggeliat menjilati tubuhnya. Ia marah tapi tak kuasa meledakkan rasa itu. Hujan menyertai pipinya yang tembem, dari mata yang paling bening menatap suaminya dalam.

“Kim Bum… aku Kim So Eun, istrimu….”

“Bohong! Bohong! Cermin… cermin!” Kim Bum meminta pada Jung So Min, gadis itu sigap mengeluarkan cermin. Kim Bum merebutnya cepat. Ia mengagumi wajah tampannya sendiri sebelum mengarahkan cermin itu ke arah Kim So Eun. “Cobalah bercermin, aku seperti ini, dan kau… bagaimana mungkin aku sebodoh itu mau menikah denganmu!” Kim Bum kembali menuding.

“Tapi kau bilang mencintaiku apa adanya Kim Bum seperti aku mencintaimu,” isak Kim So Eun memprotes.

“Aku tak pernah mencintaimu dan aku tak pernah mengenalmu!” geram Kim Bum.

Bahu Kim So Eun naik turun. Ia tak bisa menahan diri kembali untuk tetap bisa tenang. Jung So Min hanya diam dan mematung bisu. Tak ada niat untuk membela Kim So Eun, ia sendiri takut melihat pancaran kemarahan dari mata tajam Kim Bum.

Yoon Eun Hye menyeka air mata yang masih sesekali menetes di pipi Kim So Eun.

* * *

Siang datang menebarkan cahaya panasnya. Mereka duduk di bangku taman Rumah Sakit Kwanghee, berteduh di bawah kanopi yang ditumbuhi tanaman merambat. Orang-orang mulai berdatangan untuk menjenguk sanak saudara mereka yang sakit.

“Tadi aku bertemu Dokter Park Jae Jung,” suara Kim So Eun tenang. “Beliau bilang kalau … kalau Kim Bum hilang ingatan. Sikapnya juga bisa berubah karena beberapa syarafnya sedikit mengalami gangguan. Ia bisa menjadi emosional, bahkan terkesan seperti remaja.”

Yoon Eun Hye menatap jendela kamar satu kosong empat yang terletak di lantai dua tepat di atas mereka duduk. Pemandangan yang ia lihat membuatnya tak habis pikir bahwa Kim Bum yang ia kenal begitu lembut kini berubah menjadi orang yang berbeda. Kim Bum duduk di kasur sedang bercengkrama dengan Jung So Min yang menyuapinya pelan-pelan. Kim So Eun tak mampu melihat semua itu, ia memalingkan wajah dan berdiri.

“Apa lebih baik kita pulang, Eonni?”

“Kim So Eun, apa akan kau biarkan saja Jung So Min menyuapi suami kau? Berduaan di dalam kamar?” Yoon Eun Hye mensejajarkan langkah Kim So Eun yang pelan. Meninggalkan taman, memasuki koridor rumah sakit. “Kim So Eun… kau harus bertindak!”

Kim So Eun menghentikan langkah, “aku harus bagaimana, Eonni? Kim Bum hanya mau ramah terhadap Jung So Min, ia juga hanya mau makan jika disuapi oleh Jung So Min, bahkan ia tak mengizinkanku masuk ke dalam kamarnya… apa yang harus aku perbuat lagi?”

“Kim So Eun,” Yoon Eun Hye mengaitkan rambutnya yang menjuntai ke balik daun telinga, “kau istrinya. Kau istrinya. Bagaimanapun kau istrinya. Kau pasti bisa mengembalikan ingatan Kim Bum. Mengembalikan cintanya. Karena ketika lelaki dan wanita menjadi sepasang suami istri, hati mereka telah menyatu, Kim So Eun. Meski memori Kim Bum menghilang tapi tidak untuk selamanya, kan?” Yoon Eun Hye mengangguk, meminta Kim So Eun untuk mengiyakan.

Kim So Eun menelan ludah berat. Ia ragu untuk masuk kembali ke dalam rumah sakit. Seseorang menabrak tubuhnya.

“Nona… badan besar jangan berdiri di tengah jalan! Kau ini menghalangi orang yang mau jalan saja!” ujarnya sambil lalu.

Yoon Eun Hye mencibir kesal ke arah orang itu. Kim So Eun tak menggubris, ia memilih untuk tetap keluar dari rumah sakit. “Kim So Eun!” panggil Yoon Eun Hye. “Kau mau pulang?”

“Iya, aku mau menenangkan diri.”

“Aku tahu kau pasti shock, Aku akan coba bicara pelan-pelan dengan Kim Bum, ya.” Yoon Eun Hye memeluk adiknya.

Kim So Eun berpamitan lalu kembali ke rumah dengan hati hancur.

Pulang ke istana kita… tanpamu, Kim Bum….

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...