Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 14 Juni 2011

Cinta Yang Terpilih (Chapter 2)



Hari Pertama

Seorang petugas kapal membantu Kim So Eun menemukan kamarnya. Dengan sopan diketuknya pintu sebelum membuka pintu kamar. “Sudah ada yang menunggu Nona di dalam, silakan….”

Langkah Kim So Eun terhenti di ambang pintu. Keraguan mendadak menguasainya. Dia menyadari, bahwa ia tidak berlayar sendirian. Kim So Eun tidak menempati sebuah private room, melainkan kamar umum. Ya, di kapal ini, statusnya adalah menjadi ‘tunangan’ seseorang. Dan, seseorang itu sosok yang asing baginya. Sekedar namanya pun ia tak tahu. Kim So Eun sendiri merasa heran pada dirinya. Mengapa akhirnya ia mau saja menerima bujukan Lee Min Ho, menjalankan ide gila di dalam kapal pesiar ini! Maka, ketika sosok itu muncul di depannya, Kim So Eun tertegun dalam kegamangan yang luar biasa.

Pria itu berdiri di sisi jendela. Tubuhnya tinggi seperti yang digambarkan Lee Min Ho. Rambutnya tertata rapi. Sebuah ransel masih menggantung di pundaknya. Rupanya, meskipun sudah lama berada di kamar, dia belum juga berbenah. Apakah ia merasakan kegamangan yang sama?

Kim So Eun menarik napas, menghimpun kekuatan. Sengaja dibuatnya suara yang sedikit gaduh, seirama hentakan sepatunya di dek kapal. Ternyata berhasil. Kehadirannya membuat pria itu berbalik dan menoleh kepadanya.

Mata mereka bertemu. Kim So Eun tertegun. Astaga! Mata pria itu bagai mata elang yang turun menukik ke bumi, tajam sekali! Kim So Eun mendadak jengah. Secepat kilat dikerjapkannya matanya, menghindar.

Petugas kapal menghilang di balik pintu. Pria itu segera menguasai keadaan. Dia mengulurkan tangan kepada Kim So Eun. “Namaku Kim Bum,” katanya, dengan suara datar.

Kim So Eun menyambut salam itu dan menyebutkan namanya. Bagaikan opening credit title, pikir Kim So Eun mengomentari acara perkenalan itu. Sebelum cerita dimulai, maka disebutkan dulu satu per satu sederet nama. Pelaku, penulis cerita, sutradara….

“Aku belum berbenah. Sengaja menunggumu agar bisa memilih tempat tidur yang kau inginkan terlebih dulu,” Kim Bum seolah menjelaskan, mengapa ia masih menyandang ransel di bahunya.

“Terima kasih,” gumam Kim So Eun, canggung. Lalu ditunjuknya tempat tidur pilihannya. Sengaja dipilihnya posisi dipan yang tidak berdekatan dengan kamar mandi.

Kim Bum meletakkan ranselnya pada dipan yang lain. Suasana hening. Aroma kecanggungan bertebaran di seluruh ruang kamar. Terlebih lagi Kim So Eun. Tampak jelas ia salah-tingkah. Baru disadarinya ia terlibat dalam suatu permainan yang berbahaya!

Sesaat kemudian terdengar helaan napas panjang. Lalu terdengar suara Kim Bum. Pria itu tampak berhati-hati dengan ucapannya. “Bolehkah aku bertanya satu hal?” katanya, mengejutkan Kim So Eun.

“Apa?” jawab Kim So Eun, nadanya penuh waspada.

“Apakah kau benar-benar setuju dengan ide Lee Min Ho ini?”

“Kau sendiri?” Kim So Eun balik bertanya, lebih untuk melindungi diri.

“Aku tidak punya pilihan,” kata Kim Bum, mengangkat bahu.

“Hutang judiku tidak sedikit. Jadi, ketika Lee Min Ho menawarkan hal ini sebagai alternatif pelunasan, pastilah kuterima apa pun persyaratannya.”

“Jadi, apa lagi? Lakukan saja apa yang Lee Min Ho inginkan!”

“Bagaimana denganmu?”

“Tidak perlu kau pedulikan aku!”

“Tapi, aku justru harus peduli padamu….”

“Tidak perlu!”

“Kenapa tidak? Aku perlu tahu apakah kau benar-benar menerima ide ini dengan sadar atau karena ada tekanan yang membuatmu tidak punya pilihan lain? Aku tidak ingin keputusanku menerima ide ini mengkondisikanmu dalam keterpaksaan untuk menerimanya.”

Kim So Eun tertegun. Kalimat itu adalah pernyataan seseorang yang peduli, yang bahkan Lee Min Ho pun tidak melakukannya.

“Kau ragu-ragu,” lanjut Kim Bum, menatap Kim So Eun.

“Apakah kau ingin membatalkan kesepakatan ini? Kapal belum berangkat, jadi belum terlambat bila….”

Suara sirene melengking panjang saat itu juga, menghentikan kalimat Kim Bum. Terlambat! Itu adalah tanda keberangkatan kapal. Detik selanjutnya, terasa kapal mulai bergerak perlahan, lalu secara bertahap kecepatan bertambah. Kapal telah melaju membelah hamparan laut. Perjalanan hari pertama sudah dimulai. Sebentar lagi Eclipse akan membentang di depan mata.

“Kau lihat?” ujar Kim So Eun datar.

“Tidak ada kesempatan untuk mengubah keputusan. Kapal tidak mungkin berhenti hanya untuk menurunkanmu ataupun aku!”

“Maaf terlambat, kalau saja tadi aku lebih dini mengatakannya….”

“Ah, sudahlah,” Kim So Eun menghentikan penyesalan pria itu.

“Kalau begitu, karena kita berdua merupakan orang asing satu sama lain, tapi harus sekamar dalam beberapa hari ini, ada baiknya kita kompromikan dulu beberapa hal. Bagaimana?” Kim Bum menawarkan.

“Misalnya?” Kim So Eun mengernyitkan alis.

“Kita perlu saling tahu tentang apa yang kita suka atau tidak suka. Misalnya, dalam hal kerapian, kau dan aku perlu saling menjaga kerapian itu. Setidaknya dengan tidak membiarkan pakaian kotor, makanan, atau apa saja yang tidak perlu, berserakan ke mana-mana.”

“Baik, aku setuju. Aku paling tidak suka melihat pakaian dalam bergelantungan, apalagi yang bekas pakai!”

“Sudah kusiapkan yang sekali pakai.”

“Tidak boleh membawa makanan di ruang ini, mengundang semut!”

“Aku tidur dalam gelap dan tidak suka bangun pagi, jadi jangan menghidupkan lampu atau membuka tirai jendela sebelum aku bangun!”

“Jangan mendengkur.”

“Kuusahakan….”

Kim So Eun menyimpan senyum. Mana bisa? Pada pria, mendengkur lebih mirip sebagai kebiasaan atau bakat yang tidak bisa diganggu gugat. Lee Min Ho juga mendengkur, meskipun halus.

“Satu hal lagi, perlu kujelaskan bahwa aku pria normal, dalam arti bukan pencinta sejenis. Jadi, selama tinggal bersama dalam kamar ini, ada baiknya kita saling menjaga sikap. Kim Bum melanjutkan.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku… maaf sebisa mungkin, tolong jangan melakukan hal-hal yang sekiranya bisa memancing imajinasiku melebar ke mana-mana….”

“Maksudmu imajinasi seksual?”

“Ya, semacam itulah!“

Seketika itu juga mata Kim So Eun menyambar tajam. Wajahnya mengeras dengan gurat kemarahan. “Aku tahu batas-batas kewajaran,” desisnya, marah.

“Dan, aku akan berlaku dalam batas-batas itu, menurut penafsiranku. Kalau kemudian hal itu tidak sesuai dengan kehendakmu dan membuatmu menafsirkan lain, itu urusanmu sendiri! Aku tidak akan ambil peduli. Bagaimanapun, aku tidak akan tinggal diam bila kurasa penafsiranmu menggangguku!”

“Maaf, aku tidak bermaksud….”

“Jaga bicaramu!” potong Kim So Eun, tajam.

“Sebentar, aku belum selesai dengan penjelasanku,” Kim Bum membela diri.

“Kuutarakan hal itu karena aku perlu memperjelas posisi kita.”

“Bullshit, itu Cuma alasanmu saja!”

“Baik, terserah apa katamu!” Kim Bum terlihat menahan diri.

“Tapi, penilaian macam apa yang kau harapkan atas apa yang kau lakukan ini? Lee Min Ho tidak menjelaskan apa pun tentangmu. Yang kutahu hanyalah bahwa kau seorang wanita, bersedia tinggal dalam satu kamar dengan pria yang tidak kau kenal untuk menjadi ‘kekasih gelap’ Lee Min Ho yang berlayar bersama istrinya yang sedang mengandung!”

Kim So Eun terhenyak. Kalimat itu bagai tamparan yang menghantam pipinya. Bahkan, tidak hanya pipi, tapi seluruh tubuhnya, hingga membuatnya pecah berkeping-keping. Hancur sudah harga dirinya, luluh lantak!

Kim So Eun merasa tak mampu bertahan lagi dalam situasi yang dihadapinya saat ini. Ingin dia membawa dirinya berlari menjauh. Tapi, berlari ke mana? Dia tidak tahu! Sesungguhnya, nalurinya mengatakan, ia ingin berlari dari dirinya sendiri. Sesungguhnya, ia tak sanggup melihat kenyataan itu. Ya, inilah dia… dirinya sekarang: seorang ‘kekasih gelap’! Lebih dari itu, ia bahkan rela menyediakan diri untuk tidur sekamar bersama seorang pria asing yang menyamar sebagai tunangannya. Dan, semua ini hanya untuk mengiringi pelayaran wisata seorang pria yang sudah beristri! Oh, alangkah tragisnya kenyataan itu!

Senja pertama di laut lepas. Matahari bulat dengan warna merah menyala bergerak turun perlahan-lahan di kaki langit. Senja pun berpendar, berbaur cahaya kuning tembaga. Sungguh lukisan alam yang luar biasa indahnya!

Di sunset boulevard dek delapan, Kim So Eun menikmati keindahan lukisan alam itu. Angin berembus menerbangkan rambutnya yang terurai lepas. Udara dingin membelai bahunya yang terbuka. Ditautkannya kedua lengan untuk menghalau hembusan dingin itu. Memang tidak banyak membantu, tapi apa lagi yang bisa dilakukan? Selendang yang tadi dipakainya, entah ada di mana. Pastilah terjatuh waktu dia berlari meninggalkan kamar tadi!

Baru saja akan dieratkannya pelukan, ketika tiba-tiba rasa hangat menghampirinya. Seseorang melingkarkan sehelai selendang pada bahunya, selendang yang baru saja dicarinya. Kim So Eun menoleh dan seketika itu pula darahnya mendidih, menggerakkannya untuk segera beranjak pergi.

“Jangan pergi,” pinta Kim Bum lembut, menghadang langkahnya.

“Maafkan aku….”

Kim So Eun berpaling.

“Aku bukan seseorang yang pintar merangkai kata, bukan pula orang yang mahir mengatur sikap,” lanjut Kim Bum, dengan hati-hati.

“Terkadang apa yang kukatakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kumaksud. Kalimatku tadi, aku tahu pastilah sangat menyakitkan. Kata-kataku tadi, tentulah tidak tepat. Tapi, sesungguhnya aku hanya ingin mengatakan, bahwa kau tidak sepantasnya mengalami situasi ini.”

“Apa yang terjadi di antara aku dan Lee Min Ho bukan urusanmu!”

“Maaf…,” suara Kim Bum terdengar mengambang.

Keheningan menyelinap. Langit senja berganti langit malam yang pekat. Sunset boulevard mulai lengang. Para penumpang yang menikmati indahnya matahari terbenam satu per satu mulai beranjak pergi. Kim So Eun membenahi letak selendangnya.

“Selendang itu tidak sengaja kutemukan di lorong kabin. Malam hari udara di laut pasti dingin, jadi kupikir kau tentu memerlukannya.” Kim Bum mengamati gerakan Kim So Eun dengan cermat.

“Aku tidak kedinginan….”

“Bibirmu biru.”

Kim So Eun mendengus dingin.

“Bingung juga mencarimu, kapal sedemikian besar dengan begitu banyak ruang dan penumpang. Untung saja ‘petugas kapal’ mengatakan, bahwa di senja hari hampir semua penumpang menikmati mentari terbenam di sunset boulevard.”

“Sudahlah, hentikan basa-basimu!” hardik Kim So Eun habis kesabaran.

“Aku akan berterima-kasih untuk selendang ini dan usahamu menemukanku. Tapi, untuk selanjutnya kau tidak perlu mencoba berbaik hati. Kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan sekamar, anggap saja seperti penumpang di kendaraan umum, bus, pesawat, atau apa saja, yang kebetulan setujuan tanpa harus saling kenal atau bertegur sapa. Jelas?”

Kim Bum tertegun. Tak menyangka reaksi Kim So Eun sekeras itu. Hati-hati diamatinya gadis itu. Betapa dingin matanya. Menusuk dengan ketajaman yang luar biasa.

“Baiklah, aku pergi,” gumamnya kemudian mengundurkan diri.

Kim So Eun berdiri kaku. Dengan ekor mata diikutinya langkah Kim Bum menghilang dari pandangannya.

Awal yang buruk. Hari pertama dilalui dengan pertengkaran. Padahal, masih ada beberapa hari lagi yang harus dilalui bersama!

Malam itu Kim So Eun melewatkan makan malam. Alunan musik dari dinner lounge sempat memacu rasa laparnya, tapi keengganan untuk beranjak lebih menguasai, dan memupus selera makannya.

Sesungguhnya apa yang sudah membunuh rasa laparnya? Pertengkarannya dengan Kim Bum? Oh, bukan! Sesungguhnya, lebih karena keengganan untuk bertemu seseorang. Ya, ini jamuan makan malam pertama di kapal. Pastilah tidak ada seorang penumpang kapal pun yang melewatkan acara makan malam begitu saja. Apalagi, seorang istri yang hamil muda dan memang mengidam naik kapal pesiar bersama suaminya! Bisa dipastikan pasangan itu ditemukannya di sana.

Ah, sudah siapkah Kim So Eun menghadapi mereka? Tidak! Oleh karena itu, dilewatkannya santapan makan malam begitu saja. Saat menjelang dini hari, terdengar ketukan halus pada pintu kamar. Kim So Eun terjaga. Pintu kamar terbuka.

“Di mana Kim So Eun?” tanya Lee Min Ho berbisik.

“Sedang tidur, dia…” jawab Kim Bum dengan suara mengantuk.

Belum tuntas Kim Bum menyelesaikan jawabannya, Lee Min Ho menerobos masuk dan langsung menghidupkan lampu, membuat ruangan terang-benderang.

“Malam sekali kau datang,” gumam Kim So Eun, memicingkan mata menahan silau lampu.

“Sayang…,” Lee Min Ho mengecup bibir Kim So Eun dengan lembut.

“Ayo, ikut aku!“

“Ke mana?”

“Bulan sedang purnama. Seperti yang kujanjikan, kita akan menikmati malam terindah di tengah laut bersama sinar bulan dan bintang-bintang.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, ayo!“ Lee Min Ho meraih selendang, diselimutkannya pada bahu Kim So Eun. Dia membimbing gadis itu untuk mengikuti langkahnya.

Kim So Eun tersenyum. Sisa kantuknya habis begitu saja. Dipasrahkannya diri mengikuti langkah Lee Min Ho. Hatinya terjerat sudah! Tentu saja, wanita mana mampu mengelak dari jerat seromantis itu? Menikmati malam berdua, berteman cahaya bulan dan bintang-bintang, diiringi alunan ombak dan semilir angin laut di atas sebuah kapal mewah. Sempurna!

Di ujung ruangan, Kim Bum termangu dalam diam. Perlahan, dia mematikan lampu kamar.

Bersambung…

1 komentar:

  1. Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh Pengen aQ BEJEG si MIn Hoo JakUN GD!!!tag trimaaaaaaaa thor..(dgn mata Berkaca-kaca)...Beom kasiaaaaaaNNN ohhhhhhh Nelangsa.com dikaw...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...