Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 28 Juni 2011

Love Story In Beautiful World (Chapter 25)



Hari demi hari Kim Bum sibuk menggarap penyusunan skripsinya. Kadang-kadang mendatangi rumah Yoon Eun Hye. Maka dia pun bisa melupakan kemurungan-kemurungannya. Teori-teori yang memusingkan kepala bertarung dengan wajah cantik yang bersenyum bukan main. Sebuah kesegaran dalam hari-hari yang indah!

Dan, pagi itu Kim Bum terbenam di kamarnya yang jendelanya dinaungi pohon rindang. Dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumah kontrakannya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk dan pemilik rumah memanggilnya, "Kim Bum, ada tamu."

Kim Bum keluar, ke ruang tamu. Jantungnya menyentak. Apa-apaan ini? Ibu Kim So Eun, sendirian, di ruangan itu.

" Kim Bum, maaf saya mengganggu. Alamatmu Bibi dapatkan dari Lee Hong Ki."

"Oh, ya?"

Sesaat wanita itu diam. Kim Bum menatap keluar. Bingung.

"Saya menyesal telah menyinggung perasaanmu sewaktu datang tempo hari. Saya tidak bermaksud menyakiti hatimu. Sungguh. Sebagai orang tua, saya hanya memikirkan kebahagiaan Kim So Eun. Dan, saya pun tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan. Saya sadar bahwa tidak setiap pendapat dan keputusan saya benar."

Kim Bum mengaruk-garuk kepalanya.

"Jadi, saya berharap kau mau melupakan ucapan saya tempo hari."

"O, saya sudah lama melupakan itu," kata Kim Bum hambar.

"Terima kasih, Kim Bum. Datanglah ke rumah."

"Ya, kalau sempat."

"Kim So Eun menunggu."

Kening Kim Bum berkerut tujuh.

"Teleponlah ke rumah. Tahu nomor telepon di rumah?"

Kim Bum diam. Wanita itu membuka tasnya.

"Ini kartu nama Ayah Kim So Eun. Teleponlah, Kim So Eun di rumah."

Kim Bum masih dicekam kebingungan ketika mengantar wanita itu ke mobilnya. Dan, tetap mematung saat sopir mobil BMW keluaran terbaru itu menekan gas dan mobil menjauhi rumah. Kim Bum menatap kartu nama di tangannya berkali-kali. Dia membaca angka-angka di kartu itu.

Dia tak tahan dicekam kebingungan. Akhirnya dia menghubungi Lee Hong Ki.

"Ceritakan kenapa ibu Kim So Eun datang ke rumahku!" katanya.

"Mereka terpikat denganmu." Suara Lee Hong Ki renyah.

"Jangan tertawa! Apa maksud dari semua ini!?"

"Ingin memungutmu jadi menantu."

"Jangan main-main, Lee Hong Ki. Kuremukkan nanti semua tulang rusukmu!"

Lee Hong Ki menerima kemarahan lewat kabel itu. "Tenanglah, Kim Bum. Sedang ada perubahan angin.”

"Ini membuat kepalaku hampir pecah. Aku betul-betul tidak mengerti. Dia sudah menghinaku dengan membangga-banggakan calon menantunya yang kandidat doktor itu. Sekarang dia menyuruhku datang. Apa-apaan itu?"

"Nah, itulah masalahnya. Kandidat Doktor itu tidak bisa diharapkan lagi. Memang brengsek anak pamanku itu. Baru beberapa hari yang lalu kami tahu bahwa dia menikah dengan gadis Jerman."

"Apa?!?!" Kim Bum melepaskan napas berat.

"Dia anak pamanku, tetapi itu malah semakin membuatku membencinya."

Seketika keduanya terdiam.

"Hallo, kau masih di situ, Kim Bum?"

"Ya."

"Hatimu lega sekarang? Jalan sudah terbuka lapang."

"Terbuka? Fui! Terkutuklah kalian semua!"

"Eh, kenapa?"

"Setelah pria itu tidak bisa diharapkan, baru aku ada harga di mata mereka? Aku cuma barang pengganti!"

"Tapi, Kim So Eun mencintaimu."

"Cinta?! Aku cuma ban serep yang harganya lebih murah dari ban BMW-nya."

Krak!

Kim Bum. meletakkan gagang pesawat telepon. Dia kembali ke kamarnya. Hatinya sakit. Perih. Mual. Dan, semacamnya. Belum lama Kim Bum duduk, Lee Hong Ki memasuki halaman rumahnya. Dan, Lee Hong Ki masuk ke dalam.

"Kenapa marah?" tanyanya. Kim Bum membeku.

"Dulu kau mengejar-ngejar gadis itu."

"Dulu!" kata Kim Bum tawar.

"Lalu, sekarang?"

"Ketika dulu ibunya menghinaku dangan memuji-muji calon doktor teknologi itu, aku bisa memakluminya. Karena aku sadar, aku cuma mahasiswa. Tapi, sekarang setelah calon doktor itu membatalkan pertunangannya, kebaikan ibu itu bukan lagi kebaikan. Itu tikaman yang sangat nyeri ke hatiku. Apakah dia mengira lantaran aku miskin lantas bisa dibelinya? Apakah dengan menunjukkan BMW keluaran terbarunya dia mengira aku akan merangkak ke rumahnya? Terkutuklah kekayaan mereka!"

"Tapi kau mencintai Kim So Eun kan?"

"Mungkin aku mencintai gadis itu. Tapi, kalau aku diperlakukan sebagai barang yang bisa dibeli, persetanlah cinta! Setelah dia mengecewakan anak gadisnya karena mempertunangkannya dengan pria yang tidak setia, dia seenaknya ingin mengganti dengan pria lain. Kalau perlu membeli pria itu. Lebih baik dia membeli pria lain. Bukan aku!"

"Kukira bukan begitu maksud ibu Kim So Eun," kata Lee Hong Ki pelan.

"Cinta bisa dibeli di zaman ini. Makanya mereka mengira bisa membeli diriku. Coba, lihat ini!" Kim Bum melemparkan kartu nama yang ditinggalkan ibu Kim So Eun.

Lee Hong Ki kaget.

"Kenapa dia memberikan kartu nama itu? Pasti karena beberapa perusahaan raksasa yang di Seoul yang tertulis di situ. Pasti dia mengira nama Ayah Kim So Eun yang tercantum di situ sebagai presiden direktur dapat membuat mataku jadi hijau dan aku akan merangkak ke rumahnya agar diangkat jadi menantu. Aishhh! Alangkah menghinanya!"

Lee Hong Ki membisu. Mata Kim Bum panas. Bibirnya gemetar lantaran menahan ledakan-ledakan di dadanya.

"Orang tuaku memang tidak kaya di Chuncheon sana," katanya. "Tapi, minimal kami sekeluarga diajarkan untuk punya harga diri."

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Lee Hong Ki menimang-nimang kartu nama yang di tangannya.

"Apa yang dia katakan, waktu memberikan kartu nama ini?" ujarnya.

"Katanya agar aku menelepon anaknya pada nomor yang ada di kartu nama itu."

"Mungkin dia jujur."

"Ah, itu cuma alasan. Dia cuma mau menunjukkan betapa besar perusahaan milik mereka. Kalau nomor telepon, dia bisa saja memberi tahu langsung. Tidak perlu memberikan kartu nama. Dan, dia tidak perlu datang dengan BMW keluaran terbaru-nya itu."

"Karena, beberapa hari ini Kim So Eun mengurung diri terus di rumahnya. Terakhir keluar waktu mencari kau di fakultas. Cuma, ketika itu aku belum tahu kabar dari Jerman. Mungkin dia ingin menyampaikannya padamu. Apa kalian bertemu waktu itu?"

Kim Bum tak menjawab.

"Dia mencintaimu, Kim Bum.”

"Sudahlah, Lee Hong Ki. Jangan lagi bicarakan itu. Itu cuma mengingatkanku pada keluarganya. Lama-lama aku bisa membenci orang-orang kaya.”

"Dia gadis yang lembut. Dia perasa."

"Ah!" Kim Bum menggaruk kepalanya kuat-kuat.

"Kenapa kau datang ke rumahnya, untuk membuatnya mengenalmu lebih jauh? Kenapa kau mengikatnya, dengan pembicaraan-pembicaraanmu? Kenapa kau mengajaknya nonton. Kenapa kau…..?”

"Itu dulu!" Kim Bum memutus.

"Tapi, berbekas dalam hatinya."

"Persetan dengan itu semua!"

"Kalau kau tidak muncul dalam hidupnya, biarpun putus dengan Jang Geun Suk, dia tidak akan apa-apa. Hubungan mereka memang hambar. Dia bisa memulai lagi dari awal dengan pria lain. Memulai dengan hati yang siap diisi. Tapi, lantaran ada kau, dan kau menyepelekannya, dia mengalami pukulan beruntun dua kali. "

"Cukup, tidak usah membicarakan dia lagi!"

"Kenapa tidak? Waktu mau datang ke rumahnya, kau menanyakannya padaku."

"Tapi, ketika itu kau lepas tangan."

"Sekarang aku tidak bisa lepas tangan. Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

"Lantas, apa maumu?"

"Kau harus ke rumahnya!"

Kim Bum tertawa pahit.

"Seberapa besar kekuasaanmu, Lee Hong Ki, sampai bisa memaksaku? Sampai polisi pun memerintahku, tidak akan kuturuti." Dan, di kepala Kim Bum berkelebat bayangan Yoon Eun Hye. Juga kehalusan wajah gadis itu ketika mereka berdua berdiri rapat memperhatikan anggrek-anggrek yang bergantungan di belakang rumahnya.

"Bagaimanapun kau harus ke rumahnya. Atau kau harus musnah dari kenangannya?"

"Eh, gila! Soal kenangan itu urusan dia sendiri. Dia boleh menghapuskannya dengan atau tanpa izinku."

"Kau akan berhadapan denganku kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirinya."

"Aisshh! Apa yang bisa kau lakukan padaku? Duel? Ah, kita sama-sama latihan Taekwondo, Lee Hong Ki. Aku sudah ban hitam, dan kau baru ban coklat."

Lee Hong Ki berdiri.

"Kita tidak akan berkelahi, Kim Bum. Kau hanya akan berkelahi dengan hatimu sendiri. Sebab, hatimu tahu bahwa di sana ada gadis yang kau buat mencintaimu, tapi kemudian kau sia-siakan. Gadis yang belum pernah mengenal kepahitan dunia." Lee Hong Ki keluar.

Kim Bum menyandarkan punggungnya ke kursi, dan bergumam, "Masalahnya bukan cinta atau hati, tapi soal orang tuanya telah mengira bisa membeli diriku untuk pengganti calon doktor yang tidak setia. Itulah lebih baik mencari gadis-gadis dan memulainya dari awal!"

Dan, Kim Bum ingat bahwa nanti sore dia akan menemui Yoon Eun Hye. Mereka akan mengunjungi pameran merangkai bunga yang diselenggarakan oleh Klub Green House, di Gedung Camation.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...