Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 30 Juni 2011

True Love (Chapter 6-Tamat)



Chapter 6
Kembalilah

Matahari menyibak malam. Fajar menyingsing. Kim Bum tertatih setengah berlari memasuki kamar Kim So Eun. Semalam ia bermimpi tentang gadis itu, bermimpi tentang Kim So Eun yang belum gemuk, saat-saat ia mengejar cintanya. Tapi ia tak percaya dan mencoba memahami bahwa itu hanyalah mimpi. Meskipun begitu kakinya melangkah cepat, menyeruak masuk ke dalam kamar Kim So Eun dan mendapati kekosongan di sana. Kasur yang disprei dengan rapi, lantai bersih, harum semerbak bunga lavender.

“Kim So Eun!” Kim Bum berteriak, mengelilingi setiap sudut rumah. “Kim So Eun!” teriaknya. “Kim So Eun! Buatkan aku sarapan! Heii…!” teriaknya kesal. Ia tak dapati sosok Kim So Eun dimanapun.

Han Hyo Joo sedang menyiram tanaman di halaman luar.

“Dimana Kim So Eun?” tanyanya pada gadis itu.

“Tidak tahu, Tuan,” jawab Han Hyo Joo menyembunyikan sesuatu.

Ia mematikan keran dan menggulung selang.

“Ibu dan Ayah mana?”

“Kan, belum pulang dari luar kota, Tuan…”

Han Hyo Joo pamit untuk menyiapkan sarapan.

“Han Hyo Joo! Siapkan juga pakaianku…!” teriak Kim Bum ke dalam rumah. Ia masih berdiri di depan halaman, memandangi beberapa mobil yang melintas pelan.

Kim Bum berjalan ke arah garasi. Ia sudah cukup kuat untuk bisa menyetir sendiri hari ini. Ia dan Jung So Min berencana pergi ke butik terkenal untuk memilih gaun pengantin berbahan satin yang pas untuk Jung So Min. Kim Bum mengeluarkan mobilnya dan menyetir perlahan-lahan. Sekonyong-konyong ia teringat pertengkaran terakhirnya dengan Kim So Eun semalam. Bayangan gadis itu muncul samar-samar di kaca mobil. Kim Bum menepis cepat. Sedari pagi hingga sore hari, ia tak melihat Kim So Eun di rumah. Ia merasa cukup kesusahan juga. Tak ada yang bisa ia suruh. Han Hyo Joo sibuk dengan urusan rumah, belanja, membersihkan perabotan.

Kim So Eun tak ada di mana-mana. Ia tak tahu harus menghubungi siapa.

“Masa bodo dengan gadis itu,” gumam Kim Bum mengambil keputusan. Ia mulai tancap gas, mobilnya pun memasuki jalan raya yang padat merayap.

Tak sampai satu jam, mobilnya sudah tiba di halaman apartemen Jung So Min. Gadis itu segera turun dari kamarnya dan mengecup pipi Kim Bum penuh arti. Mereka masuk ke dalam mobil dan melaju memasuki kawasan pertokoan di bilangan Jasmine Road. Jung So Min masuk ke dalam butik.

“Aku ke toko seberang dulu, ya, mau beli sesuatu untukmu,” ujar Kim Bum sambil membelai rambut Jung So Min.

“Baiklah, jangan lama-lama, ya. Aku butuh saranmu untuk memutuskan gaun mana yang terbaik untuk aku pakai.”

Kim Bum mengangguk lalu berjalan menjauh dari butik. Ia memasuki toko bunga yang terletak di seberang butik. Membeli seikat bunga mawar putih dengan pita merah jambu dan sebuah kartu bertuliskan puisi cinta. Ia ingin selalu ungkapkan rasa cinta itu pada Jung So Min. Meletakkannya di dalam hati yang terdalam.

Dari kejauhan Jung So Min keluar butik dan melambaikan tangan. Memanggil namanya. Kim Bum mengembangkan senyum, ia berlari, menerobos jalan raya, menuju cahaya hatinya di sana.

“Kim Bum! Awas!” teriak Jung So Min penuh kepanikan.

Sebuah BMW Merah melaju kencang ke arah Kim Bum.

Lelaki itu awas dan dengan sigap melompat untuk menghindar. Maut berhasil ia kalahkan, mobil BMW itu terus berlari, namun kaki Kim Bum terasa nyeri tak kuasa menahan beban. Ia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kepalanya membentur trotoar jalan. Darah berceceran… merah. Membasahi bunga mawar putih yang tadi ada di genggamannya, kini jatuh tepat di samping kepala Kim Bum. Warna putih itu memerah. Darah merembes pelan. Semua orang berkerumun. Jung So Min menangis panik.

“Kim Bum! Kim Bum… bangun… tolong… tolong saya… dia tunangan saya!”

* * *

Ia gelisah, kepalanya menoleh ke kanan ke kiri, matanya masih terpejam. Ribuan bayangan diputar dalam mimpinya bagaikan layar film yang tak putus-putus. Keringatnya mengalir deras. Rasa panas menjalari tubuhnya, ia seperti dihempaskan ke dalam jurang yang terdalam. Jatuh, melayang, berdebam hingga ke dasar. Ia terbangun. Berteriak.

“Kim So Eunnn….!” Kim Bum terengah.

Matanya nyalang mencari sosok gemuk itu. “Di mana Kim So Eun?”

Dokter Park Jae Jung dan seorang perawat bersiap untuk menenangkan kalau-kalau Kim Bum menjadi tak terkendali. Hati Jung So Min kecut. Ia bertanya, mengapa bukan namanya yang dipanggil oleh Kim Bum? Mengapa harus Kim So Eun?

“Tn. Kim Bum? Anda sudah sadar?” Dokter Park Jae Jung memegang luka di kepalanya yang diperban. “Syukurlah, luka di kepala anda tidak terlalu parah.”

“Di mana istri saya?” tanya Kim Bum. Ia mengucak mata dan menatap Jung So Min yang meraih tangannya lalu menggenggam erat. Seolah tak ingin kehilangan.

Sekilas mereka beradu pandang.

“Hei… anda Jung So Min bukan?”

“Iya, Kim Bum, aku Jung So Min. Tunanganmu. Sebentar lagi kita akan menikah.”

Kim Bum menarik tangannya pelan-pelan dari genggaman Jung So Min. “Maaf, bukankah anda Jung So Min? Public Relation New Moon Entertainment? Bagaimana… bagaimana dengan resepsi pernikahan saya? Mana istri saya… mana Kim So Eun?”

Jung So Min berjalan mundur. Ia menahan kesedihannya.

Apakah ingatannya pulih?

“Dokter… apa yang terjadi pada saya? Kepala saya sakit… tapi sepertinya ada memori yang hilang… Saya… Saya seperti melupakan sesuatu, di mana istri saya?” tanya Kim Bum bertubi.

“Tuan Kim Bum,... selama satu bulan ini anda mengalami amnesia. Berkat benturan kembali di kepala anda tadi, mmm,... sepertinya ingatan anda perlahan pulih,” papar Dokter Park Jae Jung.

Kim Bum memijat-mijat kepalanya. Ia reka-reka kembali kejadian demi kejadian ketika ia sedang mengalami amnesia. Ditatapnya Jung So Min… ia ingat ia pernah mencintai gadis itu.

“Kim Bum…” Jung So Min memeluknya erat.

Jung So Min mendesak tubuh Kim Bum hingga merapat di dinding apartemennya. Gadis itu memakai gaun malam yang menggoda. Matanya liar menelusuri setiap jengkal lekuk atletis tubuh Kim Bum. Lelaki itu mengerang kecil. Tangan Jung So Min mencengkram kuat.

“Aku ingin malam ini menjadi milik kita… aku tak ingin kehilangan dirimu.”

Kaki Kim Bum masih terasa nyeri, lututnya belum sempurna untuk sembuh.

Ia tak kuasa melepaskan diri. Namun cinta mampu memberikannya tenaga, mendorong gadis itu hingga terjungkal ke belakang. Jung So Min meringis menahan sakit di sikunya.

“Kenapa, Kim Bum? Bukankah kau mencintaiku? Lihat cincin ini? Kau sudah melamarku Kim Bum! Kau mencintaiku …” tangis Jung So Min meledak.

Hatinya patah dan patah.

“Jung So Min… maaf. Aku ingat semua kejadian yang kita lalui bersama saat aku amnesia. Tapi perasaan cintaku pada Kim So Eun tak mungkin bisa terganti."

Jung So Min menatapnya dengan terluka.

"Aku salah Jung So Min… tapi bukan seperti ini cara mengakhirinya.” Kim Bum melepaskan cincin tunangan dari tangannya. “Aku tak pernah merasa benar-benar mencintaimu. Maaf, Jung So Min….” Ia letakkan cincin itu di atas meja lalu dengan tertatih membuka pintu, keluar dari kamar apartemen.

Jung So Min menjerit kesal, bersamaan dengan debaman pintu yang terbanting.

“Kim Bum! Kim Bum! Kim Bum… aku tidak peduli ingatanmu hilang berapa kali pun aku tak peduli. Aku hanya ingin kau jadi milikku Kim Bum….” Ia mengerang lepas. Seperti binatang buas kehilangan mangsa untuk makan malamnya. Jung So Min terisak. Menahan pilu.

* * *

“Kau mencari Kim So Eun?” tanya Yoon Eun Hye dingin.

“Tolong beritahu aku, Nunna… aku mencintainya. Mencintainya apa adanya,” Kim Bum memohon. Ia runtuhkan segala ketahanan dirinya, ia leburkan tangis di depan kakak iparnya. Ia tak peduli bila predikat jantan menghilang dalam dirinya.

Ia hanya menyesali, kehilangan Kim So Eun lebih menyakitkan daripada kehilangan segala memori.

“Kim So Eun tidak ada di sini.”

“Yoon Eun Hye Nunna, tolong mengertilah. Aku tahu selama aku amnesia aku memperlakukannya dengan tidak baik. Tapi aku mohon Nunna, aku ingin minta maaf padanya. Aku akan berjalan sejauh apapun dengan kaki pincang ini, dengan kepala yang terluka ini pun aku rela bila disengat panas matahari. Asalkan aku bisa bertemu istriku.”

“Kim Bum… pernikahan itu bukan main-main!”

“Aku tak pernah berniat untuk main-main.”

“Tapi kau juga sudah melamar Jung So Min, bukankah kalian juga akan menikah?”

“Itu di luar kesadaranku sebagai seorang Kim Bum. Itu semua diluar kendaliku….”

“Kau tahu kalau Kim So Eun terluka?”

Kim Bum menunduk lemah.

Ia tahu semua itu bagaikan roda permainan yang sulit untuk ia mengerti. “Aku berjanji akan menyembuhkan lukanya…” bisik Kim Bum lirih.

* * *

Lantunan derak roda kereta saat melintasi rel menuju Gwangju terasa bagaikan nada-nada kepedihan yang hinggap di hati Kim Bum. Matanya terpejam dan sosok Kim So Eun ada di sana. Pada mimpinya pada harapannya. Kim Bum mengenggam maafnya dalam diam, ia sematkan cintanya jauh-jauh di dalam hati agar tak ada satu pun yang sanggup merebutnya kembali.

Stasiun Break Dawn menanti, memberikan secercah sinar pagi pada para pencari mimpi. Kim Bum bergegas turun dari kereta. Ia berjalan menerobos keramaian. Hiruk pikuk calon penumpang yang hendak berangkat atau menanti kedatangan sanak saudara mereka. Kakinya terseok, lututnya menciptakan gesekan kecil, menciptakan nyeri. Kim Bum tak peduli, pun rasa sesak di dadanya. Lelah dan peluh yang jatuh satu-satu.

Ia tak peduli. Terduduk di bus jurusan Gwangju-Pyeongtaek, menikmati perjalan yang penuh guncangan. Ia menjaga rindunya agar tetap utuh. Sesekali air matanya menetes. Sakit rasanya mengingat ia pernah menyakiti Kim So Eun.

Kim Bum tiba di dusun St.Vyest. Berjalan tertatih melewati jalan setapak. Sesekali ia istirahat di kedai kopi. Melanjutkan perjalanan melintasi daerah persawahan. Hingga kakinya tak sanggup lagi berjalan ia bersimpuh di depan pekarangan rumah Ibunda istrinya. Sang Ibu baru saja selesai membereskan cucian. Ia keluar rumah dan mendapati Kim Bum.

“Kim Bum… Kim Bum?”

Kim Bum mendongak, wajahnya basah. Sembab. “Ibu… aku mencintai Kim So Eun apa adanya. Aku mencintainya, Bu….”

Ibu ikut bersimpuh. Memeluk anak menantunya itu. Membelai punggungnya yang letih. “Kim Bum… ingatanmu sudah pulih? Terima kasih Tuhan. Masuklah, Kim Bum.”

Ibu memapah Kim Bum memasuki gerbang kehidupan baru. Di rumahnya yang sederhana.

Kim So Eun keluar dari kamar mandi. Tangannya memegang sesuatu.

Wajahnya berbinar cerah.

“Kim So Eun!” serta merta Kim Bum berlari kecil, terseok, menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Kim So Eun. Gadis itu melepaskan benda di tangannya hingga terjatuh. Ia tak sanggup berkata-kata.

“Maafkan aku, maafkan aku Kim So Eun….”

Ibu dan Song Hye Gyo saling pandang dan melempar senyum. Kim So Eun melepaskan pelukan Kim Bum. Lelaki itu kebingungan. Istrinya mengambil benda yang tadi terjatuh. Kim Bum mengenggam tangannya. “Kim So Eun dengarkan aku… aku minta maaf, kemarin kau tahu kalau aku amnesia. Tapi sungguh Kim So Eun, aku khilaf… aku …”

“Sssstt…” Kim So Eun menempelkan jari telunjuknya ke bibir Kim Bum yang masih terbuka. Lelaki itu diam. Hening. Kim So Eun menyodorkan sebuah benda kecil, berbentuk persegi panjang, berbahan kertas, dengan dua garis merah membentuk horinzontal.

“Kau hamil?” mata Kim Bum terbelalak.

Kim So Eun mengangguk.

Tawa berderai.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

2 komentar:

  1. kenapa Jung So Min selalu jadi y jahat sih... mukanya Nice gitu....gak ridho saya.... :(

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...