Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 09 September 2011

Akhir Perjalanan



Title : Akhir Perjalanan
Genre : Romance, Friendship
Author : Sweety Qliquers
Episode : Oneshot
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 3 September 2011, 08.47 PM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Jung Yong Hwa


Kim Bum berdiri memberi jalan setelah yakin gadis itu memang hendak duduk di sebelahnya. Ia sengaja mengalah, mempersilakan gadis itu duduk di dekat jendela. Setahunya, penumpang bus lebih suka duduk di dekat jendela. Sebuah tindakan awal yang diharapkan bisa menumbuhkan simpati.

Kim Bum tersenyum lagi.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tegur gadis itu setelah duduk dan seketika membuat Kim Bum semakin lega dan gembira. Setidaknya ia punya teman seperjalanan yang tidak hanya cantik tetapi juga ramah dan suka bicara. Kim Bum berharap, perjalanan semalam dengan bus antar kota ini tidak membosankan seperti biasanya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Kim Bum balik bertanya.

“Heran saja,” kata gadis itu sambil menyempurnakan posisi duduknya. “Kau senyum-senyum terus.”

“Aku cuma merasa senang dan lega saja. Bukankah lebih enak duduk berdampingan dengan seorang gadis cantik yang enak diajak bicara daripada seorang nenek yang tidur mendengkur?”

Gadis itu tersenyum tipis. “Jangan berharap lebih.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan tidur dan mendengkur lebih keras dari dugaanmu.”

Sebuah jawaban yang bagi Kim Bum mengisyaratkan keramahan sekaligus kecerdasan.

“Kau ke Gwangju?”

“Tentu saja. Memangnya bus ini mau ke mana?”

“Bisa saja kau turun di Chuncheon, Seongnam atau ...”

“Gwangju. Kau?”

“Sama.”

“Tinggal di Gwangju?”

“Kuliah di sana. Aku tinggal bersama Bibiku yang single parent. Sebulan sekali aku kembali ke rumah. Kau?” Hati Kim Bum semakin gembira. Jelas, ia punya teman seperjalanan yang enak diajak bicara.

“Aku tinggal di Gwangju.”

“Jadi kau pulang setelah mengunjungi Seoul? Seorang diri, Gadis secantik kau... tidak takut?”

“Aku sudah beberapa kali melakukan perjalanan seperti ini. Ada salah seorang sepupuku yang menikah dan aku menghadiri pestanya.”

“Sendiri?”

Gadis itu tersenyum getir. “Mewakili orang tua yang... biasa, sibuk!”

“Kau Gadis pemberani.”

Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku jins-nya. Menelepon seseorang.

Ia bicara cukup keras untuk mengimbangi bisingnya terminal yang menerobos ke dalam bus.

“Aku sudah di atas bus dan segera berangkat. Jangan lupa jemput aku.... Jam berapa? Entahlah... nanti aku telepon setelah dekat Gwangju.” Gadis itu menutup sebelah telinganya. “Apa? Apa? Jangan begitu! Aku mohon, kau harus menjemputku. Nanti aku telepon lagi ketika bus berhenti untuk istirahat makan.”

Gadis itu menyudahi pembicaraan dan sesaat terlihat kesal.

“Kakakmu yang juga sibuk?” usik Kim Bum.

“Kekasihku.”

“Ooo...”

“Dia masih marah dengan kencan kami yang terganggu karena aku harus berangkat ke Seoul agak mendadak.”

“Dia pasti menyesal.”

“Kenapa?”

“Sayang kalau sampai kehilangan gadis secantik dirimu.”

Gadis itu menoleh dan menatap Kim Bum sambil mendekap mulutnya untuk menyembunyikan tawa kecilnya.

“Kau merayuku? Sudah tiga kali kau memujiku. Kau tipe Pemuda yang gampang mengobral pujian!”

“Hanya ingin jujur saja.”

“Kekasihmu pasti senang menerima pujianmu.”

Kim Bum tertawa sengau. “Kami putus dua bulan yang lalu. Sekarang aku Single. Coba tebak, kenapa aku putus dengan kekasihku?”

“Kau selingkuh? Mengobral pujian untuk Gadis lain?”

“Bukan! Semakin lama dekat dengannya aku semakin tidak bisa memujinya.”

Gadis itu mengkerutkan keningnya, pertanda ia agak sulit mengartikan ucapan Kim Bum.

Percakapan semakin seru. Mereka telah bertukar nama. Bus antar kota itu telah meninggalkan senja Seoul.

“Kenapa aku tidak boleh tahu nomor telponmu, Kim So Eun?”

“Tidak usah, Kim Bum. Aku sudah ada yang punya dan tidak ingin menebar benih masalah.”

“Pikirmu aku ini biang masalah?” Kim Bum menyeringai. “Kekasihmu pecemburu?”

“Jujur, kau Pemuda yang menyenangkan, setidaknya sebagai teman seperjalanan. Tapi aku tidak ingin kamu muncul di antara aku dan Jung Yong Hwa.”

“Kau takut aku akan menyaingi Jung Yong Hwa-mu? Membuatmu bimbang?”

“Jangan sombong!” Kim So Eun berkata sengit.

Kim Bum tertawa puas.

Di Seogwipo bus malam antar kota itu berhenti di restoran untuk memberi kesempatan pada semua penumpang untuk makan malam. Kim Bum dan Kim So Eun duduk berhadapan di salah satu sudut, menyantap menu pilihan masing-masing.

“Kenapa tidak mengajak Kekasihmu untuk menemanimu? Atau jangan-jangan kalian backstreet?”

“Oh, tidak! Bukan seperti itu! Dia Pemuda yang super-sibuk dengan pekerjaannya dan seabreg kegiatan lainnya. Tapi giliran dia yang punya mau, aku yang harus mengalah.”

“Kasihan. Itu namanya egois, maunya menang sendiri. Kau pasti tertekan menjadi Kekasihnya.”

“Biasa saja.” Kim So Eun mengaduk-aduk isi piringnya dengan gerakan sendok yang tak beraturan.

“Mungkin sudah saatnya kau mengalihkan perhatian.”

“Maksudmu?” Kim So Eun menatap Pemuda tampan di depannya tanpa berkedip.

“Mungkin kau lebih tepat jika punya Kekasih yang masih Kuliah, yang tidak terlalu sibuk dan... tampan seperti aku.”

Kim So Eun terbelalak dan kemudian melemparkan segumpal tisu yang persis mengenai wajah Kim Bum.

“Kau memang Pemuda yang aneh dan membuatku sering terkaget-kaget dengan candamu.”

“Tapi kau suka, kan?”

“Suka,” jawab Kim So Eun tanpa bisa dibendung. “Tapi... Jung Yong Hwa juga baik dan setia.”

“Baik dan setia...? A-ahh! Bukankah kau tadi bertengkar dengannya lagi?”

Kim So Eun tersentak. Wajahnya seketika merah padam.

“Maafkan aku, Kim So Eun. Tadi aku membuntutimu ketika kau ke toilet dan aku menguping pembicaraanmu lewat telpon.”

“Kau jangan suka menguping kemudian berprasangka buruk,” desis Kim So Eun.

“Apa yang kau pikirkan jika kau mendengar nada ucapan yang keras dan bentakan?” desak Kim Bum.

“Kadang pacaran memang tidak selalu mulus. Ada saja kerikil-kerikil kecil yang.... Ah, cuma kesalahpahaman kecil yang tidak berarti.” Kim So Eun masih mengaduk-aduk isi piringnya dan kemudian menyingkirkan piring itu. Ia minum air putih segelas penuh.

Setengah jam kemudian bus malam meninggalkan Seogwipo. Kim Bum dan Kim So Eun kembali duduk berdampingan, mengabaikan waktu dan jam tidur, untuk bicara. Mereka bicara tentang musik, acara televisi, film dan banyak lagi. Sesekali tawa keras Kim Bum membangunkan seorang ibu tua yang telah tertidur tak jauh dari posisi mereka. Sesekali pula jeritan kaget Kim So Eun mengusik orang-orang di depannya.

“Kenapa kita tidak bertemu setahun yang lalu ketika kau belum punya Jung Yong Hwa? Apakah Gwangju terlalu luas?”

“Pasti karena kita tidak berjodoh.”

“Kau yakin bahwa Jung Yong Hwa adalah jodohmu? Jung Yong Hwa yang temperamental itu? Kenapa kau tidak berpikir bahwa jodohmu baru saja kau temukan?”

“Ah, jangan sembarangan bicara!”

“Siapa yang tahu, Kim So Eun? Mungkin saja perjumpaan kita yang tidak kita duga ini adalah sebuah awal...”

“Sadarlah, Kim Bum! Ada Jung Yong Hwa yang pagi nanti menjemputku di terminal!”

Tiba-tiba Kim Bum berteriak dan mendorong wajah Kim So Eun ke jendela. “Lihat! Ada bintang jatuh! Mintalah sesuatu, Kim So Eun. Make a wish!”

Kim So Eun menegaskan pandangannya ke luar jendela, ke langit malam yang pekat di luar sana.

“Tadi aku sempat melihatnya, Kim So Eun! Sebuah bintang jatuh. Cukup besar dan sinarnya sangat tajam.”

“Dan kau mengucapkan permintaan dalam hati?”

“Ya. Aku ingin suatu hari kita bertemu dan...”

“Lupakanlah, Kim Bum! Kita hanya bertemu dan berteman selama perjalanan ini. Setelah turun dari bus ini di terminal Gwangju nanti, kita akan saling melupakan. Tidak bertemu, tidak berhubungan. Tidak ada telepon, meski sekedar say hello. Cerita kita berakhir pagi hari nanti.”

“Ya, baiklah. Aku menghormati keinginanmu. Tapi... aku akan menunggumu pada tanggal 14 Februari, jam 5 sore di depan Taman Kota Gwangju. Kau tahu tempat itu?”

“Kau?”

“Ya. Tepat sebulan lagi, aku menunggumu. Jam 5 sore, aku pasti ada di depan Taman Kota pada tanggal 14 Februari nanti. Aku siap untuk kecewa jika kau tidak datang menjumpaiku. Tapi... datanglah jika kau memang ingin bertemu denganku.”

“Lupakanlah angan-angan gilamu itu, Kim Bum. Kau akan melakukan hal sia-sia yang hanya akan membuatmu kecewa. Aku memiliki Jung Yong Hwa.”

“Kau akan merindukanku.”

“Aku akan melupakanmu karena hari-hariku selalu terisi Jung Yong Hwa. Kita cuma punya semalam yang menyenangkan dan harus dilupakan.”

“Andai tidak ada Jung Yong Hwa, kau akan datang menjumpaiku?”

Kim So Eun terlihat bimbang dan akhirnya ia benar-benar tidak menjawab.

Kim Bum menghela nafas panjang. “Aku akan menantimu di depan Taman Kota. Di bawah pohon yang rindang itu ... 14 Februari pukul 5 sore.”

Kim So Eun tetap membisu.

Waktu seolah berlari lebih cepat dari lajunya bus malam antar kota. Setidaknya itulah yang Kim Bum rasakan ketika tahu-tahu bus telah memasuki batas kota Gwangju.

Kim So Eun mengambil ponsel-nya dan menelpon seseorang.
“Aku sudah hampir tiba. Kau sudah di terminal, kan?”

Kurang dari setengah menit Kim So Eun sudah mengantongi kembali teleponnya.

“Mana nada-nada rindu itu, Kim So Eun? Kekasih setiamu tetap kesal dan uring-uringan? Menjemputmu dengan setengah hati?”

Kim So Eun tertunduk, menyembunyikan mendung di wajahnya.
Untunglah suasana di dalam bus sangat temaram. Andai lampu di dalam bus dinyalakan, pastilah Kim Bum mengetahui sepasang mata yang buram itu.

“Aku menunggumu di tempat itu, Kim So Eun ...” bisik Kim Bum. “Kau boleh datang atau tidak sama sekali. Aku siap kecewa.”

Pukul 5 pagi. Bus malam antar kota itu akhirnya memasuki terminal Gwangju. Kim Bum meraih dan menjabat tangan Kim So Eun sebelum Kim So Eun meraih tas punggungnya yang ada di bawah bangku.

“Sampai berjumpa sebulan lagi, Kim So Eun ...”

“Terima kasih untuk perjalanan yang menyenangkan,” bisik Kim So Eun seolah tak menghiraukan ucapan Kim Bum.

Kim Bum membiarkan Kim So Eun mendahuluinya turun dari atas bus. Kim Bum membuntuti langkahnya dengan jarak yang cukup jauh.

Kim Bum melihat gadis itu melangkah lesu. Rambut panjangnya meriap dipermainkan oleh angin pagi yang bertiup cukup keras. Seseorang menyeruak dari segerombol orang di tepian sana.

Pemuda itu berdiri menunggu. Kim Bum yakin, Pemuda itu adalah Jung Yong Hwa. Kim So Eun menghampiri Pemuda itu, menyentuh lengannya dengan ragu. Keduanya telah berdiri berhadapan dan kini saling bicara. Kim Bum terus melangkah dan sebentar kemudian melewati keduanya. Kim Bum tak ingin menoleh apalagi menyapa Kim So Eun. Ia terus melangkah dan membisu, meski hatinya sangat ingin meneriakkan nama Kim So Eun.

Serangkaian kalimat terdengar lapat-lapat di telinga Kim Bum.

“Lain kali kau harus membicarakannya terlebih dahulu padaku, Kim So Eun! Memangnya kau ini siapa? Wonder Woman, hah?!”

Kim Bum menoleh dan melihat Kim So Eun tengah ditunjuk-tunjuk wajahnya oleh Jung Yong Hwa. Kim So Eun hanya menunduk dalam-dalam.

Kim Bum mempercepat langkahnya, keluar dari terminal dan menghampiri taksi. Ia benar-benar tak ingin menoleh lagi.

***

14 Februari pukul 17.05

Kim Bum tersenyum lebar dan melonjak gembira. Ia tak perlu menunggu terlalu lama. Dilihatnya gadis itu tengah menyeberang jalan dan susah-payah berkelit dari padatnya lalu lintas di depan Taman Kota pada sore hari.

“Kim So Eun!” Kim Bum berteriak sambil melambaikan tangannya ketika gadis itu telah berhasil menyeberangi jalan.

Kim So Eun, gadis itu, memutar kepala untuk menemukan darimana panggilan itu berasal. Demi dilihatnya Kim Bum berdiri di bawah pohon rindang itu, tanpa ragu lagi Kim So Eun berlari menghampirinya.

Di bawah pohon yang rindang itu keduanya berpelukan erat. Erat sekali..


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

1 komentar:

  1. Hmmm klo jodoh tak akan lari kamana....
    Loh kok bisa? gimana ceritax sm jung hwa, but it's ok lah yg penting kimbeom n soeun bersatu XD

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...