Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 21 September 2011

Senyum Termahal (Chapter 1)



Aku bosan! Aku selalu terkungkung oleh keadaan. Keadaan yang membuatku tidak dapat lepas dari Inhaler ini. Keadaan pula yang membuat kedua orangtuaku selalu membatasiku dalam beraktivitas. Ini semua karena penyakitku! Penyakit genetis yang akan kambuh karena dipicu oleh lingkungan.

Sudah banyak dokter yang aku datangi. Sudah banyak terapi yang aku ikuti. Namun, semua itu sia-sia. Karena bila udara mulai dingin atau aku terlalu kelelahan, penyakit itu pasti kambuh lagi.

Penyakitku ini tidak dapat dihilangkan, hanya bisa dihindari. Tapi sampai kapan aku tidak boleh beraktivitas yang dapat membuatku kelelahan? Aku ingin seperti yang lain, dapat beraktivitas tanpa batas. Namun, semua itu hanya mimpi. Asma telah merenggut kebebasanku beraktivitas, berekspresi, dan kebebasan untuk mencintai seseorang.

...
Pertama kali kita bertemu...
Hanya senyum itu yang kau lemparkan
Bukan sepatah kata sapaan
Akan tetapi...
Senyum itulah yang mampu menciptakan sebuah desiran syahdu
Dalam pembuluh darahku
Senyum itu...
Yang membuat anganku selalu melayang
Membawa jiwaku ke tempatmu
Hanya dengan sebuah senyuman...
Kau buka mata hatiku
Kau perlihatkan dunia kepadaku
Dan kau berikan aku sebuah kesadaran
Akan indahnya dunia dengan senyuman...
...

Aku tersenyum memandangi puisi yang baru saja selasai kubuat.

Ingin sekali kuberikan puisi ini untuk Kim Bum, pria yang selama ini mendapat tempat khusus di hatiku.

Tetapi, tiba-tiba keraguan datang menerpa hatiku.

“Bagaimana reaksi Kim Bum nanti bila aku berikan puisi ini, sedangkan aku tahu bahwa banyak wanita yang menyukai dan mengagumi dirinya?”

“Hai...! Masih pagi begini sudah senyum-senyum sendiri. Ada apa? Sepertinya kau sedang senang, Mau berbagi denganku?” Baek Suzy mengagetkanku.

“Baek Suzy, kau mengagetkanku saja. Kalau aku jantungan bagaimana?”

“Maaf. Eh, apa itu? Boleh lihat?”

“Emm... bukan apa-apa, Ini hanya sebuah puisi.”

“Tapi boleh kan aku melihatnya?”

Aku lalu memberikan secarik kertas itu kepada Baek Suzy. Baek Suzy membaca puisi itu dengan seksama. Lalu ia bertanya,

“Siapa orang yang kau maksud dalam puisi ini?”

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu siapa dia,” jawabku.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...