Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Senin, 04 Juli 2011

Perlahan Bersemi (Chapter 4)



Tangan Kim So Eun yang sedang memegang ‘Joker’ nya Valiant Budi mendadak tak bertenaga. Novel yang baru dibacanya itu tergeletak di lantai yang berkarpet. Mata gadis itu membelalak kaget. Bibirnya menguak diliputi rasa tak percaya.

“Eonni, kau tidak sedang bercanda kan?” tanyanya galau.

“Tidak, aku memang pengirim misterius itu.”

“Oh Eonni, kenapa kau melakukannya? Kenapa?” Suara Kim So Eun pelan. Ada rasa malu menghantamnya. Ah, betapa tidak, selama ini dia berharap kalau Kim Bum-lah si pengirim misterius itu. Pantas, Kim Bum tidak mengaku karena memang bukan dia yang mengirim kartu itu. Tapi, dia telah memaksanya bahkan sampai menulis surat. O, betapa memalukan.

“Kim So Eun, sebelumnya maafkan aku. Aku pernah membaca diarymu,” kata Yoon Eun Hye sambil duduk di sisi adiknya. “Tapi, aku tidak sengaja. Aku menemukannya tergeletak di atas meja belajarmu. Kebetulan sekali, aku membaca halaman yang berisi rahasia hatimu.

“Di situ kau menulis tentang perasaanmu pada Kim Bum, tentang keingianmu mengungkapkan isi hati pada Kim Bum. Tetapi, kau bilang hal itu tidak mungkin karena kodratmu sebagai seorang wanita melarangnya. Semua perasaanmu kau pendam rapat, dan akhirnya kau merasa tersiksa didera rindu dan cinta,” Yoon Eun Hye berhenti beberapa jenak. Disentuhnya lengan Kim So Eun.

“Kalimat yang kau tulis begitu menyentuhku,” Ujarnya. “Lalu, aku mencari akal untuk membantumu memecahkan masalahmu. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa lebih lama lagi. Maka suatu ketika aku menemukan cara yang kupikir jitu… mengirim kartu ulang tahun dengan memakai nama Kim Bum. Aku tahu kau pasti akan mengucapkan terima kasih pada Kim Bum setelah menerima kartu itu. Dan, aku berharap Kim Bum akan tertarik padamu setelah melihat betapa cantiknya gadis yang tiba-tiba datang menyatakan terima kasih.”

“Kupikir sikap Kim Bum yang dingin dan angkuh akan sirna, jika berhadapan denganmu. Tapi nyatanya… Hh, aku memang bodoh Kim So Eun,” Yoon Eun Hye menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. “Aku terlalu ceroboh sehingga tidak memikirkan apa yang akan terjadi. Aku tidak menyangka kalau Kim Bum… “

“Dia kenapa, Eonni?” tanya Kim So Eun merasa heran dengan kalimat Yoon Eun Hye yang menggantung. “Eonni, Kau sudah memberikan surat itu? Apa katanya? O, semestinya aku tidak menulis surat itu, tapi… kau juga kan yang menyuruhku menulisnya... Argghhh…Bagaimana ini???“

“Ya, ya aku telah melakukan kesalahan dua kali,” kilah Yoon Eun Hye. “Aku menyuruhmu menulis surat dengan maksud mengetuk hati Kim Bum untuk yang kedua kalinya. Entah mengapa, aku merasa yakin dia pasti akan mengejarmu setelah membaca suratmu.”

“Dan ternyata tidak kan?” sembur Kim So Eun. “Oh, kau hanya membuatku malu... “ Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Yoon Eun Hye menghela napas sambil menyesali diri. Dipandanginya adik satu-satunya itu dengan sedih.

“Tapi dia tidak bilang apa-apa, Kim So Eun.” katanya kemudian. “Dia hanya berpesan agar mengatakan padamu bahwa dia tidak pernah mengirim kartu itu. Jadi kau tidak perlu malu. Bukankah kau, tidak menulis surat cinta.”

“Iya, tapi rasanya tidak enak ‘kan memaksa seseorang untuk mengakui suatu perbuatan yang ternyata tidak dilakukannya?”

“Sudahlah, nanti aku yang akan meminta maaf atas namamu karena menuduhnya tanpa bukti,” Yoon Eun Hye membelai rambut Kim So Eun. Kim So Eun diam saja. Tanpa berkata apa-apa, dia bangkit dari duduknya melangkah masuk ke kamar.

Yoon Eun Hye memandang punggung adiknya. Maafkan aku, Kim So Eun, bisik hatinya. Aku terpaksa membohongimu karena aku tak ingin ada pisau menorah hatimu, jika kau tahu apa saja yang dikatakan Kim Bum. Ya, berbohong demi kebaikan adakalanya perlu juga.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...