Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Senin, 04 Juli 2011

Biarkan Hati Bicara (Chapter 2)



Chapter 2
Awal Pertemuan


Makan malam kali ini di rumah keluarga Kim So Eun, terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Nampak spesial dengan kehadiran Kim Bum dan ayahnya. Malam ini adalah pertama kalinya Kim Bum dan Kim So Eun bertemu. Kim Bum tak menyangka bahwa gadis yang dijodohkan dengannya begitu cantik. Namun Kim Bum dan Kim So Eun belum sekali pun berbicara. Hanya celotehan orang tua mereka yang menghiasi meja makan malam itu. Sesekali para orang tua itu mengajak mereka mengobrol. Adik Kim So Eun, Park Shin Hye, juga tak terlalu banyak berkomentar. Padahal ia biasanya tak pernah berhenti mengoceh jika melihat pria tampan. Mungkin ia mengerti perasaan sang kakak. Walau tak berbicara pada Kim So Eun, Kim Bum terlihat sesekali mencuri pandang ke arahnya.

“Hai… boleh mengganggu, tidak?”

Kim So Eun kaget, saat Kim Bum menghampirinya.

Kim So Eun yang sedang melamun di teras belakang rumahnya, tak menyadari kehadiran Kim Bum. Setelah makan malam tadi, ia memilih duduk di sini, enggan untuk bergabung dengan para orang tua yang asyik mengobrol di ruang tamu. Apalagi ada Kim Bum di situ. Tapi saat ini ia tidak bisa lagi menghindar karena Kim Bum telah berdiri di sampingnya.

“Kau kelihatan tidak suka dengan semua ini?”

Kim Bum duduk di sebelah Kim So Eun.

“Siapa yang senang kalau dijodohkan dengan orang yang baru satu jam yang lalu terlihat wajahnya?”

Kim Bum tertawa kecil.

“Kita belum akan dinikahkan besok. Ini juga baru tahap perkenalan. Pendekatan istilahnya.”

“Sepertinya kau senang dengan perjodohan ini?” suara Kim So Eun agak emosi.

“Siapa bilang? Siapa yang suka, saat tiba-tiba suatu pagi ayahmu bilang bahwa kau akan dinikahkan dengan seorang gadis yang namanya baru saja disebutkan, yang entah bagaimana rupanya, wajahnya, sifatnya? Siapa yang suka dengan semua itu?”

“Lalu? kenapa kau tidak menolak? Kau bisa, kan? Kau seorang laki-laki.”

“Apa karena aku berlabel laki-laki, maka aku yang harus memberontak? Laki-laki juga punya rasa dan kasih sayang. Seorang laki-laki juga tidak tega melihat orang tuanya jantungan atau stroke saat tahu anaknya seorang pembangkang. Laki-laki juga punya kewajiban menghormati orang tuanya.”

Kim So Eun menyesali kata-katanya.

“Maafkan aku. Aku kalut, bingung."

“Aku bisa mengerti.” Kim Bum kalem.

Mereka bertatapan.

“Oh,ya… aku Kim Bum, sepertinya tadi kita belum berkenalan.”

“Kim So Eun.”

Mereka berpandangan seraya tersenyum lucu.

“Lalu, selanjutnya bagaimana?” tanya Kim So Eun

“Apanya?” Kim Bum bingung.

“Perjodohan kita?”

“Mungkin untuk sekarang, kita jalani dulu apa yang mereka mau. Lagipula mereka baru tahap memperkenalkan kita. Kalau kita tidak cocok mereka tidak akan memaksa.”

“Kau yakin?”

“Orang tuamu tidak mungkin mengorbankan kebahagiaanmu, demi egoisme mereka. Kalau memang kau tidak bahagia menjalani ini semua, mereka pasti mengalah. Ini juga baru tahap pendekatan. Jadi jalani saja apa yang mereka inginkan. Simpel, kan?”

“Bagiku tidak bisa sesimpel itu...”

“Oh, ya?”

“Aku sudah punya seseorang yang aku cintai. Dan karena perjodohan konyol ini, hubungan kami bisa saja berakhir.”

“Kenapa kau tidak bilang pada orang tuamu?”

“Mereka sudah tahu. Dan mereka juga tidak menyetujui hubunganku dengan Kim Hyun Joong Oppa. Kita Backstreet hampir tiga tahun.”

“Waow, ironis! Cinta terlarang, rupanya.”

Kim So Eun memandangi Kim Bum dengan tatapan kesal.

“Maaf…” ujar Kim Bum, seraya mengatupkan jarinya ke depan wajahya.

Untuk beberapa saat mereka terdiam, sampai akhirnya Kim So Eun buka suara.

“Kau harus janji satu hal padaku?”

Kim Bum memandang Kim So Eun penuh tanya.

“Aku boleh jalan dengan Kim Hyun Joong Oppa?”

“Silahkan,… toh kita belum punya ikatan apa-apa.”

“Kau tidak boleh beritahu orang tuaku!” Nada bicara Kim So Eun sedikit mengancam.

Kim Bum memandang Kim So Eun.

“Bisa tidak, kau menganggap aku sebagai teman? Bukan seorang mata-mata atau tukang mengadu?”

Kim So Eun merasa malu. “Deal. Teman?”

Kim Bum meraih uluran tangan Kim So Eun untuk berjabat tangan.

Terlihat bahwa keduanya bisa saling dekat.

Malam itu, kisah baru dalam hidup Kim Bum dan Kim So Eun mulai tertulis.

* * *

“What? Dijodohkan?” Lee Ki Kwang setengah berteriak.

Untunglah mereka sedang berada di ruang kerja Kim Bum yang tertutup rapat.

“Tidak usah sekaget itu. Biasa saja!”

Kim Bum sibuk membolak-balik beberapa file yang ada di meja kerjanya. Dan sesekali membacanya.

“Kim Bum… sebegitu parahnyakah, hidupmu? Kau memang sudah tidak laku lagi? Sampai harus dijodohkan segala?”

“Ini kemauan Ayahku….”

Lee Ki Kwang tertawa. Merasa ada sesuatu yang lucu dengan pernyataan Kim Bum barusan. Kim Bum merasa diremehkan.

“Asal kau tahu saja, gadis itu cantik sekali.”

“Oh, ya?” Lee Ki Kwang masih meremehkan “Sesuai tidak dengan standar gadis-gadis yang biasa kau kencani selama ini?”

“Kalau dia belum punya pacar, mungkin aku akan berusaha sungguh-sungguh untuk merebut hatinya. Sayang, sudah ada yang punya…”

“Cinta pada pandangan pertama rupanya? Hajar saja, Bro! Untuk apa memikirkan kekasihnya. Sepertinya dia tidak serius dengan keaksihnya itu. Buktinya, dia mau menerima perjodohan ini.”

“Dia terpaksa, Lee Ki Kwang. Seperti aku, dia terlalu berbakti…”

“Kau? Anak berbakti?” Lee Ki Kwang mencibir.

Kim Bum ingin menyahut. Namun pada saat yang bersamaan pintu ruangannya terbuka. Seraut wajah cantik muncul.

Gadis itu, kini menghampiri meja kerja Kim Bum.

“Kau kemana saja? Kenapa teleponku tidak diangkat?”

Lee Ki Kwang yang tahu diri, segera bangkit dan berjalan keluar. Sebelumnya ia sempat meleparkan pandangan penuh arti ‘selamat meladeni gadis agresif ini’ kepada Kim Bum.

“Aku sibuk, Im Yoona. Lagi pula untuk apa, kau mengejar-ngejarku seperti ini? Apa kau tidak capek?!”

“Kau yang selalu menghindar, memangnya salahku apa?”

“Kau tidak salah apa-apa. Tapi aku mohon… jangan ganggu aku.”

“Kenapa? Kau menghindariku?”

“Aku capek. Banyak kerjaan menumpuk.”

“Oh, shhh.... Bilang saja, kau tidak suka lagi jalan denganku. Dasar playboy.”

Bantingan suara pintu itu memperjelas seberapa gemasnya Sang gadis itu.

Untuk sesaat Kim Bum memejamkan mata, ah, tapi setidaknya, kepergiannya bisa membuat Kim Bum lega, akhirnya terhindar juga dari nenek sihir itu.

* * *

Seminggu berlalu sejak pertemuan Kim So Eun dan Kim Bum... namun pertemanan yang mereka lakukan hanya sebatas sms atau telfon. Itu pun hanya sekedar say hallo. Tidak pernah ada acara antar jemput atau apa. Kim Bum sadar, Kim So Eun pasti tidak akan suka, sebab hingga kini Kim So Eun masih berhubungan dengan kekasihnya. Tapi, ayah Kim Bum tidak suka dengan keadaan ini. Dia ingin, mereka berdua semakin akrab dan sering bertemu.

“Ayah tidak pernah lihat kau ajak Kim So Eun main ke sini?”

Sang ayah yang tengah asyik membaca buku di ruang tengah, buka suara begitu melihat kedatangan Kim Bum pulang kerja. Kim Bum yang hendak masuk ke kamarnya pun menghentikan langkahnya.

“Aku belum pernah lagi bertemu dengannya.” Jujur Kim Bum.

“Apa? Memangnya kau kemana saja selama ini? Kalian sudah diperkenalkan. Masa orang tua lagi yang harus campur tangan untuk mendekatkan kalian? Agresif sedikitlah, Kim Bum…!”

“Jadi mau ayah, Aku harus gimana?”

“Antar jemputlah Kim So Eun berangkat kerja. Atau sesekali ajak dia jalan-jalan. Masa ayah yang harus beritahu lagi apa yang harus kau perbuat? Kau kan sudah biasa kalau soal wanita.”

“Baiklah. Besok Aku akan jemput dia dari kantornya.”

Kim Bum berlalu.

Ayahnya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Kim Bum yang menurutnya kurang Gentleman sebagai pria.

* * *

“Kim Bum? Tumben datang kemari?”

Kim So Eun kaget saat melihat Kim Bum datang menjemputnya.

Dia yang sedang menunggu kedatangan Kim Hyun Joong, tak menyangka akan dijemput pula oleh Kim Bum. Kim Bum memang sengaja tidak memberitahu Kim So Eun tentang kedatangannya sore ini. Kim Bum tahu, Kim So Eun pasti menolak kalau ia memberi tahu sebelumnya.

“Permintaan Ayah. Dia ingin aku mengantar jemputmu setiap pulang pergi kerja.”

“Ya ampun….padahal aku kan, bisa pulang sendiri.”

“Ya, itulah Ayahku. Maaf aku terpaksa menurutinya.”

“Bagaimana, ya? Masalahnya, Kim Hyun Joong Oppa sering antar jemput aku. Sekarang, aku sedang menunggu dia.”

Baru saja kalimat Kim So Eun selesai, Kim Hyun Joong muncul dengan motor kesayangannya.

Dia pun berhenti tepat di samping Kim So Eun dan Kim Bum berdiri.

Kim Bum memperhatikan Kim Hyun Joong, sampai pemuda itu membuka helmnya. Dan saat terlihat wajahnya dan pandangan mereka beradu. Terlihat jelas perubahan air muka keduanya. Terkejut. Kim So Eun yang kurang menyadari hal itu, segera menyuruh Kim Hyun Joong agar turun dari motornya dan memperkenalkannya pada Kim Bum.

“Oppa, ini Kim Bum… Kim Bum, ini Kim Hyun Joong…”

Keduanya masih beradu pandang. Dingin.

Tak ada yang mengulurkan tangan.

“Kalian sudah saling kenal, ya?”

“Tidak!”

Kim Hyun Joong menjawab ketus. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari Kim Bum.

“Mungkin lain kali saja aku menjemputmu, Kim So Eun.”

Kim Bum berbicara santai pada Kim So Eun. Seolah-olah Kim Hyun Joong tak ada di situ. Dan tanpa menunggu jawaban Kim So Eun, Kim Bum segera masuk ke mobil dan meninggalkan Kim So Eun yang masih penasaran dengan sikap mereka berdua.

“Kau kenal dia sebelumnya?”

Kim So Eun bertanya pada Kim Hyun Joong yang terus memperhatikan kepergian mobil Kim Bum.

“Jadi dia orang yang dijodohkan denganmu?” Kim Hyun Joong balik bertanya.

“Iya. Maafkan aku, Oppa. Aku tidak tahu kalau kau cemburu.” Kim So Eun gugup. Ia mengira sikap Kim Hyun Joong terhadap Kim Bum karena cemburu. Padahal bukan itu masalahnya.

“Ayo, kita pulang!”

Kim Hyun Joong menggandeng tangan Kim So Eun untuk segera naik ke motor. Dan Mereka pun melaju pulang.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...