Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 24 Maret 2011

Wo Ai Ni (Chapter 2)


Langit hitam pekat diiringi orkes kilat membuat jantungku kerap melompat. Sebentar lagi bumi pasti diguyur hujan lebat. Tapi, taxi-taxi yang biasa berseliweran di depan gedung kantorku seperti enggan lewat. Duh, mana kakiku sudah pegal karena kelamaan berdiri. Leherku juga rasanya sudah sepanjang leher jerapah saking seringnya dijulurkan ke arah jalan raya. Oh, God….help me please! Aku tidak bawa payung! Masa aku harus basah kuyup di pinggir jalan? Kalau tidak ada taxi, bus juga boleh. Kalau kedua angkutan umum itu tidak ada juga bagimana? So….what should I do? Aku menunduk, memejamkan mata. Maksudnya, mau berdoa dengan khusyuk ketika sebuah Ferrari Merah berhenti di depanku. Aku membuka mata. Mengangkat kepala dan…

“Go Ah La, belum pulang? Tidak ada taxi ya? Ikut aku saja…” Seraut wajah tampan muncul dari jendela mobil yang terbuka. Oh, Nooo! Kenapa harus dia yang dikirim Tuhan untuk menolongku? Kenapa bukan taxi atu bus? Gengsi! Sudah kesal dengan orangnya masa mau menumpang mobilnya? Tapiiii..dalam sikon seperti ini apakah gengsi harus dipertahankan? Coba lihat langit yang semakin kelam. Hujan yang mulai menetes dan tampaknya akan deras. Jalanan yang kian lenggang. Oom-oom senang yang mungkin akan menghentikan mobilnya, mengira diriku ‘wanita kantoran’ yang bisa di ‘ajak’. Belum lagi, preman jalanan yang akan menodongku atau…mem… Hiiiiih! Aku menggigil tiba-tiba.

“Go Ah La…kau kenapa?” Yunho menatapku cemas. “Ayo cepat masuk! Sudah mulai hujan!”

Maunya bilang ‘no, thanks’ but….rasa takut yang menyergap mendorong bibirku berucap : “Oh..iya..ya..,” Sambil berkata begitu, aku bergegas membuka pintu mobil dan duduk di samping Yunho yang ..idih, menatapku dengan sorot .... Cemas, sayang, rindu, mesra campur baur seperti gado-gado. Aku pun melengos. Memeluk bahuku erat-erat. Uf! Aku menggigil lagi. Padahal aku sudah berada di tempat yang aman tapi ….kenapa aku merasa kedinginan begini? Tak sadar, kuraba dahiku. Panas! Tubuhku juga mendadak meriang. Oh, great! Masa, baru kelamaan berdiri di pinggir jalan sudah sakit? Payah sekali! Atau, jangan-jangan karena semalam aku begadang menyiapkan bahan presentasi. Lalu, tadi siang telat makan gara-gara dapat tugas dadakan dari Presdir yang harus segera diselesaikan. Ditambah ‘bonus’ lembur sampai lupa order taxi by phone. Huh, seandainya mobilku tidak masuk bengkel tentu aku tidak akan menderita seperti ini…

“Kenapa? Kedinginan ya? Aku matikan AC-nya ya…” kata Yunho penuh perhatian. Aku menggeleng.

“Tidak usah dimatikan. Nanti pengap. Kalau boleh, dikecilkan saja.” Ujarku sambil menggigit bibir. Brrr….rasanya tubuhku semakin kedinginan. Gawat! Aku benar-benar jatuh sakit. Kakiku yang dibalut stocking dan tertutup sepatu model semi boot terasa bagai disiram air es.

Beberapa jeda berlalu. AC mobil telah dikecilkan tapi…aku masih merasa berada di kutub Utara.

“Masih kedinginan? Pakai jas-ku saja, ya?” Tiba-tiba Yunho menghentikan mobilnya. Mengambil jas-nya yang terletak di jok belakang dan menyampirkannya ke bahuku dengan lembut. Lalu…lalu…oh, mama mia! Dia menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. Semula aku ingin sekali menepis tangan itu sambil menghardik pemiliknya tapi….aku terlalu kedinginan dan…hei, kenapa perasaanku jadi hangat begini? Aku merasa seperti seorang puteri cantik yang dijaga, dilindungi dan didekap oleh seorang pangeran perkasa. Celakanya, aku merasa ingin menangis. Terharu. Tersentuh. Terjerat dalam rasa tak kasat mata. Selama ini aku selalu menampiknya. Selalu cuek dan jutek padanya tapi…dia tidak pernah marah. Even, dia begitu care padaku. Akh, mendadak aku dilanda sejuta sesal atas sikapku yang tak bersahabat.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...