Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Senin, 14 Maret 2011

Snoppy Golden Retriever (Chapter 1)


Chapter 1
New Day


Laki-laki artinya mempunyai keberanian. Mempunyai martabat. Itu artinya percaya pada kemanusiaan. Itu artinya mencintai tanpa mengizinkan cinta itu menjadi jangkar. Itu artinya berjuang untuk menang.

BUMI di kota kecil di Chuncheon, Chuncheon merupakan nama kota di Korea Selatan. Letaknya di bagian timur. Tepatnya di provinsi Gangwon . Pada tahun 2001, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 252.019 jiwa dengan memiliki luas wilayah 1.116,43 km². Kota ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 225 jiwa/km². Kota ini merupakan ibu kota provinsi Gangwon.

Orang-orang yang memulai rutinitasnya di pagi yang basah di bulan September ini menyemarakkan kota. Orang-orang dengan seragam kantor, putih abu-abu, putih biru, putih merah, tawa cerah, dan sorot mata cemerlang bagai baris-baris yang menghiasaibait-bait puisi pagi ini. Semua bergembira menyambut air hujan setelah musim kemarau yang panjang. Sepeda-sepeda dengan lonceng bersahutan, berseliweran menyibak genangan air. Sopir-sopir yang mengantar anak majikan pun memencet klakson dengan meriah. Atau untuk golongan yang suka pamer dan sok aksi, merayakan kegembiraannya dengan caranya sendiri, yang kadang tidak bertanggung jawab. Mereka menggilaskan roda motor-mobilnya ke genangan air, sehingga bercipratan mengotori baju orang-orang.

Akibat ulah itu memang bisa tercipta kegembiraan lain, tapi juga sekaligus merusak keindahan bait-bait puisi pagi ini. Remaja Kim Bum mengayuh sepeda balapnya pelan-pelan.

"Ayo, Snoppy!" serunya.

Snoppy adalah anjing jenis Golden Retriever. Golden Retriever adalah anjing trah yang mulanya dibiakkan sebagai anjing pemburu untuk mengambil burung hasil buruan yang sudah ditembak. Anjing trah ini termasuk jenis Retriever (pengambil) yang menemukan atau mengambilkan burung air atau unggas liar untuk pemburu. Bulu mereka keemasan (golden) di bawah sinar matahari sehingga disebut Golden Retriever.

Mereka dibiakkan sebagai anjing yang secara intuisi menyenangi air. Sewaktu mengambil hewan buruan, mereka tidak menggigit secara kasar. Burung hasil buruan diberikan kepada pemburu dalam keadaan utuh dan tidak rusak. Kecerdasan dan kepandaian yang beraneka ragam menjadikan Golden Retriever sebagai anjing multiguna. Di antaranya, mereka dipekerjakan sebagai anjing pelacak narkoba, anjing penyelamat (Search and Rescue), anjing pemburu, dan anjing penuntun.

Sifatnya yang bersahabat, sabar, dan selalu ingin menyenangkan hati pemiliknya, menjadikan Golden Retriever sebagai salah satu anjing keluarga yang paling populer di dunia (menurut statistik pendaftaran anjing).

Anjing Golden Retriever itu menyalak kegirangan. Bulunya yang keemasan mengkilat. Gerak-geriknya melindungi majikannya dari marabahaya.

lni adalah hari pertama bagi Kim Bum sekolah di kota Chuncheon. Remaja Kim Bum memang jadi pusat perhatian. Ke sekolah dengan sepeda balap dan anjing Golden Retriever? Itu absurd. Sebuah objek sensasi. Dia tersenyum-senyum saja. Bukankah senyumi tu bahasa dunia?

Dia menyimpan sepeda balapnya. Ada empat pemuda sombong dan angkuh sedang nongkrong dengan mobil sport-nya. Di plat mobil itu tertulis tujuh huruf besar-besar.

Shinhwa, bisik Kim Bum mengeja huruf-huruf itu. Sorot mata mereka sinis dan tidak bersahabat. Dia harus hati-hati dengan kelompok itu. Persaingan sudah dimulai saat itu juga. Itulah remaja. Dunia lelaki. Keras dan kadang kala tidak bertanggung jawab. Dia menyadari dan berani menghadapi resikonya. Di mana-mana, kalau dia sudah berhadapan dengan orang-orang semacam mereka, kehadirannya selalu menimbulkan perang. Dan dias elalu memandang musuhnya seorang demi seorang sebelum memulai perkelahian. Kebiasaannya, dia tidak akan menyodorkan pipinya dulu, tapi langsung tinjunya!

Sebenarnya dia paling senang berteman dan menolong orang. Tapi itu tergantung bagaimana permulaannya ketika mereka menghargai seseorang. Bukankah kalau kita ingin dihargai, harus juga menghargai dulu orang lain?

Lain waktu telinganya mulai mendengar suara-suara kecil, manja, dan genit menggemaskan. Kim Bum tahu itu untuknya. Dia memang keren. Badannya jangkung atletis.

Tampan tapi tidak kolokan. Berbeda dengan orang kebanyakan. Alis matanya tebal memayungi mata hitam berkilat ibarat menikam buruannya. Tapi kadang juga teduh seperti telaga di rimba belantara. Dan senyumnya memang memabukkan, nakal, dan khas berandalan.

Dia menuju kios cukur. Snoppy melonjak-lonjak manja. Dia berusaha agar Snoppy mau tinggal disitu, menemani si kakek tukang cukur. Sementara itu seorang gadis baru turun dari BMW putih. Mata kejoranya bersinar-sinar dan merah mungil bibirnya terbuka.

Lelaki dan anjing Golden Retriever! Gadis itu terpesona merekam gambar-gambar hidu pmenakjubkan di benaknya.

Kim Bum mengangkat wajahnya. Tersenyum nakal ke arahnya. O, Dewa Cinta! Senyum itu melesat menembus dadanya dan persis menancap di titik sasarannya. Gadis itu bergegas menuju gedung Sungkyunkwan High School. Dadanya berdebar tidak keruan. Ledakan-ledakan itu muncul bersahutan.

"Hai," sapa Kim Bum bandel sambil menjajari langkahnya.

Gadis itu tersenyum sedikit. Mahal sekali harga senyumnya, seperti senyum putri-putri kerajaan. Sangat manis. Sungguh. Dan bagi Kim Bum, manis itu indah serta tidak membosankan.

Sebenarnya tindakan Kim Bum tadi seperti meniup terompet peperangan, karena Park Jung Min salah seorang dari Shinhwa menyikut temannya yang bernama Jang Geun Suk. Lelaki sombong dan angkuh itu meringis gelisah dan marah. Rokok filternya sudah lumat diinjaknya.

"Sepertinya anak baru," kata Jung Yong Hwa.

"Mulai bertingkah, anak itu!"

"Kita kerjain saja dia, Jang Geun Suk!" Sahut Lee Hong Ki.

Jang Geun Suk menyeringai kepada tiga pengikutnya. Besi tua dipukul nyaring. Mereka dengan malas beranjak, menuju 3 IPS 1. Seperti kebiasaannya dari dulu, Jang Geun Suk selalu menghampiri bangku gadis itu, untuk mengagumi kecantikannya.

"Selamat pagi, Kim So Eun," sapa Jang Geun Suk selalu ramah dan hormat. Kesombongan dan keangkuhannya sebagai anak jawara selalu mencair di depan gadis ini. Itu sudah dilakukannya sejak di kelas satu.

Dia tidak akan pernah lelah untuk mengucapkan kalimat seperti tadi, karena di situlah dia mendapatkan kebahagiaan.Walaupun berkali-kali cintanya sudah ditolak, dia tidak peduli. Karenanya, betapa darahnya bergolak begitu dilihatnya seseorang yang belum dikenalnya, berani-beraninya, mendekati dewi pujaannya.

Kim So Eun memang ibarat gadis desa keturunan dewi-dewi. Dia adalah Venus. Kecantikan alamiah yang sempuma. Sorot matanya bening, seperti mata air memancar dari pegunungan. Senyumnya wangi semerbak. Segala yang indah-indah ada padanya dan tidak akan ada habisnya.

Kelas baru Kim Bum, 3 IPS 2, bergemuruh menyambutnya. Begitu menyenangkan hatinya. Di mana-mana sesuatu yang baru selalu cepat jadi pusat perhatian. Apalagi qualified begini. Dia kebagian duduk di bangku belakang. Di mana-mana bangku belakang disinyalir sebagai tempat duduknya siswa-siswa malas dan nakal.

"Akhirnya bangku ini terisi juga," Shim Changmin sangat gembira menyambutnya. Dia tersenyum mengulurkan tangan. Bola matanya jenaka kalau berbicara. Manis kalau tersenyum. Baby face.

"Senang sekali punya teman sepertimu," Kim Bum menjabat erat.

"Tambah satu lagi," Lee Eunhyuk yang duduk di depannya nimbrung. Rambutnya lurus diponi. Tampan tapi kurang terurus. Gayanya kusut ala seniman saja. Tapi matanya lincah kalau melihat gadis cantik. Ada gaya khasnya, sukar ditiru, yaitu suka menyelipkan rokok dibibirnya. Lalu memainkannya dari ujung kiri ke ujung kanan bergantian, tanpa pernah mau menyulutnya. Merokok itu merusak kesehatan, begitu prinsipnya. Boleh juga.

Sepanjang pelajaran, Shim Changmin selalu melirik ke sebelahnya. Menebak-nebak kemungkinan yang akan terjadi dengan teman barunya. Siapa tidak kenaI Shinhwa? Si Jang Geun Suk? Lelaki yang bangga terlahir sebagai anak jawara dan tidak pernah senang kalau merasa ada seseorang yang seperti akan menyainginya.

***

Kim Bum membanting sepeda balapnya. Seragamnya kotor dan sikutnya lecet-lecet.

Snoppy menyalak. "Diam!" hardik Kim Bum kesal. Snoppy melengos, sembunyi di bawah kursi.

"Kenapa, Kim Bum?" Ibunya memolesi lukanya dengan obat merah.

"Diserempet orang, Bu," dia meringis perih. Menuju meja makan.

Kejadian barusan semakin menambah penilaian minusnya pada kota ini. Masih terbayang ketika dia sedang asyik berkejaran dengan Snoppy, tiba-tiba Mobil Sport sialan itu sengaja menyerempetnya.

Seperti itukah tradisi remaja di sini? Merasa dirinya paling jago? Di sini perkelahian kecil saja bisa merembet jadi perkelahian antar kampung. Jangan kaget kalau melihat ada orang digebuki orang sekampung hanya gara-gara menabrak seekor ayam!

"Kau mirip Ayahmu, Kim Bum," kata wanita 40-an itu penuh kenangan dan kesedihan, melihat cara makan anaknya yang tergesa-gesa tapi gesit itu. Dia pun ikut makan menemaninya.

"Kan anaknya, Bu," Kim Bum mengecup pipi ibunya yang masih saja cantik. Kadangkala dia terenyuh apabila mendengar inunya mengingat-ingat dan membanding-bandingkan dirinya dengan almarhum ayahnya.

Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu.Waktu itu malam sedang hujan. Ibunya menghampiri dan memeluk dengan bersimbah air mata. "Ayahmu lelaki sejati, Kim Bum," isaknya, "Alam adalah sahabat sekaligus musuhnya."

Ayahnya tewas dalam pendakian. Bermula dari sifat petualangannya yang ingin membuat jalan terobosan. Lalu dua hari kemudian Ayahnya diketemukan tewas di dasar jurang. Seseorang menemukan secarik kertas di saku jaketnya. Sampai sekarang surat itu masih disimpan Kim Bum, untuk kenangannya kalau dia sedang merindukan ayahnya. Setiap malam dia selalu membacanya lagi:

"Kim Bum, anjing Golden Retriever itu Ayah beri nama 'Snoppy'. Snoppy adalah pengganti Ayah. Jadilah lelaki. Jaga ibumu!"

Kim Bum baru betul-betul bisa mengerti dan memahami isi surat itu beberapa tahun kemudian. Tentang betapa beratnya kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Lalu Snoppy, anjing Golden Retriever-nya, itu adalah hadiah dari ayahnya ketika dia masuk ke kelas satu di bangku SD. Dan itu hanya beberapa hari sebelum ayahnya berangkat dengan pendakiannya, kematiannya. Jadi, Kim Bum dan Snoppy, memang tidak bisa dipisahkan. Mereka tumbuh bersama. Sudah banyak petualangan kecil dilewati bersama. Di mana ada Kim Bum, di situ pasti ada Snoppy!

Kemudian Kim Bum mulai banyak belajar tentang hidup dari figur ayahnya. Lewat foto-fotonya, tulisan-tulisannya, cerita ibunya, dan perpustakaan mini warisannya.

***

Agak pagi Kim Bum datang ke sekolah. Menuju kios cukur untuk menitipkan Snoppy. Dia memberikan bungkusan kepada si kakek tukang cukur.

"Ini untuk cucu Kakek," kata Kim Bum hormat.

"Ya, hanya baju-baju bekas, Kek."

Si kakek begitu terharu. Dia memang pernah bercerita tentang ketiga cucunya yang masih duduk di SMP. Ternyata tidak semua remaja hanya memikirkan sebatang rokok dan rencana malam minggu-nya, bisik hatinya.

BMW putih itu berhenti. Kim So Eun tampak rambutnya dihiasi bando merah. Jalannya begitu cermat dan berirama, seperti penari balet pada pertunjukan operet. Snoppy menyalak. Berlari mencegatnya. Dan duduk dengan genitnya. Mengibas-ngibaskan ekornya.

"Mana majikanmu?" Kim So Eun berjongkok. Meneliti kalung yang menggantung di leher Snoppy.

Kim Bum berdehem. Snoppy menyalak kegirangan.

"Anjingmu gagah," katanya biasa-biasa saja.

"Nama saya Kim Bum," dia memulai dengan cengiran nakalnya.

Kim So Eun mengangguk, tapi melihat ke arah lain. Kelihatannya dia hati-hati dan penuh perhitungan menghadapi lelaki model begini. Awas, jangan beri lampu kuning, nanti suka nyelonong keenakan, Tampak mobil sport itu sudah diparkir.

"Kau tidak punya nama?"

"Untuk apa?"

"Hei, anjingku saja punya nama," ledek Kim Bum.

"Aku bukan anjing," katanya bergegas. Dia masih sempat menoleh. Tampak Shinhwa sedang mengikuti Kim Bum. Mereka sengaja menyenggolnya. Kim So Eun menghentikan langkah di pintu gerbang. Menunggu babak selanjutnya.

Kim Bum masih bisa mengontrol letupan kawahnya. Tapi ketika kaki Jang Geun Suk menggaetnya, sehingga dia terhuyung-huyung, kawahnya pun meletus!

"Jangan dikira aku tidak berani dengan kalian!" Kim Bum mencekal kerah baju Jang Geun Suk, sambil menuding wajahnya. Gerahamnya dikatupkan pada yang lain. Dia cepat-cepat menyudahi drama menegangkan itu. Terlalu demonstratif dilihat orang. Shinhwa hanya saling pandang, tidak menyangka sama sekali kalau Kim Bum akan begitu nekat.

Kim So Eun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihatnya.

***

Malam Minggu.

Kim Bum bergaya di depan cermin. Rambutnya yang basah dikeramas disisir ke belakang. Dia mengenakan setelan jeans Levi'snya. Baginya jeans ibarat 'hidup'. Semakin dia lusuh, semakin dia enak untuk dinikmati. Kerah jaketnya diberdirikan. Dan dia kemudian membayangkan dirinya menjadi seorang Robert Pattinson!

Di bibirnya tersiul Bonamana-nya Super Junior. Dia mengayuh sepeda balapnya dengan santai. Snoppy meloncat ke sana kemari. Dia harus mengantarkan beberapa jahitan ke langganan baru ibunya dulu, sebelum menepati undangan Lee Hyori, si sexy, untuk kencan ke rumahnya. Dia sebenarnya masih risi, karena pernah mendengar tentang tradisi di sini bahwa, apabila ada lelaki dari luar lingkungan setempat mengencani wanita di sana, nanti pulangnya, apalagi lewat jam sepuluh malam, biasanya dicegat atau ban kendaraannya dikempesi.

Kim Bum membuka pintu pagar itu. Ini di kawasan elite di sini. Agak di luar kota. Ada satu jahitan pakaian lagi di setang sepedanya. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menghidupinya dengan keahliannya sebagai perancang mode. Keahliannya memang hanya dikenal dari mulut ke mulut saja. Ibunya membatasi pada lima potong pakaian dalam sebulannya. Ibunya dulu pernah memenangkan salah satu kontes perancang mode di Seoul.

Lee Hyori yang gelisah menunggu di teras, menyongsong pangerannya. Rok jeans ketat membungkus pinggulnya, sehingga lututnya yang bulat putih kelihatan. Dikombinasikan dengan T-shirt merah menyala dan lipstik tipis-tipis...!

"Hai," Kim Bum mengagumi lukisan sensual itu.

"Maaf, agak terlambat. Mengantarkan jahitan dulu. Rupanya ibumu juga langganan baru ibuku," dia tersenyum menyerahkan bungkusan.

Lee Hyori memberengut manja. Berlari kecil ke dalam. Kemudian mereka memilih tempat kencan di sudut taman, terlindung oleh temaramnya lampu dan daun-daun bougenvile. Begitu romantis. Kim Bum menikmati keindahan yang bergelora dan memabukkan di depannya. Bibirnya ibarat anggur ranum yang siap dipetik. Merah dan lezat. Kim Bum ingin mencicipi anggur itu!

"Malam ini kau cantik dan menggairahkan," Kim Bum tersenyum nakaI, "terutama bibirmu," dia menyentuh bibirnya dengan telunjuk.

Lee Hori mempermainkan bibirnya dengan ujung lidahnya. Snoppy pun melengos malu.

***

Pantai Sillagukga, hari Minggu yang cerah. Banyak orang melepas lelah di sini, setelah penat dengan rutinitasnya. Di sepanjang Pantai Chuncheon kini sudah jarang kita jumpai tempat di mana kita bisa santai tidur-tiduran meresapi deburan ombak, menikmati nyiur melambai, dan warna senja. Karena kini sudah banyak tumbuh cottage menyaingi pohon kelapa. Pantai-pantai sudah diklaim orang-orang tertentu, bos-bos dari Seoul, dan “Bukan Tempat Untuk Umum” begitu bunyi papan pengumuman yang ditancapkan di setiap tanah kosong di sepanjang pantai. Beberapa tahun lagi di situ pasti akan tumbuh cottage baru.

O, Pantai Sillagukga, akan ke manakah nanti wajahmu?

Kim So Eun, si Dewi Cinta, berlari ke darat. Butir-butir air laut yang. menempel di putih kulitnya gemerlapan. Tubuhnya yang dibungkus bikini biru mengkilap penuh pesona. Dia merasa tertarik ketika melihat seekor anjing Golden Retriever sedang bermalas-malasan di mudepanka sebuah tenda kecil.

"Snoppy!" serunya girang. "Mana majikanmu?"

Snoppy menyalak. Berlari menyelusupkan tubuhnya. Menggosok-gosokkan bulunya. Kim So Eun kegelian. Dia hati-hati mengintip ke dalam tenda. Lelaki itu masih asyik meringkuk dengan mimpinya.

"Ayo, Snoppy!" Kim So Eun berkejaran ke pantai dengan Snoppy.

Kim Bum memang paling gemar kemping, ke mana saja dia mau. Karena baginya tidak ada yang lebih menyenangkan selain berada di alam terbuka, menikmati keagungan Tuhan. Kalau sedang liburan sekolah, biasanya dengan Snoppy dia ber-liften. Dengan petualangan kecil itu dia jadi bisa belajar banyak tentang hakikat hidup. Bisa belajar mengambil keputusan ketika terjepit dalam kesulitan dan mencari jalan keluarnya. Juga tentang berbagi kasih dan saling tolong-menolong sesama insan.

Kim Bum memang seorang pengembara khayal. Pikirannya selalu penuh dengan angan-angan petualangan dan menulis roman. Dia selalu menggabungkan khayalan dengan dunia kenyataannya. Itu memang akibat dari terlalu banyaknya membaca buku-buku petualangan dan nonton film seri. Ketika kawan-kawan kecilnya gemar membaca komik, Kim Bum kecil malah berangan-angan menjadi seorang Hero. Bahkan dia pernah membuat repot ibunya ketika seluruh tembok rumah di kampungnya dicoreti inisial Z. Rupanya Kim Bum kecil sedang membayangkan dirinya menjadi seorang Zorro. Ada-ada saja.

Kim Bum menggeliat. Uh! panasnya. Mengintip ke luar. Dimana Snoppy? Dia berteriak, "Snoppyyy!" Di kejauhan ada anjing menyalak. Itu Snoppy. Dia membuka kausnya, berlari ke laut. Dilihatnya Snoppy sedang asyik bermain ombak dengan gadis berbikini biru. Dewi Cinta itu melambaikan tangannya.

"Hai!" Kim Bum menandingi ombak Pantai Sillagukga. Matanya meloncat ke luar begitu melihat butir-butir air laut yang gemerlapan menempel di kulit Kim So Eun. Satu-dua menetes di ujung dagunya.

"Matamu!" Kim So Eun tersipu-sipu menyemburkan air laut.

Kim Bum gelagapan. Malu juga dia kepergok seperti tadi. Mereka lantas merasa begitu cepat akrab, walaupun tetap berusaha menjaga jarak. Ada yang membuat Kim Bum segan terhadap gadis ini. Gerakan-gerakannya yang sempurna dan ada keharmonisan satu sama lain. Kalau dia tertawa, merah mungil bibirnya terbuka dan keindahan lain muncul, berupa gigi-gigi putih cemerlang. Atau kalau dia menyisir sebagian rambutnya yang jatuh ke kening dengan jari-jarinya, keindahan lain pun muncul lagi, berupa dada bulat yang bergerak-gerak, berirama.

Karena begitu asyiknya mereka berendam, bercerita, dan menyembur-nyemburkan air laut, Kim Bum tidak menyadari kalau ada tiga orang secara diam-diam mendekati. Salah seorang menggepitnya dari belakang, Kim Bum betul-betul tidak menyadari.

Shinhwa! makinya geram. Dia meronta-ronta dan meradang ketika ditimbul tenggelamkan.

Kim So Eun ketakutan berlari ke pantai. Berteriak-teriak. Snoppy pun menyalak garang dan gelisah mondar-mandir di bibir pantai. Orang-orang hanya menonton saja, memuaskan rasa ingin tahu mereka. Lumayan untuk cerita di rumah. Sebenarnya mereka kurang percaya dan ada yang tidak menggubris dengan pergumulan di laut itu. Pikir mereka, ini gaya terbaru remaja sekarang untuk mencari perhatian. Ada-ada saja mereka.

Tidak ada jalan lain, Kim Bum meremas kemaluan mereka. Secepat kilat, begitu ada kesempatan, dia melayangkan tinjunya ke segala penjuru angin. Membabi buta. Pergumulan terjadi lagi. Kadangkala cipratan air yang berhamburan melindungi mereka dari tontonan.

Snoppy dengan gagah berani menerjang ombak ke garis pertempuran. Nalurinya mengatakan, majikannya dalam bahaya. Salah seorang berusaha menghalaunya. Snoppy menggigit lengannya. Yang digigit menjerit. Mereka jadi panik dan melepaskan perhatiannya pada Kim Bum. Kini mereka mengurung Snoppy. Mengepung dan mendesaknya.

Kim Bum berhasil menghimpun tenaganya lagi. Dihirupnya udara sebebas-bebasnya. Dia hampir kehabisan napas tadi. Beberapa kali dia mengusap-usap matanya agar tidak perih dan kabur pandangannya.

Tiba-tiba lengkingan Snoppy menikamnya. Menyayat seperti akan hilang ditelan ombak. Mereka berhasil mencekik dan membenamkan Snoppy ke laut! Snopy! Kim Bum begitu kalap, gelisah, dan gusar. Dia menerjang ke arah mereka. Ketiga anak buah Shinhwa itu berlarian menuju pantai. Dilihatnya mobil sport itu diparkir di sebelah selatan.

Jang Geun Suk tersenyum sinis dan menang menggigiti batang korek api. Amarahnya sudah tersalurkan kini. Hatinya puas. Pokoknya, siapa saja yang mau coba-coba mendekati dewi pujaannya, harus berurusan dulu dengan dia!

Kim Bum meraung-raung. Ekspresinya sulit dilukiskan. Hancur. Geram. Linglung. Dendam. Seperti seorang raja yang baru kalah perang dan kehilangan kerajaannya. Snoppy terapung-apung bagai kayu lapuk dipermainkan ombak. Kim Bum membopongnya. Air matanya menetes menimpa wajah Snoppy. Suara tangisnya memilukan Direbahkannya di pasir. Ayo bangun, Snoppy! Berulang-ulang dia menekan perutnya. Dipeluknya ibarat memeluk boneka kesayangannya.

Air matanya terus meleleh.

Rasa kehilangan itu untuk kedua kalinya menyergapnya. Melemparkannya ke sudut-sudut keputusasaan. Sesuatu yang pernah lama digenggamnya kini terlepas jauh. Segalanya jadi sia-sia.

Setelah ibunya dan Snoppy, dia memang tidak pernah merasa memiliki siapa-siapa lagi yang tersisa di bumi ini. O, Tuhan, lantas setelah ini aku mau ke mana? Tidak, tidaak, tidaaak!

Kim So Eun hanya bisa mematung. Kaki-kakinya terbenam di pasir. Drama tragis tadi begitu merobek jiwanya. Bibirnya kering gemetar. Kerongkongannya tercekat. Dan matanya basah berair.

Sorot mata remaja itu kini tidak lagi hitam berkilat bagai menikam buruannya. Tapi hampa dan sangat putus asa. Senyum nakalnya tertelan Ombak Pantai Sillagukga. Juga tubuh kokoh itu keropos ibarat batang nyiur terkena sengat halilintar.

Kim Bum berjalan membopong Snoppy.

Menangis meraung-raung.

Menyayat dan penuh amarah.

"Snoppyyyyyyyyyyyyy!"

Bersambung…

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...