Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 09 September 2011

Trauma (Chapter 4)



Angin masih bertiup pelan, mempermainkan pepohonan dan setiap lembar daun kelapa yang meliuk-liuk menyerupai jemari perempuan penari. Hari bergerak sore. Taman itu sepi. Hanya ada suara-suara alam yang menyiramkan ketenangan di sekitarnya.

Kim So Eun menyisir rambutnya dengan tangannya. Dipungutnya bebatuan kecil di sekitar kakinya, lalu dilemparkannya sekenanya, untuk sekadar mengurangi gundah yang tanpa ragu menyesaki dirinya dan Kim Bum. Sepertinya ia tak punya cukup keberanian untuk mendongakkan wajahnya yang sembap dan kucel karena air mata yang terus-menerus berusaha diusapnya. Celakanya, air mata itu sepertinya tak juga mau kering.

Ia merasa seperti berada di tabir jurang yang dasarnya tak terlihat. Hanya ada ruang kosong yang gelap. Ia siap terjatuh ke lubang itu. Perasaan itu begitu kuatnya hingga tak sadar ia mencengkeram rerumputan di sekitar kedua tangannya. Air mata tak juga mau berhenti mengalir. Ada rasa sakit yang sama seperti yang dirasakannya waktu itu. Ada bau perpisahan yang persis sama seperti yang dirasakannya waktu itu. Dan, ini sungguh menakutkan. Ia tahu, sebentar lagi ia akan kehilangan Kim Bum!

“Ceritakan padaku. Apa yang terjadi setelah itu,” kata Kim Bum. Sejak tadi pemuda itu larut dalam ketegangan cerita Kim So Eun. Sesekali wajahnya terlihat mengeras, sesekali mulutnya tanpa sadar sedikit terbuka karena tak percaya pada apa yang didengarnya.

Dalam hati ia bertanya-tanya tak yakin, benarkah ini Kim So Eun? Gadis yang selama lima tahun ini menjadi kekasihnya, bahkan calon istrinya? Benarkah cerita itu terjadi pada Kim So Eun yang sehari-hari terlihat berpembawaan tenang dan sangat terkendali? Rasanya Kim Bum ingin menolak semua cerita itu karena tak pernah terbayangkan semua itu sungguh-sungguh terjadi pada gadis terkasih di hadapannya. Kim So Eun, gadis periang dan tomboy, yang dalam kesehariannya seperti tak pernah punya masalah, apalagi rasa takut!

Sementara itu, Kim So Eun menunggu Kim Bum menyentuh dan menggenggam tangannya seperti yang biasa ia lakukan untuk menguatkannya, jika ia merasa sedih atau putus asa. Kali ini, sekecil apa pun, sentuhan itu akan berarti banyak. Paling tidak, itu bisa jadi suatu isyarat, bahwa Kim Bum tak sepenuhnya menolak Kim So Eun. Tapi, Kim Bum tak melakukannya. Ia duduk tegak di tempatnya semula. Posisi duduknya terlalu rapi dan canggung. Kim So Eun dapat merasakan ketegangan Kim Bum dan keresahan yang tiba-tiba hadir.

“Sepertinya sekarang aku sudah lebih siap untuk mendengar cerita selanjutnya,” katanya, datar dan tawar. Namun, Kim So Eun masih dapat membaca keterkejutan dalam nada suara Kim Bum. Kim So Eun mengangkat wajahnya. Ia tak yakin dengan reaksi Kim Bum. Namun, suasana yang menjadi serba salah itu, telah memupuskan harapannya sama sekali untuk mendapat pengertian dan simpati Kim Bum.

Dalam hati gadis itu mulai muncul keraguan. Tepatkah jika ia menceritakan semuanya sekarang? Tapi, buat apa ia bercerita lebih jauh kalau, toh, Kim Bum meninggalkannya juga pada akhirnya? Tapi, adakah ia punya pilihan lain untuk saat ini? Kim Bum tak memberinya kesempatan lagi untuk mengulur pernikahan.

Membiarkan Kim Bum menikahi wanita lain begitu saja, meski dengan sangat terpaksa, tanpa mengatakan apa pun padanya, rasanya bukan ending yang diinginkannya. Kim So Eun menelan ludah. Tapi, semuanya sudah telanjur. Ia harus menyelesaikan cerita ini, apa pun risikonya. Rasanya itu lebih kesatria ketimbang menyerah begitu saja. Ia lebih baik kehilangan Kim Bum karena suatu alasan yang jelas, daripada membiarkannya pergi bersama teka-teki yang akan menghantui hidup mereka berdua!

Tapi, sikap Kim Bum yang hanya diam dan tak memandangnya, tak urung membuat gadis itu ragu. Ditatapnya Kim Bum dan dengan hati-hati ia bertanya, “Apakah masih ada gunanya untuk kuteruskan? Atau, kau ingin aku menghentikannya saja sampai di sini? Kisah selanjutnya hanya membuatku semakin merasa tak pantas dan tak berharga buatmu. Lagi pula, itu akan terlalu menyakitkan buatmu juga.”

“Kim So Eun, biarkan aku yang memutuskan apakah itu akan menyakitkan buatku atau tidak,” kata Kim Bum, tajam. “Kau berutang lima tahun padaku, Kim So Eun. Bagaimana bisa kau merahasiakan sebuah ‘rahasia besar’ seperti ini dariku selama itu?” Kim Bum menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geram. Tangan kanannya terkepal erat, seolah berusaha menyalurkan kemarahannya agar jangan sampai meledak lepas tak terkendali.

“Aku tak pernah mengkhianatimu. Bahkan, aku dengan sabar menunggumu selama lima tahun ini agar bisa menikah denganmu. Tak seharusnya kau ragu padaku. Rasanya benar-benar tak adil kau menyembunyikan sebagian kisah hidupmu dariku, “Kim Bum menghela napas panjang dan membuangnya dengan keras. “Ya Tuhan, Kim So Eun! Cerita setragis ini kau sembunyikan dariku!” katanya, tajam.

Kim So Eun diam. Rasanya ia ingin menghentikan hembusan napasnya yang sejak beberapa menit lalu dirasakan membuatnya gugup. Pembelaan apa lagi yang harus dikatakannya? Meminta maaf kepada Kim Bum? Menangis untuk menunjukkan rasa bersalah? Atau, mungkin menghibur Kim Bum agar ia tak terlalu kecewa dengan kenyataan ini?

Entahlah. Kim So Eun merasa seperti seekor tikus rumah yang terperangkap di pojok ruangan. Tak ada lagi celah untuk berlari dari perasaan tak pantas yang mengungkungnya. Tiba-tiba saja ia merasa antara dirinya dan Kim Bum terbentang jurang yang sangat lebar. Ia dengan segala kelemahan dan masa lalu yang buruk dan Kim Bum dengan semua cerita indah dalam hidupnya yang tanpa cacat cela.

Gadis itu memilih diam. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk menenangkan dan menghiburnya dari perasaan terpuruk dan terhina. Jelas, orang itu bukan Kim Bum. Paling tidak untuk saat ini.

“Aku kecewa, Kim So Eun. Sangat kecewa,” desah Kim Bum. Tak jelas apa yang dimaksudnya, kecewa pada Kim So Eun atau cerita Kim So Eun.

“Maafkan aku, Kim Bum.”

“Sudahlah. Barangkali sebaiknya kau teruskan ceritamu. Kali ini semuanya. Jangan lagi ada yang kau sembunyikan….”

“Entahlah, Kim Bum!”

“Bukankah tadi kau berkata akan tetap bercerita, apa pun risikonya dan apa pun keputusanku nantinya?” sergah Kim Bum. Suaranya meninggi dan penuh tuntutan. Tak sedikit pun ia berniat menunjukkan simpatinya pada Kim So Eun. “Sekarang, ceritakanlah,” desaknya.

“Cerita berikutnya… lebih buruk dari yang tadi, Kim Bum. Kau akan takut mendengarnya,” kata Kim So Eun, terbata. Sesaat ia terdiam, berusaha mengatur suaranya. Ia merasa sangat malu dan tak berharga. “Cerita ini begitu buruknya, jadi dari sekarang sepertinya aku sudah tahu kau akan meninggalkanku.”

Kim Bum tidak bergerak dari duduknya. “Biarkan aku yang memutuskan kali ini, Kim So Eun. Dan, biarkan pula aku yang menilai apa yang akan terjadi pada diriku. Apa pun yang nantinya terjadi, paling tidak kau harus mulai belajar mempercayaiku. Sesuatu yang seharusnya kau lakukan sejak dulu!” katanya, tajam.

Kim So Eun tersenyum getir. “Tapi, itu takkan ada gunanya jika pada akhirnya kita tak jadi menikah, bukan?”

“Bukankah itu termasuk risiko yang harus kau tanggung?” gumam Kim Bum, tak peduli. “Bukannya tadi kau bilang siap hidup sendiri? Atau, sekarang kau sudah berubah pikiran?” Kim Bum seolah mengejek.

“Atau, barangkali ini juga salah satu sifatmu yang kau rahasiakan selama ini dariku?” kata Kim Bum, tersenyum sinis.

Kim So Eun mengangkat wajahnya yang seketika dirasakannya panas setelah mendengar kata-kata Kim Bum. Ia menatap Kim Bum jengah. Ejekan Kim Bum menohok harga diri gadis itu. Ia telah menghadapi begitu banyak masalah dan menanggung sekian banyak beban sendirian selama hidupnya. Ia membenci sifat pengecut dan mengalah. Lalu, sekarang tiba-tiba Kim Bum menuduhnya pengecut?

Kim So Eun merasakan kemarahan mulai bangkit dalam dirinya. Ditegakkannya tubuhnya dan diusapnya matanya yang terasa panas dengan gerakan kasar. “Baik, kalau itu maumu!” katanya, kesal. “Jangan pernah mengatakan aku tak berani menghadapi kenyataan! Dengarkan baik-baik dan jangan kehilangan satu kata pun!”

Kim So Eun melanjutkan, “aku menemukan diriku di rumah sakit….”

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...