Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 09 September 2011

Trauma (Chapter 2)



Kim So Eun menebarkan pandangannya ke sekitar taman yang sepi itu. Tak banyak yang dilihatnya selain pepohonan yang ditata rapi dan bunga-bunga… entah apa namanya yang bermekaran. Beranjak siang, bunga-bunga aneka warna itu akan layu dan beristirahat menuruti kodratnya, untuk kemudian mekar lagi keesokan harinya pada jam yang sama.

“Aku mencintaimu. Aku bohong kalau tadi mengatakan tak takut kau tinggalkan. Tapi, yang terakhir itu… soal aku siap hidup sendiri, itu benar,” katanya, nyaris bergumam sendiri. Ditatapnya Kim Bum sejenak. Mata gadis itu murung dan gelisah.

“Aku punya masalah dengan diriku, Kim Bum, dan aku terlalu malu untuk mengatakannya padamu. Terus terang, aku juga tak tahu bagaimana aku harus mengatakannya,” katanya, datar.

“Apakah kau tak bisa punya anak, atau kau mengidap penyakit tertentu? Seperti kelainan seksual?” Kim Bum bertanya hati-hati. Bagaimanapun, ia tak ingin menyakiti perasaan Kim So Eun.

Kim So Eun tergelak mendengar nada suara Kim Bum yang sangat jelas menunjukkan keraguan dan kehati-hatian. Laki-laki terkasih itu berpikir terlalu panjang!

“Tidak, Kim Bum, bukan itu! Hmm, kalau soal kelainan seksual, aku tidak tahu! Aku kan belum menikah, jadi belum pernah mencobanya,” seloroh Kim So Eun. Sesaat kemudian gadis itu terlihat serius. Ia memperbaiki posisi tubuhnya dan melipat kakinya, duduk bersila. “Aku mencintaimu, itu pasti. Tapi, terus terang, Kim Bum, aku… takut menikah!”

Kim So Eun menghembuskan napas, seolah melepas beban berat yang telah lama dipendamnya. Tiba-tiba ia mendapat keberanian untuk mengutarakannya. Ia merasa memperoleh kekuatan. “Aku takut tak bisa membahagiakanmu. Aku takut menyakitimu, dan aku takut disakiti.”

Kim So Eun menatap Kim Bum sekejap, kemudian menjatuhkan pandangannya pada rerumputan di sekitar kakinya.

“Kau mencintaiku, kau takut kehilanganku, tapi kau juga takut menikah. Dan kau bilang, kau juga siap untuk hidup sendiri. Ha, apa sebenarnya yang kau bicarakan, Kim So Eun?” Kim Bum bertanya tak sabar. Ia sangat gusar. “Bukankah dengan tidak mau menikah denganku, kau akan kehilangan aku? Aku tak mengerti…,” Kim Bum menggeleng-geleng putus asa.

“Kalau aku memberitahukannya padamu, aku pasti akan kehilanganmu, Kim Bum.” suara Kim So Eun terdengar sangat perlahan.

Kim Bum menatap Kim So Eun tak berkedip. Ia tak dapat menyembunyikan keterkejutan dan rasa penasarannya. Tadi ia hanya asal bicara soal ‘rahasia’ itu. Ia hanya mengira-ngira. Tapi, ternyata ‘sesuatu’ itu memang ada. Maka Kim Bum pun menunggu.

“Ya, aku punya sebuah rahasia. Aku punya masa lalu yang tidak biasa, kalau tidak mau dibilang mengerikan. Barangkali memang sudah waktunya untuk mengatakannya padamu,” Kim So Eun mendesah pelan. Ia merasa tenggorokannya tiba-tiba kering. “Aku akan mengatakannya, Kim Bum. Setelah itu, kau bebas mengambil keputusan dan aku akan terima apa pun itu!”

“Apa maksudmu?”

“Sshh! Dengarkan saja dan jangan potong ceritaku.” Kim So Eun merapikan rambutnya dengan jemari. Tiba-tiba ia memeluk Kim Bum beberapa saat sebelum kemudian melepaskannya dan memperbaiki duduknya. “Siapa tahu ini akan menjadi pelukan terakhir kita,” katanya, sambil tersenyum dipaksakan.

Kemudian, satu demi satu cerita itu pun mengalir dari mulutnya….

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...