Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 13 September 2011

Pahit Manis Cinta (Chapter 5)



KIM SO EUN
Inilah saat yang ditakutinya. Kontrak Kim Bum di Korea hampir berakhir. Keluarganya di Tokyo memintanya pulang, atau minta dipindahkan ke negara lain.

Sejak semula Kim So Eun sadar bahwa hubungan mereka tidak mempunyai masa depan, tapi ia mengabaikan akalnya, dan mengi¬kuti kata hati yang menyesatkan. Parahnya lagi, kata hatinya menyuruhnya terus membangun harapan yang diketahui kepalanya sebagai harapan kosong. Sekarang, ia merasa akan mati, karena oksigen tak akan masuk ke paru-parunya jika Kim Bum pergi. Jantungnya tak akan berdetak jika tak didengarnya napas Kim Bum di telinganya ketika ia tertidur, matanya tak akan mau membuka jika ia tak bisa melihat Kim Bum lagi. Mengapa dewi cinta tidak pernah berpihak padanya? Apa yang salah pada dirinya?

Inilah saat yang ditakutinya. Kim Bum memutuskan pergi ke Jerman. Kim So Eun kehilangan kata-kata. Kim Bum bicara pelan dan hati-hati, tapi Kim So Eun mendengarnya berteriak-teriak. Kim Bum memeluknya, tapi Kim So Eun merasa pukulan bertubi-tubi di tubuhnya. Kim Bum mengecup bibirnya selembut mungkin, tapi Kim So Eun merasa Kim Bum menggigitnya.

Inilah saat yang ditakutinya. Kim Bum mengangkat semua kopernya. Menatap Kim So Eun yang mematung di pintu. Dipeluknya lagi kekasih gelapnya, dan diciumnya keningnya. Kim Bum trenyuh, tapi tak ada yang bisa diperbuatnya lagi.

“Selamat tinggal, Kim So Eun,” bisiknya. Ia pergi, tak menoleh lagi.

Kim So Eun berjalan seperti robot, matanya hampir tidak bisa membuka akibat tangis yang tiada henti. Kim So Eun menyiapkan sarapan, Kim Bum suka scrambled egg. Minumnya jus jeruk segar. Ia harus menyiapkan semuanya, Kim Bum suka sarapan yang dibuatnya. Itu ritual wajib setiap kali ia akan tugas ke luar kota.

Kim So Eun meletakkan sarapan di meja. Menunggu Kim Bum selesai mandi untuk duduk bergabung dengannya. Kim So Eun terus menunggu, sampai denting jam dinding mengejutkannya. Kim So Eun meliriknya, kaget karena sudah pukul sepuluh. Ia heran kenapa Kim Bum belum selesai mandi. Dibukanya pintu kamar mandi. Lantainya kering. ”Ah, pasti aku terlambat bangun. Kim Bum sudah berangkat. Aku memang bukan calon istri yang baik.”

Kim So Eun menunggu Kim Bum meneleponnya. Hari pertama, telepon tidak berdering. Hari kedua, Kim Bum belum memberi kabar. Ketika hari ketiga Kim Bum tidak meneleponnya, Kim So Eun serasa duduk di atas bara. Ia tak tahu harus bertanya pada siapa.

Diputarnya nomor telepon Baek Suzy. “Baek Suzy… Baek Suzy…,” katanya, gugup. “Kim Bum ke luar kota, sudah tiga hari tidak ada kabar. Aku takut ada apa-apa. Aku bingung, bagaimana cara menghubunginya.”

“Sudah cek ke hotel tempat dia menginap?”

“Aku tidak bisa, Baek Suzy. Hubungan kami masih rahasia.”

“Biklah, biar aku yang cek. Dia ke mana?”

Kim So Eun tertegun. Ke mana, ya? Bagaimana mungkin aku bisa lupa. Ia bergegas mencari dokumen perjalanan Kim Bum, dan tertegun. Ini pasti salah, entah tertukar dengan file orang lain, atau salah ketik nama! Ia mencoba mengingat-ingat. Ketika tiba-tiba disadarinya, kontrak Kim Bum di perusahaan itu sudah habis, Kim So Eun pingsan.

Saat Baek Suzy menjenguknya, Kim So Eun melihat seringai ejekan di bibir Baek Suzy. Ya, tertawakanlah aku! Memang kau tidak pernah mendukung hubunganku dengan Kim Bum. Kim So Eun menggumam dalam hati. Tapi, Baek Suzy kelihatan terkejut.

“Kim So Eun, aku tidak menertawakanmu. Betul, aku tidak mendukung hubunganmu dengan dia. Tapi, itu karena aku tidak ingin kau menderita seperti ini.”

Kim So Eun terkejut. Apa Baek Suzy bisa membaca pikiranku?

Baek Suzy memeluk Kim So Eun, hatinya sedih sekali. Kehilangan yang dirasakan sahabatnya pasti tak tertanggungkan. Kim So Eun merasakan air panas menetes di bahunya. Kim So Eun memandang Baek Suzy, ada air menggenang di matanya, sebagian sudah mengalir di pipinya. Aneh, kenapa Baek Suzy menangis? Baek Suzy memandang sahabatnya. Hatinya pedih melihat tatapan mata sahabatnya yang membeliak tak berjiwa, kosong. Teriakan-teriakan keluar dari mulutnya, menyuarakan apa yang ada di pikirannya, tanpa disadarinya….


PARK SHIN HYE
E-mail Baek Suzy terpampang di komputernya. Park Shin Hye terpaku di kursinya, kerongkongannya terasa kering, seolah semua aliran air liur yang membasahinya tiba-tiba menguap. Kim So Eun sahabat terbaik yang hatinya penuh oleh kasih. Tapi, kenapa nasib begitu kejam padanya?

Beberapa kali Lee Seung Gi memaksakan hasratnya. Park Shin Hye tahu ia menjadi korban pemerkosaan. Tapi, tak ada saksi, tak ada tanda kekerasan. Park Shin Hye tak bisa menyalahkan siapa pun, menerima lamaran Lee Seung Gi adalah keputusannya sendiri.

Lee Seung Gi bahkan mengulur-ulur waktu kepulangan mereka ke Korea untuk pernikahan mereka. Park Shin Hye sering berkhayal membunuh Lee Seung Gi dengan berbagai cara. Sayang, ia tak punya keberanian melakukan khayalannya.

Enam bulan lalu, Park Shin Hye mulai merasa sakit yang luar biasa saat haid, dan keputihan yang dialaminya juga terlihat tidak normal. Ketika menyampaikan keluhan, dokter kandungannya bertanya, “Are you sexually active?”

Park Shin Hye mengangguk. Ia ingin menambahkan, ”Tapi, bukan karena keinginanku.” Namun, ia mengurungkan niatnya.
“Hmm… pakai proteksi tidak? Pernah menjalani pap smear test?”

Park Shin Hye menggeleng. “Selama ini tidak ada keluhan. Jadi, saya tidak berpikir untuk melakukan tes.”

“Kalau Anda aktif secara seksual, sebaiknya Anda menjalani tes. Kalau perlu, hari ini juga.”

Park Shin Hye terkejut. “Apakah ada indikasi tidak baik?” Park Shin Hye menunggu jawaban. Debar jantungnya seolah mendobrak dadanya.

“Saya khawatir akan gejalanya. Saya akan berikan surat referensi untuk ke laboratorium. Lakukan tes ini segera.”

Ketika hasil tes keluar, Park Shin Hye seolah mati rasa. Ia mengidap kanker mulut rahim, stadium 2. Seluruh harapan hilang dari hatinya. Ia merasa sangat sendiri. Betapa ia sangat merindukan ayahnya….

Tentu saja Lee Seung Gi langsung ’membuangnya’, begitu Park Shin Hye menunjukkan kertas berisi vonis hidupnya. Sejak itu, siangnya sela¬lu terisi bayangan keputusasaan. Park Shin Hye limbung, tak tahu apa yang harus diputuskannya. Pulang ke Korea, ia gengsi. Ketika pergi ia bersumpah akan menunjukkan pada semua orang bahwa ia bisa berhasil tanpa ayahnya.

Sekarang, semua kegundahannya seolah mendapat jawaban. Ia harus mengesampingkan semua gengsi. Ia tak tahu berapa lama lagi hidupnya masih tersisa, dan ia tak mau itu berlalu sia-sia. Dulu, ia suka membahagiakan teman-temannya, mengapa ia tak pernah lagi melakukannya? Sekarang ia bisa melakukannya lagi.

Ya, ia akan pulang.


JUNG SO MIN
Jung So Min menunjukkan e-mail Baek Suzy pada Kim Hyun Joong. Suaranya tercekat oleh tangis. “Aku harus pulang. Teman baik kami terkena musibah.”

Kim Hyun Joong memeluk Jung So Min, dan mengangguk.

“Aku akan menemanimu.”

Jung So Min terharu. Kim Hyun Joong menyayanginya, sekarang ia yakin itu, mes¬ki mereka belum menikah resmi. Hanya masalah waktu. Jung So Min harus bersabar sedikit lagi. Hanya tinggal sedikit waktu untuk lebih meyakinkan dirinya bahwa mereka saling membutuhkan.

Sejak Kim Hyun Joong memberi tahunya telah mengencani Song Ji Eun, Jung So Min tak bisa menahan gejolak cemburu. Ia memberi tahu orang tuanya tentang niatnya pindah ke Jepang. Paman Song Seung Hun dan Bibi Kim Tae Hee sangat senang Jung So Min memutuskan untuk bermigrasi.

Hari pertama ia menginjakkan kakinya lagi di Jepang, Jung So Min sudah memikirkan cara menghubungi Kim Hyun Joong lagi, tanpa terlihat terlalu mengejarnya. Kim Hyun Joong akan besar kepala. Jung So Min tidak mau memberinya kesenangan itu. Ia menelepon Kim Hyun Joong suatu sore. Berpura-pura ingat Kim Hyun Joong sepintas lalu, menanyakan kabar Kim Hyun Joong dan kekasihnya. Di luar dugaan, Kim Hyun Joong tidak antusias menceritakan gadis yang digilainya, tapi malah mengatakan akan mengunjunginya.

Jung So Min melihat Kim Hyun Joong berdiri di depan pintu. Hatinya serasa akan meledak karena kerinduan yang hampir tak tertahankan. Ia berjuang untuk bersikap wajar, separuh masa bodoh, seperti jika bertemu teman biasa yang tidak istimewa, yang tidak diharapkan datang. Semoga taktiknya berhasil.

“Hai, apa kabar? Ayo, masuk,” katanya, sambil menjabat tangan Kim Hyun Joong, sekuat tenaga bertahan untuk tetap berdiri di tempatnya dan tidak melompat ke pelukan Kim Hyun Joong.

Kim Hyun Joong mengangguk dan mengikutinya masuk. Pertemuan mereka hari itu diisi obrolan umum. Jung So Min berusaha tidak menyebut nama Song Ji Eun betapapun ingin tahunya ia tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ketika esok dan esok harinya lagi Kim Hyun Joong menelepon dan mengunjunginya, Jung So Min tak bisa menahan diri.

“Apa kata kekasihmu kalau kau ke sini terus,” ujarnya.

“Kami belum ada komitmen apa-apa,” jawabnya. Komitmen. Selalu itu yang jadi keberatannya.

Dengan berlalunya waktu, Kim Hyun Joong akhirnya bercerita bahwa yang tidak mau berkomitmen adalah Song Ji Eun. Jung So Min ingin tertawa karena kelihatannya Kim Hyun Joong ketemu batunya.

Yang mengherankan Jung So Min adalah sikap Paman Song Seung Hun. Berbeda ketika menghadapi Lee Ki Kwang dulu, Paman Song Seung Hun menyambut Kim Hyun Joong dengan ramah. Mungkin, ia tidak lagi ingin menyakiti hati Jung So Min. Tapi, lama-kelamaan, sikap Paman Song Seung Hun berubah. Ia kelihatan tidak suka Jung So Min terlalu banyak pergi dengan Kim Hyun Joong. Wajahnya selalu ditekuk jika Kim Hyun Joong datang menjemputnya.

Jung So Min mengeluh dalam hati, sampai kapan Paman Song Seung Hun akan menyadari bahwa ia bukan gadis remaja yang harus terus dipingit. Malah, seharusnya ia dibebaskan, karena pingitan dan tata krama telah membuatnya dilangkahi dua adik lelakinya.

Malam itu Jung So Min baru pulang nonton dengan Kim Hyun Joong. Jung So Min sedang membuka ritsluiting bajunya ketika Paman Song Seung Hun tiba-tiba masuk. Jung So Min membalik cepat, kaget karena ia telah lupa mengunci pintu kamarnya. Paman Song Seung Hun memandang dan meng¬hampirinya.

“Jung So Min...,” Paman Song Seung Hun memanggil pelan.

Jung So Min tidak menyadari apa yang terjadi, ketika Paman Song Seung Hun tiba-tiba mencium bibirnya. Ia mendorong Paman Song Seung Hun sekuat tenaga, matanya terbelalak, air mata mulai berlinang di pipinya. Ia merasa terhina. Rupanya, itulah jawabannya. Pamannya sudah jatuh cinta padanya. Jung So Min tahu tak bisa mengadu pada siapa pun. Ia harus pergi secepat mungkin. Ia hanya punya Kim Hyun Joong di sini, tak peduli anggapan keluarganya nanti.


BAEK SUZY
Baek Suzy melihat, betapa mudahnya mengumpulkan uang, asal mau me¬lakukan apa saja. Tak perlu memikirkan kejujuran, moral, tak peduli omongan orang, dan terutama, tak perlu memakai hati. Setelah lama banting tulang, sambil mempertahankan idealisme dan mengorbankan perasaan, apa yang didapatnya? Tak ada, kecuali sakit hati dan tetap sebagai pegawai rendahan. Kini hidupnya sudah bergelimang uang.

Baek Suzy membayangkan ayahnya. Mungkin, apa yang dirasanya sekarang, itu juga yang berkecamuk dalam hati ayahnya dulu. Pasti itu membuatnya hilang akal, bagai singa luka. Itulah mengapa ia sering marah dan mengamuk.

Sebagai satu-satunya lulusan lokal di perusahaan multinasional itu, atasannya memandang rendah dirinya. Karier Baek Suzy di perusahaan itu sangat lambat, bahkan terhambat, tepatnya dihambat. Betapa kerasnya ia berusaha, betapa pun rajin dan disiplin, betapa pun keras ia berjuang untuk membuktikan diri, tidak pernah cukup untuk membuatnya dipromosikan.

Suatu hari Baek Suzy ditugaskan mendampingi tim marketing ke Jepang. Hari itu negosiasi mereka alot sekali. Mereka sudah bicara hampir seharian, matahari sudah lama pergi menyinari bagian lain bumi, tapi belum ada titik temu. Baek Suzy lelah sekali. Ia mengusulkan agar pembicaraan dilanjutkan besok pagi. Mereka setuju.

Tapi, Baek Suzy tidak bisa tidur. Terlalu lelah malah membuatnya sulit memicingkan mata. Sudah pukul dua pagi. Bosan gelisah di tempat tidur, ia turun ke lobi. Ada bar buka sampai subuh. Baek Suzy masuk. Ia perlu sesuatu yang bisa membuatnya tidur nyenyak, tapi tidak terlalu mabuk, setidaknya ia siap kembali bertarung esok pagi.

Ia melayangkan pandangan, menyapu seluruh ruangan. Lampunya temaram kemerahan, musik jazz mengalun pelan. Bartender menuangkan Orange Margarita. Baek Suzy menyeruputnya. Hmm... enak, agak sedikit asam. Garam di sekeliling mulut gelas menetrali¬sasi rasa pahitnya. Hangat langsung menjalari kerongkongannya, turun ke dadanya, membawa ketenangan yang nikmat.

“Halo...,” sebuah suara terdengar. Baek Suzy menoleh. Salah satu anggota tim Jepang yang tadi siang ditemuinya. Baek Suzy tersenyum.

“Halo Tn. Park Shi Hoo.”

“Sendiri? Tidak bisa tidurkah?”

“Begitulah.” Baek Suzy memandangnya, melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Tn. Park Shi Hoo sendirian? Sering ke sini?”

“Saya menemani Tn. Kang Ji Hwan. Kalau harus memikirkan yang berat, ia mengajak saya ke sini. Pikiran bisa jadi terang,” katanya, sambil menunjuk Tn. Kang Ji Hwan yang duduk agak jauh, yang kini sedang memandangi mereka. Baek Suzy membungkuk, tanda hormat.

“Sebetulnya, apa yang membuat pembicaraan tadi siang begitu alot?” Baek Suzy mencoba memancingnya.

“Angkanya tidak sesuai. Soal pembagian keuntungan,” katanya.

“Oh… apa tidak bisa ketemu di tengah?” tanya Baek Suzy.

Tn. Park Shi Hoo memandangnya. “Mungkin bisa, kalau ada keuntungan lain. Misalnya… kau temani Tn. Kang Ji Hwan satu malam.”

Baek Suzy terbelalak, ia ingin marah. Tapi, kalau ia marah, jalan negosiasi akan kian tertutup. “Tn. Park Shi Hoo… itu tidak sopan. Anda Sudah menyinggung saya,” katanya, sehalus mungkin.

“Jangan marah. Maksud saya, cuma menemani minum.”

Baek Suzy termenung. Ia merasa terjebak. Jika bilang tidak, proyek ini akan gagal. Jika bilang ya, apakah harga proyek itu begitu murah? Hanya menemani minum satu pemegang keputusan, semua akan mulus? Baek Suzy yakin 200%, minum itu hanya kata penghalus.

“Tidak usah dijawab sekarang. Kalau besok kau tidak turun, saya tahu kau menolak.” Tn. Park Shi Hoo meninggalkannya.

Keesokan paginya, pembicaraan tetap alot. Malamnya, Baek Suzy tidak bisa tidur lagi. Sebenarnya, ini kunci bagi promosi yang ditunggunya, asal kantor pusat tahu bahwa ialah yang meloloskan dealing ini. Tapi, bagaimana mungkin ia melakukannya?

Baek Suzy turun. Tn. Park Shi Hoo menghampirinya.

“Saya ingin bicara dulu,” kata Baek Suzy. “Tn. Park Shi Hoo, harga saya mahal. Selain proyek itu, ada syarat lain. Tn. Kang Ji Hwan harus menyebut nama saya, saat mengegolkan proyek nanti. Meskipun saya bukan tim marketing, katakan pihak Anda mendapat masukan berharga dari saya.”

“Baik. Apa lagi?”

“Saya masih perawan.” Baek Suzy ragu-ragu, matanya menerawang, serasa berdiri di ujung jurang. “Sepuluh ribu dolar AS. Tunai, dan ia harus pakai pengaman.”

Itulah awal semuanya. Berawal dari sebuah ucapan asal bunyi yang dikiranya tidak akan ditanggapi. Sejak itu hidupnya dipenuhi kebohongan. Tak ada yang tahu profesi gandanya. Seperti yang sudah dikiranya, Baek Suzy memang tetap tidak mendapatkan promosi itu, tim marketing-lah yang dipuji-puji. Tapi, Baek Suzy bisa mendapatkan banyak uang dari ’kerja sampingannya’.

Jika sahabatnya tahu yang sesungguhnya ia kerjakan, mereka pasti akan memandang rendah. Ayahnya pasti menyembelihnya. Tapi, mungkin ini jalannya. Jika kejujuran dan kerja keras tidak menghasilkan apa-apa, sudah saatnya berpindah jalur.

Baek Suzy menunggu kedatangan Park Shin Hye di bandara. Lusa, Jung So Min dan Kim Hyun Joong akan bergabung. Mereka sudah mengatur waktu, agar bisa berkumpul bersama, supaya bisa menghadirkan suasana normal untuk Kim So Eun. Mencoba membuatnya terbawa ke masa lalu. Menurut dokter, itulah terapi yang paling memungkinkan untuk menyembuhkannya, menghapus memori tentang Kim Bum. Jika tidak berhasil, Kim So Eun akan tetap dalam khayalannya sendiri.

“Kim So Eun, Park Shin Hye dan Jung So Min akan pulang ke Korea. Mereka ingin kita piknik ke Pulau Jeju. Kapan lagi kita bisa reuni seperti ini, ’kan?” Baek Suzy menyampaikan rencana itu pada Kim So Eun beberapa waktu sebelumnya.

Kim So Eun terbelalak senang. “Asyik! Berapa lama mereka ke sini? Aku tak tahu apakah bisa ikut, aku harus bilang Kim Bum dulu.”

“Pasti boleh.” Baek Suzy mencoba tidak menyebut nama Kim Bum. Apa pun kalimat Kim So Eun yang membawa Kim Bum, dijawabnya tanpa menyebut nama itu. Baek Suzy berharap setelah dua minggu atau satu bulan mereka bersama, Kim Bum akan terhapus dari memori Kim So Eun. Harapan yang terlalu muluk. Tapi, ia tidak boleh berhenti berharap.

Baek Suzy melihat Park Shin Hye muncul di pintu keluar, langsung menghampirinya. Mereka berpelukan, keduanya kehilangan kata-kata. Betapa lama mereka tidak bertemu.

Mereka keluar bandara sambil bergandengan, masih membisu. Setelah di mobil, Park Shin Hye yang pertama membuka percakapan.

“Bagaimana keadaan Kim So Eun, Baek Suzy?”

Baek Suzy menghela napas. “Menyedihkan, Kita harus berusaha mencabut Kim Bum dari memorinya. Kau pasti kaget melihat dia.”

“Untuk itulah kita di sini. Kita akan bawa dia kembali ke masa sekarang, dia harus bisa mengatasi kehilangan dan kepedihannya.”

Pertemuan dengan Jung So Min malah lebih emosional.

“Aku minta maaf, untuk semua sikap buruk dan kata-kata yang pernah aku katakan tentang Kim Hyun Joong. Kalau ia membuatmu bahagia, aku ikut senang, Jung So Min,” kata Baek Suzy pada Jung So Min. “Aku tidak mau terbebani rasa bersalah, seperti yang sekarang aku rasakan pada Kim So Eun.”

“Kau tidak salah, Baek Suzy. Dulu ia memang pantas dijahati.” Jung So Min memeluknya “Sekarang ia banyak berubah. Kami sudah lebih saling mengenal dan aku melihat banyak kebaikan dalam dirinya.”

“Syukurlah. Aku hanya mau kau bahagia, Jung So Min,” suara Baek Suzy mulai basah. Akhir-akhir ini hatinya yang mengkristal mulai lunak.

Semua, termasuk Kim Hyun Joong, tinggal di apartemen Baek Suzy. Mereka tidur bertiga di kamar Baek Suzy, mengobrol sampai pagi. Mereka menyusun skenario untuk menyembuhkan Kim So Eun. Kim Hyun Joong dipisahkan di kamar tamu, supaya tidak terganggu obrolan mereka, dan bisa beristirahat.

Hari ini mereka akan menemui Kim So Eun. Mereka sudah sepakat, akan bertingkah laku seperti anak kuliah. Jika Kim So Eun menyebut nama Kim Bum, mereka akan berpura-pura, seolah baru pertama kali itu mendengarnya. Semua akan mencoba seceria mungkin.

Tapi, ternyata berpura-pura ceria itu lebih sulit dari yang didu¬ga, karena Jung So Min dan Park Shin Hye tak pernah membayangkan, tidak bisa membayangkan separah apa keadaan sahabat mereka. Langkah mereka tertahan ketika melihat Kim So Eun duduk didampingi ibunya di teras. Park Shin Hye dan Jung So Min ingin berlari, untuk menyembunyikan air mata yang sudah mendesak keluar.

“Kim So Eun, sudah siap? Bibi, kita berangkat sekarang, ya.”

“Kita mau ke mana?” Kim So Eun heran.

“Kita kan mau ke Pulau Jeju. Liburan seperti ini kan kita biasa jalan-jalan.”

Kim So Eun memandang ibunya. “Tadi malam kau sudah beres-beres. Ayo, berangkat. Ibu ambil kopermu dulu,” ibunya menghilang di balik pintu, lalu muncul lagi, sambil menenteng koper.

Selama di perjalanan, Kim So Eun kelihatan gembira. Tiba di Pulau Jeju, mereka mengisi hari-hari dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang menarik. Bermain dengan pasir di Pantai Jongmyo, makan seafood di tepi pantai. Tak ada kejadian aneh atau ingatan Kim So Eun yang melenceng dari bayangan masa kuliah. Ketika melihat Kim So Eun tertidur dengan nyenyak sambil tersenyum, mereka bertiga bertatapan dengan trenyuh.

Hari ketiga, ketiganya terbangun serentak. Mereka mendengar suara nyanyian di kamar mandi. Kim So Eun bangun mendahului mereka, lebih pagi dari biasanya. Mereka mengutuk diri sendiri karena terlalu nyenyak tertidur. Setelah tersadar, mereka berlari menuju pintu kamar mandi, lalu saling menatap dengan pandangan tanya. “Jangan panik dulu, siapa tahu tidak terjadi apa-apa,” Park Shin Hye berbisik.

Mereka lalu kembali ke tempat tidur. Menunggu. Kim So Eun keluar dari kamar mandi. Rambutnya dibalut handuk, sepertinya baru saja keramas. Ia tertegun menatap tiga wajah tegang di depannya.

“Kalian kenapa ada di rumahku? Kim Bum mana, ya?”

Mereka bertiga langsung lemas. Tapi, harus tetap bersandiwara. “Kim Bum siapa?” tanya Jung So Min.

“Ah, kalian memang belum pernah bertemu. Hari ini ia akan berangkat ke Busan. Nanti aku kenalkan.”

“Kim So Eun, kita kan sedang liburan semester. Kita sedang piknik di Pulau Jeju,” kata Park Shin Hye, mencoba terus bersandiwara.

“Ah, kau mimpi, Park Shin Hye. Kita sudah lulus. Aku malah sudah hidup bersama Kim Bum, kami akan menikah kalau istrinya meninggal.”

Mereka bertiga menghela napas. Baek Suzy memejamkan mata dan menggeleng putus asa. “Kau mimpi, Kim So Eun. Ini masih malam. Ayo tidur lagi,” Baek Suzy masih mencoba meyakinkan Kim So Eun.

“Kau yang mimpi. Kau mimpi menjauhkanku dari Kim Bum. Tidak akan terjadi, Baek Suzy. Aku akan tetap menunggu, menunggu, menunggu,” Kim So Eun mulai menjerit. Lalu, ia lari keluar, memanggil-manggil nama Kim Bum. Mereka bertiga mencoba menyusulnya. Kim Hyun Joong yang mendengar ribut-ribut di kamar sebelah ikut terbangun dan keluar, menghalangi jalan mereka bertiga, sehingga Kim So Eun hilang dari pandangan.

“Kim So Eun kabur. Ayo, kejar,” kata Jung So Min pada semua, termasuk Kim Hyun Joong.

Mereka berpencar, sambil memanggil-manggil nama Kim So Eun. Dua ratus meter dari penginapan mereka, laut bisa terlihat. Mereka sangat khawatir jika Kim So Eun lari ke laut.

Secercah sinar matahari muncul malu-malu. Baek Suzy melihat sosok Kim So Eun di pantai. Dengan cepat ia berpaling, mencari bantuan. Hari masih sangat dini, belum banyak orang keluar di hawa dingin seperti ini. Hampir putus asa, Baek Suzy berlari mendekat, dan tercekat. Di pantai itu ada seorang pria dengan mulut ternganga dan wajah penuh tanda tanya. Mirip Kim Bum. Di hadapannya, Kim So Eun sedang membuka baju mandinya, padahal di balik itu ia tidak mengenakan apa-apa.

Baek Suzy menubruk dan memeluk Kim So Eun, sambil menangis.

“Help… help me. She is not healthy.”

Pria itu malah hendak berlari menjauh. Namun, ketika dilihatnya Baek Suzy kerepotan ia mengurungkan niatnya.

“Dia bukan Kim Bum, Kim So Eun. Kim Bum sudah pergi, sadarlah. Kau harus kuat, Kim So Eun. Kau harus kuat,” Baek Suzy terus memeluk sahabatnya, sambil menangis. Tak lama, Jung So Min, Park Shin Hye, dan Kim Hyun Joong muncul. Mereka lalu membopong Kim So Eun, membawanya ke rumah sakit terdekat. Kim So Eun diberi obat penenang.

Mereka mempersingkat acara pik¬nik sandiwara mereka, kembali ke Seoul siang itu juga. Kim So Eun dibawa dalam keadaan masih setengah sadar. Sepanjang perjalanan, tak satu pun yang membuka pembicaraan. Mereka tahu telah gagal. Baek Suzy paling terpukul.

Sesampainya di Seoul, mereka ham¬pir tak sanggup memandang ibu Kim So Eun. Tapi, ibunya terlihat sangat tegar. “Bibi sudah pasrah. Kita hanya berusaha, tak ada yang menjamin pasti berhasil atau pasti gagal. Terima kasih sudah menjadi sahabat Kim So Eun.”

Hati semuanya kian hancur, dan mereka semua menangis tanpa suara. Tanda kepedihan dan sakit hati yang sangat dalam.

Mereka kembali ke apartemen Baek Suzy, sambil membisu. Mereka berbenah, bergiliran mandi, lalu naik ke tempat tidur, ingin melupakan semua yang terjadi, setidaknya untuk malam ini.

Baek Suzy mandi terakhir, dan belum ke¬luar sampai sekarang. Para sahabatnya belum tahu kepulangannya saat ini bukan hanya untuk ikut berperan dalam sandiwara kehidupan Kim So Eun, tapi untuk selamanya. Keputusan yang diambil karena hal-hal buruk yang telah menimpanya. Ia hampir tak kuat menanggungnya sendiri, ia ingin berbagi.

Jung So Min masih belum bisa masuk ke alam mimpi. Semula ia berharap, kepulangannya bisa memberi jawaban bagi persoalannya. Tapi, apa yang dilihatnya di hadapan matanya, membuat nyalinya menciut sampai hampir tak berbentuk.

Di kamar mandi, Baek Suzy melamun di bathtub. Kisah hidupnya berlalu cepat di pelupuk matanya, seolah sebuah film dokumenter hitam putih yang suram diputar cepat di hadapannya. Ayahnya mencacah meja judi ibunya dengan pisau daging, kemudian mencekiknya sampai mati. Ibunya tergeletak tak bernyawa dengan mulut berbuih dan mata mendelik. Ia berdiri di altar gereja menggenggam mawar hitam, seluruh kursi terisi orang-orang yang menangis dan menertawakannya. Tn. Kang Ji Hwan menggumuli tubuhnya, dan ia berlalu meninggalkannya dengan tubuh berbalut ribuan dolar.

Kepalanya terasa sangat sakit, seolah ribuan palu menggodam tempurungnya. Hatinya bagai ditindih berton-ton batu. Tiba-tiba ia merasa sangat lelah, ia ingin menjerit, menangis. Kekosongan menyiksa hatinya. Ia bangkit dari bathtub, mencari-cari sesuatu di laci, di bawah wastafel. Ia menemukan pena dan kertas bekas yang biasa dipakai untuk membungkus pembalut. Baek Suzy kembali masuk ke bathtub, dan mulai mencoret-coret.

Mata Park Shin Hye mulai berat. Diliriknya jam di dinding. Sudah hampir dua jam, Baek Suzy masih juga belum selesai mandi. Park Shin Hye bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Mengetuk pintunya dan memanggil Baek Suzy. Tidak ada jawaban. Diketuknya lebih keras, sambil menempelkan telinganya ke daun pintu. Suara air keran masih terdengar.

“Baek Suzy, jawablah. Jangan buat aku khawatir.”

Jung So Min menghampirinya, ia mendengar gedoran Park Shin Hye. “Ada apa?”

“Jung So Min, Baek Suzy belum keluar juga. Ia sudah dua jam di dalam.”

Jung So Min memanggil Kim Hyun Joong, yang langsung mendobrak pintu. Ketika terbuka, Jung So Min memekik. Di dalam bak mandi, Baek Suzy tergolek, mata terpejam, kedua tangannya terkoyak, urat nadinya terbuka lebar.

Kim Hyun Joong memungut secarik kertas di lantai yang basah terkena air bernoda darah. Ketiga orang itu mematung, membaca puisi yang jelas berisi kerinduan, kepedihan, kepahitan, sepi, dan putus asa. Kim Hyun Joong tiba-tiba tersadar, lalu mengangkat tubuh Baek Suzy keluar bak mandi, Jung So Min menyelimutinya, Park Shin Hye bergegas mengambil kunci mobil, dan membawa Baek Suzy ke rumah sakit.

Dokter mengizinkan mereka menjenguk Baek Suzy keesokan harinya. Setelah hampir dua hari dua malam mata mereka tidak terpicing, tadi malam semua tertidur, seolah tak ingin terbangun lagi. Takut menghadapi kehidupan yang tak tentu arah.

Ketika Jung So Min dan Park Shin Hye masuk ke ruang rawat inap, Baek Suzy memalingkan wajah, menyembunyikan air mata.

“Kenapa kalian selamatkan aku?” tanyanya, lirih.

Hati Jung So Min berkecamuk dalam segala rasa, ingin memeluk Baek Suzy dan mendamaikannya. Tapi, ia menghampiri Baek Suzy dan menamparnya.

“Jung So Min!” Park Shin Hye terkejut.

“Bagaimana mungkin kau bicara seperti itu! Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan,” suara Jung So Min terbata-bata menahan tangis, air mata mengaburkan pandangannya. “Maafkanlah dirimu sendiri, dan semua orang yang kau pikir sudah menyakitimu. Sampai kapan kau akan lari dari kenyataan, dan terus menyalahkan keadaan?”

“Kalian tidak tahu hidupku.”

“Kau pikir kau tahu hidupku? Kau tidak tahu kenapa aku nekat tinggal bersama Kim Hyun Joong. Karena, Paman Song Seung Hun melecehkanku! Dia menciumku dengan nafsu seorang pria terhadap wanita,” kata Jung So Min.

Park Shin Hye menggenggam tangan Jung So Min, ikut menangis. “Aku ingin membagi pengalaman pahitku, karena takut tak punya waktu lagi.”

“Apa maksudmu?”

Park Shin Hye tersenyum sedih. “Aku sakit. Sangat sakit. Aku mengidap kanker mulut rahim, stadium 2. Hidupku tak lama lagi. Itu sebabnya aku pulang. Kepulanganku kali ini bukan hanya untuk membantu menyadarkan Kim So Eun, tapi selamanya. Aku ingin mati di dekat keluargaku.”

Jung So Min menutup mulutnya dengan telapak tangan dan kehilangan kata-kata. Baek Suzy menatapnya tak percaya.

“Itu belum apa-apa. Ketika aku memutuskan bertunangan dengan Lee Seung Gi, hidupku berubah jadi neraka. Dia hanya ingin mendapatkan tubuhku.”

Pandangan Park Shin Hye menerawang. “Suatu malam, ia memperkosaku.” Jung So Min dan Baek Suzy tercekat. “Jadi, kau lihat Baek Suzy, hidupmu jauh lebih berharga dari kami. Hanya karena pernah gagal menikah, bukan berarti dunia jungkir balik untukmu.”

Baek Suzy terdiam. Matanya menatap langit-langit kamar. Bibirnya bergetar, ingin mengatakan sesuatu. “Kalian tidak tahu hidupku. Apa yang kalian lihat hanya permukaan yang indah. Kalian tidak tahu yang terkubur di bawahnya, banyak sampah busuk penuh belatung. Itulah mengapa aku ingin mati.”

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...