Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 10 September 2011

Akhir Cerita Cinta (Chapter 4)



Kim Bum sebenarnya sama seperti kebanyakan pria pada umumnya. Ia bekerja pagi–pagi dan pulang di sore hari. Ia mengendarai BMW yang sama seperti hampir kebanyakan pria di sini. Hobinya membaca buku dan buku. Aku belum pernah melihatnya diam tanpa buku di sampingnya.

Ia pendiam, sangat pendiam. Beberapa minggu sejak kami menikah, Kim Bum jarang sekali berbicara denganku. Jika berbicara, ia hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata singkat seperti ‘terima kasih’, ‘aku pergi’.

Sebenarnya, aku merasa sangat berterima kasih pada Kim Bum karena mau menikahiku, meski saat itu kami belum saling mengenal. Aku pun tidak tahu siapa namanya, dulu. Yang aku tahu, di sore itu, ia datang kepadaku dan mengajakku menikah. Karena ia pendiam dan tidak banyak bicara, aku merasa sangat aman, tidak tahu kenapa.

Suatu ketika, beberapa minggu setelah pernikahan kami, aku duduk diam di lantai satu, tempat kedai kopiku. Saat itu aku baru saja tutup dan kumatikan seluruh lampu kedai. Hatiku sangat kacau, karena baru saja melihat Kim Hyun Joong melewati kedaiku dan sedang bersama wanita lain. Aku kalut. Kim Bum berada di lantai dua. Suatu nilai plus bahwa ia tidak melihatku yang sedang kacau. Ketika semua gorden sudah tertutup dan semua lampu kedai dimatikan, aku menangis. Aku menangis sekencang–kencangnya melihat pemandangan tersebut.

Mungkin tangisku terlalu kencang, karena Kim Bum tiba–tiba berdiri di hadapanku yang sedang penuh air mata. Ia tidak banyak bicara, hanya memberikan tisu kepadaku. Ia menemaniku menangis sampai pagi tiba. Ia tidak tidur, tidak juga memelukku. Ia hanya diam dan menemaniku. Di pagi itulah akhirnya aku menceritakan padanya seluruh rentetan menyakitkan yang kualami karena pria bernama Kim Hyun Joong.

Ok Taecyeon pergi kuliah pagi ini, jadi ia baru akan datang ke kedai setelah makan siang. Hari ini kedai tidak terlalu ramai, makanya aku bisa sedikit santai dan mulai membuka laptop-ku. Sudah lama aku tidak membuka komunitas sosialku di dunia maya.

Salah satu temanku men-tag salah satu acara kebudayaan. Ia mengundang datang sambil membawa suamiku. Sepertinya tawaran yang bagus, lagi pula sudah lama aku tidak bersenang–senang di luar rumah. Aku segera menuliskan komentar: ‘aku akan datang’.

“Bagaimana?”

“Apanya?”

“Apakah kita akan ikut?”

Aku mengikuti Kim Bum menaiki tangga menuju lantai dua, ketika ia tiba dari kantor. Aku tahu ia mulai risi aku ikuti terus sejak turun dari mobil. Ia duduk di sofa maroon kesayangan kami dan minum secangkir kopi panasnya.

“Aku juga punya undangannya.” Kim Bum menoleh ke arahku.

“Hah? Apa?”

“Sebenarnya aku sudah punya undangannya sejak beberapa hari yang lalu. Aku bingung mau datang atau tidak. Masalahnya aku tidak terlalu menyukai keramaian... tapi aku diharuskan datang. Beberapa teman kerjaku menjadi panitianya.”

“Lalu?” tanyaku lagi.

“Tadinya aku ingin mengajakmu,” ia menjawab. Saking senangnya, aku meremas pergelangan tangannya dan tertawa gembira!

“Ooh, demi Tuhan, Kim Bummmm! Aku senang sekali!”

Aku lalu memeluknya penuh cita. Ia tidak banyak berbicara, hanya tersenyum. Mungkin aku terlalu kencang memeluknya, karena rasanya ia berteriak padaku bahwa ia tidak bis bernapas.

Mataku terpaku ke arah kotak persegi di atas tempat tidurku. Kotak persegi dengan warna krem itu berisi kimono yang diberikan ibu Kim Bum sebagai kado pernikahanku. Kimono itu berwarna merah keemasan dengan corak bunga–bunga yang indah yang mengelilingi sisinya. Sudah sejam lamanya aku berdiri hanya untuk memastikan apakah aku akan memakai pakaian tersebut atau tidak. Tapi, jika aku memakainya, ini akan menjadi momen yang pas, karena kami berdua akan pergi ke acara hinamatsuri, festival boneka Jepang.

Kimono

Hinamatsuri

*) Hinamatsuri (雛祭り, ひなまつり?) atau Hina Matsuri adalah perayaan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang diadakan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan. Keluarga yang memiliki anak perempuan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyō (雛人形?, boneka festival).

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).

Walaupun disebut matsuri, perayaan ini lebih merupakan acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang memiliki anak perempuan. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial.

Aku belum pernah memakai kimono. Terus terang, aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun, masa bodoh dengan cara memakai, toh, aku pernah lihat beberapa film Jepang yang memakainya dan sepertinya mereka tinggal memakai baju tersebut dan mengikatnya dengan tali lebar. Tadinya aku memang berpikiran begitu. Pada kenyataannya, setelah aku memutar otakku untuk memakainya, hasilnya tidak pernah secantik yang kulihat di film-film. Aku kesal sekali, apalagi pakaian tersebut membuatku kepanasan.

Kim Bum mengetuk pintu kamarku, karena waktu pergi kami terlambat satu jam akibat kimono ini. Aku berteriak padanya agar bisa sedikit lagi menungguku. Ia tidak menjawab, tapi dari bunyi siaran TV di ruang keluarga, itu artinya ia setuju. Aku kembali lagi mengusahakan kimono ini tampil cantik di tubuhku. Kulilitkan ikatan lebar tersebut di pinggangku, dan hasilnya lumayan, walaupun tidak sesempurna wanita Jepang.

Aku keluar dari kamar. Pandangan Kim Bum masih tertuju pada layar kaca, walaupun aku telah mondar-mandir di depannya, mencari sepatu yang pas untuk padanannya. Kim Bum akhirnya mematikan siaran TV dan menuju kulkas. Ia menuangkan jus jeruk di gelas, kemudian meminumnya. Aku sibuk mencari sandal yang kuletakkan di atas lemari bajuku.

Tahu–tahu Kim Bum sudah di sampingku. Ia mengangkat tangannya, kemudian menurunkan kotak sandal, memberikannya padaku. Aku berterima kasih padanya dan segera mengajak Kim Bum berangkat. Aku berjalan menyusuri anak tangga perlahan–lahan (tahu bahwa memakai kimono benar–benar menyebalkan, aku tidak akan memakainya) dan Kim Bum mengikutiku di belakang. Ketika di anak tangga terakhir, langkahku terhentikan oleh sesuatu. Aku pikir kimonoku tersangkut sesuatu, tapi ternyata tangan Kim Bum yang menarik kimonoku.

“Ada apa?” tanyaku, bingung.

“Bisa pakai kimono?” pertanyaan Kim Bum yang singkat itu jelas membuatku kesal. Aku tahu aku belum pernah memakai kimono sebelumnya. Mana aku tahu juga bahwa kimono setebal itu!

“Mau meledekku, ya?” tanyaku, kali ini dengan ketus.

Ia tidak menjawab, tidak sedikit pun menjawab pertanyaanku dan tidak juga memberikan gesture bahwa ia memang menjawab pertanyaanku. Yang ia lakukan malah menarik tali kimonoku, hingga ikatannya terlepas begitu saja dari tubuhku. Aku terkejut! Bisa–bisanya dia melakukan hal itu padaku! Aku pun sedikit ketakutan. Kami belum melakukan apa–apa selama enam bulan ini.

“Diam saja!” tiba–tiba Kim Bum berbicara. Ia mengambil ikatan lebar yang jatuh di lantai dan menyuruhku diam. Kemudian ia mendekatiku, merapikan kain kimonoku dengan sangat hati–hati. Ia terlihat sangat cekatan dan terampil. Terkadang ia menyuruhku berputar kadang mendongak. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya, namun rasanya ia begitu berkonsentrasi.

Setelah kain kimono-ku selesai dirapikan, ia mengikatkan tali yang panjang dan lebar itu ke pinggangku. Ia melilitkannya perlahan dan kencang. Ia menyisakan pinggiran ikatannya dan membiarkan tangannya melakukan sesuatu pada ikatan kimono-ku. Aku tidak yakin apakah ini akan berhasil, sampai kulihat dengan mata kepalaku sendiri saat ia menyuruhku bercermin.

Entah kenapa, kimono berwarna merah pemberian ibunya jadi tampak sangat indah kukenakan. Saat aku memutar ke belakang dan melihat ikatannya, aku juga tidak mengerti kenapa ikatan berwarna keemasan itu jadi tampak sangat manis dan menawan. Ada bentuk pita besar yang bersanggah dengan eloknya di pinggang belakangku. Aku tersenyum puas melihat mahakarya yang dilakukannya. Aku pun tidak sanggup mengucapkan terima kasih padanya. Seluruh mulutku seperti terkunci dan terpana oleh caranya memakaikan kimono tersebut padaku.

”Ayo, kita berangkat!” Kim Bum memecah kebodohanku. Ia menarik tanganku, memegangnya, dan membawaku turun dengan terburu–buru. Kali ini aku tidak bisa lagi berbicara. Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya, namun hati ini... tanpa kuketahui berdetak begitu kencang.

Ia mengendarai mobil dalam kesunyian.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...