Silahkan Mencari!!!
I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Sabtu, 04 Juni 2011
Biarlah Rahasia (Chapter 9)
Sore itu langit terlihat sangat gelap.
“Semoga hanya mendung saja!” kata Kim Bum dalam hati. Sudah 2 hari ini hujan terus menguyur Incheon. Dari pagi hingga esok pagi lagi. Kim Bum menge¬masi sejumlah perlengkapan untuk dibawa ke ru¬mah sakit. Pakaian bersih, makanan, dan alat-alat mandi untuk ibunya yang kini tergolek lemah di kamar VIP sebuah rumah sakit.
Sudah dua bulan ini Han Ga In menahan rasa sakit. Sesekali terdengar rintihan panjangnya saat sakit datang mendera. Apalagi, saat ia menggerakkan tubuhnya, meski hanya gerakan kecil.
Tiba-tiba saja kondisi tubuhnya melemah. Suatu siang, saat akan beristirahat, perut bagian bawahnya mendadak terasa sakit. Semula, Kim Bum berpikir, sakit maag ibunya kambuh. Karena itu, ia memberikan obat maag. Namun, obat itu ternyata tidak membantu. Malah, sakit ibunya semakin menjadi. Jangankan makan, minum pun sulit. Ia hampir tidak bisa menelan makanan apa pun. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Tubuhnya yang semula segar, kini jadi terlihat sangat kurus. Kim Bum baru diberi tahu bahwa di usus besar ibunya terdapat benjolan besar.
“Siang, Bu!” sapa Kim Bum, sesampainya di kamar tempat Han Ga In berbaring. Dengan penuh rasa sayang diciumnya kening sang ibu. Han Ga In hanya menyunggingkan senyum. Mulutnya malas untuk berbicara.
“Bu, besok kemotrapi lagi, ya!” ujar Kim Bum, mengingatkan.
Han Ga In menggeleng. Sudah 3 kali Han Ga In melakukan kemoterapi. Tapi, ia merasa hasilnya tidak memuaskan. Rasa sakitnya hanya berkurang sedikit.
“Kenapa, Bu? Ini kan untuk kebaikan Ibu. Kata dokter, beberapa kali melakukan kemoterapi, bisa membantu pe¬nyembuhan. Ayolah, Bu! Katanya Ibu ingin ke Seoul untuk melihat calon menantu. Kalau Ibu sudah sehat, kita langsung melamar dia!” ujar Kim Bum, memberi semangat.
“Kim Bum,” panggil Han Ga In, lemah.
“Ya, Bu!”
“Bisakah kau membantu Ibu?”
“Ibu mau jalan? Kata dokter, Ibu belum boleh banyak bergerak. Usus Ibu kan masih luka.”
“Bukan itu! Ibu ingin bertemu dengan Song Seung Hun dan Kim Tae Hee.”
“Paman Song Seung Hun dan Bibi Kim Tae Hee? Apa aku tidak salah dengar, Bu?” ujar Kim Bum, terkejut.
Yang ia tahu, selama ini ibunya begitu membenci Song Seung Hun dan Kim Tae Hee.
“Ibu ingin minta maaf. Rasanya, inilah murka Tuhan pada Ibu, sehingga Ibu mengalami penderitaan ini,” kata Han Ga In, menyesal. Entah mengapa, secara tiba-tiba hatinya tergerak untuk meminta maaf.
“Aku usahakan, ya, Bu! Mudah-mudahan bisa bertemu keduanya,” ucap Kim Bum sungguh-sungguh.
Siang itu cuaca Incheon begitu cerah. Seorang pria datang tertatih-tatih menggunakan tongkat penyangga. Bibirnya agak miring ke kiri, akibat stroke yang dialami beberapa waktu yang lalu.
“Bu, Paman Song Seung Hun datang!” bisik Kim Bum, di telinga ibunya.
Saat itu Han Ga In sedang tidur. Perlahan ia membuka mata. Samar-samar dipandangnya pria yang pernah hidup bersamanya. Sisa-sisa ketampanan Song Seung Hun masih terlihat, walaupun rambut putih dan guratan keriput jelas tampak.
“Song Seung Hun,” panggil Han Ga In, lemah.
“Han Ga In, apa yang terjadi padamu?” tanya Song Seung Hun, gundah, terlihat sangat prihatin melihat kondisi Han Ga In.
Han Ga In berusaha untuk menyunggingkan senyum. Tapi, rasa sakit itu tiba-tiba kembali datang sehingga Han Ga In merintih lagi.
“Han Ga In,” Song Seung Hun mengusap tangan Han Ga In untuk memberikan kekuatan. “Sabar, ya!”
Song Seung Hun tidak tahu harus berbuat apa. Menurut Kim Bum, dokter menyatakan bahwa kondisi Han Ga In sudah sangat parah karena mengalami berbagai komplikasi penyakit. Dokter hanya bisa mengupayakan yang terbaik.
“Song Seung Hun, maafkan kesalahanku. Aku telah menghancurkanmu dan menghancurkan Kim Tae Hee,” ujar Han Ga In, pelan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berlalu,” ujar Song Seung Hun.
“Kim Tae Hee di mana?”
Kim Bum dan Song Seung Hun saling memandang. Keduanya tidak tahu ke mana harus mencari wanita itu. Karena, sejak pergi meninggalkan Kim Tae Hee, Song Seung Hun tidak pernah lagi menghubunginya dan tidak pernah mengikuti perkembangannya. Ia tidak tahu apakah Kim Tae Hee dalam keadaan sehat atau sakit. Kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap Kim Tae Hee rasanya sulit dimaafkan. Ketika itu, ia merasa begitu membenci Kim Tae Hee. Saat Kim Tae Hee memintanya untuk kembali, ia malah meninggalkannya. Song Seung Hun tidak tahu, apakah saat itu Han Ga In menggunakan kekuatan magis untuk menguasai dirinya, sehingga ia menurut saja apa yang diminta oleh Han Ga In.
“Aku usahakan, Bu!” kata Kim Bum, tidak yakin. Kim Bum sendiri tidak tahu apakah bisa menemukan Kim Tae Hee.
Han Ga In tersenyum. Ia sangat mengharapkan kehadiran wanita itu. Ia ingin sekali minta maaf. Kalaupun umurnya nanti tidak panjang, ia sudah siap, asalkan wanita yang pernah ia hancurkan, mau memaafkannya. Agar ia tenang saat pulang ke rumah Tuhan.
Memasuki halaman rumah Lee Yo Won, hati Kim So Eun tidak tenang. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa takut, sekaligus rindu ingin bertemu ibunya. Maukah Ibu menjumpai dan memaafkanku? Andaikan Ibu mengusirku dan tidak mau bertemu, bagaimana? Menurut Lee Yo Won, ibunya sering berteriak-teriak memanggil dirinya dan mengatakan semua penderitaannya disebabkan Kim So Eun.
Lalu, bagaimana kondisi Ibu sekarang? Masihkah seperti itu? Senang berteriak-teriak? Andaikan ya, Kim So Eun ketakutan juga. Ia masih ragu untuk masuk. Ia tidak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk kembali menjumpai ibunya. Namun, diketuknya juga pintu rumah Lee Yo Won. Pelan sekali ia mengetuk. Tidak ada yang membuka pintu. Sekali lagi ia mengetuk pintu. Sekarang lebih keras.
“Siapa?” terdengar suara dari dalam rumah.
“Aku. Kim So Eun.”
“Kim So Eun?” dengan tergopoh-gopoh, Lee Yo Won yang saat itu sedang menyiapkan makan untuk Kim Tae Hee, berjalan menuju pintu. “Kim So Eun, akhirnya kau datang juga!” ujar Lee Yo Won, sambil merangkul keponakannya, yang sudah seperti anaknya sendiri. Tidak terdengar lagi nada suara yang tinggi, seperti yang beberapa waktu lalu didengar oleh Kim So Eun.
“Ibu dimana, Bibi?” tanya Kim So Eun.
Pertanyaan Kim So Eun segera terjawab karena ia melihat ibunya yang menggunakan kursi roda, bergerak mendekatinya.
“Ibu!” panggil Kim So Eun. Ia langsung menghambur ke pelukan Kim Tae Hee. Sambil menangis, Kim So Eun lalu bersimpuh di kaki ibunya.
“Bu, maafkan kesalahanku. Gara-gara aku, Ibu jadi menderita!” kata Kim So Eun, penuh penyesalan. Air matanya mengalir deras, membasahi selimut yang digunakan Kim Tae Hee.
“Sudah lama Ibu memaafkanmu, sayang!” ujar Kim Tae Hee, dengan lembut. Matanya berkaca-kaca. Anaknya yang beberapa saat hilang kini telah kembali. Semangat hidupnya kembali datang. Dulu ia sempat nekat ingin mengakhiri hidup, karena merasa hidupnya sudah tidak berarti. Tetapi, sekarang, Kim So Eun sudah kembali. Mereka sudah saling menemukan.
Kim So Eun lalu mendorong kursi roda ibunya menuju ruang tengah. “Bu, dapat salam dari Kim Bum, calon menantu Ibu!” ujar Kim So Eun.
“Kim Bum? Ia sudah kembali? Sudah lama Ibu tidak mendengar kabarnya.”
“Kim Bum ada di Incheon, Bu. Ibunya kan tinggal di sini. Katanya, ia akan mengunjungi ibunya dulu, baru datang ke Seoul. Coba aku hubungi dulu, ya. Siapa tahu dia masih di sini,” ujar Kim So Eun, sambil mengambil ponselnya.
“Halo, Kim Bum, kau ada di mana?”
“Hei, Kim So Eun. Aku masih di Incheon. Ibuku sedang dirawat di rumah sakit!” suara Kim Bum terdengar sedih.
“Aku juga sedang di Incheon. Sakit apa?” tanya Kim So Eun.
“Nanti aku ceritakan. Atau, kau mau datang menjenguk Ibu?” tanya Kim Bum, penuh harap.
“Oh, pasti. Aku akan ke sana.”
Kim Bum lalu memberikan alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat.
“Bu, Aku mau ke rumah sakit. Membesuk ibunya Kim Bum.”
“Sakit apa?” tanya Kim Tae Hee.
“Entahlah, Kim Bum tidak cerita!”
“Kalau begitu, Ibu ikut, supaya bisa sekalian berkenalan!” kata Kim Tae Hee.
“Bibi juga!” sahut Lee Yo Won.
Mereka bertiga pun menuju rumah sakit. Tidak sulit mencari ruangan tempat Han Ga In dirawat. Kim Bum yang sudah mengetahui kedatangan Kim So Eun dan keluarganya, segera menyambut mereka.
“Kim Bum, kenalkan, ini Ibuku!” ujar Kim So Eun.
Kim Bum terkesiap. Ia tidak pernah tahu bahwa calon ibu mertuanya berada di kursi roda.
Seakan membaca apa yang ada dalam benak Kim Bum, Kim So Eun menjelaskan, “Ibu mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Besok saja aku bercerita tentang hal itu,” kata Kim So Eun, berbisik.
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 8)
Sudah berminggu-minggu Kim So Eun mencari Kim Tae Hee. Ia sudah menghubungi teman-teman ibunya, sanak saudara yang biasa didatangi ibunya, bahkan sampai ke rumah sakit. Kekhawatiran Kim So Eun makin menjadi ketika membaca satu kalimat di koran harian: Ditemukan mayat tanpa busana di semak-semak. Ciri yang digambarkan sama persis dengan kondisi ibunya. Usia sekitar 45 tahun, berambut lurus panjang, kulit putih, dan tinggi kira-kira 165 cm.
Detak jantungnya hampir saja berhenti, ketika ia melihat lang¬sung mayat yang terbujur kaku di kamar mayat sebuah rumah sakit di Seoul. Wajahnya hampir sama dengan ibunya. Tapi, bukan, itu bukan ibunya.
Kim So Eun kebingungan, mau mencari ibunya ke mana lagi. Semua tempat sudah ditelusuri. Ia juga sudah melaporkan kasus kehilangan ini ke kepolisian. Tapi, hasilnya nihil.
Apakah Ibu menyimpan dendam padaku dan sudah tidak lagi menganggap aku sebagai anaknya? Mengapa ia tidak mau pulang?
Di tengah kebingungan, Kim So Eun teringat akan Bibi Lee Yo Won, kakak ibunya, yang tinggal di Incheon. Mungkinkah Ibu sekarang berada di Incheon? Tapi, mungkinkah ia pergi sejauh itu? Tapi, siapa tahu….
“Selamat malam, Bibi Lee Yo Won. Ini Kim So Eun. Apa kabar, Bibi?” tanya Kim So Eun.
”Oh, kau. Ada apa kau telepon kemari?” kata Lee Yo Won, dingin.
“Bibi, apakah Ibu di sana?” suara Kim So Eun tersendat, sedikit takut.
“Kalau ada, kenapa?” ujar Lee Yo Won, tetap dingin.
“Aku mau menjemput Ibu!”
“Menjemput? Tidak bisa! Bibi tidak mengizinkan kau menjemput Ibumu sebelum kau minta maaf padanya. Bagaimana kau tega membiarkan Ibumu pergi dari rumah? Kau tidak tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?”
“Selanjutnya? Maksud Bibi?”
“Ibumu mengalami kecelakaan ketika baru tiba di Incheon. Ia ditabrak mobil yang melaju kencang. Sialnya, si pengendara kabur. Untunglah, di dompetnya ada nomor telepon Bibi. Ibumu sempat koma.”
”Mengapa Bibi tidak memberitahukanku?”
“Apa perlunya? Setelah siuman, Ibumu berpesan agar tidak menghubungimu. Karena, ia tidak mau disakiti lagi olehmu!” ujar Lee Yo Won, tegas.
Kim So Eun menarik napas panjang. “Jadi, bagaimana keadaan Ibu sekarang?”
Desah napas Lee Yo Won terdengar berat, seperti ada beban yang menghimpit dan sulit dikatakan.
“Ibumu…,” Lee Yo Won tak melanjutkan kata-katanya.
“Bibi, ada apa dengan Ibu? Bibi, aku memang salah. Aku memvonis Ibu bersalah, tanpa mau mendengarkan alasan apa pun. Saat itu, Aku kalut dan bingung. Semua media massa memojokkanku. Mereka tidak mempedulikan kondisiku sama sekali. Bibi, izinkan aku bertemu dan memohon ampun pada Ibu,” pinta Kim So Eun.
“Saat ini kesehatan Ibumu sudah pulih, meski kadang-kadang Bibi sering mendapati ia menangis dan memanggil-manggil namamu. Tapi, akibat kecelakaan itu, kaki kanannya diamputasi. Inilah yang sempat membuatnya depresi. Dan, ia sempat nekat ingin bunuh diri!”
Rumah di Technical Street 86, Taekgoo, Incheon, terlihat lengang. Sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang berwarna cokelat perak.
“Terima kasih, Tuan! Kembaliannya ambil saja!”
“Sebanyak ini?” tanya sopir taksi, kaget. Selama menjadi sopir taksi, ia belum pernah mendapat tip sebesar itu. Penumpangnya mengangguk.
Seorang pria tampan turun dari taksi dan masuk ke rumah itu.
“Ibu! Ibu!” ia memanggil ibunya dari depan pintu gerbang.
Tak ada tanda-tanda pintu gerbang akan dibuka, ia berteriak lagi. Namun, beberapa menit menunggu, tak juga ada yang muncul. Ia lalu mencoba menghubungi ponsel ibunya. Setelah beberapa kali dering, barulah diangkat.
“Kenapa, baru diangkat teleponnya, Bu!”
“Hei, Kim Bum. Maaf, Ibu agak tidak enak badan. Setelah minum obat baru bisa tidur.”
”Bu, Aku ada di luar. Dari tadi sudah teriak-teriak panggil Ibu, tapi tidak ada yang membukakan pintu.”
Han Ga In mengintip jendela ruang tamu. Setelah melihat siapa yang berdiri di balik pagar, ia bergegas menuju pintu gerbang.
“Kenapa tidak bilang kalau mau pulang?” kata Han Ga In, sambil menggandeng Kim Bum masuk ke rumah. Ia ambilkan minuman dingin, lalu duduk di sebelah Kim Bum, yang sedang beristirahat di ruang keluarga.
”Kau sehat, Kim Bum? Waduh… anak Ibu semakin tampan saja. Hmm… jangan-jangan di sana sudah punya kekasih,” kata Han Ga In.
“Memang sudah!” jawab Kim Bum, mantap. ”Tapi, dia orang Seoul. Dia cantik dan pintar. Pokoknya, Ibu pasti akan bangga punya menantu seperti dia,” kata Kim Bum, bangga.
“Ibu jadi penasaran. Ada fotonya tidak?”
“Ibu lebih baik langsung berkenalan dengan orangnya. Ia baik sekali. Rencananya, minggu ini aku akan ke Seoul untuk melamarnya.”
“Hebat, datang-datang memberikan kejutan. Tapi, Ibu juga punya kabar gembira untukmu!”
“Kabar gembira? Tanah Ibu sudah terjual?” Kim Bum menerka.
“Bukan itu. Ini tentang sakit hati Ibu yang sudah sembuh! Perasaan benci, dendam, dan sakit hati Ibu pada Kim Tae Hee sudah terbalas.”
“Kim Tae Hee? Kim Tae Hee siapa, Bu?” tanya Kim Bum, bingung.
“Mantan istri Song Seung Hun, ayah tirimu. Masih ingat?”
“Ya, ingat. Tapi, ada apa dengannya?”
“Kau ingat tidak, gara-gara dia, Ibumu masuk penjara!”
“Tapi, semua itu kan karena ulah Ibu juga. Mengapa Ibu berencana membunuhnya? Padahal, Paman Song Seung Hun sudah meninggalkannya,” ujar Kim Bum, seakan membela Kim Tae Hee.
“Kau, kenapa malah membela dia! Dengar ya Kim Bum, Ibu tidak mau ditinggalkan untuk kedua kalinya oleh pria yang Ibu cintai. Kau tentu masih ingat tingkah laku ayahmu. Katanya, ia sudah meninggalkan perempuan selingkuhannya itu. Sampai ia bersumpah untuk tidak mengulangi lagi. Nyatanya, ia masih bersama perempuan itu dan akhirnya lebih memilihnya daripada Ibu. Kau ingat, betapa Ibu menderita karena ulahnya!”
Ya, Kim Bum ingat. Masa lalu kembali membayang di pelupuk matanya. Ibunya seperti orang hilang ingatan ketika harus berpisah dari orang yang dicintainya. Ibunya secara tiba-tiba sering menangis, berteriak, tertawa, bahkan memukul-mukul tanpa sebab. Untunglah, adik ibunya dengan cepat membawa ibunya untuk menjalani perawatan.
“Ibu tidak ingin Song Seung Hun kembali lagi padanya!” lanjut Han Ga In berapi-api.
“Tapi, bukankah ketika itu Paman Song Seung Hun mengatakan bahwa ia sudah menceraikan istrinya?”
“Katanya, begitu. Tapi, kenyataannya, setiap kali Ibu ingin melihat bukti surat cerainya, ia tidak pernah bisa memberikan. Perasaan takut kehilangan orang yang Ibu cintai semakin menghantui. Apalagi, Ibu dengar, saat itu Kim Tae Hee sedang berbadan dua. Ibu tidak mau Song Seung Hun berpaling dan meninggalkan Ibu. Jadi, lebih baik dilenyapkan saja!” suara Han Ga In terdengar ringan, tanpa beban.
“Apa? Dia sedang hamil? Ibu benar-benar kejam! Apakah Ibu tidak merasa berdosa ikut membunuh janin yang dikandungnya?” tanya Kim Bum, yang tidak pernah mengi¬kuti perkembangan kasus ibunya. Karena, pada saat ibunya memutuskan untuk berumah tangga dengan Song Seung Hun, ia sudah berada di Paris untuk menuntut ilmu. Keluarga dari pihak ayahnya banyak yang bermukim di sana dan ingin menyekolahkannya.
“Sayangnya, Kim Tae Hee dan anak itu masih diizinkan meng¬hirup udara dunia. Tapi, Jae Hee malah mati terbunuh. Itulah yang membuat Ibu semakin membenci perempuan itu. Karena, sebelum mati, Jae Hee buka mulut bahwa dalang pembunuhan itu adalah Ibu. Kim Bum, kau boleh marah atau protes. Tapi, dendam ini sudah bertahun-tahun Ibu pendam. Akhirnya, Ibu mendapatkan saat yang tepat untuk membalasnya. Putri Kim Tae Hee sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan menarik. Kariernya semakin berkibar di dunia hiburan. Ibu sengaja membeberkan masa lalu ibunya pada media. Hasilnya, karier putrinya itu hancur,” kata Han Ga In, sambil tertawa.
“Bu, Ibu sadar atau tidak bahwa perbuatan Ibu itu menghancurkan kehidupan mereka. Apa salah mereka, Bu?” tanya Kim Bum, terheran-heran. Ia tidak menyangka ibunya sanggup melakukan semua itu
“Sangat, sangat sadar, Kim Bum. Ibu puas! Mereka semua hancur. Bicara tentang kesalahan, Ibu tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Tapi, gara-gara Kim Tae Hee, harga diri Ibu hancur. Coba kau bayangkan, semua koran memuat berita tentang seorang pengusaha cantik yang masuk penjara. Betapa malunya Ibu saat itu. Sekarang, kondisi yang sama pun dirasakan oleh Kim Tae Hee dan anaknya. Media massa menyorot sisi kelam kehidupan Kim Tae Hee. Satu sama, ’kan?” ucap Han Ga In, tersenyum puas.
Kim Bum tidak bisa berkata-kata lagi. Suasana siang itu jadi terasa hampa.
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 7)
Kim So Eun memberanikan diri berkunjung ke apartemen Song Seung Hun. Dengan perasaan malu, benci, muak, ia menyerahkan kegadisan yang selama ini dijaganya utuh kepada produser itu. Tanpa merasakan kenikmatan apa pun, Kim So Eun mengikuti semua petunjuk yang diarahkan Song Seung Hun, yang tidak mempedulikan rintihan kesakitan dan isak tangis Kim So Eun. Tangannya bergerilya dengan liar. Kim So Eun hanya bisa pasrah.
“Tn. Song Seung Hun, saya perlu kejelasan. Saya tidak mau pengorbanan ini tidak ada timbal baliknya!”
“Maksudnya?”
“Anda jangan pura-pura bodoh. Saya mau melakukan ini secara kontrak selama 6 bulan. Selebihnya, saya tidak mau!” ancam Kim So Eun. Rencana ini memang sudah dipikirnya matang-matang, meski harus ditebus dengan harga mahal.
Selama seminggu ia sudah merancang jerat apa yang pantas untuk Song Seung Hun. Kalau ia hanya akan mendapat peran utama, dengan menjadi istri simpanan Song Seung Hun, tentunya kerugian ada pada dirinya. Untuk itu, ia sudah menyiapkan selembar kertas kontrak bermeterai.
“Tidak masalah. Semua bisa diatur!” suara Song Seung Hun meledek.
“Selama saya jadi istri simpanan Anda, saya tidak mau tinggal serumah. Hanya sesekali saja boleh bertemu!” lanjut Kim So Eun.
“Seminggu 3 kali?”
“Saya tidak bisa memastikan. Yang pasti, saya tidak mau hubungan ini sampai tercium wartawan dan orang lain. Dan, yang terakhir, saya minta bagian setengah dari harta Anda untuk jadi milik saya. Bagaimana?” tantang Kim So Eun, sambil menatap Song Seung Hun tajam.
Song Seung Hun yang sedang dimabuk cinta hanya mengangguk. Semua yang dikatakan Kim So Eun tidak ada yang dibantahnya.
“Baik, itu berarti Anda menyetujui kesepakatkan di antara kita. Sekarang, Anda harus menandatangani surat ini!” Kim So Eun pun mengajukan surat yang telah diketiknya rapi.
“Mengapa harus seresmi ini?”
“Saya tidak mau Anda mengelak dari kenyataan. Jangan lupa, surat ini sah!”
Kim So Eun senang, karena Song Seung Hun mau menandatangani surat itu, tanpa protes.
Produser yang sedang kasmaran itu benar-benar memenuhi janjinya. Tanpa pikir panjang, ia memberikan setengah harta miliknya untuk Kim So Eun. Ia juga memberikan peran utama pada Kim So Eun. Pengorbanan Kim So Eun tidak sia-sia. Ia berhasil menjadi artis papan atas dan mendapat kontrak eksklusif dari sebuah rumah produksi terkenal.
Dulu, ia tinggal di kontrakan kecil dan sumpek. Sekarang, ia mampu membeli rumah di kawasan elite Seoul. Ia pun tak perlu berdesakan lagi di bus umum untuk mengikuti casting dari satu rumah produksi ke rumah produksi lain. Kini, ia sudah memiliki mobil keluaran terbaru yang nyaman.
Selama setengah tahun, tidak ada satu orang pun yang mencium hubungan gelapnya dengan Song Seung Hun. Kim So Eun benar-benar menutup rapat rahasia dirinya. Setiap hari ia menghitung, kapan perjanjiannya akan berakhir. Belenggu itu sangat menyiksa.
Ketika perjanjian itu berakhir, ia begitu bahagia. Batinnya berulang kali berontak. Sempat ada sesal di hatinya. Mengapa ia bisa merendahkan dirinya demi sebuah cita-cita menjadi artis terkenal? Ia benar-benar malu menatap dirinya sendiri. Untuk itu, semua rahasia dirinya ia tutup rapat. Tidak ada yang tahu, termasuk ibunya dan wartawan.
Satu lagi rahasia diri, yang tidak diketahui siapa pun, termasuk Song Seung Hun. Ia pernah melahirkan anak. Saat perjanjian menjadi istri simpanan Song Seung Hun berakhir, Kim So Eun sedang hamil 3 bulan. Ia sengaja merahasiakan kehamilannya itu. Karena, jika Song Seung Hun tahu, perjanjian bisa batal. Untuk menyembunyikan kehamilannya, Kim So Eun terpaksa berbohong pada ibunya. Ia mengatakan ada syuting di luar kota selama berbulan-bulan.
Untunglah, semua rencana yang telah dirancangnya rapi, berjalan dengan baik. Kim So Eun melahirkan bayi perempuannya di Jepang. Tidak ada seorang pun yang tahu, termasuk pers. Kim So Eun lalu membawa bidadari kecilnya, Kim Yoo Bin, kembali ke Korea. Tanpa proses yang menyulitkan, Kim So Eun menitipkan Kim Yoo Bin kecil di sebuah panti asuhan.
Awalnya, ia sempat berpikir untuk melakukan aborsi. Namun, niat itu dibatalkan. Ia takut, dosanya akan makin berat, jika ia melakukan pembunuhan terhadap janin yang dikandungnya.
Sekarang, Kim So Eun merasa kehidupannya begitu hampa. Ia tersisih dari hingar bingar dunia hiburan yang telah membesarkan namanya. Begitu cepat! Rasanya, baru kemarin namanya terukir indah di media cetak sebagai artis paling favorit.
Sekarang, ia merasa begitu terpojok. Semua media, baik cetak maupun elektronik, menyorot sisi kelam kehidupan keluarganya. Namun, ia tidak bisa mengelak. Semua yang diungkapkan media, benar adanya. Ia memang anak seorang pembunuh. Hidup ini seperti roda pedati. Kadang-kadang di atas, namun tak jarang juga berada di bawah. Dan, saat ini Kim So Eun sedang berada di landasan terbawah. Entah kapan ia bisa memutarnya kembali untuk bisa sampai ke atas. Hanya waktu dan situasilah yang dapat mengubahnya.
“Hai, Sayang, apa kabar? Kapan pulang ke Korea?” suara Kim So Eun terdengar bahagia sekali, ketika menerima telepon dari kekasihnya, Kim Bum.
“Sabar, ya! Mungkin bulan depan aku pulang. Bagaimana, Ibu sehat?” tanya Kim Bum, menanyakan keadaan Kim Tae Hee.
“Hmm, sehat,” Kim So Eun berdusta.
“Kenapa, jawabannya ragu seperti itu? Ada yang kau sembunyikan?” tanya Kim Bum.
“Ah, tidak. Semua baik-baik saja. Sayang, jangan lupa bawakan cokelat, ya,” ujar Kim So Eun, mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau hubungannya yang sedang tidak harmonis dengan ibunya terbaca oleh Kim Bum.
Walaupun selama ini Kim Bum belum mengenal Kim Tae Hee secara lang¬sung, hanya melalui telepon, hubungan mereka sudah cukup akrab. Setiap kali menelepon, Kim Bum menyempatkan diri untuk bicara dengan Kim Tae Hee.
Awalnya, Kim Tae Hee kurang setuju dengan hubungan Kim So Eun dan Kim Bum.
“Apakah tidak ada pria lain selain dia, Kim So Eun?”
“Kenapa Bu?”
“Ibu khawatir, kau hanya dipermainkan. Apalagi, jarak kalian berjauhan sehingga jarang bertemu!”
“Ibu tidak usah khawatir. Aku yakin, Kim Bum memiliki pribadi yang baik. Sepertinya, ia tidak seburuk yang Ibu bayangkan,” bela Kim So Eun.
“Dari mana kau tahu?”
“Dari e-mail yang ia kirim. Selain cara berbicaranya santun, tidak ada rayuan gombal.”
“Ya, semoga saja ia memang baik,” kata Kim Tae Hee, berharap.
Kisah asmara Kim So Eun dan Kim Bum sudah berjalan hampir setahun. Yang mengetahuinya hanya Kim Tae Hee. Pada Kim Bum, Kim So Eun tidak memperkenalkan diri sebagai artis. Ia mengaku, dirinya adalah seorang mahasiswi S-2. Lagi pula, ia yakin, dirinya hanya dikenal di Korea. Di Paris sana, siapalah yang mengenal Kim So Eun. Mereka berkenalan melalui sebuah klub sahabat pena di internet.
“Ibu mana, Kim So Eun?”
“Hmm, Ibu....,” Kim So Eun kebingungan hendak menjawab apa.
”Kenapa bingung? Sebenarnya, ada apa? Sejak tadi, setiap kali aku bertanya tentang Ibu, pasti kau kebingungan. Sedang bertengkar, ya?”
“Eh, tidak! Hubungan kami baik-baik saja. Hanya, Ibu sedang kurang enak badan. Sekarang sedang tidur. Atau, mau aku bangunkan?” Kim So Eun mengarang cerita bohong. Harapannya, Kim Bum tidak meminta untuk berbicara dengan ibunya.
“Tidak usah. Sampaikan saja salamku pada beliau. Semoga cepat sembuh. Sudah 3 kali aku berkunjung, tapi tidak pernah bertemu. Mudah-mudahan bulan depan aku bisa bertemu Ibu,” kata Kim Bum.
Setelah saling mengucapkan salam perpisahan, tiba-tiba Kim So Eun merasa dadanya sesak. Tangisan penyesalan atas sikap kasar yang dilakukannya selama ini pada sang bunda kembali teringat. Bagaimana bisa ia mendiamkan ibunya berhari-hari?
“Bu, aku minta maaf atas sikap kasarku kemarin. Bu, aku merindukanmu. Tapi, di mana Ibu sekarang? Di mana?” ucapnya, pelan.
Oh, Tuhan, bantu aku menemukan Ibu. Lindungi Ibu. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya. Tuhan, ampuni aku yang telah berdosa padanya. Izinkan aku bertemu dengannya!
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 6)
Seandainya Kim Tae Hee yang terbunuh, pasti Jae Hee juga akan mendekam di penjara. Saat itu, posisi Kim Tae Hee terpojok. Hanya ada dua pilihan. Ia dan bayinya terbunuh atau Jae Hee yang harus mati. Ia sendiri tidak pernah tahu bahwa ia memiliki keberanian untuk menusukkan gunting ke tubuh Jae Hee, bahkan sampai berulang kali.
“Jadi, berita itu benar, Bu?” Kim So Eun menerka sikap diam ibunya.
“Seandainya benar…,” suara Kim Tae Hee mengambang. Baru kali ini ia berani membuka suara.
“Tidak! Ibu kejam! Kejam! Mengapa Ibu menghancurkan karier yang dengan susah payah aku rintis? Mengapa Ibu tidak bercerita sejak awal? Mengapa Aku harus mendengarnya dari orang lain? Mengapa, Bu?” tanya Kim So Eun.
Baru kali ini ia bersuara keras pada ibunya. Sebagai anak, ia selalu sopan. Karena, ibunya adalah satu-satunya orang yang ia kasihi, tempat ia berlindung dan berbagi rasa. Tapi, sekarang sosok ibu yang selama ini dipandangnya dengan penuh rasa hormat, berubah total. Ia begitu membencinya, meskipun Kim Tae Hee menyesali perbuatan masa silamnya.
“Maafkan Ibu, Kim So Eun! Semua itu Ibu perbuat untuk membela diri,” tutur Kim Tae Hee, penuh sesal.
“Bukan pembunuhan itu yang aku sesali. Karena, ku pun tidak akan terlahir ke dunia ini kalau Ibu tidak menye¬la¬matkan diri dengan membunuh bajingan itu. Tapi, mengapa selama ini Ibu selalu menutup-nutupi tentang Ayah? Ibu selalu berkelit setiap kali aku tanya. Dan, yang sangat aku sesali, aku justru mendapat informasi ini dari media, bukan dari Ibu. Mau ditaruh di mana muka ini, Bu? Di kemanakan?!”
Kim Tae Hee hanya diam. Putri yang dikandungnya selama 9 bulan di penjara itu mampu membentak, bahkan memojokkan dirinya. Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata, mengalir deras. Dadanya sesak menahan kekecewaan dan penyesalan diri.
Sudah dua minggu ini hubungan antara Kim So Eun dan ibunya terjalin tidak harmonis. Rumah yang senantiasa dipenuhi gelak-canda ibu dan anak ini terasa sepi. Kim Tae Hee, yang senantiasa diliputi perasaan bersalah, berusaha untuk mengajak bicara atau mengalihkan pembicaraan ke hal lain, agar suasana rumah tidak terasa tegang. Namun, sepertinya, Kim So Eun menyim¬pan kekecewaan yang dalam sehingga ia sulit memaafkan ibunya. Kim So Eun selalu mengelak diajak bicara. Bahkan, sudah 2 hari ini, ia tidak pulang ke rumah.
Kim Tae Hee pun mengambil keputusan terpahit. Ia meninggalkan rumah, saat seluruh penghuni rumah tertidur lelap.
Kim So Eun, anakku sayang…
Ibu memang tidak pantas menjadi Ibumu. Perbuatan Ibu di masa lalu sungguh memalukan, meskipun hal itu Ibu lakukan untuk mempertahankan janin yang Ibu kandung saat itu, yaitu dirimu. Agar kau bahagia dan Ibu tidak menjadi benalu dalam hidupmu, Ibu pergi. Harapan Ibu, setelah kepergian Ibu, rasa benci dan amarahmu terhapuskan. Maafkan Ibu, ya, Nak.
Keputusan Kim Tae Hee untuk pergi jauh sudah bulat. Entah ke mana. Ia belum punya tujuan. Angin malam yang menusuk hingga ke tulang tak dihiraukannya. Berbekalkan sedikit uang yang dimilikinya, Kim Tae Hee meninggalkan rumah mewah yang pernah ditempatinya bersama putri tercintanya. Semua tinggal kenangan. Walau berat langkahnya, ini merupakan keputusan terbaik. Sikap Kim So Eun yang tak acuh dan selalu menghindar sudah cukup menjadi petunjuk bahwa ia harus cepat pergi dari rumah itu.
Suara gaduh terdengar di rumah Kim So Eun. Goo Hye Sun dan Han Hyo Joo (pembantu) berteriak-teriak, membangunkan Kim So Eun yang baru pulang pukul 3 dini hari, seusai syuting.
“Ada apa, Goo Hye Sun?” tanya Kim So Eun, sambil membuka pintu kamarnya.
“Maaf, Nona. Itu... Nyonya…!” suara Goo Hye Sun terdengar gagap.
“Ibu? Ibu kenapa?” suara Kim So Eun tak acuh.
“Ibu tidak ada di kamarnya!”
“Sudah dicari belum? Mungkin di dapur atau kamar mandi.”
“Semua sudut sudah dicari, Nona. Ibu tidak ada!” ujar Goo Hye Sun, gundah.
“Nn. Kim So Eun, ini ada surat untuk Nona. Sepertinya, dari Ibu!” seru Han Hyo Joo, dengan napas tersengal, sambil memberikan secarik surat yang ditulis Kim Tae Hee dengan gemetar.
Selesai membaca surat itu, Kim So Eun tercenung. Akar kebencian masih tertancap tajam di hatinya dan sulit untuk dicabut. Berulang kali ia menyesali diri, mengapa ia harus terlahir ke dunia ini, kalau harus menanggung malu.
Pemberitaan di media terus menyudutkan ia dan ibunya. Media tidak pernah mengupas sisi lain, mengapa ibunya berbuat nekat.
Media benar-benar tak mempertimbangkan perasaannya. Karier Kim So Eun benar-benar hancur. Produser tidak mau memakainya lagi, karena cerita buruk yang bertubi-tubi tentang dirinya. Kalaupun ia masih syuting, itu hanya tinggal menghabiskan sisa kontrak saja. Ada juga produser yang tanpa basa basi memutuskan kontrak sepihak dan menggantikan perannya.
Kim So Eun tidak bisa protes. Ia teringat perbincangannya dengan Song Seung Hun. Song Seung Hun, seorang produser.
“Kim So Eun, aku bisa mencetakmu menjadi artis papan atas, kalau kau mau menuruti permintaanku!” kata Song Seung Hun.
“Maksudnya?” tanya Kim So Eun, tidak mengerti.
“Menjadi istri simpananku!” ujar Song Seung Hun, enteng.
“Gila! Anda pikir saya ini wanita murahan?”
“Tenang, Kim So Eun. Kau tidak perlu emosi begitu. Saya kan hanya memberikan jalan. Itu pun kalau kau mau kariermu melesat. Tapi, kalau hanya mau jadi figuran saja, itu terserah kau saja. Bagaimana? Semua itu ada timbal baliknya. Kalau kau bersedia jadi istriku, saya akan memberikan peran utama untukmu. Ini alamat apartemen saya. Dengan senang hati saya menunggu kunjunganmu,” ujar Song Seung Hun, sambil memberikan kartu namanya dan berlalu meninggalkan Kim So Eun.
Apakah untuk menjadi seorang bintang papan atas ia harus menjual harga dirinya? Sudah 4 tahun, Kim So Eun menjadi figuran, yang nyaris tidak pernah dilirik penonton. Padahal, ia mempunyai kemampuan akting yang bagus. Wajah cantik dan bentuk tubuh proporsional ternyata bukan faktor utama untuk bisa memuluskan langkahnya. Pesaingnya begitu banyak. Semua cantik-cantik, langsing dengan penampilan memukau. Yang lebih mengherankan, karier mereka begitu cepat meroket. Padahal, belum setahun mereka menapakkan kaki di dunia hiburan.
Mengapa nama mereka cepat melambung? Apakah karena mereka mau dijadikan simpanan produser? Ah, tapi, itu urusan mereka. Yang penting, aku tidak demikian.
Namun, harapan Kim So Eun untuk bisa berjalan mulus, tanpa harus mengorbankan harga diri, tidak membuahkan hasil. Sulit sekali baginya untuk mendapatkan peran. Jangankan peran utama, menjadi peran pembantu saja rasanya jauh dari kenyataan.
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 5)
Tapi, wanita itu tampak begitu meyakinkan saat bercerita tentang ibu dari Kim So Eun. Lee Min Ho bimbang. Jika semua yang dikatakan wanita itu memang benar, apakah aku harus menuliskannya juga? Lalu, bagaimana dengan karier Kim So Eun yang saat ini sedang berada di puncak? Pasti popularitasnya akan hancur. Kim So Eun yang dulu disanjung-sanjung akan dicibir oleh publik. Tak ada seorang pun yang mau memintanya sebagai bintang iklan atau tampil sebagai presenter televisi. Kim So Eun akan terhempas dari kehidupan glamor karena kehidupan kelam orang tuanya terungkap oleh media massa.
Namun, jika tidak berani mengungkapkan kebenaran itu, itu artinya ia juga membohongi publik. Tapi, ah, itu kan baru katanya saja. Siapa tahu, apa yang dikatakan wanita itu hanya isapan jempol belaka. Meski masih meragukan keterangan wanita itu, Lee Min Ho akhirnya berangkat ke Incheon, dengan persetujuan atasannya. Ia disambut dengan ramah oleh Han Ga In.
Tanpa ada rasa malu, Han Ga In menceritakan runtutan peristiwa, dimulai dari awal mula ketertarikannya pada Song Seung Hun, keberhasil¬annya merebut Song Seung Hun dari tangan Kim Tae Hee, dan rencana gilanya membayar Jae Hee untuk membunuh Kim Tae Hee.
“Jadi, Anda juga ikut dihukum?” tanya Lee Min Ho.
“Ya, begitulah. Padahal, saya sudah membayar pengacara terkenal di kota ini. Tapi, tetap saja saya tidak bisa bebas dari jeratan hukum. Jika yang meninggal adalah Kim Tae Hee, pasti lain ceritanya. Saya tidak mungkin mendekam di balik jeruji penjara,” ujar Han Ga In, tanpa merasa bersalah.
“Terima kasih atas keterangan Anda, Ny. Han Ga In!”
“Wawancara ini pasti akan dimuat di majalah, ’kan?” tanya Han Ga In. Ia berharap semua masyarakat mengetahui sisi kelam kehidupan Kim So Eun. Han Ga In sangat ingin melihat kehancuran Kim Tae Hee dan anaknya.
“Saya belum tahu, Nyonya. Semua akan saya diskusikan dulu dengan tim redaksi, apakah tulisan ini layak muat atau tidak.”
“Saya yakin, jika tulisan ini dimuat, oplah majalah Anda akan meningkat. Tentunya, perusahaan tempat Anda bekerja akan untung.”
Lee Min Ho berusaha tersenyum. Walaupun, ia tak habis pikir, mengapa wanita itu tidak memiliki rasa malu saat mengungkapkan sisi kelam kehidupannya. Apalagi, ia merupakan otak pembunuhan tersebut. Rupanya, dendam mengalahkan segalanya. Meski nantinya pembaca akan mencibir dan memandangnya rendah, Han Ga In tak peduli.
Benar yang dikatakan Han Ga In. Ketika Wanita mengungkapkan sisi kelam Kim So Eun, oplahnya meningkat tajam. Pembaca dibuat terhenyak dengan pemberitaan tersebut. Kim So Eun, yang selama ini jauh dari pemberitaan miring dan kerap mendapat pujian, tiba-tiba muncul dengan berita menghebohkan.
Bisa dibayangkan, betapa geramnya Kim So Eun ketika membaca artikel itu. Ia tidak bisa menerima berita yang menyudutkan dirinya dan orang yang dicintainya. Ia tidak percaya bahwa ibunya berani melakukan hal itu. Seperti Lee Min Ho, ia sempat memikirkan suatu hal. Jangan-jangan, wanita itu mencari sensasi agar bisa ikut terkenal.
Berbeda dari reaksi Kim So Eun, Kim Tae Hee justru hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka, rahasia yang selama ini ditutupnya rapat-rapat, akhirnya dibongkar juga oleh musuh yang tidak pernah ia maafkan. Kim Tae Hee menyesali diri. Mengapa Kim So Eun harus mendengarkannya dari orang lain, bukan dari dirinya langsung. Mungkin, seandainya ia berterus terang sejak awal, kejadiannya tidak seperti ini. Tapi, apa mau dikata, semua itu sudah terjadi di luar dugaannya.
Seandainya Kim So Eun bukan selebritis, tanggapan orang mungkin tak sedahsyat itu. Tapi, putrinya adalah seorang artis papan atas, yang sangat terkenal. Media telah membawa cerita kelam itu ke permukaan, dan Kim Tae Hee tidak bisa membela diri.
Sejak berita itu menjadi pembicaraan masyarakat, Kim So Eun seperti ditelan bumi. Sulit sekali menghubunginya. Ponselnya selalu tidak aktif. Ia benar-benar mengunci dirinya untuk tidak memberikan komentar apa pun.
“Lebih baik kau mengadakan konferensi pers,” usul Park Shin Hye.
“Untuk apa?”
“Untuk menjelaskan permasalahannya pada publik sehingga kau tidak dikejar-kejar. Apa kau merasa nyaman, harus melihat wartawan setiap hari menunggu di depan rumah? Kasihan mereka.”
“Kasihan? Siapa suruh mereka menunggu? Dengarkan aku, Park Shin Hye, aku tidak mau memberikan komentar apa pun sebelum masalah ini jelas. Lagi pula, kau lihat kan, semua media menyudutkan aku dan Ibu. Mereka tidak mau memahami perasaanku,” kata Kim So Eun, sengit.
“Tapi, sampai kapan kau menutup diri?”
“Aku tidak tahu sampai kapan. Yang jelas, saat ini aku belum siap berhadapan dengan wartawan. Aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku shocked Park Shin Hye, shocked!”
Kalau sudah begitu, Park Shin Hye tidak bisa memaksa. Hanya, ia tidak tega melihat kerumunan wartawan yang sejak pagi hingga malam ’patroli’ di depan rumah. Sebenarnya, Kim So Eun tidak nyaman dengan situasi ini. Berhari-hari ia mengurung diri, menghindari kejaran wartawan. Sampai setelah seminggu, Kim So Eun tak betah berdiam diri terus di rumah. Ketika ia akhirnya memberanikan diri keluar rumah, para wartawan masih setia menunggunya.
“Nn. Kim So Eun, bagaimana komentar Anda tentang pemberitaan di media massa belakangan ini?” tanya seorang wartawan, ketika Kim So Eun berjalan menuju garasi.
Kim So Eun hanya menyunggingkan senyum dan berkata, “No comment. Maaf, saya tidak mau diganggu. Terima kasih!” Itu saja yang keluar dari bibir mungilnya. Selebihnya, ia menancap gas mobilnya, meng¬hilang entah ke mana.
Para wartawan tidak kehabisan akal. Mereka mencari keberadaan Kim So Eun, sampai ke hotel yang sering dikunjungi Kim So Eun di daerah Namchoseon. Semua karyawan hotel menggelengkan kepala.
“Nn. Kim So Eun sudah lama tidak ke sini!” ungkap salah seorang pegawai hotel. Entah benar atau tidak, yang pasti, keberadaan Kim So Eun sulit dilacak. Demikian juga dengan Kim Tae Hee, ibunya. Sejak berita miring yang melibatkan dirinya diungkap di media massa, ia ikut menghilang. Lalu, ke mana Kim Tae Hee?
“Bu, katakan dengan jujur, cerita itu tidak benar. ’kan?” tanya Kim So Eun, sambil berharap bahwa cerita itu hanya khayalan wanita yang bernama Han Ga In, untuk mencari sensasi. Mereka bersembunyi di sebuah rumah peristirahatan.
Kim Tae Hee diam. Matanya menerawang. Peristiwa kelam itu kembali menghiasi memorinya. Ya, mungkin inilah takdir hidup. Dulu. ia hidup susah dan telantar. Tapi, berkat putrinya, ia bisa menikmati hidup yang lebih layak. Sekarang, saat ia menikmati kebahagiaan itu, sosok Han Ga In yang bengis dan kejam hadir kembali. Seperti sebuah bom, Han Ga In kembali memorak-porandakan kebahagiaan Kim Tae Hee.
Dulu, ketika ia masih hidup bersama Song Seung Hun, Han Ga In merampas kebahagiaannya. Kini, kebahagiaannya dengan Kim So Eun kembali direnggut. Ya, ia dulu memang pernah membunuh. Tapi, hal itu dilakukannya untuk membela diri.
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 4)
Siang itu udara panas yang menyengat seakan membakar kota Incheon. Di sebuah perumahan sederhana, Kim Tae Hee yang sedang mengandung 2 bulan terus menguap. Ia mengantuk. Seharian ini ia lelah. Pekerjaan merapikan rumah yang seharusnya dilakukan oleh pembantunya, digantikannya.
Sudah seminggu pembantunya itu minta izin pulang kampong untuk menjenguk orang tuanya yang sedang sakit. Rasa lelah yang menyelimutinya sejak siang membuatnya terlelap, sehingga tidak menyadari ada tamu tak diundang menyelinap masuk kamarnya.
Tuhan, ampuni hamba-Mu jika harus melakukan perbuatan keji ini. Namun, tidak ada jalan lain yang harus aku lakukan untuk menolong ibuku. Jae Hee membatin. Dadanya sesak. Ia merasa tak sanggup, tapi ia harus melakukannya! Demi nyawa ibunya.
“Si… siapa kau?” tanya Kim Tae Hee, ketika melihat sesosok tubuh tinggi datang menyergapnya. Tiba-tiba saja tubuhnya dihempaskan berulang kali. Bagian belakang kepalanya membentur dinding. Darah segar mengalir dari kepalanya. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya buram. Ia baru menyadari bahwa maut akan segera mengintai nyawanya, jika ia tidak segera bertindak cepat.
Saat itu yang ada dalam benaknya adalah menyelamatkan diri. Sebelum ia membunuhku, aku dulu yang harus membunuhnya. Kim Tae Hee membatin. Setengah sadar, tangannya meraih laci meja di sebelah tempat tidur. Sebuah gunting teraba olehnya. Tanpa pikir panjang, ia menusukkan gunting itu ke tubuh pria tak dikenalnya. Berkali-kali. Yang ia tahu, ia harus selamat, agar bayinya juga selamat.
Suara gaduh dan teriakan minta tolong mengundang warga sekitar datang ke rumah Kim Tae Hee.
“Ny. Kim Tae Hee!” jerit Son Ye Jin, tetangga sebelah rumahnya, histeris. Sebuah pemandangan yang mengerikan. Di depannya dua manusia tergeletak dalam keadaan sekarat. Kim Tae Hee dan pria yang menyerangnya terkulai lemah dengan tubuh bersimbah darah.
Dalam kebingungan, Son Ye Jin membawa Kim Tae Hee dan Jae Hee ke rumah sakit. Keduanya mendapat penanganan yang sama di Unit Gawat Darurat. Peristiwa sangat menggeparkan itu mengundang polisi untuk menggali lebih lanjut motif di balik peristiwa pembunuhan itu.
Sadar bahwa hidupnya tak lama lagi akan berakhir, sadar bahwa tak ada gunanya berbohong, Jae Hee menceritakan keadaan sebenarnya.
“Saya hanya disuruh untuk membunuh Ny. Kim Tae Hee. Sebenarnya, saya tidak tega, karena saya tahu saat ini ia sedang hamil!” suara Jae Hee terdengar lemah, di antara tarikan napasnya yang tersengal.
“Siapa yang menyuruhmu?” polisi itu membentak.
“Ny. Han Ga In, istri muda Tn. Song Seung Hun, suami Ny. Kim Tae Hee!”
“Alamatnya di mana?”
Jae Hee pun memberikan kartu nama Han Ga In. Untunglah, nyawa Kim Tae Hee dan bayi yang dikandungnya selamat. Setelah kondisi tubuhnya berangsur baik, Kim Tae Hee diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Namun, proses hukum tetap berjalan. Apa pun alasannya, ia telah melenyapkan satu nyawa, walaupun saat itu nyawanya juga tengah terancam. Karena menjadi otak rencana pembunuhan, Han Ga In juga ikut mendekam di penjara.
Kim Tae Hee divonis 8 tahun penjara. Jauh lebih ringan dari keputusan hakim yang semula memutuskan 15 tahun penjara. Itu pun dirasakannya berat sekali. Sel penjara itu sangat menyiksanya. Tiga kali Kim Tae Hee berusaha bunuh diri, namun selalu gagal karena ketahuan oleh penghuni lain. Bayi mungil yang dilahirkan Kim Tae Hee terpaksa dititipkan pada Lee Yo Won, kakak tertua Kim Tae Hee.
Keluar dari penjara, Kim Tae Hee minta izin pada kakaknya untuk mencoba mencari pekerjaan di Seoul. Setelah berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak, barulah Kim Tae Hee berani mengambil Kim So Eun dan merawatnya sendiri. Selama dalam pengasuhan Lee Yo Won, Kim So Eun sering bertanya tentang keberadaan Ibunya. Lee Yo Won hanya mengatakan bahwa Ibunya akan segera pulang, meski Lee Yo Won sendiri tak tahu kapan pastinya.
“Majalah Instyle? Apakah saya bisa bicara dengan Lee Min Ho?” tanya Han Ga In.
Inilah kesempatanku menghancurkanmu, Kim Tae Hee. Jangan kira setelah kau bebas menghirup udara segar, kau akan berbahagia. Sekarang kau bahagia. Tapi, besok, kehancuran karier anakmu siap menanti. Aku akan membuka semua aib masa lalumu! Han Ga In berbisik dalam hati.
Setelah disambungkan dengan Lee Min Ho, Han Ga In mulai menjalankan strateginya. “Tn. Lee Min Ho, saya ingin memberikan informasi penting untuk Anda,” suara Han Ga In terdengar bersemangat.
“Informasi penting?”
“Ya, saya baru saja membaca tulisan Anda tentang kisah sukses Kim So Eun. Anda tahu siapa Kim So Eun dan Kim Tae Hee sebenarnya?”
“Yang saya tahu, Kim So Eun anak tunggal. Ibunya dulunya seorang penjahit dan ayahnya pelaut,” jawab Lee Min Ho.
“Anda percaya?”
“Mengapa tidak? Masa’ seorang artis seperti Kim So Eun bisa membohongi publik. Kalau ia berani melakukannya, ini akan merusak reputasinya.”
“Bohong besar jika dikatakan bahwa ayahnya seorang pelaut. Karena, Song Seung Hun, ayahnya Kim So Eun, dulunya adalah suami saya. Semenjak berpisah dari saya, ia jadi pengangguran, luntang-lantung entah di mana.”
“Lalu, apa hubungannya dengan Kim Tae Hee?” tanya Lee Min Ho, bingung.
“Kim Tae Hee adalah istri pertama Song Seung Hun. Setelah bercerai dari Kim Tae Hee, Song Seung Hun menikah dengan saya.”
“Berarti, Anda adalah ibu tiri Kim So Eun?” kata Lee Min Ho, menyimpulkan.
“Oh, tidak. Justru saya tidak pernah tinggal serumah dengan Kim So Eun. Karena, Kim So Eun itu lahir di penjara.”
Lee Min Ho terdiam. Bagaimana mungkin Kim So Eun lahir di penjara?
“Maaf, apa sebenarnya tujuan Anda memberikan informasi ini? Jangan-jangan, Anda hanya mencari sensasi agar ikut terkenal,” Lee Min Ho menebak.
“Untuk apa saya mencari sensasi? Saya justru ingin mengungkapkan fakta sebenarnya. Karena, Kim Tae Hee adalah pembunuh. Ia membunuh Jae Hee!”
“Siapa Jae Hee?”
“Anda bisa berkunjung ke tempat tinggal saya di Incheon. Saya akan memberikan informasi yang lebih jelas tentang Kim Tae Hee dan hubungannya dengan saya. Kapan Anda bisa datang?”
“Secepatnya!” kata Lee Min Ho, sambil berpikir keras.
“Baik, saya tunggu,” suara Han Ga In terdengar ramah. Keme¬nang¬an besar sebentar lagi akan digenggamnya. Dendam puluhan tahun yang selama ini dipendamnya sebentar lagi akan terwujud.
Kim Tae Hee seorang pembunuh? Rasanya tak masuk akal. Penampilannya yang keibuan dan tutur katanya yang lemah lembut sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia seorang pembunuh. Pembunuh berdarah dinginkah? Tapi, apa benar?
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 3)
Setelah selesai wawancara, Lee Min Ho minta izin melihat-lihat rumah Kim So Eun, sekaligus memotretnya.
“Cantik sekali fotonya, Nn. Kim So Eun. Tapi, kenapa foto yang dipajang hanya foto anda dan Ibu anda saja?” tanya Lee Min Ho, ketika melihat koleksi foto Kim So Eun dan ibunya yang tergantung cantik di dinding rumahnya yang mewah.
Kim So Eun tersenyum. “Saya ini anak tunggal. Hmm... pasti Anda nanti akan bertanya tentang foto Ayah saya, ’kan? Sebelum ditanya, saya akan menjawab, Ayah saya tidak senang difoto. Saat ini ia sedang berlayar ke luar negeri!” ujar Kim So Eun.
Karena sudah menebak bahwa Lee Min Ho akan menanyakan ayahnya, Kim So Eun sudah menyiapkan jawaban. Meskipun, ia sendiri sedih karena tidak pernah mengetahui wajah ayahnya.
Kim Tae Hee terkesiap. Ia tidak menyangka Kim So Eun akan berkilah seperti itu. Sebenarnya, ia tidak menghendaki putrinya berbohong. Namun, untuk menceritakan hal yang sebenarnya, Kim Tae Hee belum memiliki keberanian. Apa kata orang nanti ketika tahu bahwa Kim So Eun tidak pernah tahu keberadaan ayahnya, sementara ibunya adalah seorang pembunuh. Tidak! Aku tidak akan mengatakan semua ini pada Kim So Eun. Aku tidak ingin karier anakku hancur karena aib ini. Kim Tae Hee berbisik dalam hati.
“Ny. Kim Tae Hee, kalau boleh tahu, bagaimana masa kecil Kim So Eun?” tanya Lee Min Ho.
Kim Tae Hee bingung harus bercerita apa. Karena, ia baru membesarkan Kim So Eun setelah Kim So Eun berusia 10 tahun.
“Sama seperti anak kecil kebanyakan. Ada nakalnya, ada lucunya. Dulu, ketika saya masih bekerja sebagai penjahit, Kim So Eun ikut-ikutan menjahit. Sayangnya, ia menjahit pada pakaian yang sudah siap diambil, bukan pada kain perca. Akibatnya, pakaian itu rusak, sehingga saya harus membayar ganti rugi,” kata Kim Tae Hee, tertawa geli.
Kim So Eun ikut tertawa. Ia ingat, dirinya memang nakal.
”Baiklah, senang sekali saya bisa mengobrol banyak dengan Nn. Kim So Eun dan Ny. Kim Tae Hee. Sekarang saya potret, ya,” kata Lee Min Ho.
Ketika difoto, tangan Kim Tae Hee merangkul Kim So Eun. Rangkulan untuk melindungi putrinya tercinta. Ya, bagi Kim Tae Hee, Kim So Eun adalah segala-galanya. Permata hatinya, yang setiap saat harus selalu dijaga, jangan pernah rusak atau ternoda. Ia tidak mau putrinya hancur di tangan pria. Cukup dirinya yang mengalami kehancuran.
Di sebuah teras rumah di kawasan Taekgoo Avenue, Incheon, seorang wanita setengah baya terlihat begitu serius membaca sebuah majalah. Wanita itu bernama Han Ga In. Awalnya, ia membaca majalah hanya untuk menghilangkan kejenuhan setelah lelah merapikan rumah. Maklumlah, di rumahnya yang besar itu ia hanya tinggal seorang diri.
Kim Bum, putra semata wayangnya dari pernikahannya dengan Bae Soo Bin, kini bekerja dan tinggal di Paris. Sedangkan Song Seung Hun.... Ah, pria ini sudah lama hilang dari kehidupannya. Semula, ia pikir, Song Seung Hun akan menjadi suami yang setia dan bersih dari perselingkuhan. Namun, nyatanya, sama saja dengan Bae Soo Bin, mantan suaminya. Di rumah, Song Seung Hun memang bersikap mesra. Tapi, di luar rumah, ia sama berengsek-nya. Ia juga berselingkuh.
Tentu saja, hal ini membuat Han Ga In geram. Ia lalu memaksa Song Seung Hun untuk meninggalkan rumahnya, tanpa boleh membawa harta apa pun, kecuali baju yang melekat di tubuhnya. Untunglah, semua harta kekayaan yang dimilikinya atas nama Han Ga In. Apakah ini hukum karma? Entahlah…. Dulu, ia begitu gigih merebut Song Seung Hun dari pelukan Kim Tae Hee, tanpa mau peduli pada keadaan Kim Tae Hee yang saat itu tengah hamil muda.
Helai demi helai halaman majalah dibukanya. Semula Han Ga In tidak begitu serius membacanya. Hanya judul-judulnya saja, lalu dilewatkan ke halaman lain. Namun, ketika matanya tertuju pada halaman profil, matanya terbelalak. Lebih dari tiga kali ia memeriksa foto yang terpasang di majalah itu. Seolah tidak percaya, ia membaca artikelnya lagi berulang kali: ”Masa kecil Kim So Eun tidak dilewati dengan kebahagiaan yang sempurna. Karena, ia hidup berdua saja dengan ibunya, Kim Tae Hee, yang seorang penjahit. Sementara, sang ayah, pergi berlayar dan entah kapan akan kembali.”
Hah, Kim So Eun adalah anak Kim Tae Hee? Wanita yang pernah menghancurkan hidupku? Rupanya, ia masih hidup. Hmm… aku tidak bisa membiarkan dirinya hidup lebih lama dan menikmati kebahagiaan. Aku harus menghancurkannya. Harus!
Amarah Han Ga In kembali menggelora. Dadanya seakan mau meledak. Seperti sebuah film yang diputar di depan mata, ingatannya diserbu oleh cerita kelam sekitar 20 tahun lalu.
”Mengapa harus dibunuh? Bukankah kau sudah mendapatkan Song Seung Hun?” tanya Jae Hee, ketika Han Ga In memintanya untuk membunuh Kim Tae Hee, istri Song Seung Hun.
“Aku tidak mau ada wanita lain dalam kehidupan Song Seung Hun. Kau ingat, bagaimana Bae Soo Bin yang dulu aku percaya sebagai seorang suami setia, ternyata ia juga sanggup melakukannya. Kau tentunya juga masih ingat, bagaimana kita bermain kucing-kucingan untuk menjebak perbuatan Bae Soo Bin, yang semula tidak mau mengaku?”
“Ya, ketika itu kau sampai mau bunuh diri,” ujar Jae Hee, mengingatkan.
“Ya, waktu itu aku kalut. Aku bingung. Rasanya, hidup ini sudah tidak ada artinya. Bae Soo Bin yang aku percaya justru berkhianat. Bahkan, ia tega meninggalkan aku, tanpa mempedulikan keadaanku dan Kim Bum, yang waktu itu masih berumur 1 tahun. Sekarang, aku tidak mau peristiwa itu terjadi lagi dalam kehidupanku. Aku tidak mau ada wanita lain, selain aku, dalam kehidupan Song Seung Hun.”
“Tapi, bukankah mereka sudah bercerai?” selidik Jae Hee.
“Menurut Song Seung Hun begitu. Tapi, sampai sekarang surat perceraian itu belum pernah aku lihat. Namun, aku tidak peduli apakah mereka sudah bercerai atau belum. Yang pasti, aku tidak mau Song Seung Hun berhubungan lagi dengan mantan istrinya. Apalagi, yang aku dengar sekarang, Kim Tae Hee tengah hamil. Bisa-bisa, ia kembali berpaling dan meninggalkanku!”
“Hamil?” tanya Jae Hee, terenyak. Ia harus membunuh wanita yang sedang berbadan dua?
“Kenapa? Kau takut? Kalau kau tidak mau, tidak masalah. Aku akan membayar orang lain untuk melenyapkannya. Tapi, kembalikan dulu uang yang pernah kau pinjam!” ancam Han Ga In.
Jae Hee bimbang. Demi bayaran berapa pun, ia tidak sanggup membunuh seorang wanita. Apalagi, wanita yang tengah mengan¬dung. Tidak tega. Namun, saat ini ia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan ibunya yang mengalami gagal ginjal. Seminggu 2 kali ibunya harus cuci darah. Itu memerlukan banyak sekali biaya. Satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Han Ga In, karena ia memang kaya.
“Bagaimana?”
Jae Hee mengangguk lemas. Tidak ada pilihan lain. Kondisi ibunya yang makin lemah harus segera diselamatkan. Berapa pun biayanya.
“Bagus! Ini uangnya. Baru sebagian. Sisanya akan aku berikan setelah kau berhasil menjalankan perintahku,” ujar Han Ga In, sambil menyerahkan tumpukan lembaran uang ratusan ribu di atas meja.
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 2)
“Tapi, saya baru bisa diwawancara, kalau syutingnya sudah selesai.
“Saat break tidak boleh?” Lee Min Ho menawar.
“Lihat nanti, ya. Asal tidak mengganggu, rasanya bisa saja.”
“Baiklah, saya janji tidak akan mengganggu. Terima kasih banyak, Nn. Kim So Eun. Sampai jumpa besok!”
Kim So Eun menutup ponselnya. Malam kian larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 24.00. Namun, matanya sulit sekali untuk dipejamkan. Jarum jam terus bergulir. Kim So Eun menatap kembali, ke arah jam dinding. Sudah pukul 3 pagi! Mengapa aku segelisah ini? Kenapa aku tidak bisa tidur? Padahal, tadi mata ini sudah mulai redup.
Kim So Eun kembali membaca naskah skenario dengan serius, supaya matanya lelah dan kemudian tertidur. Namun, tidak bisa juga. Apakah aku harus membangunkan Ibu? Tapi, kasihan, Ibu pasti sudah tertidur lelap.
Di rumahnya yang besar, Kim So Eun hanya tinggal bersama ibu dan 2 pembantu. Semuanya perempuan. Tiba-tiba perasaannya tidak nyaman. Bulu kuduknya berdiri. Ada rasa takut menghantuinya. Kim So Eun langsung berlari menuju kamar ibunya. “Bu, buka, Bu!” Kim So Eun mengetuk pintu kamar Kim Tae Hee dengan napas tersengal.
“Ada apa, Kim So Eun?” tanya Kim Tae Hee, sambil membukakan pintu dengan mata tampak mengantuk. Tidak biasanya putrinya seperti ini datang ketakutan.
“Aku tidak bisa tidur, Bu. Tadi bulu kudukku berdiri. Kata orang, kalau bulu kuduk berdiri, itu tandanya ada makhluk halus yang lewat,” ujar Kim So Eun, masih dengan nada takut.
“Ah, itu hanya perasaanmu saja. Kau mungkin lupa berdoa sebelum tidur,” kata ibunya.
Kim So Eun tersenyum malu.
Benar saja, ketika Kim So Eun selesai memanjatkan doa, ada rasa tenang di hatinya. Dalam dekapan sang bunda, Kim So Eun tertidur lelap, tanpa harus dihantui perasaan takut lagi.
“Hai, Park Shin Hye, apa kabar? Kim So Eun ada di mana?” tanya Lee Min Ho pada Park Shin Hye, asisten pribadi, di lokasi syuting.
“Kau sudah membuat janji dengan Kim So Eun?” tanya Park Shin Hye.
”Ya, tentu saja!” kata Lee Min Ho.
“Lalu, Kim So Eun bersedia?” tanya Park Shin Hye, curiga.
“Kalau dia tidak bersedia, tidak mungkin aku susah payah datang ke sini,” kata Lee Min Ho, kesal.
“Selamat sore, Tn. Lee Min Ho. Sudah lama menunggu?” sapa Kim So Eun, ramah.
“Ya… cukup lama juga. Saya malah diwawancara oleh Park Shin Hye!”
”Park Shin Hye, Ini Lee Min Ho yang sering aku ceritakan itu. Wartawan yang punya sifat humoris yang tinggi. ” kata Kim So Eun.
Lee Min Ho tertawa.
“Ya, sudah, kita wawancara di rumah saja, ya. Syutingnya sudah selesai.”
Bagi Lee Min Ho, wawancara di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting, ia bisa menggali banyak hal tentang Kim So Eun. Jujur saja, untuk mewawancarai artis seperti Kim So Eun bukanlah hal yang mudah. Banyak rekan sesama wartawan yang mengalami kesulitan setiap kali ingin melakukan wawancara. Banyak alasan yang dikemukakan Kim So Eun untuk menolaknya. Makin didesak, Kim So Eun makin mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu pergi dan meninggalkan senyum.
Tapi, tanpa kesulitan Lee Min Ho begitu mudah merebut hati wanita itu sehingga ia tak pernah keberatan jika diwawancara. Tapi, baru kali ini Kim So Eun mengajaknya wawancara di rumah.
“Tn. Lee Min Ho, perkenalkan, ini Ibu saya!” ujar Kim So Eun, memperkenalkan sang Ibu sesampainya di rumah.
Penuh kehangatan Kim Tae Hee menyambut putri semata wayangnya dengan ciuman. Ini memang sebuah kebiasaan yang tak pernah ingin ia tinggalkan. Hubungan keduanya akrab. Tidak saja sebagai ibu dan anak, melainkan juga sebagai sahabat.
Setelah saling berjabat tangan, Kim Tae Hee mempersilakan Lee Min Ho untuk duduk di ruang tamu, lalu ia beranjak ke ruang tengah.
”Bu, temani aku, ya,” pinta Kim So Eun.
Agak ragu Kim Tae Hee menatap Lee Min Ho. “Apa boleh?” tanyanya.
“Boleh saja, Ny. Kim Tae Hee. Tidak ada masalah. Apalagi, yang ingin saya diskusikan adalah perjalanan karier Kim So Eun. Biasanya, setiap kali saya mewawancara Kim So Eun, yang saya tanyakan hanyalah konfirmasi seputar gosip yang beredar tentangnya. Tapi, kali ini, saya ingin membuat profilnya secara lengkap,” kata Lee Min Ho.
Kim Tae Hee tersenyum, sambil mengangguk.
“Jadi, sejak kapan anda merintis karier di dunia entertainment?” tanya Lee Min Ho, memulai wawancaranya.
“Sejak 10 tahun lalu. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. Suatu hari, saya sedang jalan-jalan ke mal, lalu bertemu seseorang yang menawarkan untuk ikut model iklan. Awalnya, takut. Apalagi, saya sama sekali tidak mengerti tentang hal seperti ini. Sebelum saya bisa memberi jawaban, orang itu lalu memberi kartu nama. Ketika saya tunjukkan pada Ibu, Ibu kemudian menelepon orang itu. Yah, akhirnya, jadi seperti ini,” kata Kim So Eun, sambil bergelayut manja pada lengan ibunya.
“Lalu?”
”Ketika itu, saya tidak memegang posisi sebagai peran utama. Hanya numpang lewat. Tapi, sejak itu saya mendapat beberapa tawaran untuk iklan. Setelah itu, mulai ada tawaran main drama seri.”
”Hebat sekali. Apakah perjalanannya memang semulus itu?” selidik Lee Min Ho.
“Tidak juga. Kadang-kadang, saya menemukan kerikil-kerikil kecil!”
“Contohnya?”
“Banyak juga yang iri dan berusaha menjatuhkan karier saya. Tapi, kalau ingin maju, saya harus menghadapi tantangan itu.”
“Bagaimana dengan kekasih?”
“Saat ini, saya ingin berkonsentrasi di karier. Untuk menjalin hubungan serius, saya menunggu saat yang tepat,” kata Kim So Eun.
“Atau, jangan-jangan, calon kekasih Kim So Eun diseleksi ketat oleh Ny. Kim Tae Hee?” tanya Lee Min Ho pada Kim Tae Hee.
“Sejauh ini saya memberikan kebebasan penuh pada Kim So Eun untuk menentukan pilihan hidupnya. Saya hanya berpesan agar ia mencari pria yang baik, penuh tanggung jawab, dan tidak materialistis!”
Ya, Kim Tae Hee memang memberikan kebebasan pada putrinya untuk menentukan pasangan hidup. Hanya, masa kelam yang dulu pernah dialaminya membuat Kim Tae Hee begitu selektif pada setiap teman pria Kim So Eun. Karena, dulu, gara-gara suaminya terjerat cinta Han Ga In, seorang wanita kaya yang baru bercerai, Song Seung Hun rela meninggalkan dirinya, yang saat itu tengah hamil muda.
Penderitaan Kim Tae Hee tidak sampai di situ. Han Ga In masih berusaha untuk melenyapkan Kim Tae Hee dengan cara menyewa pembunuh bayaran. Tapi, Tuhan memang baik. Kim Tae Hee bisa menyelamatkan nyawanya. Meskipun, untuk mempertahankan dirinya, ia harus mendekam di penjara. Karena, ia kemudian berbalik membunuh Jae Hee, pembunuh bayaran itu.
Bersambung…
Biarlah Rahasia (Chapter 1)
Cantik, muda, dan cerdas. Kesan ini terlihat pada Kim So Eun. Berbekal segala kesempurnaan fisik dan kepandaian, jalannya di dunia entertainment semakin mulus. Ia bukan artis sinetron yang hanya muncul sesekali saja sebagai bintang figuran. Nama Kim So Eun memiliki nilai jual yang tinggi. Kemampuan aktingnya tidak diragukan. Ia mampu menyihir penonton untuk tidak beranjak dari layar televisi.
Setelah dirinya berhasil meraih predikat Pemeran Wanita Terbaik di sejumlah ajang penghargaan, namanya makin melambung sehingga jadi rebutan banyak produser Drama Seri. Tak peduli berapa pun harga yang diminta Kim So Eun untuk setiap episodenya, pasti akan dikabulkan. Karena, namanya sudah menjadi jaminan bahwa Drama Seri yang dibintanginya akan sukses.
Di usianya yang tergolong masih belia, hidup Kim So Eun sudah bergelimang harta. Sebut saja 2 rumah mewah di kawasan elite Seoul yang jika ditaksir harganya di atas 3 miliar, beberapa mobil mewah, deposito, dan investasi berupa tanah. Kerja kerasnya selama 10 tahun di dunia hiburan membuahkan hasil yang menakjubkan.
Padahal, ketika masih duduk di bangku SMP, Kim So Eun hanyalah seorang gadis dari keluarga sederhana. Selama ini ia tinggal bersama Kim Tae Hee, ibunya, yang bekerja sebagai penjahit. Sedangkan ayahnya tidak jelas keberadaannya. Karena, sejak terlahir ke dunia, Kim So Eun tidak pernah mengenal sosok seorang ayah dalam kehidupannya.
“Bu, hmm… apakah aku punya Ayah?” tanyanya suatu hari dengan takut-takut.
Kim Tae Hee, yang saat itu sedang membuat pola pakaian, berhenti sebentar, lalu menengok sekilas ke arah putrinya. “Punya,” jawabnya singkat. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya
“Kalau punya, kenapa aku tidak pernah melihatnya?” protes Kim So Eun.
“Ayahmu pergi berlayar jauh ke luar negeri,” jawab Kim Tae Hee, tak acuh.
“Luar negeri?” tanya Kim So Eun, takjub.
Benarkah ayahnya seorang pelaut? Berarti, ia anak orang kaya. Karena, pelaut kan uangnya banyak. Tapi, mengapa sampai saat ini ibunya masih banting tulang menjahit hingga larut malam demi mendapatkan uang? Lalu, dikemanakan uang yang dari ayahnya?
“Bu, kalau Ayah seorang pelaut, mengapa Ibu masih bersusah payah mencari uang? Bukankah Ayah mengirim uang setiap bulan?” tanya Kim So Eun, menyelidik.
“Sudahlah, Kim So Eun, Ibu lelah. Besok saja kita mengobrol lagi. Ibu mengantuk! Sekarang, kau tutup gorden, periksa pintu, apakah sudah terkunci semua. Akhir-akhir ini di daerah kita banyak maling!” ujar Kim Tae Hee, sambil menguap.
Begitulah. Kim Tae Hee selalu menghindar setiap kali putri semata wayangnya bertanya tentang keberadaan ayahnya, Song Seung Hun. Cerita kelamnya itu sudah lama dikubur dalam-dalam. Untuk mengingatnya saja, ia merasa sakit hati, sedih, dan kecewa, apalagi untuk menceritakan kepada putrinya. Ah… bukanlah hal yang mudah. Perlu persiapan mental. Membuka aib masa lalu sama saja dengan menelanjangi dirinya. Belum tentu Kim So Eun bisa menerima penjelasan tentang mengapa mereka hanya hidup berdua saja.
Sering kali, perasaan berdosa menyelimuti hatinya. Rasanya, ia tidak tega untuk selalu berbohong dan menghindar setiap kali Kim So Eun menanyakan ayahnya. Tapi, apa mau dikata, ketika itu Kim So Eun masih terlalu muda untuk mengetahui persoalan orang dewasa.
Kim Tae Hee takut, jiwa putrinya akan terguncang, jika ia tahu siapa dirinya, ayahnya, dan wanita lain dalam kehidupan ayahnya, yang telah merusak kebahagiaan Kim Tae Hee. Sekitar 10 tahun lalu, Kim Tae Hee meninggalkan Incheon, kota tempat ia tinggal bersama Song Seung Hun, suaminya. Namun, sejak kehidupannya hancur, ia meninggalkan kota itu dan merantau ke Seoul. Sedangkan Kim So Eun, Kim Tae Hee baru berani mengambilnya dari rumah kakaknya, ketika ia sudah mendapat pekerjaan tetap sebagai penjahit di perusahaan konfeksi.
“Benar kau sudah mempunyai pekerjaan tetap di Seoul?” tanya Lee Yo Won – Kakak Kim Tae Hee, ketika Kim Tae Hee mengutarakan maksudnya untuk mengambil putrinya yang sejak bayi ia titipkan.
“Benar, Eonni. Aku sekarang bekerja di perusahaan konfeksi,” ujar Kim Tae Hee.
“Tapi, apa gajimu bisa untuk menghidupi kalian berdua? Ingat, Kim Tae Hee, hidup di Seoul itu susah. Apalagi, kalau penghasilanmu pas-pasan. Cobalah pikirkan kembali keputusanmu itu!”
“Eonni, aku berterima kasih selama ini kau bersedia merawat Kim So Eun dengan penuh kasih sayang. Namun, untuk menebus dosaku selama ini, yang telah menelantarkannya, izinkan aku untuk membesarkannya. Bisa atau tidak bisa, aku harus bertahan hidup di Seoul. Aku yakin, kalau ada kemauan, pasti Tuhan membukakan jalan. Yakinlah, Eonni, aku tidak akan menelantarkan darah dagingku sendiri!”
Walaupun berat, Lee Yo Won akhirnya melepaskan Kim So Eun, yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri, untuk diasuh oleh ibu kandungnya.
“Kim Tae Hee, jaga Kim So Eun! Jangan biarkan ia bergaul dengan sembarang orang. Ingat! Seoul itu rawan! Jika salah pergaulan, ia bisa terjerumus. Aku ingin Kim So Eun punya masa depan. Menjadi orang yang bisa dibatidakan. Setelah kau melangkahkan kaki dari kota ini, lupakan semua kehidupan kelam yang pernah kau lalui. Biarlah itu menjadi buku hitammu. Harapanku, kau dan Kim So Eun bisa hidup bahagia,” kata Lee Yo Won, panjang lebar.
“Terima kasih, Eonni. Doakan aku berhasil dengan kehidupan baruku.”
Suara Kim So Eun membuyarkan lamunan Kim Tae Hee. “Bu, sudah rapi. Semua pintu sudah dikunci. Kenapa, Ibu bengong?”
“Tidak, Sayang…. Ya, sudah, kalau semua sudah beres, kita sekarang tidur saja, ya!” ajak Kim Tae Hee, sambil menggandeng Kim So Eun menuju kamar.
Ponsel Kim So Eun berdering keras saat ia sedang bersantai membaca skenario, yang baru diterimanya dari produser.
“Dengan Nn. Kim So Eun? Ini Saya, Lee Min Ho. Saya ingin wawancara dengan Anda besok. Ada waktu?”
“Hmm… Lee Min Ho? Dari majalah Instyle, ya?”
Kim So Eun coba mengingat-ingat. Selama ini ia cukup selektif dalam hal wawancara. Ia tidak mau sembarangan menerima wawancara dari media. Bukan karena sombong. Tapi, ia tidak mau karier yang sudah dirintisnya dari bawah hancur karena pemberitaan media yang simpang siur.
“Betul,” kata Lee Min Ho.
“Ya, ya, saya ingat sekarang,” suara Kim So Eun terdengar riang.
Hubungan Kim So Eun dengan Lee Min Ho sudah terjalin cukup baik. Untuk Lee Min Ho, Kim So Eun tidak pernah pelit berbagi cerita. Sebab, da¬lam wawancara-wawancara sebelumnya, Lee Min Ho selalu bisa mengakrabkan suasana.
“Jadi, kapan punya waktu? Besok bisa?”
“Hmm, tunggu, saya lihat agenda kerja saya dulu. Pagi ada pemotretan untuk sampul majalah, siang ada syuting Drama Seri, malam saja, ya.”
“Ya, ampun, padat sekali. Tapi, kalau malam, saya tidak bisa. Deadline sudah menunggu.”
“Kalau tidak bisa, ya, sudah.”
“Jangan begitu, Nn. Kim So Eun. Bagaimana kalau saya datang ke lokasi syuting?” pinta Lee Min Ho.
Lama Kim So Eun berpikir. Saat bekerja, ia ingin berkonsentrasi penuh. Ia jarang bersedia diwawancara di lokasi syuting karena akan mengganggu.
Bersambung…
Rabu, 01 Juni 2011
Magic Girl (FF)
Title : Magic Girl
Genre : Romance, Friendship
Author : Sweety Qliquers
Episode : 11 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 31 Maret 2011, 02.47 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Extended Cast :
School People :
Han Chae Young
Kang Ji Hwan
Kim Eugene
Jung So Min
Park Ji Yeon
Moon Geun Young
Park Shin Hye
Go Ah Ra
Shim Changmin (TVXQ)
Jung Yunho (TVXQ)
Other People :
Han Ga In
Kim Ha Neul
Im Yoona (SNSD)
Kwon Yuri (SNSD)
Magic Girl
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11 - Tamat
Magic Girl (Chapter 2)
Pagi yang cerah. Kim So Eun melompat turun dari sepedanya. Ia ingin lebih lama menikmati perjalanan menuju sekolah. Jalan masuk dari gerbang menuju kompleks sekolah mereka sangat panjang dan indah.
Di kanan-kiri begitu banyak yang bisa dinikmati lantaran alam yang masih asri. Pohon-pohon besar di tengah hamparan rumput. Kadang di musim seperti ini, daun-daun yang berguguran menciptakan permadani kuning tebal yang mengundang siapa pun untuk menghempaskan diri di kelembutan alami itu.
Kim So Eun menghirup udara pagi yang sejuk itu dalam-dalam... sebanyak paru-parunya dapat menampung. Seandainya saja cukup waktu, betapa ingjn Kim So Eun sesaat berhenti di hutan kecil itu sambil membaca buku dan memakan bekal rotinya. Pasti nikmat sekali, khayalnya.
Digiringnya sepedanya perlahan. Kring... kring...
Kim So Eun terkejut dan segera minggir, mendengar klakson sepeda lain dari arah belakang. "Hai... melamun, ya?" seru Kim Bum sambil melompat turun dari sepeda sport hitamnya yang berkilat ditimpa sinar matahari pagi. Kim So Eun ternganga, tak percaya pada apa yang dialaminya.
"Pagi yang cerah seperti ini memang kadang memaksa kita melamun, berkhayal, dan menghasilkan suatu inspirasi. Benar tidak?" tanya Kim Bum Jenaka.
"Ah..." Kim So Eun menahan tawanya. Hatinya berdegup kencang.
Kim Bum, pemuda paling tampan di sekolah ini, kini berjalan mendampinginya. Bersama-sama mereka menenteng sepeda masing-masing, sepanjang jalan menuju sekolah. Sungguh sukar dipercaya! Membayangkannya saja Kim So Eun tak pernah berani.
"Kau selalu berangkat sepagi ini, Kim So Eun?" tanya Kim Bum sambil menatapnya.
"Ya." Kim So Eun mengangguk.
"Ck... ck... ck..." Kim Bum geleng-geleng kepala dan berdecak kagum.
"Kenapa?"
"Sayang..."
"Sayang?" Kim So Eun tak menangkap maksud Kim Bum.
"Ya... sayang sekali aku baru mengetahuinya sekarang.... Kalau aku tahu, sejak lama akan kubiasakan diri bangun pagi supaya bisa berangkat ke sekolah denganmu setiap pagi."
"Ah, kau jangan mengejekku seperti itu," tutur Kim So Eun jengah.
"Tidak aku serius." Kim So Eun mencibir. Padahal dalam hatinya jantungnya nyaris berhenti berdetak. Setiap pagi berjalan bersama Kim Bum? Olala...
"Besok... kau tunggu aku di gerbang ya... dan ki..."
"Kim Bum!" seseorang meneriakkan nama Kim Bum.
Serempak Kim Bum dan Kim So Eun menoleh ke belakang dan terlihat Jung So min mengayuh sepedanya dengan susah-payah untuk mengejar mereka.
"Asthagha..." Jung So Min terengah ketika akhirnya Kim Bum dan Kim So Eun tersusul juga.
"Eh... aku duluan..." Kim So Eun naik ke sadel sepeda dan melambaikan tangan pada Jung So Min dan Kim Bum.
"Hei, mau ke mana?" panggil Kim Bum seperti kecewa.
"Aku harus buru-buru... harus mengurus sesuatu ke tata usaha. Bye." Kim So Eun tersenyum sumbang.
"Bagaimana janji kita besok?" teriak Kim Bum lagi sambil berlari kecil dan akhirnya ikut melompat ke atas sepedanya dan mulai mengayuh. Sementara Jung So Min mengikuti dari belakang. Kim So Eun mengangkat bahunya. Ia betul-betul tak tahu harus menjawab apa. Sementara hatinya memaksa kepalanya mengangguk dan bibirnya berseru, Ya!!! Matanya yang melihat kehadiran Jung So Min malah membungkam segala hasrat itu. Tidak, Kim Bum hanya berbasa-basi dengan ajakan dan obrolan tadi. Pasti tadi Kim Bum sebetulnya menunggu Jung So Min, dan karena Jung So Min tak kunjung datang Kim Bum terpaksa berjalan bersamaku, Kim So Eun berusaha memadamkan kegembiraan di hatinya dan mengubur harapan yang bersemi lantaran ucapan Kim Bum tadi.
Jung So Min dan Kim Bum adalah pasangan yang serasi, batin Kim So Eun lagi. Seorang pemuda sepopuler dan setampan Kim Bum tak pantas berpasangan dengan gadis kurang pergaulan dan aneh sepertiku, pikir Kim So Eun sedih. Harapan tak perlu tumbuh karena hanya akan mendatangkan kekecewaan. Gadis kecil sepertiku menurut Ibu belum waktunya untuk menyukai seorang pria. Yang utama adalah belajar! Kim So Eun mencoba menegarkan hatinya dengan mengingat kata-kata Ibu.
Tapi... Kim Bum memang tampan... dan semua gadis berlomba menarik perhatiannya. Kim So Eun tertunduk dan memarkir sepedanya di antara puluhan sepeda lain di sayap kiri kompleks sekolah.
Kim Bum. Seorang aktifis sekolah, jagoan basket, dan berwajah imut-imut. Penampilannya sederhana, tapi jantan. Dadanya bidang, kakinya panjang, dan tubuhnya tinggi, berimbang dengan berat badannya. Rahangnya keras, menandakan keteguhan hati. Namun matanya lembut mengisyaratkan persahabatan dan kasih sayang.
Sungguh Tuhan telah menciptakan seorang manusia, pemuda yang mendekati sempurna, pikiran Kim So Eun masih pada Kim Bum. Kim Bum yang tadi pagi berjalan di sebelahnya dan mengajaknya berangkat bersama setiap pagi. Ah... Kim Bum lebih menarik daripada pelajaran biologi yang tengah diterangkan Mrs. Kim Eugene di depan kelas.
Sejak lama Kim So Eun tertarik pada Kim Bum. Rasanya inilah satu-satunya persamaan Kim So Eun dengan gadis-gadis lain. Dalam hal selera memilih pria, ternyata Kim So Eun masih normal. Tapi perasaan rendah dirinya membuatnya selalu menghindari Kim Bum.
Setiap kali yang muncul hanya keinginan dan impian belaka. Tapi tatkala kenyataan telah hadir di depan mata dan kesempatan terbuka seperti pagi tadi... yang muncul hanyalah kebodohan-kebodohan yang merugikan diri sendiri.
Kim So Eun mencoret-coret kertas di hadapannya dengan hati galau. Belum pernah ada hal-hal yang membuatnya tak memusatkan diri pada pelajaran. Biasanya bagi Kim So Eun pelajaran adalah segala-galanya. Tapi hari ini, gara-gara seorang Kim Bum, catatan biologinya kosong-melompong....
Teng... teng... teng..
“...anak-anak, saya pikir be..." Dan, seperti biasanya sebelum ucapan Mrs. Kim Eugene usai, murid-murid sudah menghilang ke luar kelas. Dan seperti biasanya pula, Kim So Eun dapat giliran paling belakang. Kacamatanya merosot lagi.
"Heh!" Langkah Kim So Eun terhenti. Ia dihadang oleh Moon Geun Young, gadis sombong, terkenal nakal, dan berkali-kali tinggal kelas. Moon Geun Young selalu ditemani sahabat-sahabat setianya. Mereka terkenal suka membuat onar dan bertindak seenaknya karena merasa jagoan. Karena tak ada seorang gadis lain pun yang berani melawan mereka.
"Mana catatan biologimu? Pinjam!" Moon Geun Young mengulurkan tangannya, meminta dengan kasar.
"Eh... aku tak mencatat hari ini...," sahut Kim So Eun gemetar.
"Ah... bohong! Dasar pelit!! Cepat berikan padaku!" Moon Geun Young menyodok perut Kim So Eun dengan tangannya.
"Aduh... a..aku betul-betul..."
"Betul, Moon Geun Young, hari ini dia tidak mencatat, aku melihatnya. Sejak pelajaran dimulai ia cuma melamun sambil sesekali senyum-senyum sendiri seperti orang gila." Park Shin Hye menimpali.
"Melamun? Orang sepertimu bisa melamun?" Moon Geun Young tersenyum sinis. Membuat Kim So Eun semakin gemetar, ciut ketakutan.
"Pasti sesuatu yang istimewa telah terjadi," pancing Park Shin Hye lagi.
"Ah, aku tahu!" Moon Geun Young menjentikkan jarinya, melirik penuh arti. "Tadi pagi aku melihat pangeran berjalan dengan itik buruk rupa.,.."
Kim So Eun tercekat. Jadi mereka melihatnya bersama-sama Kim Bum tadi pagi?
"Kalian pacaran, ya?" desak Park Shin Hye setengah berteriak.
"Ti..tidak...."
"Bohong!"
"Sungguh... ta..tadi cuma kebetulan," kilah Kim So Eun hampir menangis. Kacamatanya melorot berkali-kali, tapi ia tak berani bergerak membetulkannya.
"Awas ya, Kim Bum adalah calon pacarku! Kalau kau berani-berani... uh...." Moon Geun Young menatap gemas pada Kim So Eun, seolah ingin menelannya. Kim So Eun meringkuk bagai tikus yang akan dimangsa kucing. Semua orang tahu bahwa Moon Geun Young juga mati-matian hendak mendapatkan Kim Bum. Di hadapan Kim Bum, Moon Geun Young selalu bersikap manis dan lembut karena ia tahu Kim Bum tak suka gadis kasar dan nakal.
“Tampar saja sekali. Moon Geun Young, biar kapok," Park Shin Hye memanas-manasi.
"Ja..jangan..." Kim So Eun meronta.
"Kim So Eun!"
Kejadian yang mengerikan itu terhenti sesaat koridor yang tadinya hanya berisi Kim So Eun, Moon Geun Young, dan Park Shin Hye kini bertambah satu penghuninya.
"Kim Bum..." Moon Geun Young spontan melepaskan cekalannya pada lengan Kim So Eun dan merapikan rambutnya dengan jari-jarinya.
Kim So Eun menghela napasnya lega.
Dibetulkannya letak kacamatanya yang melorot di hidung.
"Kau baik-baik saja, Kim So Eun?" Kim Bum menghampiri Kim So Eun dan hendak menyentuh bahunya, tapi Kim So Eun menghindar.
"Ya... Aku tidak apa-apa...eh... aku pulang dulu.... bye." Kim So Eun melambai dan segera berlalu dari hadapan Kim Bum dan Moon Geun Young.
Kim Bum menatap kepergian Kim So Eun dengan rasa heran. Aneh, gadis-gadis lain berlomba-lomba menarik perhatiannya. Tapi Kim So Eun... kutu buku langganan juara kelas itu malah menghindari Kim Bum. Setiap kali. Tak sekali pun Kim Bum berhasil menciptakan percakapan yang hangat, obrolan yang akrab bersama Kim So Eun.
"Eh, Kim Bum... Kau mau mengajakku pulang bersama?" tanya Moon Geun Young genit sambil mengedip-ngedipkan matanya. Kim Bum meringis mual.
"Lain kali saja, ya? Dan lain kali itu tak akan pernah ada bila kulihat sekali lagi kau mempermainkan Kim So Eun! Oke?" tukas Kim Bum tegas tapi santai.
Moon Geun Young hanya melongo. Bukk...! Ditinjunya tembok dengan kepalannya.
"Aduuh!" Moon Geun Young memegangi tangannya, kesakitan sendiri. Senjata makan tuan! Hah! Rasakan!
"Aku tidak mengerti, Kim So Eun," bisik Jung So Min sambil pura-pura mengerjakan soal kimia yang diberikan Prof. Kang Ji Hwan siang itu.
"Sebentar..." Kim So Eun asyik mengerjakannya. Sesekali Jung So Min melirik ke arah Kim So Eun, mencoba mengintip tulisan Kim So Eun. Tapi toh percuma saja... jawaban boleh sama, nilai bisa sama, tapi kalau tidak mengerti, apa gunanya?
"Pulang sekolah nanti ajari aku ya, Kim So Eun? Mau, kan?" pinta Jung So Min.
Kim So Eun mengangguk. Ia senang karena ternyata masih ada yang dapat dilakukannya untuk orang lain. Ya... dengan segala keanehan yang membuat orang menjauhinya, ternyata ia masih punya satu kelebihan.
"Kurasa, Prof. Kang Ji Hwan tidak cocok mengajar di SMA," komentar Jung So Min lagi.
"Kenapa?"
"Dia terlalu genius, coba perhatikan cara dia mengajar... sepertinya kita ini sama geniusnya dengan dia," gerutu Jung So Min.
"Aku tak keberatan dengan cara Profesor mengajar," ujar Kim So Eun jujur. Jung So Min menatapnya sesaat.
"Ya... itu karena kau sama geniusnya seperti Prof. Kang Ji Hwan."
"Ah, tidak mungkin," Kim So Eun merendah. Disodorkannya pekerjaannya pada Jung So Min agar dapat segera disalin. Waktu tinggal lima menit lagi dan Jung So Min dengan cekatan menyalin pekerjaan Kim So Eun ke atas kertasnya.
"Tapi nanti aku diajari sampai mengerti, ya?"
Kim So Eun mengangguk menjanjikan.
"Ya... waktu habis. Kumpulkan!" seru Prof. Kang Ji Hwan. Sementara seorang anak mengumpulkan kertas, sang profesor mulai membaca daftar absen, mencari-cari mangsa. Anak-anak diam, suasana kelas hening, menanti siapa gerangan yang bernasib sial hari ini. Siapa gerangan yang diminta maju mengerjakan soal ke papan tulis. Siapa gerangan yang hari ini jadi korban bentakan sang profesor genius itu?
"Kim So Eun!"
Terdengar helaan napas mereka yang merasa bukan namanya.
Kim So Eun bangkit dengan tenang dari kursinya dan melangkah ke papan tulis. Sesaat kemudian Kim So Eun malah asyik sendiri di papan tulis, mengerjakan soal-soal yang seluruhnya berjumlah tiga nomor itu. Padahal seharusnya setiap anak hanya mengerjakan satu saja.
“Hei! Kenapa kau kerjakan semuanya?" tanya Profesor terkejut waktu memeriksa hasil pekerjaan Kim So Eun di papan tulis.
"Oh., maaf... maaf, Profesor, saya keasyikan...."
"Keasyikan?" pekik Profesor makin heran.
"Eh.. ma..maaf, Profesor, bu..bukan maksud saya... keterusan... eh..."
Profesor memicingkan matanya meneliti jawaban Kim So Eun dan ia terkejut waktu menyadari bahwa tak satu pun yang salah. Sementara kelas mulai gaduh. Dialog Kim So Eun dan Profesor barusan rupanya cukup lucu dan mengundang tawa.
"Beginilah kalau dua orang aneh bertemu," bisik Moon Geun Young, agak keras. Serempak seisi kelas tertawa. Kelas terasa gaduh dan ribut.
Brak...!!!
"Diaaaammm!" Profesor menjerit sambil memukulkan penghapus ke papan tulis. Debu berhamburan di mana-mana dan kelas kembali hening.
"Hari ini cukup sekian. Dan eh... siapa namamu?" tanya Profesor pada Kim So Eun.
"Kim So Eun, Profesor...."
"Ya... pulang sekolah nanti temui saya di ruang guru."
Tanpa basa-basi Prof. Kang Ji Hwan meninggalkan kelas. Padahal jam pelajarannya sebenarnya belum usai. Tapi itulah... bukan profesor namanya kalau tidak linglung.
Kim So Eun kembali ke bangkunya.
"Wah... tahukah kau, Kim So Eun, kau sangat luar biasa!" seru Jung So Min memuji.
Kim So Eun hanya tersenyum. Ia memang pandai, tapi apa gunanya? Bukan itu yang diinginkannya. Sekilas ia melirik ke arah Jung So Min. Penampilan modis, wajah manis, dan pribadi mempesona. Tahukah Jung So Min bahwa sesungguhnya aku iri padanya? bisik Kim So Eun dalam hati.
Setumpuk tugas dari Prof. Kang Ji Hwan. Hah. Kim So Eun mengayuh sepedanya dengan cepat, ingin segera tiba di rumah dan menghempaskan diri sejenak di tempat tidurnya yang lunak dan lembut.
"Anneyong Haseyo...," teriaknya begitu memasuki rumah.
Tak ada sahutan. Artinya, Ibu masih di kantor. Kim So Eun melangkah ke dapur, membuka lemari es dan mengambil sekarton susu. Sambil lalu diraihnya juga toples kue dan dibawanya semua itu ke kamarnya.
Masih mengenakan kaus kaki, Kim So Eun melompat ke atas tempat tidurnya. Sudah pukul setengah lima sore... hah... sungguh hari yang sangat panjang dan melelahkan. Dan sekarang tiba waktunya untuk bersantai, melakukan sesuatu yang membuatmu gembira tanpa diganggu Ibu! seru Kim So Eun sambil meraih radio mininya.
Gelombang yang tak pernah diubah-ubah itu segera mengantarkan acara lewat frekuensi FM stereo.
"Mister DJ kembali menemanimu mulai petang hari hingga lepas pukul sembilan malam nanti. Satu nomor dari Bruno Mars ft B.o.B - Nothing On You untuk sahabat saya Angel. Apa kabar? Salam manis..."
Bruno Mars – Nothing On You
Kim So Eun terhanyut dalam alunan suara merdu penyanyi kesayangannya itu. Kim So Eun tak pernah punya koleksi lagu-lagu populer. Ia hanya mendengarnya lewat radio. Ibu tak pernah mengizinkan Kim So Eun membelanjakan uangnya untuk benda-benda seperti itu. Hanya untuk buku dan alat tulis. Selebihnya ditabung.
Ah... entah apa jadinya hidupku kalau tak ada kau, Mister DJ, keluh Kim So Eun terharu. Betapa merdu kedengarannya waktu Mister DJ mengucapkan namanya barusan. Meski nama samaran, tapi Kim So Eun merasa itulah namanya.
Mister DJ adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya, yang selalu menghibur dan tak pernah mengecewakannya. Tiap kartuposnya selalu dibacakan, dan tiap lagu yang dimintanya selalu diputarkan. Selalu, dua kali seminggu mereka bertemu lewat gelombang radio.
Seandainya... Kim So Eun memejamkan matanya mulai mengkhayal.
"Kim So Eun! Astaga!" pekik Ibu melihat posisi Kim So Eun di tempat tidur. Entah kapan datangnya, tahu-tahu Ibu telah muncul di kamar tidur Kim So Eun.
"Ibu... kapan pulang, Bu?" tanya Kim So Eun polos.
"Kue... susu... di tempat tidur? Apa-apaan ini? Siapa yang mengajarimu budaya jorok seperti ini, hmh?" Ibu marah-marah.
Kim So Eun segera beringsut dari tempat tidur dan membenahi toples kue dan susu yang ada di meja samping tempat tidurnya.
"Kalau Ibu sampai sekali lagi melihatmu seperti ini..."
"Maaf, Bu... tidak akan kuulangi lagi," sela Kim So Eun takut.
"Cepat kembalikan benda-benda itu ke tempatnya... di mana?" Ibu mendikte persis seperti menghadapi anak taman kanak-kanak.
"Di dapur...."
"Nah., ayo kembalikan ke sana! Kamar tidur harus selalu bersih, untuk tidur! Bukan untuk makan!"
"Ya, Bu...."
"Dan pulang sekolah seharusnya kau segera mandi sebelum masuk kamar!"
"Ya, Bu..."
"Lihat... ck... ck... ck... apa pantas ini disebut kamar anak gadis? Baju bertebaran di mana-mana... seperti kapal pecah."
"Ya, Bu...."
Bla... bla... bla... Ibu terus mengomel dan Kim So Eun terkantuk-kantuk menjawab tanpa mendengar apa yang dikatakan Ibu lagi.
Bersambung...
Magic Girl (Chapter 1)
Teng... teng... teng...
"Ya, kita selesaikan sampai di sini dan jangan lupa pekerjaan ru..."
Ucapan sang guru tak lagi terdengar lantaran riuhnya suara kursi dan derap langkah murid-murid yang berlomba-lomba keluar ruangan kelas lebih dulu. Tak ada seorang lagi pun yang mengacuhkan pesan Mrs. Han Chae Young, sang guru fisika.
Tak terkecuali Kim So Eun. Meski sudah memusatkan segala kecepatan yang dimiliki, tetap saja ia kebagian posisi juru kunci, alias paling belakang dan selalu diserobot teman-temannya.
Sambil menghela napas maklum, Kim So Eun membetulkan letak kacamata minus tujuh-nya yang sering merosot akibat dorongan dan desakan-desakan teman-teman yang memburu keluar melewati pintu.
"Hei!" seseorang mencolek bahunya. Kim So Eun menoleh dan tersenyum kikuk.
"Hai, Jung So Min," dibalasnya sapaan Jung So Min,
"Mau ke mana? Ke kantin bersamaku ya?" ajak Jung So Min manis, bernada bersahabat.
Kim So Eun terdiam sesaat. Seorang gadis cantik, manis, dan cukup populer sedang mengajak seorang anak itik buruk rupa yang dungu dan lamban, batin Kim So Eun. Ya, Jung So Min memang gadis yang baik. Kecantikan dan kepopulerannya di sekolah ini tak menjadikannya sombong. Sementara teman-teman yang lain menganggap Kim So Eun aneh dan enggan menegur, apalagi mengajak Kim So Eun bergabung dalam suatu kegiatan.
"Ayolah," ajak Jung So Min sambil menarik tangan Kim So Eun. "Kalau kau..."
"Jung So Min... ayo cepat, lama sekali," panggil Park Ji Yeon, salah satu gadis dalam kelompok Jung So Min. Kelompok yang terkenal lantaran anggotanya terdiri dari gadis-gadis manis dan modis.
Lewat tatapan mata Park Ji Yeon, Kim So Eun dapat merasakan bahwa keikutsertaannya tidak diharapkan dan kehadirannya tak diinginkan oleh anggota kelompok yang lain.
"Aku... eh... lain kali sajalah," tolak Kim So Eun seperti biasanya dengan kikuk dan kepala agak tertunduk-tunduk, tak berani menatap lawan bicaranya.
"Jung So Min, ayo cepat...!" panggil Park Ji Yeon.
Jung So Min memandang ke arah Kim So Eun dan Park Ji Yeon bergantian beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti Park Ji Yeon.
"Benar ya... lain kali?" Jung So Min pura-pura merengut.
Kim So Eun tersenyum lalu mengangguk dan segera berlalu dari hadapan mereka.
Ia lebih suka melewatkan waktu makan siang di perpustakaan atau di taman sambil memakan bekal roti yang dibawanya dari rumah. Baginya kumpul-kumpul dan mengobrol di kantin adalah sesuatu yang hanya membuatnya merasa tidak enak, risih, dan malu. Sebab semua orang akan memperhatikan dirinya begitu ia masuk ke sana.
Sambil melangkah Kim So Eun teras memikirkan keadaannya. Bukan ia yang minta menjadi gadis kutu buku berkacamata minus tebal dan berpribadi pemalu, tertutup seperti ini. Entah siapa yang salah.... Yang jelas, selama 16 tahun ia telah tumbuh menjadi Kim So Eun yang lamban, kutu buku, tak pandai bergaul, dan punya selera yang aneh dalam memilih penampilan.
Kim So Eun memasuki taman sambil mulai mencari-cari sudut yang lengang dan kursi yang kosong. Sekolah swasta ini dikelola oleh yayasan Go Green, sehingga selain kompleks sekolah, terdapat juga Taman Bunga. Dan taman ini sebenarnya adalah milik Yayasan Go Green itu. Akan tetapi siapa saja boleh memasukinya asalkan tidak merusak, membuat kotor, atau membuat onar.
Tak seorang pun nampak di taman. Tidak juga para anggota yayasan. Mungkin mereka sedang makan siang, pikir Kim So Eun, lalu memilih sebuah kursi dan duduk di atasnya. Dikeluarkannya catatan kimia yang baru disalinnya kemarin dari buku Prof. Kang Ji Hwan, guru kimia SMA Sungkyunkwan.
Dan begitu larut dalam catatan dan pelajaran, Kim So Eun seperti lupa akan segalanya. Tak menghiraukan keadaan sekelilingnya lagi.
Asyik sendiri dengan kumpulan rumus-rumus baku dan rumus-rumus turunan. Kimia adalah salah satu mata pelajaran favoritnya, sementara justru bagi kebanyakan anak-anak lain menjadi musuh utama. Kim So Eun memang selalu aneh dan berbeda dengan kebanyakan anak seusianya. Kalau anak-anak lain lebih suka ke tempat dugem, ke bioskop atau ke kantin, maka Kim So Eun lebih suka ke perpustakaan, toko buku, atau di rumah mendengarkan MP3. Apa yang wajar menurut Kim So Eun ternyata merupakan keanehan bagi teman-temannya.
Karena perbedaan-perbedaan inilah maka Kim So Eun lantas merasa enggan bergaul dengan teman-temannya. Kim So Eun terbiasa sendirian tanpa teman, apalagi sahabat. Dan lama-kelamaan muncul pula rasa rendah diri apabila berada di tengah-tengah teman sebayanya.
Teng... teng... teng...
Kim So Eun masih asyik dengan catatan kimianya.
“Ehem... ehem..."
Kim So Eun tersentak mendengar suara seseorang. Ditengadahkannya kepalanya dan dilihatnya sosok wanita dengan mini dress hitam yang dibalut dengan blazer putih berada di hadapannya.
"Ny. Han Ga In...," desisnya perlahan.
"Ya... saya senang melihat kau rajin belajar, Kim So Eun," ujar Ny. Han Ga In sambil tersenyum. Para anggota Yayasan Go Green di sini rata-rata mengenal Kim So Eun, sebab Kim So Eun adalah murid yang paling sering mengunjungi taman mereka.
"Maaf, Nyonya... apakah sekarang anak-anak sudah dilarang masuk ke taman ini lagi?" tanya Kim So Eun takut-takut.
"O... tidak," geleng Ny. Han Ga In cepat. "Tapi saya ingin mengingatkanmu. Rasanya waktu istirahat sudah habis dan kau harus kembali ke kelasmu."
Kim So Eun ternganga. Diliriknya arloji Monol-nya. Ny. Han Ga In benar, sekarang sudah jam setengah sepuluh, berarti pelajaran Bahasa Inggris sudah dimulai! Kim So Eun segera membereskan buku-buku dan tempat rotinya.
"Tidakkah kau mendengar suara bel barusan? "Ny. Han Ga In tersenyum geli melihat kekikukan Kim So Eun. Kim So Eun menggeleng.
"Selamat siang, Ny. Han Ga In," ujarnya terengah. Lantas secepat kilat Kim So Eun hilang dari pandangan mata, mengejar waktu yang tertinggal untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
* * *
"Tambah lagi, Sayang," ujar Ibu lebih merupakan suatu perintah.
"Aku sudah kenyang, Ibu," Kim So Eun berusaha menolak sambil memperlihatkan ekspresi kenyang dengan meringis.
"Beberapa sendok lagi tak akan berpengaruh apa-apa... ayo." Ibu menyodorkan lagi tempat nasi.
Kim So Eun menghela napas. Tapi toh disendoknya juga nasi dari piring yang disodorkan Ibu. Ucapan Ibu, meskipun manis dan lembut, bagi Kim So Eun lebih menakutkan ketimbang suara Mrs. Han Chae Young, guru fisikanya. Apa-apa yang telah keluar dari mulut Ibu adalah peraturan yang harus dijalankan. Dan siapa yang tak menaatinya... uh jangan tanya lagi. Pasti mendapat sanksi.
Sambil mengunyah dengan malas Kim So Eun teringat waktu ia meminta adik pada Ibu. Ibu sudah memperingatkan agar tidak menyinggung-nyinggung lagi hal itu, tapi Kim So Eun toh keceplosan juga waktu mengobrol dengan Bibi Kim Ha Neul di jamuan arisan. Dan Bibi Kim Ha Neul tertawa mendengar keinginan Kim So Eun, dan Ibu mendengarnya lalu marah, dan Kim So Eun tidak diberi uang saku selama seminggu dan akibatnya Kim So Eun tak bisa membeli kumpulan rumus terbaru yang begitu didambakannya. Yah... panjang sekali bukan buntutnya?
Beranjak dari pengalaman itu Kim So Eun selanjutnya selalu mematuhi apa yang dikatakan Ibu.
"Nah... habis juga, kan?" Ibu mengangkati piring-piring kotor, sementara Kim So Eun bersandar kekenyangan pada kursinya.
Dihembuskannya napasnya secara teratur, untuk mengatasi rasa mual akibat perutnya diisi terlalu banyak. Kim So Eun mencoba mengalihkan perhatiannya pada televisi. Selepas pukul delapan biasanya acara-acara mulai menarik. Dari ruang tengah terdengar musik intro sebuah film seri.
"Dream Of Brittany" seru Kim So Eun sambil memburu ke ruang tengah. Drama Seri Dream of Brittany yang penuh fantasi dan keajaiban sangat disukainya. Dan dalam beberapa saat saja Kim So Eun telah asyik larut dalam drama seri tersebut. Ya, dalam hal-hal yang diminatinya, Kim So Eun mudah sekali hanyut dan larut. Seolah-olah sedemikian menghayatinya sampai terseret dalam pusaran cerita khayal itu sendiri.
" Kim So Eun!" tukas Ibu yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.
"Hm?" sahut Kim So Eun tanpa melepaskan perhatiannya pada televisi.
"Sudah jam setengah sepuluh, lebih baik kaukerjakan tugas-tugas sekolahmu dan masuk kamar lalu tidur."
"Ya... Ibu... sebentar lagi," ujar Kim So Eun kesal.
"Kim So Eun, film-film khayal seperti itu kurang baik akibatnya bagi anak-anak sepertimu...."
"Ibu, aku kan sudah SMA, masa masih dibilang anak-anak?" bantah Kim So Eun.
"Eh... kenapa anak Ibu sudah mulai membantah?" bola mata Ibu membesar.
"Itu tandanya sudah besar."
"Kenapa kau masih menjawab saja? Ayo sana... biar Ibu matikan saja televisinya supaya tak ada yang menonton, supaya adil." Ibu bangkit dan televisi benar-benar dimatikan oleh Ibu.
"Ibu...," pekik Kim So Eun setengah merengek.
"Sstt!" Ibu menempelkan telunjuk pada bibirnya sambil menatap tajam ke arah Kim So Eun. "Jangan merengek begitu... Ibu tidak suka. Ayo, jangan sampai Ibu marah ya?"
Dengan cemberut Kim So Eun beranjak ke kamarnya di lantai dua. Ditutupnya pintu dengan keras hingga suaranya berdebum. Namun kekesalan di hatinya belum juga hilang. Ibu selalu memperlakukannya seperti anak kecil, mengatur kehidupannya hampir di segala bidang. Mulai dari memilihkan pakaian, mengatur jadwal belajar, main, makan, dan tidur, hingga menetapkan buku-buku atau film-film apa saja yang patut ditonton oleh Kim So Eun.
Tentu aku tak pernah dewasa... keluh Kim So Eun menyesali nasibnya sebagai anak tunggal. Kata orang jadi anak tunggal enak, dimanja dan dituruti setiap kemauannya. Dulu memang begitu... lamunan Kim So Eun melayang ke hari-hari silam waktu Ayah masih ada. Kepergian Ayah telah mengubah perangai Ibu, demikian pula cara Ibu mendidiknya.
Kim So Eun tak begitu mengerti kasus-kasus psikologi, tapi menurutnya sikap Ibu dan cara mendidiknya yang keras adalah kompensasi dari ketakutannya belaka. Ibu adalah wanita karier yang sukses, yang tak mau kelihatan tua, maka wajar kalau ia selalu menganggap dan memperlakukan Kim So Eun sebagai anak kecil, sebab dengan demikian ia tak akan merasa tua. Dan bisa jadi Ibu berusaha mengimbangi kelembutan seorang ibu dengan kekerasan seorang ayah, karena Ayah telah tiada, dan Ibu harus berperan ganda. Tentu tak mudah....
Karena itu Kim So Eun jarang melawan Ibu. Ia cukup mengerti penderitaan Ibu setelah Ayah tiada. Meski kadang-kadang menjengkelkan... tapi toh diturutinya juga.
Di kamarnya yang ditata feminin dalam nuansa merah jambu, Kim So Eun merasa kesepian. Dinyalakannya radio dan dicarinya gelombang radio kesayangannya.
"...dan satu nomor cantik saya hadirkan untuk kalian yang siap berlayar ke dunia mimpi.... Mimpi indah dan... selamat menikmati...."
Kemudian lagu Just The Way You Are dari Bruno Mars pun mengalun merdu. Kim So Eun memejamkan matanya, meresapi lagu yang seolah-olah dikirimkan oleh sang penyiar bersuara merdu itu, khusus untuknya.
Bruno Mars – Just The Way You Are
Penyiar yang memakai nama samaran Mister DJ itu adalah satu-satunya orang yang tahu segala perasaan Kim So Eun. Kim So Eun sering meminta lagu lewat kartupos pada Mister DJ dengan menggunakan nama samaran; Angel. Lewat surat-surat dan kartupos-kartuposnya, kadang Kim So Eun menceritakan keluh-kesah di hatinya. Meski tak lengkap semuanya.
Mungkin ini salah satu cara Kim So Eun melepaskan beban di hatinya. Dan Mister DJ ternyata pandai pula menghibur, memberi saran lewat siaran-siarannya. Mereka akrab, terasa dekat, meski belum saling kenal. Dan mungkin tak akan pernah... angan Kim So Eun melayang jauh.
Bersambung...
Langganan:
Postingan (Atom)

