Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 22 Desember 2011

Cupid (Chapter 7)



Hari ketujuh

Hari Minggu pagi. Terkadang kesenangan menjadi lajang itu berubah menjadi hal membosankan. Hal yang membosankan itu bergeser menjadi hal menyakitkan. Seperti hari ini, seluruh temanku yang lajang, yang populasinya sudah semakin langka, tidak ada satu pun yang available.

Bergegas kuganti baju. Kupilih bahan jeans dengan model baju monyet yang kedodoran, dalaman kaos putih longgar, dan topi biru tua. Penampilanku tidak keruan, tapi rasanya nyaman memakai apa pun yang kumau, tanpa peduli apa kata orang. Biar saja!

Aku keluar kamar dan menengok ruang tengah yang terletak di bawah. Sepi. Kututup pintu kamar rapat-rapat. Sekali lagi kuperiksa halaman depan yang berada di bawah kamarku. Tidak ada Ibu, atau Ayah. Aman. Aku berjalan ke cermin dan menarik napas panjang. Sekarang aku siap berjalan-jalan. Penuh percaya diri, meskipun tak punya teman atau pacar.

Pukul sembilan lewat. Suasana masih sepi. Sengaja kuparkir mobil agak terpencil dari dari areal pertokoan, yang sebagian besar merupakan tempat makan. Dengan berjalan santai, kususuri trotoar batunya dan melihat setiap foto menu yang dipamerkan pada setiap pintu masuknya. Matahari menyisip hangat lewat sela-sela dedaunan pada pepohonan yang tumbuh berjejer di sepanjang halaman depan toko-toko.

Di suasana senyaman ini, sebagian orang memilih untuk sarapan di meja-meja yang disediakan di bagian depan setiap tempat makan. Beberapa pasangan tampak menikmati makanan sambil membaca koran, saling mendiamkan satu sama lain, namun tetap bisa menikmati kebersamaan mereka. Aku? Tak ada yang lebih hebat. Pasanganku adalah pagi yang indah ini. Siap menemani. Mudah mengerti. Tidak marah dengan ketidakacuhanku.

Setelah berjalan beberapa lama, kupilih untuk minum kopi di tempat langgananku. Menyenangkan sekali merasakan dingin a¬ngin pagi yang meresap sejuk, terang mentari yang tak henti mengirim senyum, membaca novel yang belum sempat terbaca, sambil merasakan setiap ujung syarafku menggeliat bangkit, ketika cairan hitam itu direguk.

Bau kopi harum di pintu masuk membuat ujung lidahku merasa telah mencicipinya, bahkan sebelum cairan itu terminum. Pilihan yang tepat. Kubuka pintunya. Salah. Tidak tepat. Sangat tidak tepat. Sungguh pilihan keliru! Mungkin elevator di kantor patuh dengan sumpah serapahku. Tapi, tidak dengan seluruh penjuru kota yang lainnya.

Aku hanya membeku, seperti katak yang terpesona melihat roda mobil yang akan melindasnya. Sekarang sudah tidak mungkin lari lagi. Jung Yong Hwa. Ia ada di dalam dengan tangan yang masih menahan cangkir di udara. Menatapku, sama terkejutnya. Beberapa detik kami hanya saling menatap. Memilah respon, meraba reaksi. Lalu, ia tersenyum. Aku lega luar biasa dari hukuman rasa bersalah. Ia sama sekali tidak membenciku.

Ia menyeberangi garis tengah ruang dan meraih tanganku, lalu mengguncang-guncangkannya. Wah, ini Jung Yong Hwa yang berbeda. Yang kuingat, dia dulu selalu kaku dan malu-malu.

“Jung Yong Hwa, sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Kulihat wajahnya, ia memang kelihatan lebih tampan. Kalau aku mau rela mengakui, ia sekarang memang mempesona. Dan, aku, astaga! Baru teringat pada baju rombengan yang kupakai. Kenapa tadi tidak siap perang dengan memakai kaos ketat merah, rok putih, dan sepatu hak tinggi bertali? Seharusnya aku tahu, pergi ke mana pun selalu bersiko bertemu teman lama. Bertemu mereka, berarti jangan pernah sampai memberi kesan bahwa hidupmu sekarang lebih tidak beruntung darinya!

Tapi, kecemasanku terhapus.

“Kim So Eun, kau kelihatan hebat.” Dipandanginya aku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

”Bagaimana kabarmu, Jung Yong Hwa?”

“Aku sudah setahun menikah.”

Jantungku berdebar. Apakah keterangan itu membuatku menyesal?

Pesananku datang, kureguk sedikit. Perasaanku lebih tenang.

”Dimana Istrimu?”

Jung Yong Hwa terdiam, wajahnya mengeras. Apa yang salah? Rupanya, sesuatu yang dilihatnya telah merebut semua perhatian. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia berdiri. Dari belakangku terdengar langkah tergesa-gesa mendekat. Belum sempat menyadari yang terjadi, kulihat kopiku disambar seseorang dan menyiramkan isinya ke arahku. Aku terpekik, lalu cepat berdiri. Namun, cairan panas itu masih sempat menyiram bagian bawah tubuhku.

”Ooo, ternyata, kau di sini, ya? Kencan dengan wanita lain? Kau!” katanya, menunjuk aku, tak tahu malu bermain dengan suami orang!”

Hei, aku tidak ada urusan dengan suamimu. Kopiku bagaimana? Baru dihirup satu teguk. Kusambar tas dengan kasar dan berjalan pergi dengan langkah lebar dan cepat. Sadar tidak, bahwa yang merebut Jung Yong Hwa itu kau! Dia dulu kekasihku. Harusnya, pagi ini aku masih mengobrol dan bercanda dengannya. Harusnya, aku tidak menghabiskan sisa hari ini dengan kesepian. Harusnya, aku tak pernah menolak Jung Yong Hwa.

Jung Yong Hwa berlari mengejarku, menjajari langkahku. Ia menahan tanganku. Kutepis dengan kasar dan mencari-cari kunci yang memang selalu sulit ditemukan pada saat-saat yang genting. Ketika kutemukan, kubuka mobil dengan tergesa. Jung Yong Hwa menahanku agar tidak bisa masuk ke dalam mobil.

Dengan ganas kutatap matanya. Ia memandangku dengan tegar, namun sedih. Sorot itu meleburkan seluruh keberadaanku. Kemarahanku hilang dalam larutan pesonanya. Aroma tubuhnya yang jantan menggilas hancur semua batas dan memelintir kewarasan akal sehat. Ia begitu tampan.

Kudorong ia ke dalam mobil. Kurampas bibirnya dengan bibirku. Biar istrinya mati melihat kami! Biar dia tahu rasa! Tiba-tiba aku terpekik, karena ia membalas dengan begitu bergairah. Kami terus berciuman, meskipun napas semakin sulit dicari.

Tiba-tiba aku tersadar sesuatu. Kudorong tubuh Jung Yong Hwa. ”Keluar! Keluar sekarang! Keluar!”

Kunyalakan mobil dan kujalankan dengan kasar. Tuhan, apa yang telah kulakukan? Tubuhku masih menggeletar oleh gelora. Bibirku masih kebas oleh bekas bekapan bibirnya. Gairah dari kulit bibir yang mengelupas meracuni udara di mulutku. Aku menangis.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...