Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 08 Desember 2011

Boneka Misterius (Chapter 9-Tamat)



Tiga minggu kemudian, Park Ji Yeon berkata pada Kim So Eun, "Sekali-sekali kita harus masuk ke kamar itu."

"Untuk apa?"

"Kamar itu pasti kotor sekali. Kita hanya membersihkan debunya dan menyapunya, lalu kita kunci lagi."

"Aku lebih suka membiarkannya tertutup dan tidak masuk lagi ke situ," kata Kim So Eun.

"Oh," kata Park Ji Yeon, "rupanya kau lebih percaya takhayul daripada aku."

"Aku rasa begitu," kata Kim So Eun. "Aku memang jauh lebih mudah mempercayainya daripada kau. Tapi aku... ya, aku merasa keadaan aneh ini mencekam juga. Entahlah. Aku takut, dan tidak ingin masuk ke kamar itu lagi."

"Aku mau masuk kesana," kata Park Ji Yeon, "dan aku akan membersihkan ruangan itu."

"Tahukah kau apa yang terjadi dengan dirimu?" kata Kim So Eun. "Kau hanya ingin tahu saja."

"Baiklah, aku memang ingin tahu. Aku ingin melihat, apa yang telah dilakukan boneka itu."

"Aku tetap berpikiran lebih baik boneka itu jangan diganggu," kata Kim So Eun. "Setelah kita tinggalkan ruangan itu sekarang, dia puas. Sebaiknya biar saja dia merasa puas." Ia mendesah keras. "Kenapa kita jadi membicarakan omong kosong seperti ini?"

"Ya, kita memang sedang membicarakan omong kosong, tapi kalau kau tidak ingin aku membicarakan omong kosong ini, berikanlah kuncinya padaku."

"Baiklah, baiklah."

"Aku rasa kau takut aku akan mengeluarkannya. Tapi aku rasa dia adalah makhluk yang bisa melewati pintu dan jendela."

Park Ji Yeon membuka kunci pintu, lalu masuk. "Aneh sekali," katanya.

"Apa yang aneh?" kata Kim So Eun, dengan mengintip lewat pundak Park Ji Yeon. "Kamar ini boleh dikatakan sama sekali tidak berdebu. Karena tertutup selama ini, kita pikir..."

"Ya, memang aneh."

"Itu dia," kata Park Ji Yeon. Boneka itu ada di sofa. Ia tidak terbaring dalam keadaan terkulai seperti biasanya. Ia duduk tegak. dengan sebuah bantal kursi di belakang punggungnya. Sikapnya seperti nyonya rumah yang sedang menunggu akan menerima tamu.

"Ya," kata Kim So Eun, "kelihatannya dia betah sekali. Aku sampai merasa harus meminta maaf padanya karena kita masuk."

"Ayo kita keluar," kata Park Ji Yeon. Ia berjalan mundur, menutup pintu, dan menguncinya lagi. Kedua wanita itu berpandangan.

"Alangkah baiknya kalau aku tahu," kata Kim So Eun, "kenapa kita begitu takut..."

"Ya Tuhan, siapa yang tidak akan ketakutan?"

"Ya, maksudku, apa yang sebenarnya terjadi? Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya semacam boneka yang bisa berkeliling kamar. Kurasa bukan boneka itu sendiri persoalannya, melainkan setan nakal."

"Ya, itu masuk akal."

"Ya, tapi aku tidak begitu percaya. Kurasa... boneka itu memang benar-benar aneh."

"Apa kau Yakin, kau tidak tahu dari mana datangnya boneka itu sebenarnya?"

"Aku sama sekali tidak ingat," kata Kim So Eun. "Dan semakin kupikirkan, aku semakin yakin... Kalau aku tidak membelinya, dan sepertinya juga tidak ada orang yang memberikannya padaku. Kurasa dia... ya, dia datang begitu saja"

"Menurutmu, apakah dia... akan pergi?"

"Ah," kata Kim So Eun, "aku tidak mengerti mengapa dia harus pergi. Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya."

Tapi rupanya boneka itu tidak mendapatkan semua yang diinginkannya. Keesokan harinya, ketika Park Ji Yeon masuk ke ruang pamer, ia tiba-tiba menahan napas, lalu ia berseru ke arah lantai atas.

"Kim So Eun, Kim So Eun, coba kau turun kemari."

"Ada apa?" Kim So Eun yang bangun kesiangan, menuruni tangga dengan terpincang-pincang karena kaget dengan teriakan Park Ji Yeon, ia sempat menabrak bufet di kamarnya. "Ada apa, Park Ji Yeon?"

"Lihat, lihatlah apa yang terjadi sekarang." Mereka berdiri di ambang pintu ruang pamer. Boneka itu duduk di sofa, bersandar dengan nyaman pada lengannya. "Dia keluar," kata Park Ji Yeon. "Dia sudah keluar dari kamar itu! Dia juga menginginkan kamar ini."

Kim So Eun duduk di dekat pintu. "Kurasa dia menginginkan seluruh toko ini," katanya.

"Mungkin saja," kata Park Ji Yeon. "Hei, makhluk kotor, licik, dan jahat," kata Kim So Eun pada boneka itu. "Mengapa kau datang dan mengganggu kami? Kami tidak menginginkanmu."

Baik Kim So Eun maupun Park Ji Yeon melihat seolah-olah boneka itu bergerak sedikit sekali. Kaki dan tangannya seolah-olah semakin santai. Lengannya yang panjang dan lunglai terletak pada lengan sofa, dan wajahnya yang setengah tersembunyi seolah-olah mengintip dari bawah ketiaknya. Pandangannya licik dan jahat.

"Dasar makhluk menjengkelkan," kata Kim So Eun. "Aku tidak tahan! Aku sudah tidak tahan lagi."

Tiba-tiba, dengan sangat mengejutkan Park Ji Yeon, Kim So Eun melesat menyeberangi ruangan itu. Diangkatnya boneka itu, lalu ia berlari ke jendela, membuka jendela, dan mencampakkan boneka itu ke jalan.

Napas Park Ji Yeon tertahan, lalu ia terpekik ngeri. "Aduh, Kim So Eun, kau tidak boleh berbuat begitu! Aku yakin kau tidak boleh melakukannya!"

"Aku harus melakukan sesuatu," kata Kim So Eun. "Aku sudah tidak tahan lagi."

Park Ji Yeon mendatanginya ke jendela. Di bawah, boneka itu tergeletak di trotoar, lunglai dengan wajah tertelungkup.

"Kau telah membunuhnya" kata Park Ji Yeon.

"Jangan bodoh... mana mungkin aku membunuh sesuatu yang hanya terbuat dari potongan-potongan bahan beludru dan sutra? Itu benda mati."

"Itu hidup, dan mengerikan," kata Park Ji Yeon.

Kim So Eun menahan napasnya. "Astaga. Gadis itu..."

Seorang gadis mengenakan mini dress berwarna putih berdiri di atas boneka itu di trotoar. Ia melihat ke kiri-kanan jalan yang tidak begitu ramai pada pagi hari itu, meskipun beberapa mobil lewat. kemudian, setelah kelihatan puas, gadis itu membungkuk, memungut boneka itu, lalu berlari menyeberangi jalan.

"Berhenti, berhenti!" seru Kim So Eun. Ia menoleh pada Park Ji Yeon. "Gadis itu tidak boleh mengambil boneka itu. Tidak boleh! Boneka itu berbahaya, dia jahat. Kita harus melarangnya."

Bukan mereka yang menghentikan langkah gadis itu, melainkan lalu lintas. Pada saat itu ada tiga buah taksi menuju ke satu arah, dan dua buah mobil box dari arah berlawanan. Gadis itu terkurung di tengah-tengah jalan. Park Ji Yeon cepat-cepat menuruni tangga, disusul oleh Kim So Eun. Dengan menghindari sebuah truk barang dan sebuah mobil pribadi, Park Ji Yeon yang langsung disusul oleh Kim So Eun, tiba di tempat gadis itu sebelum ia bisa menembus lalu lintas ke seberang jalan.

"Kau tidak boleh mengambil boneka itu," kata Kim So Eun. "Kembalikan padaku." Gadis itu memadangnya. Gadis itu pucat sekali, berumur kira-kira 20 tahun. Wajahnya menantang.

"Kenapa aku harus memberikannya padamu?" tanyanya. "Kau kan sudah melemparkannya dari jendela, aku melihatmu membuangnya. Kalau sudah kau lemparkan dari jendela, artinya kau sudah tidak menginginkannya lagi, jadi sekarang dia milikku."

"Akan kubelikan kau boneka baru," kata Kim So Eun gugup. "Ayo kita pergi ke toko boneka, yang mana pun kau sukai... Akan kubelikan kau boneka terbagus yang bisa kita dapatkan. Tapi kembalikan padaku yang ini."
"Tidak mau," kata gadis itu. Lengannya memeluk boneka beludru itu dengan sikap melindungi.

"Kau harus mengembalikannya," kata Park Ji Yeon. "Itu bukan milikmu." Diulurkannya tangannya untuk mengambil boneka itu, tapi pada saat itu si gadis menghentakkan kakinya, berbalik, dan berteriak pada mereka.

"Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau! Dia milikku. Aku menyayanginya. Kalian tidak menyayanginya. Kalian membencinya. Kalau kalian tidak membencinya, tentu kalian tidak akan melemparkannya dari jendela. Aku menyayanginya, dan itulah yang diinginkannya. Dia ingin disayangi."

Lalu, bagaikan belut, ia menyelinap melewati kendaraan-kendaraan. Gadis itu berlari ke seberang jalan, masuk ke lorong, dan tidak kelihatan lagi.

"Dia sudah hilang," kata Kim So Eun.

"Katanya boneka itu ingin disayangi," kata Park Ji Yeon.

"Mungkin," kata Kim So Eun, "mungkin itulah yang selama ini diinginkannya... disayangi..."

Di tengah-tengah lalu lintas kota Seoul, kedua wanita yang ketakutan itu saling menatap.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

1 komentar:

  1. Sepertix iya, author memang terinspirasi ma novel agatha christie, bytheway endingx sesuatu bgt.
    dari dulu aq penasaran ma ni cerita, kenapa sengaja dibikin gantung ma pengarangx. jadi, kira2 siapa yang udah iseng mindah2 boneka tsb?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...