Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 24 Agustus 2011

Winter Love (Epilog)



Cahaya matahari yang silau membuat mata Kim Bum menyipit ketika menatap anak perempuan yang sedang berjongkok dan mengorek-ngorek tanah bersalju dengan ranting di samping gedung sekolah. Sepertinya anak itu sedang mencari sesuatu. Sesekali ia meniup tangannya yang tidak bersarung tangan. Dan sepertinya ia juga sedang menangis.

Kim Bum menoleh ke belakang. Teman-temannya belum keluar. Tadi mereka bilang mereka tidak akan lama, hanya akan memberikan hadiah ulang tahun kepada guru SD favorit mereka.

Kim Bum tidak terlalu setuju dengan ide itu. Memang benar, guru itu guru favorit mereka semasa SD, tetapi kini mereka sudah menjadi murid SMP. Menurut Kim Bum mereka tidak pantas lagi bersikap sentimental dan kekanak-kanakan seperti itu. Namun teman-temannya tidak mau mendengar alasannya. Ia ikut ke sini karena terpaksa, tetapi ia menolak untuk masuk dan bertemu dengan guru mereka. Menurutnya laki-laki harus bersikap tegas. Biar saja teman-temannya yang masuk. Ia akan menunggu di luar sini sampai mereka kembali. Walaupun di luar sini dingin sekali.

Kim Bum kembali menatap anak perempuan itu. Teman-temannya belum kembali. Daripada melamun saja, mungkin ia bisa membantu anak itu.

Kim Bum membetulkan letak topi Wol Putihnya dan menghampiri anak itu. “Sedang apa?” tanyanya.

Anak perempuan itu mendongak. Matanya menyipit menatap Kim Bum. Dari dekat, Kim Bum menyadari rambut panjang anak itu yang diikat ekor kuda terlihat agak miring dan ada sedikit noda tanah di pipinya yang kemerahan. Kim Bum juga baru tahu anak itu tidak sedang menangis seperti yang diduganya tadi, tetapi anak itu memang hampir menangis. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Sedang apa?” tanya Kim Bum lagi karena anak itu tidak menjawab.

Setelah ragu sejenak, anak perempuan itu bergumam pelan, “Mencari sesuatu.”

“Mencari apa?”

“Kalung.” Lalu anak perempuan itu kembali menunduk dan mengorek-ngorek tanah.

Kalung? Tanpa bertanya lebih jauh, Kim Bum pun ikut mencari. Ia baru mulai berlutut ketika sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau. Ia memungut benda itu dan mengamatinya.

Kalung itu kalung yang sederhana, tetapi indah, dengan liontin berbentuk tulisan “Kim So Eun”.

Nama anak itukah?

“Namamu Kim So Eun?” tanyanya.

Anak itu menoleh ke arahnya. “Ya.” Nada suaranya terdengar ragu-ragu.

Kim Bum tersenyum puas dan mengacungkan kalung yang dipegangnya itu. “Ketemu!”

“Benarkah?” Wajah anak perempuan itu langsung berubah cerah. Ia berlari menghampiri Kim Bum dengan mata berkilat-kilat senang dan pipinya semakin merah.

Kim Bum berdeham dan menyerahkan kalung itu kepadanya. “Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi.”

Tepat pada saat itu ia mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan melihat teman-temannya ternyata sudah keluar dan melambai-lambai ke arahnya. Kim Bum mendesah. Kenapa mereka memilih sekarang untuk keluar? Ia mendesah pelan sekali lagi dan menoleh kembali kepada anak perempuan yang berdiri di depannya. “Aku pergi dulu,” katanya. “Kau juga lebih baik cepat pulang.”

Setelah itu ia pergi bergabung dengan teman-temannya.

* * *

“Baek Suzy, cepat kemari,” Kim So Eun menarik Baek Suzy yang baru datang. “Dan jangan berbalik! Nanti dia melihat kita.”

“Siapa?”

“Kau kenal anak laki-laki di lapangan itu? Tapi kau jangan berbalik. Nanti dia melihat kita.”

Baek Suzy mendelik ke arah saudara perempuannya. “Kalau tidak berbalik bagaimana aku bisa melihat siapa yang kau maksud?”

“Baiklah, baiklah. Tapi pelan-pelan saja. Jangan sampai ketahuan.”

Baek Suzy menoleh diam-diam dan memandang ke arah lapangan.

* * *

“Kau tadi bicara dengan siapa, Kim Bum?” tanya Kim Soo Hyun sambil menoleh ke belakang.

Kim Bum memutar kepala temannya kembali ke depan. “Bukan siapa-siapa. Kenapa kalian cepat sekali?”

“Cepat?” Mata Song Ji Eun melebar terkejut. “Kami pikir kau pasti sudah uring-uringan karena menunggu begitu lama di luar.”

Kim Bum pura-pura tidak mendengar.

“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Lee Joo Yeon sambil melirik jam tangan.

Jung Yong Hwa sambil mengusap-usap kepalanya yang hampir botak. “Bagaimana kalau kita pergi makan?” usulnya.

“Kenapa pikiranmu hanya makanan?” omel Song Ji Eun dan menyikut lengan Jung Yong Hwa.

“Memangnya kalian tidak pernah dengar cuaca dingin membuat orang-orang mudah lapar?” tanya Jung Yong Hwa sambil memandang teman-temannya satu per satu. “Apalagi aku.”

Lee Joo Yeon terkikik. “Maksudmu karena ibumu salah memotong rambutmu sampai hampir botak dan sekarang kepalamu kedinginan?”

“Jangan mengingatkanku pada rambut jelek ini,” erang Jung Yong Hwa. “Aduh, kenapa aku lupa bawa topi hari ini?”

Kim Bum melepaskan topinya dan melemparkannya ke arah Jung Yong Hwa. “Pakai ini saja kalau kau malu rambutmu yang jelek itu dilihat orang.”

Teman-temannya tertawa. Sambil bersungut-sungut, Jung Yong Hwa mengenakan topi Wol Putih itu.

* * *

“Sekarang jam pulang sekolah.” kata Baek Suzy. “Di lapangan banyak orang. Anak laki-laki yang mana maksudmu? Beri aku petunjuk.”

“Tadi dia bersama teman-temannya,” gumam Kim So Eun sambil berpikir. Tiba-tiba ia menjentikkan jari. “Dia memakai topi putih. Topi Wol Putih!”

“Topi putih?” Baek Suzy menyipitkan mata dan mencari-cari. “Ah, itu dia. Topi Putih dan... dia bersama teman-temannya. Yang itu? Bukankah mereka kakak kelas kita?”

“Ya, ya, ya,” sahut Kim So Eun cepat tanpa berbalik. “Kau tahu siapa namanya? Anak laki-laki bertopi putih itu?”

Baek Suzy mengangguk. “Itu Jung Yong Hwa.”

“Jung Yong Hwa,” gumam Kim So Eun sambil tersenyum sendiri.

Baek Suzy menyikut saudara perempuannya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin tahu?”

Kim So Eun tersenyum lebar penuh rahasia. “Akan kuceritakan di rumah. Ayo, kita pulang.”


Tamat
Copyright Sweety Qliquers


Chapter 10 ... Chapter 11 ... Chapter 21
Chapter 9 ... Chapter 12 ... Chapter 22
Chapter 8 ... Chapter 13 ... Chapter 23
Chapter 7 ... Chapter 14
Chapter 6 ... Chapter 15
Chapter 5 ... Chapter 16
Chapter 4 ... Chapter 17
Chapter 3 ... Chapter 18
Chapter 2 ... Chapter 19
Chapter 1
... Chapter 20
Prolog

3 komentar:

  1. wahh, udh tamat .
    aku blm sempat baca yg part 22-end, aku smpetin utk komen dlu. hehe

    ayo kak bwt ff bumsso lg. huhahuhah *LOL

    _febi_

    BalasHapus
  2. annyeong eonni
    aku udah selesai baca dari kemaren, tpi baru smpat komen.
    Seneng ceritax happy ending, tpi sedih klo ceritax harus tamat, cos ceritax kereen bgt ^^
    Aku sudah menduga klo kimbum yg nemukan kalungx soeun,tpi ku kira baek suji yg salah mengenali
    kimbum.
    Seneng klo komplotan berbaju hitam dah ke tangkep, walau dalam komik conan komplotan berjubah hitam masih teka teki *glodak apa hubunganx coba*
    Aku tunggu ff selanjutx eonni author,
    Klo bisa sblum lebaran udah ada ff baru *maksa author, nodong pake sendok*
    Met seneng2 buat eonni author yang THRx udah keluar >o<

    an_nisa hou_rai

    BalasHapus
  3. Bagus FF nya , sedih juga sih ngeliat kim bum hilang ingatan kadang juga greget sendiri :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...