Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 24 Agustus 2011

Winter Love (Chapter 22)



Putih. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Setelah mengerjap beberapa kali, Kim Bum baru sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Di mana dia?

Di rumah sakit? Apa yang...?

Ah, ia ingat. Perkelahian itu. Lee Ji Hoon kembali menyerangnya. Dan Kim So Eun. Di mana gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?

“Kau sudah sadar?”

Kim Bum menggerakkan kepalanya ke arah suara. Wajah Song Seung Hun terlihat di samping tempat tidurnya. “Paman?” gumamnya serak.

“Aku senang kau masih mengingatku.” Song Seung Hun tersenyum lega. “Kurasa kau juga sadar bahwa kau berada di rumah sakit.”

“Kim So Eun?” tanya Kim Bum dan berusaha bangkit.

“Tunggu, tunggu,” cegah pamannya dan menahan bahu Kim Bum. “Pelan-pelan saja.”

Kim Bum duduk dibantu pamannya. “Di mana Kim So Eun? Bagaimana keadaannya?”

“Kim So Eun?” kata Song Seung Hun bingung. “Maksudmu gadis yang dibawa ke sini bersamamu itu? Dia baik-baik saja.”

“Di mana dia sekarang?”

“Tadi dia di sini. Perawat baru saja membujuknya kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus banyak istirahat,” sahut pamannya ringan. Melihat sorot mata Kim Bum yang tiba-tiba cemas, ia cepat-cepat menambahkan, “Percayalah. Dia tidak apa-apa. Kata dokter dia sudah boleh pulang besok. Sedangkan kau harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi.”

Merasa tenang mendengar Kim So Eun baik-baik saja, Kim Bum menghembuskan napas perlahan dan tersenyum. Kemudian ia tertegun dan menatap pamannya. “Paman, sudah berapa lama aku di sini?”

Pamannya tersenyum lebar. “Tidak selama yang waktu itu. Kau hanya pingsan beberapa jam. Hebat, kan? Apakah mungkin itu berarti kau sudah kebal dihajar?”

Kim Bum tertawa, dan langsung meringis ketika wajahnya terasa sakit. Ia melirik jam dinding. Belum tengah malam.

“Kenapa Paman masih ada di sini?” tanyanya heran. “Bukankah jam besuk sudah lewat?”

“Tentu saja sudah lewat,” balas pamannya sambil tertawa. “Tapi aku membujuk perawat memperpanjang waktu kunjunganku. Perawat di sini baik-baik.”

Kim Bum tertawa kecil, ingat pamannya bisa sangat mempesona kalau keadaan mengharuskan.

“Untunglah kau segera sadar,” Song Seung Hun menambahkan. “Kalau tidak, aku harus menelepon ibumu dan mengabarkan bahwa kau dikeroyok lagi. Ibumu pasti akan langsung terbang ke sini dan menyeretmu kembali ke New York tanpa banyak bicara.”

Kim Bum meringis. “Tapi Paman belum menelepon Ibu?”

“Kupikir, untuk apa membuat ibumu khawatir sebelum kita tahu hasil yang pasti? Bagaimanapun juga, sekarang kau sudah sadar dan sepertinya kau sangat baik.”

“Ya, tapi badanku sakit semua.” Kim Bum terdiam sejenak, lalu berkata, “Orang-orang itu...”

“Polisi sudah menahan orang-orang yang menyerangmu itu,” sela Song Seung Hun. Nada suaranya berubah serius. “Mereka juga yang menyerangmu pada Hari Natal waktu itu.”

Kim Bum mengangguk.

“Aku tidak ingin kau merisaukan masalah ini...” Pamannya tersenyum menenangkan. “Aku sudah menghubungi pengacaraku dan dia yang akan mengurus semuanya. Yang perlu kaulakukan sekarang hanyalah mengurus dirimu sendiri. Setelah merasa cukup sehat, kau harus memberikan pernyataan kepada polisi.”

Kim Bum mengangguk lagi. “Bagaimana dengan Kim So Eun?”

“Kurasa polisi sudah berbicara padanya.”

Kening Kim Bum berkerut samar. Ia tidak suka Kim So Eun harus menghadapi polisi sendirian.

Seolah-olah bisa membaca pikiran Kim Bum, Song Seung Hun berkata pelan, “Kau tidak perlu khawatir. Aku meminta pengacaraku menemaninya saat itu.”

Kim Bum menarik napas panjang. “Terima kasih, Paman.”

“Gadis itu... Kim So Eun,” Suara pamannya terdengar agak ragu, “... dia gadis yang kubilang mirip Baek Suzy.”

Kim Bum menatap pamannya dengan pandangan bertanya.

“Dia gadis yang pergi ke pertunjukan balet bersamamu pada malam Natal itu,” kata Song Seung Hun.

Kim Bum tersenyum. “Ya. Dia saudara perempuan Baek Suzy. Wajah mereka sangat mirip kan? Hampir terlihat seperti saudara kembar.”

Alis Song Seung Hun terangkat. “Benarkah?”

Kim Bum memejamkan mata, namun ia masih tetap tersenyum. “Dia tidak bercita-cita menjadi model. Dia senang bekerja di perpustakaan, suka membaca buku, suka mengomel dalam bahasa Jepang, dan suka menonton balet. Pikirannya juga suka melantur ke mana-mana. Dia takut gelap dan tidak bisa memasang bola lampu...”

“Dan kau menyukainya,” gumam Song Seung Hun pelan sambil tersenyum mengerti.

Kim Bum menatap pamannya. “Apa?”

Song Seung Hun menggerakkan dagunya ke arah meja kecil di samping tempat tidur. “Aku sudah melihat itu.”

Kim Bum menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat amplop besar. “Apa itu?”

Song Seung Hun meraih amplop itu dan menyerahkannya kepada Kim Bum.

“Mereka menemukan ini di balik swetermu. Amplopnya yang lama sudah basah dan robek, tapi foto-fotonya masih bisa diselamatkan.”

Kim Bum tersenyum memandangi foto-foto yang diberikan Park Shin Hye kepadanya. Foto-foto yang diambilnya ketika ia baru saja tiba di Seoul, termasuk foto-foto Kim So Eun.

“Dan ini Kim So Eun-mu, bukan?” tanya Song Seung Hun sambil menunjuk salah satu foto. “Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya.”

* * *

Beberapa jam setelah pamannya pulang, Kim Bum masih terjaga di ranjangnya.

Tubuhnya memang terasa lemah, tetapi ia sangat sadar, otaknya terang benderang, dan ia tidak bisa tidur.

Mungkin sebaiknya ia pergi melihat Kim So Eun. Memastikan gadis itu memang baik-baik saja.

Kim Bum turun dari ranjang dengan perlahan, meringis sedikit ketika kakinya menginjak lantai dan harus menopang tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih ke pintu, membukanya, dan melongokkan kepala ke luar. Tidak ada siapa-siapa di koridor yang diterangi lampu itu. Kamar Kim So Eun tidak jauh dari kamar Kim Bum sendiri. Ia sudah bertanya kepada pamannya tadi, jadi ia tidak akan kesulitan menemukan kamar Kim So Eun.

Kamar Kim So Eun memang tidak jauh, tetapi Kim Bum membutuhkan waktu lima belas menit untuk berjalan ke sana. Tentu saja karena ia sesekali harus berhenti sejenak untuk menarik napas atau mengistirahatkan ototnya yang sakit. Menjadi orang lemah dan sakit memang menyebalkan.

Perlahan-lahan dan tanpa suara Kim Bum membuka pintu kamar Kim So Eun. Di kamar yang diterangi lampu kecil di meja sudut, Kim Bum melihat Kim So Eun terbaring pulas di ranjang. Gadis itu berbaring menyamping, sebelah pipinya disandarkan ke bantal, dan selimut ditarik sampai ke dagu.

Kim Bum berjingkat-jingkat menghampiri ranjang. Ia berhenti di samping ranjang dan memandangi gadis yang terlelap itu.

Sepertinya tidak ada luka, pikir Kim Bum setelah menatap wajah Kim So Eun dengan saksama. Ia baik-baik saja. Syukurlah.

Kim Bum duduk di kursi di samping ranjang. Ia menarik napas dan menghembuskannya pelan. Kini ia bisa bernapas lebih mudah. Kegelisahan yang tanpa sadar dirasakannya sejak tadi mulai menguap dari tubuhnya. Ia merasa lega. Ya, semuanya akan baik-baik saja.

Ia berkata pada diri sendiri bahwa ia hanya akan duduk di sana sebentar. Hanya sebentar. Namun kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, walaupun ia hanya duduk di sana tanpa melakukan apa-apa selain memandangi wajah Kim So Eun yang sedang tidur?

* * *

Tadinya Jung Yong Hwa bermaksud mampir ke kamar Kim So Eun dan melihat keadaan gadis itu.

Walaupun Kim So Eun dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian gadis itu sadar dan langsung menanyakan keadaan Kim Bum.

“Kim Bum tidak apa-apa,” hibur Jung Yong Hwa saat itu. “Dia memang belum sadarkan diri, tapi keadaannya sudah stabil. Dia pasti bisa bertahan. Jangan khawatir.”

Kim So Eun masih terlihat cemas, tetapi ia tersenyum kecil. “Aku tahu,” gumamnya. Lalu ia mendongak menatap Jung Yong Hwa. “Boleh aku melihatnya?”

Jung Yong Hwa mengantarnya ke kamar rawat Kim Bum. Saat itu paman Kim Bum ada di sana, jadi Jung Yong Hwa memperkenalkan mereka berdua.

“Kukira semua keluarga Kim Bum sudah pindah ke New York,” kata Kim So Eun setelah memberi hormat kepada pria yang lebih tua itu dan acara perkenalan berlalu.

Song Seung Hun tersenyum. “Rupanya dia tidak pernah bercerita tentang aku?”

“Oh, aku tidak bermaksud...”

“Tidak apa-apa. Sudah kuduga pasti begitu,” sela paman Kim Bum ringan.

Kim So Eun beralih menatap Kim Bum yang terbaring di ranjang. Kepala dan kaki kiri Kim Bum dibebat.

“Keadaannya stabil,” gumam Song Seung Hun, menjawab pertanyaan Kim So Eun yang tidak diucapkan. “Dia baik-baik saja.”

Kim So Eun mengangguk.

“Kalau tidak keberatan, maukah kau menemaninya sebentar?” tanya Song Seung Hun. “Aku harus menelepon seseorang.”

Tentu saja Kim So Eun tidak keberatan. Tapi setelah menyatakan kesediaannya, ia baru berpaling ke arah Jung Yong Hwa, baru teringat Jung Yong Hwa masih berdiri di dalam kamar itu juga.

“Kau tidak perlu menemaniku,” katanya perlahan. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya akan duduk di sini sebentar. Hanya sebentar.”

“Baiklah,” kata Jung Yong Hwa setelah berpikir sejenak. “Tapi jangan ragu-ragu memanggilku kalau ada apa-apa.”

Kim So Eun tersenyum yakin. “Baiklah.”

Setelah itu Jung Yong Hwa meninggalkan Kim So Eun yang duduk di kursi di samping ranjang Kim Bum.

Kini, Jung Yong Hwa berdiri tertegun di pintu kamar rawat Kim So Eun yang terbuka sedikit.

Matanya menatap sosok Kim Bum yang duduk di kursi di samping ranjang Kim So Eun. Kim Bum hanya duduk di sana, dengan kedua tangan disandarkan ke masing-masing lengan kursi, kakinya yang dibebat diselonjorkan ke depan. Ia tidak melakukan apa-apa.

Hanya duduk di sana memandangi Kim So Eun yang sedang tidur.

Karena tidak ingin mengganggu, Jung Yong Hwa kembali menutup pintu tanpa suara dan berjalan menjauh dari kamar rawat Kim So Eun. Sebenarnya ia sudah merasakannya sebelum ini, hanya saja ia masih belum yakin atau ia tidak mau mengakuinya. Tetapi dari apa yang dilihatnya tadi, semuanya sudah jelas. Ia hanya perlu menerimanya.

* * *

Kim Bum tidak tahu jam berapa ia kembali ke kamarnya sendiri, tetapi ia akhirnya bisa terlelap. Dan ketika ia terbangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah walaupun rasa dingin di luar sana tetap menusuk tulang.

Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Mungkin pamannya baru akan datang siang nanti. Apakah Kim So Eun sudah bangun?

Kim Bum bermaksud pergi mencari gadis itu. Tetapi ketika ia sedang berusaha bangkit dari ranjang, pintu kamarnya terbuka. Ia mengangkat wajah, berharap melihat Kim So Eun, tetapi ternyata bukan.

“Park Shin Hye?”

Park Shin Hye menyerbu masuk dan bergegas menghampiri ranjang Kim Bum. “Tadi aku pergi mencarimu ke apartemenmu dan salah seorang tetanggamu memberitahuku tentang penyerangan itu. Jadi aku langsung ke sini,” katanya cemas, sebelum Kim Bum sempat bertanya. “Prince Smile, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir,” kata Kim Bum menenangkan. Ia memberi isyarat supaya Park Shin Hye duduk, tetapi wanita itu mengabaikannya karena sepertinya ia terlalu cemas. Lalu Kim Bum menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi kemarin malam.

“Mengerikan sekali,” gumam Park Shin Hye di akhir penjelasan Kim Bum.

“Tapi aku akan segera sembuh,” tambah Kim Bum. “Jung Yong Hwa juga bilang yang harus kulakukan hanya istirahat yang cukup. Setelah itu aku akan sembuh total.”

Park Shin Hye masih terlihat cemas.

“Oh ya, kenapa kau mencariku?” tanya Kim Bum, teringat bahwa Park Shin Hye pergi mencarinya ke apartemen.

Akhirnya Park Shin Hye duduk di kursi di samping ranjang. “Oh, aku hanya ingin memberitahumu pelatihanku di Seoul sudah berakhir dan besok aku akan pulang ke New York.”

“Oh, ya? Cepat sekali waktu berlalu.”

“Tapi aku bisa tetap tinggal di sini kalau kau membutuhkanku. Maksudku, karena sekarang kau masih sakit.”

Kim Bum menggeleng. “Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Dan aku tidak mungkin merepotkanmu.”

Park Shin Hye tersenyum kecil. “Sama sekali tidak repot. Itu gunanya teman, bukan?” sahutnya. Ia terdiam sejenak. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Kim So Eun?”

Wajah Kim Bum melembut. “Dia diizinkan pulang hari ini,” sahutnya sambil tersenyum.

“Senang mendengar dia juga baik-baik saja.”

Kim Bum mendesah dan memandang ke luar jendela. “Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kurasa aku...”

“Ya?”

Kim Bum menatap Park Shin Hye, baru sadar kalau tadi ia sudah mengucapkan apa yang sedang dipikirkannya. Ia menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”

“Prince Smile.”

“Mm?”

“Kau yakin dengan perasaanmu terhadap Kim So Eun?”

“Maksudmu?”

Park Shin Hye mengangkat bahu dengan bimbang. “Bukan apa-apa. Maksudku, kau tidak mengenalnya dan kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang dia, tapi tiba-tiba kau bilang kau menyukainya. Bukankah kedengarannya gegabah?”

Kim Bum mendongak menatap langit-langit. “Ingatanku bisa saja bermasalah,” gumamnya pelan, “tapi aku tahu apa yang kurasakan.”

“Apa yang kaurasakan?”

“Kau ingat ketika kita menghadiri acara reuni SMP-ku bulan lalu?” Kim Bum menoleh ke arah Park Shin Hye. Ketika yang ditanya mengangguk, ia melanjutkan, “Saat itulah pertama kali aku melihatnya setelah aku hilang ingatan. Dia sedang berdiri di seberang ruangan. Dan ketika dia menatap ke arahku, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi saat itu... aku merasa sangat senang melihatnya.”

Kim Bum berhenti sejenak dan mengangkat bahu. “Kedengarannya konyol, bukan?”

Park Shin Hye menarik napas perlahan, lalu tersenyum. “Tidak. Sama sekali tidak konyol.”

“Saat itu aku sangat bingung dengan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya,” lanjut Kim Bum dengan nada melamun. “Maksudku, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tidak ingat apa pun tentang dirinya. Tetapi aku selalu ingin melihatnya.”

“Akhirnya kau berpikir dulu kau mungkin pernah menyukainya,” gumam Park Shin Hye.

“Ya. Saat itu aku memang berpikir begitu,” aku Kim Bum. “Tapi sekarang aku tahu memang begitulah kenyataannya.”

Alis Park Shin Hye terangkat sedikit. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata pelan, “Ingatanmu sudah kembali.”

* * *

“Kim So Eun.”

Kim So Eun yang sedang dalam perjalanan ke kamar Kim Bum berhenti melangkah dan menoleh ketika mendengar suara Jung Yong Hwa. “Jung Yong Hwa,” sapanya sambil tersenyum lebar dan membungkuk. “Selamat pagi.”

Jung Yong Hwa menghampiri Kim So Eun. “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”

“Sangat baik. Terima kasih atas bantuannya.”

Jung Yong Hwa tersenyum kecil. “Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang sakit,” sahutnya ringan. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “Kim So Eun, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi...”

“Jung Yong Hwa,” sela Kim So Eun cepat, “apa pun yang dilakukan sepupumu tidak ada hubungannya denganmu. Jadi kau tidak perlu meminta maaf untuk apa pun. Aku yakin Kim Bum juga akan mengatakan hal yang sama.”

Jung Yong Hwa menarik napas panjang. “Aku hanya berharap aku bisa membantu.”

“Kau sudah banyak membantu dengan memberikan informasi kepada polisi,” kata Kim So Eun. “Itu tindakan yang sangat berani.”

Jung Yong Hwa menatap lurus ke mata Kim So Eun. “Aku sungguh tidak ingin kau terluka.”

Alis Kim So Eun terangkat sedikit, tetapi ia tetap tersenyum. “Jung Yong Hwa, aku tidak apa-apa. Sungguh. Bukankah kau sendiri yang bilang begitu?”

“Benar. Kau memang benar. Aku hanya berharap...” Jung Yong Hwa ragu sejenak. Ia menatap Kim So Eun dan tersenyum kecil. “Aku hanya berharap akulah yang melindungimu saat itu.”

* * *

“Kau tidak perlu mengantarku!” kata Park Shin Hye ketika Kim Bum bangkit dari ranjang dan ingin mengantarnya ke luar. “Kau masih belum cukup sehat untuk berkeliaran.”

“Tidak apa-apa. Aku juga butuh olahraga,” sahut Kim Bum mantap. “Lagi pula hanya sampai ke lift.”

Begitu tiba di depan lift, Park Shin Hye berbalik menghadap Kim Bum. “Oh, ya, hampir saja lupa,” katanya sambil tersenyum dan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kertas ungu. “Untukmu,” katanya Park Shin Hye dan mengulurkan kotak itu ke arah Kim Bum.

“Apa ini?”

“Cokelat,” sahut Park Shin Hye pendek. “Happy Valentine’s Day.”

Alis Kim Bum terangkat. “Valentine’s Day? Sekarang bukan tanggal 14, bukan?”

Park Shin Hye tersenyum. “Tanggal 14 nanti aku sudah tidak ada di Seoul, jadi kuputuskan untuk memberikannya sekarang,” katanya, lalu masuk ke lift dan melambaikan tangan.

Setelah pintu lift tertutup, Kim Bum berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti dan ia menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Kim So Eun, yang saat itu masih mengenakan piyama rumah sakit, berdiri berhadapan dengan Jung Yong Hwa.

Kim Bum melihat tangan Jung Yong Hwa memegang kedua bahu Kim So Eun, sepertinya sedang mengatakan sesuatu. Kim So Eun mendongak menatap laki-laki itu, tersenyum, dan mengangguk. Lalu Jung Yong Hwa melambaikan tangan dan berjalan pergi.

Kim So Eun sendiri berputar dan berjalan ke arah kamar rawat Kim Bum. Sedetik kemudian gadis itu mengangkat wajah dan menatap Kim Bum. Matanya melebar dan senyumnya berubah cerah.

Apakah gadis itu gembira karena melihatnya atau gembira karena baru bertemu dengan Jung Yong Hwa?

“Kim Bum,” seru Kim So Eun dan bergegas menghampiri Kim Bum. “Kau benar-benar sudah sadar.”

Kim Bum menunduk menatap gadis itu dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat gadis itu tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. “Aku sduah sadar sejak kemarin malam,” katanya, “tapi tentu saja kau tidak tahu karena kau tidur seperti bayi.”

Kim So Eun balas menatapnya dengan mata yang juga disipitkan. “Apa maksudmu aku tidur seperti bayi?” katanya, terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Ngomong-ngomong, kenapa kau jalan-jalan sendirian? Ayo, kembali ke kamar.”

Kim Bum membiarkan dirinya dituntun Kim So Eun kembali ke kamar rawatnya. “Aku bosan,” gerutunya. “Dan aku benci rumah sakit.”

Mereka masuk ke kamar dan Kim So Eun mendorong Kim Bum ke ranjang. “Kalau kau mau cepat-cepat keluar dari sini, kau harus istirahat. Luka-lukamu masih belum sembuh benar. Memangnya kau mau lukamu bertambah parah dan tinggal di sini lebih lama lagi?”

Kim Bum duduk di tepi ranjang dengan patuh, lalu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. “Kau juga duduk di sini.”

Kim So Eun menurut. Ia duduk di samping Kim Bum di ranjang dan menatap laki-laki itu.

“Kim Bum... Terima kasih.”

“Terima kasih? Untuk apa?”

Kim So Eun menggeleng. “Karena aku, kau jadi terluka seperti ini. Bagaimana kepalamu? Sakit sekali?”

“Kau tidak perlu mencemaskanku,” kata Kim Bum. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh luka memar di pipi Kim So Eun.

Sentuhannya ringan, tetapi Kim So Eun meringis karena kulitnya masih terasa nyeri.

“Masih sakit?” tanya Kim Bum dengan nada khawatir.

Setelah menahan napas sesaat, Kim So Eun memaksa dirinya menghirup napas dengan normal dan menggeleng. “Sepertinya kau lebih kesakitan daripada aku.”

Kim Bum menurunkan tangannya dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Aku kuat. Luka begini saja sama sekali bukan masalah.”

Alis Kim So Eun terangkat. “Bukan masalah? Kau tahu betapa takutnya aku sewaktu orang-orang itu tidak mau berhenti memukulimu? Dan aku tidak bisa membantumu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika polisi datang, kau tidak bergerak. Kukira kau... Kukira...” Mata Kim So Eun berkaca-kaca. Ia mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya ke depan, dan menarik napas panjang.

Kim Bum tertegun. Ia menatap Kim So Eun sesaat, lalu mengulurkan tangan meraih tangan Kim So Eun dan meremasnya. “Maafkan aku,” gumamnya. “Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

* * *

Kim So Eun sendiri tidak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata itu. Tetapi semua itu benar. Saat itu ia memang sangat ketakutan. Bukan takut pada orang-orang kasar itu, tetapi takut mereka akan melukai Kim Bum. Yang dipikirkannya saat itu adalah bagaimana kalau Kim Bum celaka? Bagaimana kalau Kim Bum tidak bisa bangun lagi? Selama-lamanya? Apa yang akan terjadi padanya kalau orang-orang itu benar-benar membunuh Kim Bum? Kim So Eun menggigil memikirkan kemungkinan itu.

Saat itu Kim Bum menggenggam tangannya dan berkata pelan, “Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

Kim So Eun menahan napas, mengangkat wajah, dan menatap Kim Bum. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dan meremas tangannya, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu cemas. Benar, pikir Kim So Eun. Aku tidak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja. Kim Bum baik-baik saja. Laki-laki ini kini ada di sampingnya. Dan itulah yang terpenting.

“Ngomong-ngomong, apa itu?” tanya Kim So Eun sambil mengalihkan perhatian ke arah kotak kecil di ranjang Kim Bum.

“Oh, cokelat. Hadiah Valentine dari Park Shin Hye,” sahut Kim Bum ringan.

Alis Kim So Eun terangkat. “Park Shin Hye? Tadi dia ke sini?” tanyanya.

Kim Bum mengangguk. “Dia hanya sebentar di sini.”

“Oh.” Hanya itu yang bisa dikatakan Kim So Eun. Ia tidak ingin bertanya untuk apa Park Shin Hye datang ke sini. Walaupun Kim Bum pernah berkata ia tidak punya hubungan istimewa dengan Park Shin Hye, tetap saja itu bukan urusan Kim So Eun.

“Dia datang untuk mengatakan dia akan pulang ke New York,” kata Kim Bum tanpa ditanya. “Masa pelatihannya sudah selesai.”

“Oh?” Kim So Eun agak kaget mendengarnya. Tanpa bisa mencegah dirinya, ia bertanya, “Apakah kau juga...?”

“Aku akan tetap di sini. Bersamamu,” kata Kim Bum sambil menatap lurus ke arah Kim So Eun. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. “Apakah kau mau menerimaku?”

Kenapa Kim So Eun tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatap Kim Bum dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras. Akhirnya, ia memutuskan untuk menganggapinya sebagai gurauan. “Karena hanya aku yang mau memasak untukmu?” tanyanya sambil tersenyum lebar.

Kim Bum terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Tiba-tiba ia bertanya, “Ngomong-ngomong, aku melihatmu bersama Jung Yong Hwa tadi.”

Agak kaget dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini, Kim So Eun mengerjap, lalu bertanya heran, “Ya. Kenapa?”

“Apa yang kalian bicarakan?”

Kim So Eun tidak langsung menjawab. Lalu ia menunduk dan berkata, “Tidak ada yang penting.”

Kim Bum berdeham. “Kau... berencana memberinya cokelat? Pada Hari Valentine nanti, maksudku.”

Kim So Eun mengerutkan kening, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh itu.

Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan cokelat kepada Jung Yong Hwa pada Hari Valentine.

“Kau akan memberikan cokelat kepadanya?” Suara Kim Bum terdengar lagi.

Kim So Eun tersenyum sendiri dan menggeleng. “Tidak.”

“Kalau untukku?”

“Apa?” Kim So Eun mengerjap dan menatap Kim Bum.

Kim Bum tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kau membuat biskuit yang sama seperti yang pernah kauberikan kepadaku Hari Natal lalu? Enak sekali.”

Mata Kim So Eun melebar. Apa? Biskuit? Hari Natal lalu? Tunggu... Jadi...? Ia tidak berani berharap, tapi...

“Aku sudah ingat,” kata Kim Bum, seolah-olah menegaskan apa yang dipikirkan Kim So Eun.

“Kau sudah ingat?” ulang Kim So Eun tidak percaya. “Semuanya?”

Kim Bum mengangguk. “Semuanya.”

Sejenak Kim So Eun tidak berkata apa-apa, hanya menatap Kim Bum tanpa berkedip. Ia ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan Kim Bum kepadanya. Ia ingin merasa yakin ini bukan mimpi.

Kim Bum menatapnya dengan alis terangkat. “Kim So Eun, kenapa diam saja? Aku benar-benar sudah ingat semuanya. Tidak percaya?” Ia memiringkan kepala dan mengerutkan kening, seolah-olah sedang berpikir. “Aku ingat kau mengendap-endap di depan pintu apartemenku pada hari pertama aku tiba di Seoul. Aku ingat kau pernah bermalam di apartemenku karena lampu di apartemenmu tidak bisa menyala. Oh, jangan menatapku seperti itu. Kau memang bermalam di apartemenku walaupun kau tidak suka dengan istilah itu. Aku ingat kencan kita pada malam Natal, pertunjukan balet, lalu kita pergi ke arena seluncur es...”

Tiba-tiba saja, tanpa berpikir dua kali, tanpa benar-benar berpikir, Kim So Eun melingkarkan kedua lengannya di leher Kim Bum dan memeluknya erat-erat.

Sekujur tubuh Kim Bum masih sakit dan ia harus menahan diri untuk tidak meringis atau mengaduh ketika Kim So Eun tiba-tiba memeluknya dan hampir membuatnya terjungkal ke belakang. Tetapi bagaimanapun juga, ada saatnya ketika rasa sakit sama sekali tidak penting. Misalnya sekarang, ketika Kim So Eun memeluknya untuk pertama kali.

“Kau sudah kembali,” gumam Kim So Eun di bahu Kim Bum. “Kau sudah kembali.”

Kim Bum tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan pelan. Ia merasa lega. Sangat lega. “Aku sudah kembali,” gumamnya lirih. “Apakah kau juga akan kembali kepadaku?”

Kim So Eun tertegun. Lalu ia mundur sedikit dan menatap Kim Bum.

Tiba-tiba pintu kamar rawat Kim Bum terbuka dan langsung disusul oleh suara Yoon Eun Hye. “Dia pasti ada di kamar Kim Bum. Nah, kubilang juga... Hmm, kalian sedang apa?”

Kim So Eun tersentak dan buru-buru menjauh dari Kim Bum. Wajahnya terasa panas.

“Eonni, kau sudah datang. Oh, Song Chang Ui Oppa dan So Yi Hyun Eonni juga.”

“Aku juga datang!” seru Lee Ki Kwang yang masuk belakangan. “Wah, Kim Bum Hyung sudah sadar?”

“Ingatan Kim Bum sudah kembali,” kata Kim So Eun.

Dan kamar yang tadinya terasa agak sepi itu pun berubah ramai.

“Benarkah? Itu berita yang sangat bagus, Kim So Eun?”

“Kita harus merayakannya begitu Kim Bum keluar dari rumah sakit.”

“Hyung, apakah ingatanmu kembali gara-gara kejadian kemarin? Maksudku, karena kepalamu dipukul sekali lagi... Aduh! Noona, kenapa kepalaku dipukul?”

“Karena kau tidak peka. Siapa suruh kau mengungkit-ungkit masalah itu? Ngomong-ngomong, kalian berdua, tentunya kalian sudah tahu mataku tajam dan aku selalu yakin dengan apa yang kulihat. Jadi mulailah menjelaskan apa yang kulihat tadi ketika aku baru masuk.”

Bersambung…

Chapter 10 ... Chapter 11 ... Chapter 21
Chapter 9 ... Chapter 12
Chapter 8 ... Chapter 13
Chapter 7 ... Chapter 14
Chapter 6 ... Chapter 15
Chapter 5 ... Chapter 16
Chapter 4 ... Chapter 17
Chapter 3 ... Chapter 18
Chapter 2 ... Chapter 19
Chapter 1
... Chapter 20
Prolog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...