Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Spring Love (Chapter 21)



Seoul, Korea Selatan

Kim Bum duduk sendirian di bar langganannya dan mengamati cairan keemasan dalam gelasnya sambil melamun. Dua minggu terakhir ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Hari-harinya disibukkan dengan pertemuan dengan para manajernya untuk membahas pengaruh skandal ini terhadap reputasinya, menghadapi para wartawan yang menuntut penegasan, menenangkan keluarganya yang kalang kabut dan ibunya yang jatuh sakit begitu mendengar gosip bahwa almarhum putranya pernah melakukan kejahatan, serta melacak keberadaan Jang Geun Suk, yang rupanya sedang bersembunyi dari para wartawan.

Butuh waktu beberapa hari sebelum Kim Bum berhasil menemukan Jang Geun Suk. Kim Bum masih ingat bagaimana wajah Jang Geun Suk memucat ketika Kim Bum menemuinya. Ternyata si pengecut itu sama sekali tidak berniat menyebarluaskan masalah kakak Kim Bum dengan Kim So Eun. Hanya saja saat itu ia sedang minum-minum bersama beberapa orang temannya, salah seorang di antaranya adalah wartawan tabloid gossip dan dalam keadaan mabuk ia mengungkit apa yang pernah dilakukan kakak Kim Bum. Tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebut nama Kim So Eun dan bersumpah tidak akan pernah melakukannya. Bagaimanapun juga, ia sadar ia adalah kaki-tangan dalam masalah ini dan bisa diseret ke penjara. Ia bahkan sudah berencana pindah ke London, tempat tinggal orangtuanya, demi menghindari bencana.

Kim Bum mendengus dan meneguk minumanya. “Setidaknya dia masih punya otak,” gumamnya pada diri sendiri.

Walaupun Jang Geun Suk sudah berjanji akan tutup mulut rapat-rapat, Kim Bum masih pusing memikirkan bagaimana cara meredam gosip yang sudah telanjur merebak ini dan bagaimana ia bisa mengelak dari para wartawan yang terus mengejarnya. Selama seminggu berikutnya Kim Bum nyaris tidak bisa tidur memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Lalu tiba-tiba hari ini terjadi sesuatu yang sama sekali tidak terrduga. Sesuatu yang bisa saja membantu Kim Bum meredam skandal, atau malah memperumit masalah yang sudah ada. Seorang wanita bernama Jung So Min yang mengaku sebagai mantan kekasih kakak Kim Bum entah kenapa merasa bahwa dirinyalah yang digosipkan sebagai korban pemerkosaan dalam skandal ini. Pagi ini ia mengadakan jumpa pers untuk memberikan pernyataan bahwa skandal itu tidak benar dan bahwa hubungannya dengan kakak Kim Bum sama sekali tidak didasarkan atas paksaan.

Kim Bum benar-benar tidak tahu kenapa wanita itu merasa dirinyalah yang digosipkan sebagai korban. Mungkin saja wanita itu benar-benar pernah menjalin hubungan dengan kakak Kim Bum dan ia benar-benar salah paham karena mengira dirinyalah yang dimaksud oleh gosip ini. Atau mungkin juga ia hanya mencari popularitas sesaat demi mendongkrak kariernya yang sedang merosot sebagai aktris televisi. atau mungkin saja ia ingin mencari keuntungan dari keluarga Kim Bum dalam masalah ini. Pengacara keluarga Kim Bum akan pergi menemui wanita itu besok pagi dan Kim Bum hanya bisa berharap semuanya berjalan dengan baik.

“Hei, Teman. Sudah lama menunggu?”

Suara Jung Yong Hwa membuyarkan lamunan Kim Bum. Ia menoleh dan tersenyum pada sahabatnya. “Belum lama,” sahutnya. “Lagi pula aku tahu penyanyi terkenal sepertimu pasti tidak punya waktu luang sebelum tengah malam.”

“Kau sendiri juga sangat sibuk begitu pulang dari Paris dan baru hari ini kau menghubungiku.” Jung Yong Hwa duduk di samping Kim Bum dan memesan minuman kepada bartender yang menghampirinya. Kemudian ia menoleh kembali kepada Kim Bum. “Bagaimana keadaanmu? Aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi pagi ini. Benar-benar mengejutkan, bukan?”

“Mmm. Memang mengejutkan,” tambah Kim Bum jujur.

“Kau kenal wanita itu?” tanya Jung Yong Hwa.

Kim Bum menggeleng. “Tapi aku akan meminta pengacaraku pergi menemuinya, untuk memastikan wanita itu tidak mencari keuntungan dalam situasi ini.”

Jung Yong Hwa mengangguk-angguk. “Bagaimana keadaan ibumu sekarang?”

Kim Bum mendesah. “Masih sama. Tapi kurasa keadaannya akan membaik setelah mendengar bahwa putra kesayangannya bukan kriminal seperti yang digosipkan.”

Saat itu ponsel Kim Bum berbunyi. “Siapa lagi malam-malam begini?” gumamnya pada diri sendiri dan menempelkan ponsel ke telinga. “Halo?”

“Kim Bum?”

Alis Kim Bum terangkat kaget begitu mendengar suara Kim So Eun di ujung sana. “Kim So Eun? Ada apa? Ada masalah?”

Jung Yong Hwa menoleh heran mendengar Kim Bum berbicara dalam bahasa Inggris.

“Tidak ada masalah apa-apa,” sahut Kim So Eun cepat. “Hanya ingin tahu keadaanmu.”

Kim Bum tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

Kim So Eun ragu sejenak, lalu berkata, “Kim Bum, aku tahu apa yang sedang terjadi di sana dan aku mengerti kenapa kau tidak mau mengatakannya padaku, tapi...”

“Kau tahu?” sela Kim Bum agak kaget.

“Ya, aku tahu.”

Kim Bum menarik napas dalam-dalam. “Kim So Eun, aku baik-baik saja. Sungguh. Aku bisa mengatasinya. Kau tidak usah khawatir.”

“Lalu bagaimana situasinya sekarang?” tanya Kim So Eun.

Kim Bum menceritakan kejadian mengejutkan pagi ini.

“Benarkah?” Nada Kim So Eun terdengar datar, tanpa emosi.

“Ya. Tapi kau tidak usah cemas. Aku sudah mengurusnya semuanya akan baik-baik saja.”

“Kuharap begitu.” Kim So Eun terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Ngomong-ngomong, ada yang ingin kukatakan kepadamu. Tadinya aku tidak ingin berkata apa-apa, tapi setelah kupikir-pikir lagi, sebaiknya aku mengatakannya secara langsung kepadamu.”

Kim Bum langsung berubah was-was. “Ada apa?”

“Aku...” Kim So Eun menarik napas, “aku sudah memutuskan untuk kembali ke Jepang.”

Alis Kim Bum berkerut kaget. “Apa? Kenapa?”

“Aku... Aku butuh waktu untuk berpikir dan menyelesaikan masalahku sendiri.”

“Masalah apa?”

“Masa laluku. Aku tahu selama ini aku terus melarikan diri dari masa laluku. Kupikir sudah saatnya aku menghadapinya.”

Kim Bum masih tidak mengerti. “Lalu...?”

“Karena itu aku butuh waktu. Sementara aku mengatur kembali hidupku, aku benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain. Aku harus menghadapi diriku sendiri terlebih dahulu sebelum aku bisa menghadapi orang lain.” Kim So Eun terdiam sejenak. “Termasuk dirimu.”

“Apa?”

“Karena itu kurasa ada baiknya kita tidak berhubungan... untuk sementara.”

Otak Kim Bum kosong sesaat dan ia nyaris yakin jantungnya berhenti berdebar. Kim So Eun akan meninggalkannya. Ya Tuhan, Kim So Eun akan meninggalkannya. Ia merasa sekujur tubuhnya mendadak lumpuh.

“Untuk sementara?” ulang Kim Bum datar, lalu menelan ludah. “Berapa lama?”

“Entahlah,” kata Kim So Eun cepat. “Aku hanya merasa kita berdua butuh waktu untuk berpikir. Supaya kita benar-benar yakin tentang apa yang kita inginkan.”

Kim Bum menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan kepanikan yang tiba-tiba menyerangnya. “Maksudmu kau tidak yakin dengan perasaanku,” katanya pelan. “Apakah sesulit itu bagimu untuk percaya padaku?”

“Apakah kau sudah lupa alasan awalmu datang ke Paris?” Kim So Eun balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Kim Bum. “Kau datang ke Paris untuk bekerja dengan Song Chang Ui. Karena kau bercita-cita menjadi sutradara terkenal.”

“Apa hubungannya...?”

“Jadilah sutradara terkenal.”

“Apa?”

“Jadilah sutradara terkenal,” ulang Kim So Eun. “Setelah itu, kalau memang masih ada kesempatan, kita bisa bertemu lagi.”

Kim Bum terdiam. Sekali lagi ia menghela napas panjang dan menunduk. Ia tidak ingin menunggu. Ia tidak ingin Kim So Eun pergi dari sisinya. Sebagian dari dirinya yang enggan paham bahwa Kim So Eun butuh waktu. Untuk mengembalikan kepercayaan dirinya sendiri. Juga untuk percaya pada Kim Bum. Ini keputusan yang sangat sulit, tapi...

“Baiklah,” kata Kim Bum akhirnya, “aku bisa menunggu.”

Kim So Eun tidak berkata apa-apa.

“Kalau kau butuh waktu untuk memercayaiku, aku bisa menunggu.”

Masih tidak terdengar suara di ujung sana, namun Kim Bum yakin Kim So Eun mendengarnya.

“Aku akan menjadi sutradara terkenal seperti yang kaukatakan. Dan, Kim So Eun, pada saat kita bertemu nanti dan kita pasti akan bertemu lagi, baik kau siap atau tidak…kau harus memberikan jawabanmu,” kata Kim Bum.

Hening sejenak, lalu terdengar Kim So Eun bergumam, “Terima kasih.”

Jung Yong Hwa meliriknya ketika Kim Bum menutup ponsel dan menghabiskan sisa minumannya dengan sekali teguk. “Siapa Kim So Eun?” tanya Jung Yong Hwa dengan nada polos.

Kim Bum menghembuskan napas berat dan mendorong gelasnya yang sudah kosong menjauh. “Dia benar-benar bisa membuatku gila,” gerutunya.

Jung Yong Hwa terkekeh pelan. “Bukankah semua wanita begitu?” katanya. “Lagi pula, kalau dia memang membuatmu gila, kenapa kau tidak melepaskannya saja?”

Kim Bum tidak langsung menjawab. Ia tepekur sejenak, lalu tersenyum muram dan menggeleng. “Aku juga berharap bisa semudah itu,” gumamnya.

Jung Yong Hwa menatapnya tidak mengerti.

“Masalahnya aku tidak bisa melepaskannya,” lanjut Kim Bum tanpa membalas tatapan temannya. Kemudian ia tertawa pendek dan berkata, “Benar-benar bodoh, bukan?”

Jung Yong Hwa hanya tersenyum kecil dan menyesap minumannya. “Bukankah kita semua juga begitu?”

* * *

Kim So Eun menutup ponsel dengan gerakan pelan dan jatuh terduduk di tempat tidurnya. Mendadak saja ia merasa sedih walaupun ia terus berkata pada diri sendiri bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Bagaimanapun juga, ia melakukan semua ini demi dirinya sendiri dan Kim Bum.

Seperti yang dikatakannya tadi, ia butuh waktu untuk berpikir. Tentang masa lalu dan masa depannya. Juga tentang Kim Bum. Saat ini Kim So Eun benar-benar tidak bisa berdiri di hadapan Kim Bum dan menatap matanya tanpa merasa malu. Masa lalunya terlalu kotor.

Sedangkan soal Kim Bum... Kim So Eun yakin Kim Bum juga butuh waktu untuk berpikir. Kim Bum mungkin berkata bahwa perasaannya tidak berubah bahkan setelah ia tahu tentang masa lalu Kim So Eun, tetapi Kim So Eun tidak yakin Kim Bum akan tetap merasa seperti itu setelah mendapat waktu yang cukup untuk benar-benar memikirkan semuanya.

Kim So Eun ingin menberikan kesempatan kepada Kim Bum untuk menarik diri sebelum laki-laki itu menyesal.

Sebutir air mata jatuh di pipinya dan Kim So Eun menghapusnya dengan cepat.

Kenapa ia menangis? Kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit? Kim So Eun menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.

Jawabannya sederhana saja.

Karena ia, Kim So Eun, dengan bodohnya telah menyerahkan hati dan jiwanya kepada Kim Bum.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...