Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Rabu, 27 Juli 2011

The Right Man (Chapter 16)



"Hasil pemeriksaan rontgen dan CT scan-mu baik, Kim So Eun," kata Dokter Song Seung Hun ketika sore itu Kim So Eun mengunjunginya. "Artinya belum ada metastasis jauh. Tapi hasil biopsimu menguatkan dugaan saya bahwa kankermu ganas."

Ganas. Kanker ganas. Kim So Eun terpuruk dalam ketakutan dan kesedihan. Rasanya seperti perlahan-lahan sedang tersedot ke dalam kubangan lumpur. Makin lama makin dalam. Perlahan tapi pasti. Tak ada jalan untuk lolos.

Baek Suzy yang sejak hari itu tidak mau jauh dari ibunya, memaksa ikut mendampingi Kim So Eun. Meskipun sebenarnya Kim So Eun lebih suka pergi seorang diri ke tempat praktek Dokter Song Seung Hun. Dia takut Baek Suzy tidak sanggup mendengar vonis dokter atas penyakit ibunya.

Dan sekarang Baek Suzy yang sejak tadi menanti dengan tegang, menggenggam tangan ibunya erat-erat. Tangisnya meledak tanpa dapat ditahan-tahan lagi. Kim So Eun berusaha menenangkannya. Dan memintanya menunggu di luar. Tetapi Dokter Song Seung Hun mencegahnya.
"Biarkan saja," katanya bijaksana. "Saya mengerti. Mulai sekarang anak-anakmu memang sebaiknya dilibatkan dengan penyakitmu. Mereka harus tahu semuanya. Diagnosis. Terapi. Sampai prognosisnya. Kehadiran mereka dapat menguatkan-mu, Kim So Eun."

"Seberapa parahnya penyakit saya, Dokter?" tanya Kim So Eun getir. Baek Suzy masih terisak dalam pelukan ibunya. "Sudah stadium II. Karena tumor payudaramu sudah berukuran tiga sentimeter. Dan sudah ada penjalaran ke kelenjar limfe ketiak sesisi."

"Berapa lama lagi, Dokter?" tanya Kim So Eun antara sedih dan takut. Dia hampir tidak berani menanyakannya. Tetapi bukankah lebih baik mengetahui berapa lama lagi kesempatannya untuk berkumpul bersama anak-anaknya?

Baek Suzy mendekap ibunya semakin erat. Menyembunyikan kepalanya semakin dalam di dada ibunya. Seolah-olah tidak berani mendengar jawaban Dokter Song Seung Hun.

Kim So Eun membelai-belai kepala anaknya dengan lembut. Menggenggam tangannya erat-erat. Seakan ingin menabahkan putrinya. Padahal dia sendiri sudah membeku, dalam ketakutan.

"Jangan tanya begitu." Dokter Song Seung Hun menghela napas berat. Barangkali dia tidak sampai hati mengatakannya. "Yang penting tumormu masih dapat dioperasi. Karena belum ada metastasis jauh, jika kau mau dioperasi sekarang, kans hidupmu untuk lima tahun mendatang masih cukup besar."

"Dokter yakin belum ada sebaran jauh kanker ini di tubuh saya? Percuma saja dioperasi kalau seperti teman saya itu, Dokter. Dioperasi mati juga Malah lebih cepat, kata orang."

"Paru-parumu bersih. Demikian juga hati, tulang, dan organ-organ lain yang sering kena. Belum ada anak sebar di kelenjar getah bening leher maupun di payudara kanan dan ketiak kanan."

"Operasinya sendiri berbahaya, Dokter?" tanya Kim So Eun dengan air mata berlinang. "Saya masin ingin hidup lebih lama lagi bersama anak-anak saya…"

“Tentu saja setiap operasi ada risikonya. Tetapi dewasa ini angka kematian operasi mastektomi tidak besar."

*)Mastektomi adalah istilah kedokteran bagi operasi pengangkatan satu ataupun kedua payudara, bisa sebagian ataupun seluruhnya. Mastektomi biasa dikerjakan sebagai terapi bagi kanker payudara; pada beberapa kasus, wanita dan beberapa pria mempercayai untuk lebih baik melakukan operasi profiksasis (pencegahan) daripada beresiko tinggi untuk terkena kanker payudara. Mastektomi juga merupakan prosedur medis untuk mengangkat kanker payudara bagi penderita pria.

Pengobatan kanker payudara pada dahulu kala ialah dengan mengangkat payudara secara keseluruhan. Akhir-akhir ini, keputusan untuk melakukan mastektomi dipertimbangkan berdasarkan factor-faktor, antara lain: ukuran payudara, jumlah massa (benjolan), keagresifitasan dari sel kanker payudara tersebut, efek dari terapi radiasi, dan kemauan penderita untuk menerima resiko yang lebih tinggi angka kekambuhan setelah dikerjakan lumpectomy dan radiasi.

"Selain payudara, apa lagi yang harus dibuang, Dokter?”

"Sebenarnya operasi bertujuan memberantas keganasan lokal di payudara dan regional di ketiakmu. Jadi baik payudara maupun kelenjar limfe ketiak seluruhnya harus diangkat Karena sering kambuh, dan kekambuhan ini biasanya malah bukan di tempat pengobatan awal, dalam sepuluh tahun terakhir ini telah dilakukan modifikasi pada operasi mastektomi radikal."


"Artinya?" "Otot-otot dada yang diangkat hanya sebagian, Pengangkatan kelenjar ketiak sesisi pun tidak seluas dulu lagi"

"Tetapi payudara tetap diangkat seluruhnya?"

"Jika belum ada penjalaran ke kelenjar limfe ketiak sesisi, saya cenderung melakukan Pembedahan Konservasi Payudara. Jadi hanya tumor payudaramu yang diangkat. Sesudah itu dilakukan radiasi atau penyinaran di payudara dan ketiak."

"Sekarang?"

"Saya masih mempertimbangkannya. Karena tumor primer di payudaramu masih lebih kecil dari empat sentimeter, anak sebar di kelenjar getah bening ketiakmu juga hanya satu dan masih kecil, pembedahan Konservasi Payudara masih dapat dipertimbangkan. Karena akhir-akhir ini ternyata menurut statistik, angka survival rate atau ketahanan hidup penderita yang menjalani Pembedahan Konservasi Payudara sama saja dengan penderita yang dioperasi mastektomi radikal."

Modifikasi mastektomi radikal : seluruh payudara Jaringan diangkat bersama dengan isi aksila (jaringan lemak dan kelenjar getah bening). Berbeda dengan mastektomi radikal, otot-otot dada terhindar.

Mastektomi radikal (atau "Halsted mastektomi") : Pertama dilakukan pada tahun 1882, prosedur ini melibatkan menghapus seluruh payudara, kelenjar getah bening ketiak, dan otot-otot pectoralis mayor dan minor belakang payudara. Prosedur ini menodai lebih dari mastektomi radikal dimodifikasi dan tidak memberikan manfaat kelangsungan hidup untuk tumor yang paling. Operasi ini sekarang disediakan untuk tumor melibatkan otot utama pektoralis atau kanker payudara berulang yang melibatkan dinding dada.

"Apa keuntungannya, Dokter?"

"Payudaramu tidak diangkat seluruhnya. Otot dada tidak dipotong. Kelenjar ketiak diangkat secara terpisah atau hanya disinari. Kerusakan tubuh yang lebih sedikit dengan sendirinya meringankan stres sesudah operasi. Syaratnya, sesudah operasi, kau harus diradiasi kurang-lebih tiga puluh lima kali. Itu mutlak untuk mencegah kekambuhan."

"Saya serahkan saja seluruhnya pada pertimbangan Dokter," gumam Kim So Eun lirih. “Tolong pilihkan yang terbaik, Dokter. Supaya saya dapat hidup lebih lama bersama anak-anak saya."

"Bukan hanya hidup yang lebih lama yang menjadi pertimbangan saya. Sekaligus bagaimana kau dapat lebih menikmati sisa hidupmu. Kau masih muda. Sebenarnya kanker payudara jarang ditemukan pada wanita berumur tiga puluhan, kebanyakan ditemukan pada usia yang lebih tua, empat puluh sampai hma puluh tahun keatas. Umurmu itu juga menjadi bahan pertimbangan saya."

"Berapa biaya operasinya, Dokter?"

"Untuk saya tidak usah kaupikirkan. Biaya pastinya nanti akan saya tanyakan lagi ke bagian administrasi rumah sakit. Tapi untuk perawatan selama dua minggu di kelas dua, itu kalau tidak ada komplikasi, kau harus menyiapkan kira-kira 20 juta. Itu sudah termasuk biaya operasi tanpa jasa dokter, pemeriksaan laboratorium, dan obat-obatan."

20 juta! Hampir pingsan Kim So Eun mendengarnya. Dari mana dia harus memperoleh uang sebanyak itu?

"Untuk radiasi sebanyak tiga puluh lima kali, biayanya kira-kira 1 juta sampai 2 juta."

Kim So Eun mengatupkan rahangnya erat-erat. Menahan kesedihannya agar air mata yang sudah menggenangi matanya tidak meleleh ke pipi. Sakit ternyata bukan hanya menakutkan, sekaligus mahal! Berbahagialah mereka yang sehat!

"Saya bisa minta keringanan kepada pihak rumah sakit. Agar kau tidak usah membayar uang muka. Yang penting, kau dapat dioperasi secepatnya."

"Saya ingin membicarakannya dulu dengan anak-anak saya, Dokter," kata Kim So Eun getir.

"Dua tahun yang lalu kau bilang begitu juga. Dan tidak muncul-muncul lagi di depan saya. Padahal kalau operasinya dilakukan dua tahun yang lalu, five years survival rate-nya jauh lebih besar!"

* * *

Kim So Eun hampir tidak dapat menahan kesedihannya ketika melihat ibu dan ketiga anaknya telah menanti di depan pintu. Air muka mereka tegang menyimpan kecemasan.

Bagaimana aku harus mengatakannya, tangis Kim So Eun dalam hati. Kankerku ganas. Aku harus dioperasi. Dan hidupku entah tinggal berapa lama lagi!

Tetapi Kim So Eun memang tidak perlu mengatakan apa-apa. Tangis Baek Suzy sudah keburu pecah. Dan kecuali Kim Yoo Bin, mereka semua mengerti apa artinya tangis itu.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun berlalu, ibunya merangkulnya. Dan Nenek terisak-isak dalam rangkulan Kim So Eun.

Lee Young Yoo meraung marah. Membanting tabuhnya di sofa.

"Tuhan tidak adil!" protesnya sambil menangis. "Ibu begitu baik! Kenapa harus diberi penyakit yang tidak bisa sembuh?"

"Ibu pasti sembuh, Eonni," Kim Yoo Jung membelai-belai rambut Lee Young Yoo dengan air mata berlinang. "Kata guruku kita harus berdoa setiap hari untuk Ibu. Tuhan sayang anak-anak. Doa kita pasti dikabulkan."

Hanya Park Ji Yeon yang tidak ada ketika Kim So Eun pulang dari tempat praktek Dokter Song Seung Hun. Tetapi malam itu, ketika melihat neneknya membukakan pintu dengan mata sembap dan air mata berlinang, Park Ji Yeon segera tahu apa yang terjadi.

Untuk pertama kalinya Park Ji Yeon memeluk neneknya. Dan Nenek terisak dalam pelukannya.

Saat itu Park Ji Yeon melihat ibunya. Menuruni tangga sambil menggendong Kim Yoo Bin. Parasnya muram. Tetapi dia tidak menangis.

"Sudah makan, Park Ji Yeon?" tanya Kim So Eun sambil berusaha menekan kesedihannya. Padahal begitu melihat Park Ji Yeon, air matanya sudah hampir mengalir lagi.

Park Ji Yeon hanya menggeleng. Dilepaskannya pelukan neneknya.

"Cepatlah mandi. Kami menunggumu makan."

Di depan anak-anaknya, Kim So Eun berusaha menekan kesedihannya. Dia berusaha bersikap setegar mungkin. Meskipun anak-anaknya tidak ada yang makan dengan lahap, dia tetap melayani mereka dengan telaten.

Tampaknya Park Ji Yeon mengikuti jejak ibunya. Dia tidak banyak bicara. Nyaris membisu terus. Tetapi dia tidak menangis.

Baek Suzy, Lee Young Yoo, dan Kim Yoo Jung berkeras tidur di kamar ibunya malam itu. Terpaksa Nenek dan Kim Yoo Bin mengalah. Tidur di kamar sebelah. Malam ini Kim Yoo Bin tidak rewel sama sekali. Kim So Eun hanya perlu meninabobokannya sebentar. Setelah Kim Yoo Bin tertidur, Kim So Eun pindah ke kamar sebelah.

Tetapi lewat tengah malam, ketika Kim So Eun yang tak dapat tidur melongok ke kamar sebelah, ranjang Park Ji Yeon masih kosong. Dia masih duduk seorang diri di depan pintu rumah. Dan dia sedang menangis.

Park Ji Yeon tidak mengangkat wajahnya ketika pintu di belakangnya terbuka. Seolah-olah dia sudah tahu siapa yang datang. Dia hanya duduk terpaku. Menatap kosong ke langit.

Air mata berkilauan di matanya. Meleleh diam-diam ke pipi.

Dengan hati hancur Kim So Eun duduk di sisi Park Ji Yeon. Dan merangkul bahunya. Ternyata dia keliru kalau mengira yang paling menyedihkan adalah mendengar bahwa kankernya ganas. Yang paling menyedihkan justru melihat anak-anaknya bersedih karena takut kehilangan ibunya!

"Kenapa, Bu?" Cuma itu yang mampu diucapkan Park Ji Yeon dengan getir. "Kenapa?"

"Hanya Tuhan yang tahu, Park Ji Yeon," bisik Kim So Eun lirih. "Tapi percayalah, Tuhan tahu semua yang terbaik untuk kita."

"Berapa lama lagi, Bu?"

"Tidak penting, Park Ji Yeon. Yang penting, mari kita nikmati waktu yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya. Saling mengerti. Dan saling membahagiakan."

"Aku menyesal, Bu." Park Ji Yeon menelan air matanya. Matanya yang basah menerawang ke langit gelap.

"Tidak ada yang perlu disesali, Park Ji Yeon. “

"Seandainya Aku tahu lebih cepat....”

Kim So Eun memeluk anaknya. Dan mencium pipinya dengan penuh kasih sayang.

“Ibu tetap menyayangimu,” bisiknya lembut. “Kau mirip Ibu. Pemberontakanmu. Kekerasan hatimu. Sayang Ibu baru memahaminya sekarang.”

Bersambung…

Chapter 10 ... Chapter 11
Chapter 9 ... Chapter 12
Chapter 8 ... Chapter 13
Chapter 7 ... Chapter 14
Chapter 6 ... Chapter 15
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog

The Right Man (Chapter 15)



Untuk pertama kalinya setelah sepuluh hari terakhir ini, Kim So Eun melewatkan malam tanpa Kim Bum. Tidak terasa air mata mengalir ke pipinya setiap kali dia melihat sofa yang kosong itu. Di sanalah biasanya Kim Bum berbaring.

Aneh memang. Baru sepuluh hari dia di rumah ini. Tidak seorang pun tahu siapa dia dan dari mana dia datang. Tetapi kenangan yang ditinggalkannya di rumah ini demikian mengesankan.

Lee Young Yoo dan Kim Yoo Jung juga merasa sangat kehilangan ketika pulang sekolah mereka tidak menemukan Paman Kim Bum.

"Paman Kim Bum sudah pergi, Bu?" tanya Lee Young Yoo hampir menangis. "Tapi Paman sudah berjanji mau mengantar-ku ke sekolah! Paman bilang, tidak percaya kalau aku yang akan terpilih!"

Kim So Eun tidak mampu menjawab. Karena begitu dia membuka mulutnya, tangisnya tak dapat ditahan lagi. Betapa pandainya Kim Bum memacu semangat Lee Young Yoo untuk berlatih!

"Benarkah Paman Kim Bum sudah pergi, Bu?" desak Kim Yoo Jung tidak percaya, "Kenapa tidak bilang padaku dulu, Bu?”

"Sudah, jangan ganggu Ibu!" potong Baek Suzy sambil menahan tangis. "Ibu sedang sakit!"

"Kankernya belum sembuh, Bu?" gumam Kim Yoo Jung penasaran. "Padahal aku sudah berdoa pada Tuhan!"

"Kanker apa, Kim So Eun?" sela Nenek dengan suara bergetar. "Kenapa kau tidak pernah cerita?"

"Payudara, Nek," Baek Suzy yang menyahut dengan air mata berlinang. "Ibu harus dioperasi."

"Operasi?" Nenek hampir pingsan di kursi. "Aduh, jangan, Kim So Eun! Jangan! Lebih baik ikut Ibu ke desa…"

"Belum tentu ganas, Bu," hibur Kim So Eun tabah. Padahal dia sendiri sudah pesimis. "Ibu jangan terlalu khawatir...."

* * *

Malam itu sengaja Kim So Eun memilih tetap tidur di kamar atas bersama anak-anaknya. Dia tidak mau tidur di bawah, meskipun kamar itu sudah kosong. Tidak tahan dia dalam kesendirian di bawah sana.

Anak-anaknya juga tidak banyak tingkah hari ini. Lee Young Yoo dan Kim Yoo Jung tidak bertengkar lagi. Mereka menyikat gigi dan mencuci kaki dengan diam. Lalu masuk ke kamar Nenek setelah mengucapkan selamat malam kepada ibunya.

Bahkan Nenek malam ini kehilangan semangatnya untuk membuka mulut. Dia tampak sedih dan ketakutan. Walaupun berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya.

Dan Kim Yoo Bin yang dianggap tidak tahu apa-apa itu, ternyata memahami benar kesedihan ibunya. Barangkali nalurinya membisikkan, Ibu sedang berduka. Dia hanya menatap ibunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu memejamkan matanya. Dan tertidur tanpa banyak rewel lagi.

Kim So Eun tidak dapat tidur sebelum Park Ji Yeon pulang. Anak itu pergi dalam keadaan stres. Penuh sesal dan perasaan bersalah. Park Ji Yeon hanya tidak mengungkapkannya. Tetapi kalau dia sampai mengeluarkan air mata, Kim So Eun memahami benar perasaannya.

Dan seseorang memasuki kamarnya. Langsung berlutut di sisi tempat tidurnya.

"Baek Suzy?" bisik Kim So Eun dalam kegelapan. "Park Ji Yeon sudah pulang?"

"Belum, Bu."

"Kau belum tidur?"

"Tidak bisa tidur, Bu," suara Baek Suzy terdengar basah. "Aku merasa berdosa kepada Ibu..."

Dengan lembut Kim So Eun membelai-belai kepala anaknya.

"Ini semua bukan salahmu, Baek Suzy," katanya lembut. "Kalau Ibu jadi kau, mungkin Ibu akan berbuat begitu juga."

"Bu." Hati-hati Baek Suzy menyentuh payudara ibunya. Begitu hati-hati seolah-olah takut menyakiti ibunya. "Sakit tidak, Bu?"

Kim So Eun memaksakan sepotong senyum.

"Tidak terasa apa-apa, Baek Suzy."

"Aku takut, Bu...."

“Ibu juga takut, Baek Suzy. Kita berdoa saja, ya. Minta kekuatan dari Tuhan."

"Dari sore aku sudah berdoa, Bu. Tapi aku tetap takut." Kini Baek Suzy sudah benar-benar menangis. "Aku takut Ibu dioperasi. Takut Paman Kim Bum masuk penjara."

"Kau sayang pada Paman Kim Bum?"

''Ibu juga? Ibu sayang Paman Kim Bum? Ibu mau menikah dengan dia?"

"Ibu tidak mau memikirkan perkawinan lagi, Baek Suzy," sahut Kim So Eun sabar. "Mulai sekarang Ibu hanya hidup bagi kaiian."

"Tapi Ibu ingin mencarikan ayah bagi kami!"

"Sekarang Ibu sadar, Ibu keliru. Ibu hendak mendahului kehendak Tuhan. Mencari seorang pelindung bagi kalian setelah Ibu tidak ada. Padahal hanya Tuhan-lah pelindung kita."

"Ibu tidak salah. Kamilah yang salah mengerti maksud Ibu. Aku dan Park Ji Yeon selalu berprasangka jelek. Untung ada Paman Kim Bum. Dia yang membukakan mata kami."

"Ibu juga salah, Baek Suzy. Sekarang baru Ibu insaf, hidup-mati seseorang di tangan Tuhan. Apa yang akan terjadi dengan anak-anak setelah Ibu meninggal nanti, bukan hak Ibu untuk mengaturnya. Ibu serahkan saja kalian berlima ke dalam pemeliharaan Tuhan. Ibu percaya, Dia takkan pernah meninggalkan kalian."

"Tapi, Bu," Baek Suzy merangkul ibunya dengan terharu, "Ibu membutuhkan seorang laki-laki seperti Paman Kim Bum! Aku mau Ibu bahagia, Ibu sudah terlalu lama menderita!"

"Apa artinya kebahagiaan kalau anak-anak Ibu menderita? Kalian sudah tidak ingin punya ayah lagi, kan?"

"Kalau Paman Kim Bum yang akan jadi ayah kami, rasanya kami semua tidak keberatan, Bu. Dia baik. Dan penuh pengertian."

"Tidakkah Kau malu punya ayah lagi? Apalagi yang sudah pernah masuk penjara!"

"Aku tidak peduli lagi omongan orang! Pokoknya aku mau Ibu bahagia! Berilah aku kesempatan untuk menebus kesalahanku!"

Kim So Eun mendekap kepala anaknya erat-erat...

"Kau tahu, Sayang? Sekarang pun kau telah membahagiakan Ibu!"

* * *

Ketika mendengar suara pintu depan terbuka, perlahan-lahan Kim So Eun keluar dari kamarnya. Baek Suzy sudah lama tertidur di Ranjang Park Ji Yeon. Dia tidak mau lagi meninggalkan ibunya.

Hati-hati Kim So Eun menuruni tangga. Ruang bawah gelap. Tidak ada lampu yang dinyalakan, kecuali lampu di atas tangga.

Kim So Eun duduk di Sofa. Menunggu Park Ji Yeon yang sedang mengambil minuman di dapur. Ketika melihat ibunya, Park Ji Yeon hanya menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Park Ji Yeon," panggil Kim So Eun ketika putri sulungnya itu hendak naik ke atas. "Boleh Ibu bicara sebentar?"

Park Ji Yeon tidak menjawab. Tetapi dia membatalkan langkahnya. Tegak menanti kata-kata ibunya dengan kepala tunduk.

"Kau tidak mau duduk di sini, dekat Ibu?" tanya Kim So Eun sedih.

Tetap membisu, Park Ji Yeon melangkah menghampiri ibunya. Dan duduk di kursi dengan patuh. Wajahnya sangat muram.

"Ibu tahu kenapa Kau melaporkan Paman Kim Bum," kata Kim So Eun lirih. "Tentu saja Ibu sedih. Tapi kau harus tahu, Ibu tidak marah."

Kepala gadis itu semakin menunduk. Dia tampak resah.

"Sebenarnya Paman Kim Bum juga sudah lama ingin menyerahkan diri. Dia hanya tidak tega meninggalkan Ibu dalam keadaan begini." Kim So Eun diam sesaat. Keheningan menyelimuti mereka. "Paman Kim Bum tidak menyesali apa yang kau lakukan. Ibu yakin dia memahami alasanmu. Yang Ibu minta, jangan membencinya. Kau keliru jika mengira Ibu akan menikah dengan Paman Kim Bum. Jika kalian sudah tidak ingin mempunyai ayah lagi, untuk apa Ibu menikah?"

Lama Park Ji Yeon membisu. Sebelum perlahan-lahan dia bertanya, tanpa mengangkat wajahnya.

"Berapa lama lagi, Bu?"

"Apanya, Park Ji Yeon?”

"Umur Ibu."

"Hanya Tuhan yang tahu, Park Ji Yeon."

"Ibu mau dioperasi?"

"Kata Paman Kim Bum, lebih cepat lebih baik. Tapi Ibu harus menjalani beberapa pemeriksaan lebih dulu. Dokter Song Seung Hun tidak tahu apakah tumor ini masih dapat dioperasi atau tidak."

"Tidak ada jalan lain? Disinar? Minum obat?"

"Apa pun yang disuruh dokter akan Ibu turuti. Asal dapat hidup lebih lama mendampingi kalian."

"Besarkah biayanya, Bu?"

"Tentu saja, Park Ji Yeon."

"Ibu punya uang?"

"Sampai sekarang Ibu tidak tahu dari mana biayanya, Park Ji Yeon. Mungkin kita harus menjual mobil."

"Ibu tidak punya tabungan?"

"Ada, Park Ji Yeon. Tapi..."

"Kalau Ibu sayang kami," kata Park Ji Yeon tegas, "pakailah uang itu untuk berobat, Bu."

Kim So Eun menggigit bibirnya menahan haru. Park Ji Yeon memang tidak pernah mengumbar emosinya. Dia bukan Baek Suzy. Bukan Lee Young Yoo. Park Ji Yeon adalah Park Ji Yeon. Tetapi kata-katanya sudah cukup melukiskan kekhawatirannya.

"Terima kasih, Park Ji Yeon." Kim So Eun tidak sampai hati mengatakan, baru saja beberapa hari yang lalu, dipakainya uang itu untuk membayar uang muka sebuah rumah sederhana!

* * *

Kim Bum ditahan atas tuduhan tabrak lari. Pengendara motor yang ditabraknya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit akibat luka-luka di kepalanya.

“Jika dianggap sebagai pembunuhan berencana jaksa bisa saja menjeratmu dengan pasal 338 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana),” kata pengacara dari LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang menjadi penasihat hokum Kim Bum. “Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.”

*)Pasal 338 : Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

“Saya tidak kenal dengan pengendara motor itu, tuan.” Keluh Kim Bum putus asa. “Bagaimana mungkin sengaja membunuhnya?”

“Masyarakat memang menuntut kasus tabrak lari dengan hukuman seberat-beratnya. Apalagi kalau korbannya sampai tewas. Untuk mendidik pengemudi yang ceroboh dan ugal-ugalan.”

“Tapi korban yang tiba-tiba melintas di depan mobil saya, Tuan! Waktu itu lampu masih hijau. Dan dia melarikan motornya seperti orang mabuk!”

“Yang memberatkanmu, di sana tidak ada saksi. Dan kau melarikan diri.”

“Kalau saya tidak lari, saya yang mati, Tuan! Teman-temannya langsung mengeroyok saya. Memukuli kepala dan tubuh saya dengan kayu dan botol!”

“Seharusnya kau lari ke Polsek. Minta perlindungan. Mereka akan minta dokter membuat Visum Ret Repertum. Bukti bahwa kau telah dipukuli dan dikeroyok.”

“Saya sedang lari waktu ditabrak mobil, Tuan…”

“Ny. Kim So Eun bersedia memberikan kesaksian. Dia telah menabrakmu. Dan membawamu ke rumah untuk ditolong.”

“Jangan melibatkan dia, Tuan. Masalahnya sendiri sudah banyak.”

“Saya harus memanfaatkan setiap peluang, sekecil apapun itu, untuk meringankan hukumanmu. Kesaksian teman-teman korban sangat memberatkanmu. Kau dituduh melarikan mobilmu dengan ugal-ugalan, melanggar lampu merah, dan mencoba kabur setelah menabrak korban.”

“Kalau saya mau kabur, untuk apa turun dari mobil?”

“Karena tidak mungkin lagi melarikan mobilmu. Terhalang oleh motor korban. Kau turun dari mobil. Dan melarikan diri.”

“Mereka berbohong! Mereka mengeroyok saya! Dan mereka semua dalam keadaan separuh mabuk.”

“Saya akan berusaha mencari bukti-bukti yang dapat meringankan tuntutanmu. Mudah-mudahan saja jaksa hanya menjeratmu dengan pasal 359 KUHP. Akibat kelalaian menyebabkan matinya orang lain.”

*)Pasal 359 KUHP : Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun” khususnya terhadap kasus kecelakaan lalu-lintas

“Berapa tahun?”

“Maksimal 5 tahun penjara.”

Lima tahun. Tiba-tiba saja ingatan Kim Bum menerawang jauh. Pada seorang wanita yang baru dikenalnya. Tetapi yang telah menggoreskan perasaan yang begitu dalam.

Lima tahun. Berapa tahun lagi Kim So Eun mampu melawan kankernya? Masih sempatkah dia berkumpul lagi dengan wanita itu dan kelima anaknya yang penuh komplikasi?

Bersambung…


Chapter 10 ... Chapter 11
Chapter 9 ... Chapter 12
Chapter 8 ... Chapter 13
Chapter 7 ... Chapter 14
Chapter 6
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog

Selasa, 26 Juli 2011

The Right Man (Chapter 14)



"Tehmu, sudah Ibu beri gula, Baek Suzy," kata Kim So Eun cepat-cepat. "Jangan ditambah lagi. Cicipi dulu. Nanti kemanisan."

"Biarkan saja," sahut Baek Suzy dingin. Tanpa menoleh.

Kim So Eun menajamkan telinganya. Khawatir salah dengar. Kapan pernah didengarnya Baek Suzy berani menjawab sedingin ini? Diawasinya gadis itu dengan cermat. Matanya bengkak. Dia pasti habis menangis.

"Kenapa, Baek Suzy?" desak Kim So Eun penasaran. "Sakit?"

"Tidak apa-apa."

"Baek Suzy."

Kim So Eun meletakkan sendoknya. Ditatapnya anaknya dengan sungguh-sungguh.

"Mudah-mudahan Ibu salah lihat. Tapi sejak kemarin kau sengaja menjauhi Ibu, kan? Sikapmu dingin sekali. Ada apa, Baek Suzy? Ibu salah apa?"

Kim Bum yang sedang mengangkat sendoknya, tidak jadi menyuapkan sendok itu ke mulutnya. Dia ikut mengawasi Baek Suzy.

Merasa sedang diawasi, Baek Suzy langsung meletakkan sendoknya dan lari ke kamar. Sekejap Kim Bum dan Kim So Eun saling pandang. Dan sebelum Kim So Eun sempat memalingkan wajahnya, setetes air mata telah bergulir ke pipinya.

Tanpa berkata apa-apa Kim Bum naik ke atas. Diketuknya pintu kamar Baek Suzy. Dia sedang menangis seorang diri di tempat tidur. Perlahan-lahan Kim Bum membuka pintu kamar.

"Kenapa harus membuat Ibu sedih, Baek Suzy?" tegur Kim Bum dari ambang pintu. "Ibu sudah begitu, menderita. Kenapa harus ditambah lagi?"

"Cuma orang dewasa yang bisa menderita, kan?” tangis Baek Suzy sengit. "Anak-anak tahu apa!"

"Ibu membuatmu menderita?"

"Aku malu punya Ibu seperti itu!”

"Baek Suzy!" desis Kim Bum antara kaget dan marah.

Sekarang Baek Suzy membalikkan tubuhnya. Mengangkat wajahnya. Dan menatap Kim Bum dengan penuh kebencian.

"Kenapa Ibu tidak henti-hentinya kawin-cerai?"

"Ibu punya alasan untuk melakukannya."

“Alasan apa sampai Ibu mau menikah denganmu?”

Sejenak Kim Bum tertegun. Ditatapnya Baek Suzy dengan tatapan tidak percaya. Tetapi gadis itu malah membalas tatapannya dengan pandangan berapi-api. "

"Baek Suzy," gumam Kim Bum hati-hati. "Kau benci Paman?"

"Aku benci sekali padamu!" teriak Baek Suzy separuh menangis. "Benci? Benci."

Lalu dia membanting dirinya ke tempat tidur. Dan menangis tersedu-sedu.

Park Ji Yeon yang baru selesai mandi dan ganti baju, muncul dari kamar sebelah. Tanpa berkata apa-apa dia melewati kamar adiknya dan turun ke bawah.

Ketika dilihatnya ibunya sedang menangis seorang diri di meja makan, dia tidak jadi mengambil sarapan paginya. Dengan wajah muram, Park Ji Yeon langsung meninggalkan rumah.

* * *

Kim Bum menunggu sampai tangis Baek Suzy mereda. Dibiarkannya gadis itu menumpahkan perasaannya Baru dia bertanya dengan suara lunak.

"Kau tidak mau Paman menikah dengan Ibu?"

"Persetan!" geram Baek Suzy sengit.

Dadanya terasa sakit. Panas. Pedih. Dicabik-cabik oleh rasa kecewa dan putus asa.

Pemuda yang didambakannya. Pemuda yang diam-diam dipujanya. Ternyata milik Ibu juga! Simpanan Ibu! Justru pada saat dia hampir percaya, Ibu tidak punya maksud apa-apa dengan lelaki ini. Ibu cuma mau menolong!

Ibu tidak mau menikah lagi, bukan? Itu kata Ibu sendiri! Ternyata Ibu berdusta. Ibu bohong!

Ibu memang serakah! Diambilnya juga pemuda ini. Pemuda yang hampir membuatnya percaya cinta tidak memandang jelek-bagusnya seseorang. Percaya dia masih punya harapan memiliki seorang laki-laki tampan meskipun kakinya cacat!

Ternyata dia keliru! Lelaki di mana-mana sama saja. Lebih tertarik kepada tubuh yang indah. Dada dengan bentuk yang sempurna. Dan tungkai yang indah. Seperti yang dimiliki Ibu?

Bukan kaki yang timpang dan kecil sebelah seperti yang dimilikinya.... Atau dada yang rata seperti papan setrika?

Percuma dia mengharapkan pemuda ini. Dia tidak ada bedanya dengan lelaki lain. Penipu!

"Baek Suzy," cetus Kim Bum setelah terdiam sesaat. "Paman mengerti kenapa kau tidak mau Ibu menikah lagi. Tetapi tidak adil menyamakan setiap lelaki seperti itu. Banyak di antara mereka yang benar-benar ingin membahagiakan Ibu...."

"Kau bisa membahagiakan Ibu?" ejek Baek Suzy pedas. "Untuk berapa lama?"

"Kalau Paman tidak bisa, belum tentu yang lain juga tidak mampu!"

“Jadi perkawinan itu cuma percobaan? Bercerai lagi kalau tidak bahagia?"

"Kenapa harus menipu diri sendiri? Lelaki yang selama ini Ibu temui, bukan ayah yang baik bagi kalian."

"Lalu di mana ayah yang baik itu? Dalam diri setiap lelaki yang tidur bersama Ibu?"

"Jangan menuduh ibumu sekotor itu, Baek Suzy!" geram Kim Bum berang. "Jangan latah meniru apa yang dikatakan oleh tetangga. Siapa pun yang menjadi ayahmu kelak, dia harus bisa mengajarkanmu membedakan apa yang kau dengar dari orang Jain. Jangan asal telan saja!"

"Baik Paman Kim Hyun Joong apalagi kau, tidak akan pernah menjadi ayahku!" sergah Baek Suzy judes dan mantap. "Kali ini Ibu boleh pilih, anak-anaknya atau suaminya!"

"Tidak perlu menyudutkan ibumu dengan pilihan seperti itu. Walaupun Ibu mencintai Paman Kim Hyun Joong, dia tidak akan menikah dengan lelaki itu kalau Paman Kim Hyun Joong tidak dapat menjadi ayah yang baik bagi kalian. Dan kalau kalian tidak mau Ibu menikah lagi, dia tidak akan menikah seumur hidupnya!"

"Ibu tahu anak-anaknya tidak mau punya ayah lagi. Untuk apa dia masih pacaran?"

"Ibu tidak tega meninggalkan kalian tanpa pelindung! Karena itu dia berusaha mencarikan seorang ayah bagi kalian! Mengapa kalian tidak dapat menghargai ibu seperti itu? Ibu yang hanya memikirkan anak-anaknya sepeninggal dirinya!"

"Kau mencintai Ibu?" tanya Baek Suzy dingin.

"Siapa yang tidak mencintai perempuan seperti ibumu? Kecuali anak-anaknya sendiri barangkali!"

"Aku sayang Ibu!" bentak Baek Suzy gusar. "Aku hanya kesal karena Ibu mau menikah dengan lelaki sepertimu!"

"Kata siapa Ibu mau menikah dengan Paman?"

Baek Suzy terdiam. Dia memang baru tadi malam mencuri dengar pembicaraan ibunya dengan Paman Kim Bum.

Ketika Ibu mengintai ke dalam kamarnya, dia belum tidur. Tiba-tiba saja dia ingin tahu mengapa Ibu mengintai mereka. Lalu dia melihat Paman Kim Bum di sofa.
Rupanya mereka sudah berjanji. Bertemu di bawah kalau anak-anak sudah tidur. Dan Baek Suzy memang tidak dapat mendengar semua yang mereka katakan. Tetapi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Paman Kim Bum mencium Ibu!

Tak tahan lagi Baek Suzy untuk mengintai terus. Dia menghambur ke kamarnya dan menangis tersedu-sedu.

"Paman mau bicara denganmu, Baek Suzy," suara Kim Bum berubah tegas.

"Aku sudah bosan.'" bentak Baek Suzy ketus. "Ceritakan saja dongengmu pada Lee Young Yoo dan Kim Yoo Jung. Mereka masih bisa dibohongi!"

"Kapan Paman pernah membohongimu, Baek Suzy?"

Kapan? Baek Suzy tertegun. Ya, kapan? Kapan lelaki ini membohongnya?

Waktu dia mengatakan dirinya punya keistimewaan yang membuat dia tampak menarik walaupun pincang? Atau waktu mengatakan dia punya kelebihan yang tidak dimiliki gadis-gadis lain yang tidak cacat sekalipun?

Berdustakah Paman Kim Bum kalau kemudian ternyata dia lebih tertarik pada Ibu yang punya kaki mulus dan dada yang indah? Bukankah Ibu datang lebih dulu darinya?

Ibu tidak merampas, Paman Kim Bum memang miliknya! Dan Paman Kim Bum tidak berkhianat. Dia tidak pernah menjanjikan apa-apa pada Baek Suzy....

Kalau Lelaki itu memuji kecantikannya, pujian itu bukan karena Paman Kim Bum tertarik kepadanya. Pemuda lainlah yang diharapkannya akan tertarik pada Baek Suzy. Bukan dia! Karena dia lebih tertarik kepada ibunya! Dia lebih suka menjadi ayahnya daripada kekasihnya!

"Sebenarnya sudah lama Paman ingin mengatakannya padamu. Tapi Ibu melarang. Ibu tidak mau Paman menceritakan penyakitnya pada kalian."

"Penyakit apa?" potong Baek Suzy curiga.

Tiba-tiba saja dia teringat pada ocehan Kim Yoo Jung tadi malam. Apa katanya? Ibu sakit? Sakit apa? Menyesal juga dia tidak memperhatikannya. Mula-mula dikiranya si bawel itu cuma main-main. Lagi pula dua hari ini Baek Suzy memang sedang uring-uringan.

"Pernah dengar tentang kanker payudara?"

"Kanker?!" jerit Baek Suzy histeris. "Ibu?! O, Tuhan! Tidak mungkin!"

Mendadak saja tangis Baek Suzy meledak. Kali ini lebih hebat lagi.

"Ibu tidak mau kalian ikut menderita. Dia ingin menanggung derita itu seorang diri. Tapi sebelum meninggalkan kalian, dia ingin mencari seorang pelindung bagi anak-anaknya. Karena itu dia mencarikan ayah untuk kalian...."

"Tidak!" ratap Baek Suzy di sela-sela tangisnya.

"Tahu kenapa Ibu bekerja begitu keras? Kadang-kadang sampai larut malam? Dia ingin membeli sebuah rumah untuk kalian!"

"Oh, Ibu!" tangis Baek Suzy getir. "Kenapa Ibu tidak berobat? Tidak ke dokter?"

"Dokter menyuruhnya operasi."

"Operasi?" Mata Baek Suzy membelalak ketakutan. Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Hampir tidak kuat lagi menyangga tubuhnya.

"Dua tahun yang lalu," sabut Kim Bum pahit. "Ibu tidak mau dioperasi karena tidak mau melepaskan pekerjaannya. Dia ingin mengumpulkan uang untuk membeli rumah."

"Paman..." Sekarang Baek Suzy menatap Kim Bum dengan berlinang air mata. Seluruh bekas-bekas kemarahan telah lenyap dari matanya. Berganti dengan kesedihan dan ketakutan. "Ibu masih bisa sembuh, kan. Paman?"

"Mintalah agar Ibu mau dioperasi, Baek Suzy," sahut Kim Bum lunak. "Dan bersikaplah lebih manis. Lebih penuh pengertian. Supaya kalian bisa menghadapi hari-hari yang sulit ini bersama-sama Dan..."

"Dan apa, Paman?"

Kim Bum menghela napas berat. Dia seperti enggan mengatakannya.

"Kau tidak terlalu menyesal seandainya operasi ita gagal...."

"Aku harus minta maaf pada Ibu!"

“Tidak penting, Baek Suzy. Yang penting, jangan sakiti lagi hatinya."

Tanpa dapat ditahan lagi, Baek Suzy menghambur keluar. Mencari ibunya. Kim Bum mengikuti dari belakang. Tetapi di anak tangga yang paling bawah, mereka sama-sama tertegun.

Park Ji Yeon tegak di ambang pintu. Di belakangnya, bersiaga dua orang polisi. Ketika melihat mereka, Kim So Eun menghambur dari meja makan. Merangkul Kim Bum sambil menangis.

* * *

Kim Bum ditahan dalam kasus tabrak lari. Sementara rumah yang ditinggalkannya, belum luput dari gejolak. Baek Suzy menampar Park Ji Yeon dengan gemas setelah Kim Bum dibawa pergi.

"Kau yang melaporkannya, kan?" desisnya marah. "Kau mencuri dengar pembicaraan Ibu tadi malam! Kau lapor polisi ada buronan tabrak lari di rumah ini?"

"Aku tidak sudi punya ayah seperti ini!" bentak Park Ji Yeon sengit. "Kau juga tidak, kan? Kau tidak rela pacarmu jadi ayahmu! Jadi, kenapa harus pura-pura?"

"Kau keliru!" teriak Baek Suzy separuh menangis. "Ibu tidak akan menikah dengan siapa pun! Ibu sakit! Kanker!"

Park Ji Yeon tersentak kaget. Saat itu Baek Suzy melihat ibunya. Dia berlari memeluk Kim So Eun sambil menangis.

"Ampuni aku, Bu!" tangis Baek Suzy getir. "Aku tidak tahu! Aku selalu membuat Ibu sedih!"

Kim So Eun mendekapkan kepala putrinya erat-erat di dadanya. Diletakkannya dagunya di atas rambut Baek Suzy. Dan air mata berlinang-linang di matanya.

Jadi Baek Suzy juga mencintai Kim Bum! Itu sebabnya. dia memusuhi ibunya!

Lalu matanya beradu dengan mata Park Ji Yeon. Dia masih tegak terpaku di tempatnya. Tetapi di matanya Kim So Eun melihat sesuatu yang lain. Dan tiba-tiba saja dia sadar.

Park Ji Yeon melakukannya bukan hanya karena dia tidak mau punya ayah lagi. Ada alasan lain.

Park Ji Yeon tidak rela Kim Bum menjadi ayahnya, karena dia juga sudah jatuh hati pada pemuda itu! Laki-laki pertama yang membuatnya merasa menjadi seorang wanita...

Ketika melihat cara ibunya menatapnya, Park Ji Yeon merasa, Ibu sudah tahu perasaannya. Dan untuk pertama kalinya, air mata menggenangi matanya.

Bersambung…


Chapter 10 ... Chapter 11
Chapter 9 ... Chapter 12
Chapter 8 ... Chapter 13
Chapter 7
Chapter 6
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog

The Right Man (Chapter 13)



Kim So Eun merasa hatinya berdebar tidak keruan Perasaan tidak enak menyelinap ke benaknya.

Begitu banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Dan mereka semua mengenakan pakaian berwarna gelap. Ada apa?

Cepat-cepat Kim So Eun menguakkan kerumunan mereka. Mencari jalan untuk menyelinap masuk ke rumahnya. Di dalam lebih banyak orang lagi. Dan mereka semua sedang menyanyi.

Samar-samar Kim So Eun mendengar nyanyian mereka. Lagu gereja. Lagu apa? Di mana dia pernah mendengar lagu itu? Kapan? Waktu ayahnya meninggal?

Meninggal. Berdiri bulu romanya. Meninggal! Siapa yang meninggal?

Hampir, memekik Kim So Eun melihat peti mati yang sedang ditangisi orang di tengah ruangan itu... dilihatnya anak-anaknya di sana... tapi tidak semua!

Siapa... siapa yang tidak ada? Satu, dua, tiga... empat!

"Kim Yoo Bin!" teriak Kim So Eun histeris. "Kim Yoo Bin!"

"Ibu! Ibu!" Park Ji Yeon mengguncang-guncang bahunya. "Bangun, Bu! Bangun! Ibu mimpi apa?"

Kim So Eun membuka matanya. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Dilihatnya Park Ji Yeon membungkuk di atas tubuhnya. Wajahnya begitu dekat. Matanya menatap penuh tanda tanya.

"Kim Yoo Bin...," desah Kim So Eun lirih. "Di mana dia?"

"Di samping Ibu," sahut Park Ji Yeon sambil menguap.

"Oh," Kim So Eun menghela napas lega ketika melihat Kim Yoo Bin masih terbujur pulas di sisinya. Dia masih tidur nyenyak. Matanya terpejam rapat. Terima kasih, Tuhan, bisik Kim So Eun sambil duduk menyeka peluhnya. Syukurlah semua hanya mimpi!

"Tidurlah, Park Ji Yeon. Ibu mimpi. Mimpi Kim Yoo Bin sakit."

Tanpa berkata apa-apa lagi Park Ji Yeon kembali ke tempat tidurnya. Kim Yoo Jung masih terbaring lelap di sana. Sama sekali tidak terusik oleh pekikan ibunya.

"Lee Young Yoo tidur di kamar sebelah?"

"Bersama Baek Suzy. Tidak ada yang mau tidur seranjang dengan Nenek."

Kim So Eun kembali membaringkan tubuhnya. Tetapi dia tidak dapat terlelap. Jantungnya berdebar lebih cepat dan lebih keras daripada biasanya.

Ada apa? Firasatkah namanya ini? Firasat buruk?

Perlahan-lahan Kim So Eun turun dari tempat tidur. Ditatapnya Kim Yoo Bin sekali lagi. Lalu dia menoleh pada Park Ji Yeon. Wajahnya menghadap ke dinding sehing Kim So Eun tidak dapat melihat matanya. Tetapi napasnya naik-turun dengan teratur. Dia pasti sudah tidur.

Hati-hati Kim So Eun membuka pintu kamarnya Mengendap-endap keluar. Dan membuka pintu kamar sebelah. Mengintai ke dalam.

Seberkas sinar lemah menyoroti kamar yang gelap. Samar-samar dia melihat Lee Young Yoo dan Baek Suzy tidur di ranjang yang satu. Sementara Nenek sudah meringkuk di ranjang yang satu lagi.

Tidak ada yang terjaga. Semua tidur dengan lelap. Hati-hati Kim So Eun menutup pinta kamar. Dan turun ke bawah.

Dia mengambil segelas air di dapur. Lalu meneguknya sampai habis. Badannya terasa lebih segar. Tetapi jantungnya masih tidak mau diajak kompromi.

Ketika Kim So Eun kembali ke depan, sesosok tubuh telah menunggunya di sofa.

"Meronda?"

"Mmmm," Kim So Eun balas berbisik. "Belum tidur?”

"Tidak bisa tidur."

"Panas?"

"Memikirkanmu."

"Ah." Kim So Eun memalingkan wajahnya. "Apa yang harus dipikirkan lagi? Aku sudah pasrah"

"Princess?”

Kim Bum mengulurkan tangannya. Menggenggam tangan wanita itu. Kim So Eun, menunduk. Menatap Kim Bum yang sedang menengadah ke arahnya. Sekilas mereka saling tatap tanpa berkata apa-apa. Dan Kim So Eun tidak berusaha menarik tangannya dari genggaman Kim Bum.

"Boleh tanya? Jangan jawab kalau tidak mau."

"Tanyalah."

"Itukah lelaki yang kaupilih sebagai suamimu yang berikutnya?"

"Lelaki yang mana?"

"Lelaki yang sering datang kemari. Yang pernah kau bawa masuk ke kamarmu."

Kim So Eun menghela napas getir. Dilepaskannya tangannya dari genggaman Kim Bum. Dijatuhkannya tubuhnya ke kursi.

"Kami sudah putus."

"Kau sudah sering tidur bersamanya?"

Kim So Eun menggeleng.

"Lantas bagaimana kau tahu dia cocok untuk ayah anak-anakmu?"

"Seorang ayah tidak dinilai di atas tempat tidur!"

"Sudah lama kenal dia?"

Sekali lagi Kim So Eun menggelengkan kepalanya.

"Mula-mula, dia cuma produserku."

"Kau yakin dia lebih baik dari mantan suamimu?"

"Aku belum pernah menemukan seorang laki-laki yang demikian memperhatikan diriku. Dan demikian mendambakan anak."

"Suamimu yang dulu tidak?"

"Choi Siwon belum pernah menjadi suamiku. Dia menghilang setelah menitipkan Park Ji Yeon di rahimku. Dalam kepanikan, aku menemukan Lee Donghae. Aku menikah hanya supaya Park Ji Yeon tidak disebut anak haram."

"Ibumu setuju?"

"Apa lagi yang dapat dilakukannya? Aku sudah hamil. Ternyata aku keliru. Lebih baik Park Ji Yeon jadi anak haram daripada punya ayah tiri seperti Lee Donghae."

"Dia sadis?”

"Setiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk. Dan Park Ji Yeon-lah yang harus menerima pukulan-pukulannya."

"Sekarang aku tahu mengapa Park Ji Yeon giat belajar karate."

“Tangannya enteng sekali. Tetapi selama dia tidak menyakiti anak-anakku, aku masih dapat bertahan. Aku baru minta cerai setelah dia sering memukuli Park Ji Yeon. Waktu itu, aku sudah punya Kim Yoo Jung."

"Suamimu yang lain?"

"Ketika bertemu, Im Seulong mengaku masih bujangan. Tapi suatu hari, ketika Kim Yoo Bin berumur setahun, datang seorang perempuan yang mengaku istrinya. Dia mendampratku habis-habisan di depan tetangga."

"Pantas jelek sekali anggapan tetanggamu terhadap dirimu. Pasti kau dicap sebagai janda perebut suami orang."

"Ketika kepanikan sedang melanda diriku, aku bertemu Hyun Bin. Aku baru saja menemukan benjolan di payudaraku. Saat itu, aku takut sekali mati. Takut meninggalkan anak-anakku. Aku ingin mencari ayah bagi mereka. Tapi untung segera kusadari, Hyun Bin bukan figur ayah yang cocok."

"Dia tidak suka anak-anak?"

"Justru suka sekali. Tetapi aku tidak bisa mati dengan mata terpejam kalau harus meninggalkan anak-anak perempuanku dengan seorang laki-laki yang punya penyakit pedofilia seperti dia!"

"Persis," komentar Kim Bum sambil menghela napas.

"Apanya?"

"Kisahmu. Persis adegan film."

"Kim Hyun Joong adalah pilihanku yang terakhir. Dia sangat mendambakan anak. Istrinya mandul."

"Sayang anak-anakmu sudah tidak mau punya ayah lagi."

"Mereka sudah kapok."

"Sayang aku tidak datang lebih cepat."

"Kau?" Kim So Eun menatap tidak percaya. "Kau juga mau menjadi ayah anak-anakku?"

"Bukan hanya ayah anak-anakmu." Kim Bum tersenyum penuh arti. "Sekaligus suamimu."

"Aku sudah kotor."

"Aku juga tidak bersih."

"Carilah seorang gadis yang masih suci. Kau masih muda."

"Tidak adil."

"Kau sering main perempuan?"

"Aku seorang pembunuh."

Tertegun Kim So Eun menatap pemuda itu. Hampir tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Jangan khawatir," hibur Kim Bum pahit. "Aku baru sekali membunuh orang. Dan tidak sengaja."

Tapi apa bedanya membunuh satu orang atau seratus orang sekalipun? Pembunuh tetap pembunuh! Dan selama hampir sepuluh hari, pembunuh itu telah tidur di rumahnya, tinggal bersama anak-anaknya.

"Aku menabrak seorang pengendara motor ugal-ugalan yang melintas di depan mobilku. Ketika aku turun dari mobil untuk menolongnya, teman-temannya datang mengeroyokku. Aku harus lari kalau tidak mau mati konyol!"

"Tapi kau harus lari ke polsek terdekat!" desis Kim So Eun nanar.

"Memang. Tapi malam itu, aku keburu menubruk mobilmu!?”

"Kalau kau berterus terang, aku bisa mengantarmu ke polsek!"

"Tapi aku tidak bersalah, Kim So Eun! Motor itu tiba-tiba saja memotong di depanku. Aku tidak keburu mengelak!”

"Kalau kau tidak bersalah, hukumanmu pasti lebih ringan. Tetapi sekarang, kau dianggap pelaku tabrak lari!"

"Kita sama-sama pengecut, bukan?" Kim Bum menyeringai pahit. "Kau takut pada meja operasi. Aku takut pada penjara. Kau mencoba lari dari kankermu. Aku pun melarikan diri dari korbanku. Lucu, ya? Tiba-tiba saja aku merasa senasib denganmu!"

"Tetapi sekarang aku tidak takut lagi," sahut Kim So Eun lirih. "Kau telah menyadarkan diriku, lari dari meja operasi bukan jalan yang terbaik."

"Ketika membaca catatan harianmu, begitu saja timbul keinginanku untuk menyerahkan diri. Jika hukum menganggapku bersalah, aku rela masuk penjara. Asal bisa kembali secepatnya ke sisimu.

Tiba-tiba saja Kim So Eun merasa matanya panas. Dan sebelum dia sempat memalingkan wajahnya, air mata telah menggenangi matanya.

"Aku ingin menolongmu." Dengan lembut Kim Bum menarik wanita itu ke pangkuannya.

Dipeluknya bahu Kim So Eun dengan lengan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang dagu wanita itu. Dan menghadapkannya perlahan-lahan ke wajahnya. Sejenak mereka saling tatap. Dan dalam sejenak itu, Kim So Eun telah dapat menangkap getaran-getaran perasaan yang disalurkan melalui mata Kim Bum.

"Aku ingin berbuat apa saja untuk menyelamatkanmu. Aku ingin melindungi anak-anakmu. Menjadi ayah mereka."

Kim So Eun ingin menangis. Sekaligus ingin tersenyum. Akhirnya dia tidak tahu harus menangis atau tersenyum. Atau kedua-duanya.

Dia merasa bahagia. Sekaligus terharu. Akhirnya dia menemukan laki-laki ini. Laki-laki yang telah lama dicarinya. Lelaki yang mencintainya. Mengerti dirinya. Mengetahui kelemahan-kelemahannya.

Lelaki yang menyayangi anak-anaknya. Mengerti mereka. Dan diterima pula oleh anak-anaknya.

“Terima kasih," bisik Kim So Eun getir. "Aku tidak punya kata yang lebih baik dari itu."

"Ada kata yang lebih baik.” Dengan lembut Kim Bum mencium bibir Kim So Eun. "Aku mencintaimu.”

Kim So Eun memejamkan matanya Ketika bibir Kim Bum menyentuh bibirnya. Mula-mula lembut. Hati-hati. Kemudian lebih berani. Lebih bergairah. Lebih hangat. Dan Kim So Eun pun membalasnya.

Bersambung…

Chapter 10 ... Chapter 11
Chapter 9 ... Chapter 12
Chapter 8
Chapter 7
Chapter 6
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog

The Right Man (Chapter 12)



"Kenapa baru datang sekarang?!" Pedas sekali sambutan Dokter Song Seung Hun begitu Kim So Eun melangkah masuk ke kamar prakteknya. Lebih-lebih setelah memeriksa benjolan di ketiak kirinya itu. "Tumor di payudara kirimu sudah satu setengah kali lebih besar. Sudah ada penjalaran ke kelenjar getah bening ketiak sesisi. Kemungkinan tumormu sudah masuk stadium dua. Padahal dua tahun yang lalu masih stadium satu. Kalau dioperasi saat itu, prognosis*)-mu jauh lebih baik."

*)Prognosis > ramalan tt peristiwa yg akan terjadi, khususnya yg berhubungan dng penyakit atau penyembuhan setelah operasi

"Berapa lama lagi, Dokter?" tanya Kim So Eun lirih.

"Jangan tanya berapa tahun lagi!" bentak Dokter Song Seung Hun marah. “Tanya dirimu sendiri, kau mau sembuh atau tidak!"

"Sekarang saya menyerah, Dok."

"Harus diperiksa dulu apakah sudah ada metastasis*) jauh atau belum. Sampai sebegitu jauh, dengan palpasi*) saya belum menemukan anak sebar pada kelenjar limfe di leher maupun di payudara kananmu. Tetapi kalau pada pemeriksaan ditemukan metastasis jauh di organ lain, itu berarti tumormu sudah masuk stadium empat. Operasi pun percuma saja."

*)Metastasis : (1) Kim perubahan dr suatu keadaan (wujud, bentuk, dsb) kpd keadaan (wujud, bentuk, dsb) yg lain; (2) Dok perpindahan penyakit dr bagian tubuh yg satu ke bagian tubuh yg lain

*)Palpasi : pemeriksaan dng jalan meraba.

Dokter Song Seung Hun menulis beberapa surat permintaan pemeriksaan.

"Bawa ini ke bagian Radiologi. Ini permintaan foto rontgen dan scanning. Tumormu akan saya biopsi lebih dulu. Baru nanti kita tentukan apakah tumormu masih dapat dioperasi atau tidak. Minggu depan kau harus menemui saya lagi untuk mengetahui hasilnya."

"Secepat itu, Dok?" gumam Kim So Eun gugup.

"Mau tunggu sampai kapan lagi? Sampai kanker itu bermetastasis ke seluruh tubuhmu dan dokter-dokter tidak sanggup lagi membedahmu karena sudah tidak ada harapan?"

"Saya harus-berunding dulu dengan anak-anak."

"Sudah dua tahun kau punya waktu untuk berunding! Sekarang sudah tidak ada waktu lagi! Kita sedang berlomba dengan maut!"

* * *

Mula-mula Kim So Eun tidak tahu dari mana harus mulai memberitahu anak-anaknya. Tetapi malam itu, sepulangnya dari Dokter Song Seung Hun, Kim Yoo Jung-Iah yang membuka jalan.

Dengan tidak disangka-sangka, anaknya yang baru berumur tujuh, tahun itu bertanya begini,

"Ibu, apa artinya kanker?"

"Itu nama penyakit, Kim Yoo Jung," sahut Kim So Eun setelah berhasil menenangkan dirinya.

Penyakit?" belalak Kim Yoo Jung terkejut, “Penyakit yang ada di tubuh Ibu?"

"Kau tahu dari mana?” Tanya Kim So Eun hati-hati.

“Dari buku Ibu." sahut Kim Yoo Jung polos.

"Siapa lagi yang tahu? Baek Suzy Eonni?"

"Tidak ada. Cuma aku. Kalau sakit, kenapa Ibu tidak ke dokter? Ibu takut disuntik, ya?"

"Ibu tidak takut disuntik, Kim Yoo Jung." Kim So Eun tersenyum pahit. "Ibu cuma takut dokter tidak dapat menyembuhkan penyakit Ibu."

"Dokter tidak bisa?" Kim Yoo Jung ternganga heran. Matanya terbuka lebar. “Tuhan juga tidak bisa, Bu?"

“Tuhan bisa, Sayang," bisik Kim So Eun lirih. "Asal Dia mau."

“Tuhan pasti mau." teriak Kim Yoo Jung lega. Gembira. "Kata Guruku, Tuhan Mahabaik, Bu!"

Kim So Eun menggigit bibir. Menahan air matanya agar tidak menitik ke luar.

"Guruku bilang, asal kita berdoa, Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita, Bu."

"Gurumu bilang begitu?" gumam Kim So Eun asal saja Cepat-cepat dipalingkannya wajahnya agar Kim Yoo Jung tidak melihat air matanya.

"Nanti Aku doa untuk Ibu, ya? Supaya Ibu cepat sembuh! Tuhan pasti mendengar doa-ku kan, Bu? Tuhan kan sayang pada anak-anak!"

"Ya, Kim Yoo Jung." Kim So Eun menyusut air mata yang telah mengalir ke pipinya, Ketika Kim Yoo Jung melihat ibunya menangis, dia meletakkan pensilnya. Dan merayap naik ke pangkuan ibunya.

"Jangan menangis, Bu," katanya sambil menghapus air mata yang mengalir ke pipi ibunya dengan jari-jarinya yang mungil. "Tuhan pasti suntik Ibu supaya sembuh. Kalau Ibu tidak sembuh, Aku tidak mau lagi jadi anak Tuhan!"

"Tuhan tidak bisa dipaksa, Kim Yoo Jung," sahut Kim So Eun sambil tersenyum pahit. "Dia lebih tahu mana yang baik bagi kita. Kau serahkan saja semuanya pada kehendak Tuhan, ya?"

Kim Yoo Jung menyentuh dahi ibunya dengan serius. Begitu yang sering dilihatnya dilakukan Ibu kalau Kim Yoo Bin sakit.

"Aneh," desahnya bingung. Dahinya berkerut seperti sedang berpikir keras. "Ibu tidak panas! Apa Ibu sudah sembuh?! Doaku sudah dikabulkan Tuhan!"

Tak tahan lagi Kim So Eun memeluk anaknya sambil menangis. Lee Young Yoo yang tiba-tiba muncul di ruang makan langsung menegur dengan agak kesal.

"Kim Yoo Jung nakal lagi, Bu? Tidak mau membuat PR?"

"Huu! PR-ku sudah selesai!" kata Kim Yoo Jung sambil menunjuk buku PR-nya di atas meja makan.

"Kenapa Ibu menangis?"

"Ibu sakit!" sahut Kim Yoo Jung cepat-cepat.

"Sakit?" Lee Young Yoo tercengang menatap ibunya, "Ibu sakit? Sakit apa, Bu?"

"Kanker," jawab Kim Yoo Jung lagi.

Lee Young Yoo memandang ibunya dengan sedih.

"Sakit sekali, Bu?" tanyanya hampir menangis "Di mana yang sakit? Aku usap-usap ya, Bu?"

"Tidak, Sayang." Kim So Eun membelai pipi Lee Young Yoo dengan lembut. "Tidak terasa apa-apa."

"Aku belikan obat ya, Bu? Obat apa?"

Cepat-cepat Kim Yoo Jung menyebutkan nama obat yang sering dilihatnya di televisi.

"Katanya obat itu bisa menyembuhkan semua penyakit!"

"Bodoh!" potong Lee Young Yoo kesal. "Itu kan obat gosok! Ibu harus disuntik, tahu tidak?"

"Kau yang bodoh!" balas Kim Yoo Jung sengit. "Obat suntik tidak dijual di televisi!"

"Sudahlah, jangan bertengkar," bujuk Kim So Eun lunak. "Kalau kalian berdua sayang Ibu, tidak boleh bertengkar lagi, ya?"

"Kim Yoo Jung yang duluan, Bu!"

"Suatu hari nanti, kalau tugas Ibu di dunia sudah selesai, Ibu harus pergi meninggalkan kalian. Kalau kalian selalu bertengkar, kepada siapa harus minta tolong kalau ada kesulitan?"

"Ibu mau pergi ke mana?" belalak Kim Yoo Jung heran.

"Ke tempat yang sangat jauh, Kim Yoo Jung."

"Aku boleh ikut? Naik pesawat terbang?"

Kim So Eun terpaksa tersenyum. Kim Yoo Jung memang lucu. Kata-katanya selalu membuat orang gemas. Dicubitnya pipi Kim Yoo Jung yang dengan lembut.

"Tidak, Kim Yoo Jung, Tidak naik Pesawat terbang. Dan kau tidak boleh ikut, karena kau masih kecil!”

"Kalau begitu tunggu sampai Aku besar! Aku mau ikut Ibu!"

Diam-diam Kim So Eun menyembunyikan tangisnya. Ya, seandainya dia boleh menunggu sampai anak-anaknya besar! Tetapi, Tuhan... dapatkah Kau menunggu?

"Makanan datang!" Park Ji Yeon yang baru masuk menuntun sepedanya menunjukkan bungkusan Bulgogi*) pada adik-adiknya.

*)Bulgogi (불고기): potongan daging sapi yang dipanggang dengan kecap, minyak wijen, bawang putih, bawang bombai dan lada hitam. Bulgogi berarti "daging api". Variasinya: daging babi (dwaeji-bulgogi), ayam (dak-bulgogi), dan sotong (ojingeo-bulgogi).

"Horee!" Melupakan penyakit ibunya, Kim Yoo Jung langsung melompat memburu bungkusan di tangan kakaknya.

"Eit! Tunggu dulu!" Park Ji Yeon mengangkat bungkusannya tinggi-tinggi. "Kita makan sama-samai Jangan seperti dulu, selesai mandi aku cuma kebagian bumbunya saja!"

"Baek Suzy mana, Park Ji Yeon?" tanya Kim So Eun ketika tidak melihat anaknya yang satu lagi. Tadi sore mereka pergi berdua.

"Masih di depan, Bu. Botol minyak gorengnya bocor."

"Bantu kakakmu, Lee Young Yoo," perintah Kim So Eun kepada anaknya. "Kim Yoo Jung, bantu Ibu menata meja makan, ya? Kalau Park Ji Yeon sudah mandi, kita makan sama-sama."

Bersambung…


Chapter 10 ... Chapter 11
Chapter 9
Chapter 8
Chapter 7
Chapter 6
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog

Senin, 25 Juli 2011

The Right Man (Chapter 11)



Masalah demi masalah yang melanda keluarganya membuat Kim So Eun lupa pada hari ulang tahunnya sendiri. Tidak heran kalau dia langsung tertegun bingung ketika Kim Hyun Joong tegak di depan pintu rumahnya dengan membawa bunga.

Sebuah karangan bunga mawar yang sangat cantik. Kuning, merah, dan putih berpadu serasi. Memancarkan kesegaran dan keindahan yang hanya dapat ditampilkan oleh bunga.

"Selamat ulang tahun, Sayang," bisiknya sambil menyerahkan bunga itu dan mengecup pipi Kim So Eun dengan mesra.

Tiba-tiba saja Kim So Eun merasa pipinya panas. Dan... ah, bukan hanya pipinya. Matanya juga. Dia merasa malu. Terharu. Dan entah apa lagi.

Seribu satu macam perasaan bercampur aduk dalam benaknya. Kim Hyun Joong begitu memperhatikannya, justru pada saat dia sendiri sudah melupakan ulang tahunnya.

"Mari kita pergi," ajak Kim Hyun Joong lembut. "Hari ini lupakan sekejap semua urusanmu. Anakmu. Rumahmu. Pekerjaanmu."

Jauh di bawah sadarnya, Kim So Eun juga sebenarnya merindukan pelepasan seperti ini. Lepas dari stres yang menghimpitnya setiap hari. Pada hari istimewanya ini, mengapa tidak mencoba melupakan segalanya, biarpun cuma sehari saja? Tahun depan, belum tentu masih ada hari seperti ini untuknya!

Apa salahnya bersantai-santai sehari ini? Berenang di laut. Jalan-jalan di pantai. Makan enak.

Hm, sudah lama dia tidak menyantap Sop Kambing. Jadi, Kenapa tidak dipakainya kesempatan ini? Lupakan dietnya seperti dia melupakan semua problemnya!

"Sop Kambing?" belalak Kim Hyun Joong pura-pura terkejut. Padahal hari ini, seandainya Kim So Eun minta Sop rusa sekalipun akan dicarinya juga. "Wah, tekanan darahku bisa naik!"

"Setahun sekali, Kim Hyun Joong," pinta Kim So Eun manja. "Pulang-pulang langsung kau ukur tekanan darahmu!"

Kim Hyun Joong tertawa lebar.

"Huh, kau ini seperti ngidam saja!"

"Latihan!"

Sesudah mengucapkan kata-kata itu, baru Kim So Eun menyesal. Mengapa harus memberi harapan kalau dia tahu tidak mungkin dapat menepatinya? Dia kan tidak dapat memaksa anak-anaknya untuk menerima Kim Hyun Joong!

Dengan alasan itu pula Kim So Eun menolak cincin, bermata berlian yang dihadiahkan Kim Hyun Joong kepadanya pada saat mereka bersantap malam.

"Anggaplah sebagai tanda pertunangan kita Kim So Eun," bisik Kim Hyun Joong sambil menyodorkan kotak berisi cincin yang indah itu.

"Jangan, Kim Hyun Joong," pinta Kim So Eun sungguh-sungguh. "Aku tidak mau menerima ikatan apa pun sebelum menjadi istrimu."

"Kalau begitu anggap saja hadiah ulang tahun dariku."

"Tapi ini terlalu besar. Kim Hyun Joong."

"Kumohon, Kim So Eun, jangan tolak permintaanku. Aku mudah tersinggung!"

"Aku tidak mau menipumu. Anak-anakku tidak menginginkan dirimu. Mereka tidak mau punya ayah lagi."

"Jangan bicarakan soal itu hari ini, Kim So Eun! Jangan kau rusak hari istimewa ini!"

Tetapi ketika Kim Hyun Joong mengantarkan Kim So Eun pulang ke rumahnya malam itu, rusak jugalah hari yang telah mereka lewati dengan gembira itu.

* * *

Begitu Kim So Eun turun dari mobil, anak-anaknya telah menyongsong di depan pintu. Dan di tengah-tengah mereka, Kim Hyun Joong melihat Kim Bum.

“Duduk dulu, Kim Hyun Joong," kata Kim So Eun sambil mendahului masuk ke dalam. "Aku lihat Kim Yoo Bin dulu."

"Siapa dia?" tanyanya curiga sambil melirik Kim Bum yang sedang melangkah ke ruang makan.

"Teman Ibu," sahut Kim Yoo Jung polos.

"Sudah lama datangnya?”

"Paman Kim Bum tidur di sini."

Kim Hyun Joong membatalkan niatnya untuk duduk.

"Tidur di sini?" ulangnya tidak percaya. Matanya menyipit menatap Kim Yoo Jung, satu-satunya orang yang masih berada di dekatnya.

"Iya. Di kamar Ibu," sahut Kim Yoo Jung sambil menunjuk ke kamar ibunya. "Sudah seminggu Paman Kim Bum tidur di situ. Paman Kim Bum itu baik, Paman!"

"Mau minum apa, Kim Hyun Joong?" tanya Kim So Eun. Dia baru turun dari atas diiringi Lee Young Yoo dan Baek Suzy.

"Masih lama tidak, Bu?" potong Lee Young Yoo cemas.

"Kenapa kalian belum tidur? Sudah malam begini."

"Menunggu Ibu," sahut Kim Yoo Jung polos.

"Kata Paman Kim Bum, malam ini kita semua harus menunggu Ibu."

"Padahal aku sudah mengantuk sekali, Bu!" Keluh Lee Young Yoo.

"Ayo semua ke atas dulu," ujar Kim So Eun pada anak-anaknya. "Ibu temani Paman Kim Hyun Joong dulu."

"Jangan lama-lama ya, Bu!" seru Kim Yoo Jung dari tangga. "Aku juga sudah mengantuk!?”

"Duduk dulu, Kim Hyun Joong," kata Kim So Eun ketika dilihatnya Kim Hyun Joong masih berdiri juga. "Heran, sudah malam begini kenapa anak-anak belum tidur. Termasuk Kim Yoo Bin."

"Siapa lelaki itu?"

Tertegun Kim So Eun mendengar dinginnya suara Kim Hyun Joong. Apalagi melihat tatapan matanya. Kapan pernah dilihatnya Kim Hyun Joong semarah ini?

"Lelaki mana?"

“Jangan pura-pura!” bentak Kim Hyun Joong Kasar. Siapa pria yang kau sembunyikan di kamarmu itu?"

"Di kamar mana?" Refleks Kim So Eun menoleh ke kamarnya. Dan tiba-tiba saja dia mengerti. "Kim Bum," gumamnya gugup.

"Temanku..."

"Dasar perempuan jalang?" geram Kim Hyun Joong jijik. "Kau main juga dengan segala macam gigolo seperti itu?"

"Kim Hyun Joong!" Bergetar bibir Kim So Eun menahan marah. "Jangan sembarangan mencaci orang!"

"Kau memang pelacur! Tidak ada lelaki yang bisa memuaskanmu!"

Lalu berhamburanlah sumpah serapah yang lebih kotor dari air selokan dari mulut Kim Hyun Joong.

"Cukup! Cukupr teriak Kim So Eun sengit. "Keluar kau! Keluar dari rumahku! Keluar sebelum kekotoran mulutmu menulari anak-anakku!"

Dan Kim Hyun Joong memang tidak perlu diusir dua kali. Dengan membanting pintu, dia meninggalkan rumah itu.

* * *

Ya Tuhan, pekik Kim So Eun dalam hati. Beginikah akhir malam ulang tahunku yang ceria?

Dijatuhkannya dirinya ke sofa. Dan air mata langsung menggenangi matanya.

"Ibu..." Suara Kim Yoo Jung terdengar dekat. Dekat sekali di belakangnya.

"Pergilah tidur!" potong Kim So Eun sebelum Kim Yoo Jung sempat mengucapkan kata-kata berikutnya. Disembunyikannya wajahnya dari tatapan Kim Yoo Jung. Dihapusnya air matanya. Dia tidak ingin menangis di depan anak-anaknya.

"Tapi, Bu..."

"Tidur, Kim Yoo Jung!" perintah Kim So Eun tegas. "Tahu sudah pukul berapa sekarang? Hampir pukul dua belas. Besok kau bisa kesiangan bangun."

"Ibu..."

"Jangan membantah lagi!" Kim So Eun terpaksa memalingkan wajahnya. Menatap Kim Yoo Jung dengan mata membeliak marah. "Kau mau Ibu marah lagi?"

Dengan kecewa Kim Yoo Jung menggelengkan kepalanya. Lalu dengan patuh dia melangkah terseok-seok ke atas.

Kim So Eun menghela napas kesal. Sambil bangkit dari sofa disambarnya tasnya yang masih tergolek di atas meja. Sesudah mengunci pintu depan, dia segera naik ke kamarnya. Dan merasa heran ketika tidak menemukan Kim Yoo Bin di tempat tidur.

"Kim Yoo Bin?" panggilnya bingung. “Ke mana dia?”

Tadi dia memang belum tidur. Tapi sudah tergolek di ranjang. Jatuhkah dia?

Buru-buru Kim So Eun melongok ke bawah tempat tidur. Kosong. Dia menoleh ke tempat tidur yang satu lagi. Kosong. Dan... eh, tidak kosong. Ada bungkusan di atasnya. Bungkusan apa?

Hati-hati diambilnya bungkusan itu. Dibukanya sedikit. Dan Kim So Eun terbelalak heran.

Seperangkat alat-alat make-up. Astaga! Kado dari mana ini? Dari... Kim Bum? Untuk... Baek Suzy?

Kurang ajar! Lelaki sok tahu itu! Dia mengajari Baek Suzy untuk membelanjakan uangnya membeli alat alat make-up? Menyuruh Baek Suzy belajar berdandan?

Naik darah Kim So Eun ke kepalanya. Lebih-lebih ketika menoleh ke meja hiasnya. Semua peralatan make-upnya telah disapu bersih dari sana!

Astaga! Siapa yang berani menyingkirkan minyak wanginya? Lipstiknya? Maskaranya? Pensil alisnya?

Selama Kim Bum tidur di kamarnya, Kim So Eun memang telah mengangkut peralatan kecantikannya ke kamar atas. Tetapi itu untuk memudahkannya berdandan! Bukan menyuruh Baek Suzy berlatih!

"Baek Suzy!" teriaknya geram. Ke mana anak itu? Ke mana mereka semua?

Dengan gemas Kim So Eun membuka pintu kamar untuk menerjang ke luar. Tetapi sebelum dia sempat melangkahi ambang pintu, Kim Bum telah mendahului masuk. Dan melihat lelaki itu, kemarahan Kim So Eun langsung meledak.

"Pasti kau yang jadi biang keladinya!" bentaknya sengit. "Punya siapa ini?" Ditunjukkannya bungkusan di tangannya itu ke wajah Kim Bum. "Siapa yang mengajari anak-anakku berhias seperti ‘wanita malam’?!" Dibantingnya bungkusan itu dengan, geram. "Dan ke mana semua alat make-upku? Parfumku? Habis dibuat mainan anak-anak?!"

Kim Bum tidak keburu mencegah. Bungkusan itu terbanting keras ke lantai. Isinya hancur berderai.

Kim Bum tertegun dengan mulut separuh terbuka. Dia tidak mampu berkata apa-apa. Parasnya memucat.

Satu per satu anak-anak Kim So Eun masuk ke kamar. Kim Yoo Jung-lah yang pertama-tama melihat bungkusan itu di lantai. Dia memekik kaget bercampur kecewa. Lalu dia menyelinap ketakutan di balik tubuh Kim Bum.

Air mata Lee Young Yoo langsung mengalir melihat nasib bungkusan itu. Sementara Baek Suzy hanya mampu tertegun sambil menutupi mulutnya.

Saat itu Kim Yoo Bin muncul di ambang pintu. Nenek membungkuk di sampingnya. Membantu Kim Yoo Bin membawa sebuah kue tar.

Dengan jalannya yang masih tertatih-tatih, dia muncul begitu saja dari belakang mereka. Membawa kue tar kecil itu ke hadapan Kim So Eun dengan dibantu neneknya.

Tiba-tiba Nenek menyadari musibah itu. Matanya terbelalak kaget menatap bungkusan yang telah porak-poranda di lantai itu. Dan. tidak sengaja pegangannya terlepas.

Kim Yoo Bin yang tidak kuat lagi memegang kue itu seorang diri, menangis menjerit-jerit ketika seluruh kue jatuh menimpa kakinya.

Dua buah lilin berbentuk angka tiga puluh dua menggelinding ke dekat kaki Kim So Eun.

Sambil mengomel Nenek segera menggendong Kim Yoo Bin keluar dari kamar itu. Baek Suzy dan Lee Young Yoo sudah lebih dulu lari keluar sambil menangis.

Hanya Park Ji Yeon yang tidak menampilkan emosinya. Tanpa berkata apa-apa dia memutar tubuhnya. Dan meninggalkan kamar dengan kepala tertunduk. Sementara Kim Yoo Jung sudah melekat, erat-erat di paha Kim Bum. Matanya menatap ibunya dengan ketakutan seperti melihat monster.

"Apa artinya semua ini?" desis Kim So Eun gemetar, menyadari perasaan tidak enak yang mulai menjalari hatinya.

'Tidak apa-apa," sahut Kim Bum tawar. Matanya menatap Kim So Eun dengan dingin. "Anak-anakmu hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun."

Tanpa berkata apa-apa lagi dia memutar tubuhnya. Dan menggendong Kim Yoo Jung keluar. Meninggalkan Kim So Eun tertegun seperti orang lupa ingatan.

Ulang tahun! Ya Tuhan! Anak-anaknya menunggu sampai semalam ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya? Dan bungkusan itu!

Kim So Eun menatap dengan nanar bungkusan yang telah hancur di lantai di dekat kakinya.... Itukah hadiah ulang tahun dari anak-anaknya? O, begitu besarkah perhatian mereka?

Dan aku telah menghancurkan hadiah ulang tahun dari anak-anakku sendiri! Aku yang dalam keadaan marah kepada Kim Hyun Joong, melampiaskan kemarahanku kepada mereka! Padahal mereka tidak bersalah! Anak-anak hanya ingin memberikan sesuatu kepada ibunya! O, betapa jahatnya aku!

Sambil meraung Kim So Eun membuang dirinya ke tempat tidur. Dan tangisnya meledak tanpa dapat ditahan-tahan lagi.

Hari celaka! Mula-mula Kim Hyun Joong. Setelah Kim Hyun Joong memberikan perhatian yang begitu besar... mempersembahkan hari ulang tahun yang sangat berkesan... dibalasnya budi baik lelaki itu dengan menyakiti hatinya. Bahkan mengusirnya dari rumahnya! Padahal Kim Hyun Joong hanya salah paham!

Lalu anak-anaknya. Untuk pertama kalinya mereka memberikan sesuatu pada hari ulang tahun ibunya. Yang pertama. Mungkin pula terakhir. Siapa tahu. Dan inilah balasannya. Dia melemparkan hadiah itu di depan mata mereka!

Kim So Eun masih dapat membayangkan dengan jelas betapa shocknya Kim Yoo Jung. Betapa sedihnya Lee Young Yoo. Betapa terpukulnya Baek Suzy. Dan betapa takutnya Kim Yoo Bin!

Oh, aku benar-benar manusia yang tidak tahu berterima kasih! Ibu yang mengerikan! Perempuan monster! Lebih baik aku mati! Mati!

Dengan gemas, sekuat tenaga Kim So Eun mencoba membenturkan kepalanya ke dinding di samping tempat tidur. Tetapi seseorang menahannya. Ada sepasang tangan yang sangat kuat memegang bahunya.

"Princess," panggilnya lembut.

Princess. Hanya satu orang yang berani memanggilnya dengan nama itu. Diakah yang memegang bahunya? Sudah berapa lama dia berada di kamar ini, mengawasi tangisnya?

"Biarkan aku mati," tangis Kim So Eun histeris.

Dia meronta sekuat tenaga. Mencoba melepaskan diri. Tetapi Kim Bum malah meraihnya ke dalam rangkulannya.

"Itu bukan Princess yang kukenal," bisiknya tenang. "Princess yang berjuang seorang diri melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya dengan gagah berani."

Mendadak tubuh Kim So Eun mengejang. Kanker! Salah dengarkah dia?

Diangkatnya kepalanya. Ditatapnya Kim Bum dengan tatapan tidak percaya. Tetapi pemuda itu cuma tersenyum. Matanya demikian lembut menatap Kim So Eun.

“Tetaplah tegak seperti sebuah batu karang di tengah lautan. Princess. Melindungi kelima anakmu dari serbuan ombak kehidupan yang kejam. Kenapa harus mengakhiri perjuanganmu dengan bunuh diri?"

"Kau tahu dari mana?" desis Kim So Eun dengan bibir gemetar. Dia sudah lupa siapa yang sedang memeluknya. Dan betapa dekat jarak mereka sekarang....

“Tidak penting dari mana aku tahu," sahut Kim Bum lunak. "Kau seorang perempuan yang hebat. Berani. Tapi bodoh."

Ada kepanikan menggelepar-gelepar dalam mata yang sedang menatap Kim Bum dengan bingung itu.

"Anak-anakku tahu?" erangnya gugup. "Mereka semua tahu?"

"Seharusnya mereka tahu."

"Mereka tidak boleh tahu!"

"Kenapa? Kenapa mereka tidak boleh menghargai ibunya selagi masih hidup? Kenapa mereka baru boleh menyebutmu pahlawan sesudah kau mati?"

"Aku tidak rela mereka ikut menderita! Mereka masih kecil!"

"Park Ji Yeon dan Baek Suzy sudah cukup besar."

"Mereka belum tahu apa-apa!"

"Kau yang over protective!"

"Biarkan hanya aku yang menderita."

"Percaya padaku, Princess, mereka akan lebih menyesal karena tidak mengetahuinya lebih dulu!"

"Kau tahu bagaimana tersiksanya mengetahui hari kematianmu?"

Dengan sedih Kim So Eun melepaskan dirinya dari pelukan Kim Bum. Dia duduk di tepi tempat tidur. Kim Bum duduk di sampingnya. "Menunggu sambil menghitung hari? Putus asa dan tidak punya masa depan?"

"Beritahukanlah padaku, Princess. Bagilah penderitaanmu."

Kim So Eun menggeleng getir.

"Aku sudah pernah merasakannya. Dan tidak ingin kau atau anak-anakku ikut menderita."

"Itu yang kusebut berani tapi bodoh.”

"Kata siapa aku berani? Hampir setiap malam aku diganggu mimpi buruk. Hampir setiap malam aku bertanya sendiri, besokkah harinya? Masih dapatkah aku bangun besok pagi melihat anak-anakku? Tapi, biarlah kutanggung ketakutan ini seorang diri!"

"Itu tidak adil!"

"Aku hanya tidak mau membagi derita ini kepada anak-anakku."

"Suatu hari kau akan sadar, menanggung derita bersama-sama lebih menyenangkan. Kalian bisa melewatkan hari-hari terakhirmu dengan lebih mengesankan. Dan mereka akan berpikir dua kali sebelum menyakiti hatimu lagi.”

“Itu yang aku tidak mau. Mereka harus hidup seperti biasa. Bebas dari perasaan tertekan."

"Membangkang maksudmu? Memberontak dan kurang ajar terhadap ibunya?"

"Mereka hanya tidak ingin punya ayah lagi, Tidak suka aku pulang malam. Mereka hanya menuntut perhatianku!"

"Eh, akhirnya kau tahu juga!"

"Kau yang memberitahuku, kan? Kau yang membukakan mataku."

"Kalau begitu apa susahnya melaksanakan tuntutan mereka?"

"Kau tidak mengerti. Aku mencari pelindung yang dapat menggantikan diriku setelah aku mati!"

"Kenapa tidak mencari seorang dokter yang dapat menunda kematianmu?"

"Dokter menyuruhku operasi dua tahun yang lalu."

"Kenapa menunda operasi kalau itu berarti bunuh diri?”

"Dan membiarkan mereka mengambil satu-satunya modalku?"

"Bintang film tidak cuma perlu tubuh yang indah! Mereka perlu akting yang bagus!"

"Memang. Tapi aku bukan bintang film."

"Jadi..." Ternganga mulut Kim Bum. "Kau...?"

"Aku cuma stand in. Melakukan adegan-adegan yang dianggap terlalu panas untuk dilakukan oleh artis-artis besar."

"Kalau begitu, carilah pekerjaan lain!"

"Pekerjaan apa? Aku cuma lulusan SMP! Dan aku cuma pandai berpose. Pekerjaan apa lagi yang dapat kulakukan untuk memperoleh sebuah rumah dan simpanan yang cukup untuk menjamin masa depan anak-anakku?"

"Kalau kau sayang pada anak-anakmu, pergilah ke dokter, Princess. Mereka lebih membutuhkan dirimu daripada sebuah rumah!"

"Tapi sebuah rumah lebih baik daripada tidak kedua-duanya!"

"Tumormu kan belum tentu ganas!"

"Anak sebarnya telah sampai ke kelenjar ketiakku."

"Biarkan dokter mengeluarkannya, Princess."

"Untuk apa? Aku hanya membuang-buang uang Untuk operasi!"

"Untuk apa? Kau lebih suka hidup dalam ketakutan seperti ini?"

"Apa bedanya untukku? Jika ternyata tumorku jinak, tidak dioperasi pun tidak apa-apa, bukan? Sebaliknya kalau ganas, dioperasi pun aku akan mati juga! Malah kata orang, operasi bisa menyebabkan kankerku lebih cepat lagi menyebar."

"Kenapa begitu pesimis? Kanker pun dapat sembuh kalau diobati dalam stadium dini!"

"Semua penderita kanker yang kukenal sudah mati!"

"Karena mereka datang terlambat!"

"Sekarang pun aku sudah terlambat dua tahun!"

"Itulah kesalahanmu yang pertama. Five years survival, rate-nya lebih besar kalau kau berobat dua tahun yang lalu. Kenapa sekarang mau membuat kesalahan yang kedua? Pergilah ke dokter besok, Princess. Jangan kau tunda-tunda lagi."

"Tapi mereka bukan hanya membuang tumorku. Mereka juga membuang payudaraku!"

"Tergantung tumormu jinak atau ganas, Princess. Jika jinak, mereka hanya mengangkat tumormu."

"Jika ganas?"

“Tergantung tumormu sudah sampai stadium berapa. Biasanya mereka memakai metode TNM. T untuk besarnya tumor di payudaramu. N untuk pembesaran kelenjar getah bening regional. Biasanya yang paling sering terkena adalah kelenjar limfe ketiak. Dan M untuk metastasis jauh. Misalnya penyebaran ke paru atau tulang."

"Dua tahun yang lalu, Dokter Song Seung Hun bilang, tumorku berukuran kira-kira dua sentimeter. Waktu itu belum ada benjolan di ketiakku."

"Artinya tumormu baru stadium satu. Kalau saat itu dioperasi, mereka masih bisa melakukan Pembedahan Konservasi Payudara. Artinya payudaramu tidak dibuang habis."

"Apa bedanya? Payudaraku pasti tidak seindah aslinya."

"Mereka bisa melakukan pembedahan rekonstruktif."

"Berapa lama aku harus tinggal di rumah sakit? Berapa biayanya? Anak-anakku masih kecil. Siapa yang mencari nafkah kalau aku tidak ada?"

"Tapi kalau berhasil, kau bisa hidup lebih lama mendampingi anak-anakmu."

"Untuk apa kalau hanya jadi beban mereka! Lebih baik uang puluhan dolar biaya operasi dan obat-obatan itu kutabung untuk membeli rumah!"

"Kau tidak pernah berpikir sebaliknya? Kalau kau biarkan kanker itu menggerogoti tubuhmu, sampai kapan kau masih kuat bekerja?"

"Aku akan berjuang sampai helaan napasku yang terakhir."

"Kalau akhirnya nanti kau terpaksa masuk ramah sakit karena tidak tahan sakitnya, bukankah kau harus mengeluarkan biaya juga? Pada stadium terakhir, pengobatan kanker bukan untuk menyembuhkan. Tetapi hanya supaya penderita dapat melewati, hari-hari terakhirnya dengan tidak terlampau menderita. Inikah jalan yang kau pilih, Princess?"

Kim So Eun menatap pemuda itu dengan berlinang air mata.

"Aku mulai percaya, Tuhan-lah yang mengirimmu ke rumahku malam itu."

"Tapi aku tidak percaya Tuhan membiarkan kepalaku dihajar sampai babak belur untuk bertemu denganmu."

Kim Bum tersenyum sambil meraih tubuh Kim So Eun ke dalam pelukannya.

Saat itu pintu perlahan-lahan terbuka. Satu per satu anak-anaknya muncul di ambang pintu. Dan Kim So Eun terlambat melepaskan dirinya dari pelukan Kim Bum.

Terlambat pula menyadari betapa pucatnya paras, Baek Suzy. Untuk sesaat, mereka hanya saling pandang tanpa berkata apa-apa. Lalu Baek Suzy lekas-lekas menundukkan kepalanya.

"Hmm, siapa yang mau mengucapkan selamat ulang tahun pada Ibu?" Suara Kim Bum memecahkan kesunyian di kamar itu.

Untuk sesaat tidak seorang pun dari anak-anak itu yang berani maju ke depan. Mereka cuma menatap bolak-balik ke arah Kim Bum dan Kim So Eun dengan ragu-ragu.

"Kenapa tidak ada yang maju?" Kim Bum tidak dapat menahan tawanya lagi melihat betapa tegangnya paras mereka. "Tidak ada yang mau bilang selamat pada Ibu? Kim Yoo Jung?"

Hati-hati Kim Yoo Jung maju ke depan. Menatap ibunya dengan takut-takut. Dan berhenti beberapa meter di depan Kim So Eun.

"Selamat ulang tahun, Bu...," desahnya bimbang. Tapi sekarang sudah lebih dari jam dua belas malam...."

Tidak tahan lagi Kim So Eun menghambur ke depan. Meraih Kim Yoo Jung ke dalam pelukannya. Terima kasih, Kim Yoo Jung," bisiknya dengan air mata berlinang. "Maafkan Ibu, ya? Ibu jahat sekali marah-marah seperti tadi!"

Melihat ibunya menangis, Lee Young Yoo pun latah ikut melelehkan air mata. Sambil menangis dia maju merangkul ibunya.

"Selamat ulang tahun, Bu...," isaknya tersendat-sendat.

"Wah, kenapa semua jadi menangis?!" gurau Kim Bum sambil menyeringai lebar, "Dasar perempuan! Senang nangis, sedih nangis!"

Kim Yoo Bin pun segera minta turun dari gendongan neneknya. Tertatih-tatih dia menghampiri ibunya. Kim So Eun langsung menggendongnya. Dan mencium pipinya.

"Kau juga mau bilang selamat pada Ibu, ya?" bisiknya sambil menatap gadis kecilnya itu dengan berlinang air mata.

Tetapi Kim Yoo Bin cuma membalas tatapan ibunya dengan tatapan kosong. Wajahnya tidak melukiskan ekspresi apa-apa. Dia tidak mengerti kata-kata ibunya. Hanya nalurinya barangkali yang membisikkan betapa bahagianya Ibu malam ini. Sehingga walaupun Kim So Eun memandangnya dengan berlinang air mata, Kim Yoo Bin tidak ikut menangis.

"Terima kasih untuk hadiahnya. Pakai uang siapa?"

"Uang tabungan-ku, Bu!" jawab Kim Yoo Jung.

"Uang-ku juga, Bu!" sela Lee Young Yoo cepat-cepat. "Aku sudah punya uang banyak!"

"Dari mana?"

"Kerja."

"Kau kerja apa, Lee Young Yoo? Di mana?"

"Itulah kalau tidak pernah di rumah!" gerutu Nenek. Tetapi malam ini, tak ada kemarahan dalam suaranya.

"Kau tidak tahu," sela Kim Bum. "Lee Young Yoo sudah punya perpustakaan."

"Perpustakaan?" Mata Kim So Eun terbuka semakin lebar.

"1000 untuk satu bukunya, Bu," sahut Lee Young Yoo bangga. "Banyak teman-temanku yang pinjam. Paman Kim Bum juga!"

"Aku juga pinjam, Bu," sela Kim Yoo Jung lucu.

"Tapi cuma lihat gambarnya. Jadi cuma bayar 500!"

Kim So Eun dan Kim Bum tertawa geli. Baru ketika sedang tertawa, Kim So Eun melihat Baek Suzy bersandar ke pintu seperti tadi. Wajahnya muram. Tatapannya hampa.

"Kau juga mau bilang selamat pada Ibu, Baek Suzy? tanya Kim So Eun lembut.

Perlahan-lahan Baek Suzy mendekat. Membungkuk Dan mengecup pipi ibunya.

“Selamat ulang tahun, Bu," bisiknya parau.

"Maafkan Ibu, Baek Suzy," gumam Kim So Eun sambil membelai pipi anaknya. "Ibu janji tidak akan menyakiti hatimu lagi."

Tapi Ibu baru saja menoreh hatiku dengan sembilu, bisik Baek Suzy dalam hati. Dan dia terlambat menghapus air matanya. Air mata itu jatuh menetes ke tangan ibanya. Begitu banyak lelaki yang dapat Ibu raih, mengapa harus merampas satu-satunya pria yang dapat kugapai?

Park Ji Yeon adalah orang terakhir yang masuk ke kamar itu. Dan dia langsung mengecup pipi ibunya.

"Selamat ulang tahun, Ibu," katanya sambil mengeluarkan sebungkus kacang goreng dari sakunya. "Tadinya kami sudah menyiapkan kue tar untuk dimakan bersama-sama malam ini. Tapi sekarang yang ada cuma kacang goreng."

“Terima kasih, Park Ji Yeon!” Kim So Eun tersenyum pahit. “Terima kasih juga untuk hadiahnya. Kau beli dengan gajimu yang pertama?”

“Sebagian besar pakai uang Paman Kim Bum," katanya tanpa menoleh sekilas pun pada Kim Bum

Tetapi dari nada suaranya Kim So Eun telah membaca nada yang lebih bersahabat. Dan lagi, sejak kapan dia sudi memanggil Paman pada Kim Bum?

Malam itu mereka memang cuma makan kacang goring. Tetapi sambil mengunyah kacang itu bersama anak-anaknya, tiba-tiba saja Kim So Eun bertekad untuk mengunjungi Dokter Song Seung Hun lagi.

Dia ingin sembuh. Ingin hidup lebih lama lagi bersama anak-anaknya. Dia ingin menikmati suasana yang lebih manis pada hari ulang tahunnya tahun depan!

Tolonglah, Tuhan, doanya sesaat sebelum tidur. Kalau jadi kehendak-Mu, biarkan aku hidup lebih lama bersama anak-anakku!

Bersambung…

Chapter 10
Chapter 9
Chapter 8
Chapter 7
Chapter 6
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog

The Right Man (Chapter 10)



"Gentengnya bocor lagi, Park Ji Yeon," Nenek sudah datang mengadu begitu Park Ji Yeon menyandarkah sepedanya. "Bisa kau perbaiki sekarang?"

"Besok saja deh, Nek," sahut Park Ji Yeon segan. "Aku sedang malas."

"Kalau nanti malam hujan bagaimana?"

"Ya paling-paling airnya masuk!"

"Enak saja kalau bicara! Bocornya pas di kepala tempat tidur Nenek!"

"Ya pindah saja," kata Park Ji Yeon seenaknya.

"Orang sedang enak-enak tidur mana ingat pindah? Tahu-tahu wajah Nenek sudah basah!"

"Itu karena Nenek belum mandi!"

"Kurang ajar!" Nenek membeliak tersinggung. Tapi Park Ji Yeon cuma tersenyum. Kim Bum yang kebetulan lewat, terkesiap melihat senyum yang pertama kali dilihatnya itu.

Kalau sedang tersenyum seperti itu, dia mirip perempuan, gumam Kim Bum dalam hati. Dia bahkan lebih cantik dari Baek Suzy!

Dan lamunan Kim Bum buyar ketika Park Ji Yeon melewatinya lagi. Kali ini dengan membawa tangga.

"Astaga," desis Kim Bum tidak percaya. "Kau mau naik ke atas genteng?''

Park Ji Yeon tidak menyahut. Menoleh pun tidak. Dia terus saja membawa tangganya keluar. Kim Bum cepat-cepat membuntutinya.

"Biar Paman yang naik, Park Ji Yeon," pintanya sambil berusaha merampas tangga itu. "Kau tunggu di bawah saja."

"Jangan ikut campur!" bentak Park Ji Yeon sambil mempertahankan tangganya.

"Nanti kau jatuh!"

"Aku bukan anak kecil!"

"Tahu berapa tingginya atap itu? Kamar Nenek kan di tingkat dua! Kalau jatuh, kau tidak sempat permisi pada Ibu lagi!"

"Bukan urusanmu! Minggir!" Park Ji Yeon menyandarkan tangganya. Dan mulai memanjat. Kim Bum merengkuh lengan Park Ji Yeon. Menyeretnya turun. Dan mendorongnya ke samping. Lalu dia mendahului memanjat.

Dengan geram Park Ji Yeon menyerbu ke depan. Berusaha menyingkirkan Kim Bum dari tangga. Dalam pergulatan itu, tidak sengaja tangan Kim Bum menyentuh benda lunak di dada Park Ji Yeon.

Serentak tangan Kim Bum seperti dijalari aliran listrik. Berbarengan saat Park Ji Yeon menepiskan tangan Kim Bum dengan kasar, Kim Bum pun menarik tangannya dengan wajah merah padam.

"Kurang ajar!" geram Park Ji Yeon sengit. Sekujur parasnya merah terbakar.

"Maaf!" desis Kim Bum spontan. "Paman tidak sengaja...."

Mula-mula dikiranya Park Ji Yeon akan menamparnya. Tapi Kim Bum keliru. Park Ji Yeon memang memukulnya. Tapi bukan dengan tamparan biasa. Melainkan dengan pukulan karate yang cukup keras.

Tidak ampun lagi Kim Bum yang tidak menyangka akan mendapat pukulan yang demikian ganas, terjajar beberapa langkah ke belakang.

"Astaga!" desisnya kaget. "Pukulanmu benar-benar akurat! Belajar di mana, hah? Kenapa kau tidak bilang jago karate?"

"Bukan urusanmu," sahut Park Ji Yeon dingin.

Tetapi Kim Bum sudah menangkap sekilas kebanggaan dalam suara Park Ji Yeon. Dan dia tahu apa yang harus dilakukannya. Ketika Park Ji Yeon memutar tubuhnya untuk mulai memanjat, Kim Bum menerkamnya dari belakang.

Seperti sudah menunggu, dengan gesit Park Ji Yeon berbalik. Dan memukul lagi. Tetapi kali ini Kim Bum sudah siap. Beberapa kali pukulan Park Ji Yeon berhasil ditangkisnya.

"Bagus!'' serunya kagum setiap kali Park Ji Yeon menyerang. "Coba lagi!"

Untuk beberapa saat mereka jadi terlihat seperti dua orang karateka yang sedang berlatih! Sampai Kim Bum bingung bagaimana harus menyudahi latihan itu tanpa melukai Park Ji Yeon atau menyinggung harga dirinya.

"Sudah! Sudah!" serunya berulang-ulang. "Paman menyerah,”

"Kau belum kalah!" bentak Park Ji Yeon sengit. "Jangan berteriak-teriak terus seperti banci!"

Astaga, keluh Kim Bum bingung. Anak ini benar-benar minta ditaklukkan!

Tiba-tiba saja Kim Bum menyadari kekeliruannya. Jika dia ingin menguasai Park Ji Yeon, dia memang harus menaklukkannya. Park Ji Yeon mendambakan lawan yang lebih kuat. Bukan lelaki cengeng yang lemah dan santai.

"Baiklah." Kim Bum mulai menukar cara berkelahinya. Dari bertahan menjadi menyerang. "Jaga ini!"

Dan hanya dengan beberapa kali serangan saja, Kim Bum sudah berhasil mendesak Park Ji Yeon dan menjatuhkannya.

"Maaf!" Kim Bum buru-buru mengulurkan tangannya untuk membantu Park Ji Yeon bangun. "Paman menyakitimu?"

Park Ji Yeon menerima uluran tangan Kim Bum. Tetapi bukan untuk membantunya berdiri. Begitu tangan Kim Bum dicekalnya, kakinya menyapu tungkai Kim Bum. Dan Kim Bum jatuh terduduk.

"Wah, curang!" Kim Bum pura-pura menyeringai kesakitan.

"Kau menang," kata Park Ji Yeon sportif. "Jadi Paman boleh naik ke atas?"

"Kita naik berdua."

"Kau tidak takut jatuh?"

"Kau takut?"

Wah, anak ini benar-benar lain dari yang lain!

Tanpa mengacuhkan Kim Bum lagi, Park Ji Yeon bangkit. Membersihkan debu yang melekat di celana jins-nya. Dan mulai memanjat ke atas. Buru-buru Kim Bum mengikutinya.

"Yang mana kamar nenekmu?" tanya Kim Bum ketika mereka sudah sampai di atas.

"Kenapa tanya padaku?" balas Park Ji Yeon pedas. "Tadi kau mau naik sendiri, kan? Jadi sekarang, cari saja sendiri!"

"Aduh, kenapa kau judes sekali?”

"Karena kau konyol!"

"Konyolkah orang yang mau membantumu?"

"Aku tidak perlu dibantu!"

"Kelihatannya memang tidak. Mana gentengnya?"

Untuk pertama kalinya Park Ji Yeon tidak menjawab. Karena dia baru ingat. Gentengnya ketinggalan di bawah! Ketika Park Ji Yeon merayap hendak turun mengambil genteng, Kim Bum mencegahnya.

"Biar Paman saja yang turun. Kau di sini saja."

Dan sebuah perasaan ganjil menyergap hati Park Ji Yeon. Menyelinap ke lubuk hatinya yang paling dalam. Mengapa lelaki ini selalu bersikap melindungi? Dan dilindungi oleh seorang pria setampan Kim Bum menjentikkan sensasi yang belum pernah dimilikinya.

Park Ji Yeon melirik Kim Bum. Dan tiba-tiba menyadari, ada yang tidak beres.

Kim Bum masih berjongkok di atap. Sedang menggoyang-goyangkan kepalanya dengan mata terpejam.

"Hei!" seru Park Ji Yeon tak sadar. Kau kenapa?”

"Tidak apa-apa," sahut Kim Bum sambil menebah, kepalanya. "Pusing sedikit waktu melihat ke bawah tadi."

"Jangan turun dulu. Duduk saja!" Kim Bum menuruti usul Park Ji Yeon. Dia duduk di atap sambil mengurut-urut kepalanya. Dipejamkannya matanya rapat-rapat. Karena kalau dia membuka matanya, dirinya seakan-akan berputar seperti gasing.

Park Ji Yeon ikut duduk. Tidak terlalu dekat. Tapi tidak juga terlalu jauh.

"Kau takut ketinggian? Pusing kalau melihat ke bawah?"

"Biasanya Paman tidak mengidap vertigo*). Mungkin akibat pukulan di kepala Paman."

*)Vertigo > pusing-pusing, sakit kepala ringan - sensasi berputar-putar, sebuah perasaan bahwa Anda akan jatuh.


"Aku tidak memukul kepalamu."

"Oh, bukan Park Ji Yeon! Seminggu yang lalu Paman terlibat perkelahian. Mereka memukul kepala Paman dengan kayu dan botoL"

"Kau tukang berkelahi, ya?" suara Park Ji Yeon melunak.

"Paman menyebutnya pengeroyokan. Bukan perkelahian."

"Kau dikeroyok?"

"Coba kalau ada Kau. Kau jago berkelahi juga kan, Park Ji Yeon."

"Aku tidak pernah berkelahi."

Kim Bum membuka matanya. Masih pusing sedikit.

"Lalu untuk apa kau belajar karate?"

"Bela diri."

"Membela Ibu dan adik-adikmu?"

"Ibu tidak perlu dibela. Ibu kuat. Ibu tidak butuh siapa pun."

"Kata siapa? Suatu hari nanti kau akan tahu, Ibu tidak sekuat yang kau sangka. Ibu membutuhkanmu."

"Ibu cuma butuh laki-laki."

"Seharusnya Kau-lah yang jadi anak lelaki Ibu."

"Ibu tidak ingin punya anak laki-laki."

"Untuk apa anak laki-laki? Ibu kan punya kau! Sebagai anak perempuan pun kau lebih berguna dari sepuluh anak laki-laki!"

"Ah, jangan sok tahu!"

"Tidak percaya? Kau tidak perlu jadi anak lelaki untuk menjadi pelindung Ibu!"

"Kepalamu masih pusing?"

"Sedikit. Tapi tanahnya masih berputar kalau Paman melihat ke bawah."

"Diam-diam saja di situ. Aku turun ambil genteng!"

"Kenapa jadi mengobrol di atas?" teriak Nenek dari bawah. "Gentengnya sudah diganti belum?"

"Cerewet," desis Park Ji Yeon sambil meluncur turun.

Dia mengambil gentengnya. Dan memanjat kembali ke atas. Ketika Park Ji Yeon sedang mengganti genteng yang bocor itu, tiba-tiba saja Kim Bum harus mengakui. Park Ji Yeon memang tidak membutuhkan pertolongannya.

* * *

"Kenapa lama sekali di atas?" tegur Baek Suzy begitu Park Ji Yeon masuk.

"Ambilkam minuman," sahut Park Ji Yeon acuh tak acuh. "Paman-mu pusing lagi."

"Kau tadi berkelahi, ya?"

"Cuma latihan."

“Cuma latihan berkelahi?''

"Jangan banyak tanya! Lebih baik kau ambilkan minuman untuk Paman-mu!"

Sejenak Baek Suzy mengawasi kakaknya dari belakang. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia mengambil minuman ke dapur.

“Terima kasih, Cantik." Kim Bum tersenyum lembut ketika Baek Suzy menyodorkan segelas es sirup. Diteguknya minuman itu sampai habis. "Wah, segar sekali. Rasanya pusingnya langsung hilang!"

"Paman sering pusing begini?" Baek Suzy tidak menyembunyikan kecemasan dalam suaranya.

"Oh, cuma beberapa hari ini saja. Jangan khawatir. Nanti juga hilang."

"Mau obat pusing, Paman?”

"Tidak usah. Paman berbaring dulu saja, ya? Pusingnya pasti lebih cepat hilang kalau tiduran."

Kim Bum berbaring di sofa sambil memejamkan matanya. Ketika dibukanya kembali matanya, dilihatnya Baek Suzy masih tegak memandanginya.

Kim Bum memberinya seuntai senyum simpatik. Dan seperti baru tersadar dari pesona yang memukau, buru-buru Baek Suzy membalikkan badannya. Menyembunyikan parasnya yang kemerah-merahan. Dan lekas-lekas membawa gelas kosong itu ke belakang.

* * *

"Anak-anakku mungkin sudah tidak menginginkan seorang ayah lagi, Kim Hyun Joong," sahut Kim So Eun terus terang ketika Kim Hyun Joong mengajaknya makan siang. "Bagi mereka, figur ayah hanyalah seorang laki-laki yang tidur bersama ibunya, memberikan seorang adik baru, kemudian pergi tanpa pernah kembali lagi."

"Itu karena mereka belum mengenalku, Kim So Eun. Jangan samakan aku dengan ayah-ayah mereka yang lain. Aku bukan hanya akan memberi mereka seorang adik laki-laki. Aku juga akan memberikan kasih sayang, perlindungan, dan masa depan kepada mereka."

"Kim Hyun Joong," cetus Kim So Eun tiba-tiba, "seandainya aku meninggal lebih dulu darimu, apa yang akan kau perbuat terhadap anak-anakku?"

"Kim So Eun." Kim Hyun Joong menatap Kim So Eun dengan heran. "Kenapa tanya seperti itu?"

"Aku tidak rela anak-anakku dititipkan di panti asuhan. Atau diadopsi oleh orangtua yang berbeda."

"Tentu saja tidak." Kim Hyun Joong tertawa lunak. "Anak-anakmu kan anak-anakku juga? Aku akan merawat mereka seperti anak-anakku sendiri."

"Juga sepeninggal diriku?"

"Kim So Eun! Apakah ini suatu syarat?"

"Jangan salahkan aku. Kaummu yang telah membuatku jadi begini.”

"Sudah kukatakan, jangan samakan aku dengan mereka.'" desis Kim Hyun Joong tersinggung. "Aku bukan Sekadar mesin bibit.'"

"Satu hal lagi,aku tidak mau anak-anakku punya ibu tiri."

"Astaga! Apa-apaan kau ini, Kim So Eun? Siapa yang bilang kau akan mati lebih dulu dariku? Aku kan 3 tahun lebih tua. Dan menurut statistik, laki-laki lebih cepat mati daripada wanita!"

"Aku serius, Kim Hyun Joong. Kalau kau menikahi seorang janda dengan lima orang anak gadis, kau bukan hanya menikahi seorang perempuan saja! Pada hari kau menjadi suaminya, kau langsung menjadi bapak dari anak-anaknya!"

"Kau tahu, sayang? Itu yang kuidam-idamkan selama ini! Jadi Ayah dari selusin anak!"

"Setengah," ralat Kim So Eun. "Jatahmu cuma satu."

"Kalau kali ini bukan anak laki-laki lagi?"

"Bagiku sama saja. Hamilnya tetap sembilan bulan sepuluh hari."

"Kau betul-betul tidak ingin anak laki-laki?"

"Bukan aku yang menentukan. Kromosom yang kau berikanlah yang menentukan anak kita lelaki atau perempuan!"

"Kau tidak ingin punya pelindung untuk kelima anak perempuanmu?"

"Untuk apa? Kan ada ayahnya!"

Kim Hyun Joong tertawa puas mendengar jawaban yang tepat itu.

* * *

Kim So Eun membaca surat itu dengan marah. Surat pengaduan dari kepala sekolah Park Ji Yeon. Sudah sebulan dia tidak masuk sekolah. Sebulan! Padahal setiap hari Park Ji Yeon pergi meninggalkan rumah. Kurang ajar. Dia ditipu mentah-mentah. Oleh anaknya sendiri!

"Kau kan bukan anak kecil lagi, Park Ji Yeon!" geram Kim So Eun ketika Park Ji Yeon pulang sore itu. "Masa harus Ibu awasi terus? Bolos sekolah seperti anak kecil saja!"

"Aku tidak mau sekolah lagi," sahut gadis itu tenang. Sedikit pun dia tidak tampak merasa bersalah. Apalagi takut.

"Lantas kau mau jadi apa?" damprat Kim So Eun kesal. "Anak jalanan? Pemulung? Gelandangan?"

"Aku mau kerja."

"Kerja? Kerja jadi apa anak lulusan SMP sepertimu? Kau baru kelas 2 SMA, Park Ji Yeon!"

Sekarang Park Ji Yeon mengangkat wajahnya Sorot matanya yang begitu meyakinkan membangkitkan perasaan aneh di hati Kim So Eun.

"Aku sudah kerja," katanya bangga. "Di pabrik obat."

Kim So Eun mundur dengan terkejut. Matanya terbelalak menatap Park Ji Yeon. Tetapi ketika dia mengedip lagi, ada air di sudut matanya.

"Kenapa, Park Ji Yeon?" keluhnya antara sedih dan kecewa. "Kenapa melakukan ini pada Ibu? Ibu ingin kau sekolah. Jadi insinyur. Bukan buruh di pabrik obat! Apa pikirmu yang mendorong Ibu bekerja sekeras ini? Ibu berjuang untuk masa depanmu, Park Ji Yeon!"

"Aku ingin membantu Ibu," sahut Park Ji Yeon tegas. "Kalau aku sudah bisa cari uang, Ibu tidak perlu kerja lagi. Ibu bisa tinggal di rumah. Dan kita tidak perlu seorang ayah lagi!"

“Tapi berapa gajimu sebagai buruh di pabrik obat, Park Ji Yeon? Sampai kapan kau baru dapat menghidupi adik-adikmu?"

"Kalau Ibu punya modal, aku bisa dagang."

"Park Ji Yeon, Ibu ingin kau sekolah dulu!"

"Tapi aku tidak ingin punya ayah lagi, Ibu!"

Sekarang Kim So Eun tertegun bingung. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Park Ji Yeon," gumam Kim So Eun setelah mampu membuka mulutnya lagi. "Apa sebenarnya fungsi seorang ayah menurut pendapatmu?"

"Semua ayah yang Ibu berikan padaku cuma bisa memberi adik."

"Paman Kim Hyun Joong lain, Park Ji Yeon. Dia betul-betul ingin menjadi ayahmu."

"Paman Kim Hyun Joong?" Ada sinar kebencian yang menyala di mata Park Ji Yeon. "Ibu akan menikah dengan dia?"

"Tidak tanpa persetujuanmu dan Baek Suzy."

"Tapi dia sudah punya istri, Bu!"

"Mereka akan bercerai."

"Dan Ibu yang membuat mereka bercerai?"

"Paman Kim Hyun Joong ingin mempunyai anak, Park Ji Yeon. Kalianlah anak-anaknya."

"Ibu!" desis Park Ji Yeon marah. "Kenapa kita tidak bisa hidup seperti ini saja, Bu? Kenapa kita tidak bisa hidup tanpa laki-laki?"

"Karena Tuhan menciptakan laki-laki dan wanita, Park Ji Yeon. Dengan kodrat dan fungsi yang berbeda. Kau dan Ibu membutuhkan mereka sama seperti mereka membutuhkan kita."

"Tidak!" sergah Park Ji Yeon kalap. "Aku tidak butuh laki-laki!"

Dengan marah Park Ji Yeon meninggalkan rumah. Sia-sia Kim So Eun mengejar sambil memanggil-manggil namanya. Ketika Kim So Eun memutar tubuhnya dengan lesu, matanya bertemu dengan mata Baek Suzy yang berlinang air mata.

"Ibu sudah janji tidak akan menikah lagi," rajuknya getir. "Aku malu, Bu!"

"Kali ini tidak ada yang perlu malu, Baek Suzy. Paman Kim Hyun Joong akan membawa kita pergi dari sini. Kita akan tinggal di rumahnya seperti satu keluarga."

"Tapi dia sudah punya keluarga, Ibu! Sudah punya istri! Apa Ibu tidak malu jadi istri muda?"

"Mereka akan bercerai, Baek Suzy."

"Dan Ibu yang membuat mereka bercerai? Oh, aku malu punya ibu seperti Ibu!"

Sambil menangis Baek Suzy menghambur ke atas. Lari masuk ke kamarnya.

“Ya Tuhan," keluh Kim So Eun putus asa. "Bagaimana harus kujelaskan pada mereka apa yang kulakukan untuk anak-anakku ini?"

Bersambung…

Chapter 9
Chapter 8
Chapter 7
Chapter 6
Chapter 5
Chapter 4
Chapter 3
Chapter 2
Chapter 1
Prolog
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...