Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Jumat, 18 Februari 2011

Sandiwara Hari Ini (FF)


Title : Sandiwara Hari Ini
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episode : 7 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 17 February 2011, 09.49 AM
Cast :

Se7en Choi

Name: 최동욱 / Choi Dong Wook (Choy Dong Uk)
Nickname: 세븐 / Se7en / Seven Eleven
Profession: Singer, model and actor
Birthdate: 1984-Nov-09
Height: 180cm
Weight: 64kg
Star sign: Scorpio
Blood type: B
Talent agency: YG Entertainment


Park Han Byul

Name
: 박한별 / Park Han Byul (Bak Han Byeol)
Profession: Actress and model
Birthdate: 1984-Nov-17
Birthplace: Seoul, South Korea
Height: 168cm
Weight: 45kg
Star sign: Scorpio
Blood type: O
Talent agency: Barunson Entertainment


Im Jin Ah (After School)

Name
: Nana
Real Name : Im Jinah
Position in Group : Sub Vocalist
Birth Year : Sep 14th 1991
Height : 171cm
Weight : 48 kg
Blood Type : A
School : Jeongju Ochang High School
Misc. Information :
• Participated in the 2009 Asia Pacific Super Model Contest


Trio Detektif (FF)


Title : Trio Detektif
Genre : Fantasy, Mystery, Adventure
Author : Sweety Qliquers
Episode : 16 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 06 Desember 2010, 09.54 AM
Cast & Note :

Eunhyuk (Super Junior)
* Leader Trio Detektif
* Family (Paman Kim Min Joon & Bibi Lee Yo Won)
* Memiliki otak yang logis, hati yang penuh keberanian, dan tekad yang kuat untuk memecahkan teka-teki


Donghae (Super Junior)
* Member Trio Detektif
* Berperawakan kekar dan atletis merupakan sset yang sangat penting bagi Trio Detektif


Yesung (Super Junior)
* Member Trio Detektif
* Mengandalkan catatan dan riset yang teratur rapi. Ia cekatan dalam bertindak dengan fakta


Lee Joon (Mblaq)
Chief Lee Joon (Chief Polisi daerah Namchoseon)


Kim Min Joon
* Suami Lee Yo Won
* Paman Eunhyuk (Leader Trio Detektif)
* Pemilik & Pengurus Gyeongbokgung Workshop - Pangkalan barang bekas


Lee Yo Won
* Istri Kim Min Joon (Pemilik & Pengurus Gyeongbokgung Workshop - Pangkalan barang bekas)
* Bibi Eunhyuk (Leader Trio Detektif)


G.NA Choi
Penjaga perpustakaan Umum Namchoseon


Onew (Shinee)
Ayahnya secara resmi bertempat tinggal di suatu kota bagian lain, dan sangat berkuasa disana


Ha Ji Won
Pemilik Toko Roti (Gyeonggi Bakery)


Key (Shinee)
Pencuri barang seni dari Perancis (Kasusnya pernah ditangani Trio Detektif)


Se7en Choi
Pengusaha terkaya di Seoul (Kasus pencurian permata miliknya pernah ditangani Trio Detektif)


Blackberry
(Burung Beo Milik Eunhyuk, yang diletakkan di markas Trio Detektif)


Trio Detektif

Chapter 1 – Tamu Kejutan
Chapter 2 – Difitnah!!!
Chapter 3 – Pencurian Kedua!!!
Chapter 4 -
Chapter 5 -
Chapter 6 -
Chapter 7 –
Chapter 8 –
Chapter 9 –
Chapter 10 -
Chapter 11 -
Chapter 12 -
Chapter 13 –
Chapter 14 –
Chapter 15 –
Chapter 16 - (Tamat)

Senin, 07 Februari 2011

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (Chapter 5-Tamat)


"Tidak, Kim Hyun Joong! Kalau kau memang benar sudah meninggal, pergilah kau ke alammu. Jangan kau ganggu teman-temanmu."

"Tapi aku butuh teman, Eunhyuk. Aku tidak ingin tinggal sendiri di sini!" suara Kim Hyun Joong semakin nyaring.

"Tidak, Kim Hyun Joong. Tidak! Itu tidak mungkin," tukas Eunhyuk berusaha tenang.

Dengan perlahan wajah Kim Hyun Joong berubah mengerikan! Tubuhnya mendadak saja berlumuran darah! Dan sebagian tubuhnya melepuh terkelupas bagai tersiram air panas.

Beberapa mahasiswa lainnya berhambur ketakutan sambil menjerit histeris. Mereka masuk kembali ke dalam tenda dan mendekam ditenda saling berpelukan.

Tubuh Kim Hyun Joong semakin melepuh.

"Kembalikan jasadku, Eunhyuk," sela Kim Hyun Joong dengan suara berat dan hampir hilang ditelan sayup angin dingin.

Park Shin Hye dan Jung So Min semakin begidik melihat tubuh Kim Hyun Joong yang mengerikan! Perlahan tubuhnya pun sirna dengan jeritan yang sangat memilukan.

"Aaakkkhh...."

Jeritan itu seakan menghantui puncak Gunung Gyeryongsan.

Arwah Kim Hyun Joong dengan perlahan hilang di kegelapan malam. Arwah itu masih penasaran.

Pagi itu mereka segera mengemasi peralatan dan membuka tenda. Mereka segera pergi meninggalkan tempat mengerikan itu. Mereka tidak tahu di mana jasad Kim Hyun Joong berada. Bahkan tim SAR yang berusaha mencari jasad itu tidak menemukan mayat Kim Hyun Joong di seputar lembah Sibayak. Jasad Hans sirna entah kemana. Sebagian binatang buas tengah menyaksikan pesta besar mereka. Jasad Hans tercabik-cabik.
Kini lembah itu menjadi angker. Meski beberapa kali orang sering mendaki puncaknya. Sebagian mereka menikmati keindahan itu, walau selentingan mistis menjadi gunjingannya.

Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (Chapter 4)


"Tidaaakk... aahh!" jerit Jung So Min dengan histeris.

Tak berapa lama beberapa mahasiswa menghampiri tenda putri dimana Jung So Min menjerit.

"Ada apa, Jung So Min?" tanya Eunhyuk keheranan. Jung So Min mendadak saja menangis tersedu dan pilu.

"Kim Hyun Joong,...," ujarnya terbata, menahan ruap tangis.

"Kenapa dengan Kim Hyun Joong?" Seorang mahasiswa menimpali.

"Kim Hyun Joong sudah meninggal, Eunhyuk. Kim Hyun Joong sudah meninggal...," ujarnya lagi, lalu menumpahkan isak yang berusaha ditahannya tadi.

"Apa?" Beberapa rekan mahasiswa terkejut dengan spontan. Mereka saling berpandangan sambil berpegangan satu sama lain.

"Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, Eunhyuk!" seru Jung So Min semakin kalut.

Namun, tiba-tiba saja ada suara berat membuyarkan keheningan mereka.

"Jangan tinggalkan aku, Eunhyuk," ucap Kim Hyun Joong dengan suara nyaring.

Dengan spontan beberapa mahasiswa menjerit dan terkejut ketakutan.

" Kim Hyun Joong...!" pekik Eunhyuk tertahan.

"Jangan tinggalkan aku begitu saja. Aku butuh teman, Eunhyuk."

Eunhyuk terkejut dengan seketika.

Bersambung…

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (Chapter 3)


Malam itu Jung So Min tidak bisa tidur. Ia masih diselubungi rasa penasaran firasat Park Shin Hye sore tadi. Kim Hyun Joong benar benar telah berubah. Wajahnya terlihat beku dan dingin.

Jung So Min mengintai sekilas ke luar tenda. Ia memperhatikan sekeliling hutan-hutan yang kelihatan semakin angker. Mendadak saja bulu kuduknya merinding. Ia melihat sosok Kim Hyun Joong duduk terpaku di bebatuan. Jung So Min terkejut.

" Kim Hyun Joong...?!" pekiknya tertahan.

Jung So Min memberanikan diri memperhatikan gerak-gerik Kim Hyun Joong. Bau wewangian tiba-tiba saja menyengat di hidungnya. Bau kemenyan serasa menyelimuti perkemahan. Bau darah segar yang amis dan memuakkan serasa memecahkan seluruh urat persendiannya.

Kim Hyun Joong beringsut dari duduknya dengan sangat lambat. Kemudian ia menatap ke arah tenda induk dan regu lainnya. Tatapan itu diperhatikan oleh Jung So Min lewat celah daun tenda. Jung So Min terkejut. Kepala Kim Hyun Joong tiba-tiba saja berubah hancur bersimbah darah! Darah itu meleleh terus menerus dari kepalanya hingga membanjiri seluruh tubuhnya. Jung So Min terkesiap dan ingin menjerit. Tapi malam itu ia tidak dapat berteriak sedikitpun. Ia hanya memperhatikan kejadian itu dengan kalut.

Perlahan Kim Hyun Joong beringsut bergerak lambat pergi meninggalkan perkemahan. Dan sosok tubuh Kim Hyun Joong yang sudah hancur itu hilang di tengah hutan-hutan yang sangat menyeramkan!

Jung So Min menangis terisak sambil mengguncang tubuh Park Shin Hye. Ia menceritakan kejadian itu dengan berurai airmata. Jung So Min mengingat perkataan Park Shin Hye sore tadi. Kalau memang ia ingin melihat sosok Kim Hyun Joong yang sesungguhnya, maka lihatlah dengan pandangan terbalik.

Bersambung…

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (Chapter 2)


"Mungkin Kim Hyun Joong kelelahan, Park Shin Hye. Sejak tadi kita tidak melihat dia. Mungkin saja Kim Hyun Joong berkeliling jauh di hutan ini untuk mencari kayu bakar."

"Tapi aku melihat keanehan pada diri Kim Hyun Joong, Jung So Min. Wajahnya pucat, pucat sekali...."

"Sudahlah, jangan berprasangka buruk terus. Hari sudah menjelang malam, lebih baik kita menyiapkan makan malam untuk rekan-rekan."

"Tapi, Jung So Min...."

Jung So Min tidak menggubris perkataan Park Shin Hye. Kemudian ia berlalu menemui Kim Hyun Joong yang tengah duduk terpaku di atas batu.

"Ini kopinya, Kim Hyun Joong. Minumlah, agar tubuhmu menjadi hangat," ucap Jung So Min sambil meletakkan kopi panas di samping Kim Hyun Joong. Dengan perlahan Kim Hyun Joong menoleh ke arah Jung So Min sambil tersenyum kaku. Tidak seperti biasanya. Dulu senyum itu begitu manis dirasakan Jung So Min. Tapi kini....

"Sejak tadi aku tidak melihatmu, Kim Hyun Joong. Kau kemana saja?" tanya Jung So Min di tengah keheningan yang mulai mencekam. Kim Hyun Joong tidak menjawab. Ia hanya diam terpaku dengan tatapan yang tajam.

"Sebaiknya kalian kembali saja ke kota," kata Kim Hyun Joong datar dan parau. Jung So Min mendadak saja keheranan.

"Kenapa harus kembali, Kim Hyun Joong. Bukankah kita baru saja tiba di puncak ini?"

"Sudahlah, hari sudah semakin gelap. Sebaiknya kau segera bergabung dengan rekan yang lain," desak Kim Hyun Joong, aneh dengan perangainya yang seperti penuh dengan teka teki.

Jung So Min menarik nafas sejenak. "Kau tidak bergabung dengan kami, Kim Hyun Joong?" tanyanya kemudian seraya beringsut.

Kim Hyun Joong menggeleng dengan kaku.

"Aku di sini saja. Aku ingin menikmati kesendirianku."

"Baiklah...," angguk Jung So Min sembari berlalu. Beberapa kali ia mengibaskan kotoran yang melekat di celana jeansnya. Jung So Min pun segera bergabung dengan rekan yang lain.

Kim Hyun Joong kembali terpaku dengan tatapan yang penuh dengan misteri. Wajahnya yang kelihatan aneh itu menatap sekilas teman-temannya yang tengah bergembira. Ada rasa sesak dan sedih di hatinya. Walau ia ingin bergabung dengan teman lainnya. Ia takut jika temannya tidak menginginkan kehadirannya.

Bersambung…

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (Chapter 1)


Puncak gunung Gyeryongsan kelihatan berkabut. Pohon-pohon pinus masih basah karena air hujan sore tadi. Hawa dingin kembali menawarkan aroma segar. Burung-burung liar pun berkicau dan bernyanyi bersahutan.

Beberapa mahasiswa pecinta alam tengah sibuk mendirikan tenda induk. Setelah beberapa jam mereka istirahat di lereng gunung. Pendakian kali ini sangat melelahkan mereka. Terlebih tebing dan terjal sudah banyak yang rapuh. Batu-batuan banyak yang runtuh serta semak belukar yang acap kali mengganggu perjalanan mereka..

Kabut tipis perlahan menyelimuti sebagian lereng gunung. Hawa dingin beberapa kali menyusup hingga ke tulang sumsum. Senja menapak dengan sinar matahari yang lembayung. Kabut tipis mendadak saja menebal dan menutupi sebagian perkemahan. Senja itu mendadak saja suasana menjadi mencekam. Tak ada lagi hewan pepagi yang berkicau. Kelelahan yang teramat memakan seluruh tenaga membuat mereka tertidur lebih awal. Dan hanya Jung So Min yang terpaku menatapi bara api yang mulai redup karena tetes air hujan yang perlahan mulai membasahi.

Malam itu suasana menjadi sangat dingin. Jung So Min kelihatan cemas sambil sesekali memperhatikan hutan belantara. Sejak sore tadi ia tidak melihat Kim Hyun Joong.

"Apa kau melihat Kim Hyun Joong, Eunhyuk?" Jung So Min bertanya dengan berat.

Eunhyuk yang ditanyai menggeleng sambil terus memetik senar gitar sambil bersenandung. Sebagian mahasiswa tengah asyik menikmati puncak Gunung Gyeryongsan. Beberapa diantara mereka bekumpul sambil menikmati secangkir kopi panas. Jung So Min segera berlalu dari tempat itu. Hatinya masih merasa cemas dengan tidak diketemukannya sosok Kim Hyun Joong.

"Park Shin Hye, aku khawatir, sejak tadi aku tidak melihat sosok Kim Hyun Joong. Kemanakah dia?" tanya Jung So Min pada Park Shin Hye.

"Aku juga tidak melihat Kim Hyun Joong, Jung So Min. Tapi sore tadi aku melihatnya sedang mencari kayu bakar...."

Jung So Min menarik nafas dengan berat. Tak berapa lama, dari kejauhan Kim Hyun Joong muncul dengan gerak yang sangat lambat. Tatapannya kosong dan tajam. Wajahnya mendadak saja menjadi pucat dan dingin. Kim Hyun Joong memang kelihatan aneh.

"Kau dari mana saja, Kim Hyun Joong?" tanya Jung So Min begitu Kim Hyun Joong menghampiri mereka.

"Aku tidak kemana-mana, Jung So Min. Aku di sini saja," sahut Kim Hyun Joong datar dan kaku. Mendadak saja suaranya berubah berat dan parau. Kelakuan Kim Hyun Joong pun semakin aneh.

"Ya sudah, kalau begitu kau istirahat saja dulu. Aku akan membuatkan kopi panas untukmu," ucap Jung So Min sambil berlalu. Park Shi Hye beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Jung So Min. Kim Hyun Joong diam saja dengan tatapan yang semakin kosong.

"Apa kau melihatnya, Jung So Min. Kim Hyun Joong kelihatan aneh," kata Park Shin Hye di keheningan. Park Shin Hye mendadak saja punya firasat lain tentang Kim Hyun Joong.

Bersambung…

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (Prolog)


Prolog

Hidup ini penuh dengan misteri. Ada dunia lain yang tak tersentuh dengan akal sehat. Ia serupa angin, dapat dirasakan tetapi tak dapat dilihat. Sahabat, namaku Jung So Min. Aku mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang hobi avonturir dan tergabung dalam MAPALA – Mahasiswa Pencinta Alam di kampus. Aku akan menceritakan ihwal lara nan memistis yang pernah hadir dalam hidupku. Ketika seorang sahabatku hilang, dan tewas dalam sebuah petualangan yang masih menjadi misteri bagi kami.

Bersambung…

Selasa, 01 Februari 2011

Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan (FF)


Title : Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan
Author : Sweety Qliquers
Genre : Mystery, Friendship
Episode : Prolog + 5 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : Senin, 31 January 2011 - 11.01 AM
Cast & Note :

Jung So Min
As : Mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang hobi avonturir dan tergabung dalam MAPALA – Mahasiswa Pencinta Alam di kampusnya


Kim Hyun Joong
As : Mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang hobi avonturir dan tergabung dalam MAPALA – Mahasiswa Pencinta Alam di kampusnya


Park Shin Hye
As : Mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang hobi avonturir dan tergabung dalam MAPALA – Mahasiswa Pencinta Alam di kampusnya


Eunhyuk (Super Junior)
As : Mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang hobi avonturir dan tergabung dalam MAPALA – Mahasiswa Pencinta Alam di kampusnya


Misteri Lembah Gunung Gyeryongsan

Prolog
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5 (Tamat)

Keinginan Sederhana (Chapter 8-Tamat)


Dia pergi ke kamar, sedangkan aku tetap duduk di sofa ruang tamunya dengan perasaan tak enak. Jika dalam sepuluh menit dia tidak keluar, aku akan menyusulnya ke kamar dan meminta maaf atas apa yang sudah keluar dari mulutku.

Tapi, ternyata Kim Tae Hee segera keluar lagi dan duduk pelan-pelan di sebelahku. Dia melihat sekeliling kami sebelum membuka mulut.

“Aku rasa kau bukan seorang homophobia, benar, ’kan?” Suaranya rendah, nyaris berbisik.

Tentu saja aku bukan homophobia.

“Kau benar, Yoon Eun Hye.”

Kini giliranku yang terenyak. Bagaimanapun, pengakuan itu mengejutkanku. Karena, ketika bertanya tadi aku hanya siap mendengar bantahannya, bukan sebaliknya.

“Tak perlu terkejut, Yoon Eun Hye, aku kan sudah pernah bilang bahwa orang-orang seperti Jung Jin Ho banyak, bahkan mungkin di lingkunganmu juga. Dan, sekarang kau menemukannya di lingkunganmu.”

Mungkin sebenarnya bukan terkejut, tapi lebih karena aku tak mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Bagaimanapun, aku lebih suka, jika dia membantah dan meyakinkanku bahwa dugaanku salah.

“Ibumu tahu tentang hal ini?”

“Entahlah. Mungkin tidak tahu sama sekali, mungkin juga tahu tapi tidak pernah membuat konfirmasi kepadaku, karena sudah beberapa lama beliau tidak lagi mengusikku mengenai pernikahan dan dengan gampang menyetujui niatku mengadopsi Kim In Hee. Aku pikir ini satu indikasi bahwa beliau mengetahui dan mungkin sedang berusaha memahamiku. Aku berharap demikian. Karena, sebenarnya aku lebih suka beliau tahu, hanya saja aku tidak tahu cara yang tepat untuk memberi tahu tanpa membuatnya menderita.”

“Kenapa tidak mencoba menjelaskannya?” Sedetik kemudian aku merasa bodoh mengeluarkan pertanyaan seperti itu, karena aku tahu persis jawabannya.

Dia menggeleng. “Tidak berani. Semoga diam-diam beliau tahu dan tidak terlalu menderita karenanya. Aku rasa aku tidak akan pernah punya nyali untuk menjelaskannya. Semoga beliau terpuaskan dengan semua yang sudah ada.”

“Terpuaskan? Maksudmu?”

“Yaaa... semua kakak dan adikku kan sudah berkeluarga dan semuanya memberikan penerus keturunan. Jadi, aku harap beliau sudah puas dengan itu semua. Sehingga, jika aku akhirnya tidak dapat menikah pun, tidak akan banyak berpengaruh. Satu lagi, aku harap jika beliau memang tahu keadaanku, aku harap dengan aku tidak bertingkah macam-macam dan tidak menjalani kehidupan liar, bisa membuatnya merasa lebih baik.”

Aku terenyuh mendengar penuturan itu. Terenyuh karena apa yang diinginkannya terdengar begitu sederhana. Tak sengaja tanganku bergerak menggenggam jarinya. Serta-merta dia tersenyum. Aku tahu apa yang ada di benaknya.

“Sudah aku bilang kan bahwa aku bukan homophobia?”

Senyumnya makin lebar. “Kau tahu, Yoon Eun Hye, aku selalu ingin membuat pengakuan kepada siapa pun yang aku kenal dan ingin mereka bersikap sepertimu sekarang. Pasti sangat menyenangkan. Tapi, aku tidak cukup berani melakukannya. Aku hanya pernah dua kali membuat pengakuan seperti ini. Satu padamu dan satu kali lagi sekitar delapan tahun yang lalu pada sahabat baikku. Dia bersikap sama sepertimu sekarang. Dia juga selalu memberiku semangat untuk terus berusaha. Dia membuatku bertekad untuk tidak akan pernah masuk ke dunia yang liar dan menjalani kehidupan yang bersih. Sayang, dia meninggal karena gagal ginjal setahun yang lalu. Dulu dia selalu ada, pada saat aku merasa begitu lelah dengan semuanya. Aku merasa seperti kehilangan separuh jiwaku, ketika dia pergi. Kau tahu, mengadopsi anak juga salah satu idenya.”

Aku langsung teringat Barbie Xu.

“Waktu itu aku bilang, dengan punya anak aku jadi tidak akan terlalu kesepian. Perhatianku juga akan teralihkan pada anak tersebut, sehingga tidak akan ada waktu lagi untuk bertingkah macam-macam. Lagi pula, dengan menjadi ibu, dia bilang aku akan otomatis selalu ingin menjadi contoh yang baik bagi anakku.”

“Dan kau sudah menjadi ibu sekarang.”

“Ya, dan aku rasa dia benar. Hidupku terasa sangat lain ketika Kim In Hee datang. Dan lagi aku sudah lelah menjaga hidupku dengan bermacam asuransi.”

“Asuransi?”

“Ya, aku ikut bermacam asuransi untuk menjaga hidupku. Aku selalu ketakutan akan jadi tua dan sendirian. Ketika kita muda dan sehat semuanya akan terasa lebih mudah. Lain halnya ketika tua, sakit-sakitan, dan sendirian. Menderita sekali. Dengan asuransi, aku harap paling tidak aku masih bisa membiayai hidup ketika renta dan tak cukup berdaya lagi. Tapi, tidak sesederhana itu, ’kan? Aku takut sendirian, Yoon Eun Hye. Kim In Hee adalah jawabannya. Sebagai gantinya, aku berjanji akan jadi ibu yang baik untuknya.”

Air mataku turun perlahan. Mata Kim Tae Hee juga tampak berkaca-kac.

“Hei, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih.” Dia mengu¬sap pipiku dengan jarinya. “Hanya satu pesanku, bersyukurlah karena hidupmu cukup lengkap. Kau punya perkawinan, hal sederhana yang orang lain susah untuk mendapatkannya. Soal anak, mungkin tinggal menunggu waktu. Yang penting, kalian berdua sudah ada bersama, untuk saling menjaga dan menyayangi. Sederhana, ’kan? Hal sederhana yang aku dan Barbie Xu bahkan tidak bisa lakukan.”

Sederhana memang, tapi cukup membuat air mataku turun makin deras. Kim Tae Hee pasti tidak tahu kepada siapa pikiranku tertuju sekarang.

***

Hyun Bin menggosok matanya, ketika aku masuk kamar dengan menyeret koperku. Sebenarnya aku berusaha untuk tidak membuat suara, karena memang biasanya baru setengah jam lagi dia bangun. Dia beranjak duduk. Di sekitarnya bertebaran beberapa lembar kertas dan notebook yang aku yakin belum di-shutdown sejak semalam.

“Yoon Eun Hye? Kau pulang?”

“Ya.”

Hyun Bin menoleh ke arah weker, sebelum kembali memandangku dengan mata melotot. “Ya, ampun, Yoon Eun Hye, jadi kau menyetir sendiri tadi malam? Kenapa tidak menunggu pagi saja?”

Hatiku terasa cair karena kalimat itu. Dia mengkhawatirkanku. Rasanya kemarahanku kepadanya benar-benar telah menguap sekarang.

“Aku hanya ingin segera sampai di rumah.”

“Ya, tapi tidak seperti itu caranya, Yoon Eun Hye. Menyetir sendiri ma¬lam-malam seperti itu berbahaya! Syukur tidak terjadi apa-apa.” Dia bergerak meraih kepalaku, dan mencium lembut rambutku, hal yang biasa dilakukannya jika baru saja mengkhawatirkanku.

Lalu, dia sedikit beringsut dari tempatnya berdiri, sadar bah¬wa masih ada ganjalan yang belum terselesaikan.

“Kau sudah pulang sekarang. Aku harap ini berarti semuanya kembali baik seperti semula. Maaf untuk masalah kemarin, Yoon Eun Hye. Tapi, percayalah, tidak pernah terjadi apa-apa dan tidak separah yang kau pikirkan. Percayalah padaku, Yoon Eun HYe. Aku tidak akan semudah itu bertindak bodoh. Kau dan perkawinan kita besar sekali artinya bagiku. Percayalah, Yoon Eun Hye.”

“Tapi, tolong jangan terulang lagi. Aku tidak akan sanggup jika terjadi lagi....”

Dia merangkulku erat-erat. “Percayalah, kau sangat berarti bagiku.”

Bunyi weker mengagetkan kami.

“Kau sudah harus bangun sekarang.”

“Ya. Aku senang kau benar-benar sudah pulang sekarang.”

“Kubuatkan kau sarapan sekarang.” Aku beranjak ke dapur. Tapi, tangan Hyun Bin menahanku.

“Yoon Eun Hye, tidak ada apa-apa di dapur. Mungkin hanya tinggal satu dua bungkus mi instan saja. Aku tidak berbelanja apa-apa selama kau tidak ada di rumah.” Dia tersenyum menyeringai. “Bagaimana kalau aku membolos saja hari ini dan kita pergi berbelanja bersama? Aku juga bisa membantumu membereskan rumah. Kau lihat, aku telah mengacaukannya. Bagaimana?”

Kulihat matanya begitu berbinar, sungguh berbeda sinarnya dengan ketika berusaha mencegahku pergi tempo hari.

“Pekerjaanmu? Tidak ada meeting hari ini?”

Dia menggeleng sambil memainkan tanganku. “Aku bisa mengirimkannya lewat e-mail.”

Aku segera keluar dari kamar.

“Hei, kau mau ke mana?”

“Mengunci pintu agar kau tidak bisa keluar rumah, jika sampai berubah pikiran nanti.”

“Aku tak akan berubah pikiran, Yoon Eun Hye!”

Tanpa menoleh padanya, aku tahu dia sedang tersenyum sekarang.

TAMAT
Copyright Sweety Qliquers

Keinginan Sederhana (Chapter 7)


“Apa yang kau lakukan jika salah satu anggota keluargamu ternyata homoseksual? Adikmu, misalnya. Apa yang kau lakukan, Yoon Eun Hye?

“Dia tentu saja tetap adikku. Aku rasa tidak akan ada yang berubah. Paling-paling aku akan sibuk membawanya ke dokter, psikiater, psikolog, atau apa pun untuk membantunya. Mungkin juga kubawa dia untuk suntik hormon dan ke paranormal. Selebihnya, dia tetaplah adikku. Wajar, ’kan?

Dia mengangguk-angguk. “Tuntutan untuk sembuh selalu besar, seakan-akan itu adalah penyakit semacam tumor yang walaupun sekarang sedang jinak, tapi lambat-laun akan mematikan juga. Banyak para ilmuwan yang sudah menegaskan bahwa ini bukanlah satu jenis penyakit. Lalu, bagaimana jika bertahun-tahun dia tak kunjung jadi normal? Apakah kau akan rela jika melihatnya berkencan dengan sesama jenisnya?”

Aku tidak siap dengan andai-andai semacam itu. “Entahlah. Rasanya pasti aku akan terusik melihatnya. Kau benar, tuntutan untuk menjadi normal pasti sangat besar.”

”Dan kau bisa bayangkan betapa itu hal yang susah. Aku tidak berani bilang itu tidak mungkin, tapi aku tahu pasti itu susah. Karena itu, yang mereka butuhkan adalah teman yang mengerti.”

“Mengerti berarti memaklumi juga jika dia terjun dalam kehidupan liar?”

“Tentu saja itu tidak termasuk dalam kategori mengerti!”

Park Kae In akhirnya tahu tentang Han Chang Ryul. (Aku membaca bagian ini dengan setengah menahan napas). Gadis itu shock, karena selama ini merasa dia telah memberikan banyak hal pada Jung Jin Ho. Park Kae In merasa kedekatan mereka selama ini penuh arti, walau tak pernah sekali pun Jung Jin Ho mengucapkan kata cinta untuknya. Dia merasa selama ini mereka saling terikat satu sama lain dan berpikir Jung Jin Ho merasa cukup dengan itu, sehingga tidak perlu ada dunia lain.

Tapi, sekarang semuanya terasa terbalik. Jung Jin Ho punya Han Chang Ryul, dan menyembunyikannya di balik punggungnya, membentuk satu lingkar kehidupan yang tidak dia ketahui, karena sama sekali tidak dilibatkan. Padahal, dia tidak pernah membangun kehidupan lain.

Park Kae In merasa dikhianati. Dia sangat kesakitan. Tapi, tak cukup daya untuk menggugat. Karena, memang tak pernah ada kata cinta. Hanya ada kedekatan yang sekarang entah apa artinya untuk Jung Jin Ho. Park Kae In yang kecewa merasa dicampakkan.

Sementara Jung Jin Ho diam-diam dipenuhi rasa bersalah. Dia tak pernah merencanakan ini semua. Hanya, cinta yang datang tiba-tiba dan menyusup diam-diam yang tak kuasa ditolaknya. Cinta terhadap Han Chang Ryul. Dulu, sebelum ada Han Chang Ryul, dia tidak bisa mendefinisikan perasaannya terhadap Park Kae In. Saat itu dia berpikir, ada yang sudah berubah dalam dirinya. Dia bahagia dengan itu, walau sebenarnya tidak lepas dari rasa khawatir.

Datangnya Jung Jin Ho membuktikan bahwa semuanya masih sama seperti dirinya yang dulu. Tidak perlu ada bantahan, karena tidak ada bukti yang lebih kuat dan akurat selain perasaannya yang begitu indah dan tak tertahankan terhadap Han Chang Ryul. Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap Park Kae In. Jung Jin Ho sadar sepenuhnya bahwa Park Kae In bisa memberikan sesuatu yang diinginkannya sejak lama: membentuk satu keluarga, keluarga yang akan membuatnya tidak sendirian seumur hidup. Hal ini sekaligus adalah sesuatu yang tak akan mungkin dilakukannya dengan Han Chang Ryul, tak peduli sebesar apa cinta yang mereka miliki.

Melepaskan Han Chang Ryul tak akan mengobati Park Kae In dan membuat semuanya kembali seperti semula. Terlebih lagi, dia tak sanggup melakukan itu, paling tidak untuk saat ini. Dia hanya bisa diam, menunggu Park Kae In memuntahkan segala amarah kepadanya. Tapi, di luar dugaannya, Park Kae In begitu redam. Redam dalam diam yang sebenarnya membuat Jung Jin Ho berkubang lebih dalam dalam perasaan bersalahnya. Dengan senyap Park Kae In memutuskan untuk meninggalkan kota mereka.

“Kenapa?” Jung Jin Ho tahu bahwa itu pertanyaan yang bodoh.

“Ada tawaran kerja yang terlalu sayang untuk ditolak di sana.”

Jung Jin Ho tak pernah melihat mata gadis itu begitu beku sebelumnya, tidak sekali pun. Sekarang mata itu terlihat seperti batu hitam tanpa perasaan. Di depannya, Jung Jin Ho seakan mengecil.

“Park Kae In, maaf soal....”

Park Kae In mengibaskan tangannya, isyarat bahwa dia tidak mau membicarakannya. Dia hanya mau pergi dan semuanya selesai sudah.

“Kenapa kau membuat ending seperti itu? Kenapa tidak membuat Jung Jin Ho melepaskan Han Chang Ryul dan kembali pada Park Kae In? Mungkin pembacamu lebih menyukai, jika mereka kembali menjadi satu.”

“Karena, pada kenyataannya memang tidak semudah itu mengubah seseorang. Tidak seperti membalikkan telapak tangan.”

“Ah, kau begitu pesimistis atau sekadar tidak mau membuat ending yang disukai para pembaca?”

Kim Tae Hee tertawa. “Menurutmu semudah itu mengubah seseorang?”

Aku tidak tahu. Rasanya memang tidak semudah itu.

“Aku tahu persis tidak semudah itu. Contoh kecil saja, jika kau merokok, maka untuk membuatnya berhenti, tentu kau butuh perjuangan dan waktu. Sedangkan ini jauh lebih berat dari merokok!”

“Tapi, mungkin saja bisa, ’kan?”

“Mungkin, tapi aku tahu pasti tidak semudah itu.”

Kim Tae Hee beranjak ke kamar, meninggalkanku, ketika terdengar suara kecil merengek. Dia datang kembali dengan Kim In Hee di gendongannya, lengkap dengan botol susunya.

“Lihat pipinya, makin chuby, ’kan? Makin hari kulihat dia makin cantik saja.” Kim Tae Hee memperlihatkan wajah bayi yang menyusu itu padaku. “Bukankah hidungnya mirip dengan punyaku?”

Aku tertawa. Pertama, karena bagiku semua bayi mempunyai bentuk hidung yang begitu-begitu saja. Kalaupun mancung, efeknya tidak akan seperti hidung mancung pada wajah orang dewasa. Kalau pesek pun, tidak akan berakibat fatal dan tetap akan terlihat lucu di wajah kecil dengan mata hitam tak berdosa seperti itu. Sahabatku sedang mencari penanda dirinya pada bayi, yang sama sekali tidak mempunyai hubungan darah dengannya.

“Tapi, walaupun kau tidak sependapat, kami sudah telanjur menjadi satu keluarga,” katanya, sambil kemudian mencium ubun-ubun bocah itu dengan penuh perasaan.

Keluarga. Tiba-tiba kata itu mengusikku. Aku teringat sesuatu. Jung Jin Ho. Juga keluarga yang ingin dibentuknya. Di sini, di depanku, pengarangnya bergembira, karena merasa berhasil membuat satu keluarga kecil. Apakah ini dua hal yang kebetulan saja?

“Jika nanti dia terbiasa melihatku menulis, menurutmu apakah dia akan jadi penulis juga, Yoon Eun Hye?”

Aku menggeleng tak tahu. Pikiranku sekarang tengah dipenuhi pertanyaan, apa hubungan Jung Jin Ho dan Kim Tae Hee. Aku yakin penulis fiksi seperti Kim Tae Hee mewarnai tulisannya dengan pengalaman hidupnya, sengaja atau tidak. Jung Jin Ho yang hidup membujang, karena keadaannya bagiku terlihat nyaris sama dengan status Kim Tae Hee yang masih tetap lajang hingga usia tiga puluh empatnya kini. Bukankah alasan Jung Jin Ho dekat dengan Park Kae In bisa disamakan dengan alasan Kim Tae Hee mengadopsi Kim In Hee? Apakah berarti....

“Yoon Eun Hye, kau memikirkan sesuatu?”

Kim Tae Hee berdiri tepat di depanku, asyik mengayun Kim In Hee dalam gendongannya. Untuk pertama kali setelah pertemuan kami, aku benar-benar mengamati tubuhnya. Rasanya tidak ada yang aneh. Dari dulu memang dia sudah berpostur seperti itu, atletis dan sedikit berotot. Dia memang penggemar olahraga apa saja. Pasti bermacam olahraga itu, termasuk karate dan wushu, yang membentuk tubuhnya menjadi tegap dan liat tak berlemak. Itu juga yang membuat gerakannya selalu terasa cepat dan tegas, tidak seperti gadis-gadis manis yang lemah gemulai.

Semasa SMA dulu, ketika kami masih bersama, memang tak pernah kulihat dia berpacaran seperti yang banyak dilakukan gadis-gadis SMA. Tapi, kami berpisah setelah masa SMA itu, sehingga banyak masa yang terlewatkan. Ketika kami bertemu lagi tempo hari, aku tak tahu apa-apa tentangnya, kecuali karier kepenulisan, yang telah membuatnya terkenal, dan rambut pendek yang nyaris terlihat sama.

Aku tak kuasa menahan rasa ingin tahuku.

“Kim Tae Hee, apakah Jung Jin Ho itu kau?”

Dia berhenti mengayun Kim In Hee karena pertanyaanku. Tapi, tak kulihat perubahan pada mimik wajahnya.

“Maksudmu?”

“Aku pikir aku melihat banyak kesamaan antara Jung Jin Hoo dan kau. Aku jadi berpikir....” Aku tidak meneruskan pertanyaanku karena sekarang Kim Tae Hee menatapku tepat di bola mataku. Aku jadi bersiap-siap memikirkan kata yang tepat untuk minta maaf. “Maaf, Kim Tae Hee, aku....”

Dia menggeleng, memutus kalimatku.

“Aku ke kamar taruh Kim In Hee sebentar, ya?”

Bersambung...

Keinginan Sederhana (Chapter 6)


Barbie Xu memeluk Kim Tae Hee dan mencium kedua pipinya, juga kedua pipi Kim In Hee. Dia membisikkan sesuatu di telinga Kim Tae Hee, yang membuat Kim Tae Hee mengangguk sebentar. Lalu, Sopir Taxi membawa Barbie Xu ke terminal bus. Kata Kim Tae Hee, dia naik bus ke Busan, lalu naik pesawat di sana.

Sepeninggal Barbie Xu, Kim Tae Hee mengajakku masuk. Dia meletakkan Kim In Hee yang sudah tertidur di boksnya. Lalu, meregangkan kedua tangannya yang mungkin terasa pegal.

“Kau benar-benar menikmati peran barumu, Kim Tae Hee. Aku salut kau bisa begitu cepat mempelajarinya.”

Dia tertawa. “Semua wanita dilahirkan untuk jadi ibu. Lagi pula, umurku sudah tiga puluh empat. Sudah waktunya, ’kan?”

“Kenapa tak menikah lalu hamil, melahirkan anakmu sendiri?”

“Memang seharusnya begitu, sih, tapi belum ada yang mau denganku. Ada yang mau, tapi tidak tepat.”

“Kenapa tidak tepat?”

“Banyak hal. Pendeknya, semua yang tidak tepat terkumpul menjadi satu. Jadi, lebih baik tidak dan melupakannya saja.”

“Aku jadi penasaran, pria dengan kriteria macam apa yang dicari oleh wanita sukses sepertimu? Kau bergaul dengan banyak orang dan kalangan. Aku yakin, banyak yang seharusnya pantas jadi kandidat.”

“Kau mau bilang aku mematok standar yang terlalu tinggi? Ah... kau tahu Yoon Eun Hye, yang kuinginkan hanya orang yang kucintai dan mencintaiku, sehingga kami bisa mengekspresikan cinta itu. Sederhana, ’kan? Tapi, hal yang sederhana terkadang malah susah diraih. Padahal, itu saja rasanya sudah cukup.” Matanya tampak sungguh-sungguh. “Apa yang lebih kau inginkan daripada adanya seseorang yang menemanimu di akhir hidupmu, saat kau tak cukup berdaya lagi bahkan hanya untuk sekadar berdiri?”

“Hei... kenapa kau jadi melankolis seperti itu?”

Dia tertawa kecil. “Tapi, sepertinya aku sudah menemukan teman untuk hari tuaku nanti.” Dia mengerling pada bayi yang sedang tidur itu. “Memang, satu saat nanti dia akan keluar dari rumahku. Tapi, aku harap dia tidak akan keluar dari hidupku. Kalau aku mencintainya dengan cukup dan memperlakukannya dengan baik, dia tidak akan melupakanku, walau aku hanya ibu angkatnya.”

“Jadi, itu tujuanmu mengadopsinya? Untuk merawatmu kelak, saat kau tua dan sakit-sakitan?”

Kali ini dia tergelak. “Tentu aku tidak sejahat itu, Kim Tae Hee! Hanya saja, aku akan sangat berterima kasih, jika dia mau menemani hidupku dan tetap menjadi anakku, walau akhirnya dia tahu tidak ada setetes pun darahku dalam tubuhnya.”

“Soal teman hidup, sebenarnya kau bisa pecahkan dengan satu cara yang akan memberimu semuanya, tidak hanya anak angkat.”

Kim Tae Hee mengangguk. “Aku tahu, pernikahan kan yang sebenarnya kau maksud? Hanya masalahnya adalah belum ada yang benar-benar tepat.”

“Kau tidak akan menemukan, jika mencari yang benar-benar tepat. Tidak pernah ada yang benar-benar tepat, Kim Tae Hee. Karena memang, manusia tidak pernah ada yang sempurna.”

“Aku tahu. Tapi, masalahnya, apa yang kutemukan sekarang benar-benar tidak tepat. Percayalah, seperti yang kukatakan tadi, semua yang tidak tepat berkumpul menjadi satu. Jadi, tidak adalah pilihan yang paling tepat, walau rasanya tidak enak sama sekali.”

“Benar-benar seburuk itukah?”

Kim Tae Hee mengangguk sambil mengembuskan napasnya. “Sudahlah, I’m OK. Dengannya aku berharap keadaan akan lebih baik lagi. Jadi, sebenarnya bukan hanya dia yang membutuhkan aku. Tapi, aku juga membutuhkannya.” Dia menunjuk si kecil mungil yang tengah nyenyak itu dengan dagunya, lalu menuju ke kamar mandi.

Aku jadi penasaran, apa yang membuat Kim Tae Hee menganggap pria itu tidak tepat sama sekali. Seharusnya jika ada cinta yang mengental, tidak ada cukup banyak hal yang tidak bisa dikompromikan dan diselesaikan. Aku masih ingin bertanya, tapi sepertinya sahabatku itu enggan membicarakan hal itu. Dia langsung masuk kamar mandi, setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya tadi.

“Bagaimana, sudah selesai membaca novelku?” katanya, begitu keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah. Wajahnya masih agak layu, tapi sudah lebih segar daripada tadi.

“Belum. Risetmu hebat sekali.”

“Riset?”

“Tentang kehidupan para homoseksual itu. Kau detail sekali menggambarkan Jung Jin Ho, Han Chang Ryul, dan kehidupan mereka. Detail-detail hubungan seperti itu tak akan kau dapatkan tanpa riset, ’kan? Kau berhasil membuat pembacamu mengerti.”

“Kau sadar, Yoon Eun Hye, mereka sebenarnya ada di mana-mana. Jika kau berpikir mereka tak ada dalam lingkungan hidupmu, kau salah. Hanya saja masalahnya, kau tidak kenal mereka sehingga kau beranggapan mereka ada di luar duniamu. Mungkin, kau hanya bersentuhan dengan para transeksual yang bekerja di salon-salon kecantikan. Selebihnya mungkin gelap.”

“Kau simpati sekali pada mereka, Kim Tae Hee.”

“Bukan simpati sebenarnya. Hanya tahu pasti dan kenal banyak dengan mereka. Seoul tempat berkumpul segala macam manusia, Yoon Eun Hye. Kalau kau tahu banyak tentang mereka, kau akan tahu betapa beruntungnya kau sebagai seorang yang punya pasangan yang kau cintai dan mencintaimu dan kalian sudah punya sebuah perkawinan. Mungkin belum adanya anak jadi masalah, tapi tetap saja kalian sangat beruntung.”

Aku jadi langsung teringat Hyun Bin. Tadi pagi aku masih bersikap kaku kepadanya. Ah, Hyun Bin, aku belum pulih dari marah dan kecewa.

“Di luar sana, orang-orang seperti Jung Jin Ho dan Han Chang Ryul sibuk menutupi identitas diri dan perasaan mereka dengan bermacam cara. Sebab, bagaimanapun, masyarakat kita belum bisa menerima keberadaan mereka. Juga tidak ada agama yang membenarkan. Posisi mereka sulit.”

“Tapi, banyak juga yang menjadi homoseksual, karena kesalah¬annya sendiri. Ada banyak yang awalnya normal-normal saja, lalu berubah jadi homoseksual, karena alasan yang macam-macam. Malah ada yang bilang, itu semacam lifestyle.”

Kim Tae Hee menarik napas dalam.

“Untuk yang itu, aku tidak bisa berkomentar. Aku yakin, suatu saat mereka akan sadar bahwa mereka telah memilih jalan yang sulit, apa pun alasannya dulu. Aku hanya sering kepikiran dengan mereka yang menjadi seperti itu sejak dilahirkan. Mereka yang seolah berada dalam raga yang salah. Seumur hidup harus menerima itu, seumur hidup bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri, yang jawabannya selalu susah ditemukan, sehingga begitu susah untuk sekadar berdamai dengan diri sendiri. Hal yang tidak terjadi pada kalian yang normal-normal saja.”

Kulihat mimik wajahnya serius sekali, walau dia mengucapkan semua itu sambil membereskan pernik-pernik Kim In Hee yang berserak¬an di tempat tidurnya.

“Itu yang kau ingin sampaikan pada pembacamu?”

Dia memonyongkan bibirnya, lalu tersenyum. “Sebenarnya, aku ingin memperlihatkan sebuah realitas di sekitar kita. Realitas yang banyak dianggap sebagai satu dunia tersendiri, yang terpisah dari sebuah kehidupan normal. Memang tidak terlalu salah, jika mereka menganggapnya sebagai satu dunia tersendiri. Karena, komunitas itu adalah komunitas yang cenderung tertutup. Karena, ada identitas-identitas yang dirasa perlu untuk ditutupi. Juga karena adanya penolakan-penolakan. Sebenarnya, aku hanya ingin kita semua mengerti bahwa mereka ada, dan tidak membuat prasangka apa pun.”

“Tapi, Kim Tae Hee, kadangkala dunia mereka gelap dan mereka melakukan hal-hal yang buruk.”

“Ya, memang. Tapi, banyak juga yang benar-benar menjadi orang baik, yang selalu mengajak kepada kebaikan, juga produktif dan profesional dalam pekerjaannya. Banyak sekali kutemukan yang seperti ini, walau banyak juga yang terjebak dalam kehidupan liar, apa pun alasannya. Bukankah mereka yang normal juga ada yang baik dan ada yang tidak?”

“Jadi, kau setuju jika ada pelegalan pernikahan untuk mereka?”

Lagi-lagi dia menarik napas dalam. “Rasanya tidak juga. Sebab dalam semua agama, jelas-jelas itu dilarang. Sebenarnya, maksudku tidak untuk sejauh itu. Aku berpikir, rasanya aneh juga jika satu negara melegalkan sebuah peresmian cinta, sedangkan negara yang lain melarangnya. Padahal, masalahnya hanya satu: cinta. Intinya, aku ingin kalian tahu dan menerima keberadaan mereka. Kau tahu, Yoon Eun Hye, sebenarnya yang mereka butuhkan adalah teman. Teman yang mau mendengarkan kegelisahan, pertanyaan, dan ketakutan mereka. Sebenarnya, justru mereka yang normal yang lebih mampu untuk membantu. Semua orang pasti senang ada seseorang di sampingnya, jika sedang berada dalam sebuah kerumitan, apa pun itu. Iya, ’kan?”
Tentu saja dia benar.

Bersambung...

Keinginan Sederhana (Chapter 5)


Aku meneruskan membaca novel Kim Tae Hee. Jung Jin Ho sedang gelisah dengan masa depannya. Kondisinya sebagai homoseksual membuatnya ketakutan akan terus sendiri sampai tua dan mati. Rasanya, memang sangat menyedihkan, jika tak ada seorang pun di sisi kita, saat tua dan tak berdaya. Hidup yang sungguh sunyi. Dia ingin membuat satu keluarga, kecil saja, yang penting ada cinta yang kuat di dalamnya. Padahal, jangankan untuk membuat keluarga, untuk membuka rahasia hidupnya kepada keluarganya saja, dia tak punya cukup keberanian. Bukan takut akan dicampakkan, tapi lebih karena takut dipandang aneh dan dikasihani seumur hidup, takut membuat orang tuanya menderita sepanjang sisa hidupnya.

Tanpa membuat pengakuan pun, dia merasa sudah menggiring orang tuanya ke pintu neraka kelak. Pengakuan hanya akan menciptakan neraka di dunia bagi mereka, terlebih bagi ibunya, yang selama ini sangat membanggakannya. Hanya ada satu hal yang membuat dia merasa agak beruntung: dia dilahirkan bukan sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Berarti, tanpa dia pun, garis keturunan tidak menjadi garis putus di tengah jalan.

Jung Jin Ho yang merasa merana dan tidak beruntung, membandingkan dirinya dengan makna namanya. Konon katanya, Jung Jin Ho adalah salah satu nama dewa di khayangan. Jung Jin Ho versi asli, adalah dewa sakti yang penuh keistimewaan, anugerah para dewata. Dia adalah dewa yang lengkap, dalam artian dia sakti, berbudi luhur, dan berpenampilan fisik sempurna. Konon, begitu banyak Dewi yang dengan suka hati disuntingnya dan rela pula dimadu.

Jung Jin Ho yang manusia biasa; bukanlah Dewa; merasa semua itu adalah sebuah perbandingan terbalik dengan dirinya. Dia hanya manusia biasa, dengan kemampuan biasa, dan satu lagi, dia tidak tertarik pada wanita. Ironis sekali. Padahal, orang tuanya memberikan nama itu tentu bukannya tanpa maksud. Mungkin, saat itu mereka lupa bahwa dalam pertunjukan Opera, tokoh Jung Jin Ho selalu diperankan oleh wanita. Karena, konon, di balik kesaktiannya, Jung Jin Ho adalah pria yang sangat lembut. Tutur katanya selalu lembut. Wajahnya pun tampan yang cantik, bukanlah tampan yang macho. Mungkin, ini sebenarnya adalah firasat.

Lalu, Jung Jin Ho yang manusia biasa itu bertemu seorang wanita, Park Kae In namanya. Keduanya segera akrab. Ada sesuatu dalam diri wanita itu, yang membuatnya bisa begitu dekat. Mungkin, kesepian yang sama. Mungkin juga perasaan terdiskriminasikan, walaupun alasannya berbeda. Ibu Park Kae In adalah istri muda, yang dinikah siri oleh ayahnya yang seorang tokoh masyarakat. Status ibunya sebagai istri muda, wanita yang datang terlambat, membuat par Kae In tidak pernah mendapatkan pengakuan dari keluarga Ayahnya. Di mata keluarga besar Ayahnya, Park Kae In dan ibunya hanyalah dua tamu yang tidak perlu disambut dengan ramah. Terlebih, sang ayah juga memberlakukan diskriminasi tersebut. Lengkap sudah, Park Kae In tak diharapkan.

Pada Park kae In, Jung Jin Ho pertama kali membuat pengakuan akan dirinya. Sikap simpati dan penerimaan tanpa syarat dari gadis itu, membuatnya merasa ada di rumah yang hangat. Dia betah ada di dalamnya. Dia menjadikan Park Kae In sebagai tempatnya untuk pulang. Rumah tempatnya membuka jati dirinya, seperti membuka seluruh pakaian yang dikenakannya hingga telanjang. Dia merasakan sesuatu yang jauh dari nafsu. Hanya hangat yang menyenangkan, membuat dia betah, dan selalu mencarinya.

Sedangkan Park Kae In merasa berarti, karena ada seseorang yang membutuhkannya. Seseorang yang sedikit banyak bergantung padanya, tanpa melihat siapa dirinya, hanya dia. Fakta bahwa Jung Jin Ho mempercayakan rahasia terbesar dalam hidupnya adalah sesuatu yang sungguh besar artinya bagi Park Kae In. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang menghargainya seperti itu. Hidupnya jadi penuh dengan Jung Jin Ho. Dia mulai membuat rencana besar: menjadikan Jung Jin Ho normal dan membawanya ke dalam kehidupan yang wajar, tanpa perlu mengenakan topeng atau menyembunyikan, karena tidak akan ada lagi yang perlu ditutupi atau disembunyikan. Jung Jin Ho akan menatap dunia, bersamanya.

Lalu, tiba-tiba muncul Han Chang Ryul, mahasiswa yang dikenal sewaktu iseng-iseng chatting di room chat tertentu, yang sudah lama ditinggalkannya sejak ada Park Kae In. Awalnya, Jung Jin Ho menolak permintaan Han Chang Ryul untuk bertemu. Tapi, kemudian dia luluh dan menemui Han Chang Ryul di sebuah resto, dengan janji bahwa ini adalah pertemuan terakhir. Ternyata, dia salah. Dia seperti mengalami cinta pada pandangan pertama terhadap pemuda itu. Celakanya, Han Chang Ryul juga mengalami hal yang sama.

Cinta adalah sesuatu yang menyusup diam-diam, seperti udara bebas masuk ke dalam lubang hidung tanpa kita punya cukup daya untuk menyaringnya. Aku suka pada pemaknaan itu. Jadi, kesimpulannya, keduanya tersusupi cinta. Hanya saja, bedanya, yang satu bebas tanpa rasa bersalah dan menikmatinya sebagai cinta biasa yang indah, lainnya merasa berat karena dibebani rasa bersalah.

Jung Jin Ho merasa telah berbuat salah terhadap Park Kae In. Dia merasa sebagai pembohong dan pengkhianat. Kenyataan bahwa sebenarnya tidak pernah ada kata yang keluar dari mulutnya tentang posisi Park Kae In untuknya, tidak cukup kuat untuk meringankan rasa salah itu. Ironisnya, dia juga tidak punya cukup kemampuan untuk menghindar dari Han Chang Ryul. Han Chang Ryul sungguh indah dan dia terkapar dalam cintanya.

Awalnya, setiap kali berkencan dengan Han Chang Ryul, Jung Jin Ho merasa seperti seorang pria tengah baya yang mengencani daun muda, karena umur mereka berjarak delapan tahun. Juga merasa bersalah. Karena, menurutnya, dengan usia Han Chang Ryul yang semuda itu, seharusnya dia membantunya untuk keluar dari dunia itu, bukan malah mengencaninya. Seharusnya, Han Chang Ryul masih punya kesempatan. Tapi, pemuda itu sama dengan dirinya, yang terbentuk bukan karena lingkungan atau pergaulan yang salah. Mereka sama-sama terlahir seperti itu. Juga sama-sama tak kuasa. Mereka senasib, dan lebih parah lagi, mereka saling jatuh cinta. Dan, Jung Jin Ho mulai pontang-panting untuk menyembunyikan Han Chang Ryul dari Park Kae In.

Membaca kisah Jung Jin Ho dan Han Chang Ryul ini membuatku kagum pada Kim Tae Hee. Dia dapat begitu detail menuliskan bagaimana kedua anak manusia sesama jenis itu menjalin satu hubungan. Kim Tae Hee menggambarkannya dengan gamblang, sehingga pembaca awam sepertiku serasa mendapat pengetahuan baru tentang dunia yang selama ini dianggap gelap. Entah riset panjang macam apa yang dilakukan Kim Tae Hee sebelum menulis.

Kim Tae Hee sedang di teras menggendong bayi itu, ketika aku datang. Si kecil mungil itu menyedot dengan rakus sebotol susu yang disodorkan ibu angkatnya itu. Pipinya tampak ranum.

“Sudah berkenalan? Dia sudah punya nama sekarang.”

“Siapa?”

“Kim In Hee. Nama yang bagus, ’kan?” Senyum Kim Tae Hee lebar sekali.

Nama yang indah.

“Kata Mama arti namanya adalah karunia yang sungguh mulia. Bukankah anak memang benar karunia yang mulia bagi orang tuanya, walau hanya orang tua angkat sepertiku?” Dia mencium ubun-ubun bayi mungil, yang masih saja asyik dengan dot susunya itu. “Kau tahu, aku baru sekarang tahu betul rasanya jadi ibu. Dia membuatku begadang setiap hari. Mengganti popok dan membuat susu ternyata bukan pekerjaan mudah. Terlebih di malam hari. Cukup untuk membuat wajah pucat dan mata cekung. Kau akan merasakannya juga nanti.” Dia menunjuk wajahnya.

Hatiku ngilu, teringat kista yang pernah tumbuh di rahimku.

“Kau beri susu apa?”

Kim Tae Hee menyebut satu jenis susu merek terkenal berkualitas tinggi. Ah... bayi yang beruntung. Ibu angkatnya ini benar-benar mencintainya dengan penuh, sehingga untuk susu pun dia memberikan yang terbaik.

Seorang wanita muda keluar. Wajahnya cantik polos dan kulitnya kuning sekali. Rambutnya lurus dan dikucir tinggi, sehingga tengkuknya pasti akan terlihat jelas andai saja dia berbalik. Dia tersenyum kikuk padaku. Di pundaknya tergantung tas kulit warna merah yang agak besar.

“Kenalkan, ini Barbie Xu. Barbi Xu, ini Yoon Eun Hye, teman SMA-ku dulu.”

Kujabat tangannya. “Dari Seoul? Sedang berlibur?”

Barbie Xu mengangguk. “Ya, aku sudah dua hari menginap di sini dan sekarang mau pulang ke Seoul lagi.”

“Dia fotografer, Yoon Eun Hye, punya studio sendiri.”

Bersambung...

Kamis, 27 Januari 2011

Keinginan Sederhana (FF)


Title : Keinginan Sederhana
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage
Episodes : 8 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 04 November 2010, 02.50 PM
Cast & Note :

Kim Tae Hee

As : Sahabat Yoon Eun Hye di Masa SMA
* Seorang wanita yang memiliki Keinginan Sederhana
Name: 김태희 / Kim Tae Hee (Kim Tae Hui)
Nickname: Angel
Profession: Actress and model
Birthdate: 1980-Mar-29
Birthplace: Ulsan, South Korea
Height: 165cm
Weight: 45kg
Star sign: Aries
Blood type: O
Talent agency: Namoo Actors


Yoon Eun Hye

As : Istri Hyun Bin
* Menganggap Hyun Bin-suaminya berselingkuh, hanya karena Hyun Bin mengagumi rekan kerja wanitanya-Lee Hyori
Name: 윤은혜 / Yoon Eun Hye (Yun Eun Hye)
Nicknames: "JamGgoDae" (Stick) / "Pooh"
Profession: Actress, singer and model
Birthdate: 1984-Oct-03
Birthplace: Seoul, South Korea
Height: 168cm
Weight: 48kg
Star sign: Libra
Blood type: O
Talent agency: Kraze Entertainment


Hyun Bin

As : Suami Yoon Eun Hye
* Merasa bersalah kepada istrinya-Yoon Eun Hye, karena terang-terangan mengakui bahwa dirinya mengagumi sosok Lee Hyori-rekan kerjanya
Name: 현빈 / Hyun Bin (Hyeon Bin)
Real name: 김태평 / Kim Tae Pyung (Gim Tae Pyeong)
Profession: Actor and model
Birthdate: 1982-Sep-25
Birthplace: Seoul, South Korea
Height: 184cm
Weight: 74kg
Star sign: Libra
Blood type: B
Talent agency: Star M Entertainment


Lee Hyori

As : Rekan kerja Hyun Bin di suatu perusahaan asing
Name: 이효리 (李孝利) / Lee Hyo Ri (I Hyo Ri)
Also known as: Hyori Lee / Lee Hyori / Lee Hyo / Cho Ri
Profession: Singer, model, and actress
Birthdate: 1979-May-10
Birthplace: Choong Book, South Korea
Height: 166cm
Weight: 53kg
Star sign: Taurus
Blood type: A
Family: Older brother, older sister


Son Ye Jin

As : Kep.Rmh Tangga Kel.Kim Tae Hee
Name: 손예진 / Son Ye Jin (Son Yeh Jin)
Real name: 손연진 / Son Yeon Jin (Son Yun Jin)
Profession: Actress and model
Birthdate: 1982-Jan-11
Birthplace: Daegu, South Korea
Height: 165cm
Weight: 45kg
Star sign: Capricorn
Blood type: RH+A
Talent agency: Barunson Entertainment


Gook Ji Yun

As : Anak kost di rumah Ibu Yoon Eun Hye
Name: 국지연 / Gook Ji Yun (Kook Ji Yeon)
Profession: Model and actress
Birthdate: 1984-Apr-17
Height: 167cm
Weight: 45kg
Star sign: Aries
Talent agency: Olive9


Yoona (SNSD)

As : Anak kost di rumah Ibu Yoon Eun Hye
* Seorang perawat yang bekerja di rumah sakit swasta.
* Suaminya sedang ke Jepang, katanya menjadi buruh pabrik. Berangkat tiga tahun yang lalu dan baru sekali pulang. Mereka belum sempat mempunyai anak, karena Gong Yoo, suaminya, berangkat ke Jepang hanya dua bulan setelah pernikahan mereka. Mencari uang cepat, itu alasannya.
Real Name : Im Yoon Ah
Stage Name : Yoona
Nickname : Charming Girl, Little Deer, Retarol, Flower Deer, Powerful Yoona, Bravery Yoona, YoonABC
Birthdate : 30 Mei 1990
Blood type : B
Height : 166 cm
Weight : 47 kg
Posisi : Ketua Dancer yang ke-3, membantu vokal
Group : SNSD


Gong Yoo

As : Suami yoona
* Bekerja di Jepang menjadi buruh pabrik. Berangkat tiga tahun yang lalu dan baru sekali pulang
Name: 공유 / Gong Yoo (Kong Yoo)
Real name: 공지철 / Gong Ji Cheol (Kong Ji Chul)
Profession: Actor
Birthdate: 1979-Jul-10
Birthplace: South Korea
Height: 184cm
Weight: 74kg
Star sign: Cancer
Blood type: A
Talent agency: SidusHQ


Jung So Min

As : Gadis hamil di luar nikah yang anaknya di adopsi Kim Tae Hee
Name: 정소민 / Jung So Min
Real name: 김윤지 / Kim Yoon Ji
Profession: Actress and model
Birthdate: 1989-Mar-16
Height: 165cm
Weight: 47kg
Star sign: Pisces
Blood type: A
Talent agency: Bloom Entertainment



Barbie Xu

As : Teman SMA Kim Tae Hee
Name: 徐熙媛 / Xu Xi Yuan
English name: Barbie Hsu / Barbie Xu
Also known as: 姍姍 (San San/Shan Shan), 大S (Big S)
Profession: Actress, host, singer
Birthdate: 1976-Oct-06
Birthplace: Taipei, Taiwan
Star sign: Libra
Height: 163cm
Weight: 44kg
Blood Type: B
Family: Sister Dee Hsu and husband Wang Xiao Fei (汪小菲)


Bibimbap (비빔밥, "nasi campur")
Makanan khas kota Jeonju, yaitu nasi yang dicampur berbagai macam sayuran, daging sapi, telur, dan gochujang.


Gochujang
pasta cabe korea yang terbuat dari beras ketan & bubuk cabe yang difermentasi.


Ramyeon (라면)
mie ramen khas Korea, namun agak berbeda dengan ramen dari Jepang. Ramyeon Korea dapat pula berarti mie instan yang dijual kemasan. Ramyeon dimasak dengan kuah yang sangat pedas dan biasanya ditambah sayuran, daging atau kimchi.


Kimbab (nasi rumput laut, 김밥)
Sangat mudah dibuat. Terbuat dari nasi yang dibalut rumput laut kering (Kim), isinya bervariasi dari sayur-sayuran, telur goreng, ikan, daging, dan sosis.


Keinginan Sederhana

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8 (Tamat)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...