Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 23 Oktober 2010

Lantai 4 (Part 4-Tamat)


Part 4
Akhir Yang Menyedihkan


“Son Dam Bi. Dengarlah. Tidakkah ia katakan padamu: aku meninggal ketika ia remaja? Tidakkah ia katakan Daniel Henney itu penulis skenario? Yang bercakap-cakap sendirian ketika menulis naskah? Yang memukul-mukul tembok dan menyeret kursi? Yang membawa calon pemain drama ke rumahnya? Itukah yang dia katakan padamu?”

Aku mengangguk. Bibirku, terasa kering.

“They are all lies. Tidak satu pun yang benar. Tak ada Kim Bum. Daniel Henney adalah suami Kim So Eun. “

Cukup. Cukup. Biar aku bertemu Kim So Eun dan kutanyakan sendiri.

“Kim So Eun tak perlu berbohong padaku,” kataku mantap. “Anda juga tentu tahu bahwa di lantai empat ada dua unit apartemen. Yang kiri punya Kim So Eun dan Kim Bum. Yang kanan….”

“Pernahkah Anda masuk ke sana, Son Dam Bi Pernahkah?”

Aku terdiam. Aku tidak pernah masuk ke tempat Kim So Eun.

“Jika belum, tanyakanlah pada seluruh penghuni Apartment kita: berapa unit ada di lantai itu. Satu, Son Dam Bi. Satu. Pintunya dua, kiri dan kanan. Tapi yang kanan hanya berfungsi sebagai dekorasi.”

Aku sesak napas. Hanya mataku yang mengerjap-ngerjap.

“Anda tak akan percaya, sampai Anda lihat sendiri semuanya.”

“Maksud Anda, Nyonya?”

Ny.Kim Hee Ae mengusap air matanya.

“Anda akan tahu, Son Dam Bi. Akan tahu. Maaf, saya harus pergi. Tapi, kalau Anda bertemu Kim So Eun,”tangan keriput itu menyentuh bahuku. “katakanlah, ibunya menunggunya.”

Aku menatapnya. Aku teringat, ibuku juga menungguku. Tiba-tiba sekali, Aku merasa, Ny.Kim Hee Ae tak berdusta padaku.

***

Aku dan Kwon Sang Woo makan pizza terlalu banyak malam itu. Kami kekenyangan dan langkah kami sangat lambat dan malas. Langit berbintang terang dan kami berjalan bergandengan. Aku beberapa kali menatap wajah Kwon Sang Woo dalam keremangan. Membayangkan wajah bayi kami yang mungkin saja akan mengambil bagian wajah pria di sebelahku itu.

“Waduh. Ada apa ini,”desis Kwon Sang Woo menghentikan langkah.

Aku mengangkat kepala, terkejut.

Beberapa orang berkumpul di halaman Apartment kami. Beberapa dengan handy talky, seperti penjaga gedung, tampaknya. Aku ketakutan, kucekal lengan Kwon Sang Woo kuat-kuat. Kami sedikit terlambat untuk tidak masuk ke halaman....

Belum habis kecemasanku, Aku lihat sosok itu. Ny.Kim Hee Ae.

“Son Dam Bi?! Son Dam Bi! Oh. Oh,”katanya terengah-engah.

“Ny.Kim Hee Ae,” aku merangkulnya. “Tenanglah. Ada apa?”

“Mengapa mereka lama sekali?”

“Siapa?”

“Saya sudah menelepon 911. Oh. Kim So Eun.Oh,” ia menggeleng berkali-kali.

“Mereka pasti segera kemari,” Kwon Sang Woo tersenyum dan membawa Ny.Kim Hee Ae ke bangku di dekatnya. “Siapa yang sakit, Nyonya? Ada apa?”

Ny.Kim Hee Ae belum membuka mulutnya ketika mobil putih itu datang. Dan orang-orang berlarian keluar. Dan ketenangan sekejap, berganti dengan kepanikan yang lebih hebat.

Kwon Sang Woo mendudukkanku. Lalu Dikecupnya keningku.

“Jangan ke mana-mana. Duduklah di sini.”

Semua berlangsung begitu cepat. Begitu cepat. Orang-orang berlarian. Ny.Kim Hee Ae menangis. Kereta dorong. Lift yang tertutup dan terbuka lagi. Dan...Kim So Eun! Kim So Eun! Tuhan, itu betul-betul Kim So Eun.

Aku menjerit. Di depan mataku, aku lihat wajahnya yang hancur. Lebam. Matanya hitam dan bibirnya penuh luka. Rambutnya basah. Tulang pipinya lebih menonjol lagi dari terakhir kali aku bertemu dengannya.

Dua minggu aku tak melihatnya. Aku tak dengar apa-apa. Dan, oh, dia….

Aku merasa orang hilir-mudik di sekitarku. Petugas paramedis. Polisi. Aku tidak tahu persis. Semua berseragam. Semua bergerak. Dengan hati hancur, Aku sempatkan diri merebut tangan Kim So Eun. Menggenggamnya.

“Kau mengenaliku, Kim So Eun? Kau melihatku?” kataku dengan mata berlinang.

“Son Dam Bi.” Kim So Eum meraih wajahku. “I am sorry,” katanya tersenyum getir. “There is no Kim Bum. Tak ada siapa-siapa. Tidak ada penulis skenario yang hebat itu. Tidak ada. Hanya ada seorang istri yang bodoh dan pria yang egois.” Dia memelukku. “Aku bohong tentang semuanya. Aku tak pernah jadi apa pun. Tidak guru musik. Tidak juru rawat. Aku tidak pernah ke Nepal. Ghana. Montreal. Mana pun. Aku hanya mengikuti dia ke mana dia pergi. Tak berdaya sama sekali. Jiwaku sudah mati... Son Dam Bi. Mati. Mati.”

Aku menangis melihat air matanya jatuh.

“Aku sakit sekali, tapi tak mungkin Aku meninggalkannya....”

“Kim So Eun, pergilah. Kau akan baik-baik saja. Kau akan sembuh. Bercerailah darinya. Tinggalkan dia,”bisikku di telinganya. “Aku masih ingin sarapan denganmu.”

Kami berpelukan. Kurengkuh tulang dan kulit tipis di depanku. Dia betul-betul tak berdaya. Aku belai pipinya yang merah tua. Aku ingat, ia selalu tertawa. Ia sungguh cantik. Ia, juga, sungguh menderita.

“Nanti aku jelaskan semuanya, Son Dam Bi. Kalau sempat. Kau membuatku begitu bahagia, meski sekejap.”

Kuhapus air mataku. Lalu air matanya. Tangan Kwon Sang Woo, kurasakan menarikku.

“Pergilah, Kim So Eun.”

Sesaat, aku lihat Ny.Kim Hee Ae.

“Kembalilah pada ibumu kalau kau sudah sembuh, ya?” bisikku sambil mengusap rambutnya yang basah. “Berjanjilah padaku, Kim So Eun. Berjanjilah kau akan kembali pada ibumu.”

Kim So Eun menatapku tak lepas. Aku lihat ia mengangguk pelan. Kupeluk dia sekali lagi.

Mereka menarik kereta itu dari hadapanku. Memaksaku menjauh dari Kim So Eun. Kwon Sang Woo menarik badanku. Aku tak punya kekuatan apa-apa menahan Kim So Eun, betapapun inginnya aku. Orang-orang berkerumun, menelan Kim So Eun. Aku sempat melihat, mereka memasukkan tubuh kurusnya ke dalam mobil putih. Aku menggenggam erat-erat lengan Kwon Sang Woo.

Ny.Kim Hee Ae membenamkan wajahnya di bahuku.

“Mereka menangkapnya. Mereka menangkapnya. Mereka bawa pergi bajingan itu....”

Bayangan Daniel Henney menari-nari di pelupuk mataku. Bagaimana ketakutannya aku atas tatapannya yang tajam, di tangga waktu itu. Oh. dia yang menyeret temanku. Dan bunyi-bunyi itu? Oh. Itu badan sahabatku yang dia benturkan ke mana-mana. Oh. Dan suara tangisan yang memilukan hati itu? Itu Kim So Eun yang hancur....

Jiwaku terasa hilang separuh.

Pada rangkulan Kwon Sang Woo, aku rebah.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Lantai 4 (Part 3)


Part 3
Tanda-Tanda


Aku tercenung di tempatku berdiri. Seingatku, Kim So Eun bilang ibunya meninggal ketika remaja....

“Ow,” kataku ragu-ragu. “Senang sekali bertemu Anda, Nyonya. Saya Son Dam Bi.”

Kim Hee Ae tersenyum.

“Sampaikan salam saya kepada Kim So Eun, jika Anda sarapan dengannya.”

“Ya. Ya,” jawabku dengan kikuk. Dadaku penuh tanda tanya. Ibu ini mestinya sudah tak ada, tapi ada. Anak dan ibu tinggal satu atap. Dan ibu berkirim salam kepada putrinya sendiri, yang tinggal satu lantai di atasnya. Tuhan. Siapa yang gila di sini?

Aku merasa seperti tikus kecil dalam labirin. Sesak. Bingung. Letih.

Beberapa hari setelah itu, aku tak pernah bertemu Kim So Eun. Aku ceritakan kepada Kwon Sang Woo, tentang segala keanehan yang ada, tapi –aku ingat kata-kata Lee Hyori—pria jarang tertarik pada cerita wanita. Dan itu benar terjadi. Mengangkat kepalanya dari koran pun tidak. Yang aku dengar hanya, “Hmm,” atau “O ya,” beberapa kali. Lalu ketika aku tanya pendapatnya, Kwon Sang Woo menatapku dan bertanya, “Pendapat apa?”

Aku putus asa dan malas melanjutkan percakapan. Sedikit tidak tega juga harus membebani pikiran pria yang kucintai dengan hal-hal yang baginya kurang penting. Tapi, aku benar-benar ingin tahu. Benar-benar ingin tahu.

“Teleponlah dia,” Kwon Sang Woo memegang pipiku. Aku tahu, ia sedikit kurang sabar menghadapi rasa penasaranku. “Sekadar tanya apa kabar tak ada salahnya.”

“Hanya answering machine. Aku tinggalkan pesan, ia tak membalas.”

“Datangi lantainya.”

“Sudah. Sudah. Aku ketuk rumahnya, tapi tak ada yang keluar.”

Lalu aku ingat, ketika aku mengetuk rumah Kim So Eun pagi itu, seorang pria tiba-tiba berdiri di anak tangga terakhir, menatapku.

“Hai,” kataku salah tingkah. “You must be Kim Bum?” tanyaku berusaha akrab.

“Bukan,” jawabnya dingin.

Mampus, desisku dalam hati. Dia pasti Daniel Henney!

“Maaf. Saya pikir Anda Kim Bum....”

“Tidak ada nama Kim Bum di lantai ini.”

Aku ingat, Kim So Eun pernah bilang, sutradara dan penulis skenario itu tak pernah keluar rumahnya. Kalaupun pernah, hanya malam hari, ke studio. Aku hanya membaca namanya entah di surat kabar, kalau pementasan, kata Kim So Eun dulu. Aku pun, kata Kim So Eun lagi, lebih sering melihat dia di majalah, dibanding aslinya.

“Oh. Maaf,”kataku merasa sedikit ketakutan. “Saya pasti salah,” kataku bergegas turun. Aku tahu, ekor matanya mengikutiku ke manapun aku pergi. Cara menatapnya, sungguh-sungguh membuatku menggigil.

“Hm. Nyonya,” panggilnya tiba-tiba.

“Ya?”

“Anda sudah coba ke bawah? Lantai satu sampai tiga?”

Aku kehilangan kata-kata.

“Belum. Terima kasih.”

Sejak kejadian itu, aku punya keengganan untuk naik ke atas mencari Kim So Eun. Biarlah, aku mencarinya lewat telepon saja.

Dan aku tak pernah berhasil.

“Barangkali….”Kwon Sang Woo tersenyum padaku. “Kim So Eun ke luar kota.”

Aku menghela napas. Berusaha percaya pada kata-kata itu, meski rasanya mustahil.

Kim So Eun sungguh-sungguh menghilang dariku. Seingatku, sudah dua minggu. Aku kesepian. Aku rindu pada Kim So Eun. Aku rindu ceritanya yang jenaka dan bola matanya yang menari-nari. Tawanya yang lepas atas segala kisah hidupnya yang begitu berwarna. Makin lama ia bercerita, makin banyak kopi-teh-kue yang kami habiskan, makin keras tawa kami. Ah. Aku ingin sekali bertemu dengannya.

“Son Dam Bi.”

Aku menengok dan tertegun.

“Ny.Kim Hee Ae. Apa kabar,” kataku sambil berjalan menghampirinya.

“Baik.”

Aku mengatur napas baik-baik sebelum aku berani bertanya.

“Lama saya tak bertemu Kim So Eun. Apa kabar dia?” tanyaku.

Kwon Sang Woo dulu menasihatiku untuk tidak bertanya apa-apa pada orang yang aku kurang kenal. Yang lazim bagi kita, belum tentu normal buat mereka. Jangan terlalu gampang bertanya, Son Dam Bi, pesannya.

Ny.Kim Hee Ae tersenyum padaku.

“I really don’t know.”

Kwon Sang Woo benar!

“Ow,” aku berusaha membalas senyumnya. “Baiklah. Sampai ketemu.”

“Saya pikir, Anda tahu,”katanya setelah aku berlalu.

“Hm?” aku menoleh. Bersiap-siap untuk ‘kejutan’ berikutnya.

“Mm. Ini mungkin tak enak didengar, tapi saya dan Kim So Eun memang putus hubungan. Dia yang memutuskan hubungan dengan saya.”

Anak – Ibu putus hubungan? Apa pula itu?

“Sejak….” Mata di depanku berkaca-kaca. “Sejak aku menyuruhnya bercerai dari Daniel....”

“Daniel?”

“Suaminya.”

“Daniel Henney?”

“Ya.”

Aku menelan ludah.

“Ny.Kim Hee Ae,” aku mendekatkan wajahku padanya. Berusaha merekam semua gerak-gerik ‘ibu’ Kim So Eun. “Kim Bum nama suami Kim So Eun. Daniel Henney tetangganya.”

Dan bahu di depanku berguncang. Lama. Ia menangis. Isakannya cukup keras sehingga membuatku bingung sekali. Menyesal aku memulai percakapan tadi. Menyesal. Jika sudah begini, apa yang bisa aku perbuat? Apa?

Bersambung…

Lantai 4 (Part 2)


Part 2
Sesuatu Yang Mencurigakan


“Siapa suruh membual.”

“Aku hanya berusaha memperpanjang kalimat. Tapi, sudahlah. Aku dapat teguran dari bos, dan dipindahkan ke siaran jazz. Sejak itu, aku di surga.”

Aku menelan ludah. Baru kusadari, betapa monotonnya hidupku. Lulus kuliah, bekerja di bank yang sama selama sepuluh tahun, lalu berhenti karena menikah dengan Kwon Sang Woo.

Aku menatap Kim So Eun tak lepas. Ah, seandainya aku dia….

Pagi itu kami sarapan berdua, seperti biasa. Duduk menikmati banana cake. Kim So Eun yang membuatnya, dan harus kukatakan, cake itu sungguh lezat.

“Ini banana cake paling lezat yang pernah aku makan.”

“Ah, ya? Terima kasih. Aku membuatnya kemarin malam. Aku senang membuat kue malam hari, entah kenapa. Mungkin karena bunyi mixer lebih merdu di malam hari...,” katanya tertawa. “Alasan tak masuk akal.… Tapi, entahlah, aku senang membuat kue di malam hari.”

Kata-kata ‘bunyi mixer’ dan ‘malam hari’, membuatku mendadak teringat pada suara-suara yang sering kudengar.

“Kim So Eun, kau di lantai empat, kan?”

“Ya.”

“Pintu kanan atau kiri?”

“Kiri. Ada apa?”

“Aku sering mendengar bunyi-bunyi aneh di malam hari. Kwon Sang Woo menebak, itu dari lantai empat, karena tak begitu jelas terdengar. Kau dengar itu juga?”

“Bunyi?” Ia membelalak. “Aaaaah. Itu.” Ia mengibaskan tangannya. “Kau kenal Daniel Henney? Dia tinggal di sebelah kanan. Ya. Pernah dengar nama itu? Dia seorang penulis skenario yang baik sekali. Karyanya banyak dipentaskan. Orangnya sedikit aneh, sebagaimana layaknya seniman. Kalau dia sedang menulis sesuatu, hmmm, naskah, prosa atau semacam itu, ia sering terlalu menjiwai. Ia bisa menarik-narik kursi, atau menggebrak meja, atau bercakap-cakap sendiri….”

Aku mengangguk-angguk. Lega, karena teka-teki itu sudah terpecahkan. Aku bisa ceritakan pada Kwon Sang Woo, ketika dia pulang.

“Nanti kau akan dengar suara wanita terbahak-bahak. Atau menangis. Atau menjerit. Nah! Itu calon pemain dalam naskah sandiwaranya!”

Aku menghela napas dan tersenyum. Terjawab sudah tanda tanya besar itu.

“Aku tidak pernah bertemu dengannya.”

“Ouw. Come on. Berapa orang di Apartment ini yang pernah kau jumpai, selain aku?” Kim So Eun mengedipkan matanya.

Aku tersipu.

“Tidak ada. Tidak siapa-siapa.”

“Tidak juga suamiku.”

“Ah, ya. Kim Bum.”

“Ck…ck…ck…. Lain kali. Aku janji. Aku akan paksa dia turun dan memperkenalkan diri padamu dan Kwon Sang Woo.”

Aku mengibaskan tangan.

“Soal kecil,” kataku. “Jangan terlalu merepotkan. Hanya kalau Kim Bum tidak sibuk.”

“Hei. Kau harus tambah sedikit mentega pada cake ini, Son Dam Bi. Rasanya akan menjadi luar biasa. Di mana mentega? Ah, itu….” Ia menggapai mentega di sisi kanannya.

Kaus Kim So Eun tersibak, dan aku melihat noda hijau kebiru-biruan di pinggangnya, sebesar separuh telapak tangan. Aku melongo menyaksikan pemandangan itu.

“Ada apa?” tanyanya heran melihat aku tertegun.

“Eh? Ah? Mmm. Tidak. Kemarikan menteganya.”

***

Aku hamil. Kata dokter, kehamilanku usianya enam minggu. Aku memberi kabar kepada para sahabat dekat. Kemarin berita besar ini sudah aku sampaikan kepada Ibu. Hari ini aku hendak memberi tahu Lee Hyori, sahabatku. Aku mengabarkannya lewat e-mail. Sambil mengetik, Kuputar No Other-nya Super Junior di I-Podku. Dan bergoyang-goyang kepalaku dibuatnya.

Tapi, ampun…. Apa itu? Bunyi apa itu? Aaaah. Pasti tetangga lantai empat itu lagi! Daniel Henney Seperti apa sih, hebatnya dia? Dengarlah bunyinya. Sret. Sret. Sret. Dum. Dum. Bam. Bruuuk. Dan percakapannya seorang diri itu. Hmmm. Hmmm. Entah bagaimana rasanya jadi Kim So Eun yang begitu dekat dengan sumber suara.

Super Junior sudah selesai bernyanyi satu lagu, tanpa aku nikmati. Jengkel, Kumatikan I-Podku dan berusaha membaca. Aduh. Aku merinding. Aku seperti mendengar wanita menangis. Aduh.

Lekas-lekas aku ambil handphone.

“Kwon Sang Woo…,” kataku gugup setelah mendengar kata ‘halo’ di seberang.

“Son Dam Bi? Ada apa?”

“Ssst. Lantai empat itu, Kwon Sang Woo. Kali ini terdengar suara tangisan, Kwon Sang Woo.… Aku takut?”

“Alaaa. Kim So Eun kan sudah mengatakannya padamu, dia penulis skenario. Mungkin sekarang yang menangis itu calon pemeran wanitanya! Jangan paranoid begitu, sayang. Sekarang sedang apa kau?”

Aku menghela napas. Aku mendengar tangisan itu. Aku merasa, itu bukan sebuah latihan sandiwara.

“Hmmm. Ya, sudahlah.”

Kuletakkan handphone. Lebih baik memasang DVD player dengan lebih keras. Berharap tetangga sebelah agak sedikit tuli dan tidak terganggu. Daripada mendengar tangisan yang menusuk sumsum.

Belum lima menit, terdengar ketukan di pintuku.

Mampus. Aku mengganggu orang, pasti.… Aku matikan DVDku.

“Ny.Son Dam Bi?” suara dari luar.

“Ya?” kataku dari dalam sambil sibuk mendapatkan gambaran keseluruhan lewat lubang di pintu.

“Saya Kim Hee Ae. Maaf mengganggu. Tapi, tagihan air Anda masuk ke kamar saya.”

“Oh,” Aku menarik napas lega. Merasa luput dari ‘teguran’ maut. Lekas-lekas, aku bukakan pintu. Kenalan baru, pikirku. “Terima kasih.”

“Mereka salah menulis lantainya. Ditulisnya lantai tiga, jadi sampai pada saya.”

“Oh, Anda di lantai tiga,” kataku. “Senang bisa bertemu Anda.”

“Saya juga. Anda sudah lama di sini?”

“Well, not really. Tapi, setidaknya saya sudah mengenal tetangga saya: Anda dan Kim So Eun.

“Kim So Eun?” wanita itu mengernyitkan alisnya. Seperti melihat hantu.

“Dia teman saya sarapan.”

“Teman sarapan?”

Aku mulai terganggu dengan reaksinya yang berlebihan. Aku, toh, tidak sarapan dengan hantu, pikirku.

“Anda kenal dengan Kim So Eun, Ny.Kim Hee Ae?” tanyaku sedikit jengkel.

Ny.Kim Hee Ae menatapku lurus.

“Dia putri saya.”

Bersambung…

Lantai 4 (Part 1)


Part 1
Teman Berbagi Cerita

Kami bertemu secara kebetulan pagi itu: Aku dan Kim So Eun. Di pintu Mini Apartment kami yang sempit. Hujan turun rintik-rintik.

“Ow. Shit,” katanya menghela napas.

Aku tertawa dalam hati. Di negeri ini, hujan bisa turun kapan saja, sesuka hati. Bahkan, semenit setelah matahari bersinar terang benderang, ia bisa turun dengan lebatnya. Tanpa tanda-tanda. Aku mulai terbiasa dengan hal itu dan siap menenteng payung yang besar dan bergagang kokoh ke mana pun aku pergi.

“Aku harus lari lagi ke lantai empat!” keluhnya.

“Kau mau ke mana?”

“Bougenville.”

“Hei. Ayolah. Kita bisa pakai payung ini berdua.”

Ia melongo dan tertawa.

“Kita?”

Tawaran berbagi payung dari orang yang baru Kau kenal, memang jarang terjadi. Aku pun tidak biasa melakukan hal itu. Tapi, berhubung jarak Mini Apartment kami dan Bougenville hanya lima menit berjalan kaki, dan aku pun sedang menuju ke supermarket itu, apa salahnya?

“Ya. Kenapa tidak.”

“Aha. Terima kasih. Terima kasih.”

Dan kami berjalan bersisian.

“Kita baru kali ini berjumpa, bukan? Kau penghuni baru di Mini Apartment ini?”

“Ya. Ya. Kami baru tinggal di sini lima bulan….”

“Oh, sudah lama juga. Di lantai berapa?”

“Dua.”

“By the way, Aku Kim So Eun.”

“Aku Son Dam Bi.”

Mini Apartment kami berlantai empat. Letaknya di timur kota Seoul. Suamiku, Kwon Sang Woo, sedang ditempatkan di kota ini untuk jangka waktu dua tahun. Kwon Sang Woo seorang arsitek dan sebuah proyek mengundangnya ke sini.

***

Malam itu aku sedang merebus spaghetti. Dalam kesendirian, lamat-lamat aku dengar lagi bunyi-bunyi itu. Aku sudah mendengarnya beberapa kali. Bunyi yang sama: agak jauh rasanya, tapi cukup jelas gemanya. Sesuatu seperti… hmmm... kursi berderit-derit. Lalu tembok yang ditinju. Lalu orang bercakap-cakap dengan suara keras, cukup jelas iramanya, tapi sulit aku cerna kata-katanya. Aku dan Kwon Sang Woo pernah mendiskusikan hal ini. Kwon Sang Woo menebak, suara itu di lantai empat.

Hmmm. Lantai Kim So Eun. Ada dua pintu seingatku di sana. Berarti ada dua unit. Kalau nanti aku bertemu Kim So Eun lagi, akan kutanyakan padanya.

Aku bertemu lagi dengan Kim So Eun di pagi hari. Waktu itu aku sedang jogging dan ia berjalan dari arah berlawanan.

“Kim So Eun,” sapaku dari jarak tiga puluh senti darinya.

“Oh. Eh. Pagi, Son Dam Bi,” katanya seperti tersadar dari lamunan panjang.

“Hai,” aku tersenyum. “Belanja apa?”"

“Oh…,” dipandangnya plastik yang ia bawa. “Susu. Untuk kopi. Aku selalu minum kopi di pagi hari. Kau?”

“Aku lebih suka teh daripada kopi. Kapan-kapan kita bisa minum teh sama-sama kalau kau tidak sibuk.”

Kim So Eun menatapku. Aku bisa membaca keragu-raguannya. Lalu….

“Aku tidak pernah sibuk.”

“Ayolah, mampir,” kataku ketika kami tiba di pintu Mini Apartment. “Temani aku sarapan.”

“Mmm,” ia tersenyum sedikit.

“Ayolah. Aku punya Kopi susu hangat. Punya Blackforest. Aku bisa buatkan kau telur dadar, kalau mau.…”

“Are you sure?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Aku ambil cookies dan akan segera ke tempatmu. Lantai dua, ya.”

“Ya. Sebelah kanan lift.”

Sejak pagi itu, Kim So Eun sering mampir berkunjung ke tempatku. Aku sungguh gembira mendapatkan teman baru. Terlebih lagi, kami mempunyai beberapa kegemaran yang serupa. Sama-sama suka memotret. Sama-sama senang masak. Sama-sama membaca cerita detektif.

Hal lain yang membuatku gembira adalah Kim So Eun punya banyak cerita. Ia sudah berkelana ke mana-mana: India, Nepal, Brazil, Ghana, China, Montreal. Seluruh belahan bumi. Aku selalu terkesima mendengar pengalamannya di masing-masing negara. Yang paling menakjubkan adalah bagaimana ia memaparkan apa yang ia makan di tiap sisi dunia.

“India. Nomor satu India, Son Dam Bi. Itu favoritku.”

“Mereka makan kari, bukan? Dengan santan dan cabai pedas?”

“Hmmm. Itu hanya satu pilihan. Tapi, coba kau bayangkan nikmatnya memakan roti nan sambil mencelupkannya beberapa kali pada bumbu kari? Dan sedikit daging? Hmmm….” Ia memejamkan mata.

Aku menatapnya tak berkedip. Enak sekali roti dan kari itu. Enak sekali jadi Kim So Eun.

“Kau sudah pernah ke mana di dunia ini?” tanyanya.

Rasanya wajahku merah seketika. Seoul adalah kota pertama yang pernah aku injak, di luar tanah air.

“Aku baru kali ini meninggalkan negaraku.”

“Ah, ah,” ia tersenyum menggoda. “Bagaimana mungkin?”

“Begitulah. Aku anak sulung. Ayahku meninggal ketika usiaku tiga tahun. Selebihnya, aku hidup dengan ibu dan adikku. Aku tak pernah meninggalkan mereka, jika tidak penting sekali. Baru setelah aku menikah dengan Kwon Sang Woo.”

“Oh…,” katanya.

Barangkali sulit ia pahami, hubungan antara ‘statusku sebagai anak sulung’ dengan ‘tidak ke luar negeri’. Aku pun bingung menjelaskannya. Tapi, itu sungguh terjadi: keterikatanku yang teramat besar dengan ibu dan adik-adikku, membuatku gelisah jika mereka tak ada.

“Kau selalu pergi sendirian, Kim So Eun? Dengan teman? Atau dengan ibu?”

“Dengan teman. Ibuku meninggal ketika aku remaja. Lima belas-enam belas... sekitar usia itu.

Kim So Eun pun pernah bercerita bahwa ia sudah menjalani berbagai profesi. Guru musik. Juru rawat. Dan terakhir, sebagai penyiar radio. Ia bisa bernyanyi dan bermain piano. Asal tahu saja, itu cita-citaku sejak taman kanak-kanak. Bernyanyi sambil memainkan piano. Tapi, bakat musik tak ada dalam darahku. Main piano aku tak sabar. Menyanyi? Mmm, tidak. Suaraku tak lebih merdu dari derit pintu.

“Waktu Aku jadi penyiar radio, aku sempat memegang dua jenis musik. Klasik dan jazz. Asal kau tahu, aku buta musik klasik. Tak bisa membedakan mana Mozart mana Beethoven. Ketika satu lagu selesai terputar, aku bacakan semua komentar tentang Mozart dari artikel di majalah. Lengkap dengan bumbu-bumbu sekadarnya. Lima menit kemudian, ada telepon ke studio, memberi tahu: komposisi tadi karya Beethoven. Malunya!”

Aku tergelak-gelak.

Bersambung…

Kamis, 21 Oktober 2010

Harapan Yang Pupus (FF)


Title : Harapan Yang Pupus
Author : Sweety Qliquers
Genre : Friendship, Romance
Episode : 4 Part
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 19 Mei 2010 – 10.52 AM
Review :

Jantungku berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Darahku seolah-olah membeku dan sesuatu yang pedih menikam dada. Benarkah dua insan yang duduk berdampingan di perpustakaan itu Hyun Bin dan Son Dam Bi? Akh, benar. Aku tidak salah lihat. Mereka memang Hyun Bin dan SonDam Bi. Oh, oh….mesranya satu bangku berdua seperti tidak ada bangku lain. Tanpa sadar, aku duduk di bangku lain yang letaknya tidak jauh dari mereka. Dan, rupanya mereka tidak menyadari kehadiranku karena terhalang oleh sebuah sekat.

Cast :
Yoon Eun Hye
Hyun Bin
Yoona`SNSD
Onew`Shinee
Son Dam Bi
Ahn Jae Wook

Yoon Eun Hye
* Sangat menyukai senyum Hyun Bin
* Sempat menaruh hati pada Hyun Bin


Hyun Bin
* Pura-pura merasa tertarik pada Yoon Eun Hye
* Mendekati Yoon Eun Hye hanya untuk menyontek tugas dan ujian


Yoona`SNSD
* Sahabat Yoon Eun Hye
* Yoona & Onew dikenal sebagai sepasang merpati yang dijodohkan secara paksa


Onew`Shinee
* Pemuda konyol yang senang sekali memanggil Yoona dengan gaya sok mesra
* Yoona & Onew dikenal sebagai sepasang merpati yang dijodohkan secara paksa


Son Dam Bi
* Kekasih Hyun Bin
* Mencurigai Hyun Bin tertarik pada Yoon Eun Hye

Harapan Yang Pupus (Part 4-Tamat)


Part 4
“Bertepuk Sebelah Tangan”


Jantungku berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Darahku seolah-olah membeku dan sesuatu yang pedih menikam dada. Benarkah dua insan yang duduk berdampingan di perpustakaan itu Hyun Bin dan Son Dam Bi? Akh, benar. Aku tidak salah lihat. Mereka memang Hyun Bin dan SonDam Bi. Oh, oh….mesranya satu bangku berdua seperti tidak ada bangku lain. Tanpa sadar, aku duduk di bangku lain yang letaknya tidak jauh dari mereka. Dan, rupanya mereka tidak menyadari kehadiranku karena terhalang oleh sebuah sekat.

“Aku tidak percaya. Kau pasti menaruh hati pada Yoon Eun Hye. Kalau tidak, mana mungkin kau akrab sekali dengannya. Atau, barangkali …kau mengincar Yoona? Kau juga akrab dengannya kan?” Telingaku langsung tegak mendengar kalimat itu. Ah, mereka sedang membicarakan aku.

“Tidak, Son Dam Bi. Aku hanya berteman biasa karena Yoon Eun Hye dan Yoona itu anak pintar. Kalau tidak percaya, lihat saja buktinya. Akhir-akhir ini aku jarang bergaul dengan mereka. Tapi menjelang ujian akhir nanti, aku pasti mendekati mereka lagi, terutama Yoon Eun Hye. Dia yang paling pintar kan?”

Kurang ajar! Geramku dalam hati setelah mendengar jawaban Hyun Bin. Jadi, dia tak sungguh-sungguh tulus berteman denganku. Dia hanya….hei ..hei….mengapa harus marah? Wajar toh kalau di jaman modern ini orang hanya mau berteman bila ada maunya, bila ada keuntungan yang bisa diperolehnya.

“Ok, sekarang aku percaya.” Lanjut Son Dam Bi manja

Uh, manja sekali suara Son Dam Bi. Aku buru-buru bangkit dengan hati terluka. Pantas, akhir-akhir ini Hyun Bin bersikap dingin terhadapku. Ternyata….akh, sudahlah….Aku mengedikkan kepala, mencoba untuk tetap tegar. Toh, dunia tidak selebar daun kangkung (bosan, daun kelor melulu.)


TAMAT

Harapan Yang Pupus (Part 3)


Part 3
“Cintakah Ini???”

Hari-hari selanjutnya, Hyun Bin semakin sering meminjam buku-bukuku, entah itu berupa buku tugas ataupun buku catatan. Apalagi menjelang mid test, dia seringkali menghampiriku yang sedang asyik membaca buku-buku wajib. Dan, tanpa kusadari hubungan kami makin akrab. Bahkan, Yoona pun ikut berteman karib dengan Hyun Bin. Bertiga, kami saling membahas pelajaran-pelajaran yang sulit. Tidak jarang pula, kami hanya berbincang-bincang saat jam istirahat tiba.

Semuanya itu kuanggap wajar tanpa dibaluri perasaan apapun terhadap Hyun Bin. Hingga mid test berakhir, mulailah timbul suatu perasaan aneh di hatiku. Entah mengapa, aku sering merasa sunyi bila Hyun Bin tidak menghampiri tempat dudukku untuk bertanya ini itu atau sekadar mengobrol sambil bergosip sedikit.

Di malam-malam sepi, aku kerap kali teringat pada Hyun Bin. Pada semua yang dimilikinya.

Sungguh, aku merasa tidak tentram dengan perasaan yang muncul tanpa diundang itu. Dalam setiap mata kuliah yang kuikuti, aku selalu merasa resah. Dudukku tak lagi tenang. Inginnya menoleh ke belakang melihat Hyun Bin dengan senyumnya yang biasa saja. Ah, inikah yang namanya cinta? Pertanyaan itu selalu muncul di benakku setiap kali aku merindukan Hyun Bin. Kalau benar itu yang disebut cinta, mungkinkah Hyun Bin memiliki perasaan yang sama?

Bersambung…

Harapan Yang Pupus (Part 2)


Part 2
Keakraban Yoon Eun Hye & Hyun Bin


“Yoon Eun Hye, boleh aku pinjam buku tugasmu?” Hyun Bin menghampiriku ketika aku baru saja datang pagi itu.

“Aku belum mengerjakan tugas yang diberikan pak Ahn Jae Wook. Kau sudah mengerjakannya, Hyun Bin?” Tanyaku sembari memberikan buku tugasku kepada Hyun Bin. Hyun Bin menggeleng.

“Belum semuanya,“ jawabnya. “Jawaban soal nomor terakhir belum aku temukan. Aku cari-cari di buku, tidak ada.”

“Siapa bilang tidak ada? Aku sudah menemukan jawabannya. Hanya belum aku tulis saja. “

“Di mana? Ketemu di buku karangan yang diberika Pak Ahn Jae Wook?” Hyun Bin bertanya seraya membolak balik buku tugasku. Aku mengangguk.

“Kalau begitu aku tidak jadi pinjam bukumu. Kau saja belum menulis jawabanmu.” Hyun Bin mengembalikan buku tugasku.

Esoknya, Hyun Bin kembali meminjam buku tugasku. Dan karena aku sudah menjawab soal-soal yang diberikan oleh pak Ahn Jae Wook, maka Hyun Bin memutuskan untuk membawa pulang bukuku.

Bersambung…

Harapan Yang Pupus (Part 1)


Part 1
“Senyuman Hyun Bin”


Baru saja kakiku menginjak ruang 303, Hyun Bin sudah melambaikan tangan sambil tersenyum ramah. Aku balas tersenyum dan melangkah santai ke deretan bangku nomor dua. Yoona, sahabatku sudah menyiapkan sebuah bangku untukku tepat di sampingnya. Dia menoleh ke belakang melihat Hyun Bin yang masih mengulas senyum padaku, lalu memutar kepalanya menatapku sambil tertawa geli.

“Aduh, Kalau seperti ini aku bisa cemburu.” Katanya, “Kenapa hanya Yoon Eun Hye yang diberi senyum tapi aku tidak.”

Hyun Bin yang mendengar ucapannya senyum-senyum saja, sedangkan aku sibuk mencari kata-kata untuk membalas ledekannya.

“Jangan begitu, Yoona!” Ujarku setelah menemukan kalimat yang pas. “Kau kan sudah punya Onew. Kalau Onew cemburu bagaimana? Iya kan, Hyun Seo?” Aku menoleh ke arah Hyun Bin. Hyun Bin - seperti biasa - hanya tersenyum. Umm, aku suka pada senyumnya. Senyum yang biasa saja seperti juga wajah Hyun Bin yang biasa-biasa saja. Tidak jelek, juga tidak tampan.

“Kenapa kau diam saja, Yoona?”

Benar kan? Mendengar nama Onew disebut-sebut, Yoona langsung diam. Dia memang paling kesal dengan Onew, si kocak yang hobi menganggu gadis-gadis cantik. Bukan berita baru lagi kalau Onew dan Yoona dijodohkan oleh anak-anak. Onew yang konyol paling semangat memanggil-manggil Yoona dengan gaya sok mesra. Sementara Yoona sendiri tidak suka diperlakukan begitu. Tapi dasar Onew! Makin dicuekin makin gatal mulutnya memanggil Yoona. So, tidak heran kalau mereka dikenal sebagai ‘sepasang merpati yang dijodohkan secara paksa’.

“Wah..wah..kau benar-benar ingat Onew, ya?” Godaku lagi ketika melihat Yoona masih juga diam. Malah kini dia asyik menekuni catatannya. “Sabar ya. Onew kan selalu datang tepat pukul 7.30. Mana mau dia datang sepagi ini kecuali kau yang suruh.”

“Yoon Eun Hye! Cukup, jangan bicarakan Onew lagi! Aku kesal sekali mendengar namanya!!.” Akhirnya Yoona mau juga ngomong meski suranya hampir membuatku tuli.

“Bukannya kau yang memulainya,” Aku pura-pura cemberut.

“Ssst, jangan ribut! Dosen sudah datang.” Yoona menepuk lenganku pelan. Aku mengarahkan pandang ke depan. Pak Ahn Jae Wook, dosen Sosiologi melangkah gagah memasuki ruangan.

“Tidak seperti biasanya, baru jam tujuh lewat lima pak Ahn Jae Wook sudah datang.” Aku bergumam. “Kalau seperti ini Onew bisa ketinggalan pelajaran. Dia kan suka telat. “

“Kau menyebalkan sekali, Yoon Eun Hye. Sekali lagi kau menyebut nama Onew, aku akan memusuhinmu seumur hidup,” Yoona menyikut lenganku. Aku tertawa. Puas rasanya melihat Yoona kesal.

Bersambung…

Antara Chuncheon-Gwangju (FF)


Title : Antara Chuncheon-Gwangju
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episode : 6 Part
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 Mei 2010 – 04.39 PM
Cast :
Yoon Eun Hye
Kim Hyun Joong
Song Hye Gyo

Yoon Eun Hye
* Mahasiswi Universitas Shinhwa-Fakultas Hukum
* Menuduh Kim Hyun Joong-teman seperjalanannya di bus, telah mencuri dompetnya
* Memberi nilai 7 untuk senyum manis Kim Hyun Joong


Kim Hyun Joong
* Mahasiswa tingkat akhir Universitas Shinhwa-Fakultas Teknik Sipil
* Jatuh hati pada pandangan pertama dengan Yoon Eun Hye di Bus jurusan Chuncheon-Gwangju


Song Hye Gyo
* Kakak Yoon Eun Hye
* Merasa yakin bahwa Kim Hyun Joong adalah orang yang mencopet dompet Yoon Eun Hye-adiknya setelah membaca surat redaksi sebuah Koran ibu kota .


Antara Chuncheon-Gwangju
Created By Sweety Qliquers

Antara Chuncheon-Gwangju (Part 6-Tamat)


Part 6
Aku Jatuh Cinta


Hari masih pagi. Jam baru menunjukkan angka enam lewat sepuluh menit. Tapi aku sudah duduk manis di dalam bus langgananku dengan sebuah diktat di tangan. Hari ini ada final test, jadi harus datang lebih awal.

"Belajar apa, non?" Seseorang menyapaku. Aku mengangkat kepala. Kim Hyun Joong. Dia tersenyum padaku. Senyum yang.... hmm, kali ini hatiku tergetar dalam pesona senyumannya. “Akhirnya kita bertemu lagi. Bagaimana? Sudah baca suratku di koran?” tanyanya sambil duduk di sampingku.

"Sudah. Bahkan, aku sudah melihat kehebatanmu menaklukkan pencopet yang katanya hobi beraksi di bus ini.” Aku balas tersenyum.

“Tapi aku tidak tahu apakah pencopet itu yang sudah mencopet dompetmu. Terlalu banyak tukang copet yang berkeliaran di bus ini!" Keluhnya.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi.” Aku mengibaskan tangan. “Yang penting, aku sudah tahu kalau kau bukan Pencopetnya. Aku minta maaf ‘karena sudah menuduhmu….”

“Sure!” Dia menukas. “Berarti kita sekarang berteman?”

Aku mengangguk.

“Kalau teman, boleh tahu alamatmu?” Matanya mengedip jenaka.

“Tentu, tapi kau harus jawab pertanyaanku dulu. Kau itu masih kuliah atau sudah …,”

“Tinggal skripsi. Di Fakultas Teknik Sipil Universitas Shinhwa,” sahutnya lalu menadahkan tangannya. “Adressmu? Malam Minggu besok aku mau ke rumahmu.”

Malam minggu? Aku terlongo. Secepat itu? Oh, papi… hatiku pun bernyanyi (dengan irama lagu ‘Antara Anyer dan Jakarta’ nya Sheila Majid) : Antara Chuncheon aku jatuh cinta…..Antara Chun……cheon Gwangju….,


TAMAT

Antara Chuncheon-Gwangju (Part 5)


Part 5
“Opss… Salah Orang”

Mendung menggantung di bibir awan. Langit tampak gelap meskipun baru pukul 6 sore. Aku memandang punggung supir bus dengan kesal. Cepat jalan! Sudah mau hujan! Gumam hatiku. Kualihkan pandangan keluar jendela. Tuh ‘kan, gerimis mulai turun. Makin lama makin deras. Waduh, alamat kehujanan sampai di kampus.

“Gwangju! Gwangju!” Seiring teriakan pak Kondektur, bus bergerak menerobos curah hujan. Beberapa penumpang terpaksa berdiri menghindari tetesan air dari atap bus yang bocor.

Bus sudah miring ke kiri dijejali penumpang. Aku menahan nafas ketika aroma tak sedap dari seorang bapak yang tangannya terangkat memegang bulatan besi pada atap bus, hinggap pada hidungku. Moga-moga bapak ini lekas turun, doaku dalam hati.

"Copet! Copet! Eh, mau kemana kau?" Tiba-tiba terdengar seruan dari bangku paling belakang. Kemudian bus berhenti. Beberapa penumpang turun. Dan di antara tirai hujan aku melihat dua sosok tubuh bergelut di tanah yang becek. Astaga! Salah seorang yang sedang berkelahi itu adalah Kim Hyun Joong. Hm, pasti dia mencopet lagi. Rasakan! Biar babak belur! Aku tersenyum gemas. Tetapi .... yaaaa….. ternyata dia lebih kuat dan…. lawannya itu.... kok, yang digiring rame-rame. Apa tidak salah?

“Pak…. Pak… Pencopetnya yang pakai kemeja biru ‘kan? Kenapa yang ditangkap yang pakai kaos hitam?" tanyaku pada si bapak berbau 'harum'.

“Oh, bukan non. Yang pakai kaos hitam itu yang mencopet. Saya sering meliat dia beraksi di bus ini, tapi saya diam saja. Ngeri! Siapa tahu dia ada temannya.”

“Untung saja, Kali ini ada orang yang berani menangkap dia.” Celetuk seorang ibu.

Aku tercenung. Bus berjalan lagi. Akh, sejuta sesal menyesak di dada. Aku harus minta maaf, tapi… kapan aku bisa bertemu dengannya lagi?

Bersambung…

Antara Chuncheon-Gwangju (Part 4)


Part 4
“Surat “Kolom Redaksi”


“Yoon Eun Hye!" panggil Song Hye Gyo, kakakku pada suatu pagi yang cerah.

“Ada apa kak?” Aku menghampirinya dengan sepotong roti di tangan.

“Pemuda yang bernama Kim Hyun Joong itu ternyata bukan pencopet." kata kak Song Hye Gyo sambil menyerahkan koran pagi yang baru saja dibacanya. “Baca kolom “Redaksi Yth”!" Katanya.

Kembalikan dompet Nona Yoon Eun Hye!

Suatu senja yang cerah saya bertemu dengan seorang gadis manis dalam bus kota jurusan Chuncheon - Gwangju. Saya terpesona. Mungkin juga Jatuh cinta pada pandang pertama. Maka saya beranikan diri menyapanya, pura-pura minta ijin duduk di sampingnya. Percakapanpun terjalin. Tapi tak lama, karena saya dan dia memberikan tempat duduk kami pada orang yang saya (mungkin juga dia) anggap lebih membutuhkan tempat duduk ketimbang kami yang masih segar dan kuat berdiri.

Selama berdiri berdampingan dalam bus itu, saya tak bisa mengajaknya bercakap-cakap lagi (meskipun ingin), karena bus begitu penuh sesak. Dan, saya harus menanggung kecewa, ketika dia turun di depan Edelweiss Residence. Dalam hati, saya berharap dapat berjumpa lagi dengannya.

Harapan saya terkabul. Saya bertemu lagi dengan gadis itu, tapi astaga, saya lupa menanyakan namanya. Kembali saya berharap akan dapat berjumpa lagi dengannya.

Tuhan sedang berbaik hati pada saya rupanya, tanpa diduga saya bersua dengannya lagi di bus yang sama. Kali ini saya tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Saya tanyakan namanya. Yoon Eun Hye! Mm, nama yang cantik, pikir saya. Tetapi sewaktu saya tanya alamatnya, dia marah-marah, menuduh saya telah mencopet dompetnya pada pertemuan kami yang pertama! Rupanya dia curiga akan sikap saya yang meminta izin duduk di sampingnya. Saya dianggap berlagak sopan.

Oh, hati saya bagai dipecut seribu cambuk! Tuduhan itu saya bantah beserta alasannya, tapi dia tidak percaya. Saya jadi bingung bagaimana membuktikan bahwa saya bukan pencopet? Saya toh, tidak mungkin membekuk semua pencopet yang berkeliaran di bus jurusan Chuncheon – Gwangju. Untunglah saya tidak kehilangan akal. Melalui surat ini, saya menghimbau padamu, wahai pencopet yang telah menggerayangi dompet nona Yoon Eun Hye di bus no. 202, sudilah kiranya tuan pencopet membersihkan nama saya dari tuduhan “Pencopet”.

Caranya: Kembalikan dompet nona Yoon Eun Hye. Terutama KTP dan surat-surat lainnya. Pasti dia sangat memerlukannya.

Terima kasih atas perhatiannya!
Kim Hyun Joong

Alamat diketahui Redaksi


“Gila! Benar-benar gila! Dia pikir dengan menulis surat ini aku akan percaya kalau dia bukan pencopet!" sungutku sebal seraya melempar koran itu.

“Kurasa dia bukan pencopet, Yoon Eun Hye. Surat itu merupakan bukti….,”

“Kak Song Hye Gyo, tahu apa tentang bukti?" Aku memotong. “Jaman sekarang jangan mudah percaya dengan orang lain!” kataku lalu meninggalkannya.

Bersambung…

Antara Chuncheon-Gwangju (Part 3)


Part 3
“Dasar Copet!!!”


Aku sudah mulai melupakan pertemuanku dengan Pencopet itu, ketika sore ini saat aku baru saja duduk di bangku bus, seseorang mencolek bahuku. Aku menoleh. Arrggghh! Dia lagiiiii!!

“Hai!” sapanya ramah. Aku diam saja.

“Namamu siapa? Tidak enak kalau sering jumpa tapi tidak tahu nama." Ujarnya sambil lagi-lagi memamerkan senyum mautnya. Aku tetap diam. Dasar muka tembok, sudah mencopet masih berani tanya nama! Dia pikir aku tertarik dengan penampilannya yang keren dan facenya yang lumayan! Huh, jangan mimpi…!

“Aku Kim Hyun Joong. Kau?" tanyanya seolah tak peduli dengan sikapku yang cuek,

"Yoon ehm, Yoon Eun Hye,” Jawabku jujur. Padahal inginnya berbohong tapi percuma, toh dia sudah tahu dari KTP-ku.

"Rumahmu pasti di sekitar Chuncheon?" tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil memutar kepala, memandang ke luar jendela.

"Aku pindah saja, biar lebih leluasa mengobrolnya." Tahu-tahu dia sudah duduk di sampingku. Aku menghela nafas kesal. Ini sih namanya muka baja. Bukan tembok lagi!

"Boleh tahu alamatmu?" Gila! Aku menatapnya tajam. Kesabaranku sudah habis.

“Bukannya kau sudah tahu, kenapa tanya lagi? Supaya aku tidak mencurigaimu sebagai orang yang telah mencopetku tempo hari?" kataku galak.

“Apa maksudmu? Aku mencopetmu…..,”

“Sudahlah,” Aku tersenyum sinis, “Tidak usah bersandiwara! Aku tahu kau yang mencopet dompetku beberapa waktu yang lalu.”

“Mencopet dompetmu?“ Dia memandangku bingung. “Wah, ini namanya tuduhan tanpa bukti.”

“Tanpa bukti katamu? Sikapmu waktu minta ijin duduk di sampingku itu sudah patut dicurigai. Namanya juga kendaraan umum, siapapun berhak duduk di bangku yang kosong. Tidak perlu minta ijin dulu. Tapi kau…..hm, berlagak sopan!” Aku mencibir.

“Itu bukan bukti, nona! Tahu tidak kenapa aku bersikap begitu? Karena aku tertarik padamu dan ingin mengenalmu.”

“Alaa….tidak usah merayu,“ tukasku kesal.

“Aku berkata sejujurnya.“ Tegas suaranya.

“Oh ya ? Sorry, aku tidak percaya!” Kataku datar.

“Oke, oke….aku akan buktikan bahwa aku bukan pencopet!" Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkanku setelah berkata begitu.

Bersambung…

Antara Chuncheon-Gwangju (Part 2)


Part 2
Don't Judge The Book By Iit's Cover


Beberapa minggu setelah peristiwa ‘sial itu’, aku bertemu lagi dengan si ‘Pencopet' lihai itu. Dia duduk di sudut kiri bangku ke empat, dekat jendela. Mengenakan kaos putih yang kontras sekali dengan warna kulitnya, Tapi dia tidak melihatku. Matanya sedang sibuk memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di terminal Chuncheon.

“Hallo!" sapaku pura-pura ramah sambil duduk di belakangnya. Dia menoleh.

“Hai, kita bertemu lagi,“ Ucapnya hangat. Kurang ajar! Pikirku kecewa karena tidak menemukan roman wajah yang terkejut, apalagi malu. Benar-benar pencopet yang pandai bersandiwara. Kalau jadi bintang film, mungkin bisa dapat piala Citra.

“Mau kemana? Cari obyekan?” sindirku. Dia tersenyum.

“Obyekan apa? Aku mau ke rumah teman!" Jawabnya kalem. Bohong! Pekik hatiku gemas. Tapi, kucoba menahan emosi yang menggelegak.

“Kau sendiri, mau kuliah?" tanyanya.

"Begitulah," sahutku, sebal dengan sikap 'sok akrab'nya.

Selanjutnya kami sama-sama diam. Tak ada percakapan sampai kami turun di terminal Gwangju. "Kenapa turun di sini? Biasanya di Universitas Shinhwa." Katanya sambil mengiringi langkahku.

"Sedang ingin jalan kaki saja,” jawabku tak acuh. "Ya sudah, aku mau menyeberang.” Aku bergegas menyeberangi jalan. Namun ketika aku menoleh….Astaga! Dia berdiri dekat lampu lalu lintas, sedang memerhatikan aku dengan senyum tersungging di bibir. Senyum seorang pencopet yang menawan Akh, persetan dengan senyumnya. Aku memutar kepala. Senyum itu tak ada artinya ketimbang honorku yang lenyap bak asap. Belum lagi, KTP, kartu mahasiswa, kartu anggota perpustakaan dan lain-lain.

Bersambung…

Antara Chuncheon-Gwangju (Part 1)


Part 1
“Pemuda Nilai 7”


Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul 4 sore tepat. Tapi bus yang kutumpangi ini belum penuh terisi penumpang, berarti akan ngetem cukup lama. Wah, alamat telat tiba di kampus. Kuhapus peluh di pelipis dengan tissue. Panasnya yang tak tertahankan. Padahal baru saja mandi sore. Percuma menaburkan bedak baby ke tubuh toh sampai di kampus sudah bau keringat lagi.

"Boleh duduk di sini?" tanya seorang pemuda berwajah cukup tampan, mengejutkanku. Tangannya menunjuk bangku kosong di sampingku. Aku mengangguk dengan heran. Baru kali ini ada orang yang bertanya seperti itu padaku dalam bus kota. Bukankah ini kendaraan umum, siapa saja berhak untuk duduk di bangku yang dipilihnya, kenapa harus bertanya?

"Kuliah?" Pemuda itu bertanya setelah duduk di sampingku. Aku mengangguk.

"Universitas Shinhwa?“ tanyanya lagi. Aku mengangguk.

"Fakultas apa?"

"Hukum," sahutku pendek.

"Ouw.... mau jadi hakim rupanya?" Dia tersenyum. Lumayan. Nilai 7. Aku menikmati senyumnya yang enak dipandang.

"Kalau jadi hakim yang benar, jangan asal menghukum orang," katanya sok tua. Aku tersenyum tipis.

"Saya tidak mau jadi hakim. Mau jadi pengacara saja!" ujarku.

"Hmm, mau menyaingi Hotman Paris!” guraunya.

"Kalau bisa…..” Aku tertawa. Sementara bus mulai penuh lalu bergerak meninggalkan terminal Chuncheon. Kamipun membisu dalam pengapnya udara dalam bus. Aku melayangkan pandang ke luar lewat jendela yang tertutup. Memerhatikan kendaraan yang lalu lalang, berharap mendapatkan ilham cemerlang. Soalnya, sudah dua minggu ini, otakku blank. Tidak ada satupun ide menarik yang bisa kutuangkan dalam sebuah cerpen.

"Terima kasih," Suara yang halus itu mengusikku. Aku menoleh. Pemuda itu sedang bangkit berdiri dan mempersilakan seorang gadis seusiaku untuk duduk di bangkunya. Boleh juga pemuda ini. Sudah wajahnya lumayan tampan, sopan pula.

“Ke tengah bu. Masih kosong!” seruan kondektur menepis lamunanku.

Seorang ibu yang sedang hamil tua berjalan pelan dan berdiri dekat tempat dudukku.

“Bu..,” panggilku sembari bangkit dari dudukku. Ibu itu tersenyum dan menggumamkan ucapan terima kasih.

"Akhirnya kita sama-sama berdiri," Pemuda bernilai 7 itu tersenyum ketika aku berdiri di sampingnya. Aku balas tersenyum. Bus melaju cepat. Kadang oleng ke kiri, kadang oleng ke kanan. Penumpang bertambah banyak. Udara semakin pengap.

Cittt…!! Bus direm mendadak menghindari sebuah mobil yang nyelonong seenaknya. Supir dan kondektur memaki bersamaan. Aku dan beberapa penumpang terdorong ke samping.

"Hati-hati, nanti jatuh!” Si pemuda nilai 7 memegang lenganku, menahan agar tidak jatuh.

"Terima kasih." Kataku merasa risih dengan cekalan tangannya. Dia mengangguk sambil melepaskan pegangannya.

"Gwangju! Gwangju!" Seruan kondektur membuatku bersiap turun.

"Sampai jumpa lagi!" Masih sempat kudengar ucapan itu, dari si pemuda nilai 7 sebelum aku melangkah ke pintu.

Dalam Bus yang membawaku melanjutkan perjalanan ke kampus, aku meraba tas mungilku. Resletingnya terbuka Akh, perasaan tadi sudah kututup. Barangkali longgar, pikirku lalu mengancingkannya kembali.

"Halte, pak!" teriakku ketika Bus melaju di depan halte yang terletak dekat Universitas Shinhwa. Kurogoh saku celana jinsku dan menyerahkan sejumlah uang pada Kondektur sebelum turun.

Tiba di kampus aku membuka tasku mencari sisir, tetapi….hei, mana dompetku? Kuraba-raba dasar tas kulitku. Tapi…ya ampuunnn! Dompetku hilang! Dan… wajah si pemuda nilai 7 melintas di benak. Kurang ajar! Pantas, dia begitu ramah. Pantas…. oh, my God! Tulang-tulangku melunglai! Lenyap sudah honor cerpenku yang baru saja kuambil tadi siang!

Bersambung…

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (FF)


Title : Langit Menggelap Di ‘Lavender Park’
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episode : Prolog + 2 Part
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 13 February 2010, 10.53 AM
Review :
...
Barbie Xu dan Peter Ho. Peter Ho pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Barbie Xu pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Barbie Xu harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Barbie Xu yang seorang istri dan ibu seorang anak, dan Peter Ho yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.
...
Cast :
Barbie Xu
Peter Ho
Huang Xiao Ming

Peter Ho
Peter Ho hanya butuh teman bermesra dan bercinta untuk sesekali singgah. Peter Ho tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Barbie Xu. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Ia hanya membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.


Barbie Xu
Barbie Xu hampir saja meninggalkan Huang Xiao Ming -suaminya ketika itu. Kala itu Barbie Xu adalah seorang Ibu muda yang merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Huang Xiao Ming. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua dengan Peter Ho.

Huang Xiao Ming
(Barbie Xu’s Husband)


Langit Menggelap Di ‘Lavender Park’
Created By Sweety Qliquers

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (Part 2-Tamat)


Part 2
Akhir Sebuah Pertemuan


Hari-hari setelah kejadian itu, Barbie Xu tak pernah tampak di depan ‘Lavender Park’ lagi. Tetapi Peter Ho masih sering terlihat di salah satu bangku kayu di sana. Sendiri di tengah orang-orang muda yang tengah bercanda dan bercinta. Menghisap rokoknya. Sesekali mengibaskan rambut hitam berhias putihnya, tersapu angin menutup wajah tirusnya.

Begitu perasaan Barbie Xu membaik dan siap bertemu Peter Ho lagi, ia kembali pada rutinitasnya, menunggu senja jatuh di ‘Lavender Park’. Namun ia harus menelan kecewa karena Peter Ho tak dijumpainya. Bahkan telepon genggamnya tak bisa dihubungi.

Suatu sore, di tengah keputusasaan Barbie Xu, seorang teman mendatangi dan mengulurkan sebuah surat kepadanya. Surat dari Peter Ho!

Dear Barbie Xu,
Kekasih Senja-ku...

Tak merah senja di musim hujan ini punggung bukit dijala mendung yang sepi sedang matahari tanpa jawaban lagi masihkah tergantung di ilalang atau telah tiba di lain belahan bumi tapi yang pasti semakin jauhlah buat kita tunaikan janji bahwa hujan tak akan pernah jadi jeruji untuk bertemu dan bernyanyi di sini, di bangkai petang yang tertambat di tepi langit tak merah senja di musim hujan ini, bahkan kelam telah datang walau belum waktunya sampai sia-sia romantisme matahari terbenam untuk dinanti lihat, suit-suit angin mulai menyapu suasana kita dengan dingin dan hampa lalu menggelar gulungan gerimis di hamparan lembab dan menulis cerita bahwa semua telah usai tak akan datang lagi seperti waktu lalu selamat sore...... ijinkan senyumku menyapamu menyambut senja........

Resah semakin membelit Harapan menggantung pada entah Kulihat kau… Dan, langit seakan dekat Lalu purnama berbisik, Tentang retaknya langit ditambal mendung... Kelam seperti cinta yang kuraba, kurasa. Padat hati ini, semakin sesak oleh rintihan-rintihan kecil tentangmu, bias, sangat bias, jauh kutatap jauh, Dihilir perasaan hening, dingin, mencekam nadi-nadi, Sampai air mata kering, mengendap, Menjadi lumut-lumut penantian. Entah berakhir kapan?...

Aku sendiri disini gelap tanpa cahaya mentari dan rembulan tiada celah untuk seberkas sinar akupun tak dapat berdiri hanya berbaring menanti panggilan saat hancurnya bumi satu yang bisa kulakukan adalah datang dalam mimpimu dan memandangmu karena roh ini selalu merindukan tiupan hangat nafasmu untuk yang terakhir kunikmati tiap lekuk wajahmu dan kuucap selamat tidur kekasih jiwaku......

…hujan begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.

From Peter Ho,
Lelaki Senja-mu...


“Hari-hari itu dia mencoba menghubungimu, tetapi HP-mu tak pernah aktif,” kata laki-laki itu. “Ginjalnya tak berfungsi, serangan jantungnya kambuh, tekanan darahnya tidak stabil…”

Barbie Xu tak bisa mendengar lagi penjelasan laki-laki itu. Bahkan ketika si teman menyerahkan satu dos buku dan tas berisi kamera warisan kekayaan Peter Ho untuknya, Barbie Xu belum kembali pada kesadarannya.

Senja beranjak renta. Seperti Barbie Xu merasai dirinya. Sepasang remaja di sebelahnya telah pergi. Begitu juga sekumpulan anak muda yang nongkrong di atas motor mereka, mulai menghidupkan mesin kendaraannya. Sisa rintik hujan sayup terdengar dari sela-sela ranting pohon. Sebaris kalimat di surat terakhir Peter Ho meluncur dalam gumaman. “…hujan begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.”


TAMAT

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (Part 1)


Part 1
Awal Sebuah Pertemuan


Beginilah menjelang senja di jantung kota. Sekelompok remaja nongkrong di atas motor model terbaru mereka sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Ada juga remaja atau mereka yang beranjak dewasa duduk berdua-dua, di bangku semen, di atas sadel motor, atau di trotoar. Anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.

Di salah satu bangku kayu panjang, bersisihan dengan remaja yang sedang bermesraan, Barbie Xu duduk menghadap ke jalan. Hanya duduk. Mengamati kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di hamparan kota.

Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. “Apa kabar?” katanya memperlihatkan giginya yang kekuningan. Asap rokok telah menindas warna putihnya.

“Kau di sini?” Barbie Xu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya membuat Barbie Xu ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.

Begitu juga Peter Ho, lelaki yang berdiri di depan Barbie Xu. Dadanya bergemuruh hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk, menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.

Hingga Barbie Xu kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Peter Ho di sebelahnya.

“Kaget?” tanya Peter Ho, duduk di sebelah Barbie Xu.

Barbie Xu tertawa kecil. “Bagaimana?” tanya Barbie Xu tak jelas arahnya. “Lama sekali kita tidak bertemu.”

“Iya. Berapa tahun ya? Dua lima, tiga puluh?”

“Tiga puluh tahun!” jawab Barbie Xu pasti.

“Ouw! Dua puluh tahun. Dan kau masih semanis dulu.”

“Terima kasih,” Barbie Xu tersenyum geli. Masih ‘semanis dulu’. Bukankah itu lucu? Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja. Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat itu tak urung membuat Barbie Xu tersipu. Merasa bangga, tersanjung karenanya.

“Kapan kau datang?” tanya Barbie Xu. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.

“Belum seminggu,” jawab Peter Ho.

“Mencariku?” Barbie Xu tersenyum. Sisa genitnya di masa muda.

Peter Ho tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, “Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu,” tawanya menghilang.

Barbie Xu tak menjawab sepatah pun. Bahkan ucapan terima kasih tidak juga meluncur dari bibirnya. Ia menerawang ke kejauhan. Detik berikutnya mata Barbie Xu tampak berlinangan. Goresan luka di sudut hatinya kembali terkoyak. Rasa perih perlahan datang. Luka lama itu ternyata tak pernah mampu disembuhkannya. Semula ia menduga luka itu telah pulih, tetapi sore ini, ketika Peter Ho tiba-tiba muncul di hadapannya ia sadar luka itu masih ada. Tertoreh dalam di sudut perasaannya.

Barbie Xu dan Peter Ho. Peter Ho pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Barbie Xu pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Barbie Xu harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Barbie Xu yang seorang istri dan ibu seorang anak, dan Peter Ho yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.

Barbie Xu hampir saja meninggalkan Huang Xiao Ming-suaminya ketika itu. Ibu muda Barbie Xu merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Huang Xiao Ming. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua Peter Ho.

Tetapi sampan kecil itu ternyata begitu ringkih. Ia tak mampu menyangga beban berdua. Ia hanya ingin sesekali singgah, bermesra dan bercinta tanpa harus mengangkutnya. Peter Ho tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Barbie Xu. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Kebebasan yang tak bisa Barbie Xu terima. Maka sebelum perjalanan dimulai, ia memutuskan undur diri. Perempuan itu menyadari, bukan laki-laki seperti Peter Ho yang ia ingini untuk membebaskannya dari derita malam-malamnya. Peter Ho berbeda dengan dirinya yang membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.

“Berapa lama kau akan tinggal?” tanya Barbie Xu setelah gejolak perasaannya mereda.

“Entah. Mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin sepanjang sisa umurku,” jawab Peter Ho, tanpa senyum, tanpa memandang Barbie Xu. “Banyak hal yang memberati pikiran dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun selama ini.”

“Itu sebabnya kau kemari?”

“Seoul semakin sesak dan panas. Sementara Pulau Jeju masih tetap nyaman untuk berkarya. Jadi kuputuskan kembali,” lanjut Peter Ho tanpa mengacuhkan pertanyaan Barbi Xu. “Begitu kembali seseorang bilang padaku, kau sering di sini sore hari.”

“Maka kau mencariku. Berharap mengulang lagi hubungan dulu.”

Peter Ho menggeleng.

“Atau membangun hubungan baru.”

Peter Ho menggeleng lagi, “Tidak juga. Aku tidak butuh hubungan seperti itu. Aku hanya butuh teman untuk bicara…”

“Teman bermesra, teman bercinta yang bisa kau datangi dan kau tinggal pergi. Tanpa tuntutan, tanpa ikatan!” potong Barbie Xu. “Itu hubungan yang sejak dulu kau inginkan bersamaku kan? Seperti sudah kubilang dulu, aku tidak bisa. Aku sudah memilih.”

Kebekuan kembali merajai perasaan kedua orang itu. Langit perlahan kehilangan warna jingga. Satu per satu lampu di sekeliling mulai menyala. Ada rangkaian lampu-lampu kecil berbentuk bunga di samping tikungan yang menyala bergantian, hijau, kuning, merah. Ada lampu besar dengan tiang sangat tinggi yang menyorot ke taman, ada pula lampu berwarna temaram yang semakin menggumpalkan kesenduan.

Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Terlalu banyak hal terjadi pada mereka dan sekian lama masing-masing memendam untuk diri sendiri. Mestinya pertemuan sore itu adalah untuk berbagi cerita bukan justru bertengkar kemudian saling diam. Atau mungkin karena perpisahan yang terlalu panjang, keduanya tak tahu apa yang harus diceritakan terlebih dahulu.

Mungkin memang begitu, karena nyatanya Barbie Xu ingin berkata, beberapa tahun setelah perpisahan mereka ia masih juga mencari kabar tentang Peter Ho. Hingga suatu hari, satu setengah tahun setelah mereka tidak bersama seorang teman mengabarkan bahwa Peter Ho pulang ke Seoul. Tak lama setelah itu, ia mendengar Peter Ho tengah melanglang buana. Buana yang mana, entah. Barbie Xu merasa tidak perlu lagi mencari tahu keberadaan laki-laki itu. Meski tak jarang bayangan Peter Ho tiba-tiba membangunkan tidurnya atau menyergap ingatannya begitu Huang Xiao Ming mulai menjamah tubuhnya dan membuat Barbie Xu kesakitan tak terkira.

Terdengar Peter Ho menghela napas. Panjang. Perlahan gumpalan kemarahan yang menyesaki dada Barbie Xu mereda. Namun hasrat untuk terus mengobrol telah tak ada. Maka sisa pertemuan itu pun berlalu begitu saja. Kebekuan masih mengental di antara keduanya. Hingga Barbie Xu minta diri, dan beranjak pergi.

Bersambung…

Langit Menggelap di ‘Lavender Park’ (Prolog)


Prolog

Wahai Malaikat cinta…
Dengarkanlah bisikan hatiku ini!
Aku cuma punya dua pilihan
Hidup terus untuk mencintainya
Atau… mati!

Kemarin kulihat ia menangis
Dalam hening
Dalam diam
Tanpa air mata
Namun kutahu ia menagis
Sekarang kulihat ia telah tertawa
Walau masih ada luka di matanya
Walau masih terasa lelah di hatinya
Namun ia telah tertawa
Kutahu ia telah pasrah
Kutahu ia telah menyerah
Tak berdaya pada kuasa hatinya
Tak kuasa pada kehendak cintanya

Dan kini ia hanya diam
Menanti dalam rindu yang amat sangat
Dalam sepi yang menyengat
Menanti sesuatu yang tak pasti
Tapi ia tak peduli
Ia hanya tahu cinta yang ia miliki pasti
(Kisah Cintaku_Sweety Qliquers)

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...