Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Sabtu, 01 Oktober 2011

Loving You (Chapter 2)



Suatu sore ditengah hujan deras.

“Aku jemput, ya.“ Kim Bum menawarkan jasa untuk Kim So Eun.

“Oh, tidak usah, aku bisa pulang sendiri.” jawab Kim So Eun,

“Aku tahu, tapi diluar hujan deras, kalau naik angkutan umum kau bisa basah kuyup.”

“Tidak perlu, aku suka hujan, Tidak apa-apa jika hanya basah saja. Oh ya, Bukankah kau akan makan malam bersama Baek Suzy?” tanya Kim So Eun mengalihkan pembicaraan.

Tidak ada jawaban, Kim Bum terdiam,

“Kim Bum...kau masih disana kan…” kata Kim So Eun,

“Aku sudah dijalan mau menjemputmu.” kata Kim Bum dengan cepat,

“Ya, baiklah kutunggu. Kalau lama aku akan pergi dari kehidupanmu dan nantinya tidak akan ada wasit yang memisahkan jika kau dan Baek Suzy bertengkar.“ cerocos Kim So Eun.

“Ya, tunggu aku disana.”

“Baiklah, aku tunggu.“ jawab Kim So Eun mengakhiri pembicaraan.

Setelah itu ia bergegas membereskan file-file kantornya, setengah berlari ia menghampiri evalator dan segera menuju lobi kantor.

Kim So Eun menunggu, 10.20 menit hingga satu jam, tidak ada tanda-tanda kemunculan Kim Bum, ponsel pria itu tidak aktif, Kim So Eun mulai kesal, sedikit gelisah dan terus menunggu sampai malam menjemput.

Nyatanya Kim Bum tak pernah datang, entah ia berbalik arah untuk memenuhi janji dengan kekasihnya, Baek Suzy atau ia merasa usahanya sia-sia untuk merebut hati Kim So Eun untuk kesekian kalinya, tidak ada yang tahu, dan Kim So Eun pun tidak mau mencari tahu, tiba-tiba saja ia cemburu, tiba-tiba saja hatinya menjadi egois, pikirannya kacau dan batinnya memarahi diri sendiri, menganggap bodoh karena telah menyia-nyiakan Kim Bum selama ini.

Kim So Eun pikir, Kim Bum telah menyadari mereka tak mungkin bersatu, Kim Bum akhirnya memilih Baek Suzy, Kim Bum membiarkan Kim So Eun menepati janjinya untuk pergi dari kehidupan Kim Bum jika ia tidak datang menjemput. Kim So Eun terpekur di lobi kantor, memandangi butiran deras air yang membasahi parkiran mobil. Dan sejak malam itu, Kim So Eun meninggalkan Kim Bum lengkap dengan kenangan manis mereka.

Bersambung…

Loving You (Chapter 1)



Hari masih pagi saat Kim So Eun menghirup udara segar di kebun teh milik kerabat dekat ibunya, embun membasahi tiap-tiap daun, seperti Kristal yang berkilat kilat, Kim So Eun merapatkan mantelnya, hawa dingin serentak memasuki tulang sum-sum wanita cantik itu, ada yang ingin menemuinya disini, seseorang dari masa lalu yang terabaikan oleh Kim So Eun. Sejenak pikirannya melayang ke masa itu, yaitu saat-saat kebersamaanya dengan seseorang itu sampai Kim So Eun memutuskan meninggalkannya.

Dan untuk sebuah nama dari masa lalu, Kim Bum. Secara sengaja, Kim So Eun memasuki kehidupan pria itu, membuat Kim Bum yang terbiasa dengan dunianya sendiri menjadi Kim Bum yang dikenal oleh dunia, “hidup harus bersosialisasi“ begitu kata Kim So Eun yang dibalas senyuman oleh Kim Bum.

Atas nama sahabat, mereka memulai kisah untuk saling berbagi, keduanya merasa nyaman untuk terus bersama, Kim So Eun memperkenalkan dunia luar yang sangat indah menurutnya kepada Kim Bum dan pria itu pun tidak mau kalah dengan memperlihatkan kehebatan dari penyendirian yang dilakukannya jika hati sedang tidak menentu, mereka saling melengkapi, layaknya bunga dengan tangkai atau apalah yang sering disebut pujangga-pujangga besar.

Hingga suatu hari, Kim Bum mengatakan hal yang membuat Kim So Eun terdiam,

“Aku ingin kita lebih dari teman, aku banyak mengenal wanita tapi hanya kau yang berbeda, hanya kau yang bisa membuatku tahu apa itu arti hidup.“ ucap Kim Bum tulus.

Tidak ada yang salah dalam kalimatnya, itu wajar, karena bagaimanapun Kim Bum membutuhkan Kim So Eun, bukan hanya untuk berbagi kasih sayang tapi juga untuk berbagi cinta, dan cinta itu hanya ingin ia persembahkan untuk Kim So Eun, gadis cantik yang secara sengaja datang kepadanya untuk menawarkan hubungan persahabatan.

Kim So Eun tetap diam, pikirannya berputar-putar mencari cari jawaban yang tepat agar Kim Bum tidak kecewa, karena di hatinya Kim So Eun hanya punya rasa sayang untuk Kim Bum bukan cinta.

Dan jawaban Kim So Eun ada pada gadis cantik, teman kuliahnya, Baek Suzy. Kim So Eun memperkenalkan Baek Suzy pada Kim Bum, memuji-muji gadis itu dan dengan kata-kata yang sangat halus.

“Kim Bum, Tak ada salahnya kan… jika kau jadikan dia pacar.“ Kim Bum langsung mengerti, cintanya ditolak Kim So Eun. Ia hanya tersenyum.

“Ya, kelihatanya dia gadis yang baik. “ tanggap Kim Bum.

Hingga di minggu minggu berikutnya Kim Bum memulai usahanya untuk melupakan Kim So Eun.

Kim Bum mencoba menerima Baek Suzy di hatinya, menjadi yang terbaik dihadapan gadis itu.

Bersambung…

Bersama Hujan (FF)



Title : Bersama Hujan
Genre : Friendship, Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 5 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 29 September 2011, 11.43 AM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Baek Suzy


Bersama Hujan

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5 - Tamat

Bersama Hujan (Chapter 5-Tamat)



Kim Bum menginjak pedal rem dalam-dalam. Sore itu hujan cukup deras mengguyur jalanan utama Seoul. Dia terjebak kemacetan yang biasa terjadi pada saat jam pulang kantor. Di mobil sedan biru itu mengalun Just The Way You Are. Lagu yang selalu mengingatkan dia pada Kim So Eun. Dan betapa bersalahnya ia menghilang dari gadis itu tanpa kabar. Gadis yang cukup baik yang pernah ia kenal. Kim Bum tak berani membayangkan betapa terlukanya gadis itu bila Kim Bum menjawab pertanyaannya setahun yang lalu. Tidak tega rasanya menyakiti hati gadis yang memepercayainya sepenuh hati.

“Ah. Andai aku bisa mencintaimu, Kim So Eun,” ujar Kim Bum menggumam.

Digenggamnya tangan seseorang disamping joknya dengan erat. Seseorang yang selama ini dicintainya dengan sepenuh hati. Seseorang yang selama ini ia sembunyikan. Seseorang yang juga mencintainya dengan teramat sangat.

“Sudahlah, Kim Bum. Suatu hari nanti kau harus berterus terang pada Kim So Eun,” ujar orang itu.

“Ya. Suatu hari nanti,” ujar Kim Bum.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu.”

“Aku juga begitu, Baek Suzy,” balas Kim Bum.

Seorang wanita yang sedang memangku gadis kecil sambil memperbaiki letak duduknya yang tak nyaman karena perutnya yang memulai membesar itu kemudian semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Kim Bum.

Sore itu hujan deras di Seoul. Suatu hari nanti, Kim So Eun akan tahu keadaan Kim Bum yang sebenarnya. Semoga dia tidak kecewa.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Bersama Hujan (Chapter 4)



Aku kembali menyesap cappuccino hangat di sudut ruang itu. Ruang yang sama di sebuah café ketika aku melihatmu bernyanyi.

Suasana yang sama juga seperti waktu itu. Hujan rintik-rintik. Di sudut inilah aku bisa melihatmu dengan jelas. Menikmati alunan nada yang kau mainkan melalui gitarmu, dan juga suara merdu yang tak pernah bisa kulupakan, sambil sesekali menyesap minuman favoritku.

Februari datang lagi. Sudah setahun yang lalu sejak kepergianmu mengadu nasib di Seoul. Sudah setahun lalu sejak pertanyaanku tak pernah terjawab. Sudah setahun lalu sejak kau berjanji akan mengabariku. Sudah setahun kau tak pernah mengabariku. Sudah setahun aku mencoba menghubungimu namun selalu gagal. Sudah setahun seolah-olah kita tidak pernah saling mengenal.

Sementara hujan mulai deras. Aku memesan kembali segelas cappuccino kepada pramusaji yang sudah tidak asing itu. Dia pasti tahu benar kebiasaanku untuk menikmati cappuccino hangat di sudut ruang ini. Sendiri. Aku memandang sekeliling. Tidak ada yang berubah dari ruangan ini. Sama seperti setahun ataupun dua tahun yang lalu. Yang berbeda hanya, tidak ada kau. Itu saja.

* * *

Di suatu siang. Seminggu yang lalu.

“Berikut adalah new comer di dunia musik Korea. Lagu yang berjudul ‘Andai Aku Bisa Mencintaimu’ berhasil duduk sebagai bubbling video minggu ini. Langsung saja saksikan video berikut!” terdengar suara seorang VJ dari televisi rumahku.

Aku sibuk membolak-balik majalah fashion yang baru saja kubeli. Rencananya aku akan meminta temanku yang designer itu untuk membuatkan gaun malam seperti yang dikenakan seorang model dalam majalah itu. Perkawinan sahabat kecilku bulan depan akan menjadi saksi gaun itu pertama kali kupakai. Sayup-sayup aku mendengar suara si penyanyi baru itu. Suara yang tidak asing. Rasa-rasanya aku pernah mendengarnya. Seperti suara….

“Kim Bum!” pekikku tak percaya.

Sosok yang selama ini menghilang dari pandanganku tiba-tiba muncul sebagai seorang selebritis baru. Kim Bum, ternyata kau berhasil. Tanpa sadar aku tersenyum. Ikut bangga pada keberhasilanmu. Sejenak aku melupakan apa yang pernah terjadi. Melupakan mengapa kau berlalu begitu saja tanpa kabar apapun. Melupakan sebuah pertanyaan, yang mungkin bodoh, yang aku tanyakan waktu itu. Kim Bum berhasil.

* * *

Aku meletakkan cangkir yang berisi cappuccino itu di meja. Itu cangkir terakhir untuk hari ini. Hujan mulai reda, lebih baik aku pulang saja. Sementara Just The Way You Are mengalun dibelakangku ketika aku meninggalkan café itu. Bukan dari Kim Bum tentu saja. Tapi dari penyanyi café baru yang aku minta untuk menyanyikan lagu itu. Walau nyanyiannya tak sebaik Kim Bum.

Bersambung…

Bersama Hujan (Chapter 3)



Stasiun kereta api, Minggu pagi. Rintik hujan mulai turun. Bulan ini Februari kedua setelah pertemuan kita pertama kali. Stasiun terlihat ramai entah karena banyaknya orang yang datang ataupun orang-orang yang akan pergi. Sementara aku gelisah. Kau bersikeras tidak mau aku antar. Dan aku bersikeras untuk mengantarmu. Entah kenapa aku merasa sepertinya kau tidak akan kembali. Lagipula, aku sudah memantapkan hati untuk mengatakan isi hatiku padamu. Melupakan rasa gengsi yang masih bertaut di kepalaku.

“Kenapa, Kim So Eun? Apa kau Sedih? Ya ampun Kim So Eun. Incheon-Seoul itu tidak jauh kan?”

“Bukan itu, Kim Bum.”

“Lantas apa? Pagi-pagi begini wajah cantikmu terlihat muram. Kalau bukan karena sedih lalu apa??”

Aku tersenyum. Kau memang pintar sekali menggodaku.

“Sebenarnya…seperti apa perasaanmu padaku?” tanyaku akhirnya.

“…”

Suasana hening. Aku menunduk dan tidak berani menatapnya. Seketika aku menyesal telah menanyakan hal tersebut. Jangan-jangan dia mengira aku terlalu agresif telah menanyakannya pertanyaan itu.

“Memangnya kenapa?” tanyamu akhirnya.

“Aku…kau pasti tahu. Aku menyukaimu,” jawabku pelan.

“…”

Kembali hening. Tidak ada reaksi apapun darimu. Tiba-tiba kereta yang akan membawamu akan segera berangkat. Ah, sial! Pikirku. Lalu tiba-tiba kau memegang bahuku.

“Aku harus pergi. Sampai ketemu lagi ya. Nanti aku kabari sesampainya di Seoul,” ujarmu pelan.

Hah? Itu saja? Lalu bagaimana dengan pertanyaanku?


Kereta api itu akhirnya berlalu dari stasiun. Hujan yang tadinya rintik mulai deras. Tanpa sadar aku menangis. Entah karena malu, sedih, ataupun kecewa. Mengapa dia tidak menjawabnya? Apa susahnya? Atau sebenarnya dia hanya menganggapku teman, dan tidak mau menyakitiku sehingga tidak bersedia menjawabnya? Hari itu, aku pulang dengan sejuta tanya.

Bersambung…

Bersama Hujan (Chapter 2)



“Aku sudah merekam contoh suaraku. Semoga produser itu tertarik,” ujarmu malam itu.

“Suaramu bagus. Semoga rezekimu juga. Kenapa tidak ikut kontes menyanyi saja?” tanyaku.

“Aku sudah pernah mencobanya, tapi tidak berhasil. Mungkin suaraku tidak cocok dengan selera mereka. Aku yakin suatu hari nanti aku bisa jadi penyanyi terkenal.”

“Aku akan selalu mendoakanmu, Kim Bum.”

Begitulah. Kita saling mendukung satu sama lain. Terus terang, aku tertarik padamu saat itu. Entahlah dengamu. Aku tidak mungkin menanyakannya. Walaupun hidup di zaman serba canggih dan modern, tapi untuk yang satu ini aku tetap bersikap konvensional.

Akibatnya, aku selalu bertanya-tanya dalam hati tentang perasaanmu. Aku selalu mengira-ngira apa arti semua perlakuanmu itu. Suka kah? Atau hanya bersikap gentle saja? Seandainya aku pria dan dia perempuannya, maka akan mudah bagi bibirku untuk menanyakan apakah dia suka padaku dan mau menjalin hubungan yang lebih dekat denganku. Itu memang tugas pria kan, untuk menanyakan hal macam itu? Benar kana pa kataku?

“Aku sudah tidak sabar ingin bertemu produser itu, Kim So Eun!”

“Waah aku juga tidak sabar melihatmu di televisi, menjadi selebritis!”

“Selebritis? Perutku mual mendengar itu. Ada-ada saja kau ini.”

“Tapi semua itu mungkin kan? Dan tinggal selangkah lagi, Kim Bum. Bersiap sajalah.”

“Apa kalau menjadi selebritis nanti namaku jadi berubah ya?

“Maksudmu?”

“Nama Kim Bum terlihat tidak Komersil.”

“Walaupun tidak komersil, kalau menyanyi dengan bagus, tetap saja jadi bagus.”

“Ada-ada saja. Kau memang temanku yang terbaik, Kim So Eun.”

Baiklah.

Teman. Sebenarnya kata itu cukup menggambarkan perasaanmu padaku bukan? Huh, teman? Tidak rela rasanya aku mendengar kata itu keluar dari mulutmu. Aku ingin lebih! Ah, mulai lagi. Keegoisan seorang Kim So Eun mulai tampak. Dan sifat buruk itu justru muncul pada saat hari-hari terakhir kita bersama, sebelum kau pergi ke Seoul dan menemui produser itu. Kemanapun kau pergi, harus ada aku. Harus. Aku tidak mau membuang kesempatan untuk terus bersamamu. Aku bertindak seolah-olah tidak ada hari esok. Dan, memang.

Bersambung…

Bersama Hujan (Chapter 1)



Aku kembali menyesap cappuccino hangat di sudut ruang itu. Ruang yang sama di sebuah café ketika aku melihatmu bernyanyi. Suasana yang sama juga seperti waktu itu. Hujan rintik-rintik. Di sudut inilah aku bisa melihatmu dengan jelas. Menikmati alunan nada yang kau mainkan melalui gitarmu, dan juga suara merdu yang tak pernah bisa kulupakan, sambil sesekali menyesap minuman favoritku.

“Ada yang mau request lagu?” tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunanku. Sendirian, aku mencoba untuk mengusir penat setelah seharian bekerja. Temanku memberi tahu bahwa ada café yang menyajikan cappuccino terenak yang pernah dia rasakan. Tergoda, dan akupun mampir. Sendiri. Aku baru sadar bahwa ada live music disini karena pertanyaan si penyanyi kafe itu. Request lagu? Aku tertawa dalam hati. Sombong benar pemuda ini. Apa dia bisa menyanyikan semua jenis lagu? Kalau begitu, aku mau request.

“Just The Way You Are! Bisa?” aku berseru dari sudut ruangan itu.

“Oh. Emm. Tentu saja bisa.” jawabmu waktu itu.

Just The Way You Are mengalun dari bibir itu beserta petikan gitar yang menambah indah suasana. Boleh juga, pikirku. Aku melirik, di luar hujan masih rintik-rintik. Dan suaramu membuatku enggan untuk beranjak. Aku kembali melayangkan pandangan padamu. Pria yang cukup tampan. Ditambah suara yang bagus untuk bernyanyi. Pastilah banyak perempuan yang bermain mata denganmu. Tiba-tiba imajinasiku bergerak liar membayangkan sesuatu. Aku dan kau di suatu tempat, bercumbu. Ahhh! Pikiran wanita lajang yang berumur seperempat abad. Aku tertawa sendiri. Tapi, kau memang tampan.

“Ada yang mau request lagi?” tanyamu lagi. Aku tidak menyadari bahwa lagu permintaanku sudah selesai dinyanyikan. Berikutnya lagu lain kembali mengalun dari bibirmu. Rasanya semakin malas aku beranjak dari sini. Menikmati cappuccino sembari mendengarkan alunan indah darimu, cukuplah untuk mengusir penatku. Tidak terasa malam semakin pekat. Aku memutuskan untuk pulang saja.

“Terima kasih, Nona. Datang lagi ya,” ujar pramusaji yang membukakan pintu untukku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

Datang lagi? Mungkin saja. Tapi kalau ada pemuda itu, pastilah aku akan sudi mampir kembali. Aku pun melirik kearah pemuda itu sebelum keluar. Dan pada saat yang bersamaan si tampan membalas tatapan ku sambil melambaikan tangan. Sial!! Aku jadi deg-degan.

Aku selalu memintamu untuk menyanyikan Just The Way You Are. Pertemuan demi pertemuan di café itu membuat kita semakin akrab. Bahkan tak jarang kita menghabiskan waktu bersama di tempat-tempat lain. Sekedar karaoke bersama ataupun bercerita tentang hidup masing-masing.

Bersambung…

Darkness (FF)



Title : Darkness
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 6 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 26 September 2011, 11.36 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum


Darkness

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6 - Tamat

Darkness (Chapter 6-Tamat)



Kutundukkan kepala, memberi penghormatan pada jiwa yang tenang dalam alamnya. Kugantungkan sebait do’a dan harapan di anatara sayap para malaikat yang mengintai setiap gerakanku. Sepi...

“Apa kau tak merasa kesepian, Kim Bum?” Kuremas gundukan tanah yang dingin karena basah oleh gerimis yang sejak tadi menemaniku selama perjalanan untuk bertamu ke singgasannya. Memenuhi permintaannya di ruang putih tanpa sekat itu, 3 bulan lalu.

“Maafkan aku, Kim Bum.” suaraku bergetar “Aku sudah mengabaikanmu selama satu tahun lebih, maafkan aku.” Kini tubuhku bergoncang hebat, tak mampu menahan tangis yang bercampur kerinduan yang membuncah di sebuah sudut kosong di relung hatiku.

“Aku berjanji Kim Bum, aku berjanji akan menjaga cinta yang kau tinggalkan untuku.” Kuusap nisannya yang sudah usang dimakan waktu, lalu kukecup sambil berurai air mata.
“Aku mencintaimu...” Kuletakkan rangkaian bunga Mawar Putih kesukaanya, berharap wanginya akan menerobos masuk ke ruang sempitnya, dan akan tetap wangi sampai aku menyusulnya.

Kembali kutundukkan kepala. Kali ini penghormatan terakhir sebelum akhirnya aku beranjak, meninggalkan tempat damai ini dengan perasaan yang teramat lega. Aku berbalik, dan membalas senyuman yang terpatri di wajah pucatnya sembari melambaikan salam perpisahan.

Kuikhlaskan engkau direnggut alam.....

Selamat jalan cinta, Damailah di dalam pelukan-Nya....


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Darkness (Chapter 5)



Aku keluar dari lubang kegelapan yang kosong itu sekitar sebulan setelah kejadian tersebut. Sadarkan diri dengan harapan hampa yang melemahkan semua sistem syaraf di tubuh serta otakku, sepenuhnya belum mampu dan sama sekali tak mau menerima kenyataan takdir yang menimpaku secara telak. Aku mengutuk takdir!

Omong kosong dengan takdir! Jika hidup memang ada diantara takdir, lalu untuk apa hidup dan kehidupan?! Aku terhenyak, kutarik diri dari dunia nyata ini. Mengurung setiap gerakan kehidupan di sebuah tempat yang tak akan bisa dijamah orang, mengasingkan diri di dunia sendiri. Persetan dengan semua orang yang berusaha menarik kembali cahaya kehidupan yang benar-benar sudah meredup di hatiku. Aku tak perduli.

Berbulan-bulan aku bertahan diantara hidup dan kematian, membiarkan setan-setan luka menggerogoti setiap centi sistem pikiranku. Menghancurkannya. Hingga tak ada lagi usaha yang dapat dilakukan, selain membuangku ke dalam kegelapan di dalam kegelapan. Aku semakin hancur, mendapati diriku kini berada di tempat terkutuk ini. Tapi aku sama sekali tak bisa berontak, meski aku benar-benar tak sudi menjadi bagian dari sekian banyak tubuh hidup tak bernyawa di tempat ini. Rumah sakit jiwa!

Semakin terpuruk, ketika otakku terasa sudah tak lagi di tempatnya. Direnggut iblis dan dicokoli bayangan-bayangan kelam yang terus berputar bagaikan lingkaran setan, terus dan tak mau berhenti. Sampai aku benar-benar muak melihatnya. Iblis kini menari dan tertawa diantara kepedihanku. Brengsek!

Hah...aku sudah muak, aku lelah berteriak di ruang kosong tak berujung di dalam hatiku. Muak memukul angin dan mengutuk takdir yang tak jua berdamai denganku. Aku menyerah ketika para iblis itu memperbudak otakku paksa. Aku menyerah ketika mereka menarikku kembali ke ruang putih tampa sekat. Kembali berada di pelataran kematian, tapi sama sekali tak tahu bagaimana cara memasukinya.

Dan ketika aku menangis parau di tepian itu, dia datang dengan senyum yang sama sekali tak pernah berubah. Senyum yang ditaburi serbuk-serbuk cinta yang ia bawa dari surga. Membisikanku kembali alunan nada indah yang sangat aku rindukan hingga dadaku terasa sangat sesak.

“Kembalilah Kim So Eun, Pelihara cinta yang kutinggalkan untukmu. Dan singgahi singgasanku.”

Lalu lingkaran hitam itu merenggutnya kembali, mencampakkanku di ruang putih pengap ini. Aku menangis, hingga kemudian semuanya berubah gelap.

***

“Akhirnya kau sadar juga Kim So Eun.”

“Dia sudah keluar dari komanya.”

Aku mengerjap-ngerjap, mencoba membuka mata yang terasa berat dan lemah. Menguatkan indra pengelihatanku untuk membantu indra pendengaranku yang menangkap suara-suara tadi.

“Ibu...” Hanya kata itu yang dapat terlontar dari mulutku, menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang gersang, Pahit.

“Iya sayang, ibu di sampingmu.” Wanita itu menggenggam tanganku erat, seolah tak mau lagi melepaskanku hingga terjerembab ke lubang yang sama untuk kesekian kalinya.

“Kim Bum...” Aku menangis begitu menyebut nama itu, suaraku terdengar sangat jauh. Bagaikan bukan aku yang melontarkannya, Sakit menusuk dadaku. Ibu memelukku, membiarkanku menangis tanpa suara di dalam tangisannya.

Bersambung…

Darkness (Chapter 4)



Perjalanan malam ini terasa sangat lambat dan lama. Aku menggelayut manja di bahu Kim Bum, larut dalam setiap kata cinta yang ia bisikan di gendang telingaku. Memblokadenya secara lembut hingga tak ada suara lain yang dapat memasukinya. Bahkan suara sirine firasat itupun tak dapat menembusnya.

Percikan air langit yang berjatuhan lirih, membasahi kaca mobil yang sedang membawa kami ke pelataran surga. Kusapa rembulan yang menyembul diluar jendela, tapi cahaya samar yang kudapatkan, seolah sang rembulan sedang memandang iri ke arah kami berdua. Hem...aku menghela nafas. Resah!

Entah darimana datangnya resah itu, yang jelas keresahan itu semakin menjadi ketika gerimis kecil di luar sana berubah menjadi hujan deras. Membawa kabut tebal yang melingkupi area di luar mobil.

Aku meliriknya resah, tapi ia hanya membalasnya dengan senyuman yang akhirnya membuatku terpaksa tersenyum juga. Aku bertambah gusar, ketika aku tak sengaja melihat wajah kalut Kim Bum yang terpantul dikaca spion depan.

Aku kembali melirik Kim Bum, tapi kini ia merengkuhku dalam pelukannya. Entah untuk yang ke berapa kali ia mengungkapkan nada cinta yang sama, tapi kali ini sungguh itu hanya perasaanku atau apa, suaranya terdengar berbeda.

Tapi lagi-lagi ia meredam keresahanku yang kini sudah berubah menjadi kecemasan dan rasa takut. Aku tersenyum, dan baru saja aku membuka mulutku untuk membalas ungkapan cintanya, sebuah kilatan cahaya menyeruak masuk dan menyilaukan segalanya. Kejadian itu terlalu cepat, secepat terpelantingnya mobil kami ke bahu jalanan setelah sebelumnya menghantam tronton besar. Terus berguling, hingga akhirnya mobil berhenti sama sekali.

Aku membuka mataku, mencoba mencerna semuanya diantara batas kesadaranku. Tapi terlambat, semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa merasakan apapun, tubuhku mati rasa karena terjepit diantara badan mobil yang hampir remuk. Aku tak mampu bergerak, bahkan bernafas saja rasanya paruku tak kuasa melakukannya. Aku mengerahkan sisa kekuatanku untuk menoleh ke samping kananku. Suamiku masih di sana, masih menggnggam erat tanganku tapi sudah terpejam dengan senyum yang sangat damai. Aku mengalihkan pandanganku karena sudah tak kuasa memandang tubuh suamiku yang sudah....ah! Bahkan aku tak kuasa menyebutnya. Kupejamkan kembali mataku, dan sayup kudengar suara teriakan di luar sana, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.

Bersambung…

Darkness (Chapter 3)



KIM SO EUN

Tubuhku gemetar, detak jantungku tak beraturan, nafasku serasa memburu. Kuremas tanganku gugup hingga kuku-kuku jemariku memutih, Aku resah! Sebuah tangan putih nan kokoh terulur dan meraih tangan kananku. Meremasnya, memberikanku kekuatan dengan tatapan dalam diam dan senyumnya yang membuat darahku berdesir hingga wajahku memanas.

“Tenanglah Kim So Eun, aku disampingmu.” bisikan barusan bagaikan guyuran embun pagi yang menyejukkan hati resahku. Aku menyunggingkan senyumku, senyum terindah yang aku punya untuk pria yang sangat kucintai itu. Dan ia mengangguk, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria paruh baya di depan kami.

Kupejamkan mataku. Mencoba memfokuskan seluruh indraku pada sebuah suara serak yang sedang mengalun bagaikan nada-nada indah yang membawaku melambung terbang ke atasnya nirwana. Menyambut uluran sayap dewi fortuna untuk mengelilingi indahnya pelangi dan merenggut cahaya bulan dan berjuta bintang yang akan hilang ditelan pagi. Kebahagiaanku merekah, menebar keindahan yang kini akan segara kugenggam dalam sebuah ikatan janji seumur hidup.

Rasa bahagia itu semakin menyesakkan dadaku, ketika nada-nada itu sudah pada bagian akhir. Tak terbendungkan lagi, ketika kebahagiaanku sudah sampai pada puncaknya dan kembali ke titik jenuh hingga menguap menjadi tumpukkan embun yang sudah menguasai setiap sudut mataku.

Dan akhirnya mengalir ketika aku membuka mata. Tangis kebahagiaan itu pecah sudah, memaparkan rasa syukur yang tak akan bisa aku gambarkan walau dengan berjuta-juta rangakaian kata indah. Senyum itu kembali mengunciku, senyum dari wajah menawan yang sudah menyihirku sejak 4 tahun yang lalu. Senyum yang selalu memberiku kesempatan untuk meneguk indahnya cinta, senyum yang selalu menemaniku menghitung setiap detik kebahagiaan dan kesedihan yang berlalu.

“Aku mencintaimu, Kim So Eun... istriku.” Kim Bum mengecup keningku penuh cinta. membawaku kembali melambung terbang dengan seluruh cinta yang ia punya sampai akhirnya aku terjatuh di dalam rengkuhannya. Aku menangis dan kubalas ungkapan cintanya dengan suara yang teramat parau.

Serbuk kebahagiaan berjatuhan di ruangan besar ini, menyapa setiap orang yang hadir untuk menyaksikan rapat puncak dari perjalanan cinta, dengan aku dan pria yang kini sudah menjadi suamiku sebagai petingginya.

Bersambung…

Darkness (Chapter 2)



KIM BUM

Aku menarik sudut bibirku hingga membentuk seulas senyum manis ke pantulan diriku yang terpampang di sebuah cermin besar. Perempuan bergaun putih itupun membalas senyumku dengan cara yang sama, memandangku dengan tatapan tak terartikan.

Kusapu pandanganku ke balik punggung gadis bergaun putih itu, menyapa pandangan hangat penuh haru dari wanita paruh baya yang kini merengkuh pundakku dalam diam. Tak perlu ada kata-kata yang terlontar, pandangan itu sudah cukup menjelaskan semuanya bagiku. Kurasakan lekuk pundakku dialiri cairan hangat yang mengalir bak air sungai yang bening. Ya...wanita itu menangis. Dan aku berani bersumpah, itu adalah tangisan bahagia.

Aku berdiri, dan berbalik untuk menghadap wanita itu. Kuseka air matanya dan sekali lagi ia merengkuh pundakku.

“Semoga kau selalu bahagia, Kim Bum.” dikecupnya pucuk kepalaku lembut. Rasa hangat itu seketika masuk ke seluruh aliran darahku hingga aku merinding dibuatnya. Aku mengangguk perlahan, kupaku mata ibu dengan tatapan meyakinkan, bahwa aku pasti akan bahagia.

Bersambung…

Darkness (Chapter 1)



Aku meringkuk di sudut ruangan sempit dan pengap ini, ditemani sepi dan dipinangi gelap. Embun dari pelupuk mata tak henti-hentinya mengalir menelusuri setiap lekuk wajah pias oleh kesedihan luar biasa. Pikiranku kalut, hatiku kosong, perasaanku hampa. Rasa sesak itu tak juga mau berhenti menghujam hatiku, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbekas. Merengkuh setiap pori-poriku dalam belenggu mematikan hingga tak kuasa hidup seperti biasa. Mati rasa!

Bayangan itu terus saja berputar, seolah baru terjadi kemarin. Jatuh tepat dibintik mata, membiaskannya menjadi cahaya samar yang menyakitkan. Menutup gendang telinga, dan memenuhinya dengan irama-irama penyesalan dan keputusasaan. Asaku sudah mati, tak lagi bercokol di jasadku, melayang entah kemana, dan tersesat di lubang kegelapan tak bertepi.

Kini asaku duduk di tepian sepercik cahaya, menyaksikan dengan pandangan hampa ke sebuah sudut memori kusut yang sama sekali tak bisa terhapuskan, berputar setiap detik tanpa ada tombol pause, terpapar secara gamblang di depan lensa mata. Menyesakkan!

Bersambung…

Romansa Di Atas Awan (FF)



Title : Romansa Di Atas Awan
Genre : Friendship, Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 4 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 26 September 2011, 10.58 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Jung Yong Hwa
Baek Suzy
Kim Hyun Joong


Romansa Di Atas Awan

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4 - Tamat

Romansa Di Atas Awan (Chapter 4-Tamat)



Kim So Eun koma, ia terbaring di ruang Cassanova, Secret Garden Hospital. Wajahnya pucat. Harapan dan keyakinannya mengecap dalam pusaran tubuh lemahnya. Dia bermain sendiri dalam dunianya. Aku yakin Kim So Eun tidak koma, tapi dia menghampiri ruang angannya. Setelah semalam dokter melakukan kolrposkopi*), keadaanya semakin membaik.

*)Kolrsposkopi : peneropongan leher rahim. Itu untuk memastikan ada tidaknya kanker di rahim.

Dua orang pemuda datang membesuk Kim So Eun. Aku berada di luar kamar mempersilahkan mereka masuk. Di dalam kamar, ibu Kim So Eun sedang menunggu anaknya siuman.

”Anda temannya?” sapa salah satu dari kedua pemuda itu. Aku sedikit kesal dengan sapaannya. Nada bicaranya tidak sopan.

”Ya.” jawabku sekenanya.

Tampak salah satu pemuda sudah akrab dengan keluarga Kim So Eun. Dia mungkin punya kedekatan emosinal dengan mereka. Aku cuma bisa menyaksikan dia akrab berbincang-bincang dengan ibunya Kim So Eun. ”Siapa dia??” tanyaku pada diri sendiri.

Aku ingin acuh pada pertanyaanku tentang jati diri pemuda itu. Aku ingin berhenti bertanya, tapi tidak bisa. Mungkinkah aku cemburu pada dia. Tidak mungkin. Aku dan Kim So Eun adalah sahabat, tidak lebih. Kedatangan pemuda itu membuat perasaanku risau. Padahal aku tidak punya ikatan apa-apa dengan Kim So Eun selain dari pada sahabat bermain dan bercanda.

Hidup Kim So Eun memang penuh dengan rahasia. Aku mengenalnya dengan baik, dan sampai sekarang pun, aku tidak bisa mengerti dengan keadaannya. Kim So Eun sakit pun aku tidak pernah tahu.

”Aku Jung Yong Hwa, mantan kekasihnya. Dan dia...Kim Hyun Joong, Kakak laki-lakiku.'' kata salah satu pemuda memperkenalkan dirinya padaku dan juga pemuda yang datang bersamanya, yang ternyata kakak laki-lakinya.

''Dia masih terbaring.” ucap Jung Yong Hwa padaku.

”Keadaan yang mengharuskan dia begitu.” balasku.

”Setahun silam aku meninggalkan dia. Dia begitu spesial bagiku. Kami berbeda. Kim So Eun sangat mencintaiku, begitu pula denganku.”

”Cinta itu kadang memilukan.”

”Ya, karena itu aku meninggalkan Kim So Eun. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami karena kami memang berbeda.”

”Berbeda dari apa? Kau meninggalkan dia, karena dia sakit kan?”

”Tepat. Aku tidak mau menjalani cinta jika suatu saat ditinggal mati olehnya.”

”Brengsek. Kenapa kau sekarang kesini?”

Jung Yong Hwa terdiam. Lorong rumah sakit menjadi ajang adu argumen antara kami.

”Semua telah terjadi. Penyesalan tiada arti. Hidup ini adalah pilihan, dan aku memilih untuk seseorang yang lebih kucintai. Aku kesini karena aku masih mencintai Kim So Eun.”

Hatiku langsung bergemuruh. Aku tak menyangka masih ada orang seperti dia. Meninggalkan kekasihnya dengan alasan pasangannya sakit. Jung Yong Hwa melanjutkan perkataannya.

”Kim So Eun punya harapan. Dia pernah punya keinginan untuk pergi ke sebuah dunia miliknya. Dunia di atas awan. Semoga kau bisa memenuhinya.”

”Dia….Kim So Eun sudah pergi ke dunia itu. Sebelum dia tertidur di atas pembaringan. Bodohnya kenapa aku tidak tahu kalau dia mengidap kanker.”

”Kim So Eun sudah siuman. Dia memanggil namamu, Kim Bum.” panggil ibu Kim So Eun padaku.

Aku lekas menghampiri Kim So Eun. aku ingin selalu berada di sampingnya. Tangannya bisa bergerak sedikit. Matanya sayu menatapku penuh arti. Dia tersenyum,

''Aku mencintaimu, Kim Bum.''

Dan akhirnya tangan itu tak bergerak lagi.

”Kim So Eun… kau tidak akan mati hari ini. Semangatmu untuk bermain di bukit Queen akan mengalahkan sakitmu. Aku bersedia menemanimu bermain di sana, di bukit Queen yang berada di dunia di atas awan.”

Air mataku mengalir. Detak jantung Kim So Eun semakin melemah. Ini semakin membuatku bersedih, ketika kutahu Kim So Eun mencintaiku. Dan baru kusadari ternyata aku pun juga memiliki rasa yang sama pada Kim So Eun, aku...aku juga mencintainya.

Haru ini bukan milikku saja. Ibu Kim So Eun dan Jung Yong Hwa - pemuda yang meninggalkannya juga merasakannya. Kini, ruangan itu menjadi berkumpulnya hati yang setia bersama Kim So Eun.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Romansa Di Atas Awan (Chapter 3)



Kami melepas lelah. Setelah hampir 2 jam berjalan, apa yang ingin ditunjukkan Kim So Eun sangat menakjubkan. Tempat menepi dari kegundahan, keresahan, dan perasaan haus akan bersama dengan diri sendiri bisa kutemukan disini.

''Apa yang kau lihat ini belum apa-apa, Kim Bum.” Kim So Eun menerawang pada bekas petang yang tersisa. Bulan sabit mulai meninggi. Kabut bergumul dengan alam, memberi hawa dingin bagi kami.

''Bukit ini masih menyisakan kenangan.”

''Kau sering kesini, Kim So Eun?”

''Tubuhku sudah tidak mengizinkannya lagi, Kim Bum.”

''Maksudmu apa, Kim So Eun?''

''Tak ada yang lebih mengerti keadaan ini dari pada diri sendiri.”

Kali ini Kim So Eun ingin menerjemahkan semua perasaannya. Kim So Eun memetik setangkai bunga, dan memberikannya padaku. Bunga itu hampir layu. Aku kembali bertanya pada diri sendiri kenapa Kim So Eun tidak memetik bunga yang baru mekar di sebelahnya. Sikap Kim So Eun memang membuatku heran. Selama perjalanan dia membuat peristiwa yang kurasa janggal untuk dilakukannya. Dia bukan Kim So Eun yang aku kenal. Malam ini sikapnya sangat berbeda, mulai dari mencium bibirku, membuatku kesal, bahkan semangatnya untuk mencapai bukit ini begitu besar.

''Kau kenapa, Kim So Eun?”

Kim So Eun hanya tertawa.

Benar dugaanku, sikapnya mulai aneh.

''Nikmati saja dunia ini. Bukankah kini semua yang ada bersamaku punya tujuan. Termasuk kau. Selama masih ada waktu, kita bisa mencapai tujuan itu. Namun sayang, aku sudah tidak punya waktu untuk mencapai tujuanku sendiri.”

''Hari ini Kau aneh sekali, Kim So Eun?” Sambil tertawa ia memegangi kedua pundakku.

”Apanya yang aneh. Lihatlah mataku. Air mataku tidak akan mengalir, karena aku masih punya waktu untuk mengenang tempat ini. Setelahnya aku akan pergi.”

Bicara Kim So Eun semakin melantur. Peristilahan yang diucapkannya menambah kejenuhanku untuk berpikir.

”Kau mau kemana? Mati?” ejekku.

Kim So Eun menertawaiku sambil menepuk pundakku.

”Jika kematian terjadi malam ini, aku siap. Mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi.”

Kami terkesiap oleh hempasan angin. Suara di sekitar kami hening. Kami tidak berbuat apa-apa. Kami duduk berpaku lutut, memandangi alam berjumawa pada keadaan. Aku melihat Kim So Eun. Penampilannya yang tomboy kadang membuatku bosan mewanti-wanti untuk merubah penampilan seperti wanita pada umumnya. Malam ini ada cahaya seakan keluar dari tubuh Kim So Eun. Begitu terang, mengalahkan semua cahaya di bukit ini.

”Kim So Eun…” Tiba-tiba tubuh Kim So Eun terkapar. Ia pingsan. Wajahnya pucat. Tubuhnya demam. Aku berteriak. Aku mencoba melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan demi menolongnya. Pikiranku langsung tertuju pada tas ransel miliknya. Aku mencari sesuatu di dalamnya, entah itu obat-obatan atau barang lainnya. Dan aku menemukan sebuah bungkusan kecil, sepertinya berisi obat-obatan.

”Kim So Eun bangunlah.” Ia tak bereaksi. Demamnya semakin tinggi. Aku membuka bungkusan itu, dan ternyata….

''Obat ini??”Aku tidak percaya. Kim So Eun mengkonsumsi obat-obatan ini. Obat-obatan yang pernah aku belikan untuk Baek Suzy. Kim So Eun mengidap penyakit….!

”Arggghhh.. kenapa harus terulang lagi. Kejadian 3 tahun lalu kenapa harus dialami lagi oleh orang terdekatku.”

Dengan sisa tenaga yang aku miliki, tubuh Kim So Eun kugendong. Aku berlari sekencang mungkin melewati semak, menerobos padang ilalang, dan menghancurkan ranjau-ranjau perbukitan. Kim So Eun harus diselamatkan. Sebagai teman dekatnya aku sangat menyesal, karena tidak tahu keadaannya. Apa lagi mengenai sakit yang diderita. Aku ini teman tak berguna. Kim So Eun, maafkan aku. Kau tidak sendiri, masih ada aku yang setia menemanimu. Kita adalah dua insan yang berkarakter sama. Sifat kita introvert. Kita punya dunia sendiri. Dunia yang kita cipta sendiri. Bertahanlah Kim So Eun. Kita hampir sampai di pemukiman penduduk. Kau akan baik-baik saja.

Bersambung…

Romansa Di Atas Awan (Chapter 2)



Di bukit Queen inilah, Kim So Eun pertama kali bertemu dengan Dewa Cinta . Dia mengajak Kim So Eun terbang mengelilingi indahnya surga. Dia juga banyak bercerita tentang seorang bidadari yang ingin keluar dari kungkungan Tuhan. Bidadari itu meminta pada Tuhan agar diberikan satu perasaan, yaitu cinta. Tuhan murka mendengar permintaan bidadari itu. Bidadari tetaplah bidadari yang harus tunduk pada aturan kerajaan Tuhan. Dia tak diberikan perasaan apapun kecuali melaksanakan titah sang raja. Bidadari itu kabur ke dunia. Dia memberontak pada aturan. Lalu, Tuhan mengutuknya menjadi seorang gadis yang malang. Gadis itu terdampar di sebuah bukit yang gersang, sepi, dan jauh dari permukiman. Pertamakali gadis itu tak tahu apa yang hendak dilakukan. Ia menemukan pohon kecil yang tumbuh. Dengan cinta yang dimilikinya, ia memelihara pohon itu.

Bertahun-tahun gadis itu berada di atas bukit. Pohon yang dirawat juga tumbuh besar, sehingga dia membuat tempat tinggal di bawahnya. Gadis jelamaan bidadari itu merasakan apa yang dilaluinya di bukit itu terasa hambar. Ia punya cinta, tapi tidak tahu kemana cinta itu tertambat selain kepada tumbuhan. Kembali dia bertanya pada Tuhan tentang takdirnya sebagai manusia. Namun kali ini Tuhan tak mengindahkan permintaannya untuk diberikan seorang yang bisa mendampingi dirinya. Ia tak percaya lagi pada Tuhan. Tuhan pun bertambah murka. Kemudian Tuhan memberikan dua pilihan padanya. Ia kembali ke surga sebagai hamba sahaya atau tetap berada di atas bukit tanpa ditemani seorang manusia. Gadis itu tetap dengan pilihannya untuk tetap tinggal di bukit itu walau dia harus sendiri. Dengan keikhlasan serta resiko yang harus ditanggungnya, ia menghabiskan waktu hidupnya di bukit Queen. Cinta yang dimiliki gadis itu menjelma menjadi gumpalan awan disertai bintang-bintang. Gadis itu oleh penduduk sekitar dinamakan Queen, sehingga bukit itu dinamakan bukit Queen.

Setiap malam, bukit itu bersinar terang. Tidak semua orang bisa melihat keindahannya, hanya jiwa sepi yang bisa menikmati keindahannya. Begitulah cerita Dewa Cinta tentang perjalanan bidadari kepada Kim So Eun.

Bersambung…

Romansa Di Atas Awan (Chapter 1)



Hatinya dirundung ketakutan. Kim So Eun ingin mengejar ketakutan itu sampai dia tahu hidupnya masih punya harapan.

Langit masih mendung. Bintang belum juga tampak untuk dilihat. Kim So Eun mengajakku melintasi padang ilalang, menelusuri jalan becek yang sore tadi diguyur hujan.

''Kita mau kemana?” tanyaku dengan nada heran.

''Tidak usah banyak Tanya, Kau Ikut saja.”

Kakiku mulai kelelahan mengikuti irama langkah Kim So Eun. Baru kali ini aku melihat sosok Kim So Eun yang penuh semangat. Penasaran membuatku juga bersemangat untuk terus berjalan.

''Setelah sampai kita akan menemukan keragaman jiwa yang pernah dibungkam oleh kesepian.”

Aku bertambah heran. Sesuatu yang dimaksud Kim So Eun bukanlah hal yang mustahil untuk ditanyakan. Di perbukitan ini, tidak mungkin ada manusia yang berani naik dalam keadaan seperti ini. Jalannya licin. Batu kecil dan besar menganga, siap memangsa kaki yang menginjaknya. Tidak menutup kemungkinan jka ular juga siap mematuk. Namun Kim So Eun membuktikan bahwa dirinya bisa melalui itu.

''Bodoh.” umpatku dalam hati. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi meski semangat itu menggebu. Jari kakiku sudah menjadi korban keganasan batu alam. Sayatan kecil disertai percikan darah membuatku enggan untuk melanjutkan perjalanan. Kim So Eun melihat luka dikakiku. Dia malah tertawa mengejek.

''Kau memang tidak pernah tahu penderitaan orang lain, Kim So Eun.” ungkapku sembari menahan kesakitan.

Kim So Eun tak henti-hentinya mengejekku.

Tiba-tiba...

Muuuach…

Sesuatu mengenai bibirku. Perasaanku berubah drastis. Ciuman itu…

''Kita hampir sampai, Kim Bum.'' ucapnya.

Aku masih terpaku dengan hadiah yang pertamakali Kim So Eun berikan. Dunia ini seakan menjadi perlintasan antara aku dan Kim So Eun. Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah sebuah perasaan kosong. Kim So Eun telah berbuat sesuatu yang tak pernah kusangka sebelumnya. Ciuman yang sangat spesial bagiku.

Kim So Eun manarik tanganku. Dari jarak 15 meter bukit Queen sudah terlihat. Kami kembali melanjutkan perjalanan.

''Kau yakin akan menemukan keindahan setelah ini, Kim So Eun.” tanyaku lagi.

''Jangan cerewet, Kim Bum. Nanti, kau lihat saja sendiri.”

Aku terdiam. Barangkali benar. Keindahan itu sudah hampir tampak. Cahaya gemilang berpijar dari atas bukit Queen. Itukah yang dimaksud Kim So Eun dengan dunia di atas awannya. Aku tak sabar lagi ingin cepat sampai ke bukit itu. Bersama Kim So Eun aku menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang hanya Kim So Eun yang tahu keberadaannya. Dan sekarang aku juga tahu. Kim So Eun semakin erat menggenggam tanganku. Mendung sudah hilang, berganti gemerlap bintang-bintang. Kami sudah menginjakkan kaki di atas bukit Queen. Kim So Eun… kau memang wanita yang berbeda.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...