Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Selasa, 28 Juni 2011

Love Story In Beautiful World (Chapter 28-Tamat)



Kim Bum berjalan di bawah pohon-pohon mahoni. Rumah yang berpagar warna hijau itu berdiri indah dalam senja. Warna merah masih tersisa di langit barat.

Pemuda itu memperlambat langkahnya. Matanya was-was menatap rumah berpagar hijau itu. Di teras itu, Kim So Eun, Kim So Eun, Kim So Eun!

Kim Bum berdiri di pintu pagar yang terbuka, dan menyebut nama gadis itu.

Kim So Eun mengangkat kepala. Sesaat dia terpana.

"Kim Bum," desisnya. Dia bangkit. Dia menuju pintu pagar.

Dia semakin dekat. Dan, dalam cahaya langit, Kim Bum melihat wajahnya yang cekung. Ah!

"Kau sakit, Kim So Eun?"

Kim So Eun menggeleng.

"Tapi, tanganmu dingin."

"Nanti juga panas asal tetap kau pegang," kata Kim So Eun.

Dia kelihatan lebih kecil dari biasanya. Kim Bum ingin mendekapnya. Alangkah anehnya. Di depan Yoon Eun Hye, Kim Bum merasa dirinya murid TK, sedang di depan gadis ini dia merasa layak menjadi kakak yang akan selamanya melindungi.

"Kenapa lama tidak datang?" desah gadis itu.

"Sekarang aku datang."

Mereka masih tegak di pintu pagar. Kim So Eun memegang tangan lelaki itu.

"Ayo, kita jalan-jalan," kata Kim Bum.

"Sekarang?"

"Ya, sekarang."

"Begini saja?" Kim So Eun melirik sandal jepit di kakinya.

"Ya, begini saja."

Kim So Eun merangkul tangan Kim Bum yang kukuh. Dan, mereka berjalan di bawah pohon-pohon mahoni yang tak henti-hentinya meluruhkan daun.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Love Story In Beautiful World (Chapter 27)



Beberapa kali berkunjung, beberapa kali berjalan bersama, sesungguhya keinginan Kim Bum untuk mengulum bibir gadis itu sudah memanggilnya. Sebab, selamanya, ke sanalah arah setiap berpacaran. Sebelum sampai pada titik itu, belum lagi bisa dikatakan berpacaran. Itu baru proses.

Maka sore itu, ketika di rumah Yoon Eun Hye sepi, Kim Bum sudah mengintai segenap penjuru. rumah yang nyaman untuk tempat penyerangan itu. Pilihannya jatuh pada halaman belakang. Tempat yang dilindungi penyekat-penyekat dan tumbuhan jalar. Lebih-lebih di sana-sini bergantungan anggrek.

Dan, ketika Yoon Eun Hye mulai menurunkan pot anggrek, Kim Bum sedang memikirkan momen yang paling tepat. Tetapi, gadis itu selamanya sesopan guru Taman Kanak-kanak.

Lalu Kim Bum berkata, "Seminggu lagi anggrek itu mekar." Yoon Eun Hye mengangguk tanpa mengalihkan matanya dari daun-daun anggrek.

"Kalau aku punya modal, aku ingin membuat film. Film tentang dirimu," kata Kim Bum.

"Ah, apa yang mau difilmkan?"

"Ya, apa saja. Pokoknya bagaimana bisa membuat diri merasa nyaman di tempat ini. Kau berdiri di sela-sela bunga-bunga yang mekar ini. Bukan main! Kau seperti bagian yang tidak terpisahkan dari bunga-bunga ini.”

Yoon Eun Hye tersenyum. Maka matanya yang membintang itu redup-redup memanggil.

"Kalau ada yang minta, kau mau jadi selebritis?"

Gadis itu menggeleng.

"Kau sudah punya modal. Kau tidak kalah cantik dengan artis-artis Hollywood. Kalau kau mau main film, pasti kau bisa menyamai ketenaran mereka."

"Aku tidak pernah tertarik main film. Aku hanya senang menonton film."

"Aku pikir, enak jadi selebritis. Uang banyak, dan bergaul dengan orang-orang ternama."

"Aku lebih suka punya perkebunan bunga."

“Iya, perkebunan bunga, tapi juga main film di kebun bunga. Bukankah itu hebat?"

Yoon Eun Hye tertawa.

"Seandainya main film, kau mau melakukan adegan ciuman?" tanya Kim Bum.

"Apa?!?!"

"Hanya seandainya."

"Tidak tahu."

"Adegan ciuman, misalnya harus dilakukan berdasarkan cerita. Bagaimana?"

"Aku tidak mau main film."

"lya. Ini seandainya."

"Ah, tidak."

"Misalnya perkenalan kita di filmkan. Lalu ada adegan ciumannya. Bagaimana?"

"Ah, tidak."

"Kalau bukan dalam film?"

"Maksudmu?"

"Ya dalam realita. Seandainya aku menciummu?"

"Ah, brengsek!" Yoon Eun Hye tertawa. Dan, dia menggantungkan kembali anggreknya. Kim Bum membantunya. Setelah anggrek itu tergantung, Kim Bum telah memegang tangan gadis itu.

Tangan gadis itu gemetar. Dia menariknya, tetapi Kim Bum malah lebih mempererat genggamannya. Dia malah menarik rapat tubuh gadis itu.

"Ah, jangan, Kim Bum!"

Tubuh Yoon Eun Hye telah terhimpit dalam rangkulan Kim Bum. Dia mengelak sehingga bibir lelaki itu cuma mendarat di pipinya. Tetapi, Kim Bum mendekatkan bibirnya menjalari wajah gadis itu. Lalu berhasil menyentuh bibir gadis itu.

Yoon Eun Hye mengelak, tetapi pelukan lelaki itu semakin menghimpit, membuat napas gadis itu sesak. Dia berhenti meronta untuk mengambil napas. Himpitan itu mengendor. Lalu gadis itu sadar bahwa semakin berontak akan semakin terhimpit. Maka dia pun diam.

Bibir Kim Bum menjalar lagi meyusuri pipi Yoon Eun Hye. Ketika bibir itu menyentuh bibirnya, Yoon Eun Hye tak mengelak lagi. Matanya malu-malu menatap wajah yang rapat pada wajahnya. Sebab, dia pun mulai mengulum bibir yang ada dalam bibirnya.

Anggrek-anggrek yang bergantungan melambai-lambai. Kesenyapan tempat itu menampung aroma bunga yang bermekaran. Tetapi, segalanya terputus ketika suara langkah seseorang menyeruak ke balik bunga-bunga itu.

"Eonni, Yoon Eun Hye Eooni…… "

Yoon Eun Hye melepaskan pelukan. Kim Bum juga melepaskan. Keduanya saling menatap sejenak. Lalu, mereka memandang ke arah pintu.

Kim So Eun! Gadis itu mematung, kemudian terbata-bata berkata, "Maa… maaf… Aaa... aku... tidak... tahu " Lalu dia berbalik dan berlari.

"Kim So Eun!"

Tetapi, gadis itu masuk kembali ke pintu. Yoon Eun Hye mengejar dan memegang lengan gadis itu.

"Kenapa kau langsung pergi?"

"Maaf. Aku tidak tahu. Pintu depan tidak dikunci."

Masih terbata-bata Kim So Eun berkata. "Aku tidak tahu kalau Eonni…. Maafkan aku, Eonni. Permisi…..”

Yoon Eun Hye heran melihat gadis itu gemetaran.

"Kenapa kau, Kim So Eun? Kenapa?"

Kim So Eun menggeleng.

"Aku pulang saja, Eooni."

"Ah, jangan!"

"Aku pulang saja," kata Kim So Eun semakin gemetar ketika Kim Bum mendekatinya.

Dan, Kim Bum terpana menatap Kim So Eun. Inikah Kim So Eun, gadis yang bermata galak dulu? Ah! Betapa murung mata itu. Betapa kuyu. Telah hilang keceriaan yang pernah dimilikinya. Bibirnya yang mungil begitu pias.

Kim So Eun melepaskan diri dari pegangan Yoon Eun Hye, dan melangkah cepat.

"Kim So Eun! Ada apa?"

Kim So Eun tak menjawab. langkahnya bergegas.

Mereka bertiga melintasi ruang tengah. Langkah mereka terbenam dalam permadani yang menghampar di lantai. Yoon Eun Hye masih berusaha menahan Kim So Eun, tetapi gadis itu seperti robot melangkah. Terus keluar.

Kim Bum terbengong-bengong mengikuti langkah gadis itu dari belakang. Dia menatap bergantian kedua tubuh gadis di depannya. Sesekali ke arah gadis yang berkali-kali berkata, "Kenapa?" Lalu berpindah ke arah gadis yang melangkah tergesa tanpa suara. Rambut gadis itu terayun-ayun. Lehernya yang kecil sesekali nampak jika rambut tersibak. Leher yang putih, tetapi lebih kurus dari beberapa waktu yang lalu. Kim So Eun masuk ke mobil yang menunggunya. Tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Yoon Eun Hye. Hanya dua patah kata kepada Sopir, "Ayo, jalan Paman. "

Derum mesin dibawa mobil yang berlari. Yoon Eun Hye terpana. Kemudian bahunya terkulai. Pelan-pelan dia melangkah ke teras. Kim Bum termangu di depan teras itu. Matanya masih terpaku menatap ke jalan. Dia tetap mematung sementara Yoon Eun Hye berkali-kali bergumam, "Kenapa anak itu? Kenapa anak itu?"

Kemudian keduanya membisu.

Kemudian Kim Bum duduk. Suara keriut kursi membuat Yoon Eun Hye menatapnya.

"Dia kurus sekarang," kata gadis itu. "Sejak tunangannya di Jerman menikah."

"Ya," gumam Kim Bum, sedang matanya masih menerawang ke udara. Udara kosong yang baru saja terbelah mobil.

"Dia sakit," kata Yoon Eun Hye.

"Sakit?"

"Entahlah. Pernah aku datang ke rumahnya, dan Ibunya cerita, katanya Kim So Eun tidak mau lagi kuliah, tidak mau jalan-jalan. Hanya diam di rumah saja."

Kim Bum membisu.

"Anak itu terlalu dimanjakan. Akibatnya, ada persoalan sedikit saja merusuhkan hatinya," lanjut Yoon Eun Hye.

Di halaman, bunga-bunga bergoyangan. Perasaan Kim Bum pun bergoyangan tak keruan. Sisa-sisa tatapan mata Kim So Eun yang kuyu melecut-lecut dadanya. Dilecut-lecut bibir Kim So Eun yang pias. Dilecut-lecut suaranya yang terbata-bata mengatakan, "Aku tidak tahu kalau Eonni…. Maafkan aku, Eonni. Permisi…..”

Dan, Kim Bum mengingat-ingat lagi kata-kata Kim So Eun, "Benarkah tidak karena tersinggung makanya kau tidak mau berbicara denganku? Benarkah cuma karena sibuk?"

Kim Bum menarik napas. "Oh, ya, aku baru saja baca iklan di koran. Ada novel-novel baru. Mungkin sudah dijual di Toko buku terdekat. Kau sudah melihatnya?" Suara Kim So Eun lagi. Kim Bum merasa jarinya kejang. Dia menghapal, "Kenapa tidak mau datang? Kenapa?"

Kim Bum merasa putaran di dadanya semakin melilit.

"Lama ya kita tidak mengobrol. Lama sekali rasanya."

Yoon Eun Hye terkejut.

Kim Bum tersandar bahwa dia baru saja memukul tangan kursi kuat-kuat.

"Ada apa?" tanya gadis itu.

"Ah, tidak."

"Aku tidak habis pikir, kenapa anak itu begitu. Dia datang, tapi terus pergi seperti panik."

"Mungkin... mungkin... karena ada aku," kata Kim Bum terputus-putus.

"Ada kau?"

Kim Bum tertunduk menerima tikaman mata gadis itu.

Keduanya diam.

"Kau mencintainya?" tanya gadis itu tiba-tiba. Kim Bum merasa napasnya terperangah. "Jawablah!"

Kim Bum tak bersuara.

"Sebenarnya kau cuma mencari hiburan, dan datang padaku!" kata gadis itu.

Kim Bum meliriknya.

Gadis itu tetap menikamkan pandangan sembilu hingga Kim Bum seperti murid Taman Kanak- kanak yang dimarahi gurunya.

"Hanya selingan. Dan, aku pun tidak mencintaimu," kata Yoon Eun Hye kemudian.

Kim Bum membisu.

"Hei, kau belum menjawabnya. Kau mencintainya?”

Kim Bum menekuri lantai.

"Kalau kau mencintainya, kenapa kau tidak datang padanya?"

"Ibunya, Ibunya sudah menghinaku."

"Hmmm picik! Dia, Kim So Eun, pernah menghinamu?"

Kim Bum tergugu.

"Siapakah yang kau cintai? Ibunya, atau dia?"

“Aku…..”

"Kalau kau merasa pernah terhina, kau bisa membuktikan bahwa apa yang mereka duga itu tidak benar," kata gadis itu.

"Kenapa?" kejar gadis itu.

"Aku tidak tahu. Aku juga bingung."

"Dia sangat manja padaku," kata Yoon Eun Hye. "Baginya, aku adalah kakak perempuan-nya. Tapi, kelakuannya tadi sungguh-sungguh membingungkanku."

"Ya," desah Kim Bum.

Yoon Eun Hye mulai memperhatikan kemurungan di wajah pemuda itu. Dia semakin menangkap kekosongan dalam mata termangu pemuda itu. Mata yang masih lekat di pintu pagar.

“Bagaimana sebenarnya hubungan kalian?" kata Yoon Eun Hye.

Kim Bum tergagap. Tak bisa berkata-kata.

"Kalian pernah berteman akrab?"

"Aku... aku….. " Kim Bum tak mampu meneruskan.

Yoon Eun Hye pelan-pelan mengangguk. Lalu katanya, "Sekarang aku mengerti. Rupanya kaulah orang yang dimaksud Ibu Kim So Eun." Mata gadis itu tajam menikam.

Kim Bum tertunduk. "Ya, akulah orangnya.”

Kim Bum tertekuk bagai kehilangan kekuatan.

"Ibu Kim So Eun pernah bercerita tentangmu, tapi sayang dia tidak menyebutkan namamu. Jadi, aku tidak tahu selama ini kaulah orang yang dimaksud.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Kim Bum lesu.

“Dia menyesal.”

Kim Bum masih termangu.

“Pergilah!” keras suara Yoon Eun Hye.

Kim Bum menatapnya.

“Lupakan saja ke-playboy-anmu. Dan kau bisa menciumku, itu betul-betul bukan main, dan kurang ajar. Tapi, kuharap kau mulai menghentikan keliaranmu itu. Kau sudah memerlukan tempat singgah yang paling damai. Kim So Eun menunggumu!”

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 26)



Kim So Eun termangu di teras rumahnya. Dia malas kuliah. Park Shin Hye berkali-kali datang membujuknya agar kuliah, atau jalan-jalan ke St.Ponds Road, atau ke bioskop, atau ke mana saja, tetapi Kim So Eun 1ebih suka di rumah. Ah, gadis itu merusuhkan hati ibunya. Sementara itu, ayahnya tetap asyik bekerja.

Nyeri dada ibu Kim So Eun menerima tatap mata anaknya ini setiap kali mereka bertemu pandang. Mata yang menuduh. Mata yang menyalahkan. Mata yang tak mau tersenyum.

"Seandainya Ibu tidak mendesak aku bertunangan dengan Jang Geun Suk. Seandainya Ibu tidak merusuhi hubunganku dengan Kim Bum. Seandainya Ibu tidak terlalau mencampuri urusan-urusan pribadiku. Seandainya Ibu membiarkan aku memilih mana yang kuanggap baik..."

Seribu 'andai kata' akan berputaran kalau hati sedang dilanda sesal. Seandainya adalah kemungkinan-kemungkinan baik yang akan jadi bumerang setelah dia tak muncul. Seandainya adalah harapan-harapan yang akan menikam setelah dia tak terwujud. Seandainya adalah sesuatu yang hampa tetapi mengikat orang untuk percaya bahwa dia ada. Seandainya adalah nomor terakhir yang tak terjamah.

Di sini Kim So Eun sediam robot. Di sana, Kim Bum berkali-kali menatap langit yang berangsur digelapi awan. Yoon Eun Hye mengipas-ngipaskan katalog pameran merangkai bunga itu. Udara pengap dalam mendung yang mengintai.

Mereka berdua baru keluar dari Gedung Camation. Kini mereka menyusuri jalan di depan Gedung Garnier. Lampu-lampu kristal di gedung itu menyemarakkan tempat itu. Rumputan hijau membentang di seluruh halaman.

Kim Bum masih melihat-lihat ke langit.

"Sepertinya akan hujan?" kata Yoon Eun Hye.

"Iya," kata Kim Bum. Dan, titik pertama terasa di kepalanya. "Kita nonton saja ya?" lanjutnya.

Yoon Eun Hye berpikir, tetapi langkahnya lebih tergesa. Mereka tiba di depan Bioskop. Titik- titik hujan kian terasa.

"Kita nonton untuk merayakan hujan pertama setelah musim panas yang panjang," kata Kim Bum.

Yoon Eun Hye memperhatikan poster film yang akan diputar. Mereka pun menonton. Bagi Kim Bum, es di puncak gunung itu kian terpanjat. Dua jam dalam gelap, duduk berdampingan, merupakan permulaan yang mencairkan kebekuan gadis itu.

Tangan Kim Bum menindih tangan gadis itu. Yoon Eun Hye tidak menolak, tetapi tidak pula bereaksi. Cuma, memang harus pelan-pelan. Jangan sampai menggebu-gebu. Jangan sampai membuat shock, pikir Kim Bum.

Di taksi pun, dalam rintik-rintik hujan yang mendinginkan itu, Kim Bum tetap sesopan mungkin. Dia hanya merangkul gadis itu dan menjaga agar dinginnya hujan tidak menerpa gadis itu.

Bersambung...

Love Story In Beautiful World (Chapter 25)



Hari demi hari Kim Bum sibuk menggarap penyusunan skripsinya. Kadang-kadang mendatangi rumah Yoon Eun Hye. Maka dia pun bisa melupakan kemurungan-kemurungannya. Teori-teori yang memusingkan kepala bertarung dengan wajah cantik yang bersenyum bukan main. Sebuah kesegaran dalam hari-hari yang indah!

Dan, pagi itu Kim Bum terbenam di kamarnya yang jendelanya dinaungi pohon rindang. Dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumah kontrakannya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk dan pemilik rumah memanggilnya, "Kim Bum, ada tamu."

Kim Bum keluar, ke ruang tamu. Jantungnya menyentak. Apa-apaan ini? Ibu Kim So Eun, sendirian, di ruangan itu.

" Kim Bum, maaf saya mengganggu. Alamatmu Bibi dapatkan dari Lee Hong Ki."

"Oh, ya?"

Sesaat wanita itu diam. Kim Bum menatap keluar. Bingung.

"Saya menyesal telah menyinggung perasaanmu sewaktu datang tempo hari. Saya tidak bermaksud menyakiti hatimu. Sungguh. Sebagai orang tua, saya hanya memikirkan kebahagiaan Kim So Eun. Dan, saya pun tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan. Saya sadar bahwa tidak setiap pendapat dan keputusan saya benar."

Kim Bum mengaruk-garuk kepalanya.

"Jadi, saya berharap kau mau melupakan ucapan saya tempo hari."

"O, saya sudah lama melupakan itu," kata Kim Bum hambar.

"Terima kasih, Kim Bum. Datanglah ke rumah."

"Ya, kalau sempat."

"Kim So Eun menunggu."

Kening Kim Bum berkerut tujuh.

"Teleponlah ke rumah. Tahu nomor telepon di rumah?"

Kim Bum diam. Wanita itu membuka tasnya.

"Ini kartu nama Ayah Kim So Eun. Teleponlah, Kim So Eun di rumah."

Kim Bum masih dicekam kebingungan ketika mengantar wanita itu ke mobilnya. Dan, tetap mematung saat sopir mobil BMW keluaran terbaru itu menekan gas dan mobil menjauhi rumah. Kim Bum menatap kartu nama di tangannya berkali-kali. Dia membaca angka-angka di kartu itu.

Dia tak tahan dicekam kebingungan. Akhirnya dia menghubungi Lee Hong Ki.

"Ceritakan kenapa ibu Kim So Eun datang ke rumahku!" katanya.

"Mereka terpikat denganmu." Suara Lee Hong Ki renyah.

"Jangan tertawa! Apa maksud dari semua ini!?"

"Ingin memungutmu jadi menantu."

"Jangan main-main, Lee Hong Ki. Kuremukkan nanti semua tulang rusukmu!"

Lee Hong Ki menerima kemarahan lewat kabel itu. "Tenanglah, Kim Bum. Sedang ada perubahan angin.”

"Ini membuat kepalaku hampir pecah. Aku betul-betul tidak mengerti. Dia sudah menghinaku dengan membangga-banggakan calon menantunya yang kandidat doktor itu. Sekarang dia menyuruhku datang. Apa-apaan itu?"

"Nah, itulah masalahnya. Kandidat Doktor itu tidak bisa diharapkan lagi. Memang brengsek anak pamanku itu. Baru beberapa hari yang lalu kami tahu bahwa dia menikah dengan gadis Jerman."

"Apa?!?!" Kim Bum melepaskan napas berat.

"Dia anak pamanku, tetapi itu malah semakin membuatku membencinya."

Seketika keduanya terdiam.

"Hallo, kau masih di situ, Kim Bum?"

"Ya."

"Hatimu lega sekarang? Jalan sudah terbuka lapang."

"Terbuka? Fui! Terkutuklah kalian semua!"

"Eh, kenapa?"

"Setelah pria itu tidak bisa diharapkan, baru aku ada harga di mata mereka? Aku cuma barang pengganti!"

"Tapi, Kim So Eun mencintaimu."

"Cinta?! Aku cuma ban serep yang harganya lebih murah dari ban BMW-nya."

Krak!

Kim Bum. meletakkan gagang pesawat telepon. Dia kembali ke kamarnya. Hatinya sakit. Perih. Mual. Dan, semacamnya. Belum lama Kim Bum duduk, Lee Hong Ki memasuki halaman rumahnya. Dan, Lee Hong Ki masuk ke dalam.

"Kenapa marah?" tanyanya. Kim Bum membeku.

"Dulu kau mengejar-ngejar gadis itu."

"Dulu!" kata Kim Bum tawar.

"Lalu, sekarang?"

"Ketika dulu ibunya menghinaku dangan memuji-muji calon doktor teknologi itu, aku bisa memakluminya. Karena aku sadar, aku cuma mahasiswa. Tapi, sekarang setelah calon doktor itu membatalkan pertunangannya, kebaikan ibu itu bukan lagi kebaikan. Itu tikaman yang sangat nyeri ke hatiku. Apakah dia mengira lantaran aku miskin lantas bisa dibelinya? Apakah dengan menunjukkan BMW keluaran terbarunya dia mengira aku akan merangkak ke rumahnya? Terkutuklah kekayaan mereka!"

"Tapi kau mencintai Kim So Eun kan?"

"Mungkin aku mencintai gadis itu. Tapi, kalau aku diperlakukan sebagai barang yang bisa dibeli, persetanlah cinta! Setelah dia mengecewakan anak gadisnya karena mempertunangkannya dengan pria yang tidak setia, dia seenaknya ingin mengganti dengan pria lain. Kalau perlu membeli pria itu. Lebih baik dia membeli pria lain. Bukan aku!"

"Kukira bukan begitu maksud ibu Kim So Eun," kata Lee Hong Ki pelan.

"Cinta bisa dibeli di zaman ini. Makanya mereka mengira bisa membeli diriku. Coba, lihat ini!" Kim Bum melemparkan kartu nama yang ditinggalkan ibu Kim So Eun.

Lee Hong Ki kaget.

"Kenapa dia memberikan kartu nama itu? Pasti karena beberapa perusahaan raksasa yang di Seoul yang tertulis di situ. Pasti dia mengira nama Ayah Kim So Eun yang tercantum di situ sebagai presiden direktur dapat membuat mataku jadi hijau dan aku akan merangkak ke rumahnya agar diangkat jadi menantu. Aishhh! Alangkah menghinanya!"

Lee Hong Ki membisu. Mata Kim Bum panas. Bibirnya gemetar lantaran menahan ledakan-ledakan di dadanya.

"Orang tuaku memang tidak kaya di Chuncheon sana," katanya. "Tapi, minimal kami sekeluarga diajarkan untuk punya harga diri."

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Lee Hong Ki menimang-nimang kartu nama yang di tangannya.

"Apa yang dia katakan, waktu memberikan kartu nama ini?" ujarnya.

"Katanya agar aku menelepon anaknya pada nomor yang ada di kartu nama itu."

"Mungkin dia jujur."

"Ah, itu cuma alasan. Dia cuma mau menunjukkan betapa besar perusahaan milik mereka. Kalau nomor telepon, dia bisa saja memberi tahu langsung. Tidak perlu memberikan kartu nama. Dan, dia tidak perlu datang dengan BMW keluaran terbaru-nya itu."

"Karena, beberapa hari ini Kim So Eun mengurung diri terus di rumahnya. Terakhir keluar waktu mencari kau di fakultas. Cuma, ketika itu aku belum tahu kabar dari Jerman. Mungkin dia ingin menyampaikannya padamu. Apa kalian bertemu waktu itu?"

Kim Bum tak menjawab.

"Dia mencintaimu, Kim Bum.”

"Sudahlah, Lee Hong Ki. Jangan lagi bicarakan itu. Itu cuma mengingatkanku pada keluarganya. Lama-lama aku bisa membenci orang-orang kaya.”

"Dia gadis yang lembut. Dia perasa."

"Ah!" Kim Bum menggaruk kepalanya kuat-kuat.

"Kenapa kau datang ke rumahnya, untuk membuatnya mengenalmu lebih jauh? Kenapa kau mengikatnya, dengan pembicaraan-pembicaraanmu? Kenapa kau mengajaknya nonton. Kenapa kau…..?”

"Itu dulu!" Kim Bum memutus.

"Tapi, berbekas dalam hatinya."

"Persetan dengan itu semua!"

"Kalau kau tidak muncul dalam hidupnya, biarpun putus dengan Jang Geun Suk, dia tidak akan apa-apa. Hubungan mereka memang hambar. Dia bisa memulai lagi dari awal dengan pria lain. Memulai dengan hati yang siap diisi. Tapi, lantaran ada kau, dan kau menyepelekannya, dia mengalami pukulan beruntun dua kali. "

"Cukup, tidak usah membicarakan dia lagi!"

"Kenapa tidak? Waktu mau datang ke rumahnya, kau menanyakannya padaku."

"Tapi, ketika itu kau lepas tangan."

"Sekarang aku tidak bisa lepas tangan. Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

"Lantas, apa maumu?"

"Kau harus ke rumahnya!"

Kim Bum tertawa pahit.

"Seberapa besar kekuasaanmu, Lee Hong Ki, sampai bisa memaksaku? Sampai polisi pun memerintahku, tidak akan kuturuti." Dan, di kepala Kim Bum berkelebat bayangan Yoon Eun Hye. Juga kehalusan wajah gadis itu ketika mereka berdua berdiri rapat memperhatikan anggrek-anggrek yang bergantungan di belakang rumahnya.

"Bagaimanapun kau harus ke rumahnya. Atau kau harus musnah dari kenangannya?"

"Eh, gila! Soal kenangan itu urusan dia sendiri. Dia boleh menghapuskannya dengan atau tanpa izinku."

"Kau akan berhadapan denganku kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirinya."

"Aisshh! Apa yang bisa kau lakukan padaku? Duel? Ah, kita sama-sama latihan Taekwondo, Lee Hong Ki. Aku sudah ban hitam, dan kau baru ban coklat."

Lee Hong Ki berdiri.

"Kita tidak akan berkelahi, Kim Bum. Kau hanya akan berkelahi dengan hatimu sendiri. Sebab, hatimu tahu bahwa di sana ada gadis yang kau buat mencintaimu, tapi kemudian kau sia-siakan. Gadis yang belum pernah mengenal kepahitan dunia." Lee Hong Ki keluar.

Kim Bum menyandarkan punggungnya ke kursi, dan bergumam, "Masalahnya bukan cinta atau hati, tapi soal orang tuanya telah mengira bisa membeli diriku untuk pengganti calon doktor yang tidak setia. Itulah lebih baik mencari gadis-gadis dan memulainya dari awal!"

Dan, Kim Bum ingat bahwa nanti sore dia akan menemui Yoon Eun Hye. Mereka akan mengunjungi pameran merangkai bunga yang diselenggarakan oleh Klub Green House, di Gedung Camation.

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 24)



Kim Bum merenungi rerumputan yang dilaluinya. Di sekelilingnya berseliweran mahasiswi. Bau parfum mereka terhambur dibawa angin. Tetapi, Kim Bum tak memperhatikan. Dia berjalan tanpa tujuan di lingkungan kampus itu.

Hatinya kosong. Apakah yang tersisa dari kegembiraan masa lalu? Kecuali kenangan, tak ada lainnya. Satu per satu perempuan yang pernah dekat dengannya menemukan kebahagiaan. Berarti, kebahagiaan bersamanya waktu itu tak ada artinya lagi. Cuma pengisi kekosongan. Sebab, gadis-gadis itu akhirnya mencari dan menemukan kebahagiaan dengan pria yang menjadi suami mereka. Berarti, Kim Bum hanyalah gelembung sabun yang melintas. Berarti, Kim Bum akan lenyap dalam lintasan waktu. Sebab, setiap gadis menemukan dermaganya, dan melabuhkan dirinya di situ.

Tanpa sadar, Kim Bum menjejerkan gadis-gadis yang pernah dekat dengannya. Im Yoona, menikah dengan dokter! Han Hyo Joo, bersama manajer bank asing! Go Ah Ra, di samping pengusaha kaya! Moon Geun Young, dengan suami yang bisa menghadiahi Mobil mewah. Jung So Min, mengikuti suami di Amerika. Dan, siapa lagi, dan siapa lagi?

Ah, apakah arti Kim Bum, mahasiswa yang kabur masa depannya? Cumbuan-cumbuan di kampus ini hanya merupakan selingan dalam hidup yang ceria, tetapi tidak abadi. Sebab, di kampus hanya pacaran, bercumbu, jangan melihat realita. Sekali menatap realita, Kim Bum pun tak ada lagi artinya. Dia menjadi pemuda yang tak tahu ke mana harus pergi, dan apa yang harus diberikannya untuk menghidupi istri.

Kampus adalah dunia mimpi. Semua orang menatap dengan mata terpejam. Begitu terbangun dari mimpi, akan mendapatkan dirinya terdampar pada realita kepahitan demi kepahitan. Segala teori yang indah, sejuta filsafat hidup yang bagus, tak akan bisa bertarung dengan kekayaan… harta yang melimpah.

Maka gadis-gadis yang pernah dicumbu Kim Bum di kampus ini harus mencari pria yang siap menerima mereka di dalam realita. Menunggu Kim Bum sama halnya menunggu kereta yang tak tahu berangkat jam berapa. Bahkan tak tahu berangkat atau tidak. Bercinta dengan Kim Bum sama halnya membeli kucing dalam sarang terbungkus. Geleparnya memang membuktikan gairah dan semangatnya, tetapi akan bahagiakah nanti?

Maka benarlah perasaan ibu Kim So Eun. Sejatilah keibuan perempuan itu. Dia tidak suka memperjudikan nasib anaknya sementara kemungkinan baik telah dimilikinya selama ini.

Jadi, apakah arti cinta yang sebenarnya? Hanya sebagai kekuatan dalam novel-novel dan cerita pengarang-pengarang pemimpikah?

Cintakah namanya tali yang menghubungkan Kim Bum tatkala pacaran dengan Park Ji Yeon? Tak tahu. Toh cinta di situ cuma kekuatan yang mendorong ke arah pernikahan.

Lalu Mrs. Son Ye Jin! Ah, perempuan itu menempati ruang tersendiri dalam hati Kim Bum.

Dan, Kim So Eun! Ah, gadis itu tak tahu akan dikategorikan ke mana. Dia tak bisa dijejerkan dengan gadis-gadis yang pernah dikenal Kim Bum. Gadis-gadis itu bercinta dengan Kim Bum sebelum Kim Bum takut memperlama hubungan. Begitu saja. Wajar. Tetapi, dengan Kim So Eun, hubungan tak sempat berkembang sebab telah dirontokkan oleh kesadaran terhadap realita. Realita bahwa nilai yang ada pada diri Kim Bum sama sekali tak ada artinya, bahwa nilai yang diperlukan adalah jaminan kesejahteraan keluarga, bahwa nilai yang ada dalam diri manusia tak lagi diperlukan sebab yang dibutuhkan adalah nilai yang terlihat dan terasakan dalam kehidupan rill ekonomis. Ah, Kim So Eun yang begitu lembut, gadis yang bergairah membaca novel-novel kesusasteraan besar, gadis yang hidup di tengah keluarga yang tidak mempedulikan nuansa-nuansa manusiawi! Ah!

Gadis itu mendatangi Kim Bum dari depan. Tatkala matanya menangkap sosok Kim Bum, dia mempercepat langkahnya. Wajahnya yang biasa berseri itu kini kusut.

"Kim Bum!" Kim So Eun berdiri dua langkah di hadapan Kim Bum. Sepatu gadis itu menggurat-gurat tanah, mulutnya terkunci.

"Ada apa?" Suara Kim Bum datar.

"Aku tadi mencarimu di fakultas." Kim So Eun terbata-bata. "Aku tadi bertemu dengan Lee Hong Ki, dan dia bilang kau sering kemari. ltulah kenapa aku ke sini."

"Oh, ya?" kata Kim Bum.

Kim So Eun menggigit-gigit bibirnya. Banyak yang ingin diucapkannya, tetapi terbentur pada dinginnya tatapan mata Kim Bum.

"Kim Bum," kata gadis itu setelah memenuhi dadanya dengan udara, "kapan ke rumah lagi?"

Kim Bum mengernyitkan kening. Kim So Eun tak tahan di bawah tatap mata yang dingin menyelidik itu. Lalu dia berbalik dan pergi.

"Apa maunya gadis ini?" kata hati Kim Bum. "Dia menyuruhku datang, padahal ibunya begitu memandang rendah diriku. Seandainya dia mengajak jalan-jalan, masih bisa dipertimbangkan. Tapi, untuk datang ke rumahnya?!"

Kim Bum menendang pucuk gerumbul bunga. Daun dan bunga-bunga bertebaran. Dengan sisi tangannya, dia memarang gerumbul semak itu. Daun dan bunga beserpihan. Lalu dia mengayun langkah. Ke selatan. Melewati Fakultas Sastra. Ah, kenapa tidak singgah dulu ke sini? Fakultas ini banyak menyimpan gadis cantik. Pura-pura mengobrol tentang kesusasteraan bisa menikmati wajah-wajah cantik.

Lalu, dia masuk ke fakultas itu. Nah, itu Yang Yoseob, Yong Jun Hyung, Son Dong Woon. Tetapi, sayang di antara ketiga orang ini tak ada yang agak liar. Sulit diajak kerjasam soal perempuan.

Ah, kenapa aku harus memusingkan ketiga mahasiswa kutu buku itu! Kim Bum melihat gadis yang punya senyum selembut bayi. Bekas pacar kakak Kim So Eun. Hmmm, Yang Yoseob tentunya punya informasi tentang gadis itu.

Namanya Yoon Eun Hye. Mahasiswi fakultas ini, tetapi beberapa lama ini tak aktif. Konon lantaran tunangannya meninggal dalam penelitian Flora & Fauna di Hutan Afrika. Hampir dua tahun dia meninggalkan kuliahnya. Baru sekarang back to campus.

"Kau ada niat untuk mendekatinya?" tanya Yang Yoseob.

"Hmmm." Mata Kim Bum masih menerawang ke gadis itu.

"Kalau kau ingin mendekatinya, kau harus segigih anak-anak Pencinta Alam Sunkyunkwan University," kata Yong Jun Hyung.

"Kenapa?"

"Dia sedingin es di Puncak gunung terdingin. Untuk menaklukkannya memerlukan ketangguhan seorang pendaki gunung kaliber Mount Everest."

"Tapi, dia seindah Gunung Fujiyama," kata Kim Bum.

"Yang penting, ada keindahan di matanya," kata Kim Bum.

Dan, dia mendekati gadis yang telah keluar dari halaman fakultas itu. Sebelum tiba di aspal, Kim Bum telah menjejeri gadis itu.

"Hai," katanya.

Yoon Eun Hye menatapnya. Mata yang penuh tanya itu, betapa indahnya. Seprti terlihat getaran bulu-bulu matanya. Gadis itu berpikir sejenak.

"Selamat kembali ke kampus," kata Kim Bum.

"Oh."

"Maaf, barangkali lupa padaku? Aku pernah lewat dengan Kim So Eun, waktu kau merawat bunga-bunga di halaman."

"Ooo." Gadis itu tersenyum.

"Musim panas seperti ini, bagaimana bunga-bunganya?"

"Wah, repot," kata gadis itu. "Banyak yang layu.”

"Tapi, ada pohon pelindung."

“Ya.”

Lalu mereka bicara soal bunga. Kim Bum bersyukur sebab selama ini dia sering membaca tulisan-tulisan tentang mengurus tanaman dan semacamnya di majalah.

Mereka berjalan terus hingga sepanjang jalan berhamburan nama bunga dan teknik persilangan untuk memperoleh jenis dan warna bunga yang cantik.

Gadis itu merasa jarak perjalanan ke rumahnya lebih pendek. Senyumnya kian mengembang, seperti senyum untuk orang yang sudah lama dikenalnya, ketika Kim Bum berkata, "Ada temanku yang punya jenis anggrek hasil persilangan. Kalau suka anggrek, akan aku bawakan."

Mata gadis itu semakin cemerlang.

Itulah permulaannya.

Ketika kembali berjalan di bawah teriknya matahari, tanpa sadar Kim Bum bersiul lagu cinta, Yang ia tujukan untuk Yoon Eun Hye yang sedang menggelinding-gelinding dalam hatinya.

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 23)



Sebagaimana biasanya, Kim Bum separuh berlari menaiki tangga menuju fakultasnya. Tangga yang berbelok melengkung itu telah dikenalinya seperti telapak tangannya sendiri. Maka setelah undakan yang kesekian, dia tahu sudah sampaikah dia.

Baru sebagian undakan yang diinjaknya, Park Ji Yeon menghadang.

"Hai."

Park Ji Yeon membalas dengan senyum.

"Semakin cantik saja kau," kata Kim Bum. Wajah Park Ji Yeon berseri.

"Lama tidak bertemu, apa kabar Park Ji Eon?" lanjut Kim Bum.

"Seperti yang kau lihat," jawab Park Ji Yeon.

"Seperti yang kulihat, kecuali cantik tidak ada yang berubah." Kim Bum tidak jadi naik. Dia mengiringi langkah Park Ji Yeon begitu gadis itu menarik tangannya.

"Aku barusan dapat surat dari Gwangju," kata Park Ji Yeon.

"Bagaimana kata orang tuamu?"

"Semua lancar."

"Baguslah."

"Terima kasih untuk surat yang kau kirim pada abangku di Incheon," kata Park Ji Yeon.

"Ah, aku tidak pantas menerima ucapan terima kasih ity. Kebetulan aku mengenalnya. Itu saja."

"Berkat bantuanmu maka orang tuaku menyetujui pernikahan ini."

"Apa keluargamu masih setia dengan adat menjodohkan anak-anaknya?"

"Maklumlah, Lee Ki Kwang tidak mereka kenal. Tapi, karena kau menulis yang baik-baik tentang Lee Ki Kwang pada abangku di Incheon, dia jadi pendukung pernikahan kami."

“Hmmm, lumayan juga.”

"Lee Ki Kwang sangat berterima kasih. Sayang dia belum bias bertemu denganmu. Dia sedang pulang ke rumah orang tuanya.”

"Kapan dilangsungkan?" tanya Kim Bum.

"Secepatnya. Menunggu orang tuaku. Kau harus datang, Kim Bum. Harus!"

"Aku pasti datang. Tapi, ada syaratnya."

"Apa?"

"Kalau anakmu lahir, dia harus memanggilku ‘Paman’."

Park Ji Yeon mengikik.

"Bagaimana bayi bisa bicara?" katanya.

"Kalau sudah besar tentunya. Dia harus memanggilku Paman. Paman Kim Bum. Kedengarannya bagus."

“Beres.”

"Eh, begitu yakinnya? Apa sudah dititipi Lee Ki Kwang?"

"Kurang ajar!" Park Ji Yeon memukul punggung Kim Bum. Tetapi, sebelum terkena pukulan, Kim Bum sudah mengelak dan berlari. Dia cuma meninggalkan tawanya yang keras.

Park Ji Yeon menghela napas sebelum kemudian tersenyum. Kim Bum masuk ke ruang kerja Mrs. Son Ye Jin. Dosen itu masih menyelesaikan hasil-hasil riset yang mereka laksanakan tempo hari.

"Lama tidak muncul. Ke mana saja kau?" sambut Mrs. Son Ye Jin.

"Baru empat hari bolos, sudah dibilang lama."

"Iya, tapi kerjaan menumpuk."

Kim Bum membuka map-map dan mulai bekerja. Mrs. Son Ye Jin mengangkat berkas-berkas kertasnya dan pindah duduk di samping Kim Bum.

"Kim Bum," katanya berbisik, "Saya sudah memutuskan," lanjutnya.

Kim Bum menoleh cepat. Mrs. Son Ye Jin memainkan pulpennya yang tertutup di pipi Kim Bum. Menggores-gores.

"Saya akan menikah dengan Mr. Jang Hyuk," kata Mrs. Son Ye Jin.

Kim Bum termangu. Mrs. Son Ye Jin melihat kekosongan di mata pemuda itu.

"Bagaimana pendapatmu?"

"Pendapat saya?" kata Kim Bum terpatah-patah. "Apa yang harus saya katakan?"

"Kau banyak membaca buku-buku. Pengetahuanmu luas, otakmu cerdas. Sekarang, bagaimana pendapatmu untuk keputusan saya ini?"

Kim Bum terdiam. Lama. Cuma suara helaan napas mereka yang terdengar di ruangan itu. Mrs. Son Ye Jin memperhatikan mata pemuda itu. Mata yang termangu. Hidungnya, dagunya, bibirnya menunjukkan kekukuhan. Maka Mrs. Son Ye Jin menarik napas.

Pelan-pelan Kim Bum mengalihkan ketermanguannya, dan memandang lurus ke mata Mrs. Son Ye Jin.

"Saya kira itu memang keputusan yang tepat untuk anda, Mrs. Son Ye Jin. Walaupun mungkin tidak tepat untuk saya. Tetapi, yang harus memilih kan anda Mrs. Son Ye Jin, bukan saya."



Mrs. Son Ye Jin merekam suara yang murung itu diam-diam.

"Ya, lebih baik keluar dari mimpi untuk hidup dalam relita. Seindah-indahnya mimpi, akan lebih baik realita bagaimanapun buruknya."

"Ya," desah Mrs. Son Ye Jin.

"Dan, realita yang anda pilih bukanlah buruk. Itu juga bisa indah nantinya. Tergantung bagaimana anda menikmatinya."

"Ya." Berdesah lagi bibir perempuan itu.

"Apa yang kurang pada Mr. Jang Hyuk? Tidak ada. Kecuali masa lalunya yang tidak berkenan dihati anda. Padahal pernikahan itu untuk sekarang dan nanti, bukan untuk masa lalu."

Mrs. Son Ye Jin tak bersuara. Cuma matanya lekat ke bibir yang telah dikenalnya itu. Bibir yang berani menyeruak menerkam bibirnya.

"Tapi," pelan sekali suara Mrs. Son Ye Jin, "apakan kami tidak terlalu tua?"

"Ah, Mrs. Son Ye Jin! Untuk memulai, 'kan tidak ada perkataan terlalu tua?"

Kerut-merut di kening Mrs. Son Ye Jin semakin samar. Kemudian wajahnya kembali cerah.

"Terima kasih, Kim Bum. Terima kasih." Tangannya menekap tangan Kim Bum.

Untuk beberapa saat mereka diam. Kemudian Mrs. Son Ye Jin memecah kebisuan dengan tawa halus.

"Lucu sekali. Saya cuma berani mencari kepastian darimu, Kim Bum. Cuma kau. Saya tidak punya tempat bertukar pikiran. Seluruh persoalan saya selama ini saya pikirkan dan saya pecahkan sendiri. Tapi, untuk masalah ini saya memang sungguh-sungguh merasakan arti pentingnya dirimu.

"Kapan pun saya selalu siap membantu anda, Mrs. Son Ye Jin.”

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 22)



Di perpustakaan Kim Bum asyik membaca. Dan, dia tersentak ketika kursi di depannya berderit. Seseorang duduk. Kim Bum tetap membaca.

"Kim Bum," Kim So Eun duduk di depan Kim Bum. Matanya yang seperti bintang menghunjam ke mata Kim Bum, Ah, mata yang galak, mata yang cemerlang,

Kim Bum meletakkan bukunya. "Aku sudah mengerti kenapa kau waktu bertemu di St.Ponds Road tempo hari begitu dingin. Ibu sudah cerita bahwa kau datang ke rumah waktu aku sedang tidak ada,"

Kim Bum masih menunggu suara yang akan keluar dari bibir mungil itu, tetapi Kim So Eun terdiam.

"Ya, aku datang waktu kau tidak ada di rumah,"

“Apa yang dikatakan Ibu padamu?”

"Tidak ada,"

"Harus ada,"

Kim Bum diam.

"Pasti ada ucapan Ibu yang menyinggung perasaanmu,"

"Tidak ada."

Kim So Eun termangu. Dia tahu bahwa perasaan pemuda itu tidaklah sekasar tingkahnya yang liar. Hatinya kelewat peka. Setiap bercerita, matanya pun ikut bicara.

"Katakan saja padaku kalau ada ucapan Ibu yang menyinggung perasaanmu.

"Tidak. Sungguh!"

"Lalu, kenapa kau berubah?"

"Aku berubah? Bagaimana aku yang dulu?"

"Dulu kau banyak bicara."

"Sekarang pikiranku sarat dengan rencana riset untuk skripsiku."

"Masa sampai menyita seluruh waktumu?" Kim Bum diam.

"Aku ingin kita saling mengobrol seperti dulu. Tentang buku-buku. Oh, ya, aku baru saja baca iklan di koran. Ada novel-novel baru. Mungkin sudah dijual di Toko buku terdekat. Kau sudah melihatnya?"

Kim Bum menggeleng.

"Aku punya plat baru. Rekaman Orkestra Simphony Hero."

Kim Bum mengeluh dalam hati. Alangkah kekanak-kanakan gadis ini. Semurni bunga lily yang baru mekar.

"Benarkah tidak karena tersinggung makanya kau tidak mau berbicara denganku? Benarkah cuma karena sibuk?" Bola mala Kim So Eun yang hitam jernih menatap tajam.

Kim Bum mengangguk.

Kim So Eun menarik napas dalam-dalam.

"Kalau kau tidak mau ke rumah, kita kan bisa bertemu di sini."

Kim Bum tak menjawab.

"Ayo kita jalan-jalan," kata gadis itu.

"Ke mana?"

"Ke St.Ponds Road. Atau di bawah pohon-pohon cemara itu? Kita mengobrol saja disana."

Mereka keluar dari perpustakaan. Mereka menyusuri jalan-jalan yang dijajari pohon cemara.

"Lama ya kita tidak mengobrol? Lama sekali rasanya," kata Kim So Eun.

"Sekarang apa yang mau kau bicarakan?"

"Ah!” Kim So Eun merentakkan tangan Kim Bum.

Kim Bum melepaskan pegangannya, tetapi tangan Kim So Eun kembali mencekalnya. Kim Bum tersenyum, dan Kim So Eun tersenyum.

Alangkah anehnya, pikir gadis itu. Baru seminggu dia kukenal, tetapi rasanya dia dekat sekali dalam hidupku.

"Aku sudah pernah menceritakan tentang kakakku?" tanya gadis itu.

"Belum."

"Tiba-tiba saja, belakangan ini aku rindu padanya."

"Kakak yang di Jerman?"

"Ah!" Kim So Eun berhenti melangkah. Kim Bum tetap menunduk sambil melangkah. Kim So Eun mengejarnya.

"Kakakku satu-satunya. Dia hilang di Hutan Afrika."



"Ikut organisasi pecinta Floara & Fauna."

"Ya."

"Wah, Hoby yang mulia."

"Aku butuh seorang kakak." Kim So Eun menekuri aspal yang akan dipijaknya. "Selisih umur kami lima tahun," katanya lagi."Waktu aku kecil, dia mau menemaniku main boneka. Padahal dia sendiri senang main layang-layang. Dia betah mendengarkan ceritaku tentang boneka, tentang pengalamanku bermain dengan anak-anak perempuan yang sebaya denganku, tentang bunga. Tapi, dia juga tak segan me-nyelentik telingaku kalau aku bermain-main di tanah becek. Waktu aku masuk SMA, dia sudah aktif di Pecinta Flora & Fauna." Mata Kim So Eun merenung ke kejauhan. "Dia baik sekali."

"Setiap kakak baik kepada adiknya."

"Tapi, dia lebih lagi. Dia gagah, tapi lembut. Dia pemarah tapi juga pembujuk. Seandainya dia bukan kakakku, pasti dia akan kujadikan pacar."

"Bagaimana dengan yang di Jerman?"

Kim So Eun mengerling, tetapi wajah Kim Bum tetap setawar semula. Kim So Eun merasa cincin yang kini dipasang di jarinya, demi memenuhi perintah ibunya terasa lebih sempit dari biasanya.

"Tahu darimana?"

"Semua orang tahu."

“Soal dia, no comment.”.

Mereka terus melangkah pelahan. Akhirnya mereka sampai di bundaran yang menjadi gerbang Shinhwa University.

"Masih mau dengar tentang kakakku?"

"Ya."

"Waktu aktif di Pecinta Flora & Fauna dia menetap di Afrika, Dua minggu sekali dia datang. Tapi, dia tidak punya waktu lagi untuklu. Dia asyik pacaran. Diam-diam aku membenci pacarnya itu.”

"Sekarang pun masih benci?"

"Tentu saja tidak. Setelah aku lebih dewasa, aku menyukai gadis itu. Aku kagum akan pilihan kakakku. Gadis itu sangat baik. Dan, cantik. Sampai sekarang dia belum menikah." Kim So Eun menghentikan langkahnya. "Mau mengenalnya?" tanyanya.

"Tidak."

"Dia cantik."

Kim Bum cuma tertawa.

"Sepertimu?" katanya.

"Lebih. Pokoknya kalau sudah lihat, pasti tertarik.”

"Ah, kau seperti sales obat saja."

"Aku tidak bohong."

Kim Bum tak menjawab.

"Kalau mau, sore ini juga kita ke rumahnya. Bagaimana?"

"Tidak."

"Rumahnya dekat dari sini," desak Kim So Eun.

"Tidak."

"Kenapa?"

“Aku sibuk.”

"Kalau sudah mengenalnya, aku jamin kau akan sering ke rumahnya.”

"Kenapa kau begitu bersemangat mempromosikannya?"

"Karena, dia cantik dan baik sekali."

"Kalau dia cantik dan baik sekali, pasti banyak pria yang menginginkannya."

"Tapi, belum tentu dia mau."

"Lalu, kaukira, seandainya aku yang datang apakah dia akan mau?"

"Aku yakin dia mau."

"Alasannya?"

"Karena... karena... karena kau seperti kakakku."

"Ah, omong kosong!" kata Kim Bum.

"Aku senang kalau kau bias berpacaran dengannya." Kim So Eun tak peduli.

Kim Bum tersenyum.

"Sebentar lagi kita lewati."

Di depan sebuah rumah, Kim So Eun memperlambat langkah.

"Nah, itu dia," katanya.

Seorang gadis sedang menyiram bunga di halaman.

"Eonni!" seru Kim So Eun.

Gadis itu meletakkan penyiram tanamannya, dan menoleh.

"Eh, Kim So Eun!" Gadis itu menghambur ke pintu pagar.

Kim So Eun berbisik ke telinga Kim Bum, "Betul kan apa kataku?"

Kim Bum terpana menatap gadis itu. Bukan main, bukan main. Dia adalah anggrek hutan yang belum terjamah. Halus dan suci. Bibirnya yang mengulum senyum itu, diimbangi oleh matanya yang indah.

"Ayo, Kim So Eun, masuk." Gadis itu mengangguk kepada Kim Bum.

Kim So Eun menoleh kepada. Kim Bum. Kim Bum menggeleng.

"Kami cuma kebetulan lewat. Dari kampus," kata Kim So Eun.

"Ayolah, mampir dulu," rengek gadis itu.

"Sudah terlalu sore, " ujar Kim Bum.

"Kami terus saja," kata Kim So Eun.

"Lain kali kalau tidak mau mampir, akan kupukul kau, Kim So Eun," kata gadis itu.

Kim So Eun tertawa cekikikan. Mereka kembali melangkah.

"Cantik, 'kan?" kata Kim So Eun.

"Excellent."

"Kenapa tidak menanyakan namanya?"

"Aku curiga. Promosimu berlebihan."

"Alaaa, kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak mau. Padahal nanti diam-diam datang bertamu.”

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 21)



Kampus selama ini adalah tempat yang menyenangkan. Di sini, kegelisahan-kegelisahan bisa teredakan. Di sini, frustrasi-frustrasi diendapkan. Tetepi, keteduhan di bawah pohon-pohon cemara kini tak mampu menampung keresahan-keresahan yang timbul. Tak mampu meredakan kemurungan Kim Bum. Kim Bum merasa semakin tersingkir, kian merasakan kesendiriannya.

Hanya Mrs. Son Ye Jin yang layak diingat sekarang. Dan, sore itu mereka hanya berdua di rumah Mrs. Son Ye Jin. Mereka menyusun hasil-hasil angket mahasiswa dalam sistematika metode riset.

"Mrs. Son Ye Jin," kata Kim Bum.

"Hmmm." Mrs. Son Ye Jin tetap asyik membuat grafik.

"Anda mengira Park Ji Yeon pacar saya?"

"Sudah lama saya tahu."

"Dia bukan pacar saya. Sungguh!"

Mrs. Son Ye Jin mengangkat kepalanya dari kertas-kertas yang sedang ditekuninya.

"Kenapa memangnya kalau pacarmu?" katanya.

"Kalau bukan, kenapa saya harus mengakuinya?"

"Setiap kau ganti pacar, saya selalu tahu."

"Bagaimana anda bisa tahu?"

"Saya selalu memperhatikanmu."

"Ha?"

Mrs. Son Ye Jin sadar telah kelepasan bicara. Pipinya memerah. Dia kembali meneliti kertas-kertas di hadapannya.

"Kenapa anda selalu memperhatikan saya?"

"Karena kau brengsek," kata Mrs. Son Ye Jin.

Kim Bum berdecak.

"Kalau begitu, kenapa sekarang anda tidak tahu Park Ji Yeon bukan lagi pacar saya?"

"Putus lagi?"

"Bukan putus. Memang di antara kami tidak ada apa-apa."

"Ah, kau memang playboy."

"Dia akan menikah. Dengan Lee Ki Kwang." Mrs. Son Ye Jin melirik.

"Kau patah hati?"

"Saya tidak tahu."

Ruangan itu sepi kembali. Kim Bum membuat klasifikasi data riset. Tetapi, pikirannya tidak bulat ke pekerjaannya. Wajah Mrs. Son Ye Jin sebentar menarik matanya. Maka akhirnya Kim Bum menghentikan penyusunan data itu.

"Jadi," katanya, "selama ini anda memperhatikan saya?" Mrs. Son Ye Jin menatapnya.

"Karena saya membencimu!" katanya sembari memukul penggaris plastik.

Kim Bum menangkap penggaris itu. Mrs. Son Ye Jin menariknya. Dengan tangan yang satu lagi, Kim Bum menangkap tangan perempuan itu.

"Ah, lepaskan!"

"Saya malah mencintai anda."

"Ah, apa kau sudah gila!"

"Iya, tergila-gila."

Cekalan Kim Bum bertambah kuat. "Lepaskan, Kim Bum!"

Kim Bum malah menariknya lebih kuat sehingga Mrs. Son Ye Jin terangkat dan jatuh di dada Kim Bum.

"Jangan, Kim Bum. Lepaskan!"

"Saya tidak bohong! Saya mencintai anda, Mrs. Son Ye Jin." Ciuman Kim Bum singgah di pipi Mrs. Son Ye Jin. Perempuan itu meronta.

"Jangan bicara soal cinta," kata Mrs. Son Ye Jin terengah.

"Kenapa jangan? Ini kenyataan. Anda mau mengingkari ini?"

Mrs. Son Ye Jin tetap memberontak dan ingin lepas dari pelukan Kim Bum.

"Sudahlah, Kim Bum. Lepaskan tanganmu ini. Kerja kita tidak selesai nanti."

"Biarkan saja! Saya tidak peduli dengan pekerjaan ini!" Rambut Mrs. Son Ye Jin bergesekan dengan wajah Kim Bum. Kim Bum membenamkan wajahnya ke dalam rambut yang legam itu.

"Ah!" keluh perempuan itu.

"Saya mencintai anda. Kenapa kita harus mengingkari ini?" gumam Kim Bum.

Mrs. Son Ye Jin tak meronta lagi. Dia mengusap kepala Kim Bum.

"Kau odipus kompleks*)," katanya.

*) Kompleks Oedipus (Oedipus complex) dalam aliran psikoanalisis Sigmund Freud merujuk pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual di masa anak-anak saat anak dari kedua jenis kelamin menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta secara eksklusif dari ibunya. Nama ini diambil dari mitos Yunani tentang Oedipus, yang tanpa diketahui membunuh ayahnya, Laius, dan menikahi ibunya, Jocasta.

Pada masa selanjutnya, Freud sedikit mengubah pandangannya dengan mengatakan bahwa untuk anak laki-laki sudah ada sejarah identifikasi dengan ayahnya, yang tidak menyertakan persaingan dengannya. Lebih jauh, untuk anak perempuan Freud beranggapan bahwa hubungan dengan ibunya sebagai sangat penting untuk memahami perkembangan psikoseksualnya, yang mempengaruhinya dalam memasuki kompleks oedipus.

Menurut A. Kasandra, psikolog, kecenderungan pria yang jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua darinya, terobsesi karakter ibunya. Kemungkinan sejak kecil si pria tersebut memiliki kedekatan secara emosional terhadap figur seorang ibu. Sehingga, secara tak langsung, alam bawah sadarnya merekam memori kasih sayang yang selama ini diberikan sang bunda.

Kim Bum mengangkat kepala cepat-cepat. "Kenapa odipus? Saya mencintai Anda, apa salahnya?"

"Karena itulah. Kau mencintai perempuan yang jauh lebih tua darimu.”

"Siapa bilang anda tua?"

Mrs. Son Ye Jin mendorong kepala Kim Bum, dan pelan-pelan berkata, "Kelihatannya aku tidak berbeda dengan teman-teman mahasiswimu. Tapi, kau tahu berapa usiaku?"

Kim Bum diam.

"Dan kau, berapa usiamu, Kim Bum?" Kim Bum tak menjawab.

Mrs. Son Ye Jin memegang wajahnya dan bertanya lagi, "Berapa, Kim Bum?"

"Dua puluh lima," kata Kim Bum kemudian.

"Nah, aku sudah tiga puluh dua."

"Kenapa itu harus dipersoalkan? Ketika Demi Moore menikah dengan Asthon Kutcher….. "

"Kita bukan selebritis, Kim Bum." Mrs. Son Ye Jin memutus.

"Tapi kalau saling mencinta?"

"Kau sudah belajar psikologi. Seharusnya kau tahu bahwa cinta di antara orang-orang yang usianya jauh berbeda, merupakan kelainan jiwa."

Kim Bum terdiam. Tetapi, tetap dirasakannya tangan Mrs. Son Ye Jin mengelus-elus rambutnya.

"Mungkin saya memang mencintaimu, Kim Bum," kata Mrs. Son Ye Jin pelahan. "Bagi saya, kau seperti orang yang muncul dari masa lalu yang tidak sempat kurasakan. Tapi, saya tidak mungkin mengembangkan perasaan ini. Sekalipun saya tetap akan berterima kasih padamu sebab kau telah menghidupkan gairah-gairah untuk hidup. Kau telah mencairkan kebekuan yang membalut saya selama ini." Mrs. Son Ye Jin mendekatkan wajah Kim Bum sehingga pipi mereka bersentuhan. "Baiklah, saya beri tahu kenapa diam-diam saya selalu memperhatikanmu. Kau saya lihat sebagai mahasiswa ideal yang saya impikan sejak saya kuliah. Kau brilian dalam studi, tapi tetap hangat sebagai lelaki. Kau tidak dingin karena buku-buku di perpustakaan. SAya membenci keliaranmu bercinta, tetapi dalam hati saya mengagumimu. Kehidupanmu hangat dan otakmu cemerlang. Itulah nilai lelaki yang saya rindukan untuk datang dalam hidup saya. Tetapi, saya ternyata tidak memperolehnya. Buku, cinta, dan pesta adalah kehangatan masa muda di kampus yang saya impikan. Dan, saya tidak bisa menemukan ketiganya dalam diri lelaki yang saya kenal di masa muda saya. Ada yang memeluk bukunya, tetapi lupa pada dua lainnya. Ada yang rajin bercinta, tetapi berotak keledai. Ada yang suka pesta, tetapi mengantuk pada waktu kuliah."

Kim Bum merasakan debur-debur jantung Mrs. Son Ye Jin yang rapat ke dadanya.

"Saya temukan kau setelah masa lalu saya berlalu. Saya mencintaimu, tetapi dalam bentuk cinta yang platonis*). Cinta yang muluk yang tidak mungkin dicapai dalam kenyataan. Sebab, untuk mencintaimu, saya harus memindahkan diri saya ke masa lalu. Padahal itu tidak mungkin bertahan." Mrs. Son Ye Jin merenungi mata Kim Bum.

*) Cinta Platonis,
Sebuah keadaan ketika kau mencintai seseorang…saat perasaan tersebut begitu sulit untuk dibahasakan lewat kata…bahkan terlalu rumit untuk dibayangkan…

Saat kau tidak merasa perlu dirinya tahu bahwa kau mencintainya karena kau tidak ingin dia merasa terganggu dengan keberadaan dirimu,

Saat kau tidak berharap dia membalas cintamu karena kau sudah cukup bahagia dengan bisa mencintainya saja,

Saat kau tidak merasa perlu memiliki dirinya karena kau begitu mencintainya hingga kau ingin melihatnya mendapatkan kebebasan untuk memilih siapapun untuk dicintainya,

Saat kau tidak merasa takut akan kehilangannya karena kau tahu bahwa kau tidak pernah memilikinya dan kau tetap bisa mencintainya,

Saat kau merasa rela untuk melakukan apa saja demi kebahagiaannya karena kau akan sangat bahagia berkali-kali lipat ketika melihatnya bahagia,

Saat kau merasa sangat sedih ketika melihatnya bersedih karena kau merasa sebagian jiwamu ikut hancur dalam genangan air matanya,

Saat kau merasa sakit yang teramat sangat ketika seekor lebah yang
menyengat jari tangannya karena jari tangannya adalah jari tanganmu,

Saat kau merasa mengantuk ketika kelopak matanya tertutup saat dirinya
terlelap karena kau merasa bahwa kau adalah bagian dari dirinya,

Saat kau merasa tidak mampu lagi untuk memikirkan dirimu sendiri karena
kau terlalu sibuk untuk memikirkan segala sesuatu tentangnya karena
hidupnya adalah hidupmu,

Cinta yang menjadi sebuah ironi… begitu tulus namun sangat menyedihkan

Lama mereka cuma bertatapan. Lalu, "Ciumlah saya, Kim Bum," desah perempuan itu.

Kim Bum merangkulnya.

"Ciumlah untuk masa lalu," kata Mrs. Son Ye Jin. Matanya mengaca. "Dan, kita hidup di masa sekarang. Bukan begitu, Kim Bum?" Suaranya lunak.

Tanpa sadar Kim Bum mengangguk.

"Saya menyesal karena telah menghambat studimu. Kau mau memaafkan saya, Kim Bum?"

Jawaban Kim Bum adalah ciuman.

"Sudahlah, Kim Bum, kau sudah tahu seluruhnya. Kau sudah tahu saya mencintaimu, tapi tidak mungkin saya teruskan. Kita harus berhenti, dan saya harus mulai berpikir… dunia hari ini adalah hari ini."

"Bagaimanapun saya mencintai anda, Mrs. Son Ye Jin. Anda tidak sama dengan gadis-gadis yang pernah saya kenal. Saya takut pada anda, tetapi ingin mencumbu anda. Saya takut pada kemarahan anda, tetapi saya ingin membujuk anda kalau merajuk. Saya merasa tidak berharga kalau berhadapan dengan anda, tetapi saya merasa sanggup menaklukkan anda. Sebab, ada cinta.”

"Sudah cukup, Kim Bum. Jangan kau teruskan."

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 20)



Kim Bum cuma mengiyakan setiap ucapan temannya. Pikirannya masih pada Kim So Eun. Ah, gadis cantik itu, pikimya. Ramah, sopan, dan bertatakrama. Tapi, siapa yang tahu apa yang ada dalam hatinya! Sombong ya sekarang? Tidak mau lagi datang ke rumah. Kenapa? Ah, kepura-puraan yang sempurna. Gadis yang ramah, gadis yang suka mengatakan, "Kenapa buru-buru pulang?" Padahal di dalam hatinya menggerutu, "Alangkah membosankan orang ini!" Gadis yang diajar oleh ibunya untuk mengatakan kepada setiap tamu, "Sering-sering datang ya?" Padahal harus diterjemahkan, "Kedatanganmu mengganggu kami!" Kesopan santunan yang lebih menggigit.

Kim Bum melangkah dengan hati terbagi. Separuh untuk teman berjalannya, separuh lagi untuk Kim So Eun.

"Dia memintaku datang. Apakah cuma untuk menerima hinaan dari ibunya?" sungut Kim Bum tanpa suara. "Cuma untuk mendengar cerita betapa bagus kedudukan tunangannya?" Kim Bum membanting puntung rokok ke trotoar.

* * *

Kim So Eun tidak punya semangat lagi menyaksikan karnaval. Hatinya hambar. Khususnya, dia tersinggung. Dia telah ramah, tetapi mendapat reaksi yang begitu dingin. Kim So Eun tentunya tidak tahu bahwa keramahannya itu justru lebih memukul batin Kim Bum. Karena, Kim So Eun sungguh-sungguh tidak tahu bahwa Kim Bum telah datang ke rumahnya dan bertemu ibunya. Dia tidak tahu. Dan, Kim Bum pun tidak tahu bahwa Kim So Eun belum mengetahui kedatangannya. Dia mengira bahwa keramahan Kim So Eun hanyalah pemanis di depan teman-temannya. Ah, komunikasi, alangkah pahitnya kalau salah interpretasi!

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 19)



Berada kembali di Seoul yang panas. Hawa musim panas panjang mencekik badan. Tetapi, sore itu bagi Kim Bum tidak panas. Dua kali dia menekan bel tamu dirumah Kim So Eun, lalu menunggu sesaat, pintu terbuka. Ibu Kim So Eun menghadang di ambang pintu. Matanya dingin. Dia tidak menjawab 'selamat sore' dari Kim Bum. Dia cuma bilang, "Kim So Eun tidak ada."

Kim Bum tertegak canggung.

"Silakan duduk," kata ibu Kim So Eun sembari mendahului duduk di kursi teras. "Kebetulan ada yang mau saya bicarakan."

Pelahan Kim Bum meletakkan pantatnya di kursi. Matanya tidak lepas mengawasi ibu Kim So Eun. Dan, wanita itu juga melakukan hal yang sama.

"Begini," kata wanita itu. "Kalau tidak salah, kau sudah beberapa kali datang ke sini." Ibu Kim So Eun menunggu reaksi.

Kim Bum mengangguk.

Ibu Kim So Eun meneruskan, "Sebagai orang tua, tentu saja saya mengikuti perkembangan anak saya. Saya percaya bahwa kau adalah pemuda baik-baik sebab Kim So Eun pun kelihatan senang bergaul denganmu. Tetapi, bagi saya pergaulan itu tidaklah sesederhana yang kalian pikirkan,” sesaat Ibu Kim So Eun diam.

Kim Bum mematung di depannya.

“Tapi, sebelum saya teruskan, saya ingin tahu, apakah kau punya saudara perempuan?”

Kim Bum mengangguk.

“Kakak atau adik?”

“Adik-adik.”

“Ooo, beberapa orang. Bagus!” Lalu ibu Kim So Eun menikamkan tatapan sembilu, membuat Kim Bum kian resah. “Bagaimana seandainya diantara adik-adikmu itu telah bertunangan, dan kemudian ada pria lain yang datang mengganggunya?”

Kim Bum merasa dadanya sesak.

“Saya kira orang tuamu akan resah kalau putrinya memutuskan pertunangan cuma karena terpikat pada rayuan pria lain. Satu keluarga akan menerima umpatan dari sekelilingnya.”

Kim Bum tetap membisu.

“Paham maksud saya?”

Kim Bum tetap tak menjawab. Keresahan menggelegar di dadanya.

“Kim So Eun telah bertunangan. Tunangannya sekarang di Jerman. Dia Insinyur. Dalam waktu dekat dia akan membawa pulang titel doktor dalam bidang teknik. Apa katanya kalau setibanya dia di Korea, Kim So Eun bukan lagi tunangannya? Apa kata orang tuanya pada saya? Apa kata orang-orang yang hadir dalam pesta peresmian pertunangan mereka? Semuanya akan mengutuk Kim So Eun. Lebih-lebih mengutuk saya. Sebab, orang akan memaklumi usia Kim So Eun yang masih muda. Dia bertunangan waktu masih SMA. Orang akan maklum bahwa tiga tahun bagi orang seusia itu merupakan beban berat. Karena itu orang akan menimpakan kesalahan pada saya. Sebagai orang tua, saya dianggap tidak bisa mengajarkan kesetiaan pada anaknya." Ibu Kim So Eun berhenti berucap untuk melihat reaksi Kim Bum.

Kim Bum tetap beku.

"Cobalah pikirkan," lanjut ibu Kim So Eun. "Kalau kejadian semacam ini menimpa keluargamu. Setiap orang akan menertawakan keluargamu. Satu orang yang berbuat, satu keluarga mendapat cap ‘tidak bisa memegang kesetiaan'."

Begitu, pikir Kim Bum. Soal kesetiaankah yang dibicarakan ini? Tetapi, mulut Kim Bum tetap terkunci.

"Saya hanya memikirkan kebahagiaan Kim So Eun. Sekarang dan masa depan. Saya percaya bahwa calon suaminya itu akan membahagiakan dia. Jika dia pulang nanti, dia akan memperoleh kedudukan yang baik. Bayangkanlah jika ini terjadi pada adikmu sendiri. Jika dia bertunangan dengan pria yang akan menjamin kebahagiaannya, tapi lantaran emosi maka dia memilih pria lain yang belum begitu dikenalnya."

Ya, di situlah masalahnya, pikir Kim Bum. Jangan bicarakan soal kesetiaan segala macam. Karena aku cuma mahasiswa miskin, karena masa depanku suram sekabur kehidupan yang absurd ini, karena aku tidak bisa memperlihatkan jaminan-jaminan kebahagiaan dalam ukuran masyarakat sekarang… materi, itulah masalahnya! Aku cuma mahasiswa dengan kemiskinan masa sekarang, dan perjudian nasib di masa depan!

Kim Bum menarik napas perlahan dan dalam.

"Bantulah saya," kata ibu Kim So Eun. "Bantulah agar Kim So Eun tidak kehilangan masa depannya yang telah begitu terjamin."

Kim Bum merasa gelombang panas berputaran di dadanya, menerjang-nerjang sehingga uapnya membuat mata perih. Dia mengerjap-ngerjap untuk melunakkan uap itu. Dia manatap bunga-bunga di halaman.

"Kim So Eun masih terlalu muda untuk membayangkan masa datang. Dunianya cuma masa sekarang. Sedangkan saya, dengan pengalaman masa lalu saya, saya bisa melihat jauh ke depan. Karena itu, saya lebih rasional dalam menilai setiap persoalan. Saya ingin, seandainya saya telah tiada, anak saya yang satu-satunya itu berada di samping suami yang bertanggung jawab dan dapat membahagiakannya. Mengerti maksud saya?"

Sekejab Kim Bum merasakan himpitan nyeri menusuk. Tetapi, dia cuma mengangguk. Seandainya aku punya puluhan juta dollar dan di deposito di Bank Amerika, pikirnya, itukah hari depan yang diharapkan untuk keluarga? Seandainya aku pandai menjilat dan berhasil masuk ke jenjang pemerintahan sampai punya kedudukan tinggi, itukah jaminan yang dibutuhkan untuk kebahagiaan suami-istri?

Kim Bum menatap bunga-bunga yang mulai samar dalam senja. Yang merah semakin tua, yang hijau semakin biru ditimpa lembayung senja. Langit jingga nampak kelabu di mata Kim Bum.

Kim So Eun, Kim So Eun, rumahmu indah. Karena itu, kalau kelak kau pindah ke rumah suamimu, haruslah kau merasa masuk ke sebuah istana. Hidupmu sepanjang hari berkecukupan. Karena itu, kalau kau jadi istri kelak, haruslah suamimu punya brankas di rumah.

Kim Bum berjalan dengan tangan di dalam saku. Ketika dulu pertama kali mendatangi rumah Kim So Eun, kesunyian senja mengantar kepulangannya, Kini pun kesunyian senja itu turut menemaninya. Senja yang temaram berangsur kelam.

Tak seorang pun tahu kemurungan yang melilit Kim Bum. Sebab, Kim Bum sengaja menyembunyikannya lewat kegiatan kampus. Dia mempersiapkan karnaval yang akan bergerak dari kampus berkeliling Kota Seoul, dalam rangka HUT Korea.

Kim Bum berjalan di St.Ponds Road, di sela-sela orang-orang yang menunggu lewatnya karnaval. Pusat kota itu penuh sesak. Inilah hiburan yang paling disenangi masyarakat Seoul: menonton karnaval atau sejenisnya, yang beramai-ramai di sepanjang jalan utama kota itu.

Di St.Ponds Road itu orang terpaksa beradu bahu saking sesaknya. Dan, dari pinggir terdengar suara memanggil, “Hai, Kim Bum!”

Kim So Eun dan teman-temannya. Ada Lee Hong Ki, Baek Suzy, dan entah siapa lagi.

“Sombong ya sekarang? Tidak mau datang lagi ke rumah,” kata Kim So Eun lagi.

Kim Bum berusaha mencari makna ucapan itu, tetapi tak menemukannya.

Lee Hong Ki meneliti wajah Kim Bum. Dia heran melihat kebekuan wajah itu. Matanya dingin. Tidak seperti biasanya kalau berdekatan dengan gadis-gadis.

“Kenapa?” lanjut Kim So Eun.

Tetapi, suara manja itu malah lebih menikam dada Kim Bum.

“Sehabis karnaval, kita nonton ya?” kata Kim So Eun.

Lee Hong Ki mengerling Kim Bum. Kim Bum sedang memperhatikan kerumunan orang di depan mereka.

“Ehm, kenapa tidak ada respons?” kata Kim So Eun.

Kim Bum melihat salah seorang temannya melintas.

“Maaf, aku pergi dulu,” katanya. Tanpa menunggu jawaban, dia mengejar temannya.

Lee Hong Ki melongo.

“Kenapa begitu dia sekarang?” Terbata-bata Kim So Eun berucap.

Lee Hong Ki bertukar pandang dengan Baek Suzy. Kim So Eun menatap punggung Kim Bum di celah-celah kerumunan orang di depannya. Dan, Lee Hong Ki mengangkat bahu.

Wajah Kim So Eun menjadi suram.

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 18)



Kim Bum berbaring di kamarnya. Menatap langit-langit, sambil memikirkan Park Ji Yeon. Terkutuk! Penghinaan! Berani berciuman dengan pemuda lain. Terkutuk! Tapi, tunggu dulu. Kenapa aku marah? Berapa kali aku meninggalkan pacarku, meninggalkannya begitu saja? Lalu, kalau sekarang Park Ji Yeon dicium pemuda lain, apa masalahnya? Lantaran dia belum aku lepaskan secara resmi. Ya, itulah masalahnya. Hanya diriku sebagai pria yang belum pernah dipatahkan, telah dihinanya.

Suara langkah seseorang mendekat. Dan, Kim Bum merasa seseorang berbaring di sampingnya. Dia tahu siapa orang itu. Maka dia diam saja. Dia terus membuat bulatan-bulatan asap rokoknya.

"Maafkan aku, Kim Bum," kata Lee Ki Kwang pelahan.

Kim Bum tak acuh. Lee Ki Kwang pun menyalakan rokoknya.

"Tidak bisa kuhindari," kata Lee Ki Kwang. "Kau menyuruhku mengawal Park Ji Yeon. Tapi, aku tidak bisa menetralkan perasaanku. Aku ingin tidak ada perasaan istimewa, tetapi ternyata suasana alam gunung ini menyebabkanku tidak mampu membunuh perasaanku. Selama menjalankan tugas bersama-sama, simpatiku tumbuh. Kami seperti bukan lagi orang yang mengawal dang dikawal. Lebih dari itu, aku mencintainya." Lee Ki Kwang berusaha melirik reaksi Kim Bum. Tetap dingin.

"Dan, dia?" ujar Kim Bum.

"Kalau dia berani meninggalkanmu, tentu dia punya kepastian yang dipilihnya."

Kim Bum menghembuskan asap rokoknya.

"Dia bilang begitu?"

"Ah, tidak. Aku tidak tahu," kata Lee Ki Kwang gugup.

"Apakah bukan kesepian dan keheningan daerah ini yang menyebabkan itu terjadi?" kata Kim Bum.

Lee Ki Kwang tidak menjawab.

"Benarkah, kau mencintainya?"

"Ya."

"Apakah dia juga mencintaimu?"

Lee Ki Kwang diam. Di luar, seorang mahasiswi memetik gitar dan bernyanyi pelahan. Denting-denting senar gitar merayap-rayap masuk lewat jendela.

"Marilah kita bicara secara jantan, Lee Ki Kwang," kata Kim Bum dingin.

"Maksudmu?"

"Apakah kau merasa kau telah merampas Park Ji Yeon dari tanganku?"

Lee Ki Kwang gelagapan. Dia duduk dan membuang pandang ke dinding.

"Kalau kau merasa begitu," kata Kim Bum, "aku layak tersinggung. Dan, sebagai pria yang tersinggung, aku harus menunjukkan perlawanan yang sesuai dengan kejantanan seorang pria!"

Lee Ki Kwang melirik sekilas. Lalu, cepat-cepat mengalihkan lirikannya sebelum bertemu dengan sorot mata Kim Bum. Sebenarnya, seandainya dia lebih memperhatikan, dia akan melihat tawa samar di sudut bibir Kim Bum.

"Bagaimana? Apakah kau merasa merampas dia?"

"Tidak."

“Jadi?”

"Ya, aku mencintainya," kata Lee Ki Kwang terbata-bata. "Begitu saja. Selama proses ini, aku sama sekali tidak teringat dirimu. Barangkali di sinilah kesalahanku. Aku bahkan lupa bahwa dia pacarmu. Aku hanya melihat dia sebagai pribadi yang utuh. Seorang gadis yang berjalan menempuh bukit-bukit berbatu, di bawah matahari yang menyengat. Tangannya kupegang, betisnya kuurut jika dia keletihan di tanah gersang. Terus terang, kami menjadi dekat dalam kesukaran-kesukaran selama riset ini. Aku tidak membayangkan merampas dia darimu. Aku hanya merasa mencintai seseorang yang sangat dekat dengan diriku."

"Bagus! Kalau begitu, selesai masalahnya." Kim Bum duduk.

Mereka duduk berhadapan di atas tikar di tengah kamar penginapan itu. Kim Bum mengisap rokoknya. Lee Ki Kwang melirik tangan yang terangkat itu, tangan yang kukuh karena latihan Taekwondo.

"Jadi, tidak ada yang terampas dan dirampas dalam masalah ini." kata Kim Bum. "Tidak ada yang kalah dan menang. Begitu kan?"

"Iya. Yang ada cuma soal cinta," kata Lee Ki Kwang pelahan.

"Bagus. Teruskanlah." Lee Ki Kwang terpana. Tetapi, dia merasakan tangan Kim Bum yang menepuk-nepuk bahunya. Karena bertatapan, Lee Ki Kwang pun menyentuh bahu Kim Bum.

Dan, suara di pintu, "Kim Bum!"

Keduanya menoleh. Park Ji Yeon tegak di mulut pintu, menatap mereka bergantian. Gadis itu canggung.

"Dipanggil Mrs. Son Ye Jin," kata Park Ji Yeon, lalu dia meninggalkan ambang pintu.

Secepat kilat, Kim Bum bangkit dan mengejar Park Ji Yeon.

"Kenapa dia memanggilku?"

Park Ji Yeon tidak menjawab. Rambutnya melambai-lambai sementara dia melangkah lebar dengan kepala tertunduk.

"Kenapa kau jadi pendiam, Park Ji Yeon?" kata Kim Bum.

Mata Park Ji Yeon tetap menghujam ke tanah.

"Aku mau bicara nanti," katanya hampir tak terdengar.

"Tadi kaubilang aku dipanggil Mrs. Son Ye Jin?"

"Iya. Nanti selesai urusanmu dengan dia, kutunggu kau di dekat bukit."

"Ah, tidak usahlah. Aku tahu apa yang mau kau bicarakan.”

Langkah Park Ji Yeon terhenti. Dia menatap Kim Bum.

"Ini serius, Kim Bum."

"Ya, aku tahu, Adikku Sayang." Kim Bum tersenyum. Senyum lunak itu membuat Park Ji Yeon menggigil.

"Ah, kau tidak pernah mau serius," keluh Park Ji Yeon.

"Kau mau membicarakan saat kau dicium Lee Ki Kwang?"

Darah menyerbu ke wajah Park Ji Yeon. Wajah gadis itu memerah.

"Baru saja aku dan Lee Ki Kwang membicarakan itu," lanjut Kim Bum.

"Jangan salahkan dia. Aku yang salah," kata Park Ji Yeon gemetar.

"Iya, kau yang salah," kata Kim Bum.

Park Ji Yeon menunduk. Bibirnya gemetar. Maka bakat kurang ajar Kim Bum kambuh lagi.

"Kesalahanmu selangit," kata Kim Bum. "Lee Ki Kwang bilang, kau kaku sekali berciuman."

Napas Park Ji Yeon sesak.



"Lalu kubilang, 'Tidak mungkin! Park Ji Yeon sangat pandai berciuman. Apalagi kalau menggigit-gigit bibir pasangannya, wah, bukan main!’….”

"Kim Bum!" Suara Park Ji Yeon terengah.

Tawa Kim Bum mengakak. Maka Park Ji Yeon berani memandangnya. Dan, dia menemukan mata yang ramah. Namun begitu, gemetar di badannya belum juga hilang.

Mrs. Son Ye Jin bersama-sama beberapa mahasiswi ketika Kim Bum menghadap.

"Kenapa Park Ji Yeon yang anda suruh memanggil saya?" tanya Kim Bum.

"Apa salahnya?"

"Dia menteror saya. Dia bilang, anda sedang marah sekali."

"Eh, kapan aku bilang begitu?" Park Ji Yeon terbata-bata.

"Ya, aku memang ingin marah. Aku ingin melihat apa yang mau kau perbuat. Tahu kenapa Park Ji Yeon yang saya suruh memanggilmu?" kata Mrs. Son Ye Jin.

"Tidak. Kenapa?"

"Karena yang lain tidak mau."

"Semua membenci saya?"

"Ya."

"Uf!"

"Kecuali Park Ji Yeon tentunya," kata Mrs. Son Ye Jin.

"Ah, benarkah?”

"Jangan, pura-pura lagi. Kau pikir saya tidak tahu?" Mrs. Son Ye Jin tertawa. Matanya menyelidik. Mahasiswi-mahasiswi di tempat itu tersenyum takut. Park Ji Yeon menunduk. Mrs. Son Ye Jin memperkeras tawanya. lalu katanya, "duduklah, Kim Bum."

Kim Bum melepaskan napas yang tertahan sejak tadi. Dia mengangkat bahu, lalu duduk.

"Saya baru saja menerima surat dari Dekan," kata Mrs. Son Ye Jin sembari membuka tasnya. Sebuah amplop ber-kop fakultas mereka, dia keluarkan. "Tentang corat-coret dan plakat-plakat di fakultas tempo hari, pemasangnya sudah diketahui."

Mahasiswi-mahasiswi menatap Kim Bum dan Mrs. Son Ye Jin bergantian. Mrs. Son Ye Jin memandang Kim Bum dengan pandangan lunak.

"Bukan Kim Bum. Saya minta maaf karena menuduhnya dulu," kata Mrs. Son Ye Jin.

Dan, mahasiswi-mahasiswi itu menarik napas dalam-dalam. Hebat! Hebat! Killer minta maaf. Bukan main! Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dosen yang tidak pernah salah itu meminta maaf kepada mahasiswanya. Ah, Kim Bum Hero kami!

"Siapa yang memasang plakat itu?" tanya Kim Bum.

"Beberapa mahasiswa yang terkena peraturan penertiban fakultas. Mereka yang berturut-turut tiga tahun tidak naik dalam satu tingkat. Lee Hong Ki yang mengusut masalah ini."

Lalu Kim Bum membaca surat dari Dekan itu. Lalu, surat itu beredar dari tangan ke tangan. Senyum Mrs. Son Ye Jin jarang hilang dari bibirnya. Matanya kian cemerlang hari-hari belakangan ini.

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 17)



Mrs. Son Ye Jin tidak lagi sekaku dulu. Rombongan mahasiswa itu merasakan perubahan itu. Dia bukan lagi Tuan Putri yang mengasingkan diri.

Hari itu, Mrs. Son Ye Jin ingin mandi di pancuran. Kim Bum mengantarkannya. Sementara Mrs. Son Ye Jin Mandi, Kim Bum menjauhi pancuran itu. Dia mendaki bukit, melewati belukar-belukar. Ketika melewati gerumbul semak, langkahnya terhenti. Darahnya terhenti mengalir. Tubuhnya gemetar. Tetapi, langkah yang terhenti mendadak itu tak sengaja menendang kerikil. Kerikil bergulir ke bawah dan menimbulkan suara 'kresek' di semak-semak. Pelukan merenggang. Park Ji Yeon melepaskan diri dari pelukan Lee Ki Kwang. Keduanya terpana menatap Kim Bum yang tertegak kaku di atas bukit. Berganti pias dan merah wajah Park Ji Yeon. Lee Ki Kwang canggung. Sesekali dia memandang Kim Bum, tetapi lebih sering menghujamkan pandangan ke tanah.

Helaan demi helaan napas berlalu. Lalu, Kim Bum berbalik meninggalkan puncak bukit itu. Kembali ke pancuran.

Mrs. Son Ye Jin telah mengemasi pakaiannya. Dia memperhatikan wajah Kim Bum yang beku.

"Kenapa wajamu kusut?" tanyanya.

"Ah, tidak," jawab Kim Bum. Dia membantu membawakan tempat sabun Mrs. Son Ye Jin.

"Jangan cepat-cepat, Kim Bum!" seru Mrs. Son Ye Jin.

Kim Bum memperlambat langkahnya.

"Ada apa? Kenapa langkahmu seperti dikejar setan?"

Kim Bum tetap membisu.

"Hei, katakan, ada apa?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

"Tidak ada apa-apa, tapi datang-datang wajahmu cemberut, langkahmu seperti berlari."

Kim Bum diam. Mrs. Son Ye Jin mencubit lengan Kim Bum. Kim Bum menoleh. Rambut Mrs. Son Ye Jin tersanggul belum rapi. Tetapi, senyumnya rapi mengelopak mawar. Kim Bum pun menyeringai.

"Apa yang terjadi, Kim Bum?"

Kim Bum berpikir sesaat. Lalu katanya, "Dari atas bukit itu, tidak sengaja saya melihat bidadari mandi. Melihat anda mandi, Mrs. Son Ye Jin."

"Ow, kurang aj...." Mrs. Son Ye Jin mencubit lebih keras.

Kim Bum tertawa menjauhkan diri.

"Tubuh anda bagus!" kata Kim Bum.

"Semakin kurang ajar saja kau ini! Kemari kau!"

Kim Bum semakin jauh berlari. Mrs. Son Ye Jin mengejar. Beberapa mahasiswa tercengang-cengang memandangi mereka. Kim Bum meletakkan tempat sabun milik Mrs. Son Ye Jin di rumah penginapan.

"Dasar anak kurang ajar!" kata Mrs. Son Ye Jin kepada Kim Bum yang telah menjauh. Mulutnya cemberut, tetapi matanya tersenyum.

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 16)



Mereka memakan coklat bawaan Kim Bum. Matahari beringsut melangkahi puncak-puncak pinus. Sesekali pandang mata mereka bentrok. Dan, senyum Mrs. Son Ye Jin mengembang.

"Kalau saya tahu sejak dulu anda sebaik ini," kata Kim Bum diiringi tawa renyah.

"Dan kalau aku pun tahu kau tidak sebrengsek yang saya duga." Mrs. Son Ye Jin menimpali dengan cubitan.

"Dan, sekarang?" Kim Bum memijit jari Mrs. Son Ye Jin. Mrs. Son Ye Jin balas memijit. Lalu mereka saling meremas. "Kenapa dulu anda menganggap saya brengsek?" tanya Kim Bum.

"Ya karena kau brengsek."

"Apa salah saya?"

"Kesalahanmu banyak."

"Kapan saya membuat kesalahan itu?"

"Mula-mula sedikit. Tapi, karena berbunga maka bertambah banyak."

"Apa sebenarnya salah saya?"

"Kau benar-benar tidak tahu?"

"Sungguh! Sampai hari ini saya tidak tahu apa kesalahan saya pada anda. Seingat saya, tidak pernah saya menyakiti hati anda, Mrs. Son Ye Jin."

"Benarkah?"

"Saya berani bersumpah, saya benar-benar tidak tahu!"

"Tidak usah bersumpah," cepat-cepat Mrs. Son Ye Jin memutus.

"Kalau begitu, katakanlah apa salah saya, Mr. Son Ye Jin."

"Hmmm, karena kau brengsek!"

"Ah!"

Mrs. Son Ye Jin tertawa mengikik.

Kim Bum meremas jari perempuan itu kuat-kuat. "Aduh, kasarnya tanganmu."

"Kalau anda tidak mau mengatakannya, saya akan..."

“Kau apakan…..?”

“Ciu…..”

"Jangan Kurang ajar!" Mrs. Son Ye Jin merentakkan tangannya dari genggaman tangan Kim Bum.

"Kalau begitu, katakan apa salah saya."

"Kau ingat waktu kuliah saya yang pertama?"

"Ya? Waktu anda pakai rok warna putih dan blus merah tua?"

"Ha? Itu yang kau ingat?"

"Dan, betis anda yang bagus."

"Dasar anak kurang ajar! Dengar dulu. Kau ingat, hari itu apa pertanyaanmu?"

"Apa saya bertanya waktu itu?"

"Iya, waktu say tanya ‘siapa yang mau bertanya', kau lalu mengangkat tangan. lalu kau menanyakan Teori Freud."

*) Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam psikologi. Ia lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Republik Ceko. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas pada awalnya (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya.

Pengalaman seksual dari Ibu, seperti menyusui, selanjutnya mengalami perkembangannya atau tersublimasi hingga memunculkan berbagai prilaku lain yang disesuaikan dengan aturan norma masyarakat atau norma Ayah. Namun dalam perjalanannya setelah kolega kerjanya Alferd Adler, mengungkapkan adanya insting mati di dalam diri manusia, walaupun Freud pada awalnya menolak pernyataan Adler tersebut dengan menyangkalnya habis-habisan, namun pada akhirnya Freudpun mensejajarkan atau tidak menunggalkan insting seksual saja yang ada di dalam diri manusia, namun disandingkan dengan insting mati (Thanatos). Walaupun begitu dia tidak pernah menyinggung asal teori tersebut sebetulnya dikemukakan oleh Adler awal mulanya.

"Lantas?"

"Itulah salahmu."

"Kenapa salah?"

"Karena, kau menanyakan itu."

Kim Bum terlongong. Mrs. Son Ye Jin menonjok hidung Kim Bum pelahan.

"Teori Freud, faktor seks menentukan tindak-tanduk seseorang."

Wajah Kim Bum tetap terheran-heran.

"Karena kau menanyakan itu, bukankah sengaja mengejekku?"

"Mengejek?"

"Karena kau tampan, kau diperhatikan gadis-gadis, kau playboy. Siapa yang tidak tahu itu?"

“Jadi?”

"Padahal kau tahu saya masih single. Hidup saya sepi. Faktor seks sama sekali jauh dari kehidupan saya. Dunia saya hambar."

"Tapi, Mr. Jang Hyuk mencintai anda Mrs. Son Ye Jin."

"Ah, siapa bilang?" sahut Mrs. Son Ye Jin cepat.

"Saya tahu."

"Ah, kau mengada-ada. Dia orang yang paling sombong yang pernah saya kenal."

“Tapi, dia sering membicarakan anda."

"Benarkah?"

"Untuk apa saya berbohong!"

"Tentunya dia mengejek-ejek saya," ujar Mrs. Son Ye Jin.

"Sama sekali tidak. Malahan dia sering menyesali dirinya karena merasa dirinya terlalu serius dalam kuliah dulu. Dan, dia sadar bahwa banyak tindakannya yang sebenarnya cuma untuk memuaskan gengsinya saja, sedang akibatnya ditangguhkannya selama bertahun-tahun ini."

"Dia bilang begitu ?"

Kim Bum cuma mengangguk. Dia tidak berani mengulang dusta itu.

Mrs. Son Ye Jin merenungi rumput hijau. Kim Bum membiarkannya di sunyi senyap yang diciptakannya. Lama mereka diam.

Sampai akhirnya Mrs. Son Ye Jin mengulurkan tangan dan berkata, "Ayo, kita pulang."

Kim Bum menyambut tangan itu dan menariknya bangkit. Mrs. Son Ye Jin meloncat berdiri.

Ketika mereka berhadapan, Mrs. Son Ye Jin mencium pipi Kim Bum cepat dan selintasan.

"Hidup ini sebenarnya indah ya, Kim Bum?" katanya.

Kim Bum cuma mengangguk.

“Asal kita pandai menikmatinya. Begitu kan?" lanjut Mrs. Son Ye Jin.

Kim Bum cuma mengangguk lagi.

Mrs. Son Ye Jin menggandeng tangan Kim Bum dan menariknya berlalu meninggalkan danau itu. Dia merangkul tangan Kim Bum dan langkahnya ringan merambahi belukar. Dia menggumamkan nyanyian. Dia cuma setinggi bahu Kim Bum. Maka kepalanya tersandar di dada pemuda itu.

Bersambung…

Senin, 27 Juni 2011

Love Story In Beautiful World (Chapter 15)



Matahari yang muncul dari balik gunung mulai membuyarkan embun yang menyaputi Namchoseon. Di tanah terlihat kristal-kristal embun yang membeku selama dinginnya malam. Beberapa orang mahasiswa telah keluar dari kamarnya. Tetapi, dinginnya udara membuat mereka tetap berkerudung selimut. Suasana gunung itu membuat penduduk biasa bermalas-malasan di waktu pagi hari.

Kim Bum telah kembali dari pancuran tempat mandi. Dia mengintai kamar Lee Ki Kwang lewat jendela. Lee Ki Kwang masih bergelung dalam selimut. Lewat senja rombongan Lee Ki Kwang baru menyelesaikan tugas di desa yang jauh itu. Rupa-rupanya dia masih kecapekan.

Mrs. Son Ye Jin telah berjemur di bawah matahari yang cerah. Wajahnya berseri.

"Benar-benar manjur obatmu itu," katanya ketika Kim Bum mendekatinya. "Selera makan saya bertambah. Saya khawatir berat badan saya pun bertambah kalau kita terlalu lama berada di gunung ini."

"Saya jamin tidak," kata Kim Bum. "Tanpa diet, gadis-gadis gunung bagaimanapun banyak makan, mereka selalu berbadan langsing. Hawa yang segar dan mendaki bukit merupakan obat kecantikan yang manjur. Semakin lama di sini, kecantikan anda akan semakin terpelihara."

Mrs. Son Ye Jin tak menjawab, tetapi pipinya merona merah.

"Jadi kita ke danau?" tanyanya kemudian tanpa menatap Kim Bum.

"Boleh saja, Kalau anda memang mau," jawab Kim Bum.

"Ayolah kalau begitu."

“Berdua saja?"

“Mana yang lain?”

"Saya panggilkan mereka?"

Mrs. Son Ye Jin menoleh sekejap. Kemudian menatap pucuk-pucuk pinus di kejauhan.

"Tidak usah." Dia melangkah. Kim Bum menjejeri langkah yang berayun di sampingnya.

Mrs. Son Ye Jin mengenakan Sweater warna biru dan bercelana Jeans. Angkasa adalah langit biru dan awan mengapas putih. Kejauhan adalah padang rumput, bunga-bunga liar berwarna putih, kuning, dan merah.

Sesekali Kim Bum menatap yang indah di sampingnya, juga yang indah di tempat jauh. Mrs. Son Ye Jin berjalan menunduk dengan kedua tangan di punggung.

"Perjalanan kita lumayan jauh, Mrs. Son Ye Jin," kata Kim Bum.

"Tidak jadi masalah." Suara Mrs. Son Ye Jin lunak.

Kim Bum mengomentari tempat-tempat yang mereka lalui. Dan, Mrs. Son Ye Jin menjadi pendengar yang baik. Cerita Kim Bum mengasyikkannya. Cerita tentang penduduk setempat yang menyangkut peninggalan-peninggalan alam.

Tak terasa mereka tiba di tujuan. Bintik-bintik keringat muncul di ujung hidung Mrs. Son Ye Jin. Seandainya kekasihku, pikir Kim Bum, alangkah senangnya mengusap hidung yang mancung ini. Hidung yang berada di atas bibir mungil, basah, dan merah tanpa lipstik.

Mrs. Son Ye Jin duduk di rumput. Di depan mereka terhampar danau yang permukaannya berwarna-warni. Pengaruh pepohonan dan dedaunan di sekitarnya, mungkin, makanya danau itu merefleksikan aneka warna.

"Nah, benar kan yang saya bilang," kata Kim Bum hampir berbisik, sembari menunjuk.

Sekelompok belibis putih mulus bermain-main di pinggir danau. Mrs. Son Ye Jin bernapas hati-hati sebab khawatir mengejutkan burung-burung itu. Matanya nanap memperhatikan panorama di depannya.

"Bukan main," desahnya.

Kim Bum tersenyum. Serombongan belibis lain hinggap di seberang danau. Bunga-bunga liar bergoyang terkena sambaran sayap burung-burung itu. Seekor burung minum di pinggir danau.

"Anda haus, Mrs. Son Ye Jin?"

"Wah, kita lupa bawa minuman," kata Mrs. Son Ye Jin.

"Saya bawa ini," kata Kim Bum seraya mengeluarkan beberapa buah jeruk manis dari kantong jaketnya.

"Lumayan." Lekuk bibir Mrs. Son Ye Jin berseri.

Untuk beberapa saat mereka menikmati jeruk itu. Lalau Kim Bum berkata, "Di daerah ini banyak tempat-tempat keramat. Masyarakat percaya bahwa peninggalan Kerajaan Zaman dulu yang disebut-sebut dalam sejarah itu berada di sekitar daerah ini."

"Memang tempat ini agak meyakinkan kalau disangkut-pautkan dengan legenda-legenda."

"Sampai sekarang banyak orang bertapa di sini."

"Supaya sakti?"

"Mensucikan hati."

"Kau percaya hal-hal seperti itu?"

"Saya tidak begitu percaya. Tapi, untuk tidak percaya, juga tidak ada gunanya. Itu soal keyakinan. Sulit memperdebatkannya."

"Tapi, apakah keyakinan itu realistis?"

"Banyak hal yang tidak realistis tetapi dipercaya orang. Soal ramalan misalnya. Sulit menilainya dari ukuran-ukuran realita, tapi banyak yang percaya.”

“Kau juga?"

"Ya. Apa bintang anda, Mrs. Son Ye Jin?"

"Ah, itu omong kosong!" kata Mrs. Son Ye Jin.

"Sering juga tepat. Atau ramalan lewat tangan. Saya pernah belajar membaca ramalan tangan."

"Benarkah?"

"Coba, kemarikan tangan anda. Biar saya lihat." Mrs. Son Ye Jin masih tidak mau, tetapi Kim Bum menarik tangannya dan menelentangkan telapak tangan perempuan itu. Pelan-pelan Kim Bum mengikuti garis telapak tangan perempuan itu. Keningnya berkerut, dan kening Mrs. Son Ye Jin pun ikut berkerut. Sebentar mata Mrs. Son Ye Jin hinggap di telapak tangannya, sebentar beralih ke wajah Kim Bum. Kim Bum serius memperhatikan gurat-gurat telapak tangan yang dipegangnya. Cuma, pikirannya bukan pada gurat-gurat itu, melainkan pada: alangkah halusnya tangan ini. Seandainya dicium! Pasti menyenangkan!

"Bagaimana?" tanya Mrs. Son Ye Jin.

"Ah, ya! Begini. Garis ini menunjukkan bahwa umur anda panjang. Artinya, anda akan berkeluarga besar dan suami anda akan meninggal lebih dulu pada usia tua."

"Ah, yang benar saja!"

"Kenapa memangnya? Coba lihat yang ini. Keturunan anda akan banyak yang jadi orang besar."

"Ah, kau jangan mengada-ada!" Mrs. Son Ye Jin menarik tangannya, tetapi Kim Bum menahan. Mrs. Son Ye Jin menggeliat untuk melepaskan tangannya, tetapi cekalan Kim Bum terlalu kuat. Dan, memang rontaan itu tidak terlalu kuat.

"Lalu, semua itu akan anda dapatkan setelah melalui saat yang meminta pengorbanan."

"Ah, bohong!"

"Saya tidak berbohong. Saya lihat dari garis ini. Nah, ini garis yang memotong dari mars dengan venus. Saya teruskan?"

"Sudahlah. Tambah banyak nanti omong kosongmu."

"Kenapa? Anda takut kalau saya akan melihat rahasia-rahasia anda, Mrs. Son Ye Jin."

"Uh!" Mulut Mrs. Son Ye Jin cemberut. Tetapi, itulah permulaan senyum.

Dia tidak menarik tangannya, dan Kim Bum tidak melepaskannya. Mereka duduk berhadapan. Angin sepoi menerpa rambut Mrs. Son Ye Jin sehingga bagian depannya menutup kening. Angin yang sama menguakkan poni Kim Bum. Kim Bum merapikan rambut yang menutup kening Mrs. Son Ye Jin. Mrs. Son Ye Jin terpana sesaat. Kemudian tangannya terulur untuk merapikan rambut Kim Bum yang berantakan ke wajahnya.

Mereka bertatapan. Pipi Mrs. Son Ye Jin kian merona merah. Dia menggigit bibir dan menunduk. Tangan Kim Bum yang tadi menggenggam pergelangan, kini pindah ke jari. Kim Bum meremas jari-jari yang digenggamnya membuat Mrs. Son Ye Jin mengangkat kepala. Mereka kembali bertatapan.

Berdebar-debar jantung Mrs. Son Ye Jin menahan genggaman tangan hangat di tengah keheningan alam itu. Di tengah alam yang berbisik-bisik dibelai angin gunung itu, dia bukanlah seorang dosen. Dia adalah seorang gadis yang sedang merasakan debaran dadanya. Maka dia menunduk, dia menatap rumput-rumput hijau.

Dan, jantungnya menyentakkan darah panas ketika terasa ada sentuhan di pipinya. Dia melirik tangan yang memegang wajahnya, lalu ke pemilik tangan. Tatapan Kim Bum membuatnya gemetar. Bibirnya yang basah-merah juga bergetar.

Suasana semacam itu tak pernah ditemukannya dalam buku. Suasana yang menimbulkan jalaran-jalaran halus dan hangat di seantero telapak kakinya, dan mengalir di sepanjang urat-urat darahnya. Usapan tangan pemuda itu cuma dibalasnya dengan pejaman mata. Begitu pula ketika pemuda itu menciumnya. Dia menggigil. Sekejap terpana. Lalu, pelan-pelan tangannya belajar membalas pelukan pemuda itu.

Rumput dan daun perdu gemersik diterpa angin.

Bersambung…

Love Story In Beautiful World (Chapter 14)



Riset rombongan mahasiswa di Namchoseon masih berlanjut seminggu lagi. Mereka telah melakukan serangkaian wawancara dengan masyarakat setempat. Seharian mereka berjalan dari desa yang satu ke desa yang lain untuk mengumpulkan data. Desa-desa itu bertebaran di pelosok gunung.

Kim Bum mengiringi langkah Mrs. Son Ye Jin berjalan di bawah matahari. Panas matahari yang bersinar penuh itu tak terasa oleh mereka sebab dinginnya hawa di daerah itu. Tetapi, kulit Mrs. Son Ye Jin telah berwarna kemerahan. Wajahnya sumringah, rambutnya melambai-lambai diterpa angin. Kulitnya seperti tomat segar, merah dan licin.

Mereka berjalan tanpa suara. Kim Bum tahu bahwa Mrs. Son Ye Jin pastilah sudah letih. Jika dihitung-hitung, mereka berjalan hampir dua puluh kilometer. Di jalan yang berbatu dan menanjak-turun pula.

"Siapa yang memimpin kelompok riset ke desa sana?" Tiba-tiba Mrs. Son Ye Jin menunjuk kumpulan rumah di seberang lembah, di kejauhan.

"Mr. Han Jung Soo," kata Kim Bum. "Kelihatannya jalan ke sana agak sulit."

"Ya, cuma jalan setapak. Untung musim kering. Kalau hujan, jalan itu licin."

"Siapa yang ikut kelompok itu?"

"Lee Ki Kwang, Eunhyuk, Siwon, Heechul, Park Ji Yeon..."

"Park Ji Yeon?" tanya Mrs. Son Ye Jin seraya melirik.

Kim Bum tak menjawab. Dia menahan napas.

"Kenapa dia diikutkan kelompok itu, padahal tahu daerah itu sulit dicapai." Ada nada tidak senang dalam suara Mrs. Son Ye Jin.

"Sejak semula dia memang anggota kelompok itu. Kebetulan saja kelompok itu kebagian daerah yang sulit. Bukan disengaja," kata Kim Bum cepat-cepat.

"Seharusnya yang ke desa itu laki-laki saja."

"Tapi, dia bersemangat pergi."

"Ya, tapi kalau dia sakit akan merepotkan rombongan.”

Kim Bum diam. Langkah mereka terseret-seret di antara bongkah batu dan tanah liat kering.

"Besok kita istirahat," kata Kim Bum. "Anda mau melihat tempat-tempat indah di daerah ini?"

"Saya ingin menikmati waktu istirahat saya dengan baik. Tidak mau ke mana-mana.”

"Sayang kalau kesempatan ini dilewatkan. Di daerah ini banyak danau indah. Danau Rainbow misalnya. Airnya kelihatan berwarna-warni. Atau Danau Transparent. Permukaannya jernih sekali sampai kita bisa becermin. Dan, masih banyak lagi danau lain bertebaran di daerah ini. Coba anda bayangkan. Tidak jarang di pinggir danau itu bermain burung belibis. Seperti dalam dongeng saja. Pokoknya, pemandangan di sini hanya bisa ditandingi oleh mimpi."

"Ah, kau memang pintar bicara!"

"Saya tidak asal bicara. Waktu survey pendahuluan dulu, saya sudah mengunjungi tempat-tempat indah itu. Saya juga melihat pegunungan-pegunungan yang indah. Ditambah lagi dengan benda-benda peninggalan purbakala. Membuat daerah ini layak ditempati dewa-dewi. Saking terpesonanya, saya ingin tinggal di sini. Saya ingin bertapa. Di sini ada gua yang biasa dikunjungi orang-orang yang mencari ketenangan batin."

"Promosimu lumayan juga. Tapi, sayang badan saya terlalu letih. Malah agak meriang rasanya. Sepertinya mau demam," kata Mrs. Son Ye Jin.

"Kalau begitu, Anda harus berobat nanti. Anda lebih suka obat modern atau tradisional? Nanti di penginapan akan saya usahakan."

Mereka tiba di penginapan. Mrs. Son Ye Jin terduduk lemas. Dia mengusap peluh di dahinya. Sepatunya terlepas dan menggeletak di lantai.

"Mrs. Son Ye Jin, apa anda mau dipijat? Akan saya panggil tukang pijat. Di desa ini ada seorang wanita yang pintar memijat." Kim Bum bersemangat.

"Boleh juga," kata Mrs. Son Ye Jin lemah.

Sebentar kemudian Kim Bum menghilang. Baik juga hati anak muda ini, pikir Mrs. Son Ye Jin. Telaten dan penuh perhatian. Mrs. Son Ye Jin masih ingat bagaimana Kim Bum penuh perhatian dalam mengatur keperluan-keperluannya. Selama bergaul di daerah pegunungan itu, kekakuan Mrs. Son Ye Jin sedikit demi sedikit mulai pudar.

Kim Bum muncul diiringi seorang wanita. "Nyonya ini biasa memijat di desa ini," kata Kim Bum memperkenalkan.

"Apa yang kaubawa itu?" tanya Mrs. Son Ye Jin. "Akar-akaran. Nanti direbus, dan air rebusannya yang suam-suam kuku untuk merendam kaki anda sebelum tidur. Besok pagi, saya jamin anda sesegar bayi yang sehat."

Mrs. Son Ye Jin tersenyum. kemudian dia masuk ke kamar diiringi wanita yang akan memijatnya. Di pintu, dia menoleh dan tersenyum lagi.

Senyum yang kesembilan, pikir Kim Bum. Bukan main! Senyumnya bukan main bagusnya. Kenapa tidak sejak dulu dia memperlihatkan senyum itu? Alangkah sayangnya, senyuman semanis itu tersembunyi sekian lama.

Berkali-kali Kim Bum menarik napas panjang ketika meninggalkan tempat itu. Setelah berbaring di kamarnya, baru dia merasakan betapa lunglai badannya. Sendi-sendi serasa mau copot. Tetapi, dalam keletihan itu, dia tetap tersenyum. Jalan kian terbuka, pikirnya. Sejak belakangan ini, Mrs. Son Ye Jin terlihat lebih ramah dari bisanya. Ini sebuah kemajuan, pikirnya.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...