Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 23 September 2010

Senyuman Di Balik Pintu (FF)


Title : Senyuman Di Balik Pintu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Family
Episode : 6 Part
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 10 Agustus 2010, 04.16 PM
Review :

Di depan pintu rumah. Aku tersenyum. Menyapa kayu rapuh pintu itu. Aku harap untuk kesekian kali, pintu itu dapat bercerita suatu waktu, dan membuatku bangga bahwa seseorang masih setia menungguku di rumah. Seseorang yang telah bersamaku mengarungi kehidupan yang mahaberat ini. Dan namanya Song Hye Gyo, istriku tercinta!

Di bawah lantai segelas air teh tumpah, beling pecah berhamburan bercampur darah yang memerah kental. Sesosok tubuh tergeletak kaku bersandar di ranjang. Matanya memejam, namun senyumannya tetap hadir untuk menanti aku pulang. Seperti biasa!

Cast :
Rain
Song Hye Gyo
Choi Il Hwa (Rain’s Father)
Kim Ja Ok (Rain’s Mother)
Jung Bin (Kep.Rumah Tangga Kel.Rain Bi)

Rain Bi
(Hye Gyo's Husband)


Song Hye Gyo
(Rain Bi's Wife)


Choi Il Hwa
(Rain Bi’s Father)


Kim Ja Ok
(Rain Bi’s Mother)


Jung Ho Bin
(Kep.Rumah Tangga Kel.Rain Bi)


Senyuman Di Balik Pintu
Created By Sweety Qliquers

Part 1 “Sebuah Perhatian”
Part 2 “Doa & Amalan”
Part 3 “Restu Yang Tak Kunjung datang”
Part 4 “Uang vs Harga Diri”
Part 5 “Sebuah Jalan Yang Penuh Kebahagiaan”
Part 6 “Senyuman Di Balik Pintu” - TAMAT

Senyuman Di Balik Pintu (Part 6-Tamat)


Part 6
Senyuman Di Balik Pintu


Di depan pintu rumah. Aku tersenyum. Menyapa kayu rapuh pintu itu. Aku harap untuk kesekian kali, pintu itu dapat bercerita suatu waktu, dan membuatku bangga bahwa seseorang masih setia menungguku di rumah. Seseorang yang telah bersamaku mengarungi kehidupan yang mahaberat ini. Dan namanya Song Hye Gyo, istriku tercinta!

Dalam, sangat dalam harapan yang akan kulukiskan.

Di bawah lantai segelas air teh tumpah, beling pecah berhamburan bercampur darah yang memerah kental. Sesosok tubuh tergeletak kaku bersandar di ranjang. Matanya memejam, namun senyumannya tetap hadir untuk menanti aku pulang. Seperti biasa!

Pandanganku mengabur. Sekelilingku gelap.

Aku hanya bisa mengingat kalimat yang sering kucetuskan padanya yang membandel:
"Aku sudah kehabisan kata untuk mengingatkanmu, Song Hye Gyo. Kau tidur saja di kamar. Jangan menungguku pulang."

Namun dia selalu berdalih untuk selalu pertama hadir menyambut ketika aku pulang....

TAMAT

Senyuman Di Balik Pintu (Part 5)


Part 5
Sebuah Jalan Yang Penuh Kebahagiaan


Dalam perjalanan aku mampir ke rumah seorang teman yang bertugas sebagai seorang mantri, dan bertanya berapa ongkos perawatan di rumah sakit. Namun aku mendapatkan jawaban yang tak pasti. Padahal, hanya ia satu-satunya jalan menuju akses murah berobat ke rumah sakit yang berongkos mahal.

"Wah, maaf. Kau langsung saja ke administrasi rumah sakit. Aku sedang sibuk."

Aku pulang dengan informasi nihil.

Siang menjalar sore.

Sambil menunggu reda hujan yang tiba-tiba mengguyur tak begitu lama tadi, kusempatkan untuk membeli makanan kesukaan istriku. Sambil menatap kecipak air hujan yang belum reda, aku membayangkan raut wajah istriku yang akan tersenyum manis. Sebab hari ini aku membawakan makanan kesukaannya, dan esok hari dia tidak akan di ranjang menanti aku pulang. Sebab ia akan ditemani oleh perawat di rumah sakit!

Aku bersenandung dalam hati. Dan berharap hari-hari esok akan melewati hari dengan keindahan....

Hujan belum reda.

Sore yang merambat berlalu menggapai malam. Hari ini seperti kemarin. Untuk kesekian kali, kupaksa kakiku merambah genangan becek aspal jalan yang bertambah lubangnya dari hari ke hari. Namun malam ini tidak terasa dingin. Ada semangat yang menyala yang menghangatkan badanku, meski lampu jalan masih seperti dulu dengan lapisan kristalnya mulai nampak retak, menambah kelu gelapnya malam dari hari ke hari.

Masih saja tubuhku dihantam genangan air yang terlindas roda mobil. Namun kali ini aku hanya tersenyum. Sebab ada secercah harap yang membenderang, meski berupa noktah. Tidak seperti malam-malam lalu.

Bersambung...

Senyuman Di Balik Pintu (Part 4)


Part 4
Uang vs Harga Diri


Halaman rumah yang sudah bertahun tidak aku singgahi, masih nampak seperti dulu. Masih asri karena selalu dimanja tangan Mama.

Sejenak, aku teringat masa kecil. Aku berayun bersama adikku di samping Papa yang sedang membetulkan letak pot bunga kala itu.

Dengan perasaan berat, kuberanikan untuk menapak arah menuju pintu begitu lamunan silam itu buyar dari benakku. Ada satu kenangan setiap aku melangkahkan kaki di halaman rumah ini.

"Masih ingat jalan pulang?!" Suara berat yang lama pernah aku kenal, sertamerta menghentikan langkahku.

Kuarahkan pandangan secara lamat menuju arah sumber suara. Kutemukan wajah Papa tanpa guratan kangen di wajahnya. Yang ada hanya rasa asing nan hambar. Saling tak mengenal.

"Bagaimana kabarnya, Papa dan Mama...?" Aku mencoba mengakrabi sepotong hati yang beku di hadapanku. Ah, dulu kami pernah demikian karib dalam hari-hari. Namun sekarang....

"Hal terlucu yang pernah aku dengar!" Lelaki itu sertamerta membuang muka.

Aku seperti mayat hidup, dicaci tanpa berani menatap, dihakimi tanpa berani membela.

"Aku butuh uang, Pa. Song Hye Gyo sakit."

"Semua orang butuh uang!" ujarnya menghardik. "Dan hanya orang yang tidak tahu diri saja yang berani mengemis uang."

Perkataan itu membuat aku semakin melupakan niatku, melupakan dia sebagai seorang ayah, dan melupakan aku sebagai anak yang terlahir dari darah dan dagingnya sendiri. Tapi setiap mengingat istriku yang terkapar sakit, maka urunglah niatku menentang!

"Song Hye Gyo sakit, Pa!" Aku masih memohon. "Aku pinjam uang tidak banyak, hanya untuk ongkos perawatan ke rumah sakit. Dan tidak lama uang itu akan aku kembalikan."

"Lebih baik mengasihani anjing daripada...."

"Pa, cukup!" Suara yang aku kenal datang menghardik dari balik pintu.

"Kembali saja kau ke dalam tidak usah ikut campur!" Orang yang sebenarnya tidak aku anggap sebagai ayah itu memaki seorang wanita paruh baya, yang tidak lain adalah ibuku.

"Dan kau... pergi dari sini! Dan jangan pernah ke sini!"

Aku menatap galau. Tiba-tiba kebencianku kembali membuncah. Ia sama sekali terlihat bukan seorang ayah bagiku. Ia iblis! Iblis yang melaknat putranya yang khilaf menentukan jalan hidupnya karena melakukan hubungan terlarang sebelum menikah dengan seorang gadis bernama Song Hye Gyo. Bagiku, dia terlihat seperti seorang pemerkosa yang memaksa ibu untuk melahirkan aku – ya Tuhan, maafkan aku atas kesalahan ini!

Dan aku menyalahkan diriku, kenapa aku mengabaikan perkataan istriku.

Aku melangkah kembali, menapaki rumput halaman rumah yang menyimpan kenangan.
Sesampai di ujung gang, sepatah suara menghentikan langkahku. Suara yang lamat-lamat aku kenal dan pernah kuakrabi suatu waktu dulu.

"Pak Jung Bin?!"

"Tn.Muda, ini titipan Ibu."

"Siapa yang memberikan ini, Pak Jung Bin?"

"Ibu. Eh, Tn.Muda tinggal di mana?"

Aku terdiam

"Wah, bilang ke Mama, terima kasih. Akan kukembalikan secepatnya."

Aku berlalu secepatnya setelah menerima amplop yang diserahkan lelaki tua yang sudah mengabdi hampir separo hidupnya pada keluargaku. Tanpa membukanya pun aku sudah tahu apa isinya. Uang! Uang yang kuperlukan untuk keperluan perawatan Song Hye Gyo di rumah sakit!

"Tn.Muda, Tn.Muda Rain!"

Tak kugubris. Suara itu memanggilku, dan pelan-pelan hilang di pertikungan jalan menuju jalan raya.

Bersambung…

Senyuman Di Balik Pintu (Part 3)


Part 3
Restu Yang Tak Kunjung Datang


"Sudah diminum obatnya?" Kuangkat kepala Song Hye Gyo dan kurebahkan badannya untuk bersandar.

"Belum, Rain. Minta tehnya."

Teh manis hangat kuku kesukaan istriku, kuambil dan kuminumkan. Ada perasan sejuk di hati ketika aku bisa berbuat begitu. Mungkin sesejuk teh manis yang mengaliri tenggorokannya.

"Song Hye Gyo... aku mau ke rumah Papa."

"Ada keperluan apa, Rain?" Mata sayu istriku melirik wajahku. Ada kecurigaan di sudut matanya.

Ia tahu selama ini aku tidak pernah menengok Papa – ayahku, begitu juga ia. Setelah perkawinan sakral yang tanpa restu dan tanpa didasari keikhlasan di hati mereka – terutama ayahku, kami tak pernah menengok mereka lagi. Bukannya menaruh dendam, namun kami mengurung pertengkaran yang bakal terjadi.

"Song Hye Gyo, maafkan aku...." Aku menahan napas.

Matanya mencari jawaban. Tapi tak ada kalimat yang terjaring. Dan ia hanya diam dalam sunyi.

"Kau tidak harus sakit begini terus. Kau harus mendapat perawatan yang lebih baik. Aku akan pinjam uang ke Papa."

"Rain, Aku tidak apa-apa. Kondisiku sudah cukup baik. Aku sudah bisa bangun... huk-huk...."

Istriku mencoba menyenangkanku dengan mencoba bangkit, namun dia tidak bisa menyembunyikan sakitnya sehingga batuknya mulai mendera.

"Coba lihat, Kau belum sembuh Song Hye Gyo!" Kurebahkan badannya untuk berbaring kembali. Dan aku juga membaringkan tubuhku di sampingnya.

Batuknya menyeruak ke langit-langit, menampar ibaku, mengeringkan airmataku.

"Rain, kau tidak perlu ke rumah Papa, kalau hanya untuk pinjam uang."

Aku hanya membisu. Antara keraguan dan ketakutan. Keraguaan akan penerimaan Papa terhadap kehadiran anaknya yang hilang. Dan ketakutan akan kesehatan istriku yang akan semakin parah.

Aku memijit punggung istriku. Dan tanpa sadar, diselingi batuknya dan rencana esok pagi yang sudah tersusun di benakku, aku sudah tertidur dalam kelelahan.

Bersambung…

Senyuman Di Balik Pintu (Part 2)


Part 2
Doa & Amalan


Di depan cermin, kucoba memandang wajahku yang kuyu. Kucoba tersenyum agar aku tahu, bagaimana wajahku jika tersenyum ketika menghadapi istriku. Sebab aku yakin, senyuman adalah satu-satunya hadiah terindah yang selalu aku berikan kepada istriku.

"Ini senyuman paling menyakitkan, senyuman tanpa keikhlasan." Dengan cepat-cepat aku membuang wajahku dari cermin setelah merutuk dalam batin.

Kuambil pakaian kering yang belum sempat aku setrika. Lalu menuju ke dapur untuk memanaskan air. Sambil menunggu air untuk kopi, kakiku melangkah di atas sajadah. Ya, kupasrahkan semua beban ini di hadapan-Mu....

"Tuhan... aku tidak meminta dan tidak meratap. Tuhan... aku hanya berharap agar tatapan-Mu tidak pernah alpa dalam mengawasiku."

Tidak ada doa khusus dan tidak ada amalan khusus. Karena dalam pandanganku, doa dan amalan adalah hilangnya keikhlasan. Sebab doa dan amalan berujung suatu yang minta balasan.
Padahal ketika Tuhan memberi, hal tersebut merupakan sebuah konsekuensi dan tanggung jawab. Makanya aku tidak mau main-main terhadap doa dan amalan.

Suara air yang mendengung dalam didih, menyeret langkahku meninggalkan arah kiblat tepat ketika kusudahi doa. Kutuangkan gelas dan menyeduh kopi dan segelas teh hangat.

Bersambung…

Senyuman Di Balik Pintu (Part 1)


Part 1
Sebuah Perhatian


Untuk kesekian kali, kakiku merambah genangan becek aspal jalan yang berlubang. Malam ini terasa bertambah dingin. Lampu jalan yang lapisan kristalnya mulai nampak kotor, menambah bias keredupan malam. Sesekali tubuhku dihantam genangan air yang terlindas roda mobil. Aku hanya diam.

Aku merasa malam ini aku dihujat malam.

Di depan pintu rumah. Aku termenung, memandang kayu rapuh pintu itu. Namun untuk kesekian kali aku bangga melihat pintu itu yang masih setia menungguku. Dan tetap setia menjaga istriku yang terbaring tak berdaya.

Tak perlu aku membangunkan istriku, seperti malam-malam sebelumnya.

Kurebahkan badanku di kursi.

"Baru pulang, Rain?" Wanita yang kucintai itu bertanya lirih. Masih saja, dia selalu menyebut nama kesayanganku.

Aku tersenyum, kucoba menghampiri dia walaupun badan ini rasanya ditelikung lelah yang luar biasa, dan enggan beranjak dari sandaran.

"Iya, Song Hye Gyo. Hm, tadi hujan di luar deras sekali. Sekarang sudah berhenti." Tanganku membelai rambutnya yang mulai kumal.

Dulu rambut Song Hye Gyo yang panjang lebat dan hitam mengkilat adalah salah satu keindahan yang memikatku.

"Bajumu basah. Ganti baju dulu, Rain. Sebentar masuk angin."

Masih saja perhatiannya membungkam kejenuhanku.

"Oya, Song Hye Gyo. Eh, ini obatnya diminum dulu...."

Aku melangkah ke bilik kamar. Selama sakit, istriku selalu tidur di ranjang, di balik lemari penyekat ruangan tamu. Aku sudah kehabisan kata untuk mengingatkannya agar tidur di kamar. Namun dia selalu berdalih untuk selalu pertama hadir menyambut ketika aku pulang.

Bersambung…

Kerikil-Kerikil Cinta (FF)


Title : Kerikil-Kerikil Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship
Episode : 6 Part
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 10 Agustus 2010, 04.42 PM
Review :

Karena ingin menyembuhkan ketergantungan Drug sahabatnya – Kim Bum, Jung Yong Hwa meminta kekasihnya – Kim So Eun untuk mendekati Kim Bum.

Dengan keyakinannya, Jung Yong Hwa memastikan Kim Bum pasti akan meninggalkan drugs setelah mendapat perhatian yang tulus dari Kim So Eun.

Dan Jung Yong Hwa memang benar, Kim Bum berhasil meninggalkan dunia drugs dan cintanya pada Kim So Eun yang jadi pemacunya.

Kalau mau jujur, pesona Kim Bum memang mampu membuat cinta Kim So Eun berpaling dari Jung Yong Hwa. Dan salahkah dirinya bila cintanya pada Jung Yong Hwa sudah luntur saat dia memutuskan untuk mendampingi Kim Bum?

Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Jung Yong Hwa

Kim So Eun
(Kim Bum's Girlfriend)


Kim Bum
(So Eun's Boyfriend)


Jung Yong Hwa
(Kim Bum's Bestfriend)


Kerikil-Kerikil Cinta
Created By Sweety Qliquers

Part 1 “Kim So Eun & Kim Bum”
Part 2 “Rasa Cemburu Jung Yong Hwa”
Part 3 “Rencana Jung Yong Hwa”
Part 4 “Kim So Eun & Jung Yong Hwa”
Part 5 “Dilema Kim Bum”
Part 6 “Keputusan Kim Bum” - TAMAT

Kerikil-Kerikil Cinta (Part 6-Tamat)


Part 6
“Keputusan Kim Bum”


“Kim Bum kenapa kau lakukan ini?” Kim So Eun masih mencoba mencari tahu. Kim Bum tersenyum getir, menatap gadis yang kini duduk di sampingnya. Betapa berat melepas gadis itu, bagaimanapun juga Kim So Eun sangat berarti dalam kehidupannya. Gadis itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dan kini haruskah ia lepas? Dia memang salah memasuki ruang di antara mereka berdua. Dia menjadi penghalang bagi cinta Kim So Eun dan Jung Yong Hwa.

Sungguh Kim Bum takkan pernah sanggup, menjadi benalu pada pohon yang telah memberinya tempat untuk hidup. Dan dia telah memutuskan untuk pergi dari sisi Kim So Eun, walaupun itu akan terasa pahit bagi hati dan pikirannya.

Tapi harus bagaimana lagi? Ia tak ingin melukai perasaan Jung Yong Hwa, walaupun besar rasa cintanya pada Kim So Eun.

“Ini tidak adil! Aku tulus mencintaimu! Aku memang pernah punya kenangan bersama Jung Yong Hwa. Tapi itu sudah menjadi bagian dari masa lalu!” tegas Kim So Eun memberi keyakinan.

“Benarkah? Lalu apakah aku pantas disebut sebagai sahabat? Bahagia dengan cintaku, sementara hati sahabatku terluka? Apa kata orang nanti?” ucap Kim Bum tapi hanya dalam hati. Ia tidak ingin semakin melukai Kim So Eun. Walaupun hatinya sekarang ini benar-benar terpuruk.

Kini Kim Bum telah meninggalkan mereka berdua menempuh jalannya sendiri. Tapi mengapa Kim So Eun belum mampu melupakan Kim Bum? Dan Jung Yong Hwa tak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menyelubungi hatinya.

“Tidak bisakah kita renda kembali tali kasih cinta kita?” tanya Jung Yong Hwa penuh asa. Kim So Eun menggeleng lemah.

Perlahan kepalanya terangkat dan matanya menatap Jung Yong Hwa pedih.

“Aku tidak bisa lagi mencintaimu. Cinta itu entah kapan telah berlalu dari hatiku.”

“Tapi kalian juga tidak mungkin bersama lagi! Kim Bum telah meninggalkanmu, tidakkah itu cukup sebagai alasan agar kau melupakan dia?”

“Tidak peduli dia ada di mana, aku akan tetap menunggunya. Aku yakin dia akan berlabuh di hatiku.”

Pedih! Itu yang dirasakan Jung Yong Hwa saat dengan tegas Kim So Eun mengucapkan semua itu. Jika memang itu keputusan Kim So Eun, berhakkah dia melarangnya?

Cinta datang tanpa diminta pergi pun tanpa kita tahu. Walau jalan cinta penuh dengan kerikil-kerikil tajam, tapi banyak yang berhasil melaluinya. Dan Jung Yong Hwa punya harapan yang begitu besar. Berharap suatu saat nanti, Kim So Eun mampu menghilangkan kerikil-kerikil tajam itu untuk mendapatkan cinta sejatinya.

TAMAT

Kerikil-Kerikil Cinta (Part 5)


Part 5
“Dilema Kim Bum”


Jangan pernah melepaskan orang yang telah membawa perubahan besar dalam hidupmu dan kau tahu, Kim So Eun? Kaulah orang itu, kaulah dewi itu. Dan aku takkan pernah melepasmu. Setetes airmata membasahi kedua pipi Kim So Eun saat mengingat ucapan Kim Bum, 3 bulan yang lalu. Saat itu Kim Bum baru saja sembuh dari ketergantungannya pada drugs. Lima bulan yang lalu Kim Bum benar-benar sosok yang rapuh. Dan suatu hari Jung Yong Hwa memintanya untuk mendekati Kim Bum, memberi perhatian dan kasih sayang. Tapi dalam usaha menjauhkan Kim Bum dari drugs tidak disangka cinta akan datang menyusup di hatinya.

Padahal saat itu dia sedang menjalin cinta dengan Jung Yong Hwa. Memang hubungannya dengan Jung Yong Hwa, tidak ada satu pun teman mereka yang tahu. Awal mula Jung Yong Hwa memintanya untuk mendekati Kim Bum, Kim So Eun sempat menolak. Tapi Jung Yong Hwa terus memaksa dengan alasan Kim Bum sahabatnya dan ia tidak ingin Kim Bum semakin terjerumus. Dengan keyakinannya, Jung Yong Hwa memastikan Kim Bum pasti akan meninggalkan drugs setelah mendapat perhatian yang tulus dari Kim So Eun.

Dan Jung Yong Hwa memang benar, Kim Bum berhasil meninggalkan dunia drugs dan cintanya pada Kim So Eun yang jadi pemacunya. Kalau mau jujur, pesona Kim Bum memang mampu membuat cinta Kim So Eun berpaling dari Jung Yong Hwa. Dan salahkah dirinya bila cintanya pada Jung Yong Hwa sudah luntur saat dia memutuskan untuk mendampingi Kim Bum?

Bersambung…

Kerikil-Kerikil Cinta (Part 4)


Part 4
“Kim So Eun & Jung Yong Hwa”


“Apa yang sebenarnya pernah terjadi di antara kalian? Sepertinya aku berhak mencari tahu, kan?” tanya Kim Bum. Kim So Eun membalikkan badannya menghadap Jung Yong Hwa. Matanya penuh harap menatap Jung Yong Hwa. Berharap Jung Yong Hwa tidak mengatakan apa-apa pada Kim Bum, tentang apa yang terjadi di antara mereka.

“Jung Yong Hwa, Kau sahabatku dan Kim So Eun adalah cintaku. Kalian berdua punya kedudukan penting dalam kehidupanku. Aku menyayangi kalian,” Kim Bum masih mencoba mencari tahu. Tanpa kata Jung Yong Hwa beranjak meninggalkan ruangan tanpa memedulikan pertanyaan yang dilontarkan Kim Bum. Kim Bum menatap punggung Jung Yong Hwa dengan tanda tanya di hatinya. Kini tatapnya berganti ke arah Kim So Eun. Gadis itu hanya mampu menunduk tanpa mengatakan apa-apa.

“Tolong jangan tatap aku seperti itu, Kim Bum. Aku tahu aku salah. Jangan membuatku semakin merasa bersalah,” ucap Kim So Eun getir.

Bersambung…

Kerikil-Kerikil Cinta (Part 3)


Part 3
“Rencana Jung Yong Hwa”


Kim So Eun merasa gelisah sekali malam ini, dan itu karena semua kata-kata Jung Yong Hwa padanya tadi siang.

Jung Yong Hwa telah berubah, sama sekali berubah! Salahkah dirinya bila sekarang ini lebih mementingkan keberadaan Kim Bum daripada Jung Yong Hwa? Salahkah dirinya, bila cinta itu datang begitu saja tanpa ia mampu mengelak?.

Jung Yong Hwa berdiri tepat di depan Kim So Eun. Kim So Eun melihat sekeliling ruangan. Ia memang paling terakhir pulang saat bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu.

“Kenapa? Kau takut Kim Bum memergoki kita?” sinis Jung Yong Hwa memaksa Kim So Eun menatap tajam cowok itu, tepat di retina matanya. Cinta itu masihkah memberi warna pada mata elangnya?

“Aku hanya tidak ingin Kim Bum punya prasangka buruk dengan kita!” tukas Kim So Eun cepat.

“Aku janji tak akan lama,” ucap Jung Yong Hwa akhirnya. Kim So Eun kembali duduk di bangkunya.

“Seberapa jauh hubungan kalian tiga bulan ini?” tanya Jung Yong Hwa menyelidik, membuat Kim So Eun mengerutkan keningnya. Ia jadi bingung dengan pertanyaan Jung Yong Hwa.

Pertanyaan itu seolah-olah Jung Yong Hwa ingin menghakiminya.

“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mendekati Kim Bum? Membantunya untuk lepas dari drugs!”

“Tapi aku tidak menyuruhmu untuk jatuh cinta dengannya!” balas Jung Yong Hwa sinis membuat Kim So Eun terkejut dengan nada bicara Jung Yong Hwa yang naik satu oktaf lebih tinggi. Dijawab juga percuma! Kim So Eun meraih tasnya dan beranjak pergi. Tapi langkah itu terhenti seketika, saat sesosok tubuh atletis berdiri di ambang pintu dengan tatap penuh tanda tanya.

Bersambung…

Kerikil-Kerikil Cinta (Part 2)


Part 2
“Rasa Cemburu Jung Yong Hwa”


Jung Yong Hwa terlihat memainkan stick drum-nya tanpa ekspresi sedikit pun. Seolah-olah apa yang baru saja dikatakannya, sama sekali tidak membuat telinga merah. Kim So Eun merasa kecewa sekali dengan ucapan Jung Yong Hwa tadi. Tidak seharusnya Jung Yong Hwa mempermalukan Kim Bum di hadapan anak-anak. Seharusnya pria itu bisa memahami bagaimana perasaannya Kim Bum, tidak asal bicara. Jung Yong Hwa masih tidak bergeming. Menatapnya sekilas pun tidak ia lakukan. Dan itu sungguh membuat Kim So Eun merasa tertekan. Jung Yong Hwa tersenyum getir. Ia menghentikan aktivitasnya memainkan drum.

“Kau mengakhawatirkan perasaan Kim Bum kan? Lalu bagaimana dengan perasaanku, Kim So Eun? Pernah tidak kau pikirkan walaupun hanya sedikit?” tuntut Jung Yong Hwa membuat Kim So Eun tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Kim So Eun menarik nafas perlahan. Seharusnya Jung Yong Hwa bisa memahami posisinya bukan malah menyudutkannya. Namun apa yang dilakukannya?

“Kau tidak bisa begitu saja menjadikanku sebagai sampah. Saat merasa bimbang kau bisa membuangku, tapi begitu kau meginginkanku, kau coba untuk meraihnya lagi!”

Kim So Eun tak mampu menahan beban di hatinya selama tiga bulan ini. Hingga tercurahlah kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini tak pernah ingin ia sampaikan pada Jung Yong Hwa. Kim So Eun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.

“Aku tidak pernah menjadikanmu sampah di hatiku,” ucap Jung Yong Hwa membuat langkah Kim So Eun terhenti. Ucapan itu begitu lirih, namun Kim So Eun mampu mendengarnya. Jung Yong Hwa merasa semakin terluka, saat tanpa bicara Kim So Eun kembali meneruskan langkahnya, meninggalkannya dalam kebimbangan.

Bersambung…

Kerikil-Kerikil Cinta (Part 1)


Part 1
“Kim So Eun & Kim Bum”


Kim So Eun dan Jung Yong Hwa tertegun di depan pintu, saat tiba-tiba saja seisi ruangan menghentikan aktivitasnya main band dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Dengan kikuk Kim So Eun mencoba tersenyum dan segera duduk di kursi yang tersedia di sudut ruangan. Kim Bum langsung mengambil gitar yang tergeletak di samping Kristen Stewart.

“Kenapa berhenti? Kalian marah karena aku datang terlambat? Kita bisa mulai lagi kan?”

Kim Bum mulai memetik gitar dan memainkan intro sebuah lagu. Saat sadar teman-teman yang lain tidak mengimbangi permainannya. Kim Bum hanya tersenyum kecil. Ia paham mereka pasti kecewa karena dia datang terlambat.

“Dua jam, Kim Bum. Kau terlambat dua jam!! Aku kecewa denganmu. Demi seorang wanita kau mengorbankan waktu latihan kita! Sejak bersama Kim So Eun kau mengesampingkan grup band kita. Dan kau seenaknya saja bilang terlambat!” celetuk Jung Yong Hwa panjang lebar dengan nada sinis.

Kim So Eun terkejut mendengar ucapan Jung Yong Hwa yang tidak ia sangka. Robert Pattinson, Kristen Stewart, dan Zac Efron yang berada di ruangan itu juga tampak terkejut mendengarnya. Wajah Kim Bum merah padam, sedetik kemudian ia meletakkan gitarnya dan meninggalkan studio latihan. Anak-anak yang lain segera keluar menyusul. Kim So Eun masih terpaku di tempatnya.

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (FF)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Note :
Mengisahkan penantian sejati dari seorang Go Ah Ra yang notabene adik tiri Kim So Eun, yang diusir oleh ayahnya karena hamil di luar nikah. Beserta ibunya, Park Hae Mi senantiasa membuka pintu hatinya untuk gadis yang sebenarnya mengantipati mereka. Temukan banyak keajaiban cinta di dalamnya.
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok
Ryu Seung Ryong
Park Hae Mi
Kang Shin Il
Lee Mi Sook
Kim Ji Young
Baby`Yoon Hyun Seo
Kim Bum

Kim So Eun
(Ah Ra's Stepsister)


Go Ah Ra
(So Eun's Stepsister)


Kim Ja Ok
(So Eun’s Auntie)


Ryu Seung Ryong
(So Eun’s Father)


Park Hae Mi
(Ah Ra’s Mother)


Kang Shin Il
(Ah Ra’s Father)


Lee Mi Sook
(So Eun’s Mother)


Kim Ji Young
(Kep.Rumah Tangga Kel.Kim So Eun)


Baby`Yoon Hyun Seo
(So Eun’s Son)


Kim Bum
(So Eun's Husband)


Menanti Kim So Eun Pulang
Created By Sweety Qliquers

Part 1 “Menanti Kim So Eun Pulang”
Part 2 “Jangan Pergi, Kak Kim So Eun”
Part 3 “Kami Mencintai Kak Kim So Eun!”
Part 4 “Jangan Hukum Kak Kim So Eun, Papa!”
Part 5 “Maafkan Aku, Go Ah Ra!”
Part 6 “Kami Menerima Kak Kim So Eun!”
Part 7 “Terima Kasih, Go Ah Ra!” - TAMAT

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 7-Tamat)


Part 7
Terima Kasih, Go Ah Ra!


"Papa memang kejam!"

Go Ah Ra berlari setelah menjerit histeris. Matanya memanas. Dia sama sekali tidak menyangka lelaki itu tetap bertahan dengan keputusannya. Tidak pernah dapat memaafkan kesalahan putri kandungnya sendiri! Dan atas nama martabat keluarga pula, dia lebih rela kehilangan buah hatinya untuk seumur hidup!

Dilajukannya mobil menyusuri jalan-jalan Seoul yang membasah. Dia marah terhadap dirinya sendiri, gagal menggugah kekerasan hati Papa. Perjuangannya menanti selama ini akhirnya kandas atas nama baik keluarga yang telah tercoreng. Dia menangis untuk Kim So Eun.

"Ma-maafkan aku, Kak Kim So Eun! Pa-Papa ti-tidak...."

"Sudah aku duga."

"Ta-tapi?"

"Ini hukuman untukku, Go Ah Ra. Mungkin juga ini merupakan suratan hidup yang mau tidak mau harus aku jalani. Percuma menyesali keputusan Papa. Semua itu merupakan konsekuensi kesalahan besar yang pernah aku lakukan. Kau jangan ngotot membelaku lagi. Jangan-jangan nanti malah kau yang diusir oleh Papa."

"Ta-tapi, Yoon Hyun Seo?"

"Don't worry about me and Yoon Hyun Seo, Go Ah Ra. Kami tidak apa-apa, kok. Mama memaksa dan bersikeras mensubsidi susu untuk Yoon Hyun Seo serta jatah ransum untukku, meskipun aku menolaknya mati-matian. Untuk sementara kami berdua tinggal di bekas rumah kalian yang dulu. Mama sudah menyiapkan semuanya. Katanya, aku jangan berpikir macam-macam kecuali konsentrasi merawat Yoon Hyun Seo. Katanya juga, setiap hari Mama akan membujuk Papa sampai Papa dapat menerima dan memaafkanku."

Sampai saat ini Kim So Eun memang belum dapat pulang karena kekerasan hati Papa. Tapi Go Ah Ra bahagia karena impiannya sudah terwujud. Menjadi bagian dari hidup Kim So Eun. Sebagai adik, saudara perempuannya yang merupakan anugerah tak ternilai.

Ada sekelebat cahaya kilat dari langit yang membuyarkan semua lamunan Go Ah Ra. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri. Sudah jauh larut malam. Besok pagi dia harus ke sekolah. Mama juga pasti mencemaskannya. Dia harus segera kembali.

Dan tetap menanti Kim So Eun pulang.

TAMAT

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 6)


Part 6
Kami Menerima Kak Kim So Eun!


"Aku minta maaf, Go Ah Ra!"

Go Ah Ra membeliak. Dipandanginya betul-betul sepasang mata yang berkaca-kaca di seberang meja. Kalimat yang barusan didengar itu bagai sebuah doa. Gemanya menyentuh sampai ke lubuk hati. Kim So Eun telah terlahir kembali! Dia serasa tak percaya.

"Aku sudah menyakiti hati kalian."

"Ti-tidak. Kak Kim So Eun tidak boleh bilang begitu!"

"Tapi aku memang tidak pantas diampuni. Jadi...."

"Biar bagaimanapun juga Kak Kim So Eun tetap saudaraku."

"Ka-kau baik sekali, Go Ah Ra!"

"Kami merindukan Kak Kim So Eun."

Ibu muda itu menggeleng. Airmatanya menitik. Diusapnya kepala mungil bayinya dengan penuh perhatian tatkala bayi itu terbangun dan menangis keras. Beberapa tamu di McDonald's yang mereka kunjungi itu menoleh karena terkejut, tapi meneruskan acara makan mereka yang terganggu lima detik kemudian.

"Kim Bum...?"

"Ke mana dia, Kak Kim So Eun?"

"Aku tidak tahu. Selama ini aku memang telah dibutakan oleh cinta. Kami sebetulnya masih terlalu dini untuk membentuk rumah tangga. Segalanya masih prematur. Kami masih anak-anak!"

"Selama ini Kak Kim So Eun kemana saja?"

"Seperti juga Papa, orangtua Kim Bum juga menolak kami. Hei, orangtua gila mana yang ikhlas menerima anaknya yang bertitel MBA, Married by Accident?" Kakak tirinya itu tertawa.

"Waktu itu, kami bingung mau ke mana. Kim Bum masih menganggur. Jangankan kerja, SMA-nya saja amburadul. Tapi, untung Kim Bum punya saudara di Busan. Mereka menampung kami untuk sementara sampai Kim Bum mendapat pekerjaan, dan mengontrak rumah kecil di sana."

"Lalu...."

"Setahun belakangan ini sikap Kim Bum mulai berubah. Hampir setiap hari kami bertengkar. Dari masalah sepele sampai masalah keuangan yang menjadi momok menakutkan bagi kami. Tidak ada keharmonisan lagi dalam rumah tangga!"

"Kenapa, Kak Kim So Eun?!"

"Aku tahu dia frustasi karena cita-citanya untuk bersekolah tinggi tidak kesampaian. Tapi, itu juga karena kesalahan dia. Sebetulnya cinta kami dulu tidak didasari dengan ketulusan. Kami tidak pernah memikirkan akibat buruk yang akan terjadi dengan masa depan kami. Terus saja bermain api hingga terbakar. Sekarang apa boleh buat, Go Ah Ra. Nasi sudah jadi bubur. Kami meraih gelar MBA duluan."

"Ka-kasihan Yoon Hyun Seo!"

"Aku bingung, Go Ah Ra. Kim Bum depresi. Dia tidak memperdulikan kami lagi. Ketika Yoon Hyun Seo sakit keras pun, dia malah cuek dan apatis. Sekarang, dia ke mana juga aku tidak tahu."

Bayi itu masih saja terus menangis ketika dilihatnya kakak tirinya itu menghela napas panjang.

"Pulanglah bersama kami lagi, Kak Kim So Eun!"

"Aku malu!"

"Dua tahun kami menunggu kepulangan Kak Kim So Eun."

"Mama pasti membenciku."

"Mama tidak pernah mendendam. Kak Kim So Eun masih ingat tidak, waktu Papa memukul Kak Kim So Eun, Mamalah yang berusaha keras menahannya. Mama sayang padamu, sama seperti Mama menyayangiku."
"
Ta-tapi, aku telah menyakiti hati Mama dengan mempermalukannya di depan umum."

Kim So Eun menundukkan kepalanya.

Suaranya berhenti di tengah tenggorokan. Pelupuk matanya memanas. Dihirupnya Coca-Colanya tanpa selera.

"Tidak, Sayang."

Ada suara lembut yang mengalun di belakangnya. Tampak seorang wanita berdiri anggun mengangguk pelan ke arahnya.

"Ma-Mama?!"

Kim So Eun kontan berdiri dan menyambut tubuh wanita itu. Dijatuhkannya kepalanya di bahu wanita itu dengan airmata berlinang.

"Mama tidak pernah membencimu. Mama sedih kau pergi. Mama harap kau mau tinggal bersama kami lagi."

"Ma-maafkan aku, Ma!"

Go Ah Ra berdiri dengan mata membasah. Inilah impian yang telah lama dinanti-nantikannya. Kini terwujud dan menjadi kenyataan. Kim So Eun menerima mereka seutuhnya sebagai bagian dari hidupnya yang baru.

Di luar sana, di balik dinding kaca resto, dilihatnya Bibi Kim Ji Young berdiri mematung dengan meneteskan airmata haru. Pasti wanita tua itu yang membocorkan rahasia pertemuannya dengan Kim So Eun.

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 5)


Part 5
Maafkan Aku, Go Ah Ra!


Bibi Kim Ji Young yang memberitahu Go Ah Ra secara diam-diam pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah. Katanya, ketika sedang membersihkan taman pagi-pagi sekali tadi, dia bertemu dengan Kim So Eun di depan gerbang rumah. Kelihatannya ada hal penting yang hendak disampaikan. Wanita tua yang telah mengabdi pada keluarga Ryu Seung Ryong selama puluhan tahun itu juga mengatakan agar kedatangannya jangan dikatakan pada siapa-siapa terutama Papa. Dia juga minta untuk bertemu di suatu tempat yang sudah ditentukannya sore nanti.

Ketika bertemu dengannya, tidak ada pelukan hangat dari seorang kakak yang selama ini diimpi-impikan Go Ah Ra. Hanya ada sambutan senyum tawar dengan sepasang mata cekung yang menatapnya hampa.

"Papa masih belum dapat menerimaku!"

"Sudah dua tahun...."

"Mungkin seratus tahun pun Papa...."

"Kak Kim So Eun!"

"Kalau bukan karena Yoon Hyun Seo...."

"Tidak! Kak Kim So Eun harus pulang. Papa pasti akan memaafkan Kak Kim So Eun. Mama juga sedih!"

"Ma-Mama?!"

Go Ah Ra terkesiap. Itu impiannya selama ini. Kim So Eun menyebut Mama!

"Kembalilah, Kak Kim So Eun. Aku mohon. Mari bangun lagi keluarga kita dari awal."

"Sudah terlambat."

"Ta-tapi"

"Papa tidak akan menerima Yoon Hyun Seo!"

Go Ah Ra memejamkan matanya sesaat ketika kerongkongannya mendadak memerih.
Dua tahun Kim So Eun berkalang derita dikarenakan kekerasan hati Papa. Hatinya gamang. Diliriknya bayi lima belas bulan yang sedang tertidur di pangkuan ibu mudanya.

Sebersit rasa iba menikam ulu hatinya. Bayi ringkih itu sama sekali tidak berdosa.

"Mama sudah berulang kali memohon pada Papa."

"Tapi Yoon Hyun Seo...."

"Yoon Hyun Seo tidak berdosa."

"Sudah seminggu dia panas seperti ini. Aku takut sekali, Go Ah Ra."

"Kita bawa dulu Yoon Hyun Seo ke dokter."

"Aku sudah membawanya ke Puskesmas."

"Tapi Yoon Hyun Seo membutuhkan perawatan yang lebih intensif, Kak Kim So Eun."

"A-Aku...."

"Kak Kim So Eun jangan berpikir macam-macam lagi. Yoon Hyun Seo perlu segera diberi perhatian. Kelihatannya dia kurang gizi."

Ibu muda itu mengangguk pelan. Wajahnya pasi. Kecantikan remajanya telah memudar disaput penderitaan.

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 4)


Part 4
Jangan Hukum Kak Kim So Eun, Papa!


Go Ah Ra ingat bagaimana bencinya Kim So Eun terhadapnya, terlebih-lebih pada Mama. Penolakannya yang sarkartis terhadap mereka membuat Papa Ryu Seung Ryong murka. Bukan hal terpuji bila seorang anak tega mempermalukan ibunya sendiri di depan banyak orang justru pada saat momen paling bahagia dalam hidupnya.

"Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta tamu undangan yang saya hormati. Hari ini adalah resepsi pernikahan ayah saya yang tercinta dengan wanita yang bernama Park Hae Mi ini. Saya harap Anda sekalian dapat merasakan dan merayakan kebahagiaan mereka dengan gembira. Tapi semua itu bukan merupakan kebahagiaan saya. Wanita ini, Park Hae Mi beserta putrinya Go Ah Ra, telah merusak ketenangan saya selama ini. Kenapa? Karena dengan begitu cepatnya mereka dapat menarik perhatian dan kasih sayang ayah saya terhadap almarhumah ibu saya, Lee Mi Sook yang belum juga genap setahun meninggal! Dan hal yang mereka lakukan itu bagi saya sangat tidak bermoral, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu!"

Dan bukan sekali-dua dia menumpahkan kekesalannya terhadap ibu dan adik barunya yang berpredikat tiri itu. Setiap hari kedua wanita itu diintimidasi seperti terpidana mati. Rasa tidak sukanya itu diaplikasikannya dengan vulgar. Sehingga pada suatu ketika himpunan kesabaran dari lelaki separuh baya itu runtuh tak terbendung.

"Pa-Papa me-menamparku?!" Tanya Kim So Eun sambil menahan airmata.

"Kau sudah keterlaluan!"

"Pa-Papa tidak adil! Papa lebih menyayangi kedua orang luar itu ketimbang anak kandung sendiri! Papa kejam!"

Namun naluri keibuan seorang wanita memang tak pernah lekang oleh waktu. Sang ibu tiri tidak marah. Memaafkannya dengan tulus. Dan membalikkan persepsi sepanjang zaman tentang ibu tiri yang jahat dan kejam. Dibuktikannya semua itu dengan kebesaran jiwanya. Disayanginya gadis itu selayaknya menyayangi putri tunggalnya sendiri, Go Ah Ra. Dipeluknya tubuh lelaki separuh baya itu kala kalap hendak memukul kembali putri kandungnya sendiri. Dengan berlinang airmata dia memohon agar lelaki separuh baya itu mengurungkan niatnya.

"Aku mohon jangan pukul Kim So Eun lagi, Pa!"

"Anak kurang ajar ini akan semakin menjadi-jadi kalau tidak diberi pelajaran!"

"Tapi Kim So Eun tidak bermaksud...."

"Jangan halangi aku, Park Hae Mi!"

Sayang gadis itu tidak tergugah. Hatinya masih sekeras batu. Dan pemberontakan hati gadis itu terus berlanjut dan menjadi-jadi setelah Papa, orang yang paling dicintainya pun berpaling mengantipati. Gadis itu berubah menjadi merpati liar. Narkoba dan dugem menjadi aplikasi kekecewaannya. Sampai suatu ketika pergaulan bebas tak dapat dihindarinya sehingga mencorengkan arang aib bagi keluarga. Dia tersuruk. Tak ada pilihan lain kecuali hengkang dengan menyimpan segumpal dendam yang membara.

"Ja-jangan pergi, Kak Kim So Eun!" Pinta Go Ah Ra

"Papa tidak menginginkanku lagi!"

"Suatu saat Papa pasti dapat memaafkan Kak Kim So Eun."

"Percuma kalau di matanya seorang Kim So Eun merupakan pencoreng dan perusak nama baik keluarga."

"Mama sudah berusaha membujuk Papa."

"Terima kasih untuk kebaikan kalian. Tapi, sedari dulu juga aku tidak pernah meminta bantuan kalian. Jadi...."

"Kak Kim So Eun...."

"Sudahlah, Go Ah Ra. Kalian hanya buang-buang waktu saja."

"Ta-tapi...."

"Aku memang pantas diusir. Aku bukan anak yang berbakti."

"Tapi, Aku dan Mama tidak ingin Kak Kim So Eun pergi. Kami sayang padamu!"

Tapi gadis itu tetap melangkah. Tangisan Mama dan adik tirinya sama sekali tidak menggugah hasratnya untuk meninggalkan rumahnya yang megah selaksana istana. Dihalaunya semua jeritan yang terdengar memilukan. Meski nuraninya terketuk atas kebaikan dan ketulusan kasih sayang dari orang-orang yang pernah dipermalukannya itu, namun bara di hatinya telah kepalang membakar. Dia benci semuanya termasuk kepada dirinya sendiri. Diayunkannya langkahnya secepat mungkin agar semuanya lekas berlalu.

Di luar seorang pemuda telah menantinya!

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 3)



Part 3
Kami Mencintai Kak Kim So Eun!


Semilir angin masih basah.

Masih terdengar lembut serangkaian lagu di gendang telinganya. Go Ah Ra menyandarkan kepalanya ke jok mobil ketika 'Cinta Jangan Kau Pergi'-nya Vidi Aldiano mengalun merdu dari frekuensi 102,2 FM di radio digital mobil. Dipejamkannya mata, takzim menyimak. Ada suara Kim Hyun Joong-Sang Penyiar meningkahi sebelum lagu tadi diputar di Prambors Seoul. Lagu masih mengalun syahdu. Tidak dia matikan sejak dari garasi rumah tadi.

Pandangannya lurus mengarah ke jalan. Aspal masih membasah, tampak licin seperti kulit seekor ular raksasa yang sedang terpulas. Di tengah jalan sana pula sesekali hanya terlihat sekelebat cahaya lampu dari beberapa kendaraan yang lalu-lalang. Malam ini semuanya seperti membeku. Hatinya giris (Ketakutan). Dingin angin malam masih menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsumnya. Dia menggigil.

"Tapi, itu insiden, Pa!"

"Bukan insiden...."

"Tapi...."

"Bukan insiden kalau hal buruk yang dia lakukan itu merusak nama baik keluarga Ryu Seung Ryong. Papa benar-benar malu!" Sebuah penegasan yang membungkam sederet perbendaharaan kalimatnya.

"Ke-kenapa, kenapa, Pa?! Kenapa Papa ti-tidak dapat memaafkannya sampai sekarang?!"

"Papa maafkan dia sampai seribu kali pun tidak dapat mengubah keadaan. Nama baik Ryu Seung Ryong sudah kepalang hancur!"

"Papa! Sebegitu pentingkah nama baik keluarga sampai Papa tega mengusir dan tidak menganggap Kak Kim So Eun sebagai anak kandung Papa sendiri?!"

"Kau jangan membela anak tidak tahu diri itu!"

"Bagiku, seburuk-buruknya Kak Kim So Eun, tapi dia tetap saudaraku." Jawab Go Ah Ra tegas

"Tidak ada tempat di hati Papa untuk anak perusak nama baik keluarga!"

"Kak Kim So Eun tidak sejahat itu, Pa. Kak Kim So Eun cuma khilaf!"

"Papa tidak dapat lagi mengetahui dan memilah perbuatannya. Apakah itu jahat atau tidak kalau terhadap ibunya sendiri dia tega..."

"Tapi, Mama sendiri sedari dulu sudah memaafkannya."

"Mamamu terlalu baik."

"Kak Kim So Eun masih belum dapat menerima Mama dan Aku pada waktu itu, Pa. Kak Kim So Eun sama sekali tidak bermaksud jahat. Itu hanya persoalan personal jealous. Seandainya Aku adalah Kak Kim So Eun, mungkin aku juga akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Kak Kim So Eun."

"Lalu, apa perbuatan memalukannya itu juga bukan...."

"Pa-Papa...!"

"Hah, karma apa Papa hingga...."

Kepala Go Ah Ra masih menyandar di jok mobil. Matanya terpejam. Dia terisak, membiarkan butiran-butiran bening itu mengaliri pipinya dengan hangat.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...