Silahkan Mencari!!!
I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Jumat, 04 Maret 2011
Romance Zero (Chapter 1)
Park Jung Min turun dengan gagahnya dari balik kemudi mobilnya. Kacamata hitamnya terpampang keren di depan mata. Kacamata gelap pekat yang menyembunyikan mata dan sebagian wajahnya. Kepalanya ditutupi topi bisbol yang dipasang terbalik.
Setelah melemparkan pandangan sekilas sekelilingnya, dia langsung mengitari separuh tubuh mobil dan membuka pintu depan sebelah kiri. Kim Bum yang sedang mengumpulkan buku-bukunya langsung mengomel.
"Sudah aku bilang tidak usah pakai buka-buka pintu segala!" gerutunya sambil keluar dari mobilnya. "Seperti gay saja!"
Park Jung Min belum sempat mengomentari gerutuan Kim Bum. Seorang satpam melangkah tergesa-gesa ke arahnya. Refleks Park Jung Min maju ke depan Kim Bum dengan gaya melindungi.
“Maaf, mobilnya jangan parkir di sini!" kata satpam itu tegas.
"Kenapa?" sahut Park Jung Min menantang. "Ini tempat parkir juga, kan?" Dan mobil kami lebih bagus dari semua mobil yang ada di sini!”
"Tidak lihat papan itu?" bentak si satpam mulai kesal. "Kurang besar tulisannya? Atau kau buta?" Pantas saja pakai kacamata hitam pekat.”
Berbarengan Park Jung Min dan Kim Bum menoleh ke papan yang ditunjuk satpam itu. Tulisannya besar-besar. Hitam. Jelas. Rasanya semut juga bisa baca. Tentu saja kalau semutnya sekolah. Parkir Khusus Purek Shinhwa University. Purek artinya pembantu rektor. Karena tidak mau disebut pembantu, takut ada yang salah interpretasi, sekarang namanya diubah jadi wakil rektor.
"Kita purek juga, Pak," sahut Park Jung Min seenaknya. "Penggemar rokok keretek! Boleh kan parkir disini sebentar?" tangannya masuk ke saku celananya. Dan sebentar kemudian keluar lagi dengan selembar uang. Tanpa ragu-ragu dijejalkannya uang itu ke tangan si satpam. Gayanya mantap sekali. Maklum, sudah biasa.
"Apa ini?" hardik satpam itu tersinggung. Tentu saja cuma pura-pura. Dia juga tahu itu uang. Bukan surat cinta. Baunya kan lain.
"Sudah, Park Jung Min, jangan macam-macam," sela Kim Bum melihat mata satpam itu sudah hampir bertelur. "Pindahkan saja mobilnya!"
Karena Kim Bum yang suruh, sambil mengangkat bahu Park Jung Min masuk ke mobilnya. Menghidupkan mesin. Memasukkan gigi satu. Dan menekan gas. Mobilnya melonjak dan menubruk papan yang terpampang di depannya. Papan langsung KO. Maksudnya, roboh tak bangun lagi. Satpam itu sudah bergerak dengan marah. Tetapi Kim Bum lebih cepat lagi menepuk bahunya.
"Maaf. Pak." katanya sambil menyunggingkan sepotong senyum yang sulit ditolak. "Dia baru belajar nyetir! Kalau gugup, suka salah masuk gigi'" Satpam itu tidak jadi mengamuk. Dia hanya menggerutu sambil memasukkan uang yang di genggamnya ke dalam saku celananya. Seolah olah dia lupa. itu uang. Bukan saputangan.
"Mundur! Mundur?" teriaknya bersemangat seperti di lapangan bola. Barangkali kebiasaan. Entah bagaimana teriakannya kalau di rumah bersama istrinya. Tetapi Park Jung Min sekali lagi menubruk. Kali ini dia menubruk motor yang sedang lewat di belakang mobilnya. Mahasiswi yang mengendarai motor itu menjerit. Motornya miring hampir terbalik. Kim Bum yang kebetulan berada di dekatnya dengan sigap menangkap motor itu. Sekaligus menangkap tubuh Park Ji Yeon.
"Maaf.” cetusnya sambil memamerkan senyum patennya.
"Kok malah bilang maaf?" belalak Park Ji Yeon setelah kagetnya hilang. Mestinya kan aku yang bilang terima kasih! Kalau tidak ada dia, aku pasti sudah terjungkal! Masih lumayan kalau masuk got. Kalau masuk kolong mobil?
Kim Bum belum sempat menjelaskan ketika Park Jung Min tiba di dekat mereka.
"Maaf!" Park Jung Min menyeringai lebar. "Bisa pindahkan motornya?" Nah, kalau yang ini maafnya kurang ajar!
"Kalau buta, jangan menyetir!" damprat gadis itu pedas. Dan dampratannya belum tuntas ketika dari dalam kampus menyerbu lima orang mahasiswa. Yang paling depan, dia pasti pacarnya Park Ji Yeon, langsung menggebuk Park Jung Min. Tapi Park Jung Min tangkas berkelit. Bahkan balas memukul dengan gesit. Pemuda itu terjajar hampir jatuh. Spontan saja teman-temannya maju mengeroyok Park Jung Min. Sia-sia Kim Bum mencegah. Untung para satpam keburu turun tangan.
* * *
Kim So Eun sudah mendengar kegaduhan di luar warnetnya. Letak warnetnya memang strategis. Tepat di samping pintu gerbang kampus. Dan dindingnya tidak kedap suara. Tetapi dia tidak terlalu peduli. Suasana kampus memang begini. Tidak pernah sepi. Apalagi warnet yang sudah tiga belas bulan dikelolanya sedang ramai-ramainya. Jadi dia terus saja dengan kesibukannya sendiri.
"Maaf Nona, internetnya ngadat lagi ya!" teriak seorang mahasiswi yang sedang asyik chatting. Sebentar saya ke sana," sahut Kim So Eun yang tengah sibuk membantu seorang mahasiswa yang sedang mencari bahan untuk skripsinya melalui internet.
"Sibuk, Kim So Eun?" tanya seorang teman kuliahnya yang baru masuk.
"Ya, begitulah," sahut Kim So Eun seadanya. Heran. Setiap hari pertanyaannya itu-itu juga. Sekali-sekali ganti topik kenapa. Tanya yang lebih manusiawi. Misalnya, lapar, Kim So Eun? Tapi Jung Yong Hwa memang begitu. Monoton. Membosankan. Sayangnya, harinya baik. Perhatiannya penuh. Jadi kasihan kalau di-sign out.
"Sepertinya makin hari warnetmu semakin ramai saja!"
"Dia bukan hanya buka warnet saja," mahasiswa yang sedang dibantunya menyeringai lebar. "Sekalian konsultasi!" Dan pintu didorong kasar dari luar. Dua orang mahasiswa menyeruak masuk.
"Habis berkelahi," desis Jung Yong Hwa.
"Nabrak anak Fisip."
Kim So Eun melirik sekilas. Yang pakai kacamata hitam itu memang tipe mahasiswa biang ribut Jenis yang menganggap kampus arena jual tampang Itu juga kalau ada yang bisa dijual. Kalau yang ini, rasanya diobral pun sulit laku. Tampangnya kriminal. Cuma badannya yang bisa ditampilkan. Tinggi. Tegap. Atletis.
"Wah, penuh," keluh mahasiswa yang satu lagi. Sekarang Kim So Eun menoleh ke arahnya. Hm, tampangnya boleh juga. Tampan. Mulus. Bersih. Cuma boyish. Tipe anak mama. Badannya cukup tinggi. Walau tidak setegap temannya. Yang sudah maju mendekati Kim So Eun dengan gaya seorang penguasa. Kacamata hitamnya tidak dilepas juga. Biarpun dia berada dalam ruangan.
"Nona, komputer yang mana yang bisa dipakai?" Suaranya besar. Serak. Seperti ada kecoak yang bersarang di pita suaranya. Tapi gaya bicaranya lantang. Gagah. Menantang. Seperti lagaknya.
"Maaf, belum ada yang kosong." Kim So Eun berusaha bersikap ramah kepada calon pelanggan. Walau sebenarnya dalam hati dia sudah memaki, memang tidak lihat semua meja penuh? Tetapi seperti yang sudah diduganya, mahasiswa bertubuh tegap itu pantang ditolak keinginannya. Sudah biasa memperoleh apa yang diinginkannya.
“Tolong sediakan satu, Nona," suaranya masih terdengar sopan tapi sudah berbau pemaksaan.
“Tidak ada yang tersisa," sahut Kim So Eun tegas. Memangnya aku tukang sihir? Sekali kedip, bangku bisa berubah jadi komputer? "Datang saja sepuluh menit lagi."
"Kami mau sekarang."
"Eh, kau itu tuli atau apa?" potong Jung Yong Hwa yang mulai gerah melihat sikapnya. Bertingkah sekali! Sekarang pemuda itu berpaling pada Jung Yong Hwa. Siap merenggut leher kemejanya dan melemparkannya. Untung temannya keburu mencegah sebelum Jung Yong Hwa jadi keripik.
"Sudah, Park Jung Min. Kita datang lagi saja nanti." Sekejap dia menatap Kim So Eun. Tapi Kim So Eun membalas tatapannya dengan judes.
"Tidak usah datang lagi kalau kasar begitu. Cari saja warnet lain!"
Sesaat Kim Bum tertegun. Seperti tidak percaya ada orang yang berani berkata begitu kepadanya. Apalagi cuma gadis pengelola warnet! Park Jung Min panas sekali. Dia sudah mendesak ke depan. Siap melabrak gadis yang tidak sopan ini Memangnya siapa dia? Berani bicara seperti itu di depan Kim Bum? Yang benar saja!
Tetapi ajaib! Gadis itu bukan mundur ketakutan. Bukan bersembunyi di balik tubuh pacarnya. Bukan minta maaf melihat gaya mengancam yang ditunjukkan Park Jung Min. Dia malah membeliak marah.
"Buka kacamatamu! Kau fotofobia atau buta?" Karena kaget, refleks Park Jung Min membuka kacamatanya. Dan gadis itu membentak lagi. Lebih galak daripada tadi. "Apa melotot?" bentaknya judes.
Tapi itu memang sifat Kim So Eun. Gigih. Tidak mengenal takut. Pantang menyerah. Ini warnet miliknya. Tempatnya memang masih sewa. Itu juga atas kebaikan Rektor dan Ketua Yayasan. Komputernya masih kredit. Tapi bagaimanapun, ini warnetnya. Miliknya. Tidak ada yang bisa bertingkah seenaknya di tempatnya.
Park Jung Min sudah mengepalkan tinju. Bukan untuk memukul tentu saja. Masa dia memukul wanita? Cuma sekadar menggertak. Tapi Kim Bum keburu mencengkeram lengannya. Heran bercampur kesal, Kim So Eun melihat pemuda sangar itu langsung jinak. Padahal kalau dia mau, apa susahnya menepiskan tangan pemuda bertampang bocah itu?
"Maaf," sekarang Kim Bum berpaling padanya sambil tersenyum. Bahkan ketika sedang tersenyum, senyumnya begitu tulus seperti balita.
"Boleh tanya?”
"Tanya apa?” sergah Kim So Eun judes. Masih kesal melihat sikap sok jago tamu-tamunya. Itu sikap preman pasar. Bukan calon sarjana.
"Kau selalu segalak ini sama pelanggan?" Karena tidak menyangka, Kim So Eun tertegun sesaat. Dan senyum Kim Bum melebar. Dia mengulurkan tangannya.
"Kim Bum," katanya ramah.
Terpaksa Kim So Eun menjabat tangan pemuda itu sambil menyebutkan namanya.
"Oh, jadi namamu yang jadi merek warnet ini?" Kim Bum menahan tawa.
"Kenapa?" sambar Kim So Eun jengkel. "Keberatan?"
"Tidak. Cuma tadinya kukira cuma aula saja yang pakai nama orang!" Sambil tertawa dia melambai pada Kim So Eun dan mengajak temannya pergi. Kim So Eun tidak membalas lambaiannya. Dia masih kesal.
"Sampai mana kita tadi?" tanyanya kepada mahasiswa yang sedang dibantunya.
"Kau tahu siapa dia?"
“Dia siapa?” balas Kim So Eun acuh tak acuh.
“Pemuda tadi?”
“Yang konyol? Kim Bum?"
"Kau tahu dia anak siapa?"
"Buat apa?"
"Kamu akan kaget."
"Coba saja."
"Song Seung Hun."
"Oh, seperti nama aula." Suara Kim So Eun tetap sedatar tadi. Memang apa pedulinya? Seandainya namanya sama dengan nama universitas ini sekalipun, sebodo amat!
"Ayahnya yang menyumbang pembangunan aula kampus kita."
"O."
"Ayahnya konglomerat terkenal."
"O."
"Juragan pabrik rokok."
"O."
“Pemilik Shinhwa Group”
“O”
"Kok cuma O saja?"
"Lalu aku harus bilang apa?"
"Ya harusnya kau Tanya, dia mahasiswa apa, semester berapa...."
"Tidak berminat."
Tetapi ketika Kim Bum muncul lagi di warnetnya keesokan harinya, Kim So Eun harus mengakui, minatnya mulai berubah. Kim Bum tidak seangkuh anak orang kaya yang nama marganya diabadikan sebagai nama aula kampusnya. Dia malah terkesan tidak peduli dengan kemasyhuran orangtuanya. Ketika Kim Bum datang, warnet sedang kosong. Kebanyakan mahasiswa sedang mengikuti kuliah. Tapi biasanya tidak pernah sekosong ini. Tumben. Dia juga muncul seorang diri. Entah di mana dititipkannya temannya yang sangar itu.
"Ada yang kosong?" tanya Kim Bum setelah menyapa dengan ramah. Padahal buat apa nanya lagi? Kalau tidak buta, dia pasti tahu semua meja kosong melompong! Senyumnya yang khas, senyum kebocahan yang tulus, malah seperti mengejek Kim So Eun. Senyum itu seolah-olah berkata, rasakan, hari ini warnetmu sepi! Sambil menahan kejengkelannya, Kim So Eun menunjuk meja di dekatnya,
"Lima belas ribu sejam."
"Heran," dumal Kim So Eun sambil duduk di depan meja yang ditunjukkan Kim So Eun.
"Heran apanya?" desak Kim So Eun penasaran.
"Sewanya mahal, pelayanannya judes, kenapa bisa warnetmu laku terus, ya?"
"Aku juga heran," balas Kim So Eun ketus.
Memang heran. Biarpun masih kesal, dia mulai menyukai makhluk yang satu ini. Entah di mana letak daya tariknya. Yang pasti bukan di dompetnya.
"Apa?"
"Kenapa kau sebodoh ini."
"Kau bilang aku bodoh?" mata Kim Bum terbelalak kaget. Wah, untung Park Jung Min tidak dengar! Untung kusuruh dia parkir di luar! Hah, bisa rontok semua computer!
Tapi Kim Bum tidak tampak marah. Senyumnya malah melebar. Dan Kim So Eun semakin menyukainya. Senyumnya begitu bening. Begitu lugu. Begitu tak berdosa. Persis bayi enam bulan.
"Kamu punya seratus komputer di rumah, buat apa kemari?"
"Karena di rumah tidak ada kau." Jawabannya spontan. Tidak berkesan mengejek. Jujur. Polos. Terus terang. Membuat Kim So Eun semakin tertarik.
"Makanya aku bilang kau bodoh!"
"Karena menemuimu di sini?"
"Karena tidak mengajakku makan di kantin."
"Aku tidak mau mengajakmu makan di kantin."
"Tidak salah kan kalau aku bilang kau bodoh?"
"Aku ingin mengajakmu makan di tempat yang lebih bergengsi."
"Lebih bodoh lagi. Buat apa makan di tempat yang bergengsi kalau tidak enak? Memangnya kau mau makan gengsi?"
"Tahu dari mana makanannya tidak enak? Kau kan belum pernah makan di sana!"
"Dari mana kau tahu? Punya laporan ke mana aku pergi makan? Kenal saja baru dua hari!"
"Mau taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Kalau kau kalah, aku boleh pakai komputermu tiap hari tiga jam. Gratis."
"Kalau kau yang kalah, harus Bayar dobel."
"Oke! Kapan kita mulai?"
"Mulai saja dengan menyebutkan ke mana aku harus pergi."
“Tidak mau kujemput?"
"Kenapa harus dijemput? Bus banyak. Taksi tidak kurang."
Tawa Kim Bum hampir meledak mendengar suara gadis itu. Gersang. Judes. Selalu blak-blakan. Tapi itu memang ciri khasnya. Daya tarik yang membuat Kim Bum betah di sini. Tidak percuma dia menyuruh Park Jung Min duduk di luar. Mengusir setiap calon pelanggan yang hendak masuk. Urusan usir-mengusir memang Park Jung Min pakarnya. Buktinya dari tadi tidak ada seekor lalat pun yang muncul.
"Kalau kencan, wanita harus dijemput, kan?"
"Siapa bilang kita kencan?"
"Kau yang minta diajak makan!"
“Tapi makan bukan kencan! Masa kau mau kencan tiga kali sehari?"
"Jadi apa namanya kalau wanita minta diajak makan berdua?"
"Kita makan berdua?"
"Mau mengajak temanmu yang sok jagoan itu? Dia boleh makan lemak?"
Kurang ajar. Pasti Jung Yong Hwa yang dimaksudkannya. Karena kemarin Jung Yong Hwa berusaha memabntunya mengusir teman Kim Bum yang sangar itu.
"Temanmu yang mukanya sangar itu tidak ikut?" balas Kim So Eun dalam nada melecehkan.
"Park Jung Min?"
"Dia teman atau bodyguardmu?”
"Dua-duanya. Ayahnya bodyguard ayahku. Kami teman sejak kecil."
"Kau menyekolahkan bodyouard-mu?"
"Apa salahnya? Kalau dia bosan jadi bodyguard, dia bisa alih profesi jadi manajer!" Tawa Kim Bum meledak. Dia senang sekali hari ini. Lebih-lebih ketika untuk pertama kalinya dia melihat Kim So Eun tersenyum. Senyumnya boleh juga. Manis.
Ah, dia memang manis. Asal tidak sedang kumat judesnya. Barangkali tuntutan profesi. Kalau tidak keras, sulit menghadapi mahasiswa. Salah-salah mereka bukan menyewa komputer. Cuma pinjam. Kalau pinjamnya keseringan, alamat tidak bisa bayar cicilan kredit.
Tapi menurut info, sebenarnya Kim So Eun tidak sekeras penampilannya. Hatinya baik. Tidak jarang dia meminjamkan komputernya buat teman yang benar-benar membutuhkan. Dan benar-benar sedang tidak punya uang.
"Nanti malam dia makan di rumah kita," cetus Kim Bum begitu bertemu Park Jung Min.
"Dia siapa?"
"Ya gadis itu! Masa satpam?"
"Kamu mengundang dia makan malam di rumah?" belalak Park Jung Min kaget.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Aku kagum padanya. Mahasiswi fikom konsentrasi jurnalistik. Sudah semester tujuh. Yatim-piatu. Jadi harus mencari uang sendiri. Keuletan dan kepintarannya sudah hampir jadi legenda. Makanya dapat beasiswa. Dan dapat izin khusus buka warnet di kampus."
"Boleh juga infonya. Tahu dari mana?"
"Asal sebut namanya, semua orang berlomba memberi info."
“Asal infonya jangan terlalu cepat sampai ke meja tulis ayahmu! Atau kau akan ditransfer balik ke alamat pengirim!”
Bersambung…
Romance Zero (Prolog)
Perahu kayu bermotor tempel itu menderu sepanjang Deltres Dragons. Anak Sungai Barceloneta yang airnya berwarna hitam itu semakin kelam pada pukul sebelas malam. Dua orang penumpang yang duduk di bangku kayu di baris paling belakang tak terdengar lagi suaranya. Ocehan dan kelakar seperti menghilang ditelan suasana yang menyeramkan. Mereka hanya saling rangkul sambil menebarkan tatapan waspada ke sekelilingnya.
Sulitnya dalam suasana gelap pekat seperti ini, mata manusia tidak cukup tajam untuk menangkap bahaya yang mungkin mendadak muncul dari kegelapan di bawah sana.... Suara binatang malam dan gemerecik air semakin jelas terdengar ketika motor dimatikan. Senter berdiameter lima belas senti yang di-sorotkan pemandu perjalanan menerangi belukar di tepi sungai. Akar pepohonan yang bergelantungan, laksana ular sebesar lengan yang menjulurkan kepalanya ke bawah. Siap mematuk siapa pun yang berani mendekat.
Celakanya pada malam segelap ini, siapa yang dapat membedakan akar dengan ular? Ketegangan semakin memuncak ketika senter dikedipkan memberi isyarat. Pemandu yang berpengalaman itu sudah melihat sesuatu! Sesuatu yang mengerikan di bawah sana....
Pandangan kedua penumpang perahu itu ditebarkan ke permukaan air di bawah semak, mengikuti arah senter. Dan mereka berdesah tertahan.... Sepasang mata alligator berkilauan sekejap. Mereka sama-sama menahan napas. Sama-sama dibungkam ketegangan. Benarkah itu mata seekor buaya? Tapi kalau bukan... apa lagi? Mustahil ada mata ular sebesar itu... kecuali kalau ularnya memang sebesar anaconda.
Tetapi anaconda ataupun alligator, yang pasti seekor binatang buas yang sangat mematikan di bawah sana! Dalam kegelapan yang pekat, di balik kerimbunan semak, dia menunggu mangsanya dengan sabar.... Dan sebuah perasaan aneh, campuran ketegangan yang memuncak dengan kengerian yang mendebarkan, perasaan yang biasa mengusik jiwa seorang petualang, mulai mencekam seisi perahu.... Di bawah sana, sedang menanti bahaya yang mereka cari!
Akhirnya kengerian itu mereka temukan juga. Bayangkan betapa kecewanya mereka jika harus pulang ke kabin mereka di tengah Hutan Barceloneta tanpa menemukan satwa buas yang mereka cari! Penumpang yang laki-laki langsung bangkit menghampiri si pemandu yang tegak di haluan sambil menyorotkan senternya ke air. Dia ingin melihat lebih jelas binatang yang mereka cari. Sementara teman wanitanya mengerut ketakutan di buritan sambil menahan napas. Sebentar lagi binatang buas itu akan mengapung ke permukaan. Atau dia akan berenang ke belakang perahu, tiba-tiba muncul dari dalam air lalu mulai menyerang? Tak sadar dia menoleh ke belakang. Ke permukaan air yang menghitam. Tak ada apa-apa di sana... sungai tampak tenang.... Dan dia terkejut setengah mati ketika tiba-tiba terdengar suara benda tercebur ke air. Spontan dia memekik ngeri....
Bersambung…
Romance Zero (Sinopsis)
Perjalanan cinta seorang perempuan yatim piatu yang cerdas dan mandiri bernama Kim So Eun. Pernikahannya dengan Kim Bum - anak pengusaha ternama - ketika keduanya sama-sama masih berstatus mahasiswa ternyata tak semulus yang dibayangkan.
Mulai dari ketidaksetujuan orang tua Kim Bum, ketidaksiapan Kim Bum hidup sulit, sampai perkosaan yang dilakukan sahabat Kim Bum terhadap Kim So Eun, menjadikan kisah cinta Kim So Eun dan Kim Bum penuh liku dan perjuangan.
Betapapun sulitnya perjalanan cinta yang dialami, ada satu kenangan yang tak sanggup dienyahkan Kim Bum dan Kim So Eun sekalipun keduanya memutuskan berpisah. Kenangan tentang sungai Barceloneta yang pernah mereka datangi bersama. "Selama sungai Barceloneta masih mengalir, cintaku kepadamu takkan pernah kering," ikrar Kim Bum pada Kim So Eun kala itu. Benarkah demikian?
Mulai dari ketidaksetujuan orang tua Kim Bum, ketidaksiapan Kim Bum hidup sulit, sampai perkosaan yang dilakukan sahabat Kim Bum terhadap Kim So Eun, menjadikan kisah cinta Kim So Eun dan Kim Bum penuh liku dan perjuangan.
Betapapun sulitnya perjalanan cinta yang dialami, ada satu kenangan yang tak sanggup dienyahkan Kim Bum dan Kim So Eun sekalipun keduanya memutuskan berpisah. Kenangan tentang sungai Barceloneta yang pernah mereka datangi bersama. "Selama sungai Barceloneta masih mengalir, cintaku kepadamu takkan pernah kering," ikrar Kim Bum pada Kim So Eun kala itu. Benarkah demikian?
Kamis, 03 Maret 2011
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 7-Tamat)
Belum sempat Kim So Eun menjawab pertanyaan Park Ji Yeon, Lee Hong Ki dan gadis bule mengucapkan salam di beranda rumah sewaan yang sederhana itu.
“Itu mereka datang,” kata Kim So Eun sambil menunjuk Lee Hong Ki dan gadis bule.
Lee Hong Ki memperkenalkan gadis bule kepada Moon Geun Young, Yoon Eun Hye, Park Ji Yeon, Park Shin Hye, Go Ah Ra, dan Jung So Min.
“Ini Park Gyu Ri,” kata Lee Hong Ki. “Dia datang dari Los Angeles, Amerika, sedang liburan di Seoul. Besok, dia akan terbang ke Jepang,” cerita Lee Hong Ki.
“Salam kenal."
“Siapakah Park Gyu Ri bagi Lee Hong Ki Sunbae?” tanya Moon Geun Young tidak sabar.
“Apa perlu penjelasan?” Lee Hong Ki balik bertanya.
“Biar aku saja yang membuat penjelasan,” kata Park Gyu Ri. Dengan Bahasa koreanya yang cukup fasih. “Paman Song Seung Hun, ayah Lee Hong Ki Oppa adalah kakak kandung Ibuku. Tujuh belas tahun silam, Seorang wanita Korea bernama Park Si Yeon menikah dengan Robert Pattionson, ahli geologi kelahiran New York. Setahun setelah keduanya menikah, lahir gadis blasteran bernama Park Gyu Ri. Ya Aku ini!” Gadis bule itu bercerita sambil tersenyum.
“Jadi, Park Gyu Ri adalah adik sepupuku,” Lee Hong Ki menegaskan.
“Haaaaa….!!!” Keenam sahabat itu kaget luar biasa mendengar penjelasan Park Gyu Ri dan Lee Hong Ki.
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 6)
Kim So Eun sangat gembira menyambut peluk cium keenam sahabatnya. Di ambang malam itu Tujuh Dara Berprestasi berkumpul kembali, kali ini di rumah sederhana, yang disewa bulanan oleh orangtua Kim So Eun. Ayah Kim So Eun adalah petugas keamanan di perusahaan garmen, biasa disebut satpam. Ibu Kim So Eun berjualan Bibimbap ("nasi campur" : makanan khas kota Jeonju, yaitu nasi yang dicampur berbagai macam sayuran, daging sapi, telur, dan gochujang) di depan rumah sewaan itu. Adik-adik lelaki Kim So Eun pagi shubuh menjajakan koran. Siang, baru mereka sekolah. Seisi rumah Kim So Eun adalah pekerja keras. Pada hari-hari libur dan malam hari, Kim So Eun menerima jahitan pakaian wanita dan anak-anak, setelah ikut kursus menjahit selama enam bulan.
Setelah melihat keadaan Kim So Eun yang makin membaik, ke enam sahabat sepakat, bercerita tentang barang aneh yang mereka lihat di halaman parkir Mall Shinee sore tadi.
“Lee Hong Ki Sunbae menggandeng gadis bule cantik,” Jung So Min memulai cerita.
Aneh, cerita Jung So Min itu disambut Kim So Eun dengan senyuman. Seperti biasa, gadis yang tabah tetap tenang.
“Kim So Eun kau mendapat saingan berat,” kata Moon Geun Young.
“Tapi, Bukankah belum tentu Lee Hong Ki Sunbae yang menggandeng gadis bule itu,” sela Yoon Eun Hye.
“Sudahlah, jangan dipersoalkan tentang Lee Hong Ki Oppa dan gadis bule itu,” cegah Kim So Eun dengan sangat tenang. “Yakinlah, gadis bule itu bukan sainganku!”.
Ke enam sahabat seperti disengat lebah setelah mendengar suara Kim So Eun.
“Apa maksudmu, Kim So Eun?” tanya Park Shin Hye. “Sepanjang sore tadi kami sangat mencemaskanmu,” tambah Park Shin Hye.
“Untuk apa kau mencemaskanku, Park Shin Hye,” sahut Kim So Eun.
“Jadi, kau sudah merelakan Lee Hong Ki Sunbae bersama dengan gadis bule itu?” tanya Park Ji Yeon.
Bersambung…
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 5)
“Aku bawa buku novel,” kata Yoon Eun Hye.
“Aku tidak bawa apa-apa,” bisik Go Ah Ra lesu.
“Tidak apa-apa, di tasku ada setengah kilo anggur hijau,” sahut Park Shin Hye, gadis yang selalu murah senyum.
Ketika mendengar penjelasan perawat yang bertugas sore, ke enam sahabat itu terbengong. Kim So Eun tidak lagi dirawat di rumah sakit itu. Kata perawat, Kim So Eun sudah diizinkan dokter pulang siang tadi.
“Hah,” keluh Jung So Min.
“Ya, Nn. Kim So Eun sudah diizinkan dokter pulang tadi siang,” si perawat menjelaskan.
“Siapa yang menjemput Kim So Eun, Suster?” tanya Go Ah Ra.
“Kedua orangtuanya. Mereka pulang naik taksi, siang tadi,” jawab perawat.
Ke enam sahabat itu sepakat akan menuju rumah Kim So Eun sore itu juga. Mereka ingin bermalam Minggu bersama Kim So Eun.
“Masih ada kesempatan aku beli oleh-oleh,” kata Go Ah Ra, “Tapi, aku beli apa, ya? Cokelat ada. Buku novel sudah ada. Anggur juga sudah tersedia,” Go Ah Ra merinci oleh-oleh para sahabat.
“Aku membawa susu segar,” kata Moon Geun Young.
“Sudah cukup banyak. Lagipula, bukankah kita tidak wajib untuk membawa oleh-oleh semua?” selam Jung So Min.
“Rasanya idak enak, jika hanya aku saja yang membawa tangan kosong,” ujar Go Ah Ra.
“Tidak apa-apa. Anggap saj, semua yang kita bawa adalah oleh-oleh bersama. Jangan memaksakan diri, Go Ah Ra!” kata Park Ji Yeon. “Masih ada lain waktu, bukan?”
“Ya, baiklah, kalau begitu,” kata Go Ah Ra.
Bersambung…
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 4)
“Kim So Eun itu gadis yang tegar,” kata Moon Geun Young. “Dia berasal dari keluarga sederhana yang biasa belajar dan kerja keras. Lagi pula, sifat Kim So Eun adalah berani berterus-terang dalam situasi apa pun,” tambah Moon Geun Young.
“Kim So Eun itu sedang sakit, rasanya tidak pantas kalau harus menceritakan suatu hal yang belum pasti!” ujar Yoon Eun Hye. “Kita semua membesuk Kim So Eun dengan tujuan menghiburnya. Bukan menambah rusak suasana hatinya,” tambah Yoon Eun Hye.
“Anggapanmu yang seperti itu sama saja dengan melecehkan sahabat kita yang tegar,” tukas Park Shin Hye.
“Tidak juga,” bantah Yoon Eun Hye. “Kita, kalau bersikap, harus membaca situasi dan kondisi! Setegar-tegarnya Kim So Eun, dalam keadaan menderita demam berdarah, tentu tidak siap mendengar sesuatu yang akan melukai hatinya.”
“Lalu, apa kita harus diam saja atas sikap Lee Hong Ki Sunbae yang telah mengkhianatinya?” tanya Park Shin Hye.
“Bukankah kita belum tentu, lelaki yang menggandeng gadis bule itu adalah Lee Hong Ki Sunbae, lelaki yang selama tiga tahun lebih dekat dengan Kim So Eun,” sela Park Ji Yeon. “Jadi, sekali lagi, benar kata Yoon Eun Hye, kita harus hati-hati bicara di depan Kim So Eun, kalau kita memang sayang pada Kim So Eun.”
“Soal sayang kita kepada Kim So Eun, tidak usah disebut-sebut lagi. Begini saja,” potong Jung So Min, “Di rumah sakit nanti, kita baca situasi dan kondisi. Kalau keadaan Kim So Eun memungkinkan kita membuka kartu, tentang Lee Hong Ki, tidak apa-apa. Tapi, jika keadaan masih rawan, ya kita bicara yang lain saja, yang menyenangkan hati Kim So Eun, sahabat sejati yang kita sayangi. Oke?”
Tiba di tempat parkir rumah sakit, ke enam sahabat berikrar dengan tulus, tidak akan menambah rusak suasana hati Kim So Eun. Tujuan besuk adalah menghibur atau menyenangkan hati seorang sahabat bernama Kim So Eun. Di depan Toyota Yaris putih yang dikendarai Moon Geun Young, ke enam sahabat menumpukkkan jari-jari tangan kanan pertanda menguatkan ikrar.
“Tapi, kita lupa membawa oleh-oleh untuk Kim So Eun,” bisik Go Ah Ra.
“Aku bawa cokelat kacang kesukaan Kim So Eun,” ujar Jung So Min.
Bersambung…
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 3)
Selama Kim So Eun dirawat di rumah sakit, tampak penurunan mutu majalah dinding itu, dan terbitnya pun terlambat, hingga hari Senin siang. IU Lee Jieun, wakil Kim So Eun, agak kewalahan tanpa sang boss. Padahal, Kim So Eun selalu berpesan, seharusnya, tanpa dia majalah harus tetap maju, tepat waktu, dan tetap jadi kebanggaan.
Semasa Lee Hong Ki masih bersama Kim So Eun di SMA yang sama – Shinhwa High School, Lee Hong Ki yang menjadi koordinator majalah dinding. Saat itu, Kim So Eun menjadi wakilnys, setelah naik kelas dua. Begitu Lee Hong Ki lulus SMA, giliran Kim So Eun yang memimpin.
“Kau sedang memikirkan apa, Jung So Min?” tanya Moon Geun Young. “Sudah sore, bagaimana kalau kita membesuk Kim So Eun!” lanjut Moon Geun Young sambil mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.
“Maafkan aku,” lanjutnya. “Sebagai sopir, sepertinya aku memang tidak pantas merintah Nona-nona, he…he…he…!” Dia berkata sambil terkekeh.
Setelah Go Ah Ra membayar makanan dan minuman di kedai siomai, ke enam sahabat itumenuju tempat parkir. Mereka tahu, waktu menengok pasien setelah shalat Maghrib. Kalau macet di jalan, berarti hanya sedikit waktu untuk menghibur sekaligus melepas rasa rindu kepada Kim So Eun.
“Ayo cepat!” teriak Moon Geun Young setelah berada di belakang setir mobil Toyota yaris putihnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, diskusi tentang Lee Hong Ki dan gadis bule makin ramai. Empat sahabat, yakni Yoon Eun Hye, Park Ji Yeon, Go Ah Ra, dan Jung So Min tidak setuju tentang Lee Hong Ki dan gadis bule diungkap di depan Kim So Eun. Tetapi, Park Shin Hye dan Moon Geun Young bersikukuh, harus berkata sejujurnya kepada Kim So Eun. Alasan keduanya, Kim So Eun bukanlah gadis cengeng.
Bersambung…
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 2)
”Untuk mengetahui benar-tidaknya, kita harus membuktikannya!” desak Moon Geun Young.
“Caranya?” tanya Park Ji Yeon.
“Dekati, amati, dan tanya jika masih ragu,” sahut Park Shin Hye. “Jangan dibiarkan persoalan mengambang seperti buih di atas ombak,” sambung si penulis puisi yang produktif mengisi ruang seni di majalah dinding SMA-nya itu.
Sekali lagi Yoon Eun Hye mengingatkan, “Kita semua menyayangi Kim So Eun, si cantik, anggota Tujuh Gadis Berprestasi di Shinhwa High School, kita-kita ini. Tapi, jangan mentang-mentang sayang kepada Kim So Eun, kita lupa bersikap kritis, atau tidak obyektif lagi dalam menilai sesuatu keadaan. Maksudku, kita tidak boleh gegabah menghakimi Lee Hong Ki Sunbae, walaupun dia hari ini menggandeng seorang gadis bule.”
“Apa sebenarnya maksudmu, Yoon Eun Hye?” potong Go Ah Ra. “Tidak perlu memberi ceramah! To the point saja.”
“Sudahlah! Sudah tidak perlu heboh seperti ini! Jangan bertengkar!” hadang Go Ah Ra.
“Ya, lihatlah!” susul Jung So Min. “Orang yang sedang kita bicarakan sudah hengkang dari mal ini.” Jung So Min sekali lagi menunjuk ke arah mobil bagus yang dikendarai orang yang disebut-sebut Lee Hong Ki sejak tadi. “Perhatikanlah gadis bule berkaos merah yang digandengnya itu!”
“Wah! Rambutnya pirang! Cantik sekali!” Park Shin Hye terpesona.
Tak lama kemudian, BMW hitam model terbaru yang membawa gadis bule itu meluncur ke arah timur.
“Apa kataku, ketinggalan momentum kita,” kata Go Ah Ra kecewa.
“Never mind! Tak apa-apa!” sahut Moon Geun Young optimistis. “Masih ada saat yang lain!”
Bersambung…
Gadis Bule Itu Bukan Sainganku (Chapter 1)
Mata Jung So Min terbelalak ketika melihat Lee Hong Ki menggandeng gadis berkulit putih alias bule di depan Mall Shinee. Sore Sabtu itu, Jung So Min dan ke lima teman SMA-nya sedang menikmati siomai di kedai lantai dasar.
“Lihat itu barang aneh!” kata Jung So Min sambil menunjuk ke arah Lee Hong Ki dan pasangannya. “Kasihan, Kim So Eun,” lanjut Jung So Min.
“Memangny ada apa?” tanya Go Ah Ra ingin tahu sambil menoleh ke arah tempat parkir. Saat itu pula Park Shin Hye, Moon Geun Young, Yoon Eun Hye, Park Ji Yeon, dan Go Ah Ra mengikuti arah telunjuk Jung So Min.
“Ah, barangkali hanya mirip dengan Lee Hong Ki Sunbae, senior kita!” bantah Park Ji Yeon. “Aku tidak yakin Lee Hong Ki Sunbae mengkhianati Kim So Eun,” sambung gadis berambut sebahu itu.
“Kenapa tidak mungkin?” tukas Moon Geun Young, “Setelah kuliah di perguruan tinggi, pergaulan dan wawasan Lee Hong Ki Sunbae bertambah luas, bukan? Apalagi, dia atlet basket yang sedang naik daun.”
“Tapi, menurut penglihatanku, tidak salah lagi,” sela Jung So Min. “Barang aneh yang kukatakan tadi adalah fakta tak terbantahkan. Adakah di antara kita yang berani menghampiri Lee Hong Ki Sunbae?” tanya Jung So Min sambil menatap ke lima temannya.
“Aku rasa sebaiknya, jangan!” cegah Yoon Eun Hye yang selalu hati-hati. “Bagaimana kalau kita hanya salah sangka? Itu perbuatan memalukan dan fitnah,” lanjutnya.
Park Shin Hye, Moon Geun Young, dan Go Ah Ra tidak sependapat dengan Yoon Eun Hye, yang mereka sebut sok arif bijaksana. Tetapi, Park Ji Yeon mati-matian membela Yoon Eun Hye. Gadis mungil ini memang terkenal cermat dalam berkata dan bertindak.
“Tenang! Tenang dulu!” Jung So Min menengahi. “Aku tadi hanya sekadar bertanya. Bukan memberi saran atau usul. Asal tahu saja, aku ini paling tidak suka membuat gosip atau desas-desus. Kita tahu, sahabat kita, Kim So Eun sekarang sedang terbaring di rumah sakit karena demam berdarah. Sore ini kita akan menengoknya. Wajar, saja, kalau kita bersimpati kepada Kim So Eun. Juga wajar bila kita berupaya memelihara hubungan Kim So Eun dan Lee Hong Ki. Tapi, masalahnya, apakah benar yang menggandeng gadis bule itu Lee Hong Ki Sunbae, kekasih Kim So Eun? Apakah benar lelaki tampan yang kita curigai telah berkhianat itu, si pemain basket yang sedang naik daun sejak di SMA kita?”
Bersambung…
Rabu, 02 Maret 2011
Puisi Untuk Taeyeon (FF)
Title : Puisi Untuk Taeyeon
Genre : Romance, Friendship
Author : Sweety Qliquers
Episode : 4 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 02 Maret 2011, 02.44 PM
Cast :

Key (Shinee)
Birth name: Kim Kibum (김기범)
Birth date: September 23, 1991
Height: 177cm
Weight : 63 kg
Position: Vocal, Rap, Dance (triple threat)
Nickname: The Almighty Key
Bloodtype: B

Taeyeon (SNSD)
Nama Lengkap : Kim Tae Yeon
Arti Nama : Kebesaran ( yang mulia ) yang cantik
Nama Panggilan di SNSD : little child that is like Pack Sol – Ge snack
Nama Panggilan lain : Taetae, Taeng, leader Taeyeon, leader Taeng, Kid leader, Auntie, Afro Tangee, little person, A person with short body, Pack-Sol-Ge snack
Tgl. lahir : 9 Maret 1989
Gol. darah : O
Tinggi badan : 162 cm
Berat Badan : 44 kg
Posisi : ketua, ketua vocal yang ke- 1
No. Favorite : 22, 3, 6 ,9
Hobi : Renang
Special : Menyanyi Trot, bahasa Cina
Durasi latihan : 5 tahun 3 bulan
Lagu favorite dari SNSD : Merry Go – Round

Taemin (Shinee)
Nickname: Handy Boy Taemin
Tanggal lahir: 18 Juli 1993
Posisi: Sub vocal
Hometown: Dongbong-gu, Seoul
Height: 175 cm
Weight: 50 kg
Blood type: B

Minho (Shinee)
Nickname: Charismatic Flame Minho
Tanggal lahir: 9 Desember 1991
Posisi: Sub vocal sama rapper
Height: 181 cm
Weight : 70 kg
Blood type: B
Grup: Shinee
Puisi Untuk Taeyeon (Chapter 4-Tamat)
Pulang sekolah, sebelum masuk rumah, Taemin kembali menemuiku bersama seseorang yang tak aku kenal.
“Key!!! Tunggu!” melihatku yang tergesa-gesa, Taemin berteriak dan berlari.
“Tumben tidak bawa motor, memangnya kemana motormu?”
“Sedang di bengkel. Biasalah penyakit kambuhan. O iya aku ada perlu denganmu.”
“Ada apa? Penting sekali? Siapa yang meninggal?”
“Busyet, tidak ada yang meninggal!! Sembarangan saja kau ini! Begini, ini ada yang mencarimu namanya Minho, kelas IPA tiga.”
“Ooo, Lalu?”
“Dia bertanya padaku, katanya siapa anak bahasa yang jago membuat puisi. Siapa lagi kalau bukan kau, Key sang Pujangga.” Puji Taemin cengegesan.”
“Hmmmm... mau dibuatkan puisi? kalau boleh tahu untuk siapa, Minho?”
“Iya Key, aku mau minta tolong dibuatkan puisi untuk temanku namanya Taeyeon. Tadi pagi dia memberikan puisi untukku, isinya Romantis sekali, aku tidak sanggup membalasnya, sayang kalau tidak dibalas, gadis itu cantik sekali, kalau aku berpacaran dengannya, kalian berdua akan aku traktir!” Jawab Minho panjang lebar.
Dan jantung ini pun tidak berdebar, barangkali sudah berhenti.
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Puisi Untuk Taeyeon (Chapter 3)
Bel istirahat memekik ke seluruh penjuru sekolah. Mengiringi langkahku ke tempat favorit: perpustakaan. Saat sedang asyik membaca buku, sosok wangi itu kembali di hadapanku
“Bacanya serius sekali. Sampai tidak tahu kalau aku ada disini dari tadi.
“Eh, Taeyeon, maaf, aku tidak melihatmu. O iya tadi kau bilang mau membuat puisi, untuk apa?
“Mhh... untuk tugas bahasa.” Tampaknya ia ragu mengatakannya.
“Tentang apa?
“Tentang cinta... kalau tidak keberatan.”
“Ah tidak, aku tidak keberatan sama sekali.”
Ya tidak keberatan, tapi aku bingung apa iya tugas bahasa membuat puisi cinta. Ah... aku tidak peduli untuk apa, yang penting hatiku telah jatuh cinta padanya.
“Ini, puisinya. Jangan diejek ya kalau kata-katanya jelek.”
“Ya ampun bagusnya seperti ini, dibilang jelek?? Jangan merendah seperti itu, Key, ini kan puisi romantis.” katanya dengan gaya manja. Padahal puisi itu kubuat khusus untuknya. Aku terpesona
“Ya sudah, terima kasih ya Key. Aku mau berikan tugas ini dulu, Bye....bye.”
Tersenyum dan terus tersenyum saat ia mengakhiri pertemuannya denganku. Ia berselisih jalan dengan Taemin, Tampaknya Taemin heran ketika aku melambaikan tangan pada Taeyeon.
“Kau ada hubungan apa dengan anak IPS itu? Sepertinya lama sekali kau bicara dengannya,” tanya Taemin sambil mengambil koran otomotif di sampingnya.
“Tidak ada apa-apa, aku baru saja mengenalnya.”
“Aku dengar-dengar gadis itu sedang pendekatan dengan anak IPA hati-hati saja kau Key! Jangan sampai dipermainkan oleh gadis itu!
Ups, mendengar kata Taemin tadi, aku tambah curiga, barangkali puisi untuk Taeyeon tadi bukan tugas? Barangkali untuk yang lain....
Bersambung…
Puisi Untuk Taeyeon (Chapter 2)
Tak terasa cahaya matahari yang tebal itu telah pergi dari daerahku, namun aku heran, dari tadi teman-temanku yang lain tak jua tiba. Ke mana mereka?
Kala pikiran ini kian terbang, teriakan yang tak asing lagi memekak di telingaku.
“Key....!! Kau mau pulang bersama tidak?” Ternyata Taemin, teman karib yang juga tetanggaku. Ia mengajak pulang bersama motornya yang tinggal kerangka itu. Kata Taemin, teman-teman yang lain ada pertandingan sepak bola di sekolah. Kami disuruh pulang duluan. Kami pun melesat pergi meluncur ke istana masing-masing.
Senja telah tiba, mulai menggoda malam yang telah leleh menunggu. Dan pagi pun menjemput sang malam yang indah itu. Akhirnya aku kembali harus menunaikan tugasku sebagai seorang pelajar yang terpelajar. Pergi ke sekolah membosankan. Tapi kini dalam kebosanan itu ada secercah kebahagiaan yang hinggap.
Hal ini terus terjadi padaku, yaitu menunggu bus yang selalu sesak dengan penumpang.
Di sekolah, seperti biasanya hanya kesendirian yang bisa membuatku bahagia, bukannya aku membenci keramaian, tetapi keramaian itu sendiri yang akan membenciku jika aku harus terhanyut di dalamnya.
“Key!! Coba ulangi lagi penjelasan saya tadi di papan tulis!” Sial, Mrs. Park Si Yeon menangkap basah aku yang sedang melamun. Bisa gawat, ini.
“Penjelasan apa, Mrs?”
“Huuuu!” teriak teman-teman sekelas mengejekku.
“Suruh menyanyi saja Mrs!” cuapan temanku yang lain bersahutan.
”Kalau kau tidak bisa, ayo bernyanyi didepan!” tandas Mrs. Park Si Yeon tergoda rayuan ‘iblis-iblis’ itu.
“Saya tidak bisa bernyanyi, Mrs!” jawabku dengan kesal.
“Kau mengantuk ya? Kalau begitu cuci muka dulu sana!”
Sial teramat sial hari ini. Pagi-pagi sudah kena dampratan guru. Apalagi ‘tangga’yang akan menimpaku? Huff, aku melangkah meninggalkan kamar mandi menuju kelas, setelah sempat mencuci muka. Baru selangkah berjalan, terdengar suara hentakan sepatu yang begitu cepat dan sekejap melewatiku seperti angin.
“Permisi..., eh Key?”
“Eh, aku pikir angin ribut dari mana. Taeyeon, kau mau kemana?”
“Mau ke perpustakaan. Sedang ada pelajaran apa Key?”
“Pelajaran membosankan.”
“Memangnya pelajaran apa?”
“Sssst, jangan keras-keras bicaranya, ini kan di depan kelasku! Nanti aku kena marah lagi dengan guru tata bahasa Korea itu.”
“O..., pelajaran tata bahasa ya. Tapi kenapa kau tidak masuk?”
“Tadi dari toilet, cuci muka, soalnya tadi kena marah Mrs. Park Si Yeon gara-gara mengantuk.”
“Memangnya kau kurang tidur semalam? Oh iya, kau nanti ada waktu tidak? Jam istirahat?”
“Yah aku mau meneruskan bacaan di perpustakaan.”
“Kebetulan, aku mau minta tolong padamu untuk membuatkanku puisi. Buatnya nanti di perpustakaan saja bisa kan?”
“Bisa, tapi untuk apa...” belum sempat kuteruskan pertanyaanku tiba-tiba pundakku ditepuk oleh Mrs. Park Si Yeon.
“Hukum saja, Mrs....!! serentak teman-teman didalam kelas berteriak.
Aku tertunduk kuyu. Kulihat Taeyeon berlari kecil menuju kelasnya senyumnya menusuk hati. Ada kencankah nanti?
Bersambung…
Puisi Untuk Taeyeon (Chapter 1)
Matahari sangat menyengat hari ini. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena aku pulang agak cepat dan merasakan keadaan ini. Panasnya sinar matahari itu menusuk kulit sampai ke dalam dagingku, dan terus menghujaniku dengan cahaya UV-nya yang merusak. Sementara itu, aku mencari tempat sejuk untuk melepaskan lelah. Tapi ternyata, lautan sinar itu telah menjajah tempat ini. Terpaksa aku harus berpanas-panasan.
Aku duduk termenung sambil meletakkan telapak tangan di atas kepala, mencegah cahaya yang mulai mendidihkan otak. Sambil menunggu teman-teman karibku yang belum datang. Tiba-tiba seorang gadis cantik berdiri tepat di hadapanku dan sekaligus menghalangi panas yang menyengat itu. Aku berharap agar dia tetap di sana.
“Kalau seperti ini, seluruh dunia bisa jadi dingin.” kataku sambil menggoda, karena ia kebetulan satu sekolah denganku.
“Eh, maaf, apa aku menghalangimu?”
“Ah tidak, malah kau menolongku.”
“Bohong! Jelas-jelas kau sedang melihat gadis di seberang jalan itu!” Sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang ada di seberang jalan, menyangka kalau aku benar- benar terhalangi olehnya. Padahal aku pun tak tahu bahwa ada gadis lain di seberang jalan itu.
“Untuk apa aku bohong! Kau membendung panas matahari yang mengenaiku ini, makanya aku bilang kalau kau itu menolongku.”
“Ooo... kalau begitu, aku minta maaf sekali lagi!” Gadis itu menyodorkan tangan kecilnya padaku.
“Tidak usah seperti itu, memangnya kau salah apa?” Aku menolak permintaan maafnya, karena memang ia tidak bersalah. Tapi mendadak, paras wajahnya berubah.
“Boleh kenalan?”
“Kenalan dengan siapa?”
“Ya kenalan denganmu, masa’ dengan sopir bus.”
“Jangan marah seperti itu. Namaku Kim Taeyeon, panggil saja Taeyeon.” Sambil tersenyum kecil ia menyebutkan namanya. Senyumannya membuatku mabuk.
“Taeyeon? Sepertinya aku pernah dengar! Kau kelas tiga kan?” tanyaku penasaran.
“Iya, memangnya kenapa?” Nada suaranya meninggi. “kalau kau satu sekolah denganku, baru kau bingung.”
“Makanya aku mau kenalan denganmu, kalau tidak satu sekolah, buat apa aku tanya-tanya terus!”
“Ooo... Jadi kau anak Shinhwa High School juga! Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu?”
“Aku kan anak baru. Baru pindah dari tempat nan jauh di mata.”
“Pantas saja aku tidak mengenalmu, ternyata anak baru, ya. Namamu siapa?”
“Namaku, Kim Kibum, panggil saja Key.”
“Key? Kunci, maksudmu!”
“Ah, apalah arti sebuah nama, yang penting isi hatinya!”
“Gombal! Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Key! Sudah hampir sore, nih.”
“Buru-buru sekali, matahari saja belum berselang dengan rembulan, tapi kau sudah mau pulang.”
“Dasar, kau, anak bahasa! Simpan saja syair-syairmu, nanti kehabisan. Aku pulang dulu, ya!” Ia melambaikan tangannya untukku. Aku mabuk lagi.
“Bye Bye, Taeyeon....” Aku membalas lambaiannya, waktu tak bisa diajak kompromi. Tinggallah aku yang kembali sendiri lagi, duduk mereka-reka nasib.
Bersambung…
Jaket (FF)
Title : Jaket
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 4 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 02 Maret 2011, 01.58 PM
Cast :
Key (Shinee)
Birth name: Kim Kibum (김기범)
Birth date: September 23, 1991
Height: 177cm
Weight : 63 kg
Position: Vocal, Rap, Dance (triple threat)
Nickname: The Almighty Key
Bloodtype: B
Sooyoung (SNSD)
Nama Lengkap : Choi Soo Young
Arti Nama : Daun bunga yang kemewahan
Nama Panggilan di SNSD : Fun Loving Princess
Nama Panggilan Lain : A Person with long body, Long Legs, Model, Food God, Interuptor, Syoung
Tgl. Lahir : 10 Februari 1990
Gol. Darah : O
Tinggi Badan : 170 cm
Berat Badan : 48 kg
Posisi : Membantu Vokal
No. Favorite : 08
Hobi : Makan
Spesial : Bahasa Jepang, Dance
Durasi Latihan : 6 tahun 3 bulan
Lagu Favorite dari SNSD : Complete
Taemin (Shinee)
Nickname: Handy Boy Taemin
Tanggal lahir: 18 Juli 1993
Posisi: Sub vocal
Hometown: Dongbong-gu, Seoul
Height: 175 cm
Weight: 50 kg
Blood type: B
Onew (Shinee)
Date of Birth: 14 Dessember 1989
Height: 177 cm
Weight :63 kg
Blood type: O
Position in group: Vocal
Jaket (Chapter 4-Tamat)
Tanpa menunggu anggukan kepala Key, Sooyoung segera membuka bungkus kado itu dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin merusak kertas pembungkusnya.
Sooyoung menjerit senang demi mengetahui hadiah dari Key. Kotak musik itu dibukanya dan seketika mengalunlah lagu Love Story yang lembut.
“Kau manis sekali, Key. Oooh, aku akan mendengarkannya setiap kali menjelang tidur, membayangkanamu membisikkannya di
telingaku.”
Key tersenyum lega. Semua seperti yang ia harapkan. Sooyoung sangat puas dengan hadiahnya.
“Tunggu sebentar!” Sooyoung beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam rumah. Sooyoung muncul lagi dengan bungkusan kertas merah jambu yang cukup besar ukurannya.
“Kado kasih sayangku untukmu...” Sooyoung menyerahkannya pada Key.
“Boleh aku membukanya sekarang?”
Sooyoung mengangguk.
Key membuka kado itu dengan cepat. Membuka kardus di balik bungkusan itu dengan cepat pula. Key menjerit tertahan ketika benda itu sudah ada di tangannya.
“Kuharap itu benda yang paling cocok untukmu. Aku tahu kau sangat memerlukannya sekarang. Sudah lama aku ingin kau membuang milikmu yang itu. Aku bilang juga apa? Jaket itu sudah dekil banget, tapi kau mengaku sangat menyukainya. Kau bilang, jaket itu unik dan langka karena kiriman dari Onew Oppa dari Amerika. Syukurlah, akhirnya kau memberikan jaket itu pada Taemin, karena kulihat sian gtadi, kemarin dan kemarinnya lagi, Taemin memakai jaket itu waktu pulang sekolah. Kau memberikannya pada Taemin, kan?”
Key masih terpaku pada benda di tangannya itu. Sebuah jaket berwarna gelap. Jaket yang saat ini tengah trend.
Key masih terpaku. Ia masih bingung harus berkata apa.
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Jaket (Chapter 3)
14 Februari.
Key tiba di rumah Sooyoung menjelang pukul tujuh. Tak ada acara khusus untuk melewati Valentine’s Day. Key dan Sooyoung tak ingin datang ke pesta, meski beberapa teman menawarkan undangan. Tak pula ada rencana untuk pergi jalan-jalan lalu kemudian pergi ke
restoran dan memilih sudut yang romantis.
Key dan Sooyoung sudah sepakat untuk berdua di rumah saja. Duduk di teras rumah yang tidak hiruk-pikuk. Bertukar hadiah adalah rencana sederhana yang telah disepakati.
“Hai!” Sooyoung menyapa riang. Ia tidak berdandan, tidak pula mengenakan gaun ajaib yang mewakili dunia cinta. Tapi nampaknya
pita merah jambu yang lucu di rambutnya sengaja dikenakan untuk menampilkan nuansa Valentine.
“Hai, sayang!” Key langsung suka pada pita merah jambu itu.
Membuat Sooyoung nampak semakin imut dan menggemaskan.
Keduanya duduk di teras, saling berhadapan. Lalu sama-sama tersenyum kaku.
“Valentine’s Day, ya?”
“Iya,” jawab Key.
“Lalu kenapa?” Key tertawa.
“Tidak tahu!”
Sooyoung juga tertawa kecil. Ia lalu menyorongkan pipinya. Key mencium pipi Sooyoung.
“Aku menyayangimu, Sooyoung. Tetaplah menjadi Valentine-ku.”
“Aku juga menyayangimu ...” bisik Sooyoung yang pipinya kian bersemu merah jambu, warna Valentine. Semenit keduanya saling berdiam diri. Saling menatap dengan mesra.
Tangan keduanya masih saling berpegangan.
“Itu kadomu?” Sooyoung memecah kebisuan. Diliriknya bungkusan berbentuk kotak berpita merah jambu yang ada di samping Key.
Key meraih kadonya dan menyerahkannya pada Sooyoung.
“Boleh kubuka sekarang?”
Bersambung…
Jaket (Chapter 2)
Key benar-benar pusing. Ketika semua jalan sudah buntu, harapan Key tinggal tertumpu pada Taemin.
“Kau masih suka jaketku?” Key melepas jaketnya dan melemparkannya pada Taemin. Taemin menerima jaket itu dengan sigap dan melonjak senang.
“Jadi akhirnya kau rela memberikan jaket ini untukku?” tanya Taemin dengan sangat bernafsu langsung mengenakan jaket itu.
“Aku terpaksa melepasnya jika kau mau membelinya.”
Wajah yang semula cerah itu meredup. Taemin melepas jaket itu dan melemparkannya ke sandaran kursi.
“Hanya dua ratus ribu, Taemin.”
“Hanya dua ratus ribu? Untuk jaket dekil ini?!” Taemin melotot.
“Ah, kau tidakak perlu mengejek! Kau tahu sendiri, tidak seorang anak pun disini punya jaket seperti ini. Kau tahu sejarahnya, kan?”
Taemin tentu saja amat tahu. Jaket itu kiriman dari Onew, Kakak Key yang hingga saat ini masih tinggal dan sekolah di Boston. Jaket Amerika! Sebuah jaket jins dengan kerah dan manset kulit. Paduan jins dan kulit yang amat kasual.
“Tapi jaket ini udah belel. Kau memakainya hampir setiap hari selama setahun, kan?”
“Justru belel-nya itu yang membuatnya semakin unik,” kilah Key.
“Tapi dua ratus ribu untuk jaket bekas sungguh tidak masuk akal!”
“Ketika kuterima, labelnya masih utuh, Taemin. Onew Hyung membelinya seratus dolar. Belum lagi ongkos kirimnya yang pasti juga mahal.”
Key meraih jaketnya dan bermaksud mengenakannya kembali, tapi Taemin lebih cepat merebut jaket itu.
“Seratus lima puluh?”
“Dua ratus atau tidak sama sekali. Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran. Kau tahu? Selain kau masih banyak yang berniat memiliki jaket ini.”
“Kau perlu uang untuk apa? Kau mengincar sesuatu?” Taemin menatap curiga.
“Kau tidaak perlu tahu! Kau bayar saja dan jangan berpikir macam-macam. Mau aku apakan uang itu, itu hakku.”
Taemin mengeluarkan dompetnya dan menghitung sejumlah dua ratus ribu rupiah dan menyerahkannya pada Key.
“Terima kasih, Taemin. Dua ratusmu ini menyelamatkan hidupku.”
Taemin memandang Key dengan tatapan ingin tahu, tapi Key segera berlalu.
Bersambung…
Jaket (Chapter 1)
“Kita bertukar kado.”
Kesepakatan telah diambil. Di hari Valentine nanti mereka akan saling memberikan kado. Tentu saja kado yang spesial.
“Aku tidakak mau menerima puisi cinta darimu. Sudah kuno!” canda Sooyoung. Key menyeringai. Tentu saja ia tidak akan memberikan puisi atau surat cinta untuk Sooyoung. Bukan soal sudah kuno atau norak, tapi rasanya kata-kata cinta memang sudah tak perlu diobral lagi. Usia pacaran sudah setahun lebih, masing-masing tak perlu lagi meragukan perasaan sang kekasih.
Kini Valentine’s Day semakin dekat. Key mulai pusing. Kado itulah yang membuat Key pusing. Key yakin, Sooyoung akan memberinya
sesuatu yang sangat berharga, setidaknya menurut Sooyoung. Ia sendiri sudah mengincar sesuatu untuk dihadiahkan untuk Sooyoung. Sesuatu yang menurutnya sangat pas dihadiahkan pada Hari Kasih Sayang. Yang jadi masalah adalah : darimana ia mendapatkan uang untuk membeli barang tersebut?
Sebuah kotak musik berfungsi sebagai tempat perhiasan. Key sudah menelitinya di Gift Toys lebih dari sekali. Kotak berwarna merah
jambu yang ketika dibuka akan memperdengarkan lagu Love Story yang klasik. Dengan kotak itu Sooyoung bisa menyimpan blink-blink dan semua perhiasan yang dimilikinya. Sebuah hadiah Valentine’s Day yang sangat cocok.
Tapi darimana Key memperoleh dua ratus ribu rupiah untuk membeli kotak tersebut? Dua ratus ribu bukanlah jumlah yang sedikit bagi Key. Ayah dan Ibunya mungkin tidak terlalu berat untuk memberikan sejumlah itu untuk Key. Jika uang itu hendak digunakan untuk membeli buku atau peralatan sekolah. Tapi untuk membeli kado Valentine? Key tak yakin. Key lebih yakin bahwa ia akan menerima teguran dan berondongan kalimat kurang sedap.
Di masa sulit seperti ini sangatlah mengada-ada jika mengeluarkan sejumlah uang cukup besar hanya untuk sesuatu yang tidak penting. Key yakin, bagi kedua orang tuanya, membeli hadiah Valentine bukanlah sesuatu yang penting apalagi sebuah keharusan.Tak ada jalan lain kecuali harus mendapatkan sendiri uang dua ratus ribu rupiah itu.
Tapi darimana?
Bekerja? Siapa yang mau mempekerjakan seorang anak pelajar kelas 2 SMA yang tidak punya ketrampilan apa-apa? Mengumpulkan seluruh uang saku memang mungkin. Tapi waktunya kurang dari sepekan lagi. Dan perkalian antara jumlah uang saku dengan jumlah hari yang tersisa masih sangat jauh dari angka dua ratus ribu!
Meminjam uang teman memang bisa. Tapi Key menghadapi resiko yang tidak kecil jika nantinya Ayah atau Ibunya mengetahuinya. Orang tuanya mengharamkan berhutang.
Bersambung…
Langganan:
Postingan (Atom)








