Silahkan Mencari!!!
I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...
GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!
Sabtu, 22 Oktober 2011
Biarkan Aku Menangis (Chapter 1)
Tak bolehkah aku menangis? Mengeluarkan ratusan bahkan ribuan air dari kelopak mataku yang sayu?
Tak bolehkah aku menangis hingga meraung-raung? Meratapi setiap keadaan yang hadir karena cinta.
Ya, karena cinta… karena ada kau. Nichkhun Horvejkul. Laki-laki tampan yang membuatku rapuh. Membuatku kehilangan arah. Kehilangan akal sehat. Dan kau yang mampu membuatku mengukir satu kata di hatiku rekat-rekat. Kesetiaan. Aku akan setia untukmu seorang. Tapi sampai kapan?
"Percuma, Kim So Eun, kau menjaga hati untuk setia padanya. Di mata Nichkhun, kau hanya seorang teman. Dia hanya kasihan padamu, dia tidak mau menyakitimu, aku juga kasihan padamu. Yang mau saja menunggu orang seperti dia. Forget him, Kim So Eun... forget him!"
Kata-kata itulah yang aku dengar dari Kim Bum. Dia adalah sahabatku dan juga teman dekat Nichkhun. Ketika itu aku sedang menikmati Capuccino di sebuah cafe bersama Kim Bum. Tampak pengunjung lain tidak peduli pada raut wajahku yang pucat pasi mendengar vonis Kim Bum.
Forget him?!
"Kenapa kau bisa cinta mati pada Nichkhun?" tanya Kim Bum.
"Apakah jatuh cinta dengan seseorang harus selalu punya alasan?" jawabku pelan. "Aku hanya jatuh cinta tanpa alasan."
"Kim So Eun, kau harus ingat. Nichkhun sudah menunggu Victoria selama tiga tahun. Sekarang coba kau pikir, kalau Nichkhun sudah mendapatkan Victoria kenapa dia harus meninggalkan kekasihnya itu demi kau seorang. Nichkhun setia pada Victoria, kau jangan coba-coba untuk merusak hubungan mereka," cecer Kim Bum sambil menyeruput Capuccino-nya.
"Kim Bum, aku tidak punya maksud untuk mengganggu hubungan mereka. Aku hanya mencintai Nichkhun, apa tidak boleh? Apa itu dilarang? Cinta itu anugrah, Kim Bum," aku mencoba membela diri.
"Tapi kau mencintai seseorang yang salah dan di waktu yang salah!" tegas Kim Bum. Lelaki itu menatap mataku tajam seolah memberi ketegasan atas setiap perkataannya. Aku menahan tangis. Mengigit bibir bawah.
Tatapan mata Kim Bum semakin tajam seperti menghakimiku untuk segera melupakan sosok Nichkhun. Tapi bagaimana aku bisa melupakan dia?! Katakan padaku bagaimana caranya? Aku hanya ingin dia tahu kalau aku mencintainya. Tapi kenapa begitu sulit?
"Kim Bum... aku ingin menangis," setelah kalimat itu meluncur, air mataku deras mengalir di pipi. Kim Bum berdecak kesal. Ia memalingkan wajah.
"Untuk apa kau tangisi? Menangis tidak akan merubah keadaan!"
Dan sejak saat itu aku takut menangis di depan Kim Bum bahkan mungkin di depan teman-teman lelakiku yang lain. Kim Bum membentakku dan meninggalkanku begitu saja.
"Jangan buang air matamu untuk orang yang tidak mencintaimu! Memangnya dia pernah menangisimu?"
Dan aku semakin kuat menangis.
Aku benar-benar ingin menangis. Menumpahkan semua beban ini.
Bersambung…
Kotak Cinta (FF)
Title : Kotak Cinta
Genre : Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 6 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 Oktober 2011, 11.08 AM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Baek Suzy of Miss A
Kotak Cinta (Chapter 6-Tamat)
3 bulan kemudian.
''Kim So Eun, ada apa denganmu? Kenapa selama 3 bulan ini, kau susah sekali untuk dihubungi? Apa kau berusaha untuk menghindariku?''
''Aku tidak menghindarimu, Kim Bum. Hanya saja beberapa bulan ini aku sedang sibuk menyiapkan novel baru untuk diterbitkan.''
''Jangan bohong padaku, Kim So Eun! Katakan padaku, ada apa sebenarnya.''
''Aku...sebenarnya aku...aku hanya tidak ingin mengganggumu. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara kau dengan gadis yang bernama Baek Suzy itu.''
''Baek Suzy? Heh, aku sudah menduga sebelumnya. Kau pasti akan salah paham dengan kotak yang kuberikan padamu waktu itu.''
“Apa maksudmu, Kim Bum?''
“Tadinya aku mau memberimu kejutan! Aku mau memberimu… kotak yang berisi cincin! Aku mau melamarmu! Tapi kotak itu tertukar dengan kotak berisi jam tangan, hadiah ulang tahun untuk Baek Suzy, adik perempuanku.”
Aku pun langsung tidak bisa berkata apa-apa lagi, tidak terasa air mataku jatuh. Tetapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan. Aku tidak menyangka selama ini Kim Bum juga memiliki rasa yang sama denganku.
Kim Bum pun mengambil sebuah kotak cincin berwarna merah tua dihiasi pita merah dari dalam kantong celananya dan membukanya, lalu bersiap untuk memasukkan cincin itu ke dalam jari manisku.
“Kim So Eun, dengarkan aku baik-baik. Gadis yang kucintai kini sedang berdiri di hadapanku.''
''Kim Bum...aku...''
“Kim So Eun, apa kau mau menjadi istriku?”
Karena aku tidak tahu harus berkata apalagi, aku pun hanya bisa menganggukkan kepalaku sambil tidak henti-hentinya aku berpikir... “apakah ini hanya mimpi?”
Kim Bum kemudian memasukkan cincin indah itu ke dalam jari manisku. Lalu spontan aku memeluknya dan rasanya kali ini aku tidak mau melepasnya lagi. Tidak akan pernah!!!
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Copyright Sweety Qliquers
Kotak Cinta (Chapter 5)
Sore tadi Kim Bum membawakan sesuatu untukku. Sekotak mungil yang dia genggam di tangan kirinya dan dia angsurkan ke telapak tanganku.
"Bukalah saat menjelang tidur nanti," katanya.
Aku tak sabar menanti malam.
Aku ingin segera membuka kotak mungil berbungkus pink itu. Sebuah surat penyataan kalau Kim Bum mencintaikukah? Atau sepotong coklat? Atau jangan-jangan sebuah cincin.. kalau-kalau Kim Bum langsung melamarku? Ah! Aku menepis pikiran-pikiran kacau yang tiba-tiba berseliweran di otakku.
Kini malam telah menjelang.
Aku rebahan di ranjang kesayanganku.
Kantukku mulai menyerang. Tapi ketika kotak mungil dari Kim Bum menyusup di sela kantuk, mataku kembali membelalak. Secepat kilat tanganku meraih kotak itu dari sampingku. Aku perhatikan lekat-lekat. Sebuah kotak bersampul pink.
Sejenak aku nikmati warna lembut itu. Pikiranku menyusup ke dalam isi kotak. Oh jangan! Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku saja. Aku bersiap membuka kotak itu, ketika tiba-tiba ringtone yang aku pasang khusus untuk Kim Bum berbunyi. Malam-malam begini Kim Bum menelpon? Aneh. Aku menyambar ponselku.
"Ya?” sapaku dengan heran.
"Kim So Eun, maaf... aku salah memberikanmu kotak. Jangan dibuka ya. Aku mohon."
Suara Kim Bum langsung menyerbu.
“Kenapa?”
“Pokoknya aku mohon, kotak itu jangan dibuka. Aku percaya padamu, Kim So Eun.”
Dalam segudang tanya, aku mengakhiri pembicaraan singkat itu. Ponselku mati. Low Bat.
Aku terbelalak. Gerahamku luruh. Aku sungguh tidak percaya dengan isi kotak pink pemberian Kim Bum tadi sore. Sebuah jam tangan, teruntuk seseorang bernama Baek Suzy. Baek Suzy? Kim Bum dan Baek Suzy? Ya Tuhan, ada secarik kertas…
Baek Suzy sayang,
Happy Birthday.
Semoga jam tangan ini selalu mengingatkanmu setiap detik, setiap menit, bahkan selamanya padaku.
Semoga jam tangan ini selalu mengingatkanmu setiap detik, setiap menit, bahkan selamanya padaku.
I Love You so much.
Kim Bum Oppa
Pandanganku nanar. Kim Bum? Apakah ini…
Antara kecewa dan lega aku terkapar tak berdaya.
Aku kecewa mengapa Kim Bum tidak mencintaiku? Tapi aku lega. Semuanya terungkap sebelum Kim Bum mengetahui kalau aku pernah mencintainya. Ah! Bukan. Ini bukan cinta, sebab dari awal aku tidak percaya kalau ini adalah sejenis jatuh cinta. Mungkin ini hanya kekaguman seorang penggemar pada idolanya.
Bersambung…
Kotak Cinta (Chapter 4)
Aku kini mengakui kalau aku jatuh cinta pada Kim Bum.
Aku tidak lagi mau memungkiri. Perasaan ini bukan sekedar rasa kagum, penggemar dengan idolanya, apalagi sekedar perasaan ingin mengenali. Bagaimana tidak? Kim Bum berhasil membuncahkan rasa nyaman di hatiku, dan pada sebuah sudut kota ketika kami janjian untuk bertemu, Kim Bum membuatku bertekuk lutut dalam perasaan yang tak dapat kuungkapkan.
“Kim So Eun…”
“Ya… Ada apa?”
“Mmm, kau suka lagu SMASH?”
Hah? Pertanyaan Kim Bum terdengar asing bagiku. Ah! Bagaimana dia bisa tahu banyak hal tentang aku? Saat pertemuan di Bus itu... dia tahu namaku. Sekarang? Kim Bum tahu lagu-lagu kesuakaanku. Jangan-jangan Kim Bum sudah tahu kalau aku diam-diam mencintainya. Wah gawat!
“Bagaimana kau bisa tahu? Kau juga suka?”
Aku mencoba bersembunyi dari kegugupan.
“Ah, tidak, hanya saja…”
Kim Bum menggantungkan ucapannya, membuat aku bertanya-nyanya.
“Hanya saja… kenapa?” Aku memburunya.
“Hanya saja… semenjak pertemuan kita di Bus waktu itu, tepatnya semenjak aku membaca novelmu, kau telah membuat hatiku cenat-cenut. Heheee…” Kim Bum tertawa renyah.
“Ahhh, Kau ini!”
Aku mencubit bahu Kim Bum, yang pada akhirnya... setelah aku sadari... ini pertama kalinya kami bertemu setelah Kim Bum mengundangku tadi sore. Aku jadi malu.
Itu pertemuan sangat manis, pun begitu untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kim Bum sering mengantarku ke kantor dan kami janjian makan siang bersama. Atau sekedar menyaksikan langit Seoul bila malam tiba. Hanya itu! Ya, hanya sebatas itu. Untuk selebihnya... antara aku dan Kim Bum belum ada ikatan apa-apa. Kim Bum belum menyatakan kalau dia ‘cinta’ padaku. Cinta? Oh, Cintaaa….
Bersambung…
Kotak Cinta (Chapter 3)
Hari-hari selanjutnya keadaanku semakin tak terkendali....
Virus merah jambu itu begitu cepat menggerogoti hati, lalu jantung, dan seluruh organ tubuhku. Aku berhasil menemukan Kim Bum di Facebook. Tidak sulit. Dengan sebuah friend request,... lalu hitungan menit berikunya aku dan Kim Bum sudah berada di dalam chat room yang romantis. Kencan pertama. Hah? Bukan! Ini bukan kencan!
“Hai Kim So Eun, terima kasih sudah ‘Add’ aku…”
Aku diamkan saja. Aku mau tahu bagaimana reaksinya atas sikapku.
Beberapa detik kemudian chat dari Kim Bum muncul lagi, “Apa kau sedang sibuk?”
Aku tetap tidak bereaksi. Opsss!!! Kenapa aku yang jadi jual mahal seperti ini?
Bersambung…
Kotak Cinta (Chapter 2)
Aku menatap langit-langit kamar. Cuplikan pertemuan singkat dengan Kim Bum masih saja bermain di memoriku, memenuhi setiap sudut kamarku. Dimana-mana ada Kim Bum. Heuh! Kim Bum, kau membuatku gila.
Aku jatuh cinta pada pertemuan pertama? Maksudku pada pandangan pertama! Oh, tidak mungkin. Ini mustahil! Bukan kebiasaanku untuk begitu mudah memberi cinta pada seorang laki-laki tak dikenal. Cinta membutuhkan sebuah proses yang tidak sebentar. Cinta butuh pendalaman, menyelami ceruk hati masing-masing, ceruk yang dalam dan tak mungkin bisa aku selami dalam durasi yang begitu singkat.
Oh, tidak! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada laki-laki di Bus itu. Tapi,… aku masih menyimpan sisa parfum beraroma menenangkan itu di ruang ingatanku. Juga deretan giginya yang putih bersih berhasil aku potret dan terpajang dalam ruang kecil di jantungku, atau rekaman suaranya saat menyapaku dengan kata ‘hai’ masih bergema dan menggetarkan selaput gendangku, lalu menjalar ke setiap urat saraf, memompa aliran darah dan memenuhi seluruh bagian tubuhku. Ya Tuhan! Bukankah ini yang namanya jatuh cinta? Entahlah! Tapi ini sungguh di luar kebiasaanku.
Bersambung…
Kotak Cinta (Chapter 1)
Aku tidak tahu, mengapa hari ini tiba-tiba ada rasa yang membah ketika bertemu dengan laki-laki itu, di sebuah Bus! Sering aku bertemu laki-laki di Bus, bahkan tak jarang pula satu bangku, maksudku kami duduk bersebelahan, tapi laki-laki yang aku temui tadi siang benar-benar membuat hatiku meradang.
Pandangan kami berserobok secara tidak sengaja, Ya Tuhan,... Senyum itu, hidung itu, dan mata itu. Mata…
“Hai…” Bibir laki-laki itu merekah, membuka katupnya dan memamerkan sederet gigi putih rapi.
Aku kelagapan, Omoo! Itu Kim Bum! Sumpah, wajah tampan yang tengah tersenyum di hadapanku ini adalah Kim Bum. Penyanyi pendatang baru yang membuat para gadis lemas tak berdaya. Tapi, bagaimana mungkin Kim Bum berada di atas Bus siang-siang begini? Ah! Masa bodoh, Kim Bum kan juga manusia.
“Kimm Bummm ?” Aku besorak tertahan.
“Kau Kim So Eun kan?” Lanjutnya, membuat perasaanku melambung ke langit ke tujuh. Bagaimana bisa dia tahu namaku? Jangan-jangan…
“Novelmu bagus, aku suka.” Aku berhenti menduga-duga ketika Kim Bum menunjukkan sebuah majalah padaku. Di sana terpampang namaku lengkap dengan foto dan profilku. Ah! Kim Bum, kau membuat pipiku bersemu merah.
Bersambung...
Jumat, 21 Oktober 2011
Chocolate (FF)
Chocolate (Chapter 6-Tamat)
Patah Hati, mungkin itu headline diary Kim So Eun hari ini.
Kini Kim So Eun merasakan bagaimana rasanya cinta yang berubah menjadi benci. Benci pada Kim Bum, dampaknya dia juga jadi benci pada coklat. Benci sebenci-bencinya.
Bahkan dia jadi merasa tidak nyaman jika berada di kamarnya. Kamarnya telanjur bernuansa serba coklat. Selama ini, itu adalah tempat ternyamannya, tapi sekarang, terpaksa harus tak berpenghuni.
Kim So Eun mengungsi ke kamar kakaknya yang kebetulan kosong. Kakaknya kuliah di luar kota.
Ya, awal kecintaan Kim So Eun pada coklat karena ia sangat mengidolakan Chocolate Day, Boyband yang sedang naik daun itu di Korea. Kalau saat ini ia jadi sangat membenci coklat itu wajar saja, Karena coklat itu mengingatkannya pada Chocolate Day, Dan Chocolate Day mengingatkannya pada Kim Bum, Pria yang mengkhianatinya, Pria yang membuatnya patah hati.
Cinta itu hanyalah sebuah permainan...
Kenapa ada cinta jika cinta hanya akan menjadi racun dunia...
Maaf cinta, aku tidak bisa percaya lagi...
Aku membencimu...
Chocolate, I’m sorry, goodbye...
Cinta dan benci itu beda tipis. Cinta itu bisa berubah jadi benci seketika. Tapi kadang benci pun bisa mengubah diri menjadi cinta... bahkan cinta yang benar-benar cinta...
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Copyright Sweety Qliquers
Chocolate (Chapter 5)
“Aku sebenarnya sudah merasa heran dengan gelagat kalian akhir-akhir ini....”
“Kini semuanya sudah sangat jelas kan...?” ucap Kim So Eun sambil menengadahkan kedua tangannya, ”Kalian sudah berhasil menghancurkan kepercayaanku pada kalian! Selamat ya!” pungkasnya seraya memamerkan senyum dingin Kutub utara.
Kim Bum dan Jung So Min tidak punya argumen apapun.
“Tenang saja. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi!” tegas Kim So Eun dengan menekankan kalimat ‘tidak akan’.
Kim Bum dan Jung So Min tetap mati kutu.
“Terima kasih...” ucap Kim So Eun lalu berdiri dari kursinya.
Kim Bum menahannya. “Kim So Eun... aku belum selesai...”
“Kau tidak perlu bicara apa-apa lagi! Urusan kita sudah selesai sampai di sini saja,” tegas Kim So Eun sambil melangkah pergi.
Sementara itu, ada sesosok manusia yang tak tahu apa-apa tentang kejadian ini, dialah Baek Suzy. Baek Suzy yang sudah membawa satu baki yang berisi dua piring nasi plus ayam goreng, dan dua gelas soft drink, menghentikan langkah Kim So Eun.
“Ada apa ini?? Kau kenal dengan Kim Bum Oppa? Kenapa kau marah-marah begitu pada Kim Bum Oppa?” tanya Baek Suzy beruntutan.
Kim So Eun mengeryitkan alis. Kenapa Baek Suzy tanya begitu? Baek Suzy kenal dengan Kim Bum? Seharusnya Kim So Eun menanyakan pertanyaan itu pada Baek Suzy.
Mata Kim So Eun beralih memandang ke arah Kim Bum. Pemuda itu tampaknya kehilangan muka! Dia menundukkan kepala. Seandainya dia adalah kura-kura, mungkin dia akan segera bergegas masuk ke dalam tempurungnya!
“Baek Suzy, kau kenal dengan Kim Bum?” tanya Kim So Eun ragu-ragu.
“Kenapa kau malah balik bertanya?” Baek Suzy bertanya balik.
“Ya aku kenal dengannya. Kau juga kenal dengannya?” tanya Kim So Eun sembari kepalanya mengarah ke Kim Bum.
“Iya, aku kenal...” jawab Baek Suzy apa adanya sambil memandangi Kim Bum yang gelagapan. Matanya juga memperhatikan gadis yang ada di sebelahnya.
“Wah, dunia itu sempit ya...” ujar Baek Suzy polos.
Lalu dia mendekati Kim Bum dan Jung So Min, menyapanya.
“Kim Bum Oppa ternyata kenal juga dengan Kim So Eun?” Baek Suzy masih bisa menyunggingkan senyuman innocent di tengah-tengah kegalauan tiga manusia di sekitarnya itu.
Kim Bum semakin gugup.
“Lalu dia siapa?” Jung So Min adalah yang dimaksud oleh Baek Suzy.
Kim Bum tetap diam.
“Kenapa kau tidak mengenalkanku padanya?” tanya Baek Suzy pada Kim Bum dengan manjanya. Terkesan sangat akrab.
Kim Bum masih bungkam.
“Eh, Baek Suzy,... seberapa kenal kau dengan Kim Bum?” Kim So Eun menyela.
“Ya kenal dekat. Kim Bum Oppa itu… kekasihku!” ungkap Baek Suzy.
Arrrggghhh!!!
Jung So Min menutupkan tangan ke wajahnya, sementara Baek Suzy terus saja celingukan tanpa paham apa yang terjadi.
Bersambung…
Chocolate (Chapter 4)
''Sepertinya kalian bahagia sekali!''
Begitu sapa Kim So Eun setelah tepat berada di hadapan Kim Bum dan Jung So Min.
“Kim… Kim So Eun…?”
Jung So Min tergagap melihat Kim So Eun tiba-tiba muncul.
“Apa aku Boleh bergabung dengan kalian?” tanya Kim So Eun penuh ironi.
Jung So Min gelagapan dan jadi salah tingkah, begitu pula si pemuda tampan, member Chocolate Day yang ada di sebelahnya. Mereka saling memandang secara bergantian.
Kim So Eun menatap muak ke arah gadis itu.
“Apa aku mengganggu kalian?”
Kim Bum pun bingung bagaimana membuka suara menanggapi sindiran Kim So Eun. Pemuda tampan itu sudah kepalang basah ketahuan jalan dengan wanita lain... yang tidak lain adalah sahabat kekasihnya.
“Kim...Kim So Eun...” Suara Kim Bum seperti tersangkut di tenggorokan.
“Apa? Apa yang mau kau katakan padaku? Setelah semuanya jelas seperti ini...” sahut Kim So Eun.
“Kim So Eun... ini salahku... semuanya salahku...” papar Kim Bum yang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Aku yang salah, Kim So Eun...” sahut Jung So Min bermaksud menghindarkan Kim Bum dari status ‘terdakwa’ atas skandal mereka berdua.
“Kalian berdua sama saja!!!” bentak Kim So Eun. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan airmata di depan kedua pengkhianat cinta ini.
Kim Bum dan Jung So Min terhenyak.
Bersambung…
Chocolate (Chapter 3)
Di Ocean Plaza...
Kim So Eun dan Baek Suzy keluar-masuk ke beberapa accecorries store. Berbagai macam pernak aksesori wanita dipamerkan. Langkah mereka terus menjelajah, ke shoes store, dress store, book store, dan tak ketinggalan game zone.
Hingga akhirnya, perut mereka meronta ingin dimanjakan juga.
Mereka pun segera melangkahkan kaki ke food court.
Waduh! Perut sudah lapar sekali, antrian pemesanannya lumayan panjang. Bagaimana ini?
Mereka memilih tetap bertahan mengantri. Food court tersebut sudah terkenal dengan ‘paket hemat’nya.
Yeah... hitung-hitung berhemat... Tadi kan sudah shopping bemacam-macam barang...
Baek Suzy mengantri, sedangkan Kim So Eun mencari bangku kosong tempat makan.
Mata Kim So Eun menjelajahi tiap sudut ruangan. Hingga akhirnya pandangannya terhenti di bangku yang sudah ditempati dua sejoli.
Waktu serasa berhenti seketika.
Dunia serasa hampa seketika.
Kim So Eun merasakan darahnya bak berhenti mengalir dan jantungnya berhenti berdetak. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri pemandangan itu,... Kim Bum... dan sahabatnya... Jung So Min, sedang duduk berduaan menyantap makanan sembari bersenda gurau tapi... mesra! Oh. Perih.
Jika gadis itu bukan Jung So Min, mungkin hatinya tak akan seperih ini.
Sungguh, Kim So Eun merasakan sakit hati yang benar-benar sakit...
“Tega sekali mereka berdua padaku...” batin Kim So Eun pilu.
Kim So Eun pun menghampiri Kim Bum dan Jung So Min. Dia tak sabar melihat ekspresi Kekasih dan sahabatnya itu yang sedang bermain api di belakangnya!
Bersambung…
Chocolate (Chapter 2)
Hari ini, cuaca agak mendung. Hawanya terasa panas. Kim So Eun ingin melepas penat setelah menuntaskan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk selama dua minggu terakhir ini.
Dia sebenarnya ingin menghabiskan waktu seharian bersama sang pangeran pujaan hati, tapi si dia benar-benar tidak bisa menemani Kim So Eun kali ini. Dia sedang banyak proyek, menyelesaikan Album terbaru Chocolate Day. Maklum saja Kim Bum, kekasih Kim So Eun ini adalah salah satu member dari Chocolate Day.
Rrrgghhh, sabar, sabar. Kim So Eun berusaha melipatgandakan rasa pengertian untuk alasan yang satu itu.
Tak ada rotan akar pun jadi.
Kim So Eun hang out, ke sebuah plaza terkenal di Seoul, bersama sahabat lamanya, Baek Suzy.
Kim So Eun dan Baek Suzy berteman baik sejak SMA. Universitas yang berbeda sempat agak merenggangkan hubungan mereka. Namun, hari ini, kebetulan sekali Baek Suzy menghubungi Kim So Eun menawarkan hang out bersama. Pucuk dicinta ulam tiba. Kim So Eun tidak menolak ajakannya. Lalu mereka pun jalan bersama.
Bersambung…
Chocolate (Chapter 1)
Kalau perempuan suka warna pink, biru, atau ungu? Wajar saja. Hmm... tapi pernyataan itu tidak berlaku bagi Kim So Eun. Dia ini malah anti dengan warna-warna lembut itu. Kim So Eun yang aktif dan sportif memang tampak lebih Percaya diri dan comfort dengan warna coklat.
Coklat. Coklat. Coklat!!
Kim So Eun memang sangat menyukai semua yang berhubungan dengan Coklat. Tidak heran kalau dia suka mengkoleksi pernak-pernik yang berwarna coklat. Let’s see... Kim So Eun’s bedroom,... woo… its like… “Welcome to the brown chocolate world”. Nuansa warna coklat menghiasi kamar Kim So Eun. Bahkan ada bantal unik berbentuk seperti coklat Silverqueen.
Dia memang suka makan coklat. Segala macam jenis coklat, coklat apa saja, yang penting belum expired, dan tentu saja... tidak beracun. Itu pasti!
Dan, yang tidak ketinggalan, dia pun mengidolakan Boyband yang sedang naik daun di Korea 'Chocolate Day'. Semua album Chocolate Day dia punya dan hafal semua lirik-lirik lagunya. Ck…ck…ck… Hebat!! Begitulah kecintaan Kim So Eun terhadap chocolate.
Sebuah pepatah bilang: Jangan terlalu suka atau cinta terhadap sesuatu, nanti jadinya bisa benci. Begitu pula sebaliknya, jangan terlalu benci terhadap sesuatu,... karena benci itu beda tipis dengan cinta. Bisa-bisa dari benci jadi cinta.
Ehm… meski begitu Kim So Eun tak menghiraukan pepatah itu.
Dia lebih pada percaya logika. Eh, tapi apakah akan berpengaruh warna favorit terhadap perasaan cinta dan benci? Kita cukupkan saja pembukaan cerita ini. Kita ikuti, bagaimana urusan Kim So Eun dengan coklatnya itu.
Bersambung…
Cincin (FF)
Cincin (Chapter 3-Tamat)
Malam ini adalah kencanku dengan Kim So Eun yang kesekian kalinya. Kami bertemu di kafe yang biasa. Belum lama kami berpacaran.
Tidak lama aku menunggu, Kim So Eun muncul. Dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Bibirnya yang indah mengulum senyum, tulus.
“Aku bahagia malam ini,” katanya pelan.
Aku tersenyum senang.
“Aku mau mengucapkan terima kasih,” lanjutnya.
“Terima kasih? Untuk apa?”
“Untuk pemberian hadiah ulang tahunku.”
“Itu kan sudah beberapa lama?”
“Iya, tapi setelah aku pakai cincin ini, banyak teman-temanku yang memujinya,” katanya. Cincin yang melingkar di jari manisnya itu ditunjukkannya padaku. Cincin itu kelihatan pas sekali di jarinya.
“Terima kasih, Kim Bum. Kau mau memberiku cincin seindah ini.” Ucapan terima kasihnya entah untuk yang ke berapa kali keluar dari mulutnya.
“Ah, itu belum seberapa dibanding rasa cintaku padamu,” kataku sok romantis.
“Kau baik sekali. Kata adikmu juga.”
“Adikku?” tanyaku kaget.
“Iya adikmu, Baek Suzy. Dia kan temanku satu kampus. Bahkan kami sudah menjadi sahabat sekarang. Apa Baek Suzy tidak pernah cerita?”
Aku menggeleng. Terus terang aku baru tahu kalau Baek Suzy bersahabat dengan Kim So Eun. Kim So Eun tidak pernah cerita.
“Baek Suzy juga yang pertama kali memuji pemberianmu ini. Katanya cincin ini indah sekali," katanya sambil membolak-balikan jemarinya.
Dadaku mendadak berdegup kencang. Kepalaku jadi terasa berat, terlalu sibuk memikirkan dimana akan kutaruh wajahku nanti seandainya Kim So Eun tahu kalau cincin yang aku berikan itu adalah cincin Baek Suzy yang aku ambil di kamar mandi ketika Baek Suzy lupa menaruhnya.
Tamat
Copyright Sweety Qliquers
Copyright Sweety Qliquers
Cincin (Chapter 2)
Malam ini, kupakai kemeja baruku. Kusemprot sedikit minyak wangi. Rambut kusisir rapi. Ah,.. aku jadi kelihatan lebih tampan. Aku memuji diriku sendiri di depan cermin.
“Mau kemana? Rapi sekali.”
Suara Baek Suzy membuatku sedikit kaget. Aku baru menyadari kalau Baek Suzy sudah berdiri di depan pintu.
“Kau ini, Mau tahu urusan orang saja,” kataku berlagak cuek. Aku masih membenarkan kemejaku agar terlihat lebih rapi.
Baek Suzy duduk di atas ranjang kemudian seperti biasa memainkan bantal di pangkuannya, sambil memperhatikan penampilanku.
“Bagaimana, aku sudah tampan kan?” tanyaku.
“Iya, kau tampan sekali.” katanya.
Bersambung…
Cincin (Chapter 1)
“Memangnya kau tahu artinya rumput yang bergoyang?”
Terdengar ia menekankan nada suaranya. Matanya menyorot tajam ke arahku. Aku jadi sedikit gugup. Tak kusangka kata-kata yang meluncur dari mulutku tadi ditanggapinya dengan serius.
“Kenapa diam? Ayo jawab!” Ia menuntut jawaban padaku, seolah bisa menebak kalau aku pasti kebingungan menjawabnya. Tangannya sibuk memainkan bantal di pangkuannya. Ada seraut kecewa di wajahnya. Bibirnya mengerucut kecil.
“Maaf, aku tadi tidak bermaksud tidak menghiraukanmu. Aku tadi masih capek, jadi bicara begitu,” kataku menjelaskan sambil mencoba meyakinkan kalau aku masih bersimpati padanya.
Sejak kehilangan cincin seminggu yang lalu, Baek Suzy uring-uringan. Setiap kali datang, pasti mengeluh, dan berkali-kali menanyaiku. Dan berkali-kali pula aku mengatakan supaya ia mengingat-ingat lagi dimana terakhir kali ia menaruh cincin itu.
“Seisi rumah sudah kuobrak-abrik, tapi aku tidak menemukannya juga,” katanya menggerutu. “Jadi dimana cincin itu?” tanyanya lagi.
“Aku kan sudah bilang, aku tidak tahu. Memangnya aku ini paranormal apa?” kataku kesal, “Atau...., jangan-jangan kau menuduhku yang mengambilnya ya?'' lanjutku curiga. Aku harap dugaanku ini meleset.
“Bukan begitu, aku tidak menuduhmu. Aku hanya bertanya.”
“Kalau kau bertanya padaku, aku tidak tahu. Tanya saja pada rumput yang bergoyang,” kataku cuek.
Seminggu sejak itu, Park Shin Hye tidak mengeluhkan cincinnya lagi. Mungkin dia sudah melupakannya atau mungkin dia sudah sadar kalau aku bosan mendengar keluhannya.
Kulihat dia jadi pendiam sekarang, jarang menyapaku. Biasanya setiap malam dia singgah ke kamarku. Cerita apa saja, tentang teman-temannya, kekasihnya atau apapun yang dialami hari itu.
Sebagai saudara kembar, kami saling terbuka, saling bergantung satu sama lain. Perbedaan pendapat seringnya terjadi disebabkan karena aku laki-laki dan dia perempuan.
Bersambung…
Selasa, 11 Oktober 2011
Luka Masa Lalu (FF)
Title : Luka Masa Lalu
Genre : Friendship, Romance
Author : Sweety Qliquers
Episode : 6 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 2 September 2011, 05.17 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum
Baek Suzy (Miss A)
Jung Yong Hwa (CN Blue)
Im Seulong (2AM)
Luka Masa Lalu
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6 - Tamat
Langganan:
Postingan (Atom)





