Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Senin, 04 Juli 2011

Biarkan Hati Bicara (Chapter 2)



Chapter 2
Awal Pertemuan


Makan malam kali ini di rumah keluarga Kim So Eun, terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Nampak spesial dengan kehadiran Kim Bum dan ayahnya. Malam ini adalah pertama kalinya Kim Bum dan Kim So Eun bertemu. Kim Bum tak menyangka bahwa gadis yang dijodohkan dengannya begitu cantik. Namun Kim Bum dan Kim So Eun belum sekali pun berbicara. Hanya celotehan orang tua mereka yang menghiasi meja makan malam itu. Sesekali para orang tua itu mengajak mereka mengobrol. Adik Kim So Eun, Park Shin Hye, juga tak terlalu banyak berkomentar. Padahal ia biasanya tak pernah berhenti mengoceh jika melihat pria tampan. Mungkin ia mengerti perasaan sang kakak. Walau tak berbicara pada Kim So Eun, Kim Bum terlihat sesekali mencuri pandang ke arahnya.

“Hai… boleh mengganggu, tidak?”

Kim So Eun kaget, saat Kim Bum menghampirinya.

Kim So Eun yang sedang melamun di teras belakang rumahnya, tak menyadari kehadiran Kim Bum. Setelah makan malam tadi, ia memilih duduk di sini, enggan untuk bergabung dengan para orang tua yang asyik mengobrol di ruang tamu. Apalagi ada Kim Bum di situ. Tapi saat ini ia tidak bisa lagi menghindar karena Kim Bum telah berdiri di sampingnya.

“Kau kelihatan tidak suka dengan semua ini?”

Kim Bum duduk di sebelah Kim So Eun.

“Siapa yang senang kalau dijodohkan dengan orang yang baru satu jam yang lalu terlihat wajahnya?”

Kim Bum tertawa kecil.

“Kita belum akan dinikahkan besok. Ini juga baru tahap perkenalan. Pendekatan istilahnya.”

“Sepertinya kau senang dengan perjodohan ini?” suara Kim So Eun agak emosi.

“Siapa bilang? Siapa yang suka, saat tiba-tiba suatu pagi ayahmu bilang bahwa kau akan dinikahkan dengan seorang gadis yang namanya baru saja disebutkan, yang entah bagaimana rupanya, wajahnya, sifatnya? Siapa yang suka dengan semua itu?”

“Lalu? kenapa kau tidak menolak? Kau bisa, kan? Kau seorang laki-laki.”

“Apa karena aku berlabel laki-laki, maka aku yang harus memberontak? Laki-laki juga punya rasa dan kasih sayang. Seorang laki-laki juga tidak tega melihat orang tuanya jantungan atau stroke saat tahu anaknya seorang pembangkang. Laki-laki juga punya kewajiban menghormati orang tuanya.”

Kim So Eun menyesali kata-katanya.

“Maafkan aku. Aku kalut, bingung."

“Aku bisa mengerti.” Kim Bum kalem.

Mereka bertatapan.

“Oh,ya… aku Kim Bum, sepertinya tadi kita belum berkenalan.”

“Kim So Eun.”

Mereka berpandangan seraya tersenyum lucu.

“Lalu, selanjutnya bagaimana?” tanya Kim So Eun

“Apanya?” Kim Bum bingung.

“Perjodohan kita?”

“Mungkin untuk sekarang, kita jalani dulu apa yang mereka mau. Lagipula mereka baru tahap memperkenalkan kita. Kalau kita tidak cocok mereka tidak akan memaksa.”

“Kau yakin?”

“Orang tuamu tidak mungkin mengorbankan kebahagiaanmu, demi egoisme mereka. Kalau memang kau tidak bahagia menjalani ini semua, mereka pasti mengalah. Ini juga baru tahap pendekatan. Jadi jalani saja apa yang mereka inginkan. Simpel, kan?”

“Bagiku tidak bisa sesimpel itu...”

“Oh, ya?”

“Aku sudah punya seseorang yang aku cintai. Dan karena perjodohan konyol ini, hubungan kami bisa saja berakhir.”

“Kenapa kau tidak bilang pada orang tuamu?”

“Mereka sudah tahu. Dan mereka juga tidak menyetujui hubunganku dengan Kim Hyun Joong Oppa. Kita Backstreet hampir tiga tahun.”

“Waow, ironis! Cinta terlarang, rupanya.”

Kim So Eun memandangi Kim Bum dengan tatapan kesal.

“Maaf…” ujar Kim Bum, seraya mengatupkan jarinya ke depan wajahya.

Untuk beberapa saat mereka terdiam, sampai akhirnya Kim So Eun buka suara.

“Kau harus janji satu hal padaku?”

Kim Bum memandang Kim So Eun penuh tanya.

“Aku boleh jalan dengan Kim Hyun Joong Oppa?”

“Silahkan,… toh kita belum punya ikatan apa-apa.”

“Kau tidak boleh beritahu orang tuaku!” Nada bicara Kim So Eun sedikit mengancam.

Kim Bum memandang Kim So Eun.

“Bisa tidak, kau menganggap aku sebagai teman? Bukan seorang mata-mata atau tukang mengadu?”

Kim So Eun merasa malu. “Deal. Teman?”

Kim Bum meraih uluran tangan Kim So Eun untuk berjabat tangan.

Terlihat bahwa keduanya bisa saling dekat.

Malam itu, kisah baru dalam hidup Kim Bum dan Kim So Eun mulai tertulis.

* * *

“What? Dijodohkan?” Lee Ki Kwang setengah berteriak.

Untunglah mereka sedang berada di ruang kerja Kim Bum yang tertutup rapat.

“Tidak usah sekaget itu. Biasa saja!”

Kim Bum sibuk membolak-balik beberapa file yang ada di meja kerjanya. Dan sesekali membacanya.

“Kim Bum… sebegitu parahnyakah, hidupmu? Kau memang sudah tidak laku lagi? Sampai harus dijodohkan segala?”

“Ini kemauan Ayahku….”

Lee Ki Kwang tertawa. Merasa ada sesuatu yang lucu dengan pernyataan Kim Bum barusan. Kim Bum merasa diremehkan.

“Asal kau tahu saja, gadis itu cantik sekali.”

“Oh, ya?” Lee Ki Kwang masih meremehkan “Sesuai tidak dengan standar gadis-gadis yang biasa kau kencani selama ini?”

“Kalau dia belum punya pacar, mungkin aku akan berusaha sungguh-sungguh untuk merebut hatinya. Sayang, sudah ada yang punya…”

“Cinta pada pandangan pertama rupanya? Hajar saja, Bro! Untuk apa memikirkan kekasihnya. Sepertinya dia tidak serius dengan keaksihnya itu. Buktinya, dia mau menerima perjodohan ini.”

“Dia terpaksa, Lee Ki Kwang. Seperti aku, dia terlalu berbakti…”

“Kau? Anak berbakti?” Lee Ki Kwang mencibir.

Kim Bum ingin menyahut. Namun pada saat yang bersamaan pintu ruangannya terbuka. Seraut wajah cantik muncul.

Gadis itu, kini menghampiri meja kerja Kim Bum.

“Kau kemana saja? Kenapa teleponku tidak diangkat?”

Lee Ki Kwang yang tahu diri, segera bangkit dan berjalan keluar. Sebelumnya ia sempat meleparkan pandangan penuh arti ‘selamat meladeni gadis agresif ini’ kepada Kim Bum.

“Aku sibuk, Im Yoona. Lagi pula untuk apa, kau mengejar-ngejarku seperti ini? Apa kau tidak capek?!”

“Kau yang selalu menghindar, memangnya salahku apa?”

“Kau tidak salah apa-apa. Tapi aku mohon… jangan ganggu aku.”

“Kenapa? Kau menghindariku?”

“Aku capek. Banyak kerjaan menumpuk.”

“Oh, shhh.... Bilang saja, kau tidak suka lagi jalan denganku. Dasar playboy.”

Bantingan suara pintu itu memperjelas seberapa gemasnya Sang gadis itu.

Untuk sesaat Kim Bum memejamkan mata, ah, tapi setidaknya, kepergiannya bisa membuat Kim Bum lega, akhirnya terhindar juga dari nenek sihir itu.

* * *

Seminggu berlalu sejak pertemuan Kim So Eun dan Kim Bum... namun pertemanan yang mereka lakukan hanya sebatas sms atau telfon. Itu pun hanya sekedar say hallo. Tidak pernah ada acara antar jemput atau apa. Kim Bum sadar, Kim So Eun pasti tidak akan suka, sebab hingga kini Kim So Eun masih berhubungan dengan kekasihnya. Tapi, ayah Kim Bum tidak suka dengan keadaan ini. Dia ingin, mereka berdua semakin akrab dan sering bertemu.

“Ayah tidak pernah lihat kau ajak Kim So Eun main ke sini?”

Sang ayah yang tengah asyik membaca buku di ruang tengah, buka suara begitu melihat kedatangan Kim Bum pulang kerja. Kim Bum yang hendak masuk ke kamarnya pun menghentikan langkahnya.

“Aku belum pernah lagi bertemu dengannya.” Jujur Kim Bum.

“Apa? Memangnya kau kemana saja selama ini? Kalian sudah diperkenalkan. Masa orang tua lagi yang harus campur tangan untuk mendekatkan kalian? Agresif sedikitlah, Kim Bum…!”

“Jadi mau ayah, Aku harus gimana?”

“Antar jemputlah Kim So Eun berangkat kerja. Atau sesekali ajak dia jalan-jalan. Masa ayah yang harus beritahu lagi apa yang harus kau perbuat? Kau kan sudah biasa kalau soal wanita.”

“Baiklah. Besok Aku akan jemput dia dari kantornya.”

Kim Bum berlalu.

Ayahnya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Kim Bum yang menurutnya kurang Gentleman sebagai pria.

* * *

“Kim Bum? Tumben datang kemari?”

Kim So Eun kaget saat melihat Kim Bum datang menjemputnya.

Dia yang sedang menunggu kedatangan Kim Hyun Joong, tak menyangka akan dijemput pula oleh Kim Bum. Kim Bum memang sengaja tidak memberitahu Kim So Eun tentang kedatangannya sore ini. Kim Bum tahu, Kim So Eun pasti menolak kalau ia memberi tahu sebelumnya.

“Permintaan Ayah. Dia ingin aku mengantar jemputmu setiap pulang pergi kerja.”

“Ya ampun….padahal aku kan, bisa pulang sendiri.”

“Ya, itulah Ayahku. Maaf aku terpaksa menurutinya.”

“Bagaimana, ya? Masalahnya, Kim Hyun Joong Oppa sering antar jemput aku. Sekarang, aku sedang menunggu dia.”

Baru saja kalimat Kim So Eun selesai, Kim Hyun Joong muncul dengan motor kesayangannya.

Dia pun berhenti tepat di samping Kim So Eun dan Kim Bum berdiri.

Kim Bum memperhatikan Kim Hyun Joong, sampai pemuda itu membuka helmnya. Dan saat terlihat wajahnya dan pandangan mereka beradu. Terlihat jelas perubahan air muka keduanya. Terkejut. Kim So Eun yang kurang menyadari hal itu, segera menyuruh Kim Hyun Joong agar turun dari motornya dan memperkenalkannya pada Kim Bum.

“Oppa, ini Kim Bum… Kim Bum, ini Kim Hyun Joong…”

Keduanya masih beradu pandang. Dingin.

Tak ada yang mengulurkan tangan.

“Kalian sudah saling kenal, ya?”

“Tidak!”

Kim Hyun Joong menjawab ketus. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari Kim Bum.

“Mungkin lain kali saja aku menjemputmu, Kim So Eun.”

Kim Bum berbicara santai pada Kim So Eun. Seolah-olah Kim Hyun Joong tak ada di situ. Dan tanpa menunggu jawaban Kim So Eun, Kim Bum segera masuk ke mobil dan meninggalkan Kim So Eun yang masih penasaran dengan sikap mereka berdua.

“Kau kenal dia sebelumnya?”

Kim So Eun bertanya pada Kim Hyun Joong yang terus memperhatikan kepergian mobil Kim Bum.

“Jadi dia orang yang dijodohkan denganmu?” Kim Hyun Joong balik bertanya.

“Iya. Maafkan aku, Oppa. Aku tidak tahu kalau kau cemburu.” Kim So Eun gugup. Ia mengira sikap Kim Hyun Joong terhadap Kim Bum karena cemburu. Padahal bukan itu masalahnya.

“Ayo, kita pulang!”

Kim Hyun Joong menggandeng tangan Kim So Eun untuk segera naik ke motor. Dan Mereka pun melaju pulang.

Bersambung…

Biarkan Hati Bicara (Chapter 1)



Chapter 1
Perjodohan...


Malam kian merambat. Semakin larut. Suasana kota pun mulai sepi. Hanya satu-dua kendaraan merambat di kegelapan jalan raya, menandakan bahwa aktivitas kota belum sepenuhnya usai.

Di salah satu sudut kota Seoul, kehidupan masih hingar-bingar. Tak memperlihatkan bahwa hari semakin larut. Suasana di dalam begitu kontras dengan keadaan di luar yang sunyi. Lantai disko dipenuhi dengan pria dan wanita yang beraksi dengan berbagai gaya, bercampur baur, melepaskan segala penat yang seharian tadi menghimpit. Di sudut ruangan, meja-meja dipenuhi gelak tawa, curhatan, senda gurau, bahkan ada juga transaksi bisnis. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Tak terpengaruh dengan orang lain.

Di salah satu meja, laki-laki berusia sekitar 27 tahun itu begitu menikmati kesendiriannya. Hanya ditemani minuman ringan, dan rokok. Seolah-olah memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depannya, padahal pikirannya sedang tak berada di tempat itu. Ia pun tak menyadari temannya yang baru saja dari lantai disko, menghampirinya.

“Hello… my men!!! Tumben sendirian? Tidak turun?” sang pemuda disko meneguk minuman di meja tanpa dipersilahkan.

“Malas!” pemuda yang ditanya mematikan rokoknya. Acuh tak acuh.

“So, what are you doing here?”

“Sudahlah Lee Ki Kwang… aku sedang malas… sedang tidak mood.”

“Com’on. Apa kau punya problem? Dengan gadis yang mana lagi?”

Si pemuda disko yang di panggil Lee Ki Kwang, mengeluarkan sebatang rokok. Setelah menyulut rokoknya, ia kembali berbicara.

“Kenalkanlah teman-teman wanitamu itu, padaku. Tak satu pun aku pernah berkencan dengan mereka.” Kata Lee Ki Kwang santai.

“Aku tidak jalan dengan siapa pun sekarang.”

“Gadis yang bernama Im Yoona yang baru minggu lalu kau ajak kemari? Sudah kau campakan lagi? Kim Bum… Kim Bum…you're the true playboy.”

Pemuda yang bernama Kim Bum enggan menanggapi. Mereka terdiam beberapa saat. Suara DJ terdengar meneriakan kata-kata sambutan untuk musik terbaru yang diputarnya.

“Sampai kapan kau akan berpetualang? Apa tidak kepikiran untuk serius menjalani hubungan?” Lee Ki Kwang serius.

“Untuk apa serius? Aku tidak pernah mengikat hubungan dengan gadis-gadis itu. Tidak ada yang spesial. Just friends. Jadi... dengan begitu tidak ada yang merasa dikecewakan.”

“Kau memberi mereka harapan, Kim Bum. Sadar tidak? Membuai mereka dengan rayuan-rayuanmu. Apa kau yakin tidak ada yang sakit hati?”

“Kau ceramahi aku?” Kim Bum mencibir.

“Tidak! Hanya mau menyadarkanmu…”

Lee Ki Kwang berdiri dan kembali ke lantai disko. Tak menghiraukan Kim Bum yang mungkin akan tersindir dengan kata-katanya barusan. Namun Kim Bum hanya memandangi kepergian temannya itu dan tak berkomentar apa-apa.

Pikiran Kim Bum kembali menerawang.

Mungkin apa yang baru dikatakan Lee Ki Kwang ada benarnya. Dia yang membuka peluang untuk gadis-gadis TTM-nya. Walaupun kadang gadis-gadis itu yang lebih dahulu mendekatinya. Gadis mana yang tidak suka pada Kim Bum, seorang eksekutif muda, tampan, smart, kaya.

Kim Bum bisa membuat nyaman setiap wanita yang ada di dekatnya. Suatu kelebihan yang jarang ada. Itulah sebabnya, walau Kim Bum sudah menjauh, tetap saja gadis-gadis itu memburunya.

Ah, tapi bukan hanya perkataan Lee Ki Kwang barusan yang membuatnya merenung sendirian malam ini. Kim Bum sebenarnya tidak pernah peduli dengan perasaan gadis-gadis yang mengejarnya. Bagi Kim Bum, mereka sekedar untuk fun dan agar tidak dibilang gay atau tidak laku. Yang dipikirkannya saat ini adalah kata-kata sang ayah pagi tadi. Percakapan itu kembali terngiang.

“Kemarin, gadis yang bernama Im Yoona datang lagi.” Begitu Ayahnya memulai.

“Biarkan saja, Yah. Lama-lama dia juga capek sendiri.” Kim Bum meraih selai coklat, dan mulai mengolesi rotinya.

“Ayah sudah semakin tua, Kim Bum. Hanya kau anak ayah satu-satunya. Ayah tidak mau keturunan ayah terhenti sampai di dirimu saja.”

“Maksud Ayah?”

“Kapan kau akan benar-benar serius dengan teman wanita-wanitamu itu. Apa tidak kepikiran dalam hatimu untuk menikah dengan mereka?”

Kim Bum terdiam sesaat.

“Menikah harus dengan wanita yang tepat, Yah. Aku rasa wanita-wanita yang dekat denganku selama ini, bukan wanita yang tepat dijadikan istri.”

“Kalau ayah yang pilih, bagaimana?”

“Maksud ayah? Ayah mau menjodohkanku?”

Mereka berpandangan lagi.

“Sudah sejak lama ayah ingin membicarakan hal ini padamu. Dan ayah rasa ini waktu yang tepat. Ayah ingin menjodohkanmu dengan anak teman lama ayah. Dia dari keluarga baik-baik. Ayah rasa dia gadis yang tepat untuk mendampingimu.”

Kim Bum tersenyum.

“Ayah… ayah… di zaman internet seperti ini, masih setia dengan yang namannya pejodohan?? Apa kata dunia?” Kim Bum mencoba bercanda. Namun ayahnya tak terpengaruh. Dia tetap berbicara serius.

“Ayah harap kau serius mempertimbangkan ini semua. Karena tidak ada alasan bagimu untuk menolak.”

Kim Bum kembali menyeringai lucu.

“Well, kalau Aku sudah setuju, lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa dia mau denganku? Dia mau menerima perjodohan ini?”

“Dia pasti setuju. Dia anak yang baik. Tentu dia tidak akan menentang orang tuanya. Perjodohan kalian telah lama diatur.”

“Waow…” Kim Bum masih bercanda. “Benar-benar sebuah kisah dalam drama.”

“Terserah kau mau berkomentar apa. Minggu ini kau akan bertemu dengan gadis itu. Namanya Kim So Eun.”

Sang ayah beranjak.

Kim Bum masih berusaha terlihat santai. Tapi ketika tubuh ayahnya hilang di balik pintu, Kim Bum terlihat tak bernafsu meneruskan sarapannya.

“Kim So Eun? Who?”

* * *

“Kim So Eun… Kim So Eun…!”

Seruan itu menghentikan langkah seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari gedung berlantai tiga, kantor sebuah perusahaan periklanan ternama. Sang gadis tersenyum memandangi pria itu, yang sekarang mendekat ke arahnya.

“Kim Hyun Joong Oppa, kenapa tidak bilang kalau mau menjemput?” ujar Kim So Eun.

“Sengaja. Biar surprise. Ayo Jalan!”

“Boleh. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Tentang apa?” selidik Kim Hyun Joong.

“Nanti saja. Kalau kita sudah menemukan tempat makan yang enak. Aku lapar…”

Kim Hyun Joong enggan mendesak.

Mereka pun beriringan menuju parkiran tempat motor Kim Hyun Joong.

Tak terlalu lama untuk menemukan tempat makan yang cocok untuk mereka berdua. Pilihan kali ini jatuh pada warung tenda yang banyak berdiri di pinggir jalan sepanjang sore dan malam hari. Kim So Eun dan Kim Hyun Joong memilih tempat yang menyediakan menu Nasi Goreng. Itu makanan favorit mereka berdua.

“Kau mau bicara apa?”

Kim Hyun Joong tak sabar untuk mendengarkan Kim So Eun, sembari menunggu pesanan mereka datang.

Kim So Eun terlihat ragu-ragu untuk berbicara. Ia Nampak bimbang. Kim Hyun Joong makin penasaran.

“Masalah apa? Hubungan kita?” Kim Hyun Joong pun mencoba menebak

“Aku…. Aku bingung Oppa. Mau mulai dari mana?”

Kim So Eun semakin terlihat resah.

Kim Hyun Joong pun tak mendesak lagi.

Pesanan mereka tiba. Namun belum ada yang berniat memulai menyantap.

“Aku… aku… aku dijodohkan, Oppa.” Keberanian Kim So Eun akhirnya muncul.

Toh ia tak berani melihat reaksi wajah Kim Hyun Joong. Ia hanya menunduk.

Setelah beberapa saat tak ada tanggapan dari Kim Hyun Joong, barulah ia memberanikan diri menatap ke arah Kim Hyun Joong.

Kim Hyun Joong berpaling, seolah sibuk memandangi pintu masuk, tempat orang berlalu lalang. Bukannya tak mendengar, ia bahkan mendengar dengan jelas semuanya. Tapi tak tahu, harus berkata apa. Apakah marah, sedih, atau kecewa? Bingung. Semua bercampur aduk dalam hatinya. Ada perasaan ingin menangis juga, ingin mengamuk juga, namun sekuatnya ditahan. Ia tak ingin menambah beban Kim So Eun dengan sifat cengengnya yang penuh emosi.

“Maafkan aku, Oppa! Aku sudah berusaha untuk meyakinkan kedua orangtuaku, kalau kau adalah orang yang tepat. Tapi tampaknya sia-sia.”

Kim So Eun menahan tangisnya. Matanya telah berkaca-kaca.

“Aku tidak menyangka, akhirnya hubungan kita yang hampir tiga tahun akan berakhir seperti ini. Aku sayang padamu, Oppa.”

Kim So Eun mengusap air mata yang mulai menetes di pipi indahnya.

Kim Hyun Joong akhirnya buka suara.

“Aku juga sayang padamu, Kim So Eun. Ah, lagipula... kau belum pasti akan jadi menikah dengannya, kan? Siapa tahu pria itu tidak suka padamu.” Kim Hyun Joong mencoba menghibur, bukan hanya untuk Kim So Eun, tapi lebih untuk dirinya sendiri.

“Entahlah, Oppa. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa menolak semua ini. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Ini demi orang tuaku.”

“Sudahlah jangan menangis….”

Kim Hyun Joong meraih tangan Kim So Eun. Berusaha menenangkan. “Kau ikuti saja dulu permintaan mereka. Kita tidak bisa menebak masa depan, kan? Siapa tahu walaupun dijodohkan orang tua, tapi ternyata bukan jodoh?”

“Kau tidak takut?”

“Aku percaya pada cintamu.”

“Terima Kasih, Oppa.” Kim So Eun menyeka air matanya.

Bersambung...

Sabtu, 02 Juli 2011

Pura-Pura Cinta (FF)



Title : Pura-Pura Cinta
Genre : Romance, Friendship
Author : Sweety Qliquers
Episode : 8 Chapter
Story :
Kisah cinta antara Jung So Min, Kim Bum, dan Kim So Eun. Jung So Min semula mengajar-ngejar Kim Bum hanya untuk menuntut balas atas kematian adiknya yang mati bunuh diri karena kecewa diputuskan Kim Bum. Ketika Jung So Min berhasil mendapatkan Kim Bum, dia membuat Kim Bum benar-benar mencintainya dan kemudian meninggalkan Kim Bum. Namun kemudian Jung So Min sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan. Ketika ia melukai Kim Bum, justru ada orang lain yang akan ikut terluka yaitu temannya Kim So Eun. Karena Diam-diam Kim So Eun telah sejak lama mencintai Kim Bum. Karena itu Jung So Min mau memaafkan Kim Bum, namun, ia tidak mau lagi menjadi pacar Kim Bum, walaupun Kim Bum masih mencintainya.

Kim Bum tidak menyerah begitu saja untuk mendapatkan cinta Jung So Min kembali. Ia pun mengadakan sandiwara dengan Kim So Eun agar pura-pura berpacaran, supaya Jung So Min cemburu. Namun gagal. Jung So Min benar-benar tidak mau lagi mencintai Kim Bum. Justru yang ada Kim So Eun makin menderita. Hingga akhirnya Kim Bum merenungkan benar, siapa sebenarnya yang dia cintai?
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 01 Juli 2011, 10.52 AM
Cast :
Jung So Min
Kim So Eun
Kim Bum

Extended Cast :
Park Shin Hye
Baek Suzy (Miss A)
Im Yoona (SNSD)


Pura-Pura Cinta

Chapter 1 - Musibah Dan Dendam Itu
Chapter 2 - Siasat Cinta
Chapter 3 - Suatu Keputusan
Chapter 4 - Di Balik Dendam
Chapter 5 - Rasa Cinta Itu Ada
Chapter 6 - Mungkinkah?
Chapter 7 - Begitu Membingungkan
Chapter 8 - Waktu Telah Menjawabnya (Tamat)

Pura-Pura Cinta (Chapter 8-Tamat)



Chapter 8
Waktu Telah Menjawabnya

Kim Bum memasuki halaman rumah Jung So Min dan melihat Jung So Min menunggunya di teras rumah.

Begitu mendapat telepon dari Jung So Min, ia langsung bergegas datang. Dan tidak menghiraukan pesan adiknya yang mengatakan kalau Kim So Eun ingin bertemu dengannya.

“Hai,…sudah lama menunggu!” sapa Kim Bum, langsung duduk di samping Jung So Min.

“Kenapa Kau tega membohongiku?”

Jung So Min tanpa basa-basi langsung ke pokok persoalan.

“A…Aku…”

“Kau tega mempermainkanku dan Kim So Eun. Kenapa harus kau jadikan Kim So Eun pacar pura-puramu? Supaya aku mau kembali padamu? Kau tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Hancur Kim Bum!” Jung So Min memotong.

“Dia tidak menyukaiku…”

“Kau yang tidak mau mencoba! Kau begitu terobsesinya denganku, sampai buta untuk menyadari cintamu sendiri.”

“Tahu apa kau soal cinta? Tahu apa soal perasaanku? Kau pikir mudah untuk mencoba cinta dengan orang lain sementara yang ada di pikiranku hanya dirimu?”

Kim Bum berdiri menjauh dan membelakangi Jung So Min. Kini giliran dia yang mengeluarkan semua unek-uneknya, semua kekesalan hatinya.

“Kau paksa aku untuk membuka hati untuk orang lain, tapi kau tidak pernah membuka hatimu untukku. Ini tidak adil.” Suara Kim Bum sendu....

“Entahlah, Kim Bum!” Jung So Min melunak “ Aku sendiri bingung. Apa yang terjadi di antara kita? Aku berusaha supaya kau dan Kim So Eun bisa saling mencintai, tapi yang terjadi kau tidak berhenti mengejarku. Dan Kim So Eun, berusaha mati-matian menahan sakit hatinya hanya demi melihat kau bahagia. Siapa sebenarnya yang salah dengan semua ini? Aku bingung.”

Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing, berusaha menjawab semua teka-teki lingkaran cinta yang aneh ini. Ada apa sebenarnya dengan hati mereka sendiri? Bahkan jawaban yang dari hati, yang katanya selalu benar, terdengar membingungkan.

Kim Bum merasakan Jung So Min mendekatinya.

“Aku ingin kau kembali pada Kim So Eun lagi, Kim Bum. Sebagai pacar sungguhan. Aku mohon….”

Jung So Min memandang Kim Bum dengan air mata berlinang.

Kim Bum berbalik menatapnya, mencari ketulusan dari kata-kata Jung So Min barusan.

“Aku mohon.…”

Jung So Min mengatupkan kedua tangannya ke dada, benar-benar bersikap memohon. Sangat memohon.

Kim Bum tidak tahan melihat Jung So Min menangis. Dan saat itulah dia melihat sesuatu di mata Jung So Min. Ketulusan.

Kini Kim Bum sadar siapa sebenarnya yang bisa dia cintai.

Jawaban hatinya kini telah pasti. Diraihnya pundak Jung So Min.

Di kejauhan, seseorang berderai air mata melihat kejadian itu. Walaupun tidak benar-benar mendengar apa yang mereka perbincangkan, jelaslah sudah. Hatinya telah merasa kalah.

* * *

Pagi-pagi Kim Bum sudah berada di rumah Kim So Eun.

Dia tidak sabar ingin segera mengatakan kabar bahagia ini.

Dia ingin Kim So Eun secepatnya mengetahui siapa sebenarnya orang yang akan ia cintai. Dan orang itu adalah Kim So Eun....

Sejak melihat ketulusan di mata Jung So Min untuk memintanya mencintai Kim So Eun, di situlah dia sadar. Perasaannya terhadap Jung So Min selama ini hanyalah obsesi kosong belaka. Itu hanyalah sebuah keinginan untuk mengetahui apakah Jung So Min mencintainya atau tidak. Selama ini,... hati Kim Bum dihadapkan untuk memiliki Jung So Min atau membalas cinta Kim So Eun. Jujur, bila dipikirkan benar, dia memiliki perasaan yang sama saat berdua dengan mereka. Rasa rindu yang sama untuk mereka berdua. Dan perasaan itu begitu kuat menderanya ketika berpikir tentang Jung So Min. Ingin sekali dia mengetahui perasaan Jung So Min yang sebenarnya, sampai dirinya tidak menggubris rasa-rasa aneh yang timbul saat dia bersama Kim So Eun.

Dan jelaslah semalam, cinta itu tidak ada untuknya.... Dan anehnya dia justru merasa lega. Seolah terlepaslah semua kebingungan yang mengurungnya. Dan malam itu dia tahu dia mencintai Kim So Eun. Maka dirangkulnya Jung So Min sebagai wujud terima kasihnya. Dan semalam itu pulalah ia menjelaskan semua yang ia rasakan kepada Jung So Min. Dan kini giliran Kim So Eun yang harus tahu.

Sayang,... saat Kim Bum menanyakan keberadaan Kim So Eun, jawaban mengejutkan yang di dapatnya. Kim So Eun telah pergi ke luar kota. Subuh tadi dia sudah berangkat ke bandara. Oh, Tuhan, kenapa lagi cinta itu pergi? Kenapa dirinya tidak pernah memiliki orang-orang yang disayangi? Batin Kim Bum menjerit.

Kim Bum bergegas mengambil kendaraannya, dan melajukan sekencang-kencangnya. Dia masih berharap, pesawat yang membawa Kim So Eun belum berangkat. Ternyata harapannya sia-sia.

Setibanya di bandara, petugas mengatakan kalau pesawat yang berangkat pagi telah berangkat sejam yang lalu. Sepertinya ini terlambat. Sebenarnya tidak akan menyakitkan kalau Kim So Eun hanya sekedar pergi belibur, toh dia bisa menunggu Kim So Eun kembali. Tapi kata orang rumahnya tadi, Kim So Eun pergi untuk seterusnya, alias tidak untuk kembali lagi.

Kim Bum melangkah gontai, dan terduduk lesu di bangku ruang tunggu.

Kini sepertinya cintanya benar-benar hilang. Mengapa selalu seperti ini?

“Tuhan, apakah ini karma untukku?” bisiknya lirih.

Kim Bum terlalu larut dalam kesedihannya, sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.

“Mau berangkat ke mana, Tuan?” ujar orang di sampingnya, seorang gadis.

Kim Bum hanya menggeleng. Tanpa menoleh.

“Menunggu seseorang ya?” tanya gadis itu lagi.

Kim Bum mulai kesal. Ia sedang malas untuk berbicara dengan siapa pun saat ini. Dia ingin sendiri.

“Aku… mm, oh?!! Kim So Eun…!” seru Kim Bum begitu melihat gadis yang mengajaknya bicara dari tadi.

Kim So Eun tersenyum lucu.

“Kau benar-benar Kim So Eun…? Bagaimana bisa? Bukannya…?”

Belum selesai keterkejutannya, dan belum sempat Kim So Eun menjelaskan, terdengar suara tawa tertahan dari deret belakang bangku Kim Bum. Jung So Min dan Baek Suzy. Mereka menutup mulut mereka hingga tawanya tidak terdengar keras. Mengertilah Kim Bum sekarang kalau dia telah dikerjai oleh ketiga gadis ini.

“Dasar! Kalian semua mengerjaiku!” umpat Kim Bum sambil geleng-geleng kepala.

“Maafkan aku, Kim Bum. Ini semua idenya Jung So Min. Semalam dia sudah menceritakan semuanya. Mulanya aku memang berniat akan pergi, tapi Jung So Min bilang… aku akan menyesal kalau jadi berangkat.”

“Bukan hanya kau yang akan menyesal, aku juga.”

“Kau serius?”

“Kalau aku cuma main-main, untuk apa datang ke sini dengan kecepatan 100 km/jam.”

Kim So Eun tersenyum.

“Maaf, aku terlambat menyadari perasaanku yang sebenarnya. Maaf juga sudah membuatmu menderita selama ini. Dan maaf….”

Belum selesai penjelasan Kim Bum, Kim So Eun sudah menempelkan telunjuknya ke bibir Kim Bum. Kim Bum terdiam.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak perlu ada penyesalan. Aku sudah bahagia dengan semua ini. Dan saat ini adalah saat yang paling bahagia. Aku mohon, jangan dirusak dengan penyesalan. Kita mulai dengan kisah yang baru.”

Kim Bum dan Kim So Eun saling berpandangan, menatap ke dalam mata masing-masing, mencoba menyelami hati, dan tak ada lagi kata-kata. Hati saling bicara, dan mereka telah saling mengerti.

“Hei… dilarang ciuman di tempat umum!”

Teriakan Baek Suzy membuat mereka terjaga. Kaget. Beberapa orang pengunjung menoleh ke arah Kim Bum dan Kim So Eun yang saling berpegangan tangan, melihat mereka bertukar senyum penuh arti. Kim Bum dan Kim So Eun salah tingkah. Wajah keduanya memerah.

“Dasar anak kecil…” seru Kim Bum dan mulai mengejar Baek Suzy. Mereka berkejar-kejaran layaknya anak TK. Jung So Min menghampiri Kim So Eun dan memeluknya.

Waktu telah menjawabnya.

Jung So Min pergi secara tiba-tiba.

Begitu wisuda selesai, dia pergi, hanya menitipkan surat untuk Kim Bum dan Kim So Eun. Mereka membacanya berdua.

Dear, pasangan ideal….

Maaf Aku tidak pamitan dengan kalian. SUPRISE! Kalian suka kejutan kan? Giliran Aku yang memberikan kejutan pada kalian, karena kalian sudah membuat kejutan dengan acara pertunangan kalian yang tiba-tiba bulan lalu.

Jangan GR dulu ya.

Aku pergi bukan karena cemburu dengan kalian. Aku dapat beasiswa master di Amerika. (Jangan iri), makanya aku secepatnya berangkat untuk mengurus semua keperluan.

Terima kasih banyak ya, sudah membuat kenangan indah dihidupku selama ini.

Aku tidak akan lupa. Tapi janjilah, jangan lupakan aku juga. Aku pasti merindukan kalian di sini. Tapi it's okay. Mungkin aku akan cari pacar bule, hehehe... Doakan aku ya. Amin.

Kim So Eun, yang akur ya, jaga Kim Bum, kalau-kalau sifat playboy-nya kumat lagi. Dan Kim Bum, ingatkan Kim So Eun untuk rajin makan.

Salam sayang dari gadis tercantik,
JUNG SO MIN

Nb : ingat kalau menikah jangan lupa mengundangku. AWAS KALAU TIDAK!


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Pura-Pura Cinta (Chapter 7)



Chapter 7
Begitu Membingungkan


Banyak spekulasi yang muncul seputar berakhirnya hubungan Jung So Min dan Kim Bum. Ada yang mengatakan kalau yang Kim Bum cintai sejak dulunya adalah Kim So Eun dan sengaja mendekati Jung So Min lebih dahulu sekedar untuk pembuka jalan. Ada yang bilang kalau Jung So Min sengaja merayu Kim Bum, kegenitan, dan akhirnya Kim Bum memilihnya, dan kemudian sadar belakangan kalau yang dicintainya adalah Kim So Eun. Bahkan ada yang mengatakan kalau Kim So Eun selingkuh dengan Kim Bum, membuat Jung So Min akhirnya marah dan memutuskan Kim Bum.

Anehnya hubungan Jung So Min dan Kim So Eun tetap baik-baik saja, juga hubungan Jung So Min dengan Kim Bum. Jadi mana yang benar? Orang-orang tidak tahu, hanya Kim So Eun, Jung So Min dan Kim Bum yang tahu. Dan khususnya Kim Bum dan Kim So Eun yang lebih tahu lagi.

Sudah hampir sebulan lebih pacaran pura-pura antara Kim So Eun dan Kim Bum terjalin, tapi tampaknya belum membuahkan hasil.

Sang target, yaitu Jung So Min, biasa-biasa saja, tidak patah hati atau cemburu.

Justru Kim Bum lah yang dibuat cemburu oleh Jung So Min.

Setiap kali jalan bersama, tentu saja dengan alasan diminta menemani Kim So Eun, Jung So Min selalu membawa teman pria lain. Dia tidak mau jadi obat nyamuk berada sendirian di antara Kim So Eun dan Kim Bum.

“Masak aku hanya melihat kalian berdua pacaran?” begitu alasannya.

Kim Bum benar-benar cemburu. Dan Kim So Eun merasakan itu. Kim So Eun bisa melihat raut wajah cemburu itu setiap kali Jung So Min bersenda gurau dengan teman pria yang dibawanya. Raut wajah tidak suka Kim Bum jelas sekali setiap kali melihat pemuda-pemuda itu menggandeng tangan Jung So Min. Kim So Eun yakin, jika tidak sedang bersandiwara, mungkin Kim Bum sudah menonjok wajah mereka.

Dan Kim So Eun...? Kim So Eun tidak tahu harus berbuat apa.

Di satu sisi dia senang bisa selalu dekat dengan Kim Bum, walaupun selalu ada Jung So Min setiap kali mereka jalan berdua. Di sisi lain, dia kecewa. Semua perasaan Kim Bum yang ingin dimilikinya hanyalah untuk Jung So Min. Rasa cemburu itu, tatapan penuh cinta itu, semua untuk Jung So Min, bukan untuk dirinya.

Lama-lama, Kim So Eun jadi penasaran dengan perasaan Jung So Min yang sesungguhnya. Dia yakin, Jung So Min juga memiliki cinta untuk Kim Bum.

Jujur, dia tidak tahan melihat Kim Bum terus menderita.

Kim So Eun lebih suka melihat Kim Bum berpacaran dengan Jung So Min daripada harus melihat Kim Bum seperti ini. Kim So Eun tidak tahan melihat pemuda yang dicintainya meratap seperti malam ini. Saat mereka bertemu.

“Kita akhiri saja semua ini, Kim So Eun. Jung So Min benar-benar tidak punya perasaan apapun padaku," suara Kim Bum putus asa.

Kim So Eun hanya diam.

“Aku menyerah. Selama ini aku telah salah. Hatiku salah menduga. Jung So Min tidak pernah mencintaiku. Dan bahkan dia tidak pernah mau mencoba. Kenapa? Setiap kali aku benar-benar jatuh cinta, semua meninggalkanku. Im Yoona, Jung So Min. Semuanya pergi begitu saja,... tanpa mau tahu betapa sakitnya aku ditinggalkan,” Kim Bum mengusap sudut matanya dan berbalik menatap Kim So Eun.

“Terima kasih, sudah mau membantuku. Maaf kalau sudah membuatmu menangis malam ini," Kim Bum memandangi Kim So Eun yang menyeka air matanya.

“Kim Bum! Aku,… aku… akan membawa Jung So Min untukmu. Aku janji!”

Hanya itu yang bisa Kim So Eun ucapkan.

Entah mengapa, berat sekali mulutnya ini untuk mengatakan tentang perasaan yang sebenarnya kepada Kim Bum.

“Terima kasih, Kim So Eun. Tapi aku sudah berhenti berharap. Biarlah waktu yang menjawab semuanya….”

“Kim Bum… Kim Bum…”

Kim Bum tak menghiraukan Kim So Eun. Dan tanpa berbalik ia terus berjalan meninggalkannya. Kim Bum tidak mau Kim So Eun melihatnya menangis.

* * *

Jung So Min berlari kecil menghampiri Kim So Eun.

Tadi tiba-tiba saja Kim So Eun menghubunginya dan memintanya datang malam ini juga. Jung So Min takut terjadi sesuatu pada Kim So Eun, karena suara Kim So Eun seperti menangis.

Malam ini... taman kompleks rumah Kim So Eun sepi sunyi. Biasanya banyak remaja yang duduk-duduk di situ.

Jung So Min tidak susah menemukan Kim So Eun yang sedang duduk di kursi taman.

“Kim So Eun….”

Kim So Eun memandangnya dan segera berhambur ke pelukan Jung So Min.

“Kau kenapa, Kim So Eun? Ada apa?”

Kim So Eun masih terus menangis.

Jung So Min membiarkannya saja. Toh Kim So Eun nantinya juga cerita. Dan tidak sampai semenit, Kim So Eun mulai bersuara.

“Jung So Min, aku minta kau jawab jujur! Kau benar-benar tidak punya perasaan apa-apa pada Kim Bum?”

“Kau bicara apa, Kim So Eun? Kim Bum itu kekasihmu.”

“Aku mohon, Jung So Min. Jujur! Apa kau mencintai Kim Bum?”

“Aku…? Aku tidak punya perasaan apapun pada Kim Bum. Sungguh.”

Jung So Min berpikir.

Apakah Kim So Eun mulai stres dan menuduh dia selingkuh dengan Kim Bum?

Mereka berpandangan.

“Kau tahu kan... kalau Kim Bum sayang sekali padamu,” kata Kim So Eun lirih.

“Aku…”

“Kenapa, kau begitu berat untuk menerima cinta Kim Bum kembali? Kau tidak pernah pikir begitu menderitanya dia saat kau tinggalkan?”

“Hei… kau sadar, tidak? Kim Bum itu kekasihmu!”

“Aku tidak pernah benar-benar berpacaran dengannya. Itu semua hanya sandiwara. Dia hanya ingin tahu perasaanmu saja. Dia ingin kau menyadari perasaanmu yang sebenarnya padanya,” Kim So Eun menceritakan rahasianya.

“Oh?! Aku tidak habis pikir… Dan kau mau saja? Mau berpura-pura pacaran dengan orang yang sebenarnya kau cintai? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.”

“Aku hanya ingin dia bahagia. Karena itu, aku mohon, terimalah dia kembali, Jung So Min.”

“Kau sudah gila! Aku tidak punya perasaan apapun dengannya. Berapa kali harus aku jelaskan padamu," Jung So Min mulai gemas dengan kegilaan temannya.

“Aku mohon, Jung So Min! Bantulah aku untuk berhenti berharap memiliki Kim Bum. Bantulah aku untuk menyerah menunggu dia menjadi milikku. Aku mohon! Katakan kau mencintainya dan mau kembali lagi menjadi kekasihnya, agar aku bisa berhenti berharap untuk menunggunya mencintaiku. Aku mohon….”

Air mata Kim So Eun semakin deras.

Jung So Min meraihnya kembali ke dalam pelukannya.

“Aku lelah, Jung So Min. Aku lelah berharap. Aku mohon, bantulah aku.”

Air mata Jung So Min tak kalah derasnya.

Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sendiri bingung dengan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka bertiga? Bagaimana sebenarnya kisah cinta ini? Dia bahkan tidak tahu bentuk perasaannya terhadap Kim Bum. Walaupun dia sedikit terluka saat mendengar Kim Bum dan Kim So Eun berpacaran, itu tidak membuatnya sedih. Bahkan ia bahagia. Kenapa lingkaran cinta ini begitu membingungkan?

Bersambung…

Pura-Pura Cinta (Chapter 6)



Chapter 6
Mungkinkah?

Kim So Eun kaget dengan kedatangan Kim Bum malam ini.

Bertahun-tahun bertetangga, Kim Bum tidak pernah main ke rumahnya. Biasanya mereka hanya sekeder bertegur sapa jika berpapasan di jalan depan kompleks. Itu pun kalau Kim Bum tidak lagi bersama kekasihnya. Entah bintang apa yang jatuh ke rumahnya, hingga Kim Bum datang? Kim So Eun bertanya-tanya.

Walaupun gugup, Kim So Eun ingin terlihat wajar di depan Kim Bum.

“Tumben main ke mari, bagaimana sudah sehat?” tanya Kim So Eun berbasa-basi. Padahal ia tahu Kim Bum sudah seminggu keluar dari rumah sakit.

“Ini buktinya. Sudah bisa berkunjung ke rumahmu. Bagaimana kondisi kampus? Hampir sebulan aku tidak masuk. Kata Ibu, mungkin sebaiknya beberapa hari lagi saja aku mulai ke kampus.”

“Kau anak mami ternyata.…”

Celetukan Kim So Eun membuat mereka tertawa pelan. Dan kemudian hening. Tidak ada yang berbicara. Kim So Eun masih sibuk menata detak jantunganya. Dan Kim Bum... entahlah apa yang dipikirkan pemuda itu… satu detik… dua detik… lima detik… sepuluh detik… lima belas… dua puluh…

“Kim So Eun…” Kim Bum bersuara di detik ke dua puluh keheningan itu. Dia tidak tahan diam-diaman seperti itu. Capek.

Kim So Eun memandang Kim Bum. Mereka bertatapan.

Ternyata pemuda ini lebih tampan kalau dilihat lebih dekat, bisik batin Kim So Eun.

“Aku mau tanya sesuatu, boleh?” tanya Kim Bum.

“Eh… apa? Boleh!” Kim So Eun berusaha menutupi kekaguman hatinya. “Kau mau tanya apa?”

“Benar tidak yang Jung So Min katakan, kalau… selama ini kau suka padaku?”

“APA?” Kim So Eun kaget. Detak jantung yang sudah kembali normal, kini berubah lagi menjadi lokomotif kereta api.

“Aisshh, Dasar Jung So Min, asal bicara saja. Tidak mungkinlah Aku menyukaimu. Itu Bohong. Jangan dengarkan kata-kata Jung So Min padamu.” Entah mengapa saking gugupnya, Kim So Eun mengeluarkan kata-kata yang sangat bertentangan dengan perasaaannya yang sesungguhnya. Dia terlalu gugup, dan parahnya dia jadi berbohong.

“Syukurlah… jadi aku bisa minta bantuanmu.”

Apa? Kim Bum senang dengan ucapan bohongnya? Kim Bum... apa kau tidak bisa melihat mataku kalau saat ini aku berbohong? Benar yang Jung So Min katakan Kim Bum,... aku mencintaimu, Kim Bum, sudah sejak lama, pekik batin Kim So Eun.

“Bantuan? Bantuan apa?” Kim So Eun menyembunyikan rasa kecewanya.

“Bantulah aku, untuk memastikan perasaan Jung So Min yang sebenarnya. Aku ingin tahu,... apakah dia benar-benar cinta padaku atau tidak? Aku tahu saat ini dia sedang bingung tentang perasaannya yang sebenarnya padaku. Makanya aku minta bantuanmu.”

“Caranya…?”

“Kita pura-pura pacaran. Kau mau tidak jadi pacar pura-puraku?”

“APA? Pacar pura-pura?”

Kali ini meskipun Kim So Eun terkejut dan detak jantungnya kembali tak karuan, ia berusaha untuk tidak melakukan tindakan bodoh lagi. “Maaf Kim Bum, aku tidak bisa. Aku tidak tahu apa manfaatnya kalau aku lakukan ini.”

“Aku mohon Kim So Eun, bantulah aku. Aku sangat menyayangi Jung So Min. Aku ingin kembali padanya. Mungkin dengan dia tahu kalau Aku menjadi milik orang lain, dia sadar bahwa dia mencintaiku. Bukankah seseorang akan mengerti tentang perasaannya yang sebenarnya ketika dia telah kehilangan?”

“Tapi kenapa harus aku?” Kim So Eun berusaha menahan sakit hatinya. Dia tidak ingin menangis di depan pemuda itu. Dia berpura-pura menatap vas bunga di meja, mengalihkan pandangan dari Kim Bum.

“Karena,... Jung So Min pikir, kau suka padaku. Dan ini lebih baik daripada aku memilih gadis lain yang pasti akan sakit hati lagi karena tahu aku hanya main-main. Maka aku pilih gadis yang tidak suka denganku, supaya nantinya tidak ada yang kecewa. Aku mohon Kim So Eun, aku mohon, bantulah aku mendapatkan Jung So Min kembali. Aku Mohon….”

Kim So Eun tidak tega menolak Kim Bum, dan kembali melakukan kesalahan bodoh. Dia menggangguk menyanggupi menjadi pacar pura-pura Kim Bum.

Selepas kepergian Kim Bum, Kim So Eun menangis. Menangisi kebodohannya tadi. Menangisi ketidakberdayaannya terhadap perasaannya sendiri. Dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa mencintai Kim Bum, sejak lama, sejak mereka masih sering bermain bersama di taman kompleks. Dulu dia begitu akrab dengan Kim Bum. Bahkan Kim Bum pernah menyelamatkannya saat ia hampir tertabrak mobil. Sejak itu ia menyukai Kim Bum, menyukai senyumnya, tawanya, candanya. Dan rasa ini tidak pernah hilang walaupun Kim Bum tidak pernah lagi berteman dengannya sejak SMA, walaupun kuliah di tempat yang sama. Kim Bum memang tampan, tidak heran banyak gadis yang menyukainya. Dan Kim So Eun harus pasrah karena bukan dia yang dipilih menjadi kekasihnya, namun itu semua tidak membuat Kim So Eun berhenti untuk mencintai Kim Bum.

Perasaan itu semakin tumbuh, tidak tahu kenapa. Senyum Kim Bum padanya serasa mampu membuatnya melayang. Detak jantungnya serasa berhenti. Dan itu sudah cukup membuat Kim So Eun bahagia. Dan... ketika kekasihnya meninggal, ia kembali berharap kalau Kim Bum akan mau kembali berteman dengannya. Tapi tebakan Kim So Eun meleset.

Kim Bum tidak pernah kembali padanya. Bahkan ia berubah menjadi playboy. Dan bahkan Kim So Eun pun tidak masuk sebagai daftar mantan kekasihnya. Sampai akhirnya Kim Bum pacaran dengan Jung So Min.

Itu kesempatannya... perlahan hubungan mereka kembali dekat. Kim Bum tahu Kim So Eun teman dekat Jung So Min. Dan kini... ketika harapan untuk menjadi kekasih Kim Bum kembali muncul... bahkan lebih besar dari semua harapan yang pernah ia rasakan sebelumnya... Kim Bum datang dan menawarkannya sendiri, menjadi pacar Kim Bum, tapi pacar pura-pura.

Betapa pahitnya. Lebih sakit daripada mencintai Kim Bum diam-diam.

“Sebenarnya perasaanmu pada Kim Bum bagaimana?” tanya Kim So Eun pada Jung So Min ketika Jung So Min berkunjung ke rumahnya.

“Maksudmu?”

“Kau masih mencintainya?” tanya Kim So Eun lagi.

“Tidak. Aku tidak pernah mencintainya.”

“Selama kalian pacaran, apa tidak pernah sedikit pun kau merasa mencintai dia?”

“Hatiku dipenuhi rasa benci. Jadi aku tidak pernah berpikir tentang cinta....”

“Sedikit pun tidak pernah?”

“Tidak.” Jung So Min menggeleng tegas. “Kenapa kau mengintrogasiku seperti itu?” Jung So Min menggoda Kim So Eun.

“Aku,… aku.…”

“Kau menyukai Kim Bum, kan? Sudahlah Kim So Eun, jangan berbohong lagi padaku!”

“Apa-apaan kau ini, Jung So Min?” Kim So Eun tidak bisa menyembunyikan semu merah di wajahnya.

Jung So Min makin gencar menggodanya.

“Kenapa kau tidak menyatakan cintamu saja padanya? Sebelum dia berubah ke habitat aslinya menjadi playboy.”

“Kita sudah pacaran.”

“Apa? Kapan? Kenapa kau tidak pernah cerita? Kim Bum juga tidak memberitahu-ku kalau kalian sudah berpacaran....”

Kim So Eun memperhatikan tingkah Jung So Min. Apakah ada gurat cemburu di wajah itu? Tapi tampak semuanya wajar. Jung So Min biasa-biasa aja.

"Maaf... kata Kim Bum ini surprise.”

“Aissh… kau ini! Tapi selamat ya. Akhirnya sahabatku yang satu ini berhasil juga mendapatkan cintanya." Jung So Min memeluk Kim So Eun. Sengaja. Agar Kim So Eun tidak melihatnya menyeka ujung-ujung matanya.

Bersambung…

Pura-Pura Cinta (Chapter 5)



Chapter 5
Rasa Cinta Itu Ada

Persahabatan itu menimbulkan rasa saling pengertian....

Jung So Min lama-lama tahu juga bahwa Kim So Eun sebenarnya menyukai Kim Bum.

Di sisi lain, Kim So Eun lama-lama bisa memahami juga apa yang dirasakan Park Shin Hye. Kim So Eun juga merasakan hal yang sama. Mungkin dia sedikit lebih dewasa dalam menyikapi semua itu. Dan Park Shin Hye masih agak sedikit emosional.

Jung So Min terus saja merenungkan serangkaian kejadian dan dialog-dialog itu. Kemarahan itu masih ada, namun dia menyayangi sahabatnya, Kim So Eun. Karena itu Jung So Min tidak mau Kim Bum harus mati, demi Kim So Eun....

Jadi haruskah Jung So Min memaafkan Kim Bum?

Pintu kamar Jung So Min terbuka lagi.

Kali ini Ibunya yang masuk membawa makan malam untuknya.

“Kau… sudah tidur? Kau belum makan malam, kan? Ayo bangun…” ujar sang Ibu saat dilihatnya Jung So Min berbaring di tempat tidur.

Jung So Min bangkit. Ia langsung memeluk sang Ibu sambil menangis.

Ibunya tampak tidak terkejut. Ia membawa Jung So Min duduk di tepi ranjang.

“Ibu sudah tahu semuanya. Tadi Ibu dengar waktu Ibu mau mengajak kalian makan malam.”

Hening untuk beberapa lama. Hanya ada suara isakan Jung So Min.

“Aku… Aku…tidak tahu lagi, Bu! Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak tahu.” Jung So Min masih menangis dalam pelukan Ibunya.

“Yang dikatakan Kim So Eun itu benar. Park Shin Hye tidak mungkin bisa hidup lagi."

"Itu menyedihkan...."

"Park Shin Hye sudah tenang di sana, walaupun membawa luka dan kekecewaan. Kesalahan Park Shin Hye hanyalah merasa bahwa di dunia ini hanya dia sendiri. Sehingga tidak mau berbagi cerita tentang masalahnya dengan orang lain. Ibu dan Ayah sudah mengikhlaskan kepergiaannya.... Ibu harap begitu juga denganmu.”

Jung So Min melepaskan pelukan dari sang Ibu.

Sang Ibu membelai rambutnya.

“...Tapi Aku tidak tahu, Bu, kenapa aku begitu membenci pemuda itu? Padahal Park Shin Hye,… Park Shin Hye bahkan tidak pernah membencinya…. Aku benar-benar tidak mengerti....”

Ibunya tersenyum.

“Mungkin kau iri dengan pemuda itu, karena ia mendapat cinta yang begitu besar dari adikmu. Hingga tidak ada lagi cinta Park Shin Hye untukmu, Ibu, dan Ayah. Kau membalas dendam sebenarnya hanya untuk dirimu sendiri. Bukan untuk Park Shin Hye.”

Jung So Min berpikir. Mereka berpandangan beberapa lama.

“Jadi Aku harus bagaimana, Bu?”

“Kau sudah cukup dewasa untuk menentukan tindakanmu sendiri. Kau sudah bisa membedakan mana yang baik untukmu dan orang lain.”

Jung So Min memikirkan kata-kata sang Ibu.

Kim Bum terbaring lemah di rumah sakit.

Keadaannya sudah agak membaik.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.

Jung So Min datang menjenguknya.

Kim Bum kaget. Entah apa yang akan Jung So Min lakukan padanya kali ini. Oh,... tapi tunggu! Jung So Min tersenyum.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Jung So Min

“Aku… aku… sudah baikan. Kata dokter tinggal istrahat beberapa hari lagi.” jawab Kim Bum gugup.

“Aku datang ke sini cuma mau minta maaf. Aku sudah membuatmu seperti ini. Aku begitu kehilangan Park Shin Hye, hingga nekat berbuat apa saja, termasuk menyakitimu. Maafkan aku, Kim Bum!”

Kim Bum tidak menyangka Jung So Min akan berkata seperti itu, tapi ia senang sekali. Senyumnya mengembang.

“Kau tidak salah. Aku mengerti. Mungkin, Aku juga akan sepertimu kalau Park Shin Hye itu adikku. Aku yang seharusnya minta maaf, bukan kau. Aku juga harus minta maaf pada keluargamu, termasuk adikmu, tapi.…”

“Ya sudah. Kita sudah saling memaafkan. Aku pulang dulu.”

“Jung So Min…” Kim Bum menahan tangan Jung So Min.

Jung So Min urung pergi.

“Jung So Min,… aku masih mencintaimu. Tidak bisakah kau memberi kesempatan lagi seperti dulu?”

“Entahlah, Kim Bum. Walaupun aku sudah bisa memaafkanmu, sejujurnya,... aku tidak bisa melupakan semua yang terjadi pada Park Shin Hye. Kalau pun kita bersama, aku tidak yakin bisa mencintaimu dengan tulus.”

“Kau masih mau membalas dendam?”

“Tidak. Bukan begitu. Aku tidak bisa. Tidak tahu kenapa. Biarlah waktu yang menjawab nantinya. Tapi aku punya seseorang yang bisa aku rekomendasikan untukmu, kalau kau tidak tahan sendiri....”

“Memangnya ada yang masih mau dengan playboy patah hati sepertiku ini?”

Kim Bum tertawa kecil.

“Kim So Eun,” ujar Jung So Min. ”Berilah dia kesempatan untuk mendapatkan tempat di hatimu. Sudah begitu lama dia memendam perasaannya padamu, bisa kan? Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa kan?”

“Kenapa dia dan aku yang harus mencoba? Kenapa kau juga tidak mencobanya? Kau dan aku? Kau bisa kan?” balas Kim Bum.

“Tidak. Aku tidak mau. Aku mohon, jangan paksa aku,” tolak Jung So Min.

“Kalau begitu, seperti yang kau katakan tadi, biar waktu yang menjawab semuanya. Dan Aku berharap waktu nantinya berpihak pada kita."

Kim Bum dan Jung So Min saling pandang sambil tersenyum.

Pintu terbuka, ternyata Kim So Eun dan Baek Suzy yang datang. Mereka kaget melihat Jung So Min. Jung So Min berdiri dan menghampirnya.

“Aku… aku datang ke sini diajak Baek Suzy,” ujar Kim So Eun tergagap. Padahal ia biasanya selalu lancar berbicara.

Tiba-tiba Jung So Min memeluknya.

Kim So Eun kaget.

“Aku minta maaf padamu. Aku tidak pernah mengerti perasaanmu. Terima kasih karena sudah menjadi sahabatku. Aku bangga pernah mengenalmu. Maafkan aku, Kim So Eun?”

“Oh. Kau tidak punya salah padaku Jung So Min. Aku juga bangga bisa jadi sahabatmu. Semoga kita bisa bersahabat selamanya....”

Setelah acara pelukan selesai, mereka mengelilingi ranjang Kim Bum. Mereka kembali akrab seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Jung So Min terus menggoda Kim So Eun yang nampak gugup jika Kim Bum berbicara kepadanya.

Entahlah,… hanya waktu yang nantinya bisa memberikan jawaban pasti, tentang cinta mereka.

Bersambung…

Pura-Pura Cinta (Chapter 4)



Chapter 4
Di Balik Dendam


Kim Bum berjalan tergesa-gesa di koridor kampus. Wajahnya tampak serius. Tidak dihiraukan sapaan orang-orang. Ia terus berjalan hingga tiba di ruang yang dituju. Di dalamnya ada Jung So Min. Juga Kim So Eun. Mereka sedang asyik bercerita. Ketika Kim Bum masuk mereka berdua melihat ke arahnya.

“Aku ingin bicara!” Kim Bum berkata serius seraya menarik Jung So Min keluar.

“Apa-apaan ini?! Apa maumu?” Jung So Min berusaha melepaskan pegangan tangan Kim Bum, tapi tak bisa.

Genggaman Kim Bum begitu kencang.

Jung So Min akhirnya menurut. Kalaupun ia meronta-ronta, untuk melepaskan diri tidak akan bisa. Apalagi saat ini mereka telah berjalan di koridor. Jung So Min tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang.

Kim Bum membawa Jung So Min ke mobilnya. Dihempaskan Jung So Min di bangku depan.

Kim Bum pun segera masuk kedalam mobil. Belum hilang kagetnya Jung So Min, Kim Bum telah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jung So Min harus berpegang erat-erat di jok mobil karena tidak menngunakan sabuk pengaman. Kemana arah yang akan dituju Kim Bum? Tak ada yang bersuara. Mereka saling diam.

Kim Bum menghentikan mobilnya ketika mereka tiba di jalanan sunyi. Hanya ada satu atau dua buah mobil yang berlalu lalang.

“Apa-apaan kau ini? Kau bisa membuat kita mati.”

Itulah kalimat pertama yang dikeluarkan Jung So Min ketika Kim Bum sudah menepikan mobilnya. Jantung Jung So Min masih berdetak kencang. Tubuhnya masih gemetaran.

“Kau jawab dengan jujur! Kau mencintaiku atau tidak?”

Wajah Kim Bum tak memandang Jung So Min.

“Rupanya semalam belum jelas juga. Aku tidak pernah mencintaimu! Aku membencimu!” Jung So Min berangsur-angsur bisa mengatur nafasnya.

“Aku kan sudah mengatakannya padamu, kalau aku akan minta maaf. Aku benar-benar khilaf. Aku menyesal. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini…. Aku benar-benar tidak menyangka Park Shin Hye senekat itu.”

“Semua sudah terlambat. Termasuk permintaan maafmu itu.”

Jung So Min keluar dari mobil. Kim Bum juga, ia menahan Jung So Min yang akan pergi.

“Jung So Min,… kenapa sebegitu bencinya kau padaku? Itu semua sudah terjadi… sudah menjadi masa lalu….”

“Masa lalu…?! Masa lalu kau bilang? Bagiku, itu bukan masa lalu yang dilupakan begitu saja. Itu masa lalu yang membuatku dihantui rasa bersalah selamanya. Rasa bersalah karena tidak mampu menjaga orang yang aku sayangi dari pemuda brengsek sepertimu.”

Suara Jung So Min meninggi, matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak tahu kalau Park Shin Hye begitu mencintaiku. Aku juga tidak tahu kalau dia begitu sakit hati. Aku mohon Jung So Min,… lupakan semua dendammu itu. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku janji…. Apa kau tidak merasakan perasaanku saat ini? Aku….”

“Perasaan….?” Jung So Min memotong. “Kau juga punya perasaan?! Tapi dimana perasaanmu ketika adikku memohon dan mengiba-iba kepadamu agar jangan memutuskan hubungan kalian?! Agar kau mau mencintai dia lagi. Dimana…?!”

“Aku tidak sekejam itu…” seru Kim Bum tak kalah kerasnya.

“Oh ya? Ketika malam itu kau janji akan bertemu adikku. Malam itu hujan lebat. Adikku dengan setia menunggu walau hujan lebat. Walau ia sudah basah kuyup. Tapi kau…? Kau tidak datang. Padahal kau sudah janji untuk datang dan memulai kembali hubungan kalian. Apa itu tidak kejam?”

Kim Bum hanya menunduk, tidak berani menatap Jung So Min.

“Kalau aku mau, Aku bisa saja membunuhmu atau apa. Tapi tidak. Aku ingin kau juga merasakan betapa sakitnya kalau orang yang kau cintai mengkhianatimu. Aku ingin kau menderita!”

Jung So Min hendak pergi.

“Jadi kau puas sekarang?” ujar Kim Bum.

Mereka saling membelakangi.

Kim Bum berkata tanpa menoleh ke arah Jung So Min.

“Sangat puas…” balas Jung So Min tanpa berbalik pula.

Jung So Min memberhentikan taksi.

Kim Bum masih berdiri kaku tak bergerak. Beberapa saat setelah Jung So Min menghilang, ia masuk ke mobil dan kembali mengendarainya dengan kencang.

* * *

Hubungan Jung So Min dan Kim Bum sudah berakhir hampir sebulan....

Kim So Eun sudah tahu hal itu.

Lalu Kim So Eun jadi sering menasehati Jung So Min agar mau kembali bersama Kim Bum. Nasehat yang tidak mempan. Putus tetap putus.

Semenjak putus dengan Jung So Min, Kim Bum berubah 360 derajat, malas kuliah, terus merokok, kadang mabuk-mabukan, dan emosional.

"Jung So Min... sekarang Kim Bum jadi sering mabuk-mabukan," bujuk Kim So Eun.

"Sering apa, hanya sekali kemarin itu saja," kata Jung So Min cuek.

"Dua kali!" ralat Kim So Eun.

“Sekali, dua kali, apa bedanya..." kata Jung So Min.

"Kenapa kau cuek saja dengan keadaan Kim Bum?"

"Ya. Aku tidak mau ambil pusing." jawab Jung So Min.

"Dia berubah seperti itu gara-gara dirmu, tahu kan?" Kim So Eun kesal.

Jung So Min tidak peduli. Bahkan ketika Baek Suzy, adik Kim Bum, datang untuk memberi kabar bahwa Kim Bum mengalami kecelakaan, Jung So Min sama sekali tidak mau tahu.

“Aku mau bicara denganmu, Eonni!”

Akhirnya Baek Suzy tanpa basa-basi lagi mendatangi Jung So Min.

Jung So Min hanya memandanginya sekilas, kemudian melanjutkan menyalin tugas Kim So Eun. Kim So Eun sedang ke perpustakaan.

“Ada perlu apa?” tanya Jung So Min tanpa menghentikan kegiatannya.

“Kim Bum Oppa kecelakaan, sekarang dia ada di Rumah sakit.”

“Apa hubungannya denganku? Kita sudah putus.”

“Eonni, Kenapa Kau begitu membenci Kim Bum Oppa? Kau benar-benar tega ya melakukan ini semua pada orang yang sayang padamu.” desis Baek Suzy.

“Kau pasti sudah tahu. Jadi tidak perlu dijelaskan lagi."

“...Tapi peristiwa itu sudah lama berlalu. Kim Bum Oppa juga sudah menyesali itu semua. Kim Bum Oppa tidak pernah menyangka... kalau adikmu itu begitu mencintai Kim Bum Oppa.”

Jung So Min menghentikan kerjanya, dan memandang Baek Suzy dengan wajah marah.

“Oh jadi dia tidak tahu? Kalau begitu sama.… Aku juga tidak tahu, kalau dia begitu mencintaiku.” balas Jung So Min.

“Mengapa kau jadi jahat seperti ini, Eonni…? Tidak punya hatikah kau…?”

Jung So Min tersenyum dingin.

“Kau sadar, tidak? Kakakmu baru terluka begitu saja,... kau sudah memaki-maki aku. Bagaimana kalau kakakmu mati seperti adikku? Kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku sekarang ini, iya kan? Atau mungkin kau langsung membunuhku atau apa.”

Jung So Min berlalu meninggalkan Baek Suzy.

Baek Suzy diam saja, tidak mencegahnya.

Lalu Kim So Eun masuk, dia celingukan, tidak menemukan Jung So Min. Dia hanya melihat Baek Suzy yang menangis di salah satu meja di sudut. Kim So Eun menghampiri, Baek Suzy kemudian menceritakan semua.

Malam ini Jung So Min sibuk sekali.

Banyak tugas yang belum ia selesaikan.

Jung So Min sibuk di depan komputer, menekan tombol-tombol keyboard, ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.

Kim So Eun yang datang.

“Hey…! Maaf tadi aku tidak menunggumu. Soalnya aku teringat kalau ada janji dengan Ibu mau mengantarnya ke rumah Bibiku, jadi….”

“Aku sudah tahu semua. Tidak usah bohong lagi.” potong Kim So Eun yang segera duduk di samping Jung So Min.

Kerja Jung So Min terhenti, kini dia berbalik memandang Kim So Eun.

“Maksudmu? Aku tidak…”

“Baek Suzy sudah menceritakan semuanya. Tentang Kim Bum. Tentang adikmu. Dan kejadian di kampus tadi. Aku sudah tahu semuanya.”

Jung So Min tidak mengomentarinya. Ia kembali sibuk dengan komputernya.

“Aku tidak menyangka kau bisa seperti ini, Jung So Min.… Tega sekali.”

Jung So Min belum bersuara. Ia diam saja.

“Kalau dari dulu aku tahu kau hanya mau membalas dendam, tentu aku tidak akan membiarkanmu mendekati Kim Bum. Aku…"

“Kau ini kenapa? Kenapa ikut campur urusanku?”

Jung So Min memotong penjelasan Kim So Eun.

“Bukannya aku mau ikut campur. Tapi kau sahabatku. Sudah seharusnya sahabat saling mengingatkan. Lagipula, apa kau tidak kasihan dengan keadaan Kim Bum sekarang? Sudah cukup pembalasan dendammu itu.”

“Oh, kenapa kau jadi membela pemuda brengsek itu? Dia itu tidak perlu dikasihani. Hmmm, aku jadi curiga,... jangan-jangan kau suka padanya?”

Jung So Min menatap curiga.

Kali ini Kim So Eun yang terdiam beberapa lama. Wajahnya merah.

“Ini bukan tentang perasaan. Siapa pun yang melihat sikapmu seperti ini, pasti akan tidak suka, apalagi aku, orang yang dekat sekali denganmu, dan tahu siapa kau sebenarnya.”

“Tapi bukan berati kau harus berpihak pada dia. Dan menyalahkanku, seolah aku yang menjadi penyebab semua ini. Padahal semua itu salahnya.”

“Semua itu sudah terjadi, Jung So Min. Apa setelah kau melakukan semua ini, membalaskan sakit hati adikmu, dia bisa hidup kembali?”

“Sudahlah, Kim So Eun. Kau tidak merasakan bagaimana menderitanya adikku karena pemuda itu. Lagipula, dia bukan adikmu, jadi kau…”

Jung So Min menghentikan penjelasanya. Ia berdiri, menuju ke arah lemari pakaian. Dibukanya salah satu laci lemari itu. Jung So Min mengambil sesuatu. Buku diary berwarna pink. Ia kemudian menghampiri Kim So Eun dan menyodorkan diary itu.

“Ini. Kau baca diary adiku ini supaya kau bisa merasakan bagaimana menderitanya dia karena si Kim Bum brengsek itu.” Nada bicara Jung So Min semakin tinggi.

Kim So Eun meraih buku itu dan mulai membacanya. Dan tidak sampai tiga menit ia sudah menutup kembali buku itu.

“Aku tidak perlu membaca seluruhnya untuk tahu bahwa adikmu tidak pernah membenci Kim Bum, seperti yang kau lakukan saat ini.”

Jung So Min tersentak.

Benar apa yang Kim So Eun katakan. Adiknya tidak pernah membenci Kim Bum. Park Shin Hye tidak menulis satu kata pun bahwa ia membenci pemuda itu. tapi…

“Tapi Park Shin Hye sakit hati, Kim So Eun. Dia sakit hati karena pemuda itu,“ suara Jung So Min parau.

“Jung So Min…” Kim So Eun menghampiri Jung So Min dan duduk lebih dekat lagi di tepi ranjang. “Park Shin Hye sakit hati bukan karena Kim Bum yang tidak mencintainya, tapi ia sakit hati karena cintanya yang terlalu besar terhadap Kim Bum.”

“Apapun itu, tapi…dia bunuh diri karena tidak mampu menanggung rasa kecewa dan sakit hatinya disebabkan oleh pemuda sialan itu.”

Jung So Min terus saja memaki Kim Bum.

“Park Shin Hye masih terlalu naïf untuk memahami arti cinta. Bagi dia cinta harus memiliki. Dia ingin ada timbal balik dari pengorbanannya selama itu bersama Kim Bum. Tapi kemudian dia sadar kalau cinta itu tak akan terbalas, jadi dia lebih memilih tak ingin menodai cintanya kepada Kim Bum dengan cinta siapa pun.”

Jung So Min menangis. Kim So Eun benar. Cinta adiknya kepada Kim Bum terlalu besar, hingga tidak ada tempat lagi untuk cinta yang lain, bahkan untuk Jung So Min kakaknya, dan kedua orang tuanya. Jung So Min benar-benar sedih. Tapi bukankah itu semua penyebabnya adalah Kim Bum?

“Kau yang lebih tahu tentang adikmu, Jung So Min. Aku rasa kau bisa jauh lebih memahami dia. Itu tadi hanya pandanganku saja, pandangan seseorang yang bahkan belum pernah bertemu dengan Park Shin Hye, adikmu. Pikirkanlah. Aku mau pulang dulu." Kim So Eun berjalan ke arah pintu.

Tiba-tiba Jung So Min berseru.

“Asal kau tahu. Aku tidak akan memaafkan Kim Bum.”

Kim So Eun berbalik sekilas.

“Aku tidak mau tahu tentang itu. Aku hanya tahu kalau Jung So Min yang aku kenal tidak seperti itu.”

Kim So Eun keluar dari kamar. Jung So Min tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia benar-benar bingung dengan perasaannya. Haruskah ia memaafkan Kim Bum? Bagaimana dengan sakit hati adiknya? Ah, tapi bukankah itu semua sudah terbalas? Kim Bum sudah merasakan kekecewaan itu. Apa lagi yang ia cari sekarang? Apakah ia harus menunggu kematian Kim Bum baru merasa puas? Tidak! Jung So Min tidak mau kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Kim So Eun.

Bersambung…

Pura-Pura Cinta (Chapter 3)



Chapter 3
Suatu Keputusan


Sejak mengikrarkan hubungan mereka, kemesraan semakin nampak antara Kim Bum dan Jung So Min. Untuk beberapa lama Jung So Min membiarkan hubungan itu mengalir. Ada beberapa teror dan ancaman, terutama terhadap Jung So Min dari gadis-gadis yang merasa 'dirugikan', tapi Kim Bum selalu ada dan membela Jung So Min.

Sulit dipercaya, apakah Kim Bum telah benar-benar jatuh cinta pada Jung So Min?

Apakah Kim Bum telah menemukan cinta sejati dalam diri Jung So Min?

Jung So Min bertanya-tanya. Kim Bum banyak berubah, begitu kata orang-orang yang dekat dengan Kim Bum, termasuk kata Baek Suzy, adik Kim Bum.

Kim So Eun dan Jung So Min makan siang di kafe dekat kampus, tiba-tiba seorang gadis menghampiri. Baek Suzy, adik Kim Bum.

“Hallo, Epnni! Wah sepertinya sedang asyik. Boleh gabung, tidak?” pinta Baek Suzy.

“Baek Suzy, ada apa? Sendirian saja?” Kim So Eun menyambutnya. Mereka bertetangga, jadi sudah saling mengenal jauh sebelum Jung So Min mengenal Baek Suzy.

Lalu Baek Suzy duduk di meja itu dan mereka mengobrol.

“Iya. Aku sering sekali makan di sini. Ini tempat favoritku. Eonni tidak bersama Kim Bum Oppa?” tanya Baek Suzy yang tentu saja ditujukan untuk Jung So Min.

“Kim Bum sedang ada urusan, penting katanya.”

“Aku suka dengan Kim Bum Oppa yang sekarang, dia berubah. Tampaknya Jung So Min Eonni telah merubahnya.”

Kim So Eun yang dari tadi diam saja, mulai angkat bicara.

“Sepertinya biasa-biasa saja. tidak ada yang berubah, kalau yang aku lihat.”

“Maksudku, kelakuan Kim Bum Oppa, bukan penampilannya. Kalau penampilannya sama saja."

"Berubah kelakuannya bagaimana?" tanya Kim So Eun.

"Setelah jalan dengan Jung So Min Eonni... dia tidak mau jalan dengan gadis lain, tidak lagi hobi menggoda gadis lain."

Kim So Eun melirik Jung So Min. Jung So Min diam saja. Lalu Baek Suzy melanjutkan.

"Dan bahkan Kim Bum Oppa juga datang minta maaf pada gadis-gadis yang pernah disakitinya. Huh. Padahal dulu gadis-gadis itulah yang datang-datang minta maaf supaya diberi kesempatan kembali lagi dengannya. Sepertinya,... Kim Bum Oppabenar-benar sudah menemukan cinta yang sebenarnya dalam diri Jung So Min Eonni. Terima kasih, Eonni.”

Jung So Min hanya tersenyum mendengar pujian itu.

Ponsel Baek Suzy berdering, ia melihat nomor yang tertera di layarnya.

“Sebentar ya", Baek Suzy menjauhi Kim So Eun dan Jung So Min.

Sementara Baek Suzy menjauh, Kim So Eun mencolek Jung So Min.

“Hebat kau,… Aku tidak menyangka ternyata kau bisa juga menaklukan hati Kim Bum.” pujinya.

“Aku kan sudah bilang, kau saja yang tidak percaya dengan kemampuaanku,” balas Jung So Min sambil berbisik pula, seraya melihat Baek Suzy kalau-kalau ia sudah selesai menerima telepon.

Setelah yakin Baek Suzy tidak mungkin mendengar, setengah berbisik ia berbicara lagi pada Kim So Eun. “Tinggal tunggu saja, kapan waktu yang tepat untuk memutuskannya.” desisnya.

“Hah? Jadi kau benar-benar mau membuatnya sakit hati? Kau tidak cinta padanya?” tanya Baek Suzy keheranan.

Sembari menggeleng Jung So Min menjawab, “TIDAK AKAN.”

Kim So Eun terdiam. Ia tak bertanya lagi.

Baek Suzy keburu mendekati meja mereka kembali.

“Aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting,” pamit Baek Suzy.

Dia hendak membayar bill makanannya, tapi Jung So Min memaksa mentraktirnya.

Kim So Eun dan Jung So Min memandang kepergian Baek Suzy dalam diam, kemudian meneruskan makannya. Pembicaraan mereka tadi sempat dilanjutkan kembali, tapi tampaknya Jung So Min sudah tidak suka membahas hal itu.

Dia juga belum mau memberitahu Kim So Eun apa alasan dia akan melakukan itu pada Kim Bum. Jung So Min pikir, ini bukan saat yang tepat untuk memberitahu Kim So Eun. Mungkin suata saat nanti. Entahlah….

Hampir setahun hubungan antara Jung So Min dan Kim Bum.

Untuk ukuran pacaran seorang playboy seperti Kim Bum, ini adalah waktu yang lama. Biasanya dia hanya bertahan dalam hitungan minggu saja, atau maksimal dua bulan dengan gadis-gadisnya dulu.

Kim Bum telah jatuh cinta pada Jung So Min.

Kemesraan mereka nyata, dan malam ini, mereka asyik makan malam berdua di kafe.

“Kim Bum, kau pernah tidak merasa kehilangan?”

Kim Bum tersenyum lucu menanggapi pertanyaan Jung So Min.

“Aku merasa kehilangan kalau kau pergi.”

“Aku serius. Pernah tidak, kau kehilangan orang yang sangat kau sayangi?” tanya Jung So Min lagi.

Kim Bum diam. Nampaknya memikirkan sesuatu. Rasanya berat sekali untuk menjawab pertanyaan Jung So Min.

“Pernah. Sebelum Aku mengenalmu. Sebelum Aku mengenal gadis-gadis lain. Ada seorang gadis yang mengisi hatiku. Aku mencintai dia. Sangat. Tapi takdir berkata lain. Gadis itu meninggal.”

Jung So Min kaget.

Jangan-jangan gadis yang dimaksud Kim Bum adalah adiknya.

Jantung Jung So Min berdetak kencang menunggu kelanjutan cerita Kim Bum.

“Dia meninggal tiga tahun yang lalu, karena kecelakaan pesawat. Sebab itulah,... sebagai pelariannya,... aku menjadi playboy. Mencari gadis-gadis lain sebagai pelampiasan rasa rindu.... Aku mencari sosok gadis itu dalam diri gadis–gadis yang aku kencani. Tapi tidak bisa. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Mengenalmu. Tidak tahu kenapa, Dengan sendirinya perasaan cinta itu muncul lagi begitu saja.”

Jung So Min tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.

Sedih, benci, kesal atau apa? Dia bingung. Jung So Min sungguh bingung.

“Entah apa yang terjadi jika aku harus kehilangan untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau itu terjadi. Karena itu, Aku meminta maaf pada gadis-gadis yang pernah Aku sakiti, satu, satu,... agar tidak ada lagi yang mengganggu hubungan kita.”

Jung So Min mau saja memaafkan Kim Bum saat mendengar kisahnya tadi, tapi rasa benci itu tiba-tiba muncul lagi.

Yang Jung So Min tahu, Kim Bum tidak meminta maaf pada adiknya. Kim Bum benar-benar telah melupakan adiknya, yang bahkan rela bunuh diri karena Kim Bum.

“Apa kau yakin kau sudah meminta maaf pada semua gadis yang pernah kau kencani?” tanya Jung So Min.

“Mungkin belum. Terlalu banyak, jadi aku sudah tidak ingat lagi, siapa-siapa saja mereka," jawab Kim Bum nyengir.

Jung So Min merogoh sesuatu dari tasnya.

“Kalau dengan gadis ini?” Jung So Min menunjukan foto Kim Bum bersama gadis yang berseragam SMA.

Kim Bum memandang Jung So Min.

Ia kaget Jung So Min memiliki foto dirinya dengan gadis lain. Kim Bum cukup lama memandang foto itu. Perasaannya mendadak tidak enak. Selama ini Jung So Min tidak pernah mempermasalahkan hubungannya dengan mantan-mantanya. Namun kini, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Jung So Min, entahlah.…

“Sepertinya belum," ujar Kim Bum kurang yakin.

Hati Jung So Min terbakar rasa amarah.

“Hmm… Siapa nama gadis ini ya? Oh kalau tidak salah dia …Park Shin Hye. Iya! Namanya Park Shin Hye.”

Kini amarahnya telah membakar seluruh jaringan tubuh Jung So Min.

“Iya. Dia Park Shin Hye. Adikku.”

Kim Bum kaget. Wajahnya tiba-tiba pucat. Apalagi setelah mendengar kelanjutan penjelasan Jung So Min.

“Dia cinta mati padamu. Dia benar-benar sayang padamu. Benar-benar cinta yang tulus. Tapi apa balasannya darimu…? Kau hanya menyakiti hatinya. Anehnya,... dia tidak mau membencimu. Tidak pernah berusaha melupakanmu. Karena dia benar-benar tulus mencintaimu.”

Jung So Min tidak bisa menahan air matanya.

Kim Bum hanya diam memandangnya.

“Aku tahu. Kau cuma menjadikan dia sekedar pelampiasan kesedihan hatimu. Kau tidak pernah mencintai dia. Dan... begitu juga aku. Maaf kalau ini menyakitkan... tapi kau harus tahu, aku tidak pernah mencintaimu. Tidak pernah, dan tidak akan pernah.”

Kim Bum syok, tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan Jung So Min.

“Kau… bercanda,… iya kan? Kau hanya mengetesku. Ini tidak lucu Jung So Min," sahut Kim Bum masih berusaha tersenyum walaupun getir.

Jung So Min menggeleng.

“Aku mau jadi kekasihmu, bukan karena aku menyukaimu. Justru sebaliknya, aku membencimu. Sangat membencimu…. Aku ingin membalas sakit hati adikku. Aku juga ingin kau merana seperti Park Shin Hye. Dan aku rasa semua usahaku sudah berhasil dengan melihat wajahmu malam ini....”

Wajah Kim Bum semakin pucat. Ada sirat penyesalan dari wajah itu.

“Sakit bukan? Dikhianati oleh orang yang kita sayangi. Sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.”

Jung So Min beranjak dari tempat duduknya, menuju keluar.

Kim Bum masih duduk terdiam, namun beberapa saat kemudian ia bangkit dan mengejar Jung So Min yang sudah berada di luar kafe.

“Jung So Min,… Jung So Min,… biar aku jelaskan….”

Kim Bum berlari mengajar Jung So Min.

Jung So Min tidak menghiraukannya.

“Jung So Min…” Kim Bum menarik tangan Jung So Min, bermaksud menahannya.

Jung So Min berhenti.

“Aku benar-benar menyesal. Aku,… aku akan minta maaf padanya…” Kim Bum terbata-bata

“Mau minta maaf bagaimana? Sudah terlambat," suara Jung So Min dingin. “Dia sudah meninggal bunuh diri, karena dirimu.”

Kim Bum kaget untuk kesekian kalinya.

Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Dibiarkanya Jung So Min pergi. Kim Bum hanya berdiri terpaku. Nampaknya ia harus kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya, tapi kali ini rasanya benar-benar sakit, sakit sekali. Tak terasa air matanya telah mengalir. Dipandangnya Jung So Min di kejauhan.

“Aku mencintaimu Jung So Min…” teriak Kim Bum.

Bersambung…

Pura-Pura Cinta (Chapter 2)



Chapter 2
Siasat Cinta

Hampir sebulan sudah Jung So Min berada di universitas ini.

Belum ada tanda-tanda kalau Kim Bum, si playboy itu, akan mengenalnya.

Caranya belum ditemukan. Jung So Min terus saja berpikir dan berpikir, mencari cara yang tepat untuk menaklukkan seseorang seperti dia.

Jung So Min sudah lumayan mengorek informasi tentang Kim Bum dari Kim So Eun, dan lambat laun dia mengenalnya walaupun belum secara langsung. Rupanya Kim So Eun dan Kim Bum tinggal bertetangga, dan mereka berteman sejak kecil.

Semakin lama mengamati Kim Bum, dan bersahabat dengan Kim So Eun, Jung So Min menjadi curiga. Jangan-jangan Kim So Eun sebenarnya menyukai Kim Bum?

Ah, mengapa harus ambil pusing dengan gadis-gadis yang menyukai Kim Bum? Kalaupun Kim So Eun juga menyukainya, mengapa harus pusing? Dendam itu belum terbalas, itu saja yang membuat Jung So Min resah. Jangan-jangan Kim Bum tidak akan pernah mengenalnya. Terlalu banyak gadis-gadis di sekelilingnya. Ah, tapi tampaknya hal itu tidak akan terjadi. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Jung So Min menemukan siasat itu.

Siang ini, Jung So Min melihat Kim Bum berjalan sendirian.

Ini adalah suatu kesempatan langka untuk Jung So Min, suatu kesempatan yang ditunggu-tunggu. Biasanya dia pasti dikelilingi gadis-gadis fans club-nya atau sahabat-sahabat lelakinya. Dan Jung So Min tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ia sengaja berjalan berlawanan arah dengan Kim Bum, dan sengaja pula menabraknya. Buku-buku di tangan Jung So Min jatuh berhamburan. Secara refleks mereka berbarengan memungutinya.

“Maaf,… aku benar-benar tidak sengaja” sahut Jung So Min seraya memberesi buku-bukunya. Kim Bum akan marah, tapi begitu melihat wajah cantik Jung So Min, dan sikap tak acuhnya, hatinya langsung luluh. Cukup lama ia memandangi wajah Jung So Min, dan Jung So Min pura-pura tidak tahu hal itu.

“Kau tidak marah, kan? Sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja…” kata Jung So Min. Dan rasa tak acuhnya itu benar-benar mengena. Selama ini, belum ada gadis yang bersikap seperti itu terhadap Kim Bum.

“Oh,… tidak apa-apa,” sahut Kim Bum gugup. “Kau anak baru, ya?”

"Ya. Aku baru" jawab Jung So Min datar.

“Kim Bum. Namaku Kim Bum." balasnya mengajak berkenalan.

“Aku Jung So Min.” Jung So Min cuma mengangguk, dan tidak membalas uluran tangan Kim Bum untuk beberapa lama. “Aku ada kuliah sekarang, jadi aku harus pergi. Sekali lagi maaf.”

Jung So Min sengaja berlagak cuek, agar Kim Bum penasaran. Dan memang benar. Baru beberapa langkah Jung So Min meninggalkannya, Kim Bum mulai memanggil.

“Hey…tunggu! Boleh aku minta nomor ponselmu?”

“Secepat ini? Lain kali saja.”

“Jangan salah paham. Ayolah. Masa tidak boleh aku mengenalmu lebih akrab? Tidak keberatan, kan?”

Jung So Min pun berpura-pura berpikir agar terlihat ragu. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Kim Bum yang menahan gemas.

Besoknya Kim Bum mengejar-ngejarnya kembali, dan akhirnya Jung So Min menyebutkan angka-angka nomor handphone-nya yang segera dicatat oleh Kim Bum. Setelah mengucapkan terimah kasih, Kim Bum berlalu.

Semuanya sesuai skenario.

Jung So Min tersenyum sinis, mangsa sudah hampir didapatnya.

Sejak itu, Kim Bum rutin menelepon Jung So Min atau berkirim sms. Jung So Min terus saja bersikap dingin, dan Kim Bum semakin penasaran. Keakraban itu terbentuk, antara Jung So Min dan Kim Bum.

Lama-lama gadis-gadis di kampus itu tahu juga, termasuk Kim So Eun.

“Ternyata kau sudah kena rayuan Kim Bum, Jung So Min.”

Siang ini, Kim So Eun bertandang ke rumah Jung So Min.

“Kim So Eun,… Kim So Eun,…siapa yang merayu siapa? Kau salah informasi…” Jung So Min tertawa sembari geleng-geleng kepala.

“Katanya kau pacaran dengannya?”

“Siapa bilang?”

“Kata orang-orang di kampus.”

“Aku tidak pacaran dengannya.”

“Bohong….”

“Ya sudah, kalau tidak percaya tidak apa-apa.”

Tiba-tiba Pembantu rumah tangga Jung So Min masuk, membawakan minuman.

Perdebatan kecil di antara mereka terhenti sejenak. Ketika pembantu itu pergi, cukup lama juga mereka terdiam. Sampai akhirnya Kim So Eun berbicara, pelan.

“Sebagai sahabat, aku hanya mengingatkanmu saja. Hati-hati dengan Kim Bum itu. Dia pandai menaklukkan hati wanita sama mudahnya dengan membuat wanita itu patah hati.”

Jung So Min terdiam. Untuk sejenak dia teringat mendiang adiknya.

“Itu tidak akan terjadi pada diriku. Justru aku yang akan membuat dia merasakan bagaimana rasanya sakit hati.”

“Maksudmu?” Kim So Eun bertanya.

“Aku ingin membuat dia jatuh cinta dan takluk di hadapanku, kemudian aku akan membuatnya patah hati.”

“Apa bisa? Apa tidak sebaliknya?”

“Kita lihat saja nati.”

“Terserah kau saja…” Kim So Eun pasrah

Kim So Eun tidak tahu apa yang membuat Jung So Min begitu yakin kalau dia bisa menaklukan hati Kim Bum. Dia sama sekali tidak tahu Jung So Min punya dendam dan amarah kebencian terhadap Kim Bum.

Kesempatan itu datang.

Nampaknya siasat Jung So Min mengena, target yang ditujunya semakin terbuka lebar, hari ini, tahu-tahu Kim Bum mengungkapkan perasaannya pada Jung So Min.

Saat itu mereka sedang di kantin.

“Jung So Min, kau percaya tidak kalau aku bilang, aku suka padamu.”

Jung So Min tersendak mendengar ucapan Kim Bum.

Ia terbatuk–batuk beberapa lama.

Kim Bum menyodorkan air minum.

Sejujurnya Jung So Min memang sudah menduga cepat atau lambat akan ada pernyataan itu, tapi dia tidak menduga kalau Kim Bum akan nekat menyatakan cintamya di kantin. Ini lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Aku tahu, reputasiku buruk di mata orang-orang. Terutama para wanita. Tapi ketika aku mengenalmu, ada sesuatu yang berbeda, yang selama ini tidak pernah aku rasakan. Aku juga bingung, kenapa bisa begini?” kata Kim Bum.

Tentu saja berbeda. Biasanya para gadis akan dari awalnya langsung menunjukkan antusiasme, atau bahkan mengejar-ngejar, sedangkan Jung So Min, cuek dan dingin. Kena dia.

Jung So Min mencibir.

“Pasti kau berkata begitu juga ke gadis-gadis incaranmu. Iya kan?”

“Aku sudah menebak, kau tidak akan percaya”, Kim Bum terus membujuk. Tantangan seperti ini tentu akan menimbulkan sensasi yang luar biasa kalau bisa dia taklukkan.

Jung So Min berpikir sejenak. Dia merasa, dia harus segera menerima cinta Kim Bum. Kalau berlama-lama, nanti keburu Kim Bum berubah pikiran. Walau begitu, demi untuk mempermainkan Kim Bum sedikit lagi, Jung So Min menawar lagi.

"Ini terlalu mendadak,... paling tidak aku perlu waktu tiga minggu untuk memikirkannya" kata Jung So Min.

"Tiga minggu? Lama sekali. Tidak bisa satu malam saja? Apa lagi yang mau kau pikirkan?" protes Kim Bum.

"Ya dudahlah, aku coba tiga hari." kata Jung So Min.

Akhirnya Kim Bum mengalah dengan wajah penasaran, dan bagi Kim Bum, menunggu tiga hari itu terasa sangat lama.

Pada hari ketiga, Kim Bum menunggu dari pagi buta, dan ternyata Jung So Min tidak datang ke kampus. Sepanjang hari Kim Bum mencari-carinya, tapi tidak berhasil. Sms pun tidak berbalas. Telepon tidak diangkat.

Besoknya lagi, Jung So Min datang ke kampus seperti biasa, tapi dia terus saja bersama teman-teman wanitanya. Ini disengaja, untuk sedikit menyiksa Kim Bum, dan siksaan itu berhasil.

Siang menjelang sore, barulah Kim Bum berhasil mencegat Jung So Min di kantin dan mereka berbicara berduaan.

"Dulu kau bilang tiga hari," kata Kim Bum membuka.

"Oh, kemarin aku sakit gigi." kata Jung So Min ringan.

"Kalau sekarang?"

"Aku harus mengatakan apa?" tantang Jung So Min.

Lalu Kim Bum mengulang permintaannya tempo hari.

“Kim Bum,… Kim Bum,… gadis mana yang tidak mau jadi kekasihmu? Hanya gadis tolol yang menolak cintamu. Dan aku bukanlah golongan gadis seperti itu.” Senyum Jung So Min sengaja dibuat-buat.

“Maksudnya, kau percaya kalau aku benar-benar suka padamu?”

Jung So Min tersenyum kecil.

Kim Bum memandangnya dengan tersenyum pula.

“Jadi kau mau jadi kekasihku, iya kan?”

Jung So Min menggangguk sok malu-malu.

“Aku berharap kali ini kau serius mencintai orang. Bukan sekedar dorongan hati sesaat. Baiklah, aku beri kau kesempatan itu, dan aku berharap kau tidak menyia-nyiakannya. Aku ingin kau serius!”

Kim Bum menggenggam tangan Jung So Min.

“Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya cinta sejati itu. tapi aku ingin perasaan itu muncul untukmu. Aku mohon, ajari aku cinta sejati itu.”

Bersambung…

Pura-Pura Cinta (Chapter 1)



Chapter 1
Musibah Dan Dendam Itu

Jung So Min tiba di halaman rumahnya.

Ramai sekali, tapi orang-orang ini tampak sedih. Dari dalam rumah itu ada suara isak tangis. Jung So Min terus masuk ke dalam, hingga tiba di ruang dimana isak tangis itu berasal.

Di hadapannya kini terbujur kaku orang yang sangat disayanginya. Adik satu-satunya. Jung So Min mendekati jenazah itu. Nampak pucat. Air matanya langsung tertumpah. Jung So Min tak mampu menahannya. Sang Ibu yang tampak terpukul semakin tak bisa menahan tangis ketika Jung So Min mencium kening adiknya almarhum.

Tiba-tiba kepala Jung So Min pun terasa pening, semua berputar-putar. Penglihatannya gelap, dan dia kemudian pingsan di samping jenazah itu.

* * *

Hari telah malam……

Jung So Min masih lemas. Ia berbaring di kamar.

Pemakaman sudah dilakukan sore tadi.

Jung So Min tidak dibolehkan ikut mengantarkan jenazah sampai ke pemakaman karena fisiknya yang lemah. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata indahnya itu. Tak disangkanya kalau adiknya nekat melakukan perbuatan ini. Bunuh diri. Ia bahkan tak bisa mendapati adiknya sebelum meninggal, ia hanya dikabari kalau adiknya koma karena mencoba bunuh diri. Namun setibanya di sini, adiknya benar-benar telah tiada.

Pintu kamarnya dibuka. Wajah Ayahnya yang tampak sedih berusaha tersenyum padanya.

“Kau belum makan apapun sejak tiba di sini. Ini Ayah bawakan makan malam untukmu.” Ayah mendekatinya. Nampan berisi makan malam diletakan di meja rias yang terletak di sebelah tempat tidur tempat Jung So Min berbaring.

“Kita relakan saja. Ini mungkin sudah menjadi takdir untuk Park Shin Hye”, lanjut ayahnya lagi. Jung So Min semakin tak bisa menahan tangis.

“Tapi kenapa, Yah? Kenapa dia tega…? Dia tega melakukan ini…. Dia tega meninggalkan kita semua….” Jung So Min terbata-bata di sela isak tangisnya.

Ayahnya hanya terdiam.

“Padahal… padahal kita semua akung padanya!”

“Ayah tahu. Ini berat untukmu, untuk kita semua. Tapi kita harus kuat menerima kenyataan, Jung So Min.”

“Aku benar-benar tidak menyangka. Dia nekat melakukan ini. Dia,… dia… nekat bunuh diri.”

“Memang, belakangan ini Park Shin Hye menjadi aneh. Dia mudah marah dan emosi. Sering menyendiri di kamar, malas makan, dan dia… dia benar-benar berubah dari gadis yang riang jadi pendiam. Ayah benar-benar tidak tahu apa penyebabnya, Ibu juga. Dia tidak mau menceritakan masalahnya.”

Jung So Min tidak tahu lagi harus berbicara apa.

Dia jadi menyesal kenapa dia harus kuliah jauh ke Amerika.

Kenapa dia tidak sekolah di sini saja, supaya bisa menjaga adiknya itu? Supaya bisa berbagi cerita, berbagi masalah dengan adik keakungannya itu. Jung So Min mulai menyalahkan dirinya.

“Kalau saja aku kuliah di sini, pasti Park Shin Hye masih hidup, iya kan, Yah!”

Ayahnya menggeleng.

“Itu sudah menjadi takdir. Kita tak boleh menyesali apalagi menyalahkan orang lain atau diri sendiri.”

Ayahnya berdiri dari tepi tempat tidur. “Kau sekarang makan. Ayah mau lihat Ibumu dulu.”

Jung So Min memandang kepergian Ayahnya.

“Ayo dimakan sopnya, nanti keburu dingin,” perintah sang ayah sebelum meninggalkan kamar Jung So Min.

Jung So Min memandang makanan yang ada di hadapannya. Dia benar-benar telah kehilangan selera makan. Jung So Min terus membayangkan saat-saat ia sedang bersama sang adik, mereka tertawa, menangis, bertengkar dan tidur bersama-sama. Rasa kehilangan itu amat dalam.

Jung So Min teringat sesuatu. Ia bergegas turun dari ranjang dan keluar kamar, menuju ke kamar Park Shin Hye. Ruangan ini gelap sekali. Lampu dinyalakan. Tidak banyak perubahan yang dilihat Jung So Min sejak ia tinggalkan setahun yang lalu. Poster-poster artis idola adiknya masih menghiasi dinding kamar itu, walaupun gambarnya berbeda dengan tahun lalu. Potret adiknya yang berukuran besar, terpampang indah di salah satu dinding kamar itu, foto Ayah dan Ibunya juga. Jung So Min pun ada. Jung So Min memandang seluruh ruangan itu.

Jung So Min berjalan menuju ruang belajar dan duduk di situ, membayangkan apa yang dilakukan adiknya terakhir kalinya di meja ini.

Diamati benda-benda yang ada di meja itu. Semua benda favorit adiknya. Mata Jung So Min mulai berkaca-kaca. Di bukanya laci meja, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang akan ditemukannya.

Benar juga, ia menemukan buku diary pink milik adiknya. Dibukanya lembar demi lembar halaman diary itu. Hingga matanya tertuju pada tulisan besar di salah satu halamannya. “AKU JATUH CINTA”. Jung So Min mulai tertarik. Dibacanya halaman berikutnya. Semua peristiwa itu terjadi belum lama, beberapa bulan yang lalu, berdasarkan tanggal yang ditulis dalam diary tersebut.

Jung So Min mulai membaca dari halaman dimana Park Shin Hye mengatakan bahwa ia bertemu pemuda bernama Kim Bum. Park Shin Hye jatuh cinta pada pemuda itu. Mereka berpacaran dan Park Shin Hye bahagia sekali, begitu yang tertulis dalam diary itu.

Park Shin Hye juga menulis akhir dari kisah cintanya yang tidak bahagia, kekasihnya selingkuh dan memutuskan hubungan dengannya. Tapi Park Shin Hye tidak terima diputuskan begitu saja, ia benar-benar akung dengan pemuda yang bernama Kim Bum itu. Hidup ini terasa tak berarti bagi Park Shin Hye tanpa pemuda itu. Park Shin Hye juga menulis tentang perasaan sakit hatinya, saat melihat pemuda itu berpelukan dengan gadis lain, dan betapa cintanya Park Shin Hye sampai rela memohon kepada pemuda itu untuk tidak memutuskan hubungan mereka.

Jung So Min syok membacanya. Apalagi di halaman terakhir diary yang ditulis Park Shin Hye.

“Aku cinta Kim Bum. Seumur hidupku cinta ini akan kuberikan untuk dia seorang. Aku tahu dia sudah melupakanku, tapi bagiku melupakannya sungguh sesuatu yang tak akan bisa kulakukan. Aku sangat dan teramat menyayanginya, mencintainya, walaupun rasa itu sudah tak ada lagi dalam dirinya untukku. Aku tahu, aku bukan wanita sempurna yang ia miliki. Namun bagiku, dia adalah pemuda yang paling indah yang pernah ada di hidupku. Dia begitu sempurna menurutku dan juga gadis-gadis lainnya. Aku benar-benar sakit hati, kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu lemah untuk merebutnya kembali dari gadis lain. Aku berusaha untuk mengubur semua kenangan manis saat bersamanya. Mengubur semua cinta ini, tapi tidak bisa. Semakin aku sakit hati, semakin luka rasanya. Aku tak tahu bagaimana cara mengakhiri rasa sakit hati, juga rasa cinta ini. Mungkin dengan kematian.”

Jung So Min terpukul sekali. Tak terasa air matanya kembali bergulir.

Jung So Min seolah merasakan betapa sakit hatinya Park Shin Hye pada saat itu. Tiba-tiba timbul suatu kebencian yang mendalam dalam hati Jung So Min terhadap pemuda itu. Dialah penyebab kematian adiknya. Park Shin Hye nekat bunuh diri karena kecewa, sakit hati, karena ulah pemuda itu.

Jung So Min memeriksa kembali laci tempat diary itu. Lalu dia menemukan foto seorang gadis berseragam SMU sedang tertawa mesra dengan seorang pria tampan. Gadis di foto itu adalah adiknya, Park Shin Hye. Dan pemuda ini pastilah Kim Bum. Di belakang foto itu tertulis ‘My love, Kim Bum.’

Jung So Min terus memendangi foto itu. Rasa dendam dan benci muncul begitu saja di dalam hatinya. Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah pria dalam foto itu. Lalu Jung So Min berbicara memandang foto adiknya, dan berujar lirih, “Aku akan balas semua sakit hatimu, adikku" dan setelah itu Jung So Min keluar kamar.

* * *

Jung So Min turun dari mobilnya yang di parkir di depan gedung megah sebuah universitas. Demi dendamnya Jung So Min pindah kuliah ke universitas ini. Di situlah pemuda yang bernama Kim Bum itu kuliah.

Orang tua Jung So Min sempat keberatan, Jung So Min pindah dari Amerika dan kemudian kuliah di kota ini, tapi dengan berbagai alasan ia mencoba membujuk Ayah dan Ibunya. Dan akhirnya mereka pun setuju. Tinggallah Jung So Min anak mereka, maka semua keinginannya dituruti. Lagipula dengan Jung So Min berada di dekat mereka, sang Ayah dan Ibu berharap bisa cepat menghilangkan rasa trauma kehilangan Park Shin Hye.

“Permisi! Maaf, aku mau tanya, ruang kuliah jurusan desain, dimana ya?” tanya Jung So Min pada seorang gadis berambut panjang yang kebetulan lewat di sampingnya di koridor universitas itu.

“Kau mahasiswa baru? Jurusan desain?” wanita itu memandangi Jung So Min dengan tatapan bersahabat. Ramah.

Jung So Min mengangguk.

“Kebetulan. Aku juga jurusan desain. Kalau begitu, kita sama-sama saja!”

Gadis itu berjalan lebih dulu. Jung So Min mengikutinya.

“Aku Kim So Eun. Namamu sendiri, siapa?” tanya gadis itu lagi saat mereka berjalan di koridor menuju ruang yang mereka tuju.

“Jung So Min.”

“Pindahan dari mana?”

“Amerika.”

Kim So Eun terkejut mendengar jawaban Jung So Min. Dia kurang percaya.

“Malas tinggal jauh-jauh dari orang tua,” Jung So Min beralasan.

“Kalau aku jadi kau, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu begitu aku diberi tawaran kuliah di luar negeri….”

Jung So Min memandang Kim So Eun sambil tersenyum.

“Benar, aku tidak bohong…” Kim So Eun menyakinkan dengan membentuk dua jarinya huruf V.

Mereka berbelok ke sebelah kanan. Langkah Jung So Min terhenti saat melihat sosok yang dikenali sebagai target pembalasan dendamnya. Kim Bum. Pemuda itu tengah asyik bercerita dengan seorang gadis. Kim So Eun juga ikut berhenti dan menoleh ke arah yang dilihat Jung So Min.

“Ya ampun…. Ternyata semua gadis itu sama.” Ucapan Kim So Eun, membuat tanda tanya di wajah Jung So Min dan Jung So Min berbalik memandangnya.

"Begitukah?"

“Iya. Semua gadis yang melihat wajah Kim Bum, pasti langsung terpesona. Bahkan mengedipkan mata pun tidak sempat, seperti gayamu tadi.”

Hmmm, nampaknya Kim So Eun salah paham. Pandangan Jung So Min tadi bukan pandangan penuh kekaguman terhadap wajah seorang pemuda tampan. Kalau saja dia tidak menahan diri, mungkin sudah ditamparnya pemuda itu. Jung So Min berusaha menguasai diri.

“Oh,…namanya Kim Bum…” Jung So Min berlagak terpesona.

Lalu mereka kembali melanjutkan berjalan kaki.

“Seluruh mahasiswa di kampus ini kenal siapa dia. Playboy nomor satu.”

“Dari wajahnya sudah kelihatan. Dia anak mana?”

“Teknik industri. Nah ini gedung desainer. Kau kuliah apa hari ini?’

Jung So Min pun menyebutkan mata kuliahnya. Dan ternyata sama dengan Kim So Eun. Kim So Eun menunjukan ruangan yang dimaksud dan masuk ke dalam diikuti Jung So Min. Tampak beberapa mahasiswa lain telah berada di ruangan itu. Kim So Eun mengajaknya duduk bersebelahan dan Jung So Min menurut.

Pertemanan itu berkembang begitu saja.

Jung So Min terus mengorek keterangan tentang Kim Bum.

“Apalagi keistimewaan Kim Bum, selain wajahnya yang tampan?”

“Dia aktivis kampus. Pernah memimpin BEM fakultas… Anak orang kaya….”

*) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) adalah organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat Universitas atau Institut. Dalam melaksanakan program-programnya, umumnya BEM memiliki beberapa departemen.

Organisasi mahasiswa intra kampus selain BEM, adalah Senat Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Ada atau tidaknya masing-masing, bergantung pada perkembangan dinamika mahasiswa di setiap kampus.

“Kenapa gadis–gadis itu mau saja dipacari olehnya?”

“Gadis-gadis itu yang mengejar-ngejar dia. Tentu dia sebagai pemuda normal tidak mungkin menyia-nyikan kesempatan seperti itu.”

“Kau juga pernah jadi kekasihnya?”

Kim So Eun tersenyum. Wajahnya bersemu merah.

“Aku bukan tipenya….”

Jung So Min akan bertanya lagi, kalau saja dosen belum masuk.

Jung So Min melaporkan kepindahan dirinya.

Dan begitulah, selain mendapat teman baru, hari itu Jung So Min mendeklarasikan perangnya diam-diam terhadap Kim Bum itu. Dendam itu harus terbalaskan, bagaimana pun caranya....

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...