Laman

Silahkan Mencari!!!

I'M COMEBACK...SIBUK CUY...KERJAAN DI KANTOR GI BANYAK BANGET...JD G BISA POSTING DEH...

AKHIRX OTAK Q PRODUKTIF LAGI BUAT FF BARU...

GOMAWOYO BWT YG DAH MAMPIR & COMMENT
HWAITING!!!

Kamis, 28 April 2011

Luka Hati (Chapter 1)



Apakah latar belakang keluarganya yang kacau menyebabkan Lee Hong Ki berperilaku aneh seperti itu?

Mereka langsung terdiam ketika pintu kubuka dari luar. Separuh isi kelas terbirit-birit kembali ke bangkunya. Sementara yang lain berusaha menampilkan sikap manis dengan melipat tangan di atas meja, lalu kembali mengerjakan soal latihan dari buku. Beberapa bangku sudah bergeser dari tempatnya semula.

“Baru sebentar saja saya keluar, kalian sudah membuat pasar di sini! Teriakan kalian terdengar sampai ke ruang guru,” tegurku sambil mengedarkan pandang ke penjuru kelas. Seperti biasa kalau ditinggal guru, kelas yang alim berubah menjadi riuh seperti pesta. Dan seperti biasa kalau sudah dimarahi, 36 kepala itu menunduk dalam keheningan. Pura-pura menyesal.

Aku membatalkan niat mengambil kapur ketika lamat-lamat terdengar isak tertahan dari arah tengah. “Park Shin Hye, kau kenapa?” kuhampiri bangkunya. Rambutnya acak-acakan, karet kepangnya copot sebelah. Berulangkali kutanya, ia tetap menunduk dan menggeleng.

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau menangis terus? Jung Yong Hwa, coba ceritakan!” aku menoleh memanggil sang ketua kelas. Dengan ragu-ragu dan tetap menunduk Jung Yong Hwa menjawab, ”Park Shin Hye berkelahi… lalu dipukuli.”

“Siapa yang memukul?”

Kali ini hampir semua mulut berbicara kencang, ”Lee Hong Ki!” dan suara-suara ribut bermunculan lagi. Setengah memaksa kuangkat wajah Park Shin Hye, dan astaga …. ada garis memanjang di pipinya, seperti digores sesuatu yang tajam. Lengan atas kirinya juga lebam memerah. Dengan sudut mata kulirik Lee Hong Ki yang duduk dua bangku di belakang Park Shin Hye. Anak itu sedang mengusap-usap lensa kacamata sambil menggigit-gigit bibirnya. Kira-kira apa yang sudah dilakukan Park Shin Hye, sehingga ia terpancing emosinya dan langsung main hajar? Setahuku Park Shin Hye masuk dalam kriteria anak manis. Ia juga cukup rajin dan tidak pernah membuat masalah serius, kecuali kebiasaan cerewetnya. Ia seringkali harus ditegur lantaran suka mengobrol di dalam kelas.

“Dan kalian hanya sibuk menyoraki saja, begitu? Tidak berniat sama sekali memisahkan dua teman yang berkelahi? Keterlaluan! Kalian itu sudah kelas 3 SMA tapi kelakuan kalian sama seperti anak TK. Sudah, sudah… diam! Sekarang kalian lanjutkan mengerjakan soal. Waktu Saya datang nanti, semua sudah harus mengumpulkan hasilnya di meja saya. Dengar ya, jangan membuat keributan lagi! Lee Hong Ki, Park Shin Hye, Jung Yong Hwa, Moon Geun Young, ikut saya ke kantor!” perintahku itu langsung disambut dengungan penghuni kelas seperti lebah.

Lee Hong Ki memandangku dengan air muka yang seolah berkata bukan aku yang salah. Aku balas menatapnya dan berkata singkat, ”Sekarang!” Tak perlu menunggu lama, Lee Hong Ki keluar dari bangku dan berjalan diiringi cemoohan teman-teman sekelasnya. Sedikitpun tak ada rasa canggung atau takut seperti murid yang lain jika diperintahkan menghadapku di kantor.

Sebagai anak yang sudah tiga bulan ada di kelas baru, kuperhatikan ia bukan saja sulit bersosialisasi, tapi juga sering berlaku aneh. Dalam beberapa hari ia betah bengong di kelas, tak suka bicara. Tapi hari berikutnya, celoteh-celoteh usil sering dilontarkan Lee Hong Ki. Gaya bicara dan cara berjalannya sering diledek karena agak kewanita-wanitaan. Otaknya lambat dalam menerima pelajaran dan jawabannya sering ngawur kalau ditanya. Itu sebabnya murid-muridku tidak suka mengajaknya bermain. “Orangnya aneh! Tidak nyambung kalau diajak bicara.” rata-rata itu komentar mereka waktu kutanya.

Di ruang kantor guru, beberapa rekan yang tidak mengajar segera menyingkir dengan penuh pengertian, ketika melihat rombongan kecilku datang.

“Lee Hong Ki lagi?” bisik Mrs. Ha Ji Won di telingaku, ketika kami berAyahsan. Aku tersenyum kecil, ”Maaf, bukannya mengusir. Ada insiden kecil di kelas.”

“Biasa, namanya juga anak-anak. Yang sabar ya, Mrs. Jang Na Ra!”

Aku segera menarik empat bangku sambil berharap masalahnya tidak seserius yang aku takutkan. Gawat kalau kejadian hari ini didengar Kepala Sekolah, apalagi ayah Park Shin Hye masuk dalam jajaran pengurus yayasan.

“Ceritakan pada saya selengkapnya, Park Shin Hye. Apa masalahnya sehingga kau berkelahi dengan Lee Hong Ki?” cecarku langsung ketika keempat murid itu sudah duduk berjejer. Park Shin Hye terbata-bata bercerita kalau ia sedang bergurau dengan Moon Geun Young sahabatnya itu sambil mengerjakan soal latihan, ketika tiba-tiba ia diserang Lee Hong Ki.

“Rambut saya dijambak, Tangan saya ditonjok. Padahal saya sudah bilang ampun, tapi dia malah lari, lalu mengambil penggaris yang ujungnya lancip, lalu dia menusuk pipi saya dengan ujung penggaris itu. Kemudian Lee Hong Ki bilang: Perempuan murahan, perempuan murahan.…” lalu deraian tangisnya terdengar lagi. Cerita Moon Geun Young kurang lebih sama dan Jung Yong Hwa tidak bisa memastikan sebab-sebabnya, karena kejadiannya begitu cepat. Aku berpaling kepada Lee Hong Ki yang mulai tampak tidak nyaman ada di ruangan. Pantatnya bergeser-geser menimbulkan suara sedikit berisik.

“Sekarang giliranmu, Lee Hong Ki. Kenapa kau memukul Park Shin Hye?”

Pelan Lee Hong Ki membuka mulutnya sedikit, tapi tidak untuk bicara. Dia hanya menganga seperti orang keheranan. Lima menit kutunggu reaksinya.

“Apa kau tidak suka Park Shin Hye mengobrol dengan sahabatnya? Ayo Lee Hong Ki, kau harus menceritakannya kepada saya. Kau sudah memukul dan melukai teman perempuanmu, itu bukan perbuatan yang baik. Kalau Park Shin Hye punya salah, beritahu kepada Saya sekarang. Saya akan bantu untuk menyelesaikannya. Memangnya kamu pikir kau itu siapa? Main pukul seenaknya. Ini sekolah Lee Hong Ki, tempat murid-murid belajar supaya jadi pintar. Bukan tempat orang yang tidak tahu sopan santun, kau mengerti? Nah, sekarang jangan diam saja begitu. Cepat ceritakan kepada saya, supaya kalian bisa segera kembali ke kelas lagi. Ayo!” desakku menahan amarah yang mulai menyembul. Yang ditanya malah melongo dengan tatapan yang membingungkan, yang aku sendiri tidak yakin apa artinya. Mungkin...mungkin seperti tatapan orang yang merasa sakit.

Berulangkali dibujuk dan dipaksa, ia tetap bertahan dengan sikap diamnya, yang sangat menyebalkan. Ah, sudah satu jam lebih aku bertarik urat leher dan akhirnya luapan kejengkelanku sulit dikontrol lagi. Kusuruh Park Shin Hye ditemani dua temannya berobat ke ruang UKS sebelum aku berteriak marah kepada Lee Hong Ki.

“Jadi kau tetap tidak mau cerita juga? Saya tidak mau jadi orang bodoh yang seharian di sini duduk menanti jawaban, membuang waktu berjam-jam dan menelantarkan teman-temanmu yang ingin belajar! Kalau ini pilihanmu Lee Hong Ki, baik! Saya akan laporkan kejadian ini kepada Kepala Sekolah. Hari ini juga orangtuamu akan dipanggil dan kau tahu apa akibatnya bagi anak yang sering cari keributan di sekolah? Kalau kau mau cerita, mungkin saya bisa membantu supaya kau tidak dikeluarkan dari sekolah ini. Apa kau tidak capek gonta-ganti sekolah terus, Lee Hong Ki? Apa tidak kasihan pada Ayah dan Ibu-mu? Dan apa kau juga tidak tahu kalau tindakanmu itu sudah melukai orang lain? Kalau orangtua Park Shin Hye tidak mau terima, bagaimana? Kau sudah menyusahkan banyak orang! Ayo bicara, jangan diam saja! Kau kan bukan patung!” bentakku dengan nada tinggi. Sesaat anak itu bergidik kaget melihatku marah, tapi selanjutnya ya ampun! Dia tetap diam dan kembali memilin ujung kemejanya.

Aku memijit keningku yang terus berdenyut dan bolak-balik menghela napas. Hendak kuapakan anak ini? Aku sudah kehilangan akal. Bencana besar terbayang di kepalaku, orangtua Park Shin Hye akan datang ke sini dan menuntut kepada pihak sekolah. Dan buntutnya bisa diduga, aku akan disalahkan. Sungguh suatu catatan yang merusak riwayat pekerjaanku, karena aku belum lama mengajar di sini. Kalau gara-gara masalah ini aku dipecat bagaimana? Padahal aku senang bisa mengajar di sini.

Aduh, kenapa aku meninggalkan kelas saat mengajar? Pasti mereka tidak mau mendengar alasan sakit perut yang memaksaku tertahan selama 9 menit di kamar kecil. Dan sakit yang datang tiba-tiba itu membuatku tidak sempat menghubungi guru piket, agar mengawasi kelasku. Dan di sekolah ini, itu merupakan pelanggaran besar. Gawat!

Tengah aku berpikir bagaimana cara menjelaskan duduk masalahnya kepada Kepala Sekolah, Lee Hong Ki mencondongkan badan ke depan dan bicara pelan, ”Apa Mrs. Jang Na Ra tahu, kalau Park Shin Hye itu perempuan murahan?”

Bagai disengat lebah aku ikut mencondongkan badan,”Apa?”

Lee Hong Ki seperti merasa senang, ia tersenyum. “Perempuan murahan memang harus dipukul, siapa suruh dia tidak sayang padaku… Park Shin Hye itu seperti Ibuku.”

Aku menggeleng makin tak mengerti dan kembali membujuknya untuk bercerita lebih rinci, tapi aksi mogok bicara dilakukannya lagi, sampai bel istirahat berbunyi. Akhirnya aku menyerah lalu berkata, “Besok pukul 9 pagi orangtuamu harus bertemu dengan saya. Ayah dan Ibu-mu. Dengar Lee Hong Ki? Pukul 9, Ayah dan Ibu-mu harus bertemu saya di sini,” aku mengulang perintah.

Sepanjang hari itu Lee Hong Ki hampir tidak mengerjakan apa pun tugas pelajaran di kelas. Bolak-balik dia juga harus menghadap guru BP, untuk apalagi kalau bukan untuk menjelaskan alasan kenakalannya hari ini. Kalau Park Shin Hye bukan anak pengurus yayasan sekolah yang disegani, mungkin cara penanganannya tidak seheboh ini.

Sepuluh menit menjelang bel pulang, Lee Hong Ki masuk ke kelas dengan wajah kusut masai. Sebagian kemeja seragamnya tidak berada di tempatnya, berjuntai keluar dari ikat pinggang celana. Saat melintas melewati mejaku, sempat kulihat setetes dua tetes airmata masih menggantung di pelupuk matanya.

Selama tiga bulan Lee Hong Ki hadir di kelas, aku sudah memanggil orangtuanya dua kali dan selalu ayahnya yang datang. Dua kali alasan pemanggilan itu untuk kelakuan Lee Hong Ki yang mengacaukan suasana belajar di kelas. Ulahnya bukan cuma diperagakan saat jam mengajarku saja, tapi beberapa guru lain juga sempat berang dengan sikapnya. Mereka mendefinisikan Lee Hong Ki sebagai anak nakal yang kurang ajar. Lee Hong Ki itu Monster, kata Mr. Huang Xiao Ming, guru Matematika.

Pernah sekali waktu ketika Mr. Huang Xiao Ming sedang bertanya jawab soal, tiba-tiba Lee Hong Ki berteriak-teriak seperti orang kerasukan. Kali lain saat suasana hening karena sedang ujian, anak itu membuat kaget seisi kelas dengan gebrakan mejanya yang sekuat tenaga. Untung jantung Mr. Huang Xiao Ming masih kuat.

Hari berikutnya, ia berulah dengan sama sekali tidak sudi membuka mulut untuk bicara sepatah pun. Ditanya guru agar menjawab soal, ia juga tidak mau. Seperti bumi yang kehilangan matahari, wajahnya tiba-tiba bisa berubah menjadi mendung kelam. Tapi siapa menyangka, kalau besoknya dia bisa berubah menjadi mahluk yang menyebalkan, karena cerewetnya tak tertandingi. Kalimat yang sama bisa diulang pengucapannya sepuluh kali, membuat kuping gatal.

Yang paling mengganggu, kalau Lee Hong Ki sedang datang bawelnya. Ia suka sekali melontarkan komentar yang tidak perlu di saat guru sedang asyik menerangkan pelajaran. Mungkin menurut dia itu lucu, tapi guru yang bersangkutan jadi marah dibuatnya. Beberapa murid perempuan juga mengeluhkan gangguan yang mereka terima, karena Lee Hong Ki kerap menyentuh pipi atau meremas tangan mereka dengan sengaja. Dia juga senang bermain korek api yang dinyalakan di bawah bangku untuk menakut-nakuti anak perempuan. Rupanya Lee Hong Ki menikmati sekali saat teman-teman perempuannya menjerit ketakutan. Makin menjerit makin besarlah semangat untuk meneruskan kejahilannya.

Pernah satu kali aku harus menerima telepon di kantor guru di saat aku sedang mengajar. Berpikir bahwa hanya meninggalkan kelas sebentar, aku lalai tidak menghubungi guru piket untuk menitipkan kelasku.

Entah diselundupkan dengan cara bagaimana, seseorang melepaskan dua tikus besar yang langsung berkeliaran menghampiri anak-anak. Tentu saja suasana jadi riuh dengan jerit ketakutan. Begitu masuk ke kelas, aku menjerit kuat-kuat melihat tikus berbuntut panjang memanjat kaki mejaku. Di tengah hiruk-pikuk itu baru kusadari seorang murid perempuan menggelosor lemas di bangku depan. Sooyoung pingsan setelah seekor tikus lari berkeliling di bawah mejanya. Setelah mengancam tidak akan mengizinkan seisi kelas pulang sampai subuh, barulah dengan takut-takut ada tangan teracung mengaku sebagai pemilik dua tikus itu: tangan Lee Hong Ki!

Sebagai guru kelasnya, aku benar-benar mengurut dada. Catatan kejelekannya mengalahkan rekor yang sudah-sudah. Padahal baru tiga bulan, bagaimana kalau setahun? Bisa kena darah tinggi semua guru di sekolah ini.

Lewat pembicaraan dengan ayahnya, kuharap aku bisa mengorek tentang latar belakang Lee Hong Ki, karena kelakuannya yang sangat minta ampun itu. Ternyata ia sudah dua kali tinggal kelas dan gonta-ganti sekolah. Yang tertulis di buku laporan sekolahnya terdahulu, hanyalah bahwa Lee Hong Ki sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang bersangkutan.

Aku memang bukan lulusan fakultas psikologi, tapi dugaanku kuat kalau Lee Hong Ki mengalami gangguan mental. Di usianya yang ke-19, Lee Hong Ki tidak menunjukkan kemajuan berpikir seperti para remaja umumnya. Lee Hong Ki tetap berpola pikir seperti anak SD yang berumur 6 tahun.

Tapi dalam pertemuan kami, sang ayah kukuh berkeyakinan Lee Hong Ki hanya bermasalah dalam hal belajar dan kurang suka bergaul. Berulang kali aku membeberkan ulah Lee Hong Ki yang sangat tidak bisa ditolerir, tapi berulang kali juga ayahnya tidak bergeming.

“Kenakalan Lee Hong Ki sudah kelewatan Tn. Song Seung Hun.”

“Mungkin itu salah satu cara Lee Hong Ki agar bisa diterima teman-temannya di sini, Mr. Jang Na Ra. Saya pikir, kenakalannya masih dalam taraf wajar bukan? Kalau dia berniat untuk membakar sekolah atau mencabuli gurunya, nah itu baru serius! Beri kesempatan lagi saja, Mrs. Jang Na Ra. Saya jamin, ini tidak berlangsung lama. Saya akan mengajarnya bersikap lebih baik,” sanggahnya pasti.

Dengan terpaksa aku hanya bisa mengangguk-angguk, enggan membantah lagi. Percuma bicara dengan orangtua yang tidak terbuka seperti dia. Sejujurnya aku berharap apa yang dilakukan Lee Hong Ki memang hanya kenakalan biasa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih mengganggu, yang berbeda dalam dirinya dibandingkan murid-muridku yang lain.

Kadang aku melihatnya sebagai anak yang kuat sekali rasa mindernya dan begitu menarik diri, seperti kura-kura yang terus menyimpan kepala dalam rumahnya. Tapi kadang juga Lee Hong Ki tampil sebagai anak yang terlalu ingin cari perhatian. Belum lagi keanehan dengan cara bicara dan gerak jalannya yang kemayu, padahal Lee Hong Ki bertubuh besar. Sangat besar untuk ukuran anak seumurnya malah. Tingginya saja hampir 178 cm, melebihi tinggi ibu gurunya. Insiden di kelas pagi ini membuatku makin pasti dan berani bertaruh, ada sesuatu yang ganjil dalam diri Lee Hong Ki. Sayangnya aku belum tahu, apa itu.

Menjelang sore setelah mengajar untuk jam terakhirku di kelas siang, aku memberanikan diri menghadap Kepala Sekolah. Seperti sudah kuduga, Mr. Bae Yong Jun bereaksi sangat berang.

“Anda tahu anak itu bermasalah, tapi kenapa Anda meninggalkan kelas seenaknya? Tidak ingat kejadian bulan lalu?” gelegar suaranya sangat menyalahkanku.

“Saya sudah jelaskan berkali-kali, Mr. Bae Yong Jun, dan sudah pula minta maaf. Sakit perut itu datangnya mendadak, dan sangat membuat konsentrasi mengajar saya buyar. Akibatnya saya jadi alpa menghubungi guru piket….tapi cerita ini benar dan tidak saya karang-karang. Bukan maksud saya untuk mengelak dari tanggungjawab, Mr. Bae Yong Jun. Bagaimana lagi saya harus menjelaskannya?” keringat dingin terus membasahi telapak tanganku. Aku berdoa dalam hati beliau dapat mengerti alasanku kali ini.

“Anda tahu Park Shin Hye itu anak kesayangan Mr. Kim Min Joon? Kalau lukanya serius sehingga membutuhkan jahitan, bagaimana coba? Apa tidak ribut orangtuanya?” Mr. Bae Yong Jun mengepalkan tangan sambil menggeram. Aku menunduk merasa bersalah. Tapi, aku kan bukan paranormal yang sanggup mengetahui kejadian itu sebelumnya lalu mencegah agar tidak terjadi?

“Saya…saya bersedia menerima sanksi. Ini memang salah saya,” aku berusaha menegarkan suara, padahal dalam hati aku merintih. Tuhan, kenapa anak bandel itu tidak ditaruh di kelas Mrs. Lee Da Hae atau kelas Mr. Jang Hyuk saja? Mereka guru yang sudah senior, pasti bisa mengatasi tingkah Lee Hong Ki. Kenapa ia harus masuk ke kelasku, Tuhan? Kenapa ia harus menciptakan banyak masalah bagiku? Dan sekarang aku duduk seperti pesakitan di depan atasanku, kena teguran dan terancam oleh sanksi.

Suara Mrs. Kim Ha Neul di interkom memotong pembicaraan kami. “Mr. Kim Min Joon di saluran 3.” Jantungku serasa berhenti berdegup. Mr. Bae Yong Jun menghela napas, ”Kita lanjutkan nanti,” katanya sambil memberi tanda agar aku keluar ruangan.

Dengan gontai aku menyusuri lorong-lorong kelas. Mungkin Mr. Bae Yong Jun sekarang sedang dicaci-maki lewat telepon. Beliau dicaci maki untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Kalau memang aku harus mundur dari pekerjaanku sekarang, apa boleh buat. Kejadian tadi pagi tak bisa diulang lagi.

Hampir pukul enam sore dan aku masih bertahan di kelas yang sudah sepi, menunggu Mr. Bae Yong Jun memanggilku lagi. Sambil menghabiskan waktu aku merapikan isi kelas, mengosongkan lemari dari benda-benda tak terpakai. Aku segera menarik keranjang sampah yang hanya berisi sedikit kertas di dasarnya. Mataku tertumbuk pada amplop biru muda bergambarkan dua hati. Pinggirannya dihiasi ornamen pita dan bunga mawar. Sayangnya remasan tangan sudah membuat amplop manis itu menjadi kusut masai.

Bersambung…

Sabtu, 09 April 2011

The Next Story (FF)


Title : The Next Story
Genre : Family, Romance 17+
Author : Sweety Qliquers
Episode : 7 Chapter
Production : www.ff-lovers86.blogspot.com
Production Date : 28 Maret 2011, 03.25 PM
Cast :

Kim Tae Hee

Name
: 김태희 / Kim Tae Hee (Kim Tae Hui)
Nickname: Angel
Profession: Actress and model
Birthdate: 1980-Mar-29
Birthplace: Ulsan, South Korea
Height: 165cm
Weight: 45kg
Star sign: Aries
Blood type: O
Talent agency: Namoo Actors


Song Seung Hun

Name
: 송승헌 / Song Seung Hun (Song Seung Heon)
Nickname: Tough guy
Profession: Actor, model and singer
Birthdate: 1976-Oct-05
Birthplace: Suyuri, Seoul, South Korea
Height: 179cm
Weight: 70kg
Star sign: Libra
Blood type: B
Family: Brother and sister
Talent agency: Storm S Company


Lee Hong Ki

Name
: 이홍기 / Lee Hong Ki (Lee Hong Gi)
Profession: Singer and actor
Birthdate: 1990-Mar-02
Height: 178cm
Weight: 60kg
Blood Type: AB
Star sign: Pisces
Talent agency: F&C Music
Group : FT.Island


Park Shin Hye
Name: 박신혜 / Park Shin Hye (Bak Sin Hye)
Profession: Actress, model and singer
Birthdate: 1990-Feb-18
Birthplace: Paju, Gyeonggi, South Korea
Height: 163cm
Weight: 45kg
Star sign: Aquarius
Blood type: A

Park Ji Bin

Name: 박지빈 / Park Ji Bin
Profession: Actor
Birthdate: 1995-Mar-14
Star sign: Pisces
Talent Agency: JYP Entertainment


Extended Cast :
Lee Bum Soo
Park Shin Yang
Im Ye Jin
Ji Sung
Jo Jae Hyeon
Jung Ryeo Won
Son Ye Jin
Lee Dong Gun
Kang Yi Suk
Ryu Seung Ryong
Cha Seung Won
Bae Yong Jun
Sung Yu Ri


The Next Story

Chapter 1 – Song Seung Hun
Chapter 2 – Keluarga Gwangju
Chapter 3 – Lee Hong Ki & Park Shin Hye
Chapter 4 – Park Ji Bin
Chapter 5 – Australia
Chapter 6 – Rumah Sakit
Chapter 7 – Tiga Bulan Kemudian (Tamat)

The Next Story (Chapter 7-Tamat)


Chapter 7
Tiga bulan kemudian


Istirahat makan siang yang tidak terlalu panjang kali ini, kugunakan untuk menelepon Lee Hong Ki atau Park Shin Hye. Hari Minggu kemarin, ketika kuhubungi, ternyata mereka tidak menjenguk Song Seung Hun. Lagi-lagi, tugas kuliah yang harus diselesaikan secepatnya, yang menjadi alasan mereka. Maka kuminta hari ini, siapa pun yang tidak sibuk kuliah, harus menjenguk ayahnya dan mengabarkannya padaku hari ini juga.

“Ibu kapan pulang?” Lee Hong Ki lagi-lagi mempertanyakan hal itu.

“Satu minggu lagi.”

“Tidak sekalian mengurus paspor dan visa?”

Aku terdiam sejenak. Sudah banyak orang yang berpesan seperti itu padaku. Mumpung di Seoul, sekalian saja mengurus surat-surat keberangkatanku. Jadi nanti tidak repot lagi.

Padahal, hingga detik ini, kepastian keberangkatanku masih mengambang. Bukan ada yang menghambat — semua birokrasi rektorat berjalan lancar, tapi keraguanku sajalah yang menjadi penyebabnya. Aku tidak tega meninggalkan Song Seung Hun dalam jangka waktu lama. Dia membutuhkan aku. Hanya akulah orang yang dia paling kenal baik dalam ‘dunia mayanya’.

Lee Hong Ki meneleponku lima jam kemudian, persis setelah kelompok diskusiku selesai mengadakan presentasi. “Bagaimana, Lee Hong Ki. Sudah menjenguk Ayah?”

“Ya, Ayah baik-baik saja. Agak kurusan, tapi kelihatannya banyak kemajuan. Ayah sepertinya mengenaliku, dia bahkan menyebut namaku dengan jelas.”

Oh, rupanya interaksi yang terbangun saat mereka berdua berbicara tersambung dengan baik! Biasanya, Song Seung Hun tidak lagi mengenal anak-anaknya. Mungkinkah karena sudah cukup lama ketiga anak itu segan bicara dengannya?

“Ayahmu bilang apa?”

“Cuma beberapa patah kata saja, Bu. Ayah lebih asyik membaca koran.”

“Kau bertemu dengan Dokter Park Shin Yang?”

“Tidak. Aku cuma lima belas menit di sana, Bu. Jadwal kuliahku cuma kosong satu jam.” Aku mengerti kesibukan Lee Hong Ki. “Mungkin minggu depan, aku ke sana lagi. Aku akan menelepon Ibu lagi,” dia berjanji. Hatiku merasa sedikit tenteram mendengarnya.

Apa pun laporan Lee Hong Ki yang kudengar saat ini, sudah merupakan kabar baik. Kesehatan mental Song Seung Hun mengalami kemajuan waktu demi waktu. Hanya sayang, kemajuan itu tidak kurasakan secara langsung.

Aku sebenarnya sudah tidak sabar lagi di Seoul. Kalau saja kursus yang kutempuh sekarang ini tidak ada manfaatnya untuk meningkatkan kredit poin-ku sebagai Dosen, aku sudah menolaknya.

“Ini perintah Dekan. Mrs. Kim Tae Hee harus mau,” ucap ketua jurusan waktu itu mengenai alasan penunjukannya.

Ada maksud terselubung yang kutangkap dari perintah itu. Diam-diam, Mr. Ryu Seung Ryong, yang setahun ini menjabat sebagai dekan, tampaknya memang sengaja mengorbitkan aku
-thank’s God karena telah menunjuk sahabat karib Ji Sung Oppa sebagai dekanku- sehingga banyak pertemuan dinas penting yang melibatkan aku, seperti saat ini.

Memang tampaknya berlebihan dan sedikit curang, tapi aku menikmatinya. Hanya satu yang kutakutkan, beberapa kemudahan yang begitu sering kudapatkan ini, memancing rasa cemburu para seniorku. But, I don’t care!

Lee Hong Ki menepati janji yang dikatakannya seminggu lalu. Dia meneleponku di hari Senin berikutnya. “Ayah tadi menanyakan Ibu!” Laporannya membuat hatiku berbunga. Itu suatu kemajuan yang kedengarannya luar biasa!

“Aku menceritakan bahwa Ibu sedang ikut kursus di Seoul dan sebentar lagi akan sekolah di Australia. Nah, mau tahu apa kata Aya, Bu?”

“Apa? Ayah bilang apa?” aku tidak sabar mendengar ceritanya.

“Ibu hebat! Ayah teramat senang dan bangga mendengarnya! Katanya, itu merupakan mimpi Ibu sejak dulu! Benar begitu, Bu?”

Aku hampir menangis karena terharu dan bahagia. Ah, sudah sejauh itukah perkembangan kesehatan mentalnya? Menurut Dokter Park Shin Yang, bila Song Seung Hun sudah mulai dapat berinteraksi dengan orang lain selain diriku, berarti itu awal menuju pemulihan mentalnya. Berarti tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai tahap akhir.

Satu-satunya hal yang agak kusesali adalah, aku melewatkan saat-saat itu. Dia justru mengalami banyak kemajuan saat tiga minggu kutinggalkan. Mungkin kebahagiaan itu lebih bisa kurasakan bila perubahan besar pada dirinya mampu kulihat secara langsung. Ah, aku memang terlampau berlebihan!

“Ibu masih mendengarkan aku?” suara Lee Hong Ki tiba-tiba mengusik lamunanku.

“Ya, teruslah bercerita, Lee Hong Ki. Ibu mendengarkan ….”

“Saya sudah bisa mengobrol dengan Ayah, Bu. Katanya, Ayah ingin pulang dan berkumpul lagi dengan kita!”

Ah, Song Seung Hun tampaknya mulai menyadari keberadaannya selama tiga bulan terakhir ini. Aura kebahagiaanku berpendar-pendar.

“ Oh, ya! Kapan Ibu pulang, Park Ji Bin menanyakan ibu terus….”

“Besok. Dengan penerbangan paling pagi.”

Lee Hong Ki pun menutup teleponnya.

Selesai menyerahkan laporan kursus pada ketua jurusan, aku buru-buru menuju Jalan Kangsan, menemui Song Seung Hun. Aku berharap pula bisa bertemu dengan Dokter Park Shin Yang untuk mendengar analisis medisnya terhadap perkembangan mental Song Seung Hun. Satu paket hadiah khusus dari Seoul, sudah kupersiapkan pula untuk dokter itu. Bagaimanapun, aku merasa berutang budi padanya. Dia sudah banyak membesarkan hatiku.

Waktu yang kutempuh untuk sampai ke sana tidak kurang dari sepuluh menit. Jalan Kangsan lebih sepi dari biasanya, memudahkanku untuk meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi. Incheon memang begini, setiap pertengahan Agustus, saat liburan semester genap, kota ini terlihat sepi. Banyak mahasiswa perantauan yang pulang, sehingga kepadatan penduduknya berkurang hampir… setengahnya!

“Ny. Kim Tae Hee?” kehadiranku siang itu rupanya mengejutkan Dokter Park Shin Yang. “Katanya Anda ke Seoul?”

Aku tersenyum. Pasti dia tahu dari anak-anak.

“Ya, saya dinas kursus selama hampir satu bulan,” aku menjelaskan. “Bagaimana keadaan suami saya, Dokter? Ada perkembangan?”

“Banyak sekali kemajuan yang sudah dicapainya,” sorot matanya berbinar. Dia tampaknya menyimpan banyak berita baik untukku. “Tn. Song Seung Hun sangat menyukai terapi musik rupanya. Sehingga, setiap kali diadakan terapi musik, perasaannya jauh lebih relaks, dan ia banyak bercerita tentang dirinya….”

“Dia pintar bermain piano dan suka musik klasik, Dok,” potongku cepat.

“Oh, begitu?“ Dokter Park Shin Yang tampaknya menemukan kunci jawabannya. “Kelihatannya kami sudah menemukan terapi yang paling cocok untuknya. Melihat perkembangannya sekarang, saya yakin, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, kesehatannya sudah akan pulih kembali.”

Angin sejuk meniup-niup seluruh tubuhku. Dan, untuk kali pertama, dalam waktu delapan bulan terakhir ini, aku merasakan kelegaan yang dalam. Hamparan rerumputan hijau yang mahaluas terbentang di depan mataku. Sangat menyejukkan.

Maka, dengan perasaan tidak sabar, aku menemui Song Seung Hun. Dia berada di taman samping, sedang membaca koran. Sepintas melihatnya, dia tak banyak berubah. Buktinya, dia tidak begitu antusias melihat kehadiranku. Dia lebih tertarik pada bacaannya.

Apakah Dokter Park Shin Yang hanya membesar-besarkan perubahan kecil yang dialami Song Seung Hun? Apakah psikiater itu hanya memberikan harapan berlebihan padaku? Lalu, bagaimana dengan cerita Lee Hong Ki waktu itu, apakah sekadar kebohongan saja? Angin sejuk itu cuma sekadar angin surga….

Kusodorkan satu per satu makanan yang kubawa dari rumah, tapi yang disentuhnya hanya sepotong donat dan jus mangga kesukaannya.

“Perekonomian kita sekarang benar-benar memprihatinkan, Kim Tae Hee,” itulah ucapan pertamanya setelah lima menit pertemuan kami. Sambutan seperti ini sama sekali tidak kuharapkan. Tidakkah dia sadar, hampir satu bulan kami tidak bertemu?

“Apa kabar, Yeobo?” dengan ‘sindiran halus’ aku mencoba mengingatkannya, bahwa kami sudah lama tidak bertemu. Nah, rupanya barulah dia menyadari bahwa aku sudah lama hilang dari pandangannya selama ini!

“Baik, Baik sekali. Bagaimana kabarmu? Lee Hong Ki cerita, kau kursus di Seoul,” dia menyingkirkan koran yang dibacanya.

Ya, Tuhan. Apa yang dituturkan Lee Hong Ki dan Dokter Park Shin Yang kepadaku bukanlah sekadar omong kosong belaka. It’s amazing!

“Ya, aku baru pulang tiga jam yang lalu, dan langsung ke sini. Aku merindukanmu….” Wajahnya memerah mendengar ucapanku yang spontan. Dia kelihatan salah tingkah ketika membetulkan letak kacamatanya.

Song Seung Hun! Kita bukan anak kemarin sore lagi yang baru bertemu! Kau dan aku sudah sepuluh tahun hidup bersama….

Lee Hong Ki bilang, kau akan ke Australia, benar?”

Dia lupa, aku juga pernah bercerita langsung kepadanya tentang hal itu.

“Ya, Yeobo. Kalau kau mengizinkan….”

Dia menatapku. Kami bertatapan lama sekali.

“Prestasi kerjamu hebat, Kim Tae Hee. Loncatannya begitu tinggi!“ pujiannya bernada sendu. Di tengah keharuan, aku tersenyum.

“Kau lebih hebat lagi, jika akhirnya bisa mengatasi situasi ini,” aku balik memujinya. Tampaknya tema pertemuan kami hari ini adalah saling memberikan pujian dan semangat! Aku tersenyum dengan perasaan lega.

“Lama kita tidak bicara seperti ini, Kim Tae Hee!” rupanya Song Seung Hun merasakan hal yang sama. Ya, ya. Seolah sudah ribuan tahun lamanya…. Dan, apakah ia juga sadar, bahwa kami sudah lama tidak bersentuhan satu sama lain?

Seperti mengerti keinginanku, Song Seung Hun menyentuh tanganku. Sentuhan yang lembut dan hangat itu begitu berarti bagiku! Saat itu juga kupastikan, bahwa aku harus mengurus surat-surat keberangkatanku secepat mungkin!

Tamat
Copyright Sweety Qliquers

The Next Story (Chapter 6)


Chapter 6
Rumah Sakit


Song Seung Hun terus bertingkah. Kadang-kadang, dia tidak bicara seharian. Kadang-kadang, sepanjang hari dia bisa bicara apa saja seputar pekerjaannya. Kalau sudah begitu, pasti selalu diakhiri dengan amukannya yang mengerikan.

Kondisi kejiwaannya makin buruk. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengatasinya. Bahkan, dalam satu minggu ini, beberapa tetangga melapor, bahwa mereka sering dilempari oleh Song Seung Hun dengan benda apa saja yang kebetulan dipegangnya, apabila mereka lewat di depan rumah.

Setiap kali laporan itu terdengar, aku terpaksa mengemis maaf dan pengertian pada mereka. Sejauh ini, mereka memang bisa mengerti. Tapi, sampai kapan? Bahkan kudengar, mulai populer sebutan yang ampuh untuk menakut-nakuti anak-anak di sekitar rumah kami. “Awas! Ada Paman Song Seung Hun! Awas, jangan dekat-dekat rumah Park Ji Bin!”

“Ya, depresi total yang diderita Tn. Song Seung Hun agaknya sudah menggejala kepada Skizofrenia (Gangguan Kejiwaan).” Keterangan dari Dokter Park Shin Yang, psikiater yang merawat Song Seung Hun selama ini, seperti sebuah vonis. Namun, ia coba menenangkanku. Katanya, itu hanya penyakit klinis kejiwaan biasa. Song Seung Hun bisa sembuh dengan pengobatan medis dan terapi mental yang intensif. Dan, itu hanya bisa dilakukan jika Song Seung Hun dirawat di rumah sakit jiwa.

Ah, apa benar demikian? Selama ini aku pontang-panting mengusahakan berbagai pengobatan bagi Song Seung Hun. Bahkan, pengobatan alternatif pun kulakukan. Aku mulai yakin, ada seseorang yang menyetir emosinya dan membawanya hingga terperosok ke dalam ‘jurang’ seperti ini! Namun, semuanya tidak menjamin kesehatan mentalnya. Benarkah aku harus membawanya ke rumah sakit jiwa? Memikirkannya saja aku sudah mual!

“Ibu!” Park Ji Bin tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarku. “Ayah ngamuk lagi! Semua kertas kerjanya berantakan, dibuangnya ke mana-mana! Coba Ibu lihat dulu….”

“Tolong panggil Lee Hong Ki Hyung saja, Sayang. Minta kakakmu itu menenangkan Ayah. Ibu capek sekali,” aku menanggapinya tanpa semangat. Kejadian ini sudah terlalu sering. Sejak delapan bulan lalu! Ah, apa boleh buat! Maafkan aku, Song Seung Hun. Mungkin benar saran dari dokter jiwa yang merawatmu. Kami harus membawamu ke rumah sakit jiwa!

Ugh. Aku benci mendengar istilah ‘rumah sakit jiwa’, sepertinya terlalu menghakimi pasiennya. Seharusnya istilah itu diganti dengan ‘pusat rehabilitasi mental’ atau apalah. Lebih baik aku memakai istilahku sendiri saja!

Anak-anak akhirnya kuajak bicara, begitu pula keluarga Song Seung Hun, tentang jalan keluar yang cuma satu-satunya ini. Kukatakan pula biaya yang harus ditanggung setiap bulannya. Lumayan mahal, karena Song Seung Hun mendapat perawatan khusus dan juga ruangan khusus seperti yang kuinginkan. Tapi, kuyakinkan pada mereka, itu semua belum seberapa jika harus dibandingkan dengan kesembuhan Song Seung Hun!

“Apa ini ada kaitannya dengan kepergianmuke Australia?” Cha Seung Won Oppa, kakak Song Seung Hun, tampak agak keberatan. Dia lebih percaya, adiknya bisa sembuh dengan pengobatan alternatif. Usaha itu masih saja terus dicobanya.

“Bisa jadi, Oppa. Kalaupun Song Seung Hun belum dapat disembuhkan sebelum keberangkatan saya, paling tidak, itu tempat terbaik baginya saat saya pergi nanti. Saya merasa lebih tenang. Begitu juga anak-anak. Ini jalan satu-satunya bagi kita semua, Oppa,” aku berusaha meyakinkan. Mereka akhirnya setuju. Itulah yang kusuka dari keluarga Incheon ini, tidak keras kepala dan sok mengatur seperti keluargaku di Gwangju!

Aku mengajak Song Seung Hun ke rumah sakit jiwa satu minggu kemudian, bersama Park Shin Hye dan Lee Hong Ki. Park Ji Bin tidak kuajak, walau dia memaksa ikut. Aku takut, kondisi kejiwaannya yang belum stabil, akan terpengaruh keadaan di sana.

Rumah sakit itu luas sekali, walau tampak tua. Juga sangat bersih, dan dari luar, kelihatan begitu tenang. Tapi, ketika masuk ke dalam dan berjalan di sepanjang lorong-lorong pusat rehabilitasi mental itu, beberapa kali aku terkaget-kaget karena tingkah laku pasien-pasiennya.

“Tuan…,” seorang perempuan muda, mendekati Lee Hong Ki, “mau cari saya, ya? Wah, maaf, jangan dikira karena saya ditinggal suami, saya mau denganmu!” Dia menjulurkan lidahnya, meledek Lee Hong Ki. Dengan susah payah aku dan Park Shin Hye menahan tawa.

Dokter Park Shin Yang, psikiater Song Seung Hun yang menemani kami berorientasi, dengan halus menyuruhnya pergi.

“Kenapa dia, Dok?” mataku mengiringinya pergi menjauh. Mulutnya masih komat-kamit.

“Ditinggal suaminya menikah lagi.”

Oh, pantas! Tentu sakit sekali rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai!

“Kalau yang itu?” kataku, menunjuk seorang wanita separuh baya, yang sejak aku datang ke rumah sakit ini, sudah menyita perhatianku. Rambutnya disanggul acak-acakan dan terus saja menari dengan gerakan yang begitu gemulai.

“Dia bekas penari istana. Baru dua bulan berada di sini, dan keadaannya sudah jauh lebih baik. Awalnya dia suka…telanjang!” jelas Dokter Park Shin Yang. Tentu dia tidak bermaksud menggodaku, namun penjelasannya membuat wajahku memerah. Aku mendengar Lee Hong Ki dan Park Shin Hye mengikik di belakang. Huss!

Dokter Park Shin Yang lalu mengajak kami berbelok ke kanan, memasuki kamar yang sudah dipersiapkan untuk Song Seung Hun. Kamar itu luas dan bersih, rasanya cukup nyaman untuk ditempati suamiku.

“Sekarang kita berada di mana?” Song Seung Hun tiba-tiba bertanya. Kulihat kebingungan di wajahnya. Sorot matanya mendadak liar melihat pintu kamarnya setengah tertutup terali. Lingkungan ini jelas asing baginya!

“Ini pusat rehabilitasi mental, Yeobo. Di sini kau akan tinggal beberapa waktu. Anggap saja rumahmu sendiri, ” aku memilih kata-kata dengan hati-hati.

“Jaraknya dari kantor, jauh tidak? Kalau lebih jauh, aku tidak mau….”

Aku menghela napas panjang, bertukar pandang dengan anak-anak. Memang semakin jauh saja, Song Seung Hun. Bahkan, tidak tertempuh lagi!

“Aku mau pulang saja, Kim Tae Hee….” Dia menarik tanganku, keluar dari kamar itu. Aku meminta pertolongan Dokter Park Shin Yang lewat tatapan mataku. Dia cepat menangkap sinyal itu.

“Kantor Tn. Song Seung Hun justru pindah kemari. Jadi, Tuan bisa ke kantor jam berapa saja,” bujuknya, lembut.

Song Seung Hun terdiam. Dia mengangguk-angguk, menerima ‘kepindahannya’ dengan senang. Mendadak, tempat itu disukainya.

“Anda dan anak-anak bisa meninggalkannya sekarang. Biarkan Tn. Song Seung Hun beristirahat dulu,” Dokter Park Shin Yang mengajak kami keluar. Song Seung Hun mengikuti dari belakang. Dia tidak mengizinkan aku dan anak-anak pergi.

“Kami pulang sebentar ya, Yeobo. Besok kemari lagi menjengukmu.“ Tapi, tanganku dipegangnya erat-erat. Pergelanganku sakit. Aku hampir menangis karena rengkuhan itu.

“Sebentar lagi dia akan mengamuk,” aku mewanti-wanti Dokter Park Shin Yang. Aku sudah paham betul gejalanya.

Seorang suster disuruhnya mengambil obat penenang, untuk berjaga-jaga. Sebelum suster itu kembali, Song Seung Hun sudah benar-benar mengamuk.

“Kalau kau pulang, aku ikut pulang! Aku tidak mau di sini bersama orang-orang aneh ini!” Dia melemparkan pena yang semula berada di sakunya ke arah Dokter Park Shin Yang. Aku meminta Lee Hong Ki dan Park Shin Hye segera menjauh.

Dua orang suster datang dan menenangkan Song Seung Hun. Dokter Park Shin Yang menyuntikkan sesuatu di lengannya, mungkin obat penenang. Beberapa menit kemudian, Song Seung Hun tertidur pulas.

“Tn. Song Seung Hun sudah tenang. Nyonya dan anak-anak bisa pulang sekarang….”

Justru sekarang aku yang tidak tega meninggalkannya. Langkahku jadi berat. Aku takut, kalau nanti terbangun, Song Seung Hun mencariku. Dan, tentu dia akan mengamuk kembali melihatku tidak ada!

“Ayo, pulang, Bu. Sudah sore,” Park Shin Hye mengingatkanku. Aku mengangguk, menatapnya sedih. Perlahan aku mendekati suamiku dan mencium pipinya sebelum dengan berat hati meninggalkan tempat itu.

***

Mobil keluaran tahun 2000 yang biasa kupakai ke kampus akan kujual. Iklannya sudah kupasang sejak dua minggu lalu di beberapa harian Incheon. Sebenarnya, beberapa orang sudah menawarnya, tapi belum ada yang cocok. Jadi, mobil itu belum dapat kulepas.

Pernah ada seorang pria yang menawar mobil itu jauh di bawah harga yang kutawarkan. Alasannya, meskipun dari luar kelihatan mulus, mesin mobil itu sudah tak begitu baik lagi: mudah panas, dan sebagainya.

Aku betul-betul tersinggung karenanya. Pertama, aku tersinggung mendengar tawarannya yang begitu rendah, selisih empat puluh juta dari tawaranku. Mentang-mentang aku wanita, dia pikir aku tidak tahu harga pasaran kendaraan.

Yang kedua, dia sudah berani-beraninya membodohiku dengan mengatakan bahwa mesin mobil itu sudah tidak baik lagi. Padahal, aku tahu betul, setelah Song Seung Hun tidak merawatnya lagi, masih ada Lee Hong Ki yang begitu menyayangi dan merawatnya dengan baik.

“Seharusnya, Ibu pasang iklan lengkap dengan harganya. Jadi, orang yang mau beli, bisa berpikir-pikir dulu sebelum datang. Kalau mereka menawar, ya, paling tidak, tidak terlalu jauh dari penawaran kita,” usul Lee Hong Ki, yang kupikir ada benarnya juga. “Tapi, ya, sudahlah, Bu. Kita tunggu saja. Masa’ iya, mobil bagus begini, tidak ada yang mau?”

Benar saja. Seorang rekanku, rupanya telah membantu menawarkannya pada seorang dosen fakultas teknik tanpa sepengetahuanku. Dia mendatangiku di kantin kampus.

“Mobil Mrs. Kim Tae Hee mau dijual?” tanyanya.

“Ya,” aku menjawab tanpa basa-basi. “Itu mobilnya!” Dia mengikuti arah telunjukku. Makan siang kali ini kuselesaikan dengan tergesa. Tak sabar, aku segera mengajak calon pembeli itu menuju ke tempat parkir.

Dengan antusias dia memeriksa mobil itu. Aku menawarinya untuk mencobanya berkeliling kampus. Dia tidak menolak. Hampir sepuluh menit dia berkeliling kampus sebelum mengembalikannya padaku.

“Saya akan kabari Ibu dua hari lagi,” ucapnya, setelah beberapa saat kami mengadakan negosiasi harga. Jabatan tangannya yang erat tampaknya seperti sebuah kalimat, “Oke. Deal.”

Dua hari kemudian, calon pembeli yang bernarna Mr. Bae Yong Jun itu datang menemuiku, dan menyatakan persetujuannya. Transaksi dilakukan seminggu lagi, menunggu dia kembali dari sebuah seminar di luar kota.

“Kalau nanti mobil kita laku, kita jalan-jalan ke Pulau Jeju ya, Bu!” Park Ji Bin mulai merayuku. “Atau kita ke Thailand, seperti keluarga Paman Cha Seung Won!”

“Uang itu tidak akan dipakai untuk macam-macam, tapi untuk biaya ayahmu dan untuk kebutuhan kalian kalau nanti Ibu jadi berangkat.”

“Ayah lagi… Ayah lagi!” Park Ji Bin mengomel. “Ibu ini lebih sayang Ayah….”

“Apa sebaiknya kita beli mobil yang lebih murah, biar Ibu tidak repot ke kampus?” Lee Hong Ki mengusulkan.

Aku menggeleng. “Tak usah. Ibu bisa pinjam motor kalian, ’kan? Untuk sementara, Ibu juga tak keberatan naik kendaraan umum.”

Ketiga anak-anak itu saling pandang. Aku mengerti kekecewaan mereka, tapi terpaksa kuabaikan.

“Masa’ kita tidak beli apa-apa?” Park Ji Bin merengek lagi. “Uang Ibu kan banyak. Kenapa, Ibu jadi pelit begini?”

Ekspresi kekecewaan mereka begitu kuat. Lee Hong Ki dan Park Shin Hye yang kukira bisa dengan mudah diberi pengertian, ternyata sama susahnya dengan Park Ji Bin. Mereka kira hasil penjualan mobil itu tidak akan habis hanya untuk biaya rumah sakit ayahnya. Dasar anak-anak! Mereka tidak berpikir panjang, berapa lama mereka kutinggalkan. Dan, berapa lama mereka bisa bertahan hidup, jika tidak mencoba berhemat sedini mungkin.

“Oke, kalau sikap kalian seperti itu, penjualan mobil itu Ibu batalkan. Biar tidak ada tuntutan macam-macam. Dan, Ayah, kita keluarkan saja dari rumah sakit. Lebih baik, Ibu juga batal sekolah lagi ke Australia,“ aku mengancam.

“Iya?”

“Jangan, Bu,” suara Lee Hong Ki terdengar pelan.

“Park Shin Hye?”

“Tak usah, Bu.” Seperti biasa, dia mengekor keputusan Lee Hong Ki.

“Park Ji Bin?”

Dia menggeleng tanpa suara. Bibirnya mengecil. Pembicaraan malam itu akhirnya ditutup dengan persetujuan sepihak. Aku tahu, mereka kecewa pada keputusanku. Park Ji Bin mengataiku sebagai ‘otoriter’, tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang berani menentangku. Mungkin mereka sadar, perdebatan yang panjang tidak mengubah pendirianku sama sekali. Bagaimanapun, juga, ini demi kepentingan bersama!

Akhirnya transaksi itu benar-benar terjadi. Anak-anak dan dua orang keluarga Song Seung Hun menjadi saksi. Dengan berat hati, aku menyerahkan surat-surat bukti kepemilikan mobil.

“Mobil ini untuk istri saya. Kado ulang tahun perkawinan kami,” Mr. Bae Yong Jun menjelaskan, tertawa. Kami bersalaman. Perasaan nyeri menyerang batinku melihat mobil itu melaju perlahan keluar dari garasi. Sewaktu ia menghilang di tikungan jalan, pelupuk mataku terasa panas.

Ditunjuknya aku sebagai tuan rumah arisan ibu-ibu kompleks perumahan kami kali ini, membuatku terkejut. Agak kebingungan, aku mencoba menolaknya. Tapi, mereka sudah sepakat, menunjuk rumahku untuk arisan berikutnya. Lucu! Seharusnya penunjukan itu berdasarkan hasil kocokan, seperti aturan main selama ini, bukan lewat main tunjuk seperti ini. Tapi, protesku tidak mereka dengar.

“Ayolah, Ny. Kim Tae Hee!”

“Sudah lama kami ingin mencicipi makanan Gwangju Ibu Dosen….”

Rayuan mereka macam-macam. Padahal, aku tahu persis, mereka semua punya satu ‘misi’: masuk ke rumahku dan menyelidiki keadaan di dalamnya untuk memastikan apakah benar Song Seung Hun dipasung, seperti isu yang tengah santer beredar di sekitar perumahan ini!

Aku tidak tahu persis siapa yang menyebarkan isu itu. Ketidakberadaan Song Seung Hun selama dua bulan ini, agaknya telah menimbulkan dugaan macam-macam. Tetapi, sebagian besar, mereka memang menuduhku telah memasung Song Seung Hun!

Keterlaluan! Benar-benar keterlaluan! Tapi, aku malas untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada siapa pun. Biarlah mereka menemukan jawaban masing-masing.

“Bagaimana Ny. Kim Tae Hee?” Ibu RT meminta kepastianku. Gerombolan ibu-ibu di kompleksku ini benar-benar tidak putus asa!

“Baiklah.” Jawabanku akhirnya disambut dengan tepukan. Mereka tampaknya puas melihat aku terpojok seperti itu.

Aku mempersiapkan acara arisan sebaik mungkin. “Buka semua kamar, Park Shin Hye. Biar mereka tahu, tidak ada yang namanya kamar pasungan di sini!” perintahku pada Park Shin Hye. Semua pintu kamar dibuka, bahkan pintu gudang yang biasanya terkunci, juga terbuka.

“Nanti mereka kira, Ayah… kita pasung di atas, Bu.”

“Kalau perlu, akan Ibu ajak pula mereka ke atas. Biar mereka puas!” nada suaraku meninggi. Aku agak emosi bila mengingat ‘misi utama ‘ mereka datang ke rumah kami. Pakai alasan arisan segala!

Peserta arisan datang satu per satu. Kuperhatikan, ada saja di antara mereka yang mencuri pandang, mengelilingi situasi rumah kami lewat ekor mata mereka. Beberapa orang, bahkan Ibu RT sendiri, secara terang-terangan menjelajahi seluruh lantai bawah.

“Kalau gerah di bawah, boleh naik, ke lantai atas!” aku sengaja memancing reaksi mereka. Pucuk dicinta, ulam tiba. Ibu RT tentu saja segera menyambut baik usulku. Berbondong-bondong mereka naik. Aku mengangkat bahu, bertukar pandang dengan Park Shin Hye. Dia kulihat sama geramnya denganku. Tingkah mereka terkesan seperti polisi yang sedang menyelidiki sesuatu saja!

“Rumah Ny. Kim Tae Hee besar juga, ya?” Ibu RT turun dari lantai atas dengan perasaan kecewa. ‘Kamar pasungan’ yang dicarinya tidak ditemukan. “Ada berapa kamar semuanya di rumah ini, Ny. Kim Tae Hee?”

“Oh, cuma ada empat. Ibu-Ibu sudah melihat semuanya, ‘kan?” sindirku.

Dia mengangguk. “Tapi, kenapa, saya tidak melihat Tn. Song Seung Hun, ya? Ke mana, dia?”

Nah, akhirnya! Beruntung aku sudah mempersiapkan jawabannya jauh-jauh hari. “Oh, suami saya baru saja keluar bersama Lee Hong Ki dan Park Ji Bin.”

“Tapi, saya memang lama sekali, tidak melihat Tn. Song Seung Hun, ke mana saja? Dinas ke luar kota?” pertanyaan itu jelas basa-basi yang sangat berlebihan. Aku ingin muntah melihat sikap ibu-ibu itu. Jelas-jelas mereka tidak buta, melihat keadaan suamiku. Bagaimana mungkin mereka masih menanyakan pekerjaannya?

“Ada. tidak ke mana-mana. Kalau mau bertemu, sebentar lagi juga Song Seung Hun dan anak-anak pulang….”

Arisan telah selesai, tapi Ibu RT dan beberapa tetangga lainnya belum juga pulang. Mereka masih asyik bercerita tanpa menghiraukan isyarat keberatanku terhadap keberadaan mereka di rumah ini. Mungkinkah mereka benar-benar ingin menunggu Song Seung Hun pulang?

Isu itu makin merebak saja. Walau sudah membuktikan bahwa kamar pasungan itu tidak ada, mereka tetap percaya aku memang melakukannya. Hanya, mereka tidak tahu di mana tempatnya.

Tetapi, syukurnya, sejak arisan itu, kepercayaan mereka terpecah. Hanya sebagian saja yang percaya, sebagian lagi sudah tidak. Bukan itu saja, sebagian dari mereka bahkan sudah dapat berpikir secara rasional.

“Ny. Kim Tae Hee itu dosen, tak mungkin melakukan cara seprimitif itu.” Park Shin Hye pernah mendengar ucapan seperti itu secara tidak sengaja.

“Kelihatannya, yang paling ngotot memojokkan kita justru tetangga sebelah, Bu. Kata orang-orang, dia juga yang pertama kali menyebarkan isu itu….”

“Hus! Tahu dari mana?”

“Teman Park Ji Bin yang bilang begitu. Bibi Sung Yu Ri itu sering menggosipkan kita dengan orang dari blok depan!”

Jika demikian, berarti dugaanku selama ini benar. Hanya, aku tidak mau mengungkapkannya. Ny. Sung Yu Ri, tetangga sebelah, memang ‘biang gosip. Dia selalu ingin tahu tentang kehidupanku dan Song Seung Hun. Sepertinya, aku ini seorang selebriti yang kehidupan pribadinya begitu menarik untuk diketahui dan ceritanya bisa dijual ke infotainment.

“Ibu harus bicara dengan Bibi Sung Yu Ri, Bu.” Sudah berkali-kali Park Shin Hye memintaku untuk tidak berdiam diri atas kebohongan itu. “Kalau tidak, dia akan terus bicara macam-macam.”

“Ibu tak mau ribut,” jawabku, santai. Park Shin Hye kecewa pada sikapku. Dia langsung meninggalkan ruang tengah itu.

Aku bukan tidak ingin mengadakan pembelaan. Tapi, kalau Ny. Sung Yu Ri kutemui dan memintanya untuk berhenti bicara tentang keadaan kami, itu hanya akan memperpanjang permasalahan.

Dari kali pertama isu itu sampai ke telingaku, aku sudah tidak punya keinginan untuk menggubrisnya, atau berusaha untuk mengklarifikasi berita itu. Ya, buat apa? Aku yakin, tanpa banyak bicara pun, isu itu teredam dengan sendirinya!

Bersambung…

The Next Story (Chapter 5)


Chapter 5
Australia


Today is very great day. Thank’s, God! Aku betul-betul seperti melayang, tidak sedang menginjak tanah. Obsesiku selama ini akhirnya tercapai juga! Beberapa dosen yang sepertinya sudah mendapat bocoran tentang beasiswa magister yang kudapat, menyalamiku di kantor selepas aku menghadap Dekan.

“Wah, Australia!” Wajahku memerah digoda seperti itu. “Selamat, ya? Kapan berangkat?”

“Mungkin semester depan. SK-nya saja belum keluar! Baru pemberitahuan lisan.”

“You are so lucky, Kim Tae Hee!” pujian itu entah bernada apa. Aku tak punya waktu menganalisisnya. Tapi, bagaimanapun, aku senang mendengarnya.

Di rumah, anak-anak kukabari berita gembira itu. Begitu pula Song Seung Hun. Namun, dia, seperti biasa, tidak merespons apa yang kuceritakan.

“Ibu sudah tahu studi di mana?” Lee Hong Ki bertanya dengan antusias.

“Perth,” jawabku gembira, sembari membayangkan Negara Kanguru yang sudah lama kuidamkan itu.

“Australia itu seperti apa, Bu?” celetuk Park Ji Bin, mengernyitkan alis. Seperti kakek-kakek saja lagaknya!

“Yang jelas, penduduknya berkulit putih dan rambutnya pirang. Lalu, ada binatang kanguru dan koala yang lucu. Iya, kan, Bu?” sahut Park Shin Hye. “Kau mau ikut Ibu, Park Ji Bin, seperti ke Gwangju kemarin? Asyik, ya, jalan-jalan terus. Tidak usah sekolah!”

Dengan polos Park Ji Bin mengangguk.

“Ah, nanti pulangnya kau sombong. Ke Gwangju saja ceritanya setahun!” Godaan Park Shin Hye membuat Park Ji Bin cemberut.

“Ayah bagaimana, Bu?” pertanyaan Lee Hong Ki membuatku tersadar. Ini masalah paling sulit yang harus kujelaskan kepada mereka. Bagaimanapun, aku bukan wanita karier yang melupakan keluarga! Aku tahu, dari nada bertanya Lee Hong Ki, ia khawatir aku tidak memperhitungkan ayahnya dalam rencana-rencanaku selanjutnya.

Aku memandang Song Seung Hun. Ia masih serius menulis-nulis sesuatu. Gayanya persis seperti sedang mengerjakan proposal ketika ia masih aktif bekerja dulu! “Ibu akan bicara pada Paman kalian. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya,” aku menghela napas panjang dengan hati gundah.

Benar saja, kebahagiaanku cuma bertahan beberapa minggu. Setelah itu, redup kembali. Kebimbanganku, membuatku meminta kebijakan dekan agar menunda keberangkatanku sampai tahun depan. Pertimbanganku hanya satu: apa lagi kalau bukan Song Seung Hun dan, tentu saja, anak-anak.

“Program ini tidak bisa ditunda, Mrs. Kim Tae Hee. Itu kebijakan rektorat, bukan saya,” suara berat Mr. Ryu Seung Ryong terdengar, menjawab permohonanku.

“Berarti, ada yang akan menggantikan saya?” Aku menatapnya ragu.

Dia mengangguk. Wajahnya yang keras, mengingatkanku pada ayahku.

“Kalau karena suamimu tidak mengizinkan, apa tidak sebaiknya dibicarakan lagi, Mrs. Kim Tae Hee? Ini kesempatan sangat baik untuk jenjang karier anda. Tidak semua orang, bisa mendapat kesempatan emas seperti ini….”

Aku terdiam di ruang dekan itu. Alasan yang kuberikan padanya memang tidak terlalu kuat, sehingga tidak cukup memaksanya untuk menaruh kasihan padaku. Ah, kalau saja kukatakan alasan yang sebenarnya, mungkin dekan itu dapat mengerti kesulitanku. Tapi rasanya, sulit sekali. Lidahku kelu mengungkapkannya, untuk tujuan apa pun juga. Ya, itu kan sama saja membuka aib keluargaku!

“SK akan keluar dua bulan sebelum keberangkatan. Masih ada waktu untuk berpikir. Tapi, saya sangat berharap anda bisa berangkat. Biar tidak ada berita buruk bagi kakak anda!”

Kalimatnya yang terakhir menyisakan pertanyaan di benakku. Apa memang benar bukan karena Ji Sung Oppa, kakakku, yang berada di balik kesuksesanku mendapatkan beasiswa ini? Ah, mengapa aku mulai mencurigai kolusi antara dua guru besar yang bersahabat karib itu?

Jika benar begitu, berita ini sudah pasti menyeberang pula ke Gwangju, dan mampir di telinga orang-orang yang tidak pernah kuharapkan untuk mengetahuinya. Bukannya aku tak ingin berbagi kabar gembira, tapi untuk saat sekarang, rasanya belum klop waktunya bagi mereka untuk menerima berita itu. Mereka tentu mencecarku dengan berbagai pertanyaan, bila aku tidak jadi berangkat ke Australia, atas permintaan sendiri pula. Itu yang tidak aku mau!

Maka, aku ke luar dari ruang dekan dengan aura hitam yang melekat pekat di wajahku. Ah, hidup memang dilematis!

Bersambung…

The Next Story (Chapter 4)


Chapter 4
Park Ji Bin


Perkuliahan baru berjalan lima belas menit ketika telepon genggamku berbunyi. Dari rumah. Pasti terjadi apa-apa di sana. Buru-buru aku ke luar ruangan.

“Ada apa, Park Shin Hye?” tampaknya, urusan melapor jadi bagian Park Shin Hye.

“Park Ji Bin, Bu…,” ucapannya yang sepotong itu membuatku panik. Ada apa lagi dengan anak itu. Tiga minggu yang lalu dia berkelahi. Dan, baru beberapa hari ini lebam di wajahnya sembuh. Kini apa lagi ulahnya?

“Kenapa dia? Berkelahi lagi?”

“Ya, Bu. Tapi, kali ini benar-benar babak belur, Bu! Ibu pulang dulu, lihat keadaannya!” suara Park Shin Hye terdengar begitu khawatir.

“Babak belur bagaimana, Park Shin Hye?” Tapi, aku tak bisa mendengar jawaban Park Shin Hye, baterai HP-ku drop. Hubungan terputus.

Aduh, bagaimana ini? Perkuliahan baru selesai dua jam lagi. Belum perjalanan ke rumah. Aku lalu kembali ke kelas. Dengan berat hati kukatakan kepada para mahasiswaku bahwa perkuliahan kali ini harus ditunda dulu. Aku buru-buru menuju tempat parkir. Kupacu mobilku dengan kecepatan lumayan tinggi, membelah Jalan Namchoseon.

Seharusnya, sebelum itu aku minta izin kepada Ketua Jurusan, tapi aku tidak banyak waktu untuk melakukannya. Semoga ketidakdisiplinanku yang sekali ini saja, tidak memengaruhi kredibilitasku sebagai calon penerima beasiswa magister kelak!

Sampai di rumah, suasana sepi. Beberapa kali kupanggil Park Shin Hye, Lee Hong Ki, dan Park Ji Bin secara bergantian, tapi tidak seorang pun yang muncul. Hanya Song Seung Hun yang kulihat, tapi seperti biasanya dia tidak menghiraukan panggilanku. Dia sibuk menulis-nulis sesuatu di meja kerjanya.

“Cari anak-anak, Ny. Kim Tae Hee?” tetangga sebelah rumah menyapaku dari teras samping. Aku mengiyakan. Dia lalu memberitahukan, bahwa anak-anak pergi ke Dokter Lee Bum Soo, yang di ujung kompleks, mengantar Park Ji Bin yang bibirnya jontor dan hidungnya terus-menerus mimisan.Ugh.

Baru saja akan kususul, anak-anak sudah pulang. Mereka menggandeng Park Ji Bin yang babak belur. Baju seragamnya dipenuhi bercak darah. Sepatunya kotor penuh lumpur tebal yang berbau tidak sedap.

Tanpa banyak kata, kuseret dia masuk dan menginterogasinya. Lee Hong Ki beberapa kali mengingatkan aku untuk sabar, tapi suaraku makin menggelegar saja. “Kau berkelahi dengan siapa lagi, hah?” aku mengguncang-guncang tubuhnya, jengkel. Wajahnya yang terluka meringis, tapi aku tidak peduli. Itu akal bulusnya saja untuk meredakan kemarahanku.

“Aku tidak salah, Bu….”

“Ibu tidak tanya siapa yang salah, tapi dengan siapa kau berkelahi? Dengan siapa, hah?”

“Kang Yi Suk…,” jawabnya, hampir tak terdengar. Wajah bulatnya tertunduk.

“Kang Yi Suk yang ayahnya polisi itu?” sergahku.

Dengan pelan dia mengangguk.

Ya, ampun! Ayahnya Kang Yi Suk itu kan terkenal galak sekali! Siapa saja dihadapinya, apalagi jika berkaitan dengan anaknya. Rasanya, hampir semua orang menghindari berurusan dengannya. Cari penyakit saja! Tapi kini, apa yang dilakukan Park Ji Bin? Aku tidak tahu, apa yang harus kukatakan pada ayahnya Kang Yi Suk! Paling-paling, mengaku salah untuk menutup segala urusan! Ah, betul-betul cari masalah anak ini!

“Park Ji Bin, ini yang terakhir kau buat masalah!” aku mengancamnya. “Kali lain, Ibu tidak mau ikut campur!” Dengan emosi kutinggalkan dia. “Dan, kalian,” pandanganku beralih pada Lee Hong Ki dan Park Shin Hye, “jangan pernah hubungi Ibu lagi di kampus untuk urusan ini. Pekerjaan Ibu jadi terbengkalai. Mengerti?” Semua akhirnya terkena getahnya.

Namun, ancaman tinggal ancaman. Baru empat hari, Park Ji Bin sudah berkelahi lagi. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dengan anak kepala sekolahnya! Aku dipanggil saat itu juga. Dan, akibatnya, mahasiswa-mahasiswaku kembali jadi korban. Saat perkuliahan, mereka terpaksa harus kutinggalkan.

Park Ji Bin mendapat peringatan keras. Dia bahkan diancam diberhentikan dari sekolahnya. Satu lembar surat pernyataan bermaterai disodorkan padaku untuk kutandatangani saat itu juga.

“Kau dengar, Park Ji Bin?” sergahku, jengkel. Nama baikku tercoreng. Kemarahanku yang spontan sekadar pelampiasan dari rasa malu yang sudah teramat dalam. Aku betul-betul seperti wanita karier lainnya yang mengabaikan pendidikan moral anaknya. Dengan halus, mereka seperti sedang menuduhku tidak dapat mendidik anak.

“Biarkan saja, aku tidak salah, Bu! Dia yang mulai! Enak saja dia bilang…. Dia bilang… Ayah…,” napasnya tersengal-sengal karena emosi, “Ayah… gila! Ayahku tidak gila!” emosinya meledak tanpa kusangka-sangka.

Aku terdiam mendengar pernyataan Park Ji Bin. Wajahku terasa panas membara. Kepalaku serasa mau pecah!

“Tapi, kata Kang Yi Suk, Wang Suk Hyun, dan Cha Bong Gun…,” nama-nama yang disebutnya itu pernah berkelahi dengan Park Ji Bin, “Ayah memang gila. Suka tertawa sendiri, suka….”

“Diam!” aku membentaknya, jengkel. Kalau tidak ingat kepala sekolahnya berada di depanku, entah sudah kuapakan dia!

“Saya rasa, Bu,“ kepercayaan diriku kembali pulih, “siapa pun dia, tentu marah besar kalau ayahnya dituding gila seperti itu!“

Nah, kini aku berada di pihak Park Ji Bin. Aku mengerti alasannya, kenapa dia terus-terusan berkelahi. Kenapa anak kelas empat berbadan kecil itu berani melawan kakak-kakak kelasnya yang bertubuh jauh lebih besar dan tinggi ketimbang dirinya. Ya, tak lain demi menjaga harga dirinya. “Apalagi, tuduhan itu sama sekali tidak benar!” aku menyambung.

“Ya, tidak benar, Bu!” Park Ji Bin menambahkan dengan berani.

“Kalau memang anak saya mau dikeluarkan dari sekolah ini karena dia membela harga dirinya, ya, silakan saja.”

“Sabar, Bu. Sabar….”

“Seharusnya bukan Park Ji Bin seorang yang diberi peringatan, tapi juga teman-temannya. Tidak bisa hanya sepihak. Lagi pula, anak saya bukan tukang berkelahi. Ibu tahu kan, anak saya justru memiliki prestasi bagus di sekolah ini?” aku balik menyerang mereka. Dua orang guru yang kuhadapi itu terdiam.

“Kalau Park Ji Bin berkelahi karena masalah yang sama, tolonglah jangan salahkan dia. Ayahnya dalam keadaan baik-baik saja. Kalau saja tidak sedang ke luar kota untuk urusan dinas, dia pasti sudah datang kemari.”

Astaghfirullah. Kebohonganku makin menjadi. Untuk kesekian kalinya, terpaksa kuabaikan tatapan Park Ji Bin yang tajam. Namun, karena pernyataanku itu, surat permohonan maaf yang hampir kutandatangani segera ditarik kembali. Justru, kedua orang guru, yang salah seorang di antaranya adalah kepala sekolah Park Ji Bin, itu yang meminta maaf kepadaku.

Aku lega, tapi tidak sepenuhnya. Kenakalan Park Ji Bin akhir-akhir ini tidak saja berkaitan dengan harga dirinya, tapi lebih cenderung kepada pelampiasan rasa marahnya. Ya, dia marah padaku, dia marah karena Song Seung Hun. Sebenarnya, Lee Hong Ki dan Park Shin Hye memendam perasaan yang sama, tetapi faktor kedewasaan merekalah yang meredam semuanya.

“Sampai kapan Park Ji Bin terus bermasalah dengan emosinya ini, Dokter?” Aku menyelingi konsultasi malam itu dengan pembicaraanku tentang Park Ji Bin. Aku sangat khawatir akan perkembangan jiwanya. Emosinya sering meledak-ledak akhir-akhir ini. Kalau perlu, anak itu akan kubawa untuk berkonsultasi pula!

“Anak seperti dia cukup diarahkan, Bu. Jangan dimarahi. Jiwa pemberontaknya lebih kuat daripada kedua kakaknya. Kalau Ibu tidak berusaha untuk memahaminya, dia bisa jauh lebih nakal dari sekarang ini.”

“Apakah dia... depresi, Dokter?” aku bertanya, cemas.

“Ah, saya rasa tidak!” Dokter Park Shin Yang tertawa kecil. Malah, menurut dia, akulah yang sudah terkena paranoid trauma syndrom. Tidak semua persoalan akan berdampak depresi akut pada orang lain. Park Ji Bin hanya sedang memulai proses kenakalannya. Agak aneh memang, mengingat sebelumnya, dia merupakan tipe anak yang tidak pernah bermasalah.

Jangan-jangan, aku harus mulai terapi mental pula untuk mengantisipasi keadaan yang tampaknya makin kusut saja!

Bersambung…

The Next Story (Chapter 3)


Chapter 3
Lee Hong Ki dan Park Shin Hye


Song Seung Hun belum ditemukan juga. Padahal, Park Shin Hye, Lee Hong Ki, dan dibantu saudara-saudara Song Seung Hun yang lain sudah lelah menelusuri seluruh jalan di Incheon. Lee Hong Ki bahkan sudah tiga hari tidak kuliah. Dikorbankannya seluruh waktunya demi pencarian ayahnya itu.

“Ibu tidak puas jika tidak ikut mencari, Lee Hong Ki. Kau mau ke mana sore ini, Ibu ikut!” Sejak pulang ke rumah, aku terus memaksanya untuk ikut mencari. Tapi, lagi-lagi ia menolakku dengan halus.

“Ibu kan baru pulang? Tidak usah ikut, Ibu tenangkan diri saja menunggu kabar di rumah. Aku pergi dulu, Bu.” Lalu dia melesat pergi.

Apa yang dilakukan Lee Hong Ki sebenarnya bukan tanggung jawab semata, terlebih karena perasaan bersalahnya. Song Seung Hun pergi saat dia tidak ada di rumah. Menurut Park Shin Hye, Lee Hong Ki bahkan tidak pulang semalaman. Ada seorang kawannya yang menjemput untuk urusan kepanitiaan di kampusnya. Sebagai ketua panitia, sudah seharusnya dia bertanggung jawab untuk kelancaran acara mereka.

“Jadi sekarang, dia pergi dengan teman-temannya?”

”Tidak. Tidak mungkin, Bu.”

“Kenapa?”

Park Shin Hye menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaanku. “Lee Hong Ki Oppa, Bu. Dia malu….”

Kini aku mengerti kenapa teman-temannya tidak pernah datang lagi ke rumah. Dia malu! Ya, pasti Park Shin Hye juga merasa begitu. Seorang anak lelaki teman kampus Park Shin Hye yang dulu sering berkunjung kemari, bahkan kini sudah jarang datang!

Bagaimana dengan aku? Ah, secara tidak langsung, cara-cara mereka sama dengan diriku. Kalau dulu, aku membebaskan mahasiswaku untuk konsultasi di rumah, tapi sejak beberapa bulan lalu, tidak ada seorang pun yang kuperkenankan datang. Please, call me first…, setelah itu aku berusaha menghindar.

Lee Hong Ki pulang saat jam kayu besar di ruang tamu kami berdentang sepuluh kali. Wajahnya murung, tanda dia tidak menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Song Seung Hun.

“Apa tidak sebaiknya kita minta tolong Paman Lee Dong Gun? Kalau kau memaksakan diri mencari ayahmu terus, Ibu takut kau jatuh sakit, Lee Hong Ki.”

“Paman Lee Dong Gun ke Seoul, Bu!” sahut Park Shin Hye.

“Jadi, kita harus bagaimana? Sudah empat hari ayahmu pergi tanpa kabar. Ibu khawatir terjadi sesuatu pada dirinya.” Mendengar kecemasan yang kuutarakan terus terang, ruang makan, tempat pertemuan kami, menjadi senyap.

“Apa tidak sebaiknya kita salat tahajud saja, Bu. Minta petunjuk dari-Nya, siapa tahu Ayah bisa ditemukan?” usul Lee Hong Ki dengan suara lesu. Wajah jiplakan Song Seung Hun yang tampan itu, tampak jauh lebih murung dari sebelumnya.

Ya Tuhan, kenapa tidak terpikirkan olehku?

Kami lalu tahajud bersama, tapi tidak berjamaah. Aku terpisah dari Park Shin Hye dan Lee Hong Ki. Kukira, akulah yang paling panjang berdoa, tapi ternyata kedua anak itu masih saja tepekur di atas kain sajadahnya. Doa mereka jauh lebih panjang dariku rupanya! Park Shin Hye dan Lee Hong Ki tampak luar biasa khusyuk.

Aku memperhatikan keduanya dari jauh. Anak-anak itu berumur sepuluh tahun dan delapan tahun ketika aku menikah dengan Song Seung Hun. Kalau dihitung-hitung, beda umurku hanya terpaut sepuluh dan dua belas tahun lebih tua dari mereka!

Aku dan Song Seung Hun bangga, tidak pernah ada pertentangan yang serius di antara kami. Mereka melebur dalam kehidupanku. Tanpa susah payah, kucanangkan diriku sebagai pengganti ibu mereka. Hanya satu yang mengganjal, Lee Hong Ki dan Park Shin Hye tidak pernah menyapaku di kampus. Atau, ya, jika terpaksa sekali, mereka akan bersikap formal padaku, tak berbeda seperti mahasiswa lainnya. Sehingga, bisa dimaklumi, hanya beberapa teman dekat di kampus mereka yang tahu bahwa sebenarnya aku adalah… ibu mereka.

Dua tahun aku memahami sikap mereka tanpa ingin bertanya, bahkan pada Song Seung Hun sekalipun, sehingga pada akhirnya aku menarik kesimpulan sendiri. Mungkin aku terlalu muda untuk ‘diperkenalkan’ sebagai ibu mereka. Aku memang lebih mirip mahasiswa senior daripada dosen dan pengganti dari ibu mereka yang telah tiada.

“Bu,” Park Shin Hye mendekatiku, masih dengan mukena yang melekat. “Tidurlah Bu, istrirahat….”

“Ayahmu sedang apa sekarang, ya, Park Shin Hye?” Aku malah membayangkan hal yang tidak-tidak.

“Sudahlah, Bu, nanti Lee Hong Ki Oppa makin terbebani. Lihat saja, dia!”

Park Shin Hye benar. Kulihat Lee Hong Ki masih berdoa khusyuk di atas sejadahnya.

Keesokan harinya —entah doa Lee Hong Ki, Park Shin Hye, atau aku yang dikabulkan— Lee Hong Ki menemukan Song Seung Hun di dekat Pasar Myeongdong!

Dari kampus, aku segera menuju ke tempat yang disebutkan Lee Hong Ki, Pasar Myeongdong. Di sana aku melihat Lee Hong Ki sedang membujuk Song Seung Hun untuk pulang. Mereka di tengah kerumunan orang banyak. Tergesa, aku menyeruak ke depan. Kecemasanku akan keadaan Song Seung Hun adalah penyebab utamanya.

“Ayah tidak mau pulang, Bu!” Lee Hong Ki melapor. Dia menatapku putus asa.

Aku mendekati mereka. Dan, perasaanku sungguh terkoyak-koyak melihat keadaan Song Seung Hun. Tubuhnya kulihat jauh lebih kurus. Tak cuma itu, dia juga kusut-masai, kumal, dan… bau!

“Mari kita pulang, Yeobo,” aku berkata lirih sambil memegang tangannya. Tanpa diduga dia malah menepiskan tanganku.

“Tidak mau!” sahutnya, cemberut. “Aku kan sedang menghabiskan sisa cutiku di sini!”

Ya Tuhan! Song Seung Hun makin parah! “Ini pasar, Yeobo. Bukan tempat liburan,” aku berusaha menyadarkannya.

“Kalau kau mau pulang, ya, pulang sajalah. Aku mau pulang kalau cutiku sudah habis. Tak usah memaksaku, Kim Tae Hee.”

Ya Tuhan. Aku menutup mataku dan berkali-kali menghela napas, mencoba menahan rasa malu dan kesal. Kerumunan orang-orang makin banyak saja. Dan, kulihat dia mirip benar dengan makhluk planet lain di tengah-tengah manusia bumi!

“Wah, mau hujan, Tuan! Apa tidak sebaiknya Tuan dan Nyonya pulang saja,” usul orang-orang yang berkerumun itu. “Kalau suaminya tidak mau pulang, ya biarkan saja.”

Tanpa kuduga, Lee Hong Ki marah mendengar usul itu. Mereka memang terlalu ikut campur. Dengan tegas dia meminta orang-orang tersebut bubar. Dia bahkan menantang seorang pria muda yang masih saja menonton kami. Untungnya pria itu mengalah, walau terlihat masih tampak penasaran.

Lee Hong Ki memang agak cepat emosi akhir-akhir ini. Park Ji Bin saja sering jadi sasaran kemarahannya. Tapi, benar juga, langit mulai tampak makin kelam. Hujan turun satu per satu ke tanah. Lee Hong Ki menyuruhku masuk ke mobil, sementara dia terus membujuk Song Seung Hun untuk pulang.

“Ayo kita pulang, Ayah!” ajak Lee Hong Ki lagi, memelas. “Apa ayah tidak malu!” Entah apa yang dikatakannya lagi. Tidak lama kemudian Song Seung Hun beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam mobil.

Aku dan Lee Hong Ki menghela napas lega. Ada air mata di pelupuk matanya. Belum pernah kulihat anak itu menangis!
Kupikir, mungkin doa Lee Hong Ki yang didengar-Nya!

Bersambung

The Next Story (Chapter 2)


Chapter 2
Keluarga Gwangju


Suara burung hantu itu terdengar lagi malam ini. Berarti, sudah dua malam berturut-turut aku mendengarnya ber-hu-hu-hu di dekat kamar atas yang berdempetan dengan pohon cemara.

Menurut Bibi Im Ye Jin, bibinya Song Seung Hun, itu pertanda tidak baik. Suatu musibah yang tidak terduga akan datang pada keluarga yang dikunjunginya. Aku gelisah mendengar ramalan itu, sebab aku mulai mempercayainya….

Musibah? Musibah apa lagi yang terjadi dalam keluarga ini? Apakah sekarang giliranku, atau… anak-anak? Tolong jangan bersikap tidak adil padaku, Tuhan. Beratus-ratus juta orang di dunia ini, pilih saja salah satu di antaranya. Tapi, kumohon pada-Mu, jangan keluargaku lagi….

Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Satu SMS kuterima atas nama Ji Sung Oppa. Cepat pulang. Ayah sakit.

SMS itu membuatku panik. Bagaimana mungkin? Sergahku, cuma di hati. Baru saja aku menelepon ke Gwangju dan kedengarannya semua baik-baik saja. Jangan-jangan, mereka sengaja menyimpan berita itu agar aku tidak pulang….

Cepat-cepat kubalas telepon Ji Sung Oppa untuk memastikan keadaan Ayah yang sebenarnya. Kalau hanya sakit biasa, untuk apa aku pulang. Biaya perjalanan yang harus kutanggung untuk pulang ke Gwangju terlalu besar untukku sekarang ini.

“Ayah sekarang di ICU, Kim Tae Hee. Jantungnya kumat lagi. Semua sudah kumpul, tinggal kau. Kau pulang, ‘kan?”

“Aku…, ” jawabanku mengambang. “Ya, ya, aku segera pulang.”

Maka kupanggil anak-anak ke ruang tengah. Song Seung Hun juga ada di sana. Dia sibuk menulis-nulis sesuatu di atas meja tanpa peduli pada apa yang kusampaikan.

Kepada mereka, kuberitakan rencana kepergianku ke Gwangju yang mendadak. Aku memutuskan hanya mengajak anakku, Park Ji Bin. Aku minta tolong pada Lee Hong Ki untuk datang ke sekolah Park Ji Bin, minta izin cuti belajar selama satu minggu. Selain itu, aku meminta juga pada Lee Hong Ki untuk menyampaikan surat izinku pada ketua jurusanku di kampus.

Selama sepuluh tahun pernikahanku dengan Song Seung Hun, ini kali kedua aku pulang. Kepulanganku yang pertama, enam tahun lalu, dengan Song Seung Hun dan kedua anaknya, disambut dingin oleh semua keluarga. Bahkan, setelah itu, kehadiran Park Ji Bin kecil di tengah mereka, tidak mampu mencairkan suasana. Hanya Ji Sung Oppa yang bersikap bijaksana padaku. Ada banyak kata penghiburannya. Tapi, aku tetap masih merasa sakit hati. Berbulan-bulan, kusesali kepulanganku….

Sampai di rumah, suasana sepi menyambut, hanya ada seorang gadis muda yang tidak kukenal sama sekali. Mungkin pembantu baru ibuku.

“Mana Ibu?” aku bertanya padanya. Dia tampak bingung melihatku. Sorot matanya penuh selidik.

“Saya anak bungsu Tn. Jo Jae Hyeon yang di Incheon. Kau pasti tidak kenal saya, karena kau pembantu baru di sini, ‘kan?” Aku main tembak saja. Ternyata perkiraanku betul.

Dia baru percaya. Sikapnya tidak lagi penuh selidik padaku. Dia bahkan bersikap sangat sopan. “Maaf, Nyonya,“ ucapnya, pelan.

“Ah, tak apa-apa. Di mana ibu saya, kenapa, sepi?”

“Semua pergi ke Rumah Sakit Kwanghee, Nyonya. Tuan dirawat di situ.”

Masih dengan taksi yang tadi, kuteruskan perjalananku ke rumah sakit. Dua travel bag besar yang kubawa kuletakkan begitu saja di ruang tamu.

“Eh, itu Kim Tae Hee!” Dari lorong rumah sakit, kudengar orang-orang menyebut namaku. Pandangan mereka tertuju padaku dan Park Ji Bin. Langkahku dua kali kupercepat.

“Bu!” pandangan mataku tertuju padanya. Aku menangis dan memeluknya, lalu mencium tangannya. Ibu membalas pelukanku seadanya. Dia bahkan tidak mengusap-usap punggungku seperti waktu dulu.

“Ini Park Ji Bin,” kusodorkan Park Ji Bin agar dipeluknya pula. Tanpa kusuruh, Park Ji Bin mencium tangan nenek-nya. Ibu pun menciumi cucunya ‘ala kadarnya’.

“Kau sendirian, Kim Tae Hee? Mana suamimu?” Pertanyaan yang ‘menakutkan’ itu terdengar ketika aku menyalami Jung Ryeo Won Eonni, kakak perempuanku yang nomor dua. Ada nada menyelidik dari pertanyaan itu.

“Song Seung Hun akan menyusul setelah pekerjaannya selesai, Eonni,“ dustaku, sambil melirik Ibu. Untungnya, beliau tidak melihat reaksiku. “Bagaimana Ayah, sudah bisa dijenguk?”

“Belum. Masa kritisnya belum lagi lewat,” Ji Sung Oppa yang menjawab pertanyaanku. “Kau lihat dari kaca ini saja,” dia mengajakku ke gedung samping, mengintip dari balik kaca. Ditunjuknya salah satu pasien itu padaku.

Ya, Tuhan, segawat itukah keadaan Ayah? Aku merinding melihat dua selang infus terpasang di pergelangan tangannya. Hidungnya pun penuh selang oksigen. Belum lagi satu layar monitor yang aktif memantau jantungnya!

Aku kembali ke tempat semula. Semua orang ternyata baru saja memulai membaca Surat Yassin untuk Ayah. Aku tidak ikut, sebab tidak dalam keadaan ‘bersih’.

Aku sedikit menjauh dari mereka. Park Ji Bin yang tampak kelelahan, menyandar di bahuku. Kalau Kau ingin mengambil ayahku, Tuhan, bawalah ia. Tapi, sebelum itu, dia harus memaafkan aku dulu.

Ayah terlalu banyak kecewa padaku. Aku kuliah di jurusan yang tidak pernah disetujuinya. Lalu, aku menikah dengan pria yang tidak pernah dikenalnya di tahun kedua kuliahku. Duda dengan dua anak yang menjelang remaja. Pantas saja ia geram padaku! Belum lagi kepulanganku ke Gwangju yang bisa dihitung dengan jari! Ha, aku betul-betul si bungsu yang tidak dapat menyenangkan hatinya!

Hanya dua puluh tahun saja aku menjadi putrinya yang manis, setelah itu aku betul-betul menjadi ‘monster’ yang selalu mengiris-iris perasaannya.

“Ayah sudah sadar!” kudengar suara ribut-ribut. Semua mengintip dari balik kaca. Ya, ya, benar. Ayah sudah sadar! Matanya terbuka.

“Ada yang bernama Kim Tae Hee di sini?” Seorang suster mendekati kami. Aku maju.

“Saya, Suster. Ada apa?” aku menyahut dengan dada bergemuruh.

Suster itu menyuruhku masuk. Setelah ia bertanya apakah aku putrinya, dan aku mengiyakannya, ia menjelaskan bahwa sejak sadar tadi, Ayah selalu menyebut namaku! Pandangan Ibu dan keenam saudaraku yang lain tampak mengiringi langkahku. Uh, aku merasa diperlakukan seperti anak tiri saja di keluarga ini!

Dengan langkah hati-hati, aku mendekati Ayah. Maklumlah, ada banyak pasang mata yang mengintip pertemuan kami dari balik kaca. Setelah menciumi tangannya, aku duduk tersedu di sampingnya.

“Maafkan aku, Ayah,” ada banyak kata yang seharusnya terucap, tapi hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

Aku tahu Ayah menyadari kehadiranku. Dia mengangguk lemah, lalu matanya terpejam lagi. Ada garis lurus panjang yang keluar di layar monitor perekam jantung. Dan, lima menit kemudian, semuanya pun berakhir….

Aku baru sadar, Ayah memang menungguku selama ini!

Upacara pemakaman secara militer telah usai. Sepanjang prosesi pemakaman, di tengah rasa sedihku, aku masih sempat melihat ekspresi wajah Park Ji Bin yang takjub mendengar beberapa kali suara tembakan dilepas ke udara.

“Kakek itu pejuang, ya, Bu?” akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulutnya.

Aku mengangguk. Malas untuk menjelaskan lebih lanjut bahwa kakeknya bukan pejuang kemerdekaan seperti yang dia bayangkan, tapi ‘hanya’ seorang Purnawirawan Angkatan Darat yang banyak memperoleh bintang jasa selama bertugas.

“Kita naik mobil Bibi Jung Ryeo Won saja, ya?” aku menggiring Park Ji Bin ke mobil merah, karena kulihat ibuku sudah naik ke mobil Ji Sung Oppa yang tadi kutumpangi bersama Park Ji Bin.

“Aku dengan Nenek saja, Bu. Di mobil itu ada AC-nya….”

“Di sini juga ada, ayolah naik.” Aku buru-buru masuk ke mobil itu sebelum mereka menungguku lebih lama.

“Suamimu sudah diberi tahu, Kim Tae Hee?” Jung Ryeo Won Eonni yang kukira tidak akan menanyakan keberadaan Song Seung Hun, ternyata bertanya juga. Pertanyaan sederhana itu bagiku banyak sekali artinya. Dan, apa pun nanti jawabanku, tidak akan membuatku lega.

“Song Seung Hun ke luar kota. Ada urusan dinas di Busan sekarang ini. Kalau urusannya selesai, dia pasti kemari.” Ya Tuhan, Susah sekali kebohongan itu terangkai.

Park Ji Bin menatapku, dia pasti bingung dengan jawabanku. Aku juga menyesal telah terpaksa berbohong di hadapannya. Ibunya, kok, jadi begini? Bukankah aku terbiasa menjunjung tinggi kejujuran, terlebih di depan anak-anakku? Tiba-tiba saja telepon genggamku berbunyi. Dari rumahku di Incheon. Pasti ada sesuatu yang tidak beres….

“Ini Park Shin Hye, Bu,” kudengar suara di seberang sana agak serak dan tersendat-sendat.

“Iya, ada apa, Park Shin Hye?”

“Itu, Bu, hmm… Ayah….”

“Kenapa?” potongku tak sabar.

“Sudah sejak kemarin belum pulang, Bu! Lee Hong Ki Oppa sudah mencari ke mana-mana, tapi Ayah belum juga ketemu.”

“Minta bantuan paman-mu atau siapalah…,” aku menjawab agak bingung.

“Sudah, Bu. Semua orang di sini juga sedang usaha. Ibu kapan pulang?”

“Besok. Ibu dan Park Ji Bin pulang besok,” tegasku. Kudengar Park Shin Hye mengucap salam dan menutup telepon.

Aku merasa tanganku bergetar dan jantungku berdebar kencang. Perasaanku makin tidak enak saja.

“Ada apa lagi, Kim Tae Hee?” Empat kepala yang ada di mobil itu menatapku heran. Mungkin mereka menangkap kegelisahanku. Kulihat Park Ji Bin juga tampak gelisah. Ah, aku terpaksa merangkai kebohongan lagi.

“Lee Hong Ki. Sejak kemarin tidak pulang. Park Shin Hye khawatir.”

“Anak tirimu yang pendiam itu?”

Aku mengangguk.

“Sudah sering dia begitu?”

“Justru baru sekali ini. Dia sebenarnya anak yang sangat baik. Pasti ada suatu hal yang membuatnya begitu,” pembelaan dariku membentuk senyuman sinis di bibir mereka. Mungkin kedengarannya berlebihan?

Setiba di rumah ibuku, aku segera berkemas. Seorang keponakan kusuruh membeli tiket bus untuk kepulanganku dan Park Ji Bin besok, kalau bisa keberangkatan yang paling pagi.

“Kita jadi pulang, Bu?”Park Ji Bin bertanya memastikan.

“Jadi. Besok kita pulang. Ayo, kemasi barang-barangmu.”

“Sebenarnya apa yang dikatakan Park Shin Hye Nunna di telepon, Bu? Masalah Ayah lagi, ya?”

Aku tidak menjawab. Tanganku sibuk melipat baju dan merapikannya ke dalam tas. Kudengar suara Park Ji Bin lagi. Dia membujuk untuk menunda kepulangan kami ke rumah.

“Ayah ini, selalu merepotkan. Kita jangan pulang dulu, ya Bu!” Park Ji Bin merajuk. ”Seo Woo Nunna baru saja menjanjikanku makan di restoran! Jangan ya, Bu. Aku akan telepon Park Shin Hye Nunna, bilang kita tidak jadi pulang besok….”

Tak sabar, aku pun membentaknya. Anak itu terlalu sering protes akhir-akhir ini. Park Ji Bin akhirnya diam juga. Bagaimanapun, kutegaskan kepadanya, tak baik lama-lama minta izin dari sekolah.

“Kenapa, sudah berkemas-kemas?“ dua orang kakakku, Jung Ryeo Won dan Son Ye Jin, masuk ke kamar. Manuver apa lagi, ini, yang mereka lakukan untuk menyerangku? Mereka sekarang tahu betul caranya membalas kecemburuan mereka karena perhatian Ayah yang terlalu besar padaku.

“Besok aku harus pulang, Eonni. “

Kata-kata itu sepertinya begitu mengejutkan bagi mereka berdua, sehingga mereka minta aku untuk mengulanginya lagi.

“Iya, aku harus pulang besok pagi.”

“Tapi, kau baru datang kemarin, Kim Tae Hee. Apa tidak bisa ditunda sampai tiga hari takziahan Ayah?“ sergah Jung Ryeo Won.

“Masa cuma karena anak tirimu, kau mau mengorbankan semua ini, Kim Tae Hee. Biarlah ayahnya yang mengurus. Jangan biarkan keluarga kita menilaimu lebih buruk lagi. Lagi pula, apa kata Ibu, Kim Tae Hee?”

Aku mendengus kesal. Tanpa sadar, kubanting tas besar berisi pakaianku. Apa kata Ibu?

Mereka sudah mengganti subjeknya. Dulu mereka selalu bilang, “Apa kata Ayah, Kim Tae Hee?”

Ya, apa lagi yang dikatakan Ibu tentang aku sekarang ini? Mereka selalu mengintimidasiku seperti itu bila sudah tidak tahu lagi cara membujukku. Di keluarga ini, mereka selalu lupa bahwa aku bukan si bungsu yang mudah dibujuk seperti dulu lagi.

Mungkin, mereka mau mengerti kalau kuceritakan semua ini. Tapi, bercerita tentang keadaan Song Seung Hun sekarang, aku bisa malu sendiri. Lagi pula, aku tidak sampai hati menceritakan kerapuhan mentalnya, apalagi menceritakan bahwa sekarang Song Seung Hun menjadi salah seorang pasien dari seorang dokter jiwa! Mereka pasti menyesali nasib malangku!

Malamnya, selesai takziah, kukatakan rencana kepulanganku pada Ibu. Ibu menatapku nanar. “Kalau rumah ini tidak lagi membuatmu merasa nyaman, Kim Tae hee. Tidak apa-apa). Pulanglah. Tapi, kalau ada apa-apa dengan Ibu, kau tidak perlu peduli lagi,” suaranya terdengar datar, namun menusuk tajam, tepat ke jantungku.

“Maaf, Bu….”

Ibu tidak menyahuti permintaan maafku. Dia beranjak dari kursi dan masuk ke kamar. Susah sekali menjembatani hati ibuku sekaligus keluarga ini setelah perkawinanku dengan duda dua anak, Song Seung Hun. Hati mereka sudah telanjur kupatahkan, dan itu rupanya merupakan suatu kesalahan besar yang tak terampuni.

Tapi, tekadku untuk pulang sudah bulat. Kalau ada apa-apa dengan Song Seung Hun, aku akan jauh lebih menyesal. Sementara ibuku, tanpa kehadiranku pun, masih ada enam orang anak-anaknya yang setia menjaga. Dan, mereka jauh lebih berarti daripada seorang Kim Tae Hee!

Maka, untuk kedua kalinya, kutinggalkan Gwangju dengan perasaan terluka.

Bersambung…

The Next Story (Chapter 1)


Chapter 1
Song Seung Hun


Suamiku di-PHK dan sikapnya berubah total. Aku khawatir terjadi sesuatu pada dirinya. Perlukah aku membawanya ke psikiater?

Tampaknya, liburan ke Pulau Jeju kali ini tidak sepenuhnya bisa kunikmati. Lagi-lagi aku terganggu karena sikap Song Seung Hun. Dia terlihat makin murung. Dalam lima menit fokus perhatianku, dua kali dia menghela napas panjang, dan dalam. Ada kegelisahan yang samar-samar dapat kutangkap dari bahasa tubuhnya.

“Kalau kau tidak merasa nyaman di sini, kita pulang saja, Yeobo,” aku mulai kesal. Kutarik tangannya dari kursi taman hotel.

“Kenapa jadi kau yang marah?”

“Tentu saja! Kau diajak ke mana-mana tidak mau! Kasihan anak-anak. Kita pulang saja. Untuk apa jauh-jauh kemari kalau tidak dinikmati. Mubazir…”

“Oke!” tantangnya. “Nanti malam kita pulang ke Incheon!” Dia lalu beranjak menuju kamar hotel.

Ketika aku menyusulnya setengah jam kemudian, aku terkejut. Koper-koper berisi pakaian dan perlengkapan lainnya, sudah tersusun rapi di atas tempat tidur. Lee Hong Ki, Park Shin Hye, dan Park Ji Bin, ketiga anak-anak kami, pun kelihatan bingung.

“Kenapa bengong semua? Malam ini kita akan pulang ke Incheon,” tegasnya. Ketiga anak-anak itu protes, tapi Song Seung Hun tetap pada pendiriannya. Aku betul-betul tidak bisa mengatasi kejenuhannya.

“Bu…,” mereka merengek minta bantuanku. Aku mengangkat kedua bahuku. Terserah!

Sepertinya, anjuran beberapa psikolog dari beberapa buku psikologi umum yang kubaca untuk mengajak Song Seung Hun berlibur agar kesumpekannya dapat teratasi, tidak manjur. Isu mergerisasi beberapa bank nasional dan akan terjadi PHK besar-besaran di bank-bank itu, termasuk bank tempatnya bekerja, terlalu memenuhi otaknya. Mungkin, sebentar lagi tumpah! Belum-belum, dia sudah berpikir tentang berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi!

Kebalikan dari Song Seung Hun, aku justru sangat yakin hal itu tidak akan menimpanya. Song Seung Hun pekerja keras. Selama dua puluh tahun dia meniti karier dengan berbagai penghargaan. Bagaimana mungkin perusahaan mau melepaskan pegawai seteladan dia?

Aku telah mencoba meyakinkannya berulang-ulang dalam kurun waktu dua bulan ini, bahwa Song Seung Hun akan bertahan. Tapi, keyakinanku ternyata buta. Suamiku termasuk di antara 120 orang pegawai yang ‘dirumahkan’! Ya, ya, jangankan Song Seung Hun, aku sendiri hampir pingsan mendengarnya!

“Itu keputusan yang benar-benar tidak adil!” Dia berkali-kali mengucapkan hal itu di setiap kesempatan. Sepulang kerja, saat makan, dan bahkan, menjelang tidur. “Pokoknya aku akan bicara pada direksi! Keputusan yang kuterima pasti salah, ada orang yang sengaja memanfaatkan momen ini!”

“Sabarlah, Yeobo.”

“Aku akan berjuang mati-matian demi ketidakadilan ini. Kalau perlu, aku akan melaporkannya ke KOMNAS HAM.”

Rasanya, keputusan itu memang tidak adil. Tapi, aku tetap tidak setuju pada keinginannya untuk memperjuangkan haknya secara berlebihan. Di balik semua kejadian yang sedang menimpa keluarga kami ini, pasti ada hikmahnya. Bagaimanapun, aku percaya pada kebesaran Tuhan.

“Besok aku ke Seoul. Aku akan melaporkan ini ke KOMNAS HAM,” katanya, beberapa hari kemudian.

“Jangan sekarang, Yeobo. Tunggu keadaannya tenang dulu….”

Tapi, Song Seung Hun jadi berangkat juga. Sehari sebelumnya, dia memimpin aksi demo seluruh pegawai yang di-PHK. Pihak berwajib menangkapnya, tapi melepaskannya beberapa jam kemudian.

Apa pun kejadiannya, aku siap berada di belakangnya. Tapi, aku tidak pernah mendorongnya untuk melakukan aksi-aksi konyolnya. Bahkan, aku meminta Song Seung Hun dengan ikhlas menerima. Bersikap pasrah, mungkin itu lebih baik daripada mengumbar emosi yang berlebihan. Aku cuma takut terjadi sesuatu pada dirinya. Bukankah persoalannya akan menjadi lebih rumit?

Terus terang sajalah, dengan adanya peristiwa ini, aku merasa ada babak baru lagi dalam kehidupanku. Sepuluh tahun yang lalu, aku memulai babak pertama kehidupan yang sebenarnya dengan menikahi Song Seung Hun, duda beranak dua yang menjelang remaja, di tahun kedua perkuliahanku tanpa pernah direstui oleh ayah dan ibuku. Keluargaku dan keluarga Song Seung Hun — kusebut ‘keluarga Gwangju’ dan ‘keluarga Incheon’— bahkan tidak pernah bertemu dalam kurun waktu sepuluh tahun itu. Keluarga Incheon alias keluarga Song Seung Hun yang mulanya sangat mengerti permasalahan kami pun pada akhirnya telanjur tersinggung pada sikap yang ditunjukkan keluarga Gwangju alias pihak dari keluargaku.

Babak kedua kali ini, ya, saat sekarang inilah. Ketika akhirnya Song Seung Hun di- PHK. Aku belum pernah terpikir untuk mengantisipasi keadaan ini. Semua jauh dari yang kuperkirakan. Usiaku baru tiga puluh dua tahun, rasanya belum terlalu matang untuk menerima semua kejadian ini.

“Kami akan demo lagi, Kim Tae Hee,” Song Seung Hun melapor lewat telepon. “KOMNAS HAM akan membantu kami untuk bicara ke DPR. Mungkin aku pulang dua hari lagi,” ucapnya, optimistis.

Aku menghela napas. Aku merasa perjuangannya sia-sia belaka. Negara ini sudah terlalu banyak masalah. KOMNAS HAM, maaf, tidak akan bisa memberikan bantuan sebesar yang diharapkan. Mereka memang sigap ‘bersuara’, tapi tidak akan memberikan hasil akhir. Mereka, sekali lagi, maaf, paling-paling hanya bisa mendata berapa orang yang telah diperlakukan secara tidak adil karena suatu kepentingan sepihak yang entah untuk siapa….

“Ayah masuk televisi lagi, Bu!” Park Ji Bin, putraku, menunjuk televisi yang menyiarkan berita demo beratus-ratus pegawai bank yang di-PHK. Sudah dua stasiun televisi yang menayangkan berita itu. Wajah Song Seung Hun yang sedang berteriak-teriak penuh semangat disorot begitu rupa.

Aduh, semoga saja tidak seorang pun dari keluarga Gwangju yang menonton berita itu!

Tiga bulan setelah ‘perjuangannya’, aku meminta dengan sangat agar Song Seung Hun mengalah.Toh, uang pesangon sudah diterima. Mau apa lagi?

“Pokoknya, aku menunggu keputusan KOMNAS HAM. Mereka sedang memperjuangkannya, Kim Tae Hee. Aku tidak mau menyerah! Komite tenaga kerja sedang membahasnya!” Song Seung Hun selalu berkilah seperti itu setiap kali aku mengajaknya berbicara tentang masa depan keluarga kami.

Uggh, alasannya membuatku gerah. Aku bosan! Bagaimanapun, aku tetap berusaha membuka pikiran dan hatinya. Ide itu melintas tiba-tiba pagi ini. “Yeobo, sebaiknya kita buka warnet saja. Tampaknya lumayan! Kalau nanti aku ke kampus, kau dan anak-anak bisa bergantian menjaganya.”

“Kepala bagian jadi penjaga warnet?” nada bicaranya meninggi. Dia tampak kesal sekali. Ups! Kelihatannya aku salah bicara. Dia mengartikan ucapanku sebagai hinaan. Dan tiba-tiba, sebuah gelas terbanting tepat di depanku.

Aku tidak boleh marah. Sabar… sabar. Ya, Tuhan!

Song Seung Hun lalu pergi ke kamar.

Beberapa belas menit kemudian kudengar teriakan Park Ji Bin. “Ibu…!” anakku berlari ke dapur dengan tampang bingung. “Lihat Ayah, Bu! Katanya Ayah sudah tidak bekerja lagi, tapi katanya, Ayah, mau ke kantor?”

Park Ji Bin lalu menarik tanganku dari dapur menuju ke kamar. Oh, Tuhan, Park Ji Bin tidak berbohong. Song Seung Hun kelihatan rapi dengan pantalon, lengkap dengan dasi yang menghias leher kemeja lengan panjangnya.

“Aku ke kantor dulu, Kim Tae Hee. Ada rapat hari ini.”

Mataku terbuka lebar menatapnya. Benarkah ucapannya? Mungkin sudah ada jalan keluar yang diusahakan oleh KOMNAS HAM. Orang-orang KOMNAS HAM itu ternyata betul-betul pejuang sejati.

“Rapat apa, Yeobo?”

“Seperti biasa. Rapat tahunan….”

Deg! Jantungku nyaris berhenti. Ya Tuhan. Hampir pingsan aku mendengarnya. Dengan segera aku menghalangi langkah Song Seung Hun. Aku menatap wajahnya dengan saksama. Matanya, lalu dasinya. Air mataku tiba-tiba tergenang. Aku memeluknya erat-erat.

“Itu masa lalu, Yeobo. Ingat apa yang sudah kau perjuangkan selama tiga bulan ini? Ingat apa yang kau bicarakan dengan KOMNAS HAM di Seoul? Ingat demo-demo yang kau lakukan?”

Dia terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Perlahan-lahan, suatu perasaan yang tidak enak merayapi hatiku. Aku cemas pada kesehatan mental suamiku! Pukulan yang menimpanya terlalu berat. Song Seung Hun tak pernah rela menerimanya!

Melihat keadaannya yang mengkhawatirkan, maka aku memutuskan untuk tidak pergi ke kampus pagi ini. Aku perlu bicara dengan Song Seung Hun dari hati ke hati. Tampaknya aku telah lengah membiarkannya bergelut sendiri dengan harapannya yang tak kunjung datang. Satu SMS masuk mengingatkan untuk rapat jurusan, tapi segera kubalas.

Aku sedang sakit, tolong izinkan pada ketua jurusan.

Ya, mungkin inilah arti mimpi-mimpiku beberapa waktu berselang. Rumahku kebanjiran, rumahku disiram dan dibakar seseorang, lalu Song Seung Hun terbawa arus sungai, dan hampir tenggelam….

Ibu Song Seung Hun benar, memang seharusnya aku dan Song Seung Hun mandi kembang bersama untuk menolak bala. Tapi, aku tidak percaya pada tradisi itu.

Menurutku, Bahasa alam dan bahasa mimpi tidak pernah ada keterkaitannya. Semua itu bunga tidur semata. Namun, saat ini, aku menjadi gamang pada keyakinanku. Karena, persis seperti di dalam mimpiku, Song Seung Hun benar-benar ‘tenggelam’. Sepanjang hari dia mengunci diri di ruang kerjanya di rumah, menulis-nulis sesuatu tanpa ingin diganggu.

Setumpuk buku petunjuk psikologi modern menjadi bacaanku sekarang ini dan sedapat mungkin berusaha kuterapkan dalam menghadapi sikap introvert Song Seung Hun yang membingungkan.

Ha, depresi memang kerap menyerang orang yang terlalu serius dan ambisius seperti Song Seung Hun. Makanya, jangan berbicara dengan nada tinggi, jangan bicara hal-hal yang berat-berat. Jangan mengungkit tentang pekerjaannya, jangan bersikap meremehkan, dan jangan….Ughh, setumpuk buku itu cuma teori!

“Kim Tae Hee, kira-kira dasi yang bagus yang mana, ya?” Song Seung Hun memintaku memilihkan satu dari beberapa dasi yang diajukannya. Dia mulai lagi. Ayolah, tunjukkan sikap positif. Aku mengacu pada teori itu lagi.

“Yang bergaris biru.” Nah, dia tersenyum. Tampak senang dengan responsku yang positif.

“Kemejanya?”

“Yang biru muda,” aku menjawab malas. Dia kembali tersenyum senang. Aku mengerti arah pembicaraannya, pilihanku itulah yang nanti dikenakannya untuk ‘ke kantor’ pagi ini.

“Bisakah kau Antarkan aku ke kampus, Yeobo?” aku mengalihkan pembicaraan. Dia melirikku dari balik kacamatanya. “Aku ke kampus tidak lama. Bukan jadwal mengajar, cuma mau memberikan proposal beasiswa magister ini ke rektorat. Bisa kan?”

Song Seung Hun menggeleng. “Pagi ini tidak bisa. Aku sibuk, ada proposal kredit yang harus segera dianalisis. Kau pergi sendiri saja, ya,” dia lalu meninggalkanku tanpa ekspresi. Huu! Aku membanting setumpuk buku petunjuk psikologi. Gombal! Mungkin ada benarnya kudengarkan pendapat dan saran dari keluarga Song Seung Hun, alias keluarga Incheon. Kelihatannya Song Seung Hun memang ada yang ‘menjaili’. Untuk kali pertama, aku mulai memercayai adanya kekuatan lain.

Coba cari di rumahmu, siapa tahu ada yang menggantungkan tulang ikan tanpa kepala di atas pintu-pintu rumah. Itu pertanda ada yang menginginkan Song Seung Hun menjadi gila, Kim Tae Hee.

Aku teringat ucapan ibu Song Seung Hun. Mertuaku, wanita berwajah bulat telur yang manis itu, begitu prihatin terhadap keadaan anak lelakinya. Di tengah ucapannya, berkali-kali dengan halus terselip nada penyesalan karena kami tidak menjalankan ritual penolak bala yang dianjurkannya.

Tapi, tidak untuk kali ini. Aku langsung menuruti perintahnya. Seluruh pintu kuperiksa dengan teliti, tapi yang kucari tidak ada. Rumahku bersih dari hal-hal yang berbau aneh.

Mungkin ada yang menanamkan bungkusan jarum di depan rumahmu, coba cari!

Maka di setiap sudut pekarangan kucari. Bahkan, aku rela mengorek-ngorek setiap gundukan tanah yang kucurigai. Tapi, tetap tidak ada tanda apa-apa.

Kemudian enam orang paranormal yang konon kudengar hebat, kudatangi. Semuanya memang mengatakan Song Seung Hun sedang ‘dijaili’. Ada aura hitam di wajahnya yang tidak dapat dilihat secara kasatmata. Aura hitam diisyaratkan sebagai warna pengganggu, penghalang pandang, dan pikiran. Itu yang harus segera dibuang!

Sembelih ayam hitam, lalu darahnya dicipratkan ke seluruh sudut rumah. Jangan lupa tanam serpihan gading gajah yang dibungkus dengan kain hitam. Dan, mandi kembang dari tujuh sumur, sisa airnya disembur-sembur….

Segala ritual kuikuti hingga akhirnya aku capek sendiri. Song Seung Hun tidak mengalami perubahan yang berarti….

“Kenapa tidak ajak Ayah ke psikiater saja, Bu,” usul Lee Hong Ki. Anak itu dapat membaca keletihanku.

“Ayahmu tidak gila, Lee Hong Ki!” sergahku, sedih. “Kalau kalian sayang pada Ayah, jangan pernah berpikir ayahmu gila!”

“Bukan begitu, Bu. Aku tidak pernah berpikir Ayah gila. Tapi, kita harus membawa Ayah berobat. Sudah empat bulan, tapi Ayah tidak ada perubahan.”

Ucapan Lee Hong Ki benar. Song Seung Hun tidak hanya perlu paranormal, dia juga perlu terapi medis, mungkin bimbingan dari seorang psikiater?

Aku mulai mencari waktu untuk membawa Song Seung Hun berobat. Waktu luangku tidak banyak semester ini, jadi harus disiasati dengan cermat. Untuk itu, aku terpaksa harus menunda konsultasi dua orang mahasiswaku. Mengajar di dua universitas yang berbeda memang sangat menyita waktuku.

Hari yang disepakati adalah Selasa malam. Sore, aku sudah pulang. Kepada Song Seung Hun kukatakan, kami akan mengunjungi seorang temanku. Aku memintanya berpakaian rapi. Sengaja kubiarkan dia memilih pakaian sendiri, sekadar menguji kemampuan verbalnya. Astaga! Sebuah celana pendek berpadu dengan kemeja tangan panjang yang dipilihnya!

“Ini bukan pertemuan formal, kan!” ucapnya cemberut, saat kuganti pakaian yang sudah dipilihnya.

Dokter Park Shin Yang, psikiater yang kupilih hanya karena pertimbangan tempat yang berada di pinggiran Incheon, kuperkirakan umurnya di atas lima puluhan. Berarti, dia cukup berpengalaman menangani kasus serupa ini. Aku merasa agak sedikit tenang, menyadari Song Seung Hun berada di tangan orang yang tepat.

“Nona, anaknya?” tanyanya sambil menyalamiku Dia bukan orang pertama yang mengatakan itu. Wajah kekanakan dengan celana jeans yang membalut tubuh langsingku, kerap mengecoh orang yang melihatku berpasangan dengan Song Seung Hun.

“Saya istrinya, Dok!” tegasku. Lalu aku menguraikan permasalahan yang ada sedetail mungkin.

Pandangannya beralih pada Song Seung Hun. Laki-laki berwajah bulat bermata sipit di balik kacamatanya itu kemudian memberikan sebuah buku ensiklopedi hewan untuk dibacanya.

Dahiku mengernyit. Apa hubungannya?

Song Seung Hun membaca satu halaman buku ensiklopedi itu. Suaranya tenang, intonasinya jelas, pengucapannya tegas.

“Apa hubungannya ini dengan sastra Inggris?” tanyanya, bingung. Dia masih mengira, dokter itu adalah temanku. “Dia dosen Sastra Inggris juga, ‘kan?”

Aku mengangguk. “Dia juga orang yang bisa membaca suasana hati orang. Kau bicara saja padanya tentang masalah yang dihadapi sekarang ini, tidak usah ragu,” aku membujuknya secara halus.

“Aku tidak punya masalah apa-apa.” Jawabannya di luar dugaanku. “Aku cuma bingung mengenai masalah di kantorku. Akhir-akhir ini, kenapa, suasananya sepi sekali.”

Dokter Park Shin Yang tersenyum. Diperhatikannnya laki-laki berumur lima belas tahun lebih tua dariku itu dengan saksama. Lalu dia bicara banyak hal yang ringan-ringan. Tapi, berbagai ucapan dokter itu, tidak dapat direspons dengan baik oleh Song Seung Hun. Arah pembicaraan mereka satu ke barat satu ke timur, tidak nyambung.

“Tidak apa-apa…,” ucapnya, di ujung pertemuan kami yang hampir setengah jam itu. “Cuma depresi mental saja, tidak mengarah ke kelainan jiwa. Hanya, terapinya memang agak lama. Saya harap Nona, eh, Nyonya…,” dia berseloroh, “sabar menghadapinya. Dan, teruslah berkonsultasi kemari.” Dia menjabat tanganku dengan hangat. Lalu, dengan agak malu-malu, diserahkannya selembar kertas bertuliskan jumlah yang harus kubayar sebagai biaya obat-obatan dan konsultasi malam itu. Kalau dihitung-hitung, biaya perawatan medis, jauh lebih mahal daripada pengobatan alternatif. Mungkin tiga kali lipat! Tapi, mau bagaimana lagi?

Bersambung…

Jumat, 08 April 2011

Love In Vain (Chapter 3)


Bukan sesuatu yang berbeda, seharusnya. Dia baru saja tiba di tempat yang familiar baginya. Bandara tempat cinta pertamanya pernah mengecup dahinya sebelum dia pergi. Tempat mereka terakhir kali bertemu pandang. Masih diingatnya sosok itu. Pria berlesung pipit, bermata lebar. Pria berdada bidang. Kini – pria itu – telah pergi ke surga. Selamanya.

Dia berjalan di tengah lalu-lalang dan keriuhan orang-orang hanya dengan menggendong sebuah ransel. Dipindahkannya letak kacamata hitamnya ke rambutnya. Dia menuju ke keramaian dan lalu memesan taksi.


Bersambung...

Love In Vain (Chapter 2)


Dulu dia pernah bermimpi akan dinikahi oleh seorang pilot, dulu dia pernah bermimpi menjadi pramugari, tapi mimpi baginya akan selamanya menjadi masa lalu. Dia terlalu takut mewujudkan satu per satu bola mimpinya hingga akhirnya, dia tak pernah mewujudkan semua itu.

Pesawat lepas landas. Diperhatikannya sekitarnya. Seseorang yang kesulitan memasang sabuk pengaman. Seseorang yang berbisik dan menunjuk-nunjuk pemandangan di luar kaca pesawat kepada bocah kecil di sebelahnya – seolah begitu antusias untuk bisa memperlihatkan dunia yang sesungguhnya – tentang ketidakteraturan pola dari awan-awan putih di langit biru. Juga pada pramugari di hadapannya yang begitu anggun, yang sedang menjelaskan tata cara terjun dari pesawat ketika suatu saat pesawat oleng atau lepas kendali – dan entah apa istilah formalnya. Ritual khususnya menghadapi standar pelayanan itu hanyalah dengan memijiti dahinya.


Bersambung…

Love In Vain (Chapter 1)


Dia duduk di tepi ranjangnya. Menatap kursi, meja, lemari baju, deretan lemari buku, sofa, akuarium, dan sebuah telepon bergagang kuning di dinding kamarnya. Menatapi setiap detilnya. Menatapi kamarnya berulang-ulang. Menatapi seluruh ruang apartemennya. Meja makan, wastafel, dan ruang tamu. Persis seorang autis.

Ada perasaan yang enggan dia kenali. Saat semua hal pada dirinya tertata rapi tapi dia tak tahu di mana dia meletakkan hatinya.

Ruang apartemen ini bukanlah ruang tempat dia dilahirkan juga dibesarkan. Bukan ruang yang menyimpan memorinya bersama kedua orangtuanya. Dan dia tahu, hatinya memang tidak berada di tempat itu.

Tapi bukan juga tertinggal kepada kedua orangtuanya di kampung halamannya. Melainkan pada laki-laki dan pisau. Pada caranya menusuk dan merobeki boneka-boneka beruang yang dibelinya. Pada laki-laki yang terus hadir dan terus menyakitinya.

Dia meneguk habis botol vodka yang dibelinya di swalayan kecil sebelum kembali ke kamar apartemennya. Sudah botol keempat dan hatinya masih merajuk tentang akal sehat.

Seseorang menyatakan cinta dan melamarnya tadi pagi. Menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisnya. Menegaskan berulang-ulang bahwa dia sungguh-sungguh ingin menikahinya. Dia menata rapi dirinya pagi itu tapi dia sungguh tak tahu di mana dia pernah meletakkan hatinya. Dia mencari-carinya di mata pria di hadapannya, mungkinkah hatinya telah dia titipkan pada pria yang melamarnya?

“Ibu, besok saya pulang,” suaranya hampir tidak dikenali oleh Ibunya di seberang sana.

“Kau sedang sakit, Sayang?”

Dia membisu. “Saya akan menikah.”

Tut. Diakhirinya percakapan mereka.

Bersambung…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...